Sirkumnavigasi dan Bangkok

Sebentar lagi kereta akan tiba di Stasiun Hua Lamphong, Bangkok. Sudah malam. Gedung-gedung pencakar langit sudah hadir kembali di cakrawala. Jalan layang, kendaraan, dan manusia kembali ramai seolah-olah dimuntahkan tiba-tiba dari lubang hitam yang hampa.

Saya berdebar-debar mengantisipasi sirkumnavigasi.

Saya intip tiket. Kabin kereta terang. Cahaya lebih dari cukup untuk membaca. Kereta akan tiba pukul 19.40. Sekarang masih beberapa menit menjelang 19.40. Saya lirik kolom tanggal di kertas bernuansa hijau itu: kalender Thai. Hanya angka 20 dan 61 yang bisa saya baca. Sisanya hanya tampak seperti cacing. Tapi saya tahu dari tanggal yang tertera di tablet bahwa sekarang 20 Desember 2018.

Sebulan yang lalu, 21 November 2018, saya memulai perjalanan keliling beberapa negara Indochina dari Hua Lamphong. Dari stasiun terbesar di Thailand itu, saya naik kereta diesel ke Nong Khai, kota kecil di timur laut Thailand yang berbatasan dengan Laos. Sungai Mekong saya seberangi demi melancong ke Prefektur Vientiane.

Dari Vientiane, saya naik sleeper bus ke Luang Prabang di utara, terus lanjut naik bus kecil ke Dien Bien Phu di Vietnam bagian utara via perbatasan Pang Hok (Laos)-Tay Trang (Vietnam) sebelum melaju dengan bus malam ke Sapa. Setelah mampir ke pucuk Fansipan, titik tertinggi Vietnam, naik kereta kabel dan mengintip secuil Tiongkok di Lao Cai, saya menuruni garis lintang ke Hanoi naik kereta, lanjut ke Hue, terjebak banjir di Da Nang, menghabiskan beberapa hari yang tenang di Hoi An, dan kedinginan di Dalat, sebelum akhirnya kembali menyapa Saigon.

Saigon, yang sehabis reunifikasi Vietnam Utara dan Vietnam Selatan berganti nama jadi Ho Chi Minh City, adalah persinggahan saya sebelum menapaktilasi jejak sendiri ke Kamboja dan Thailand, melintasi kota demi kota; Moc Bai, Bavet, Phnom Penh, Siem Reap, Poipet, Aranyaprathet, dan, kini, Bangkok.

Sebentar lagi: sirkumnavigasi.

Jejeran kipas angin di gerbong kereta “ordinary” State Railway of Thailand

Menjelang Hua Lamphong, kereta berhenti sebentar seolah-olah memberikan saya kesempatan untuk mempersiapkan mental.

Tak perlu, Pak Masinis. Saya sudah siap. Eh, tunggu. Apakah kehilangan hasrat untuk memencet tombol rana kamera saku adalah pertanda bahwa mental saya sudah siap? Entahlah.

Lalu kereta kembali bergerak. Pelan-pelan. Di balik jendela kereta yang terbuka, pemandangan sudah seperti di pinggir rel di Jakarta atau Surabaya, meskipun tidak sepadat itu juga. Sebentar kemudian, sempadan rel tampak semakin lebar. Tembok pembatas rel dan permukiman kian jauh. Kini rel tak lagi cuma dua pasang, tapi berlipat menjadi beberapa, dan hampir semuanya berujung di peron-peron lawas Stasiun Hua Lamphong.

Masinis makin memelankan laju. Rem berdecit seperti mencit. Kereta tiba nyaris tepat waktu.

Menuju kawasan Khao San

Stasiun Hua Lamphong masih saja memesona meskipun tidak gemerlap. Langit-langitnya yang tinggi membuat usaha ratusan lampu untuk menerangi malam menjadi sia-sia. Suasana tetap saja temaram.

Saya jalan kaki ke arah lobi bersama ratusan manusia yang entah dari mana dan hendak ke mana. Tak sedikit yang memanggul ransel gunung seperti saya. Melihat mereka, saya jadi teringat pejalan-pejalan yang dipertemukan nasib dengan saya sepanjang sirkuit Indochina. Di mana sekarang mereka? Masih di sana atau sudah pindah ke titik-titik merah dan hitam lain dalam peta? Atau malah sedang merentangkan tangan menjaga kesimbangan meniti garis-garis yang menghubungkan titik-titik itu?

