Bersepeda ke Angkor Wat

Saat pertama kali ke Siem Reap, suatu malam di balkon atas Tropical Breeze, saya menyadari satu hal: langit malam di kota itu luar biasa kelam. Titik-titik cahaya artifisial kreasi peradaban Homo sapiens seakan kewalahan meladeni gelap yang sudah eksis sejak permulaan zaman. Juga, kota itu tenang. Klakson cuma satu-dua yang bersuara. Raungan mesin jet pesawat pun hanya sesekali menderu memecah keheningan angkasa.

Siem Reap tempat yang tepat untuk istirahat.

Maka wajar saja kami—yang kemarin menumpang bus antarnegara sekitar sepuluh jam dari Bangkok—bangun siang Minggu pagi itu. Sekitar jam sembilan baru mata kami membuka. Saya, untuk kesekian-ribu kalinya, melewatkan Subuh. Nyonya melewatkan misa Khmer di St. Joseph.

Kami sarapan di warung tak jauh dari Warm Bed. Usai makan pagi, kami jalan kaki ke arah Old Market, membeli tiket minivan ke Poipet untuk besok pagi, menyeberangi jembatan kayu yang mengangkangi Sungai Siem Reap, kemudian menerobos pasar seni menuju Wat Damnak. Sembari mencari rental sepeda motor, saya ingin mengajak dia melihat rupa Tropical Breeze, agar setiap kali saya mengulang cerita perjalanan lama itu dia bisa lebih mudah membayangkan latarnya. Kami tak masuk, hanya melihat-lihat penginapan itu dari depan. Rupa Tropical Breeze sekarang sudah agak beda. Kolam renangnya sudah jadi dan barnya sudah beroperasi. Sekarang para tamu sudah bisa pool party.

Dari Tropical Breeze, kami balik kanan menuju penginapan, kembali menelusuri jalanan Wat Damnak yang sepi.

Breakfast?

Tiba-tiba seorang berperawakan Kaukasian menyapa kami dari pinggir jalan. Ia, entah bagaimana caranya, seperti menyaru dengan sekitar. Dari jauh ia hampir-hampir tak kelihatan. Tapi, di sanalah ia. Dandanannya lumayan rapi dengan kemeja kasual dan celana panjang. Ia tersenyum sambil memegang menu restoran. Kapten? Pemilik restoran? Entahlah. Semua memang tampaknya bisa bekerja di Kamboja. Senyumannya kami balas, namun tawarannya saya tolak halus dengan sebaris “No, thanks.

Tak terasa kami sudah kembali berdiri di pinggir sungai, depan Old Market. Tadi kami memapas beberapa rental sepeda motor, tapi tak ada satu pun yang tampak menarik untuk dihampiri. Entah kenapa. Lalu saya mulai memikirkan opsi-opsi lain.

Kenapa tidak bersepeda saja?

Dari sini, Angkor Wat tidak terlalu jauh—meskipun saya tak tahu pasti seberapa persis jaraknya. Sejauh-jauhnya, takkan lebih jauh ketimbang jarak antara Tugu Pal Putih dan Pantai Parangtritis. Jalannya juga tampaknya datar-datar saja, tak ada apa-apanya dibanding kemiringan Jalan Kaliurang bawah dari perempatan MM UGM ke Jalan Damai. Seingat saya, tak banyak keringat yang keluar ketika dulu saya jalan kaki sampai pertigaan menuju loket tiket kompleks Angkor Wat. Pakai sepeda tentulah lebih hemat tenaga.

Kami membicarakannya. Di ujung obrolan, Nyonya mengangguk. Dia mau bersepeda. Barangkali dia kangen juga mengayuh pedal. Meskipun sekarang jarang karena Polygon Monarch-nya sudah dijual, waktu kuliah sarjana dulu dia lumayan sering nggowes di jalanan Jogja dengan topi matahari bertengger di kepala.

Warm Bed punya persewaan sepeda. Rasa-rasanya pilihan paling bijaksana adalah menyewa di sana; ambil di sana, kembalikan ke sana. Kami pun segera kembali ke penginapan lewat jalan kecil berlapis kerikil itu. Di lobi, kami bertanya soal sepeda pada sesiapa di balik meja resepsi. Senang sekali rasanya mendengar bahwa masih ada beberapa unit sepeda yang tersedia.

Moda transpor beres.

Tapi tengah hari belum. Tanggung sekali rasanya jika memulai perjalanan sekarang saat matahari sedang menyeringai garang. Biarlah sang surya mencapai puncak kolong langit terlebih dahulu dan memuntahkan berkas-berkas fotonnya yang paling menyengat. Kami bisa menanti. Lalu, sambil menunggu matahari oleng ke barat, kami merebahkan diri untuk beristirahat.

Tsunami Selat Sunda

Jam dua kami mulai mengayuh sepeda. Dari Old Market, kami menyeberangi jembatan, melipir bundaran, lewat depan Hard Rock Cafe, lalu menyusuri jalan lengang di pinggir Sungai Siem Reap yang paralel dengan Pokambor Avenue. Rumah-rumah lumayan bagus dan jalanan lumayan teduh. Di ujung jalan, kami mesti membawa sepeda keranjang itu melambung agak jauh ke timur demi mencari tempat memutar sebelum, sekali lagi, kembali ke jalan utama menuju kompleks Angkor.

>>Perempatan Royal Residence, Siem Reap

Kami lewati Taman Royal Independence yang letaknya berhadap-hadapan dengan Raffles Grand Hotel d’Angkor. Royal Residence, entah apa di dalamnya, ada di selatan sana. Pokambor Avenue sudah berakhir. Jalan sekarang bernama Charles de Gaulle. Memapas Angkor National Museum, kami terus dan terus ke utara. Nyonya di depan, saya menyapu di belakang.

Bagi saya yang sejak kecil didoktrin untuk jalan sebelah kiri, untuk menaati rambu “belok kiri jalan terus,” dan mempraktikkan konsep-konsep lalu lintas lain yang serba kiri, susah juga ternyata sekonyong-konyong mengubah paradigma berkendara ke kanan, meskipun yang saya kendalikan bukan moda transpor bermotor.

>>Jalan Charles de Gaulle

Sekitar 2,7 km dari Old Market, di pertigaan di mana dulu saya balik kanan maju jalan, kami mengarahkan setang ke arah kanan menuju timur. Menurut petunjuk di pertigaan, jalan menuju tempat pembelian tiket adalah ke sana. Jalan no. 60 itu makin lebar dan pinggirannya sekarang gersang. Kemarau. Andai saja pepohonan di sana bisa digeser sedikit ke sini. Kemiringan mulai terasa meskipun gradiennya tak begitu kentara. Suasananya persis jalan-jalan bypass di Sumatera. Mobil, sepeda motor, dan tuk-tuk hanya sesekali melintas.

Nyonya mulai khawatir—dan berkeringat. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Masih jauh, nggak?” “Berapa menit lagi?” “Nggak tanya ke orang aