Bus No. 49

Karena semalam sudah mandi, saya merasa segar sekali ketika bangun itu pagi. Saya bergegas mengemas ransel, berjinjit turun lewat tangga kayu, lalu keluar hostel mungil itu.

Suara orkestra pagi menyambut. Gang kecil yang sekilas mirip lorong-lorong Jalan Sosrowijayan itu masih mengumpulkan nyawa. Lengang sekali. Restoran atau kafe yang sudah buka baru kedatangan satu-dua pelanggan saja. Sebagian besar turis masih istirahat memulihkan tenaga yang habis karena semalaman pesta.

Sepagi itu, Jalan Phra Athit juga masih sepi. Saya jadi leluasa menyeberanginya demi menuju perhentian bus. Dari sana saya akan mencegat bus no. 53 untuk ke Hua Lamphong lalu ikut kereta arah timur-laut sampai Stasiun Don Mueang. Itu barangkali rute paling ekonomis untuk ke Bandara Don Mueang dari kawasan Khao San. Mengacu jadwal, pesawat yang ditumpangi Nyonya dari Soekarno-Hatta akan mendarat di Bandara Don Mueang sekitar sepuluh menit sebelum jam 12 siang. Ini masih pagi. Mata sang surya pun belum sepenuhnya nyalang. Saya masih punya banyak waktu.

Phra Athit, Bangkok, di pagi hari

Saya tunggu bus no. 53 dengan santai. Tak lama ternyata sampai akhirnya ia muncul. Dengan wibawa sekelas seekor St. Bernard, bus karatan yang sudah makan asam garam kehidupan itu berhenti lalu mendesis membukakan sepasang pintunya di hadapan saya. Segera setelah saya masuk ia kembali melaju di aspal mulus Bangkok.

Agar bisa leluasa menaruh ransel—dan supaya pandangan ke luar jendela tak terhalang—saya pilih salah satu tempat duduk tunggal sebelah kanan.

Bus-bus kota di Bangkok yang setipe dengan no. 53 ini punya susunan bangku 2-1 seperti bus-bus super eksekutif Lorena tujuan Sumatera—dua bangku di banjar kanan, satu di kiri—meskipun bantalan kursinya hanya sekelas kereta ekonomi. Susunan seperti itu membuat kabin terasa sangat lega. Dalam keadaan ramai—yang dalam kasus bus no. 53 jarang—para penumpang yang harus berdiri karena tak dapat bangku akan tetap merasa nyaman.

Kernet datang dan menyulap koin-koin baht saya menjadi secarik tiket kecil.

Kemudian, di pinggir kanal, seberang pertigaan kecil dengan sebuah 7-Eleven dan beberapa gerobak penjaja makanan, bus itu berhenti. Bukan, bukan rusak. Memang sudah seharusnya bus no. 53 setop di situ. Itu adalah simpul rute, akhir sekaligus awal sirkum. Di sana ada sebuah bilik kecil tempat petugas transpor berlindung dari panas Bangkok yang sebentar lagi akan ngentang-ngentang.

7-Eleven seberang perhentian bus no. 53
Pintu otomatis bus no. 53, Bangkok

Saya dan seluruh penumpang mengantre turun dalam diam. Kami dioper ke bus no. 53 lain yang sudah menunggu di depan sana. Di bus yang sama tuanya itu, kembali saya menduduki bangku di sisi kanan. Begitu kedua awaknya naik, bus itu bergetar lalu melaju—tampaknya sudah dipanaskan tadi. Karena sudah membayar di bus pertama, tak perlu lagi saya mengeluarkan uang untuk menebus tiket di bus kedua.

Tak terasa bus pun memasuki kawasan Pecinan, pertanda bahwa stasiun kereta sudah dekat. Saya bersiap-siap. Sebentar kemudian saya sudah meloncat turun di depan Stasiun Hua Lamphong yang tua. Dinding-dindingnya, yang dihiasi bendera triwarna Thailand dan panji kerajaan berwarna kuning, dilimpahi mentari pagi dengan cahaya keemasan.

Dua orang tukang ojek berompi menunggu penumpang di trotoar Hua Lamphong

Saya lihat tablet; masih sekitar jam setengah delapan. Mungkin saya bisa naik kereta jam delapan. Saya langsung masuk, melintasi lobi yang sepagi itu sudah ramai, lalu ikut mengantre di depan salah satu loket tiket.

Naik kereta diesel ke Don Mueang

Twenty baht,” ujar petugas dari balik loket. Saya serahkan uang lalu ia berikan selembar tiket tanpa nomor tempat duduk pada saya. Ongkosnya lebih mahal empat kali lipat; kereta pukul delapan lewat sedikit yang akan saya tumpangi pagi itu adalah kereta diesel yang sedikit lebih mewah ketimbang kereta kelas 3 trayek Aranyaprathet-Bangkok PP. Kereta kelas 3 ongkosnya cuma 5 baht.

Spektrum kelas kereta di Thailand memang jauh lebih lebar ketimbang kereta di Indonesia. Alhasil, kelas sosial yang diakomodasi juga lebih beragam. Mereka yang berpenghasilan rendah bisa naik kelas 3, orang-orang berpendapatan menengah bisalah naik kelas 2, dan mereka yang punya uang lebih dan mendambakan kenyamanan dapat memilih kelas 1.