Lobi stasiun masih ramai. Aula itu beberapa kandela lebih terang ketimbang peron. Dari pintu lebar di tengah-tengah barisan loket, di bawah lukisan raksasa Raja Vajiralongkorn sang penerus mendiang Bhumibol Adulyadej, saya melipir ke kiri, memapas bilik informasi, ke arah salah satu pintu keluar.

Bernapas sebentar, saya jalan kaki ke arah kiri, ke trotoar pinggir stasiun yang bau pesing. Dari Hua Lamphong, saya mesti naik bus no. 53 untuk ke Khao San. Seperti biasa, saya belum memesan penginapan. Ada satu hostel sekitar Khao San yang pernah saya inapi setelah luntang-lantung semalaman di Bangkok tahun 2017. Jika ada tempat tidur kosong di sana, bagus. Kalau tidak, masih banyak hostel lain di sekitar Khao San.

Tak perlu lama saya menunggu sampai sebuah bus 53 berhenti. Kedua pasang daun pintu otomatisnya membuka dengan suara yang khas. Saya segera melompat lewat jalur naik, lalu melangkah di lantai kayu sampai ke salah satu tempat duduk di bagian belakang. Benar, engkau tak salah baca: lantai kayu. Lantai kayu yang disusun seperti di rumah-rumah panggung di Sumatera Selatan atau Kalimantan Barat atau di tempat-tempat lain di penjuru Indonesia.

Semua armada 53—dan banyak jalur lain di Bangkok—adalah bus tua. Tapi tua tak membuat mereka ketinggalan zaman. Di setiap bus ada mesin tap, juga sebuah monitor yang selang-seling menampilkan posisi bus dan iklan. Keberadaan bus kota di Bangkok juga bisa dipantau lewat sebuah aplikasi yang, sayang sekali, belum saya unduh. Tapi, ya, buat apa? Toh saya tak punya minat untuk membeli paket internet mobile.

Kernet perempuan berseragam dengan silinder panjang berisi koin dan tiket datang menghampiri begitu saya mendudukkan diri di bangku. Kernet bus di Bangkok memang sigap seperti itu. Mereka akan langsung mendatangi penumpang anyar begitu pintu otomatis menutup dan bus kembali melaju.

“Ratchadamnoen,” sembari menyerahkan 10 baht, saya sebutkan lokasi perhentian saya. Ia menerima koin-koin itu, memasukkannya lewat tingkap kecil ke dalam silinder, mencari kembaliannya, lalu memberikan kembalian 3,5 baht bersama secarik tiket kecil—super kecil—yang sudah disobek.

“Bus ini tidak lewat sana,” ujarnya ramah. “Anda hendak ke mana?”

Ternyata bus 53 memang tak lewat Ratchadamnoen, sebuah boulevard besar yang cuma selemparan batu dari Royal Palace dan Khao San. Benar berarti: dulu, satu setengah tahun lalu, jalurnya sengaja diubah selama masa perkabungan Raja Bhumibol.

Foto Raja Bhumibol Adulyadej (yang kala itu baru saja wafat) di pedestrian Ratchadamnoen Avenue/dok. perjalanan 2017

“Saya mau ke Khao San,” jawab saya.

Meskipun tidak lewat Ratchadamnoen, sang kernet memberi tahu bahwa saya tetap bisa naik bus ini untuk mencapai Khao San.

“Nanti akan saya beri tahu begitu bus sudah dekat lokasi perhentian,” ujarnya.

Khob khun khap.” Terima kasih.

Gang Chana Songkhram

“Anda bisa ke Khao San lewat gang kecil di seberang sana,” ujar sang kernet perempuan sebelum bus setop di sebuah perhentian di Jalan Phra Athit. Bus kota di Bangkok memang tak bisa berhenti sesuka hati. Supir hanya akan merespons jika bel dipencet penumpang sebelum titik perhentian yang sudah ditentukan, entah halte besar atau rambu kecil.

Saya seberangi Phra Athit. Gang kecil bernama Chana Songkhram itu jadi pintu masuk bagi saya untuk menelusuri Soi Ram Buttri bagian utara, menyeberangi Chakrabongse, lalu masuk ke Soi Ram Buttri sisi selatan—atau timur? Jalan Khao San hanya selemparan batu dari Ram Buttri, tapi pesta di Ram Buttri tak seliar di Khao San.

Suasana Som Ram Buttri/dok. perjalanan 2017

Setelah menukar beberapa dolar di money changer, saya melangkah ke sebuah gang kecil di Ram Buttri menuju hostel yang dulu pernah saya inapi. Murah hostel itu. Hanya 100 baht per malam, meskipun tanpa AC dan kamar mandinya mampet. Pemiliknya wanita Thai dan pria Prancis paruh baya yang selalu bertengkar.

Betapa sedihnya saya mendapati tempat itu tutup. Bagian depannya, bar yang semestinya penuh botol-botol whiskey dan “semangat-semangat” lain, tertutup triplek. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sana.

Saya kembali ke Ram Buttri. Tadi, kalau tak salah, di Chana Songkhram saya lihat ada plang hostel. Di bagian bawahnya ada tulisan “Dorm 179.” Barangkali itu harganya. Segitu untuk dipan dormitori masih masuk akal. Apalagi saya cuma akan menginap semalam di sana. Esok saya akan pindah ke Train Guest House di belakang Hua Lamphong, setelah menjemput Nyonya di Don Mueang.

Maka saya kembali menelusuri Ram Buttri, menyeberangi Chakrabongse, lalu masuk lagi ke Ram Buttri sisi utara, sampai tiba di depan plang “Dorm 179” itu. Saya coba dorong pintu kacanya. Tak bisa. Ternyata terkunci. Untuk masuk, saya perlu memasukkan kata kunci.

Jelas yang diminta bukan PIN ATM.

Agak-agaknya dari dalam ada yang mendengar kasak-kusuk yang saya bikin di pintu depan; akhirnya ada seorang pria sekira 40-an yang membuka pintu.

“Do you have a bed?”

Ia mengangguk, lalu menyebutkan harga. Lebih dari 200 baht.

“Di plang luar saya lihat 179. Anda masih punya yang itu?”

Dengan enggan, ia memberikan saya tempat tidur 179 baht itu. Saya lalu diantarkan ke tingkat dua, ke kamar dormitori yang kosong tak berpenghuni. Sebagai manusia satu-satunya di kamar itu, saya bebas menentukan akan tidur di mana.

Hanya ada beberapa kipas angin di kamar itu. AC-nya dimatikan. Hawa agak sumuk. Sebenarnya saya ingin mandi, tapi saya juga lapar. Ah, makan dulu saja. Mandi bisa nanti.

Saya pun kembali menelusuri Ram Buttri sampai ke depan Hotel Ibis. Banyak penjaja pad thai di sana dan saya pesan seporsi pada salah seorang di antaranya. Beberapa menit saja, pad thai with egg itu jadi. Sang penjual menaruhnya di Styrofoam putih, menaburkan kacang tanah yang sudah dihancurkan, mengambil sebungkus sumpit dari pojokan, lalu memberikan pad thai telur itu kepada saya.

Aromanya segar.

Hidangan jalanan itu saya makan sambil mencuri dengar alunan beberapa nomor slow rock versi akustik yang dibawakan musisi di kafe sebelah sana, tempat orang-orang bercengkerama mengelilingi meja penuh makanan dan minuman dan pembicaraan. Semesta memang tak sembarangan menjadikan suara merambat sebagai gelombang longitudinal.

Perut saya gembira. Tadi ia memang menderita karena sebelumnya cuma disuplai tempura dan soda di Aranyaprathet.

Setelah membayar, saya kembali ke hostel. Setelah mandi, saya rebahkan badan di dipan. (Nyonya sekarang sedang istirahat di hotel kapsul di Soekarno-Hatta.) Tak sabar menunggu esok hari, segera saja saya tak sadarkan diri.

66 comments

  1. Nasirullah Sitam · Maret 31

    Perjalananmu panjang mas,
    Menilik daftar yang disebutkan, hingga menuju berbagai destinasi yang sudah dituliskan. Aku rasa lama-lama kamu hafal beberapa sudut kota di negara-negara tersebut. Pun dengan hostelnya hahahahahha.

    • morishige · Maret 31

      Hehehe… Luas banget ternyata Indochina itu, Mas Sitam. Cuma secuplik saja yang baru tak lihat. 😀 Kalau hostelnya, tentu bakal saya tandai. Mudah-mudahan pas nanti mampir lagi, hostel-hostel itu masih buka. 😀

  2. CREAMENO · Maret 31

    Wuah kalau dilist ternyata banyak juga yaaa tempat yang mas datangi selama perjalanan Indochina, dan hampir semua tulisan itu sudah saya baca semenjak pertama kali berkunjung ke blog mas 😆

    By the way, seumur-umur meski sering biztrip atau hanya sekedar liburan ke Thailand, saya itu baru 1x ke area Khaosan yang terkenal ramai dan banyak bar 😁 tahun lalu tepatnya, saat saya stay di Bangkok selama hampir 1 bulan, akhirnya saya main ke Khaosan karena penasaran 😂 ternyata ramai sekali di sana, terus saya coba makan disalah satu bar-nya, hehehe, dan satu yang saya ingat, saya lihat food stall jual makanan terbuat dari buaya! 😱 hahaha, kaget saya dan sekarang jadi ingat kalau saya belum update tulisan saya di beberapa tempat di Thailand 🤣

    By the way, mas kalau menginap di hostel dorm itu kan go-show ya bukan booking dari OTA, terus pernah punya pengalaman hostelnya full semua nggak? Kalau begitu, mas-nya akan tidur di mana? 😆 jujur saya belum pernah ke hotel tanpa booking terlebih dahulu di OTA, karena saya takut nggak ada yang available. Jadinya sekarang penasaran, kalau adventurous traveler seperti mas, apa yang akan dilakukan saat semua hostel full? Atau mungkin mas selalu beruntung, karena pasti ada saja yang available room-nya? 😍

    • morishige · Maret 31

      Saya juga kaget Mbak Eno. Pas di jalan nggak nyadar ngelewatin banyak tempat karena cuma naik bus, naik kereta, naik bus, naik kereta aja. Dan itu pun estafet dari satu tempat ke tempat lain. Terima kasih banyak sudah ngikutin catatan ini… 😀

      Kawasan Khao San dan sekitarnya ini menarik buat pelancong yang jalan lama, sih, Mbak. Soalnya hostelnya banyak. Jadi bisa hemat anggaran untuk perjalanan ke tempat berikutnya. Kalau cuma jalan sekitar semingguan, saya kayaknya lebih milih ke tempat lain yang lebih sepi, karena bujet buat seminggu nggak sebanyak, misalnya, sebulan. Soal jajanan, saya ngeri sendiri sih lihat tarantula, kalajengking, dll. yang dijual di Khao San. Hahaha…

      Iya, Mbak. Go-show aja. Selama ini belum pernah nggak dapet tempat tidur sih kalau memang dicari. Di “enclave-enclave” para pejalan itu biasanya banyak banget hostel. Jadi kalau yang satu penuh bisa cari di sebelahnya, atau sebelahnya lagi. Cuma saya pernah sekali mesti tidur di pos lalu lintas jalan raya karena gagal nyari hostel yang saya lihat di internet. Soalnya saya nggak pakai mobile internet. 😀 Seandainya semua hostel full, dan bener-bener nggak ketemu, saya bakal ke transport hub kayak stasiun atau terminal.

      • bara anggara · April 2

        Saya juga kalau lagi jalan adventure kek gini lebih suka go show cari penginapan2 murah.. Kecuali kalau sama istri biasanya udh lebih terencana.. Kalau lagi sendiri mah, hajaaar senemunya di jalan..

        -Traveler Paruh Waktu

      • morishige · April 3

        Hehehe… Sama, Bung. Kalau sama si dia, soal penginapan ini sudah beres maksimal seminggu sebelum keberangkatan. 😀

  3. Agus warteg · Maret 31

    Banyak sekali tempat di indo China yang didatangi kang Morishige, kalo saya pulau Jawa saja paling hanya Tegal ke Jakarta yang aku jelajahi, itu pun karena merantau.😅

    Wah tukang hostelnya payah juga ya, ada kamar yang harganya 179 bath tapi maunya dikasih diatas 200 bath. Satu bath kira kira 500 rupiah ya kang?

    Kalo lihat gambar di gerbong kereta yang ada kipas angin diatasnya, jadi ingat dulu saat naik kereta, sekarang seringnya naik bis.

