Naik Bus dari Bangkok ke Siem Reap

Mulut stasiun MRT seberang Hua Lamphong belum buka saat kami tiba. Langit memang masih kelam. Pagi sekali masih. Puncak wat yang runcing di sebelah sana tampak anggun diterpa lampu sorot dari bawah. Dari tempat saya memandang, bangunan spritual itu menyempil di antara gedung-gedung bertingkat dan ruko-ruko yang menyimbolkan hal-hal material.

Yang lalu-lalang di jalanan sekitar Hua Lamphong masih mereka-mereka yang mendamba rezeki pagi. Masih belum waktunya bagi para pekerja berkerah untuk bergerak ke kubikel masing-masing.

Saya letakkan ransel di pedestrian berubin kasar itu. Nyonya juga demikian. Ia masih mengantuk, begitu juga saya. Tapi muka kami berdua ceria mengantisipasi petualangan. Kami duduk menunggu di beton batas taman. Di sana, depan pintu gulung stasiun, sudah ada satu-dua orang calon penumpang lain. Semakin terang langit di atas, semakin bertambah pula mereka.

Akhirnya pintu stasiun dibuka dari dalam. Awak-awak penggerak sistem MRT Bangkok sepertinya sudah siap memulai hari. Kami panggul ransel masing-masing lalu beranjak ke dalam. Hawa menjadi dingin ketika kami mulai menuruni eskalator panjang itu. Begitu tiba di bawah, suara derap langkah kaki kami memantul ke sana kemari.

Sekitar satu setengah tahun lalu, ketika sebagian besar manusia Indonesia sedang sahur, saya pernah pula sepagi ini melangkah di lorong bawah tanah stasiun MRT Bangkok.

Ceritanya, usai menghabiskan malam di pos jalan raya yang entah berada di mana, sekitar jam 3-4 pagi saya mulai mencari jalan kembali ke arah Hua Lamphong. Anjing-anjing galak sudah tidur. Sukhumvit saya ukur dari jalan bernomor 30-an, memapas orang-orang berdandanan menggoda yang baru pulang dari kelab malam dengan kepala ringan, mendaki-menuruni beberapa jembatan perlintasan di Jalan Rama entah-keberapa, naik ke stasiun BTS hanya untuk menemukan bahwa operasional baru akan dimulai beberapa jam lai, lewat boulevard kampus Universitas Chulalongkorn, lalu tiba di depan Stasiun MRT Sam Yan dalam keadaan hampir dehidrasi.

Suasana pedestrian depan Stasiun Sam Yan (atas) dan gerbong MRT pagi hari (bawah)/dok. perjalanan Juni 2017

Perjalanan itu memang lumayan panjang.

Menanti terang, saya hilangkan keringat dengan duduk-duduk di tangga depan gerbang Stasiun Sam Yan sambil menangkap ratusan gambar yang kemudian dijahit tough camera jadi time-lapse sepuluh sekon. Sebagaimana kali ini, kala itu juga hanya ada beberapa calon penumpang yang bersama-sama saya turun lewat tangga otomatis menuju loket tiket terus ke peron yang sepi. Ketika akhirnya masuk gerbong, hanya saya satu-satunya penumpang. Tak perlu saya mengedarkan pandangan memohon pemakluman; hanya saya yang sial mencium bau badan sendiri. Dari Sam Yan, perjalanan naik kereta bawah tanah ke Hua Lamphong hanya beberapa menit.

Tapi, kalau dulu melangkah sendiri, sekarang saya bertualang berdua.

Sebentar saja kami menunggu di luar garis kuning sampai MRT tiba dan garba membuka tanpa diminta. Ke gerbong kosong kami masuk. Begitu pintu menutup, cacing tanah raksasa itu pun mulai meliuk-liuk di bawah tanah Bangkok. Di setiap stasiun (sathani), kereta berhenti dan suara perempuan keluar dari corong untuk mengumumkan posisi, bergantian dalam bahasa Inggris dan Thai. Sekitar setengah jam kemudian, terdengar: “Sathani Suan Chatuchak… Sathani Suan Chatuchak…” Kami sudah tiba di Stasiun Taman Chatuchak.

Bergegas kami meninggalkan gerbong, berjalan ke portal keluar dan memasukkan token hitam bundar ke celengannya, lalu naik ke permukaan. Langit sudah lebih terang tapi kesibukan urung dimulai. Kami tak perlu berdesak-desakan dalam bus no. 3 jurusan Terminal Mo Chit 2.

Belum jam 7 ketika kami tiba di Mo Chit 2. Loket-loket tiket bus aneka tujuan di beranda sudah buka. Para penjaganya berusaha menawarkan pada calon penumpang yang baru datang, termasuk kami. Tapi kami sudah punya tiket. Kami segera masuk ke lobi dan mencari bangku kosong. Sudah banyak calon penumpang yang datang jam segitu.

Jadwal keberangkatan masih dua jam lagi. Untuk meringankan kantuk dan mengisi perut, kami cari kopi dan makanan ringan di salah satu toserba mini dalam bangunan terminal. Lumayan. Setidaknya kami punya energi untuk ikut berdiri dan pura-pura bersenandung khidmat ketika phleng chat, lagu kebangsaan yang merdu, dinyanyikan pukul 8 pagi.

Sebelum jam setengah 9, kami sudah pindah ke ruang tunggu dekat gerbang-gerbang keberangkatan. Begitu bus Transport Co. tujuan Siem Reap, Kamboja, itu terparkir, kami segera memasukkan ransel-ransel besar ke bagasi bawah lalu naik ke kabin.

Ruang tunggu Terminal Mo Chit 2, Bangkok

Kami kebagian nomor kursi paling belakang, dekat toilet. Bangkunya nyaman—lebar, empuk, dan ruang kakinya sangat lega. Sebelas-dua belas dengan bangku KA Taksaka jurusan Stasiun Tugu-Gambir. Saya hampir tak percaya ketika menemukan sabuk pengaman di sela-sela dudukan dan sandaran—juga stiker besar soal denda 5.000 baht yang mesti dibayar jika penumpang tak mengenakan sabuk pengaman.

Pulpen

Tapat jam 9, bus mundur dari petak parkirnya lalu beranjak ke luar Mo Chit 2. Mulanya, bus melaju di jalan raya. Lalu, ia naik ke jalan layang kemudian masuk ke jalan raya lebar wilayah rural. Aspal mulus.

Dengan perut terisi makanan ringan dan kopi pembagian, mustahil untuk tidak tidur saat menumpang bus senyaman itu—apalagi pemandangan di luar lumayan sendu. Rerumputan kala itu agak meranggas dengan aksen kecokelatan. Thailand dari arah Bangkok ke timur lumayan datar. Memang ada beberapa pegunungan rendah di cakrawala. Namun selebihnya adalah tanah rata yang diselimuti ladang dan sawah dengan pohon lontar di sana-sini.

Suasana kabin bus Transport Co. Bangkok-Siem Reap
Gedung-gedung bertingkat Bangkok tampak dari jalan layang

Sebelum jam 2 siang, bus sudah dekat Aranyaprathet. Ia lalu berhenti di depan perwakilannya, memberi kesempatan pada sang kernet untuk mengambil makan siang jatah para penumpang. Lumayan lama ia berhenti, sampai setiap penumpang usai menikmati nasi goreng hangatnya masing-masing.

“Paspor sudah?” saya bertanya pada Nyonya, sebab sebentar lagi kami akan menyeberangi perbatasan. Saya agak berdebar-debar karena inilah kali pertama kami menyeberangi perbatasan berdua. (Kemarin saya juga sudah bercerita soal pungutan liar di Bavet dan Poipet.)

Ia ternyata tak hanya sudah menyiapkan paspor, tapi juga mengeluarkan pulpen untuk mengisi arrival card. Kartu departure Thailand juga sudah penuh diisi olehnya. Pulpen baru itu ia berikan lalu saya taruh di kantung samping celana-kargo pendek yang saya kenakan.

Stasiun mungil Aranyaprathet sudah lewat. Bus itu makin mendekati perbatasan. Beberapa menit kemudian ia berhenti di pos batas Ban Klong Luk. Kami dan para penumpang lain turun dengan kokarde tergantung di leher. Kami dipersilakan melapor; bus kembali melaju dan akan menunggu kami di Kamboja sana.

Sebentar saja kami sudah lewat proses imigrasi Thailand. Dari sana, kami menyeberangi jembatan kecil, masuk zona netral, lalu menyeberang ke kanan menuju pos imigrasi Kamboja.

“Arrival card… Arrival card….” Beberapa orang berpakaian preman sudah berjaga dekat loket pemeriksaan paspor, membagi-bagikan arrival card pada pelintas batas yang baru datang. Nyonya mengambil dua lembar untuk kami berdua. Saya merespon itu dengan merogoh kantong celana untuk mengambil pulpen… yang ternyata sudah tak ada.

“Eh, di mana, ya, tadi?” Sambil merogoh-rogoh semua saku yang ada di celana kargo itu, saya bertanya pada diri sendiri. Tak ada gunanya memang. Ia bete.

Saya mengerti, ia pasti kesal mendapati pulpen itu, yang tak sampai setengah jam lalu baru diberikannya, raib. Jika menjadi dia, saya juga pasti akan kesal oleh keteledoran saya. Sebenarnya ia punya satu-dua pulpen lagi, tapi di ransel besar.

Truk kontainer lintas negara di Poipet, Kamboja

Bagaimana ini? Tas lipat itu saya taruh di lantai kemudian saya rogoh. Saat saya sedang meraih-raih pojok-pojok tas, semesta mengirimkan bantuan. Salah seorang berpakaian preman yang tadi membagikan arrival card menyodorkan pulpen. Nyonya sigap mengambilnya dan mengisi kolom-kolom kartu dengan tulisannya yang bulat-bulat itu. Setelah rampung, ia menyodorkan alat tulis itu pada saya.

Set! Set! Set!

Terisi semua. Memang cepat saya menulis. Cakar ayam soalnya.

Setelah pulpen itu dikembalikan pada sang pemilik, lengkap dengan ucapan terima kasih, tentunya, kami segera mengantre. Agar cepat, kami ambil posisi di banjar yang berbeda. Ia selesai lebih dulu dan menunggu saya dekat pintu. Petugas imigrasi Kamboja tak meminta apa-apa. Begitu saya selesai, bersama-sama kami jalan ke arah bundaran Poipet. Saya yakin—benar, cuma modal keyakinan—bahwa bus Transport Co. menunggu di sana. Ternyata saya keliru. Salah seorang supir tuk-tuk memberi tahu bahwa bus kami masih di sana. Kami pun kembali ke dekat pos.

Di samping bus kami berdua terkekeh menertawakan kehebohan kecil sore itu.

Naik tuk-tuk ke Pokambor Avenue

Setelah semua penumpang duduk di bangkunya masing-masing, bus melanjutkan perjalanan. Ia kini melaju di sebelah kanan. Supir itu pasti kawakan sekali. Sesantai itu ia mengubah cara berpikirnya dari kiri ke kanan. Itu tak mudah. Kalau tak percaya, coba saja suruh Eric Clapton mengubah posisi leher gitarnya dari kiri ke kanan.

Sudah sore dan matahari semakin miring. Nyonya lebih banyak tidur pada etape Poipet-Siem Reap. Saya sibuk melihat ke luar jendela, ke arah rumah-rumah kayu, sawah-sawah luas, kabut tipis yang mengambang di udara, dan matahari yang kian memerah.

Menjelang jam 6 sore, bus sudah masuk areal urban Siem Reap. Dari jalan besar, ia masuk ke jalan yang lebih kecil sampai berhenti di depan perwakilannya. Segenap penumpang diminta turun dan barang-barang kami dibawakan oleh petugas ke dalam ruko berpenerangan remang-remang.

Seorang pria menyambut kami, para penumpang. (Kata “menyambut” barangkali terdengar berlebihan. Tapi saya bingung mencari padanan yang lebih tempat ketimbang itu.)

“Terima kasih sudah melakukan perjalanan bersama kami,” ujarnya dalam bahasa Inggris yang lumayan. “Anda tak perlu khawatir mencari angkutan ke penginapan. Kami akan menyediakan tuk-tuk bagi Anda. Silakan mendaftar di meja itu dan menyebutkan tujuan Anda masing-masing.” Setelah itu, ia mengimbuhkan, “Anda juga bisa sekalian memesan tiket untuk kembali ke Thailand di sini.”

Kami mendaftar. Selang sebentar, kami sudah di atas tuk-tuk yang terasa kepayahan bermanuver di jalanan pinggiran Siem Reap yang berlubang-lubang. Kami minta diantarkan ke Warm Bed di dekat bundaran Pokambor Avenue. Nyonya sudah memesan akomodasi dua malam di sana.

Naik tuk-tuk menuju kota Siem Reap

Dalam perjalanan menuju Warm Bed, pengemudi tuk-tuk tak henti-henti bertanya soal kegiatan kami esok hari, juga soal apakah kami perlu jasa tuk-tuk untuk entah-ke-mana. Pertama saya menanggapinya dengan santai. Namun, lama-lama ia mulai menyarankan ini-itu seolah-olah benar-benar berharap kami akan menggunakan jasanya. Saya jadi merasa canggung.

Akhirnya, karena tak ingin memperpanjang urusan—dan kami sudah capek habis menempuh perjalanan panjang hampir 10 jam—kami minta diturunkan di bundaran Pokambor Avenue saja. Sebagai tanda terima kasih, dan penawar rasa bersalah karena tak bisa mewujudkan harapannya, begitu kaki kami menapak dekat bundaran, saya serahkan beberapa lembar seribuan dan lima ratusan riel padanya sebagai tip. Mungkin nilainya cuma satu atau dua dolar.

Dari bundaran, kami berlalu ke jalan kecil berlapis kerikil di samping bioskop. Suara lagkah kaki kami renyah. Sebentar lagi kami tiba di Warm Bed. Di atas, langit sudah kelam. Bintang sudah kelap-kelip. Dan malam masih saja turun lebih cepat di Siem Reap.

87 comments

  1. Alid Abdul · April 13

    Seriusan bus Thailand-Cambodia ada tulisan denda jika tidak pakai seatbelt? Wooowww perasaan aku nggak pernah liat ehehe. Bus-bus besar di banyak negara sebenarnya memang ada sabuk pengamanan, tetapi belum pernah sekalipun saya melihat penumpang memakainya.

    Di Jepang yang pada patuh perintah pun nggak sekalipun penumpang memakainya dalam perjalanan bus malam Tokyo-Osaka. Pengalaman di Taiwan berbeda, waktu naik bus antar kota jurusan Jiufen-Taipei yang hanya dua jam saja. Begitu bus memasuki jalan tol, ada pengumuman di speaker bus, bahwa penumpang wajib memakai sabuk pengalaman selama di jalan tol. Pengumuman disuarakan dalam Bahasa Mandarin, Korea, Inggris, dan Jepang. Keluar tol, penumpang sudah bebas melepas sabuk pengaman. Baru kali itu pakai sabuk pengaman dalam bus 😀

    • morishige · April 13

      Bus yang tak tumpangi kemaren kebetulan ada, Mas Alid. (Ini pengalaman pertama saya naik bus Transport Co.) Mungkin armada Bangkok-Siem Reap lain ada yang nggak ada pemberitahuan itu. Di ruang tunggu juga ada poster besar, Mas, seperti di foto.

      Tapi, di kesempatan selanjutnya ke Thailand, kadang saya lihat itu, kadang nggak juga. Hehehe… Di Greenbus kinclong dari Mae Sot ke Chiang Mai kayaknya nggak ada, sih.

      Cuma, soal peraturan, Thailand kayaknya hampir sama dengan Indonesia. Larangan merokok, misalnya. Di stasiun ada spanduk dilarang merokok dan minum minuman beralkohol, di bordes kadang ada, tapi masih banyak yang merokok di bordes atau di stasiun perhentian. Di terminal bus juga. 😀

      Wah, menarik banget itu cerita soal sabuk pengaman di bus malam Tokyo-Osaka, Mas Alid. Bakal ngasih sudut pandang lain soal Jepang yang katanya warganya patuh peraturan itu. Hahaha.. Gimana, Mas, sensasi pakai sabuk pengaman di bus? Saya waktu itu juga pakai sih pengen nyobain aja. Tak pakai terus sampai bus berhenti. Hahaha….

  2. bara anggara · April 13

    Kalau jalan berdua sama nyonya lebih tertata ya,, penginapan sudah dibooking, pulpen buat isi form bawa walau diilangin 😀 ,, emang makhluk panjang ramping ini suka cepat bgt menghilang.

    Di sana lagu kebangsaannya apa dinyanyikan tiap pagi gitu??

    -Traveler Paruh Waktu

    • morishige · April 13

      Iya, Bung. Suasananya jadi berbeda banget. Iya, nih. Mestinya itu ditaliin terus biar nggak hilang. Dirantai mungkin, ya. 😀

      Iya, Bung. Tiap pagi jam 8 sama sore jam 6 di tempat-tempat publik. Di bioskop, menurut cerita orang-orang, phleng chat ini selalu dinyanyikan sebelum pemutaran film. Penting banget sih kayaknya indoktrinasi ini buat Kerajaan Thailand. 😀

  3. Art of the Beat · April 13

    Thank you for the adventure. I may never get to travel there but I felt like I was along for the ride. I could almost smell your funkiness 🙂 HA HA. It looks like ask wearing was a thing there already,

    • morishige · April 13

      You’re most welcome. 😀 Really glad you enjoyed it (despite the mistakes in Google (Mis)Translate). 😀 I know, right? They might not say it out loud but you always know from they way they look at you. And I did wear different kind of clothes from the rest of the passengers. Haha. Thanks for reading the post. 😀

      • Art of the Beat · April 13

        Yeah, I know. I have tried three different Google translators. This was the first one that let me drop whole paragraphs. I liked the mention of Eric Clapton.

      • morishige · April 13

        It’s so nice of you to notice it. At first I wanted to use Hendrix or Cobain. But then I realized that they are right-handed guitarists so the metaphor wouldn’t work. 😀

      • Art of the Beat · April 13

        I had no idea that he was a left handed guitarist! Funny! My hubby will know that. That is one of his favorites. Yeah, it was the perfect metaphor 🙂

      • morishige · April 13

        Well, come to think about it…. I guess I mistranslated my meaning. Excuse my lacking of context. 😀 I just Googled the term of “left-handed” and “right-handed” guitarists. Eric Clapton is a right-handed because he uses his right hand to strum and his left hand for fretting. On the other hand, Hendrix and Cobain are left-handed because they use they left hand to pick the strings up. But, still, the metaphor still works in bahasa Indonesia. 😀 I really learn a lot from this conversation. 😀

      • Art of the Beat · April 13

        Vert good, grasshopper 🙂 kidding. You wouldn’t happen to have seen the TV show Kung Fu with David Carradine. Very cheesy, not good, from the 70s.

      • morishige · April 13

        Hahaha.

        Wow, 70’s? No, I haven’t. But if they had it on YouTube, I would surely want to see it. I kind of like cheesy TV shows and movies 😀 (I like Monty Python, anyway.)

      • Art of the Beat · April 13

        DO check it out. Remember, CHEESY! Monty Python is the greatest! Oh and anything with John Cleese…I think that is his name. He was in some Monty Python movies. Check out A Fish Called Wanda. Love that movie.

      • morishige · April 14

        Haha. I was only joking. Yes, of course Monty Python is the greatest! I’ve watched Life of Brian a dozen time. 😀

        Will do, my friend. I’ll find the movie (and the movies with John Cleese). 😀 Have a great day! 🙂

      • Art of the Beat · April 14

        Hopefully you will think he is funny. Some Bristsh humor is not for everyone. 🙂

      • morishige · April 15

        Hahaha… Yeah, true! Dry humor. Once, me and a friend I met when traveling, met a group of people. My friend asked, “Do you speak English?” One of them answered, “Yes.” “Where are you from?” asked my friend. The man answered, “England.” Hahahaha

      • Art of the Beat · April 15

        Oh my Gosh!! HA HA. Yeah, love dry humor, just like my Dad. Great joke! That reminds me of an exchange or story really between him and one of his co-workers. The guy asked my Dad if he spoke Spanish because my Dad is Mexican and has a Spanish surname. My Dad turned to him and said “no. Why? Do you speak Swahili?” His co-worker then called him a name and they started cracking up. My Dad had a way with getting a point across sometimes. Thanks for reninding me of that!

      • morishige · April 15

        I coughed (no, I’m fine. It has nothing to do with that thing) and burst out laughing when reading the “Swahili” joke. That’s a kill! May I use it one day? He must be really cool. 😀

      • Art of the Beat · April 15

        Yes, please don’t be sick. I an do that enough for every one right now. No, I do not have that illness but very sick right now 😦 Yes, please use it! My Dad was really cool.

      • morishige · April 16

        Sorry to hear that, but get well soon. Thank you. I’m sure it’s gonna get lots of laugh. Have a wonderful day. 🙂

      • Art of the Beat · April 16

        Thank you. Just the side effects of my medication. I have seizures and have to be on this medication. However, I have lost 15 pounds in 2 weeks 🙂 I guess that is a positive, right! HA ha!! You have a great day! Hope all is going well in your country. I am just waking up to news of civil unrest in Michigan, My daughter and grandchildren live there…sorry just concerned…:)

      • morishige · April 16

        15 pounds it two weeks? Quite a loss. I’m gaining weight because not a day left without my drinking “dalgona coffee.” I make it myself, it’s quite easy. You should check it out on Google.

        We have yet to reach the peak. I hope everything’s gonna be okay, because we’re anticipating the beginning of the fasting month by late April. People are going home like what you guys do during Thanksgiving.

        You know, I checked the news about the Michigan civil unrest after reading this comment. I read an article on the Washington Post and a short video on BBC. It’s pretty worrying, isn’t it? They were on the street and went to the Capitol carrying banners and stuff. I hope your daughter and grandchildren are in good health there in Michigan.

      • Art of the Beat · April 16

        Yeah, 15 pounds, I need to lose 80, so this is a good thing. I gain 30 after the surgery. Yeah I heard many people are gaining weight during the stay at home orders. I wish I could eat and keep it down.
        Lucky for you and your country. Hopefully a vaccine will be available. It is scary though, the facts are that over 20 thousand have died in the USA alone. Again, be safe.
        Yes, it is scary. there is too much funreliable news sources here in the US. Sometimes we are the victims of our freedom. Anyhow, sorry, I didn’t mean to get political. Yeah I hope she has her wits and stays out of that crap.

      • morishige · April 17

        Cool! Indoor sports like yoga can help I guess. I tried it once or twice and I produced much sweat. 🙂

        Dunno. There’s so many untold things here and it worries me. This is the time when any information is valuable. We don’t know what to do if we don’t know anything. I’m quite depressed reading the news of people dying in New York. It feels surreal.

        No worries. It’s impossible not to get political today since, apparently, our livelihood depends on the political measures. Stay safe there and have a wonderful day! 🙂

      • Art of the Beat · April 17

        I do lots of weight training and walking, weather permitting. Before the pandemic, I used to swim as it is less weight bearing and causes less pain. Can’t wait to get back in the water. I will definitely try yoga, I hear it works great.

        Just make sure you check all sources. I guess that is all we can do, right? You know, make educated decisions based on research. It is depressing especially since there are people that are saying the numbers of people dying do not justify the measures that we are doing to save people. The US is about to re-open in some parts of America. Mob rule mentality is enforce here sometimes.
        I try to remain neutral and not throw my political views out into the universe as many of my friends and family have different views than I do and I respect them. That is their right. However, I am now starting to see the uglyiness of people I have loved and called friends. It’s been an awakening.

        Sorry about that. You have a great day and have fun. Play some music 🙂

      • morishige · April 18

        It turns they have yoga for many purposes. I was a bit surprised myself as I had thought of yoga as merely hand-standing. Haha. I miss swimming too! I’ve never thought that I’m gonna miss swimming this much.

        So true! It’s time to use every source of information we can access. But it’s depressing to see that the measures are still based on political interests. These days, our ratio is the most important survival tool. Haha. Yes, I feel it too. The “masks” are being torn, revealing the true selves.

        You have a great day too! And thanks again for “the Descendents.” 😀

      • Art of the Beat · April 19

        Many of my friends have practiced yoga for many years and have always praised its benefits. I have just never been interested in going to a studio and getting into a yoga outfits and ahnging out with yoga people. I know right, I stereo typed a class of people. However, it really is beneficial and I have been doing some restorative online classes. It helps. As soon as this crisis is over I am going to swim every day! I miss is so much!! I will never make another excuse not to go.

        Yes, we cannot rely on any one source of information. We have to research and find trusted sources. Believe me, it is getting difficult. You are so right about the masks. It sure is making it easier to see people for who they really are.
        🙂

      • morishige · April 20

        Me too. But now that we have to stay home, it seems useful and the class thing doesn’t really matter anymore. 🙂 We are all taught to appreciate even the tiniest fragment of moment, aren’t we? 🙂

        I feel so grateful to blog. Now I’m beginning to understand how powerful it is to spread information, though we still have to verify them.

        Have a wonderful day! And stay safe there in Coachella Valley. 🙂

  4. Rudi Chandra · April 13

    Supirnya terlatih banget tuh bisa pindah lajur kendaraan dengan nyaman.

    Ah.. pulpennya lasak amat Mas, bentar aja dikantongin, udah ilang aja.

    • morishige · April 13

      Hehehe. Iya, Mas Rudi. Bayangin aja nyetir di kanan terus berkendara di kanan. Mau nyalip kayak gimana caranya itu? 😀

      Itu pulpen kayaknya minta dirantai hehehe…

  5. ysalma · April 13

    Jalan berdua sama nyonya sembari menjemput ingatan lalu ini ya.
    Saat ada teman seperjalanan, memang menambah rasa aman, hingga hal yg begitu yakin sudah dilakukan seperti pulpen yg sudah masuk kantong tapi ternyata kececer juga 😀 .

    • morishige · April 13

      Iya, Mbak. Napak tilas perjalanan lama sambil bikin cerita-cerita baru. 😀

      Itulah. Entah di mana pulpen itu sekarang 😀

  6. Titik Asa · April 13

    Mas, lain ya kalau sudah sama nyonya jalan-jalannya, jadi lebih teratur ya…

    Saya kaget juga bacanya, apa saya gak salah baca, itu lagu kebangsaan dikumandangkan tiap pagi begitu Mas? Terus bagaimana sikap orang-orang yang ada disana ketika lagu itu diperdengarkan? Kalau benar, hebat juga ya menanamkan rasa kebangsaan disana.

    Ditunggu kelanjutan kisahnya Mas.

    Salam,

    • morishige · April 14

      Iya, Pak. Jauh lebih terencana jadinya. 🙂

      Enggak, Pak. Pak Asa nggak salah baca. Phleng chat itu malah dinyanyikan dua kali sehari, Pak. Pertama jam 8 pagi, kedua jam 6 sore. Setiap kali lagu itu dilantunkan lewat corong, orang-orang berdiri tegak dan khidmat mendengarkan (ada juga sih yang ikut bersenandung) sampai habis. Kayaknya, untuk negara kerajaan seperti Thailand, penting sekali sih Pak untuk merawat nasionalisme rakyatnya.

      Sehat-sehat di Sukabumi, Pak Asa. 🙂

      • Titik Asa · April 16

        Benar-benar salut dengar Phleng chat dikumandangkan 2 kali dalam sehari.

        Saya pribadi menyinyakan lagu Indonesia Raya saat di SMA saja, karena ada upacara tiap hari Senin. Setelahnya, rasanya gak pernah lagi karena saya bekerja di swasta.

        Sehat selalu Mas & keluarga di Yogja.

        Salam.

      • morishige · April 16

        Hehehe… Iya, Pak. Meskipun saya penasaran juga sebenarnya apakah orang Thailand sendiri bosan atau tidak dengan itu. 😀

        Sama, Pak. Habis SMA sudah jarang menyanyikan lagu Indonesia Raya. Barangkali cuma sekali-dua pas lihat upacara pengibaran/penurunan bendera di Gedung Agung. Kangen juga hormat sambil nyanyi Indonesia Raya.

        Demikian juga Pak Asa dan keluarga, semoga selalu sehat di Sukabumi. 🙂

  7. kresnoadi DH · April 13

    Itu bagian pulpen jadi inget masa sekolah mas. Begitu taroh di meja, meleng dikit udah ilang aja. :))

    Wah, tuk2 di sana ganas2 nggak mas bawanya? Lebih bar2 mana sama bajaj di manggarai? Kalo aku didesek tanya2 gitu terus sih pasti bakal “hehehe” nggak mas” gitu. Tapi pasti awkward kalo kejadiannya di Thailand gini ya. :p

    • morishige · April 14

      Hehehe. Iya, ya, Mas Kresno. Untung pas sekolah dulu cuma pakai Pilot atau Snowman. 😀

      Tuk-tuk di Siem Reap nggak ngebut-ngebut amat, Mas. Keknya lebih “roller coaster” bajaj-bajaj oranye, deh. (Kalau yang biru kayaknya lebih kalem, ya? 😀 )

      Hahaha. Mungkin ada krik-kriknya itu kalau keceplosan. Terus lanjutannya: “Well, anyway….” 😀

  8. Zam · April 14

    wat itu kalo di Indonesia ibarat mesjid dan mushola kali, ya.. di mana-mana ada.. sungguh relijius.. 🤭

    soal sabuk pengaman ini, di bus-bus eropa juga ada, cuma ya itu tadi. kayanya ga ada yang pake.. 😆

    • morishige · April 14

      Tepat banget itu deskripsinya, Mas. Biksu-biksu berjubah seperti para santri di Jombang atau Krapyak.

      Bwahaha… Tapi supir bus di sana bisa ugal-ugalan nggak, Mas Zam? (Sabuk pengaman ini kayaknya perlu banget sih buat di SK Jogja-SBY. Hahaha.)

      • Zam · April 14

        nyetirnya kalem.. jalan mulus.. dan mungkin karena taat aturan lalu lintas juga.. paling banter jalan di 90 KM/jam..

      • morishige · April 14

        Wah… Itu sih yang penting banget, Kang. Sabuk pengaman itu bener-bener buat jaga-jaga aja jadinya. 🙂 Kalo SK, 90 km/jam itu buat pemanasan doang kayaknya ya. 😀

  9. kutukamus · April 14

    Eh seru juga ini, ada film action-nya segala.. Itu kamera tiba-tiba berubah arah karena tuk-tuknya kena jeglongankah?