Barangkali slogan paling pas untuk State Railway of Thailand adalah Now Everyone Can Ride a Train.

Beranda Stasiun Hua Lamphong

Setelah duduk-duduk sebentar di beranda stasiun, saya masuk peron dan meloncat naik ke gerbong kereta diesel itu. Itu—itu kereta pagi menuju Nong Khai, kota di timur-laut Thailand yang berbatasan langsung dengan Prefektur Vientiane di Laos. Eksterior dan interiornya mirip dengan kereta malam yang saya tumpangi sebulan lalu. Atau mungkin ini kereta yang sama? Kipas anginnya sama, tempat duduk fiber­-nya yang keras juga serupa—untung kali itu perjalanan saya cuma sekitar satu jam.

Gerbong itu ramai. Ada beberapa orang yang tak kebagian tempat duduk. Saya mengambil tempat di bangku panjang yang menempel paralel dengan dinding gerbong bersama rombongan turis yang sepertinya akan ke melancong seharian ke Ayutthaya. Rambut gondrong saya—seperti biasanya—berkibar ditiup angin pagi.

Yang paling berat dalam perjalanan pagi-pagi seperti itu adalah menahan rasa kantuk yang dipancing oleh perkongsian antara matahari pagi yang sinarnya miring dan angin yang bertiup sepoi-sepoi. Pemandangan di luar, yakni bumi yang masih dilapisi halimun tipis, bikin kelopak mata terasa makin berat.

Saya perlu kafein. Sayang sekali belum ada pedagang asongan yang lalu-lalang; saya mesti menahan kantuk sampai kereta tiba di Stasiun Don Mueang.

Stasiun Don Mueang

Sekitar jam 9, kereta berhenti di stasiun yang terletak di bawah jalan layang di antara dua jalan raya lebar itu. Dari peron perhentian, saya menyeberang ke arah loket, naik ke jembatan penyeberangan, lalu menyelinap masuk lewat pintu kecil areal kedatangan yang sisi-sisinya penuh toko SIM card.

Dan saya masih mengantuk. Jika tak ada kafein, nikotin rasa-rasanya akan cukup. Seingat saya, ada areal merokok di sebelah sana, dekat parkiran bus besar selepas jejeran kantor maskapai penerbangan. Mudah-mudahan masih ada. Saya pun berjalan ke arah luar lewat pintu otomatis dekat keran air minum. Ternyata areal merokok itu masih ada. Petak itu lumayan lega. Bangku-bangku seperti kursi kantor pos atau PLN zaman dulu disusun membentuk persegi mengelilingi petak itu. Asbak-asbak tinggi di sana-sini. Saya keluarkan rokok Winston sisa Kamboja, saya sulut sebatang, lalu saya nikmati sambil membaca.

Lepas jam setengah dua belas, SMS roaming masuk ke tablet yang saya bawa. Itu dari Nyonya. Pesawatnya sudah mendarat dan sekarang ia sedang mengantre imigrasi. Saya bergegas mematikan rokok, memasukkan buku ke tas kecil, lalu membawanya beserta ransel besar ke depan pintu kedatangan.

“Yaaa ampun! Kamu kurus banget!”

Demikian reaksi Nyonya begitu ia muncul dari pintu kedatangan. Saya hanya menjawabnya dengan cengiran lebar berhiaskan kumis dan janggut berusia sebulan.

Terminal Mo Chit 2

Kami ke Bangkok naik kereta. Keluar dari Hua Lamphong, kami melipir lewat trotoar ke belakang stasiun, menuju Train Guesthouse tempat kami menginap.

Train Guesthouse adalah salah satu dari sekian akomodasi yang sudah dipesankan Nyonya untuk perjalanan sampai tahun baru ini. Ia dapat harga murah di aplikasi pemesanan tiket dan akomodasi, entah bagaimana caranya. Urusan penginapan, seperti biasa, saya serahkan padanya. (Jika diserahkan pada saya, saya sama sekali takkan memesan—go show saja.) Persoalan rute, seperti biasa juga, ia percayakan pada saya.

Mulai hari ini saya mesti mengubah pola. Ketidakteraturan mesti saya ubah jadi (semi) keteraturan. Rencana kecil-kecilan untuk perjalanan berdua ini sudah saya bikin memang. Tidak detail, sebab saya ingin memasukkan sedikit ketidakterdugaan perjalanan. Nyonya juga sudah mulai terbiasa dengan pola acak—dan, terkadang, impulsif—saya saat jalan-jalan.

Kami istirahat sampai agak sore. Begitu penat sudah agak hilang, kami segera bersiap menuju Terminal Mo Chit 2 untuk membeli tiket bus ke Siem Reap. Dari Stasiun MRT Hua Lamphong, kami naik kereta bawah tanah ke Chatuchak Park sekitar setengah jam. Dari sana, kami lanjut naik bus no. 3 ke Terminal Mo Chit 2.

Calon penumpang bus memadati lobi Mo Chit 2, Bangkok

Kami beli tiket Transport Co di lobi Mo Chit 2. Ongkosnya (750 baht/orang) jauh lebih mahal ketimbang estafet kereta dan minivan (40 baht plus 7-8 USD). Tapi kami sedang ingin santai; naik bus dari Bangkok ke Siem Reap barangkali adalah salah satu pilihan yang bijaksana—selain naik pesawat.

Nine o’clock,” ujar perempuan yang bertugas di belakang loket. “You go there tomorrow,” imbuhnya sambil menunjuk salah satu dari gerbang keberangkatan terminal.

Usai menebus tiket, kami kembali ke terminal bus kota. Rencananya, kami akan kembali menumpang bus no. 3 ke Chatuchak Park lalu naik MRT sekali lagi.

“Itu bus no. 49 ke Hua Lamphong,” ujar Nyonya saat kami sedang mencari bus no. 3 di terminal. “Coba, deh, lihat.”

Saya dekati kaca depan bus itu. Benar, bus itu ke Hua Lamphong. Wujudnya jauh lebih modern ketimbang bus no. 3, lebih kinclong dan ada pendingin ruangan. Melihatnya, saya teringat bus dalam adegan-adegan awal film Suddenly Twenty (2016) versi Thailand, ketika sang nenek mendadak jadi muda kembali.

Sepertinya menarik—dan saya senang Nyonya sudah bisa spontan begini waktu melancong. Perkembangan pesat ini. Awal-awal kami pacaran dulu, ia pernah nesu, marah-marah, waktu saya membawanya motoran ke Kaliurang. Ceritanya, saya improvisasi jalur. Ya, memang waktu itu malam-malam; tapi itu juga ternyata cuma jalur memutar. Tembus-tembusnya juga cuma di depan signage Taman Wisata Kaliurang.

Akhirnya kami naik bus no. 49. Ongkosnya jauh lebih murah ketimbang kombo bus no. 3 dan MRT, tapi waktu tempuhnya lumayan juga ternyata: 1,5 jam! Maklum, kala itu memang menjelang matahari terbenam dan orang-orang sedang bergegas pulang ke kediaman masing-masing.

77 comments

  1. bara anggara · April 6

    Di Thailand sana banyak bus yang udah reot ya? Kalau dibandingkan kopaja bagusan mana bung? Ahaha..

    Wah akhirnya nyonya nyusul, dan perjalanan menjadi lebih teratur ya, hotel sudah dipesankan lewat OTA.. kalau go show ntar malah doi nesu kaya waktu awal2 pacaran itu ya, ahaha.. Tapi lama2 kalau udah terbiasa jalan berdua lama, mungkin bisa juga tuh sesekali go show, biar tau seninya, ahaha.

    -Traveler Paruh Waktu

    • morishige · April 6

      Masih, Bung. Selain bus kota di Bangkok, bus-bus AKDP/AKAP di kota-kota kecil Thailand juga masih banyak bus tua. Bus kota itu entah merknya apa sudah tak jelas lagi. Tapi bus AKDP/AKAP di kota-kota kecil banyak yang Mercedes lawas. 😀

      Kalau bus kota, dibanding kopaja sih kayaknya lebih bagus kopaja secara fisik. Tapi secara sistem kayaknya sekarang masih lebih baik bus kota di Bangkok. Konsisten ngasih karcis ke penumpang dan berhentinya juga cuma di selter dan titik perhentian.

      Yoi, Bung. Akhirnya disusul. 😀 Nah, itulah. Pengen juga itu cobain traveling berdua go show nggak pakai pesan penginapan. Kalau go show transpor pas overland sih lancar-lancar aja selama ini 😀

      • Himawan Sant · April 8

        Yang menghermankan saya …kenapa juga masih ada bus reyot di Thailand, padahal devisa dari sektor wisata saja pasti sangat besar karena ramai terus kunjungan turis disana.

        Atau memang pemerintahnya pelit, ya ?.
        Eh#?!/*

      • morishige · April 9

        Bus-bus kinclong juga sudah banyak banget di Thailand, Mas, misalnya di Bangkok dan Chiang Mai. Selain itu, Bangkok juga sudah punya MRT dan BTS (skytrain). Tapi mereka masih memelihara dan merawat bus-bus tua, juga melengkapi bus-bus tua itu dengan, misalnya, GPS untuk menandai lokasi supaya bisa dipantau lewat aplikasi. Entahlah, mungkin ini proses peremajaan yang perlahan, tapi sepertinya bukan persoalan enggan mengeluarkan anggaran. 🙂

  2. Anak Desa · April 7

    Awalnya, saya pikir Nyonya besar ini siapa. Ternyata…haha…
    Membaca catatan ini, saya merasa terbawa seolah-olah saya jadi ikut menikmati kesibukan kota di setiap waktunya. Jika dibandingkan dengan di Indonesia, kereta di sana lebih nyaman mana Mas?
    Oh iya sepertinya kita punya ideologi yang sama. Cafein dan roko…haha
    Salam…

    • morishige · April 7

      Hehehe… Kalau drama sudah jadi [Enter the Lady] ini ya, Mas. 😀

      Makasih, Mas AD. Senang bisa berbagi soal yang sehari-hari seperti ini. 🙂

      Soal kenyamanan sebenarnya hampir sama, Mas. Cuma kereta di Thailand lebih membumi, seperti, misalnya, mereka masih ngebolehin pedagang asongan di dalam kereta. Selain itu kesempatan buat go-show juga masih terbuka lebar. Kalau di Indonesia kan kita mesti pesan dari jauh-jauh hari lewat website atau aplikasi. 🙂

      Iya, Mas. Kafein dan nikotin. 😀

      Makasih sudah mampir lagi, Mas AD.