    • morishige · Maret 31

      Salut sama Mas Agus. Merantau itu kan juga menjelajah, Mas Agus. Saya salut sama yang berani merantau sampai ke Jakarta. 🙂

      Hehehe… Mungkin buat ngetes skill menawar kita juga, Mas. Kalau nggak mau nurunin harga, saya keknya coba cari tempat lain dulu. 😀 Nila 1 baht sekitar 450-460 rupiah, Mas.

      Naik kereta sekarang memang agak susah ya, Mas? Mesti booking-booking dari jauh hari. Bus lebih praktis sih. Cuma ya itu, kadang kena macet. Jadinya jadwalnya nggak bisa ditebak. 😀

  4. Agus warteg · Maret 31

    Banyak sekali tempat di indo China yang didatangi kang Morishige, kalo saya pulau Jawa saja paling hanya Tegal ke Jakarta yang aku jelajahi, itu pun karena merantau.😅

    Wah tukang hostelnya payah juga ya, ada kamar yang harganya 179 bath tapi maunya dikasih diatas 200 bath. Satu bath kira kira 500 rupiah ya kang?

    Kalo lihat gambar di gerbong kereta yang ada kipas angin diatasnya, jadi ingat dulu saat naik kereta, sekarang seringnya naik bis.

    Itu tahun 2018 ya kang, kalo sekarang tidak bisa karena ada wabah Corona.😂

    • morishige · Maret 31

      Sekarang kayaknya lagi konsentrasi menyelesaikan persoalan COVID-19, Mas. Sedih juga soalnya Thailand lumayan bergantung sama pariwisata. 😦

      • Agus Warteg · April 2

        Semoga saja covid-19 cepat berlalu sehingga kang morishige bisa trip lagi kesan ya 😊

        Ngomong ngomong nama Thailand kok agak mirip nama India ya seperti Chana Songkhram, Som Ram Buttri, apa mungkin ada hubungannya ya?

      • morishige · April 2

        Amin, Mas Agus. Semoga COVID-19 segera berlalu supaya kita semua bisa bebas jalan kaki di luar ruangan.

        Iya, Mas. Thailand memang berada di kawasan yang dikenal sebagai Indochina. Istilah Indochina itu muncul karena ada pengaruh kuat (budaya) India dan China di wilayah itu. Jadi barangkali itu yang membuat nama-nama tempat (termasuk kuil) di Thailand ada nuansa Indianya.

  5. travelingpersecond · Maret 31

    Serasa hidup di era 60-an ketika kayu masih menjadi bahan raja jalanan itu…..wah, klasik banget hidupmu mas…..

    • morishige · Maret 31

      Mobilnya Mas yang klasik. Sini mah masa kini. Hehehe… 😀 Kalau di Jakarta, keknya bus-bus di Bangkok ini udah dipurnatugaskan, Mas Donny. 🙂

      • travelingpersecond · April 1

        Justru bus begituan yang perlu dilestarikan buat daya tarik pariwisata mas….ganti BBG aja tapi mesinnya….pasti keren.

      • morishige · April 1

        Iya, Mas. Tapi mau gimana lagi. Sesuatu yang tua dianggap usang saja di sini. Begitu datang yang kinclong, yang rada buluk langsung dilupakan. 😀

      • travelingpersecond · April 1

        Nah itu, salah kaprah ya mas…..orang eropa aja sukanyg klasik klasik…kita ini malah kebalik…hahaha

      • morishige · April 1

        Barangkali karena kita memang terlalu terekspose sama unsur-unsur dari luar, Mas. Jadi malah kurang PD sama gaya sendiri. Wabah ini jadi bikin kita lebih intens mengamati sekitar. Mudah-mudahan bisa bikin kita lebih bijaksana dan menghargai punya kita sendiri.

      • travelingpersecond · April 1

        Punya sendiri itu kadang luar biasa dimata turis….kan mereka jarang liat yg orisinil….weh weh weh

      • morishige · April 1

        Iya, Mas. Mudah-mudahan bakal ada pergeseran besar dalam sudut pandang, bahwa yang lokal itu bukan buat dikompetisikan dengan yang “interlokal.” 😀

      • travelingpersecond · April 1

        Joss Gandoss iki.