    • morishige · April 14

      Yang terakhir itu sengaja diputar, KK. Tapi yang goyang-goyang sebelumnya itu karena sang supir berjuang menghindari jeglongan 😀

  10. Nasirullah Sitam · April 14

    Jadi ingat beberapa bus di Indonesia, kalau sudah sampe lokasi kadang ada jasa pengantaran menggunakan mobil kecil ke titik-titik yang sudah ditentukan. Sepuluh jam perjalanan itu cukup capek juga di dalam dengan aktivitas terbatas ahahhahahah

    • morishige · April 14

      Kayak Efisiensi ya, Mas Sitam? Hehehe.

      Capeknya lumayan, Mas. Tapi untung bangku busnya nyaman. Kalau naik Kopata, mungkin sudah remuk redam itu badan hehehe 😀

  11. Agus warteg · April 14

    Takjub juga di kereta ada sabuk pengaman di dalam kereta, mana ada stiker kalo tidak pakai sabuk pengaman akan kena denda 5000 bath, itu sekitar dua juta kali ya, kalo di Jakarta supir yang tidak pakai sabuk pengaman kena denda 300 ribu aja.😂

    Wah, kenapa pulpennya bisa hilang, apa diambil tuyul waktu mau ke perbatasan.😱

    Enak juga berpetualang sama istri ya kang, jadi kalo capek jalan bisa minta pijit. Habis pijit terus….🤭

    Terus Makan maksudnya.😁

    • morishige · April 14

      Ceritanya bus, sih, Mas Agus. 😀 Lumayan mahal memang dendanya. Tapi tampaknya penegakan aturannya juga nggak begitu jalan. 😀

      Kayaknya pulpennya lupa bawa paspor, Mas Agus. Jadi kabur dia sebelum menyeberang hahaha…

      • Agus warteg · April 19

        Aku sering naik bus baik dari Jakarta ke Jakarta ataupun yang masih seputaran Jakarta belum pernah saya menemukan sabuk pengaman kang.

        Kalo naik mobil pribadi punya tetangga juga pilih-pilih, kalo di depan pasti ada sih, tapi kalo Suzuki Carry ditengah dan belakang ngga ada. Eh tapi kalo Avanza sih ada.😂

      • morishige · April 19

        Sama, Mas Agus. Saya juga belum pernah menemukan armada bus antarprovinsi yang menyediakan sabuk pengaman di bangku. Mungkin nanti-nanti, ya, kalau persoalan-persoalan transportasi lain sudah terselesaikan. 🙂

        Mobil kolbak juga nggak ada, sih, kayaknya ya, Mas Agus. Saya kalau naik kolbak cuma pegangan di pinggir baknya saja. Hehehehe… :))

  12. CREAMENO · April 14

    Saya kalau pulpen sampai hilang, pasti kesal bukan kepalang 😂 jadi selama ini yang bertanggung jawab pegang pulpen itu saya, dan yang isi arrival card atau custom card juga saya. Si dia terima beres saja 😁

    By the way, talking about seatbelt, saya jadi ingat kalau di KR itu orang-orangnya terbiasa pakai seatbelt. Bukan cuma di bus, tapi kalau naik mobil pribadi dan duduk di kursi tengah / kursi belakang pun mereka akan pakai seatbelt juga 😆 sesuatu yang tadinya nggak pernah saya lakukan ketika di Indonesia ~ alhasil setiap kali kami naik bus, kalau ada seatbeltnya pasti dia memaksa saya menggunakan seatbelt tersebut. Salah satunya waktu ke Sa Pa beberapa waktu silam 🤣

    Ohya sepertinya mas tipe traveler yang lebih menikmati pengalaman saat melakukan perjalanan ya, bukan attractions hunter (yang hobi mampir ke tempat wisata) hehe soalnya seingat saya saat baca-baca tulisan mas, mostly berisi tentang perjalanan mas ketika menikmati kehidupan di negara orang 😁 mungkin itu juga yang membuat saya sangat menikmati alur ceritanya ~

    • morishige · April 14

      Hahaha… Mesti yang benar-benar teliti sih kalau mau nyimpan pulpen. 😀

      Barangkali KR sudah sosialisasi seatbelt sejak lama ya, Mbak? Di Indonesia kayaknya baru sekitar tahun 2000-an awal. Mula-mula banyak itu berita soal orang-orang yang ditilang karena kedapatan nggak pakai seatbelt di mobil. Tapi sekarang sudah mulai jadi norma (meskipun baru terbatas pada orang-orang yang duduk di depan).

      Iya, Mbak. Dari dulu kayaknya sudah begitu. Lebih senang menceritakan “di antara”-nya. Soal “destinasi” ini, saya jadi inget perjalanan pertama ke Bali, zaman kuliah, entah tahun kedua atau ketiga dulu (2008 kalau nggak salah). Berdua sama temen. Pas akhirnya sampai di Kuta, saya cuma cengo sambil mikir “Ha? Jadi gini aja?” Malah yang saya inget dari perjalanan itu soal jalan kaki dari Ubung sampai ke deket batas kota Denpasar-Kab. Badung (pakai singgah-singgah di kolam renang entah hotel apa gitu), juga soal ditinggal sendirian sama temen di Stasiun Banyuwangi baru padahal saya cuma pegang uang Rp1.000. Hehehehe…

      Terima kasih sudah ikut jalan-jalan lewat catatan-catatan di blog ini, Mbak Eno. 🙂

      • Agus warteg · April 19

        Masalah pulpen saja bisa jadi besar ya kang.😅

      • morishige · April 19

        Hahaha… Besar, sih, enggak juga, Mas Agus. Tapi cukup buat ngasih pelajaran baru juga. Lagipua, abis urusan itu, langsung ketawa-ketawa aja. 🙂

  13. CREAMENO · April 14

    Betul mas, pulpen itu harus dijaga dengan sebaik-baiknya 😂 jadi ingat dulu kalau ada orang sebelah yang duduk di pesawat pinjam pulpen terus dikasih sama si dia, sayanya langsung kasih reminder untuk jangan sampai lupa diminta 🤣 kalau dipikir-pikir saya ini menyebalkan juga karena sampai sebegitunya 😆 tapi saya melakukan itu karena trauma, dulu si dia sempat lupa meminta kembali pulpen yang dipinjamkan ke orang sebelah alhasil saat flight back to Indonesia, saya mau nggak mau harus berhenti di meja tempat isi custom card (berdesakan dengan orang banyak) yang mana seharusnya custom card itu sudah rapi saya isi saat saya masih di pesawat. Dan jangan ditanya bete-nya saya, duuuuh bisa dibahas terus sepanjang jalan kenangan (alias masih saya ungkit sampai sekarang) 😂

    Iya mas sepertinya kebiasaan memakai seatbelt sudah ada dari lama, termasuk carseat untuk bayi yang mana kalau nggak pakai pasti kena denda. While di Indonesia, sepertinya masih banyak yang nggak pakai carseat. Meski sejujurnya, awkward juga menurut saya pakai seatbelt saat duduk di belakang 🤣 tapi daripada kena ceramah, yasudah saya pakai saja ehehehehe.