    • kutukamus · April 14

      Lha itu! Itu!! Dua ideologi paling penting di muka bumi Hahaha

      • morishige · April 14

        Ahahaha 😀 Biar mulut nggak asem. 😀

  3. Zam · April 7

    memang kalo sama pasangan kudu lebih santai dan agak mewah.. 😆

    • morishige · April 7

      Iya, Kang. 😀 Kalau soal ini sepertinya saya perlu belajar banyak sama, Mas Zam. 😀

      • Zam · April 8

        wkwkw.. aku juga sekarang menyerahkan seluruhnya ke istri kok. kami bagi tugas. aku yg cari uang, dia yang menghabiskan. 😆 biasanya dia yang bisa dapet akomodasi murah, tiket murah, dsb. 😆

      • morishige · April 8

        Emang kalau udah tau spesialisasinya masing-masing, pembagian tugasnya jadi lebih enak ya Mas. 😀

  4. rivai hidayat · April 7

    Ternyata di thailand masih ada bus reyot yaa…?
    Sistem karcisnya lebih bagus dari jakarta atau kota besar di indonesia?
    Terus apa tersedia banyak PO bus kota dalam satu rute mas…?

    Kode bus kota ini mengingatkanku pada bus damri ketika masih smp. Aku dan teman-temanku sering menunggu bus damri dengan no rute yg sama agar bisa balik bareng. Karena hanya damri no tersebut yg melewati rumah kami.

    Nunggu kelanjutan perjalanan bareng nyonya. Bakal berujung pada ketidakteraturan atau berjalan sesuai rencana 😀

    • morishige · April 7

      Iya, Masvay. Masih ada. 🙂 Lebih enak di Bangkok sih kayaknya. Mereka mengadopsi yang modern tapi nggak langsung meninggalkan yang lama. Jadi kita nggak perlu beli-beli kartu-kartu segala. 🙂 Kayaknya buat mereka sistem lebih penting ketimbang tampilan fisik heheheh…

      Wah, di Semarang, Masvay? Sekarang masih ada, kah? Dulu waktu kecil di kota saya juga ada Damri. Ongkosnya lebih murah ketimbang bus kota biasa. 🙂

      Hehehe…. Siap. Makasih sudah mampir lagi. 🙂

  5. Agus warteg · April 7

    Ternyata judul bis no 49 karena ada nyonya nya. Kirain aku bus no 49 itu bus spesial karena banyak jandanya.🤭

    Thailand maju juga ya, tidak kalah sama Indonesia, ada MRT dan kereta bawah tanah juga, atau mungkin malah lebih maju Thailand ya?

    • morishige · April 7

      Hehehe.. Mas Agus bisa aja. Apa pula hubungannya itu sama no. 49? 🙂

      Iya, Mas. Bangkok lebih dulu punya MRT, Mas Agus. Tahun 2004 mereka pertama kali mengoperasikan MRT. Sekarang sudah ada beberapa line. 🙂

      • Agus Warteg · April 9

        Ingin bertanya nih kang, misalnya saya ingin rekreasi ke Thailand tapi cuma bisa bahasa Indonesia sama bahasa Jawa, apakah akan repot kang? Ataukah malah akan kesasar terus?

        Soalnya bahasa Inggris apalagi bahasa Thailand ya ngga bisa sama sekali. Kalo nyewa guide kan mahal

      • morishige · April 10

        Kayaknya bakal baik-baik saja, Mas Agus. Komunikasi yang penting kan niatnya. Hehehe… Lagipula, sekarang bisa pakai Google Translate. Kasih dengar/lihat saja ke orang yang mau diajak berbicara. 😀

        Banyak juga kok, Mas Agus, pelancong yang cuma bicara bahasa mereka. 🙂

      • Agus Warteg · April 11

        Oh begitu ya, yang penting ada google translate, tinggal ketik apa yang mau diucapkan lalu dekatkan hapenya ke orang tersebut.

        Eh, kartu Indosat bisa dipakai di semua negara Asia tenggara ngga bang?

      • morishige · April 11

        Kurang tahu juga, Mas Agus. Tapi Telkomsel punya paket roaming, sih. Cuma kayaknya pelancong lebih senang beli kartu SIM lokal yang harga paketnya lebih murah ketimbang roaming. 😀 Lumayan juga ‘kan buat koleksi nomer-nomer ponsel unik. 😀

    • Agus warteg · April 14

      Betul juga ya.
      Eh, tapi kartu disana harus di registrasi dulu agar aktif apa bisa langsung pakai kang? Enak juga kalo bisa langsung pakai.😊

      • morishige · April 14

        Persisnya kurang tahu, Mas Agus. Saya belum pernah beli SIM lokal, cuma ngandelin Wi-Fi gratisan di penginapan (kalau ada). 😀 Tapi prosesnya kayaknya mudah, Mas Agus.