      • morishige · April 1

        😀

  6. Rudi Chandra · Maret 31

    Sungguh perjalanan yang panjang Mas, tapi saya pengen juga sih menjelajah seperti itu. Mungkin nanti rutenya bisa nyontek dari kisah Mas.

    • morishige · Maret 31

      Monggo, Mas Rudi. Saya akan gembira sekali baca catatan-catatannya. 🙂

  7. ysalma · Maret 31

    catatan masa muda yang akan diwariskan ceritanya pada anak cucu kelak ini.
    Pertemuan dengan nyonya setelah perjalanan panjang akan menjadi sebuah catatan khusus lainnya.

    • morishige · Maret 31

      Iya, Mbak Salma. Catatan-catatan untuk dibaca di masa depan. Mudah-mudahan WordPress masih akan terus eksis 😀

  8. Titik Asa · Maret 31

    Asik nih sudah memasuki Thailand. Thailand kan terkenal dengan gadis-gadisnya yang cantik. Saya berharap mendapat foto gadis Thai eh malah disuguhi foto Raja Bumibol yang demikian besar terpampang di jalan…

    Susah juga ya Mas hapalin nama-nama disana, seperti Sam Rom Buttri…itu kawasan apa Mas. Sepertinya ramai juga suasana malam disana. Apa itu daerah tujuan wisata juga?

    Dan, wow, the next ada story, ada kehadiran nyonya nih… Jadi ceritanya ini bulan madu di Thai, Mas?

    Ditunggu kisah selanjutnya Mas.

    Salam dari saya di Sukabumi,

    • morishige · Maret 31

      Hehehe… Biar ingat sama Raja Bhumibol, Pak. Btw, paras orang Thailand ini 11-12 sama orang Indonesia, Pak. Cuma, pengaruh Tiongkok di wajah orang Thailand kayaknya agak lebih kentara. Jadi soal keelokan wajah hampir sama.

      Susah banget, Pak Asa. Meskipun yang dibaca yang aksara latin, tetap saja susah karena karakter kata Thai jauh beda dari Indonesia.

      Ram Buttri ini memang masih kawasan wisata, Pak. Banyak akomodasi di sini, kayak hostel, guesthouse, hotel kecil dan besar, kafe. Jadi semacam tempat ngumpulnya para pelancong.

      Wah, jalan-jalan biasa saja, Pak. Maklum jiwa muda hehehe… 😀

      Oke, Pak Asa. Terima kasih sudah kembali mampir dan berkomentar. 🙂

      • Titik Asa · April 2

        Tapi keukeuh katanya wajah orang Thai lebih elok dibanding orang kita. Jadi suka penasaran soalnya saya belum pernah bertemu langsung. Eh Mas, fenomena ladyboy itu apa pula ya? Aneh dengan kasus begini saya pribadi sih.

        Mumpung masih muda, banyak jalan-jalan dan melihat sisi-sisi budaya masyarakat lain. Bagus banget Mas.

        Salam,

      • morishige · April 2

        Hehehe… Cara bertuturnya lembut, Pak. Pas di pesawat, dengerin pramugari ngomong bahasa Thai rasanya adem juga. 😀

        Ladyboy itu transgender, Pak. Jadi popular karena ladyboy banyak yang kerja di dunia hiburan. Kultur di Thailand sudah menerima orang yang punya (ekspresi) gender bukan biner (laki-laki dan perempuan). Kalau menurut opini pribadi saya, mungkin karena pengaruh kultur Thailand dan keterbukaan ajaran Buddha.

        Iya, Pak. Mumpung masih muda. Hehehe… Terima kasih, Pak Asa.

  9. Anak Desa · April 1

    Wow…perjalanan yang sepertinya melelahkan tapi mengasyikan. Postingan ini membuka mata saya, bahwa kondisi negara-negara berkembang sepertinya sama ya Mas?

    • morishige · April 1

      Iya, Mas… Pas sekali deskripsi Masnya: melelahkan tapi mengasyikkan. 🙂

      Iya, Mas. Pada dasarnya sama saja suasananya. Bahasanya saja yang beda. 🙂

      • Anak Desa · April 2

        Jadi penasaran soal sosio-kulturnya nih Mas?

      • morishige · April 3

        Secara sosio-kultur, pada dasarnya nggak jauh beda juga dari Indonesia, Mas.