    Saya jadi paham kenapa saya nyaman baca cerita-cerita di blog mas, karena memang nggak biasa alurnya 😂 dulu waktu awal mula berkunjung ke sini sempat bingung, lho si mas pergi ke negara ini tapi kok nggak mampir mampir? Terus semakin dibaca semakin paham, oh memang style-nya beginiiii. Hihihi ~ by the way, saya juga meski sering ke Bali jarang main ke Kuta dan tempat wisata lainnya. Paling kalau ke Kuta karena ingin belanja di Beachwalk 🤣 cuma ada satu tempat yang sering saya kunjungi kalau lagi di Bali, yaitu Safari Park. Itu tempat healing buat saya 😍

    • morishige · April 15

      Wahaha.. Pasti bete banget itu, Mbak, mesti desak-desakan bareng banyak orang di meja tulis. Kalau naik pesawat, memang kayaknya lebih bijaksana buat nulis arrival/departure card pas di kabin (kalau awak kabinnya menyediakan hehehe). Jadi pas landing tinggal antre imigrasi aja.

      Hehehe… Kayaknya kesadaran buat pakai seatbelt juga masih dalam tahap karena nggak pengen ditilang. Padahal itu kan buat jaga-jaga seandainya terjadi apa-apa. Supaya nggak kebanting depan belakang.

      Buat merawat kenangan juga, Mbak. Nggak pernah tahu kapan lagi bisa ketemu teman-teman yang dijumpai sepanjang perjalanan. Setidaknya rasa kangen saya sendiri bisa terobati pas baca-baca tulisan ini lagi, satu-dua, lima, sepuluh tahun yang akan datang. 😀

      Hehehe… Seumur-umur, saya belum pernah ke Beachwalk, Mbak. Ke Galeria kayaknya juga cuma sekali pas nonton Pendekar Tongkat Emas. Lebih enak di Ubud atau Amed, sih. Nggak rame dan nggak bising. Pas banget untuk cari ketengangan. 😀

  14. Rissaid · April 14

    Wah, 5000 bath utk denda tanpa sabuk pengaman?! aku juga baru tau ternyata kudu pake begituan

    • morishige · April 15

      Iya, peraturannya begitu, Mbak Rissa. Tapi ternyata nggak ketat juga hehehe…

  15. Rifqy Faiza Rahman · April 15

    Saya baru membaca judul-judul tulisanmu di bulan ini ke belakang, apakah perjalanan ini serangkai?
    Petualangan yang luar biasa. Dan detail tulisan yang apik. Saya serasa masuk, ikut bertualang meskipun belum sama sekali ke sana.

    • morishige · April 15

      Iya, Bung Rifqy, perjalanan yang serangkai. 🙂

      Terima kasih, Bung. Tapi foto-fotonya nggak sekeren foto-foto di Papan Pelangi. 😀 Nanti tak belajar-belajar soal foto di blognya Bung Rifqy. 🙂

      Terima kasih sudah mampir dan berkomentar, Bung. 😀

  16. Wow – the only time I saw MRT cars that empty was…well never. What a difference an early morning ride makes. The bus lines between Bangkok and Siem Reap are so clean and well organised.

    • morishige · April 16

      True. City life can be quite different early in the morning.

      Their service is quite great too. They supply the passengers with coffee, snacks, and lunch.

  17. travelingpersecond · April 16

    Begitulah para penggila perjalanan. Keluar pagi ketika khalayak masih bermimpi, pulang malam ketika khalayak sedang memulai mimpi.
    Penikmat sisi lain dunia memang kadang membuat orang normal geleng geleng kepala dg tingkah laku si penikmat.
    Sebetulnya kata tepat buat khalayak itu “ngegembel”, cuma kita menghaluskannya menjadi “backpacker”.
    Permainan mindset di dunia kita itu mas. Hahaha

    • morishige · April 16

      Hahaha… Iya, Mas. Kadang malah ngerasa kayak gelandangan yang berminggu-minggu melintas di depan rumah orang. Unidentified Walking Object (UWO). Hahaha…

      Terserah aja ya, Mas Donny, mau dilebelin kayak gimana. Yang penting masih dianggap manusia. 😀

      • travelingpersecond · April 16

        Nah itu…..masih sama sama makan nasi sing penting…hahahaha

      • morishige · April 16

        Yoi, Mas. Kalau sistem pencernaannya kayak Limbad, baru beda itu. 😀

  18. jelajahlangkah · April 16

    10 jam perjalanan itu sama dengan naik bis Rosalia Indah dari Jakarta – Jogja; terus pas turun jalannya agak pelan-pelan, kakinya pegal 😀

    • morishige · April 16

      Hehehe, iya, Mas. Oleng juga pas akhirnya turun. Berasa kayak Jack Sparrow kelamaan berlayar terus tiba-tiba harus berlabuh di pulau. Hehehe…

      Makasih sudah mampir dan berkomentar, Mas Jejaklangkah. 😀

  19. omnduut · April 18

    Aku termasuk yang detail menyiapkan keperluan yang biasanya gak dipikirin sama travelmates, termasuk pulpen ini hehe. Penting gak penting. Yang jelas kalau punya sendiri itu menghemat waktu. Nah, pas terakhir ke Kerala itu aku kelupaan bawa. Di Soetta nyari mbok ya satu pulpen bisa 2 kali makan siang di rumah makan padang. Belakangan nemu di gerai minimarket tapi “dipaksa” beli langsung 3 pcs dan harganya juga lumayan. Gini nih, kalau kurang teliti jadinya keluar lagi dana yang seharusnya dapat ditekan 😀