  6. Mywapblog · April 7

    Itu nyonya jemput ke Thailand, mungkin khawatir bang mori kecantol cewek Thailand yang cakep.😁

    • morishige · April 7

      Hahaha… Kalau nggak dijemput kayaknya pulangnya lebih lama, Mas Mywapblog. 😀

  7. Titik Asa · April 7

    Wah ceritanya tambah seru nih Mas…
    Itu banyak banget calon penumpang di lobi Mo Chit 2, apa waktu itu menjelang liburan panjang disana Mas.
    Komentar nyonya ketika pertama bertemu bilang koq kurus banget. Memang saat itu sudah berapa lama Mas melancong ya?
    Ah, belum nongol nih foto berdua nyonya. Jadi penasaran deh kali saja ditampilkan pada tulisan berikutnya. Saya nantikan deh Mas.

    Salam,

    • morishige · April 7

      Mo Chit ini cenderung ramai terus, Pak Asa. Tapi mungkin waktu itu jadi lebih ramai karena menjelang Natal. 🙂

      Waktu itu sebulan, Pak. Dua minggu sebelum berangkat ke Indochina, saya sempat sebulan juga kelayapan ke timur. 😀 Jadi dobel-dobel gitu kurusnya. 😀

      Hahahaha…. Deskripsi saja kayaknya, Pak. 😀

      Terima kasih sudah kembali mampir, Pak Asa. Sehat-sehat terus di Sukabumi ya, Pak. 🙂

      • Titik Asa · April 9

        Waduh ternyata traveling sampai berbulan-bulan begitu Mas.

        Sebenarnya saya jadi penasaran ini dalam rangka perjalanan pribadi saja atau atas sponsor begitu Mas? Kebayang banyak juga dana yang harus dipersiapkan nih…

        Ah hanya deskripsi saja… biar pembaca penasaran ya Mas…atau alasan privasi barangkali tepatnya.

        Terima kasih Mas, sehat selalu Mas dan keluarga di Yogya.

        Salam,

      • morishige · April 9

        Iya, Pak. Makanya tulisannya bisa sepanjang ini. Hehehe…

        Perjalanan pribadi, Pak. Tanpa sponsor. 😀 Lucunya, anggarannya masih lebih sedikit ketimbang pelancongan ke ujung timur Indonesia dalam durasi sebulan, Pak. 😀

        Hehehe… Biar ada misterinya, Pak. 😀

        Sehat-sehat selalu juga untuk Pak Asa di Sukabumi. 🙂

  8. rezkypratama · April 7

    wih mantap ke bangkok, sayang sekarang lagi g bisa keluar negri

    • morishige · April 7

      Iya, Rezky. Kayaknya pada disuruh di rumah dulu, nih. 🙂 Habis wabah, hajar aja. 😀

  9. CREAMENO · April 7

    Saya nggak begitu ingat bentukan bus di Thailand bagaimana (sepertinya kurang memperhatikan jalan), terus jadi penasaran sereot apa 😁 saya pribadi terakhir kali naik bus sejenis bus kota itu waktu masih jaman sekolah di Jakarta, means sudah lama sekaliiii tapi itupun bus-nya macam bus Damri atau lebih sering disebut bus Patas AC 😂

    By the way, akhirnya cerita yang saya nantikan hadir juga 😍 perjalanan bersama Nyonya pasti akan terasa berbeda daripada jalan sendirian ~ jadi penasaran akan seperti apa ceritanya 😆 saya sih percaya one day Nyonya mungkin akan mau ikut go-show sama mas, karena katanya kalau terbiasa jalan sama pasangan, maka cepat atau lambat akan mengikuti pola pasangan, dan begitu pula sebaliknya 😁

    Seperti saya yang sekarang sudah agak mau jalan kaki berkilo-kilo jauhnya, dan sudah lumayan mau naik anak tangga / naik bukit kecil mengikuti gaya perjalanan pasangan saya haha. Padahal dulu boro-boro mau, yang ada ribut terus kalau diajak jalan 😅

    • morishige · April 7

      Bus yang masih jadul banget masih ada, Mbak Eno, meskipun mereka juga sudah kebanjiran bus-bus modern, juga BTS dan MRT. Yang lawas-lawas itu banyak yang lantainya masih kayu, Mbak. 😀

      Bener banget, Mbak. Nyonya juga mulai terbiasa jalan kaki pas traveling. Saya juga jadi mulai memperhatikan pola makan pas jalan-jalan. 😀

      Seru banget ya Mbak proses saling-belajar begitu. 😀

  10. Putri Sarinande · April 8

    habetooooooL. selesai wabah zombie, lanjooooot. keliling. ahahahahaa. duh, ingin ke Thailand sudah lama tapi beloman kesampean. pengen main ke candi 😀 😀 seru baca ceritanya, dan komentar2nya. salam sehat2 senantiasa Mz jugak buat Nyonya. pacalannya gak keliling dulu, masih ada zombie di mana-mana 😀 😀