        Norma yang dianut di tempat-tempat itu sebelas-dua belas sama di kita, sih, Mas. Mereka menghormati orang yang lebih tua, cenderung komunal, pemalu terhadap orang baru tapi penuh rasa ingin tahu. Gaya komunikasinya juga “high context” khas timur. Soal produk budaya yang tangible, bentuk bangunan di daerah rural Kamboja, misalnya, mirip rumah-rumah panggung di Sumatera Selatan.

  10. Ella · April 2

    liat kipas angin di kereta lucu juga ya, mas. soalnya pas aku kenal kereta di sni nggk ada yg pke kipas angin, ya maklum kenal kereta pas kuliah tahun 2015n, wkwkwk
    Mas Morishige udah paham sm tukang hostel nih pasti, eheheh

    • morishige · April 2

      Saya terakhir kali naik kereta ekonomi berkipas angin itu bula Mei tahun 2013, Mbak Ella, sebelum PT KAI dimodernisasi Bpk. Ignasius Jonan. Naik Sri Tanjung ke Banyuwangi waktu itu. Sekitar 2 minggu setelahnya, pas balik dari Banyuwangi, keretanya sudah AC dan saya sama 2 orang kawan terpaksa ngeluarin uang lebih untuk beli tiket, 2x lipatnya. 😀 Sekarang sudah AC semua, ya. 😀

  11. kutukamus · April 2

    Kipas angin KA-nya bikin ingat waktu KA kelas-2 dan kelas-3 kita masih belum pakai AC dulu. Tapi jarak antar-fan-nya tidak serapat itu sih, karena harus selang-seling dengan lampu penerang gerbong. Eh lha ini lampunya trus di mana ya?

    • morishige · April 2

      Iya, Mas KK. Bikin nostalgia, ya. 😀 Yang bikin saya gumun itu jendelanya. Kalau di kita dibukanya ke atas, kan. Di sana dibukanya ke bawah. Dan ada filter (besi sepertinya) di bagian dalam, yang bolong-bolong. Jadi, kalau cahaya matahari terlalu terang, kita bisa nutup dengan cover itu tapi masih tetap bisa ngerasain angin semilir. 😀

      Lampu-lampu neonnya di antara kipas-kipas itu, Mas KK. Neon biasa nggak dikasih penutup. 😀

      • kutukamus · April 2

        [Barusan cek lagi] Oiya double telanjangan gitu ya. Tadinya kirain itu semacam handle untuk bukaan angin dari atas ala bus kota jadul (Lha wong ada kipas gitu ngapain juga pakai bukaan atap segala, cobak? :mrgreen: )

        BTW, soal blind metal berventilasinya keren juga, berarti meski lagi hujan pun saya bisa buka jendela dan tetap udut Haha

      • morishige · April 2

        Iya, mirip pintu tingkap yang di atas itu 😀 Kayaknya karena hawa di sana panas banget, sih, makanya pada terobsesi sama angin semilir hahaha..

        Semestinya bisa, tapi ngudut dan mendem sudah dilarang dalam kereta (di bordes masih bisa sih 😀 ) Hahaha

  12. bara anggara · April 2

    Seru bgt perjalanan lama kek gini.. ASEAN juga menjadi targetku udah dijelajahi semua sekali jalan.. Tapi saat ini kayanya nggak bisa karena udah ada bayi.. Mungkin nanti kalau udah pensiun, berkelana dengan campervan 🙂

    -Traveler Paruh Waktu

    • morishige · April 3

      Ternyata ASEAN ini memang besar sekali, Bung. Makin lama jalan, makin saya sadar bahwa yang saya lihat cuma secuilnya saja.

      Wah, seru banget bakal itu, Bung. Mengembara naik campervan, malam-malam cari tempat lowong bikin api unggun, besoknya jalan lagi…. 😀

  13. Salman Faris · April 3

    Setiap detial perjalanan itu sangat berharga banget, apalagi kalau pas nyasar atau menemukan sesuatu yang baru… pasti akan lebih menyenangkan banget.