    Apa ini pertanda aku sudah harus memiliki nyonya juga? :))

    • morishige · April 18

      Hahaha… Iya, ya, Om, jadi ndak ekonomis banget sih kalau mesti beli-beli mendadak karena lupa persiapan. Apalagi kalau buat benda-benda yang cuma sekali-dua kali pakai. Kalau disisihkan bisa buat makan enak juga sekali-sekali. 🙂

      Ahaha…. Bisa banget itu Omnduut buat dijadikan motivasi. Eh– hehehehe…

  20. Firsty Chrysant · April 18

    Aiiih… seruuu banget…

    Jadi di Kamboja, laju kedraandikanan kaya di Amerikagitu ya (liat di tipi,hehe). Dan bus thailan d yg masuk kamboja, setirnya di kanan. Mereka mahir amat ya jalan dikanan jalan, setir juga di kanan…

    • morishige · April 18

      Iya, Mbak Firsty. Duduk di belakang aja sensasinya lain apalagi kalau tiba-tiba ganti lajur pas bawa mobil. Mesti udah berpengalaman banget pak supirnya. Hehehe… 🙂

  21. ellafitria · April 19

    wkwkwk, nggak bisa bayangin kl aku jd nyonya. kesel bgt pasti baru dikasih pulpen udah ilang aja, tau gitu mending disimpen nyonya jaa tuh pulpen. hhhh
    jd pengen jalan2 berduaaaa, eh tp sm siapa. wkwk

    • morishige · April 19

      Iya, Mbak Ella. Kayaknya opsi itu lebih bijaksana. Hehehe…

      Semoga segera terwujud jalan-jalan berduanya, Mbak Ella. 😀

  22. Himawan Sant · April 19

    Thank you for the story of not wearing a seat belt on a train subject to fines.

    Later it will be a guide for me so that I don’t get fined in Thailand.

    • morishige · April 19

      Anyway, it’s the bus, Mas Himawan. But no worries, the rule is not that strict.

  23. rivai hidayat · April 21

    Kesibukan di dunia nyata membuatku ngilang sejenak. Akhirnya bisa singgah ke sini, meski ketinggalan banyak..wkwkkwk

    Pulpen memang terlihat sepele, tapi bisa jadi masalah tersendiri. Ketika pergi, aku selalu membawa beberapa pulpen dan notes. Jaga-jaga kalau ada kegiatan tulis-menulis.

    10 jam naik bus lintas negara sepertinya terdengar seru yaa mas? Apalagi bus punya fasilitas yang bagus. Aku terakhir ngebis diatas 10jam pas perjalanan bengkulu-padang. Sayangnya bus malam. Jadi tidak banyak yg bisa dinikmati pemandangannya. Tapi menikmati kearifan lokal berupa musik khas minang ketika istirahat perjalanan di sebuah resto di dharmawangsa.

    • morishige · April 21

      Kayaknya memang mesti ada satu pulpen yang khusus untuk urusan administrasi begini, Mas. Biasanya saya gabungin saja pulpen buat mencatat dan mengisi dokumen. Kayaknya nanti mesti dipisahkan. 😀

      Seru, Masvay. Tapi kayaknya lebih seru bus Bengkulu-Padang, deh. Jalannya lebih “warna-warni” soalnya. Jalan dari Bangkok ke Siem Riep ini rata dan lurus-lurus saja. Dan nggak ada musik Minang atau Panbers di dalamnya. 😀

      Stay safe di sana, Masvay. 😀 Makasih sudah menyempatkan mampir di tenga-tengah kesibukannya 😀

      • rivai hidayat · April 21

        seandainya itu perjalanan pagi-siang pasti kelihatan pemandangannya. Dalam perjalanan itu hanya bisa menikmati pemandangan dari bengkulu hingga lubuklinggau saja 😀

      • morishige · April 25

        Hehehe… Berarti kayak perjalanan Padang-Jambi, Masvay. Biasanya berangkatnya sore-malam dari Padang. Terus nyampe-nyampe di Jambi sudah pagi saja. 😀

  24. Bang Ical · April 21

    Sampai di tulisan “…. Tapi, kalau dulu melangkah sendiri, sekarang saya bertualang berdua.”, saya langsung batin: bah, sial, asik sekali abang satu ini.

    Saya suka tegang kalau sudah urusan administrasi masuk negara lain. Dulu waktu melintas dari Malaysia ke Singapura, paspor saya jatuh di bus sedangkan saya sudah masuk ke imigrasi. Teledooor sekali. Tapi karena gugup.

    • morishige · April 21

      Dicoba saja sekali-sekali, Bang Ical. 😀 Beda banget rasanya dengan traveling sendirian atau sama temen. Hehehe…

      Sama, Bang. Saya juga. Rasa-rasanya kok selalu bakal nggak dikasih izin. Imigrasi itu jadi kayak tembok tebal yang susah ditembus. Lucunya, saya juga ngerasa hal yang sama pas di imigrasi Indonesia, Bang. Mereka selalu curiga kalau saya mau kerja ilegal ke luar negeri. Selalu saja ditanyain mau ke mana, ngapain aja, dan diminta kasih lihat tiket pulang. Kaos oblong, celana pendek, dan ransel gunung memang kelihatan nggak meyakinkan kali, ya? 😀

      • Bang Ical · April 21

        Iya sih, kalau sama temen bisa berbagi pusing satu sama lain 😁

        Betul! Saya pikir saya cuma terpengaruh cerita teman tentang imigrasi yang dihoror-hororkan. Ternyata horor beneran. Dan yang ribet emang imigrasi Indonesia 😆

      • morishige · April 21

        Sendirian, kalau kesel ditelen sendirian aja, Bang. 😀 Berdua bisa sambil julid. Hahaha…

        Kayaknya kapan-kapan mesti lewat imigrasi pakai jas dan dasi nih, Bang. Biar lancar jaya dan nggak ada tatapan-tatapan curiga. 😀

      • Bang Ical · April 21

        Betul. Kejahatan yang menyenangkan 🤣

        Kalau pakai jas dasi, giliran penumpang lain yang curiga. Dikiranya koruptor 😆

      • morishige · April 21

        Hahahaha!

        Duh, iya juga ya… Ntar dikira mau cari suaka. 😀

Tinggalkan Balasan ke omnduut Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s