    • morishige · April 8

      Habis zombie ini di-smack down Ultraman, hajar, Mbak Putri! 😀

      Makasih sudah mampir dan ninggalin komen. Sehat-sehat selalu juga! Happy #dirumahaja 😀

      • Putri Sarinande · April 8

        di rumah aja dan di mana saja, tetap #happy doooong 😀 😀 😀

      • morishige · April 8

        Yoih! Happy sejak dalam pikiran hahahaha 😀

  11. Dalam perjalanan, spontan itu biasa, hehe…, tapi bagi beberapa orang, justru dianggap masalah. Kalau saya sih asyikin saja 🙂

    • morishige · April 8

      Hehehe… Iya, ya, Mas. Yang terbiasa spontan juga gelagapan kalau tiba-tiba semuanya mesti terencana hehehe…

      Makasih sudah mampir dan berkomentar, Mas Akhmad. 😀

  12. snydez · April 8

    wah di sana masih ada 7-eleven 🙂

    • morishige · April 8

      Di Thailand, 7-Eleven kayak Indomaret, Mas Syndez. 😀

      Terima kasih sudah mampir dan berkomentar. 😀

  13. Khanif · April 8

    gw baca tulisanya serasa baca novel mas, bagus banget pemilihan kata-katanya.. itu nyonya gw pikir ibunya, ternyata pacarnya ya hehe 😀

    • morishige · April 8

      Terima kasih, Mas Khanif. Hehehe… Iya, Mas. Sengaja dibikin agak ambigu memang.

      Terima kasih sudah mampir dan berkomentar. 😀

  14. Nasirullah Sitam · April 8

    Biasa sendiri jadi berdua, bakal sedikit berubah ritmenya mas ahhahahaha.
    Macam mau kemana-mana asal jalan aja dengan itin yang acak. Pasti menyenangkan.

    • morishige · April 8

      Iya, Mas Sitam. Dicari jalan tengahnya aja akhirnya. Itin cukup yang umum-umum aja, selebihnya improvisasi. 😀

  15. Ella Fitria · April 9

    Nyonya udah kaya ibuki aja kl lama ga ketemu pasti komennya
    Ih kurus bgt, gimana sih nggak makan blablablabla
    Duh senangnya jalan2 berduaaaa, tp kl q diajak travekling beli tiket dll serba g show rasanya juga dag dig dug ga tenang karena blm terbiasa kali ya. Hhh

    • morishige · April 9

      Sebaliknya, kalau semuanya direncanakan, saya juga bakalan dag-dig-dug juga, Mbak Ella. Bener banget. Masalah terbiasa atau tidak saja sebenarnya. Dan semua kembali lagi ke pilihan masing-masing. 🙂 Tapi sekali-sekali coba saja go show hehehe…

  16. Alid Abdul · April 9

    Pelancong banyak yang klo stasiun Don Muang itu bersandingan dengan bandara Don Muang. Tinggal nyebrang skybridge. Bisa jadi alternatif anti macet ke pusat kota. Bahkan aku pernah begitu mendarat langsung ke Ayutthaya dan Nong Khai dari stasiun ini.

    Temenku pernah bikin itin begitu mendarat ke Hua Lamphong terus nyari kereta ke Ayutthaya, lah lah mumeeeeeett. Tapi klo bus kota di Bangkok, aku sendiri belum pernah naik kayaknya. Karena lebih mengandalkan BTS yang anti macet.

    • morishige · April 9

      Kalau dari arah terminal kedatangan mau ke luar, memang mesti bertanya ke petugas sih ya, Mas Alid? Soalnya mesti lewat tangga atau lift Hotel Amari sebelum masuk ke jembatan penyeberangan. Hehehe.

      Bolak-balik sih ya kalau begitu. Kalau mau ke Ayuttahaya langsung dari Don Mueang enak banget memang. Tinggal naik kereta-kereta jarak jauh. Kalau mau ke Nong Khai, karena kayaknya cuma ada 4 kereta dalam sehari (dan nggak semua ada kelas ordinary), mungkin enak juga kalau ke Hua Lamphong dulu buat ngabisin waktu sambil nunggu jadwal keberangkatan.

      Saya malah belum pernah naik BTS, Mas Alid hehehe… Seru nggak sih? 😀

  17. febridwicahya · April 9

    neng kono suasana dan keramaiannya koyo indo banget ya ketoke, mas? Nek eropa-eropa kae kan, indo ketok kebanting. Neng kono, koyone ora. Isih meh podo.

    • morishige · April 10

      Iyo, Feb. Ameh podo nek seko penampilan. Singapura karo Malaysia sing wes rodo mirip Eropa.

      Sing bedo banget GDP-ne. GDP Thailand ki lumayan duwur, wes luwih seko USD7,000/kapita/tahun, nomer 3 neng Asia Tenggara bar Singapura ro Malaysia. Dewe isih sekitar USD4,000/kapita/tahun. 😀

      • febridwicahya · April 10

        Nek Singapura karo Malaysia sudah bener-bener kayak maju banget sih emang mas. Ngeri pancen.