    Luar biasa, perjalanan lapau 2018, masih ingat setiap detailnya, kalau saya mah pasti akan lupa detailnya, kecuali memang sangat spesial dan tak terlupakan

    • morishige · April 3

      Untuk menyusun catatan ini, saya merasa terbantu sekali oleh buku catatan, foto, dan klip video (beserta keterangan-keterangan di metadata-nya), Mas Salman. 😀

      Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar, Mas Salman. 🙂

  14. febridwicahya · April 3

    Gileee, mainnya ke Thailand 😀 saya belom pernah keluar negeri blas :’

    • morishige · April 3

      Habis wabah segera melanglang jagad aja, Febri. Seru bakal! 🙂

      • febridwicahya · April 3

        gaskeeeeeeeun laaah 😀

        korona pergi dulu jaoh jaoh

      • morishige · April 3

        Yoi! #dirumahaja dulu. 😀

  15. Nadya Irsalina · April 3

    Cerita perjalannya banyak sekali yaaa mas, ga ada abisnyaaa 😀

    • morishige · April 4

      Iya, Nadya. Mudah-mudahan nggak pernah habis sampai akhir hayat hehehe 😀

  16. deddyhuang.com · April 4

    aku banyak menemukan diksi-diksi baru ketika membaca tulisanmu, sampai aku searching arti sirkumnavigasi.

    ditunggu cerita lanjutannya mas.

  17. Zam · April 5

    aku suka dengan istilah “semangat-semangat” 🥃

    • morishige · April 6

      Hehehe… Bingung juga cari padanannya dalam bahasa Indonesia, Kang. Akhirnya pilih “semangat” aja hahaha… Cheers! 🥃

  18. Very much enjoyed traveling these places again through your words and images. Where are you keeping safe in the time of Covid-19?

    • morishige · April 7

      Thank you very much, Lisa. 😀

      I’m in Yogyakarta, Indonesia. I made it home before the outbreak. I heard about the “flu” when I was in Kanchanaburi mid-December and I didn’t think it was going to spread all over the world.

      Stay safe in Mexico 😀 And thanks again for stopping by. 🙂

      • We loved Yogyakarta and look forward to visiting there again. Keep sane and healthy.

      • morishige · April 8

        Wow, cool! You’ve been here. 😀 Glad that you liked it here. And I’m sure that Yogya always welcomes you. Please drop a comment if you happen to be here in the future. It’s gonna be wonderful to hear your sailing stories over a cup of coffe. 😀

        You too! Have a wonderful day. 😀

  19. omnduut · April 8

    Haha aku kepikiran, kenapa mau kembali ke hostel lama kalau toiletnya mampet?

    Dan itu si penjaga hostel boleh juga caranya dengan ngasih tarif yang lebih tinggi padahal tarif rendahnya masih tersedia ya 🙂

    • morishige · April 8

      Murah banget soalnya, Om. 100 baht doang buat semalam. Mana nggak mesti pake nawar-nawar pula.

      Kebeneran aja ada darah pedagang dikit, jadi bisa menikmati tawar-menawar sepert ini. 😀 Tapi pengalaman-pengalaman kayak gini bener-bener ngasah skill tawar-menawar ya, Om?

      • omnduut · April 8

        Hwhw, aku tuh jadi tukang nawar yang keji banget pas di India. Karena tahunya di sana apa-apa dimahalin.

        Sampe aku nemu meme, “janganlah menawar di pedagang kecil blablabla” aku jadi SEDIKIT bertobat haha.

      • morishige · April 8

        Bwahaha… Stereotip soal India serem banget kayaknya ya, Om? Saya baca-baca di blog orang isinya soal mengelak dari scam terus, seolah-olah semua orang yang menghampiri itu kayak mau nge-scam aja 😀

      • omnduut · April 8

        Serem banget sih nggak haha, tapi emang beda kalau trip ke negara maju 😀 walau suka nyebelin tapi aku selalu penasaran pingin balik lagi lol.

      • morishige · April 8

        Hahaha… Banyak cerita-cerita kecil yang lucu kalau ngalamin itu ya, Om? Catpernya jadi lebih autentik. 😀

  20. Daeng Ipul · April 10

    saya penasaran, apakah di blog ini nanti ada cerita soal kehidupan malam Bangkok? Hahaha
    soalnya itu yang sering saya baca dan lihat

    • morishige · April 11

      Cerita soal kehidupan di malam hari saja barangkali, Daeng. Entah kenapa, sejak dulu kurang tertarik sama ajeb-ajeb. Selalu kebagian jadi orang “sober” yang jemput temen-temen pulang “party.” 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s