        Bajilak, selisih lumayan yo anjir. Hahaha ya ampon Indonesia-Indonesiaaaaaaa.

      • morishige · April 11

        Wahaha… Iyo, Feb. Mangkane kuwi. Dalane dewe ki isih dowo bianget. 😀

  18. Some of the best entertainment in the world is to be found on public transporation. I’ve ridden many of these lines and patronized many of the stations. Fun to return here again today.

    • morishige · April 10

      Thank you, Lisa. 🙂

      True! There’s a saying that you’ll get to see reality when you ride public transport.

  19. travelingpersecond · April 10

    Ini model orang yang happy n ngeselow dimana aja dan ngapain aja.
    Sempetin ngopi sama ngeses terus ya mas…..hahaha.
    Trus go show aja, ga usah dikejar-kejar itinerary yg kadang membatasi waktu petualangan…..
    Kayaknya perlu dicoba….hahaha.
    Cowboy cap gomeh ini mah…wekawekaweka.

    • morishige · April 11

      Iya, Mas. Kayaknya karena keseringan denger lagu Opus Orange yang judulnya Nothing but Time 😀

      Cobain aja sekali-sekali, Mas Donny. Buat variasi. 🙂

      • travelingpersecond · April 11

        Yoi mas…….menikmati perjalanan memang harus jadi sendiri. Ndak perlu gaya gaya an ikut ikutan orang lain..
        Apalagi ngikutin gaya orang kaya…..walah tombok bandar nanti.😀

      • morishige · April 11

        Hehehe… Iya, ya. Bukannya jadi tombo ati, malah tombok bandar. Hehehehe 😀

      • travelingpersecond · April 11

        Hahahaha……

  20. Daeng Ipul · April 10

    Kalau lihat ini kayaknya transportasi publik di Indonesia (anggaplah di Jawa) masih lebih baik ya?
    Keretanya lebih rapi dan bisnya juga lebih enak.

    • morishige · April 11

      Barangkali yang lebih pas begini, Daeng: transportasi publik di Jawa secara fisik tampil lebih seragam ketimbang di Thailand. Tapi sistemnya lebih bagus di Thailand.

      Kereta api Thailand punya kelas 1 (mewah, ada gerbong sleeper, AC), 2 (bagus, ada gerbong sleeper, kipas angin), dan 3 (hanya tempat duduk, kipas angin). Jalurnya lumayan lengkap, ada yang ke utara, timur laut, timur, dan selatan. Rentang harga antara kelas 1 dan 3 juga lumayan jauh. Tiketnya leluasa sekali untuk dibeli di stasiun. Jadi nggak perlu unduh-unduh aplikasi dan punya rekening bank untuk beli tiket. Lebih inklusif, Daeng.

      Kalau bus antarkota, ongkosnya medium, tapi armadanya bagus-bagus. Banyak banget yang bus tingkat. Salutnya, armada bus plat merahnya sama kinclongnya dengan swasta. Untuk perjalanan jauh, dapat kupon makan, jadi bisa hemat. 😀

      Soal transportasi publik dalam kota, Bangkok sih yang paling komplet. Kota itu punya MRT, BTS (skytrain), bus kota, tuktuk, sampai ojek (daring juga ada). Secara penampilan mungkin lebih bersahaja ketimbang Jakarta. Tapi secara sistem mungkin Jakarta bisa ambil beberapa pelajaran dari Bangkok.

  21. kresnoadi DH · April 11

    Seruuu. Kebayang banget suasananya mas. Dan kayaknya nggak jauh beda sama daerah2 di indonesia ya. Jadi inget pas petualangan naik metro mini berujung nggak bayar. Huehehe. Dulu pasti si Nyonya mikir “ni cowok apaan sih kok nggak prepare amat idupnya. Hih.” kalo sekarang jadi “Oh, emang konsepnya gini? Oke, boleh juga.” Hehehe.

    Kayaknya ini pertama kali main ke blog ini deh. Salam kenal yaa! \(w)/

    • morishige · April 11

      Iya, Mas, Kresno. Andai saja orang-orangnya berbahasa Indonesia, pasti berasa seperti jalan-jalan di tanah air. 🙂

      Wah, seru banget itu naik metro mini nggak bayar. Sempat kejar-kejaran sama kernetnya? 😀

      Hehehe. Iya, Mas. Perlu pembiasaan dulu supaya bisa saling memahami cara masing-masing. Saya juga jadi belajar banyak banget soal mengelola sesuatu.

      Makasih sudah mampir dan berkomentar di sini, Mas Kresno. Salam kenal juga 🙂

  22. macalder02 · April 12

    It has been exciting to follow you throughout your journey to take bus 49. Your narration is agile and transparent and does not decay at any time. It is not a simple story, it shows that you master the words and warm your personal feelings. In short, I am not a literary critic to literally judge your writing. I look at it from my perspective as a reader eager to read good writings. I enjoyed yours and it seems to me that you are on the right track in what you do.
    And if you are the one in the photo standing next to the bus, then you are very young , lady tall and very beautiful. So you have a path ahead to succeed in what you like to do: write.
    I will follow your stories.
    A big hug
    Manuel

    • Rudi Chandra · April 13

      Membaca cerita petualangan abang, jadi terasa ikut berpetualang di Thailand dan melihat hiruk pikuk kehidupan di sana.

      • morishige · April 13

        Terima kasih, Mas Rudi. Senang sekali mendengar responnya. 🙂

    • morishige · April 13

      Thanks for the beautiful words, Manuel. 🙂 By writing on this blog, I only want to share my view as a fellow human seeing other parts of the world as well as documenting a tiny aspect of the life of the people I met along the way. As I have never really ventured in poetic writing, of which I always think is pretty hard to do, all I can do, for now, is writing my impressions. Again, thank you very much for reading the stories. And I believe I can learn much from how to write your poems.

      I’m not the tall beautiful lady beside the train coach. In fact, I’m a male, perhaps as young as the lady.

      Many thanks for your beautiful words, Manuel. Have a good day and stay safe wherever you are. See you on your blog 🙂

      • macalder02 · April 14

        How sorry I am to be confused! I am also embarrassed by this confusion.
        I only speak Spanish and use the translator and many times I cannot find the correct words.
        In any case, his travel experiences are very well described and he does it very well.
        With the virus, I don’t know where you are now.
        I live in Chile, a country in South America. We have been in total quarantine for a month.
        A fraternal hug

        Manuel

      • morishige · April 14

        It’s okay, Manuel. And thanks for the compliment.

        I’m spending the quarantine in my country, Indonesia. But it’s not a total quarantine here as they still allow people to go out.

        Wow! No wonder reading your poems feel like reading Pablo Neruda’s. I have met good friends from South America along the way. They are really great that traveling with them feels like a journey with old buddies.

        A fraternal hug from Indonesia. 🙂

  23. Adie Riyanto · April 12

    Hehehehe agak rempong ya mas. Sebenernya dari Khaosan Road ke Don Muaeng itu ada bus langsung kok. Macam bus damri di kita. Ke Suvarnabhumi pun ada juga yang langsung. Klo pilihannya karena nyari yang lebih murah ya mungkin seperti yang mas tulis sih. Harganya 50 bath sekali jalan. Ya mayan lah. Tapi busnya lumayan bersih dan gak untel-untelan macam kebanyakan bus rombeng di Bangkok. Kok aku jadi inget bus kota yang dari Kampung Melayu ya hahahaha. Ampun deh itu 🙂

    • morishige · April 13

      Hehehe. Kayaknya perlu dicoba itu nanti kalau ke Bangkok lagi, Mas. Kemaren sekalian aja karena nginep deket banget sama Phra Athit, deket halte bus murah itu. Baht juga sudah tipis banget. Hahaha, Untungnya juga busnya nggak rame dan jalur ke Hua Lamphong lumayan singkat.

      Hahaha… Iya, ya. Mirip-mirip, Mas. Wah, mungkin beberapa tahun lagi bus-bus di Jakarta nggak bakal begitu lagi kalau koridor MRT ditambah dan armada TJ diperbanyak. 🙂

  24. Bang Ical · April 13

    Dua paragraf pembukanya asyik 😊

    Bang, adakah tulisan abang tentang awal mula sering jalan-jalan? What to do and how or something?

    • morishige · April 13

      Makasih, Bang Ical. Kayaknya belum ada, Bang. Mungkin nanti perlu dibikin juga ya sebagai selingan sebelum masuk ke petualangan-petualangan selanjutnya. 🙂 Makasih idenya, Bang Ical. 🙂

      • Bang Ical · April 13

        Asiaaap. Pengen baca 🙂😉

      • morishige · April 13

        Thanks, Bang Ical 😀

  25. kutukamus · April 14

    [Foto bus no 53] Salut sama Thailand yang bisa mengoptimalkan barang lama (yang mungkin udah di batas/atau bahkan udah lewat umur ekonomisnya). Pokoknya keren lah ini. Dan yang beratap terpal itu halte kah? Cekli (ini istilah Jawa yang saya tidak tahu Indonesianya) juga. 🙂

    BTW, soal kumis/janggut itu sengaja dipelihara atau tak sempat kethok? Kepo saja, soalnya saya termasuk orang yang suka malas bercukur, tapi ya nggak sampai sebulanan gitu juga sih. Kalau alasannya serupa (karena ‘sibuk’), sangar ini namanya mah! :mrgreen:

    • morishige · April 14

      Iya, KK. Mereka nggak serta merta meninggalkan yang tua. Mungkin ini juga bisa menjelaskan kenapa di Chiang Mai wat-wat tua berdiri berdampingan dengan perumahan dan pertokoan modern. Cekli banget. 😀

      Karena “sibuk,” sih, KK. 😀 Bercermin juga jarang soalnya (takutnya nanti cermin itu kebelah. Hahaha.). Tapi enak juga sih manjangin rambut di area muka pas bepergian; bisa sekalian jadi penanda durasi. 😀 Lagipula, momen melancong lama ini kesempatan banget buat nggak cukuran tanpa diprotes.

Tinggalkan Balasan ke Rudi Chandra Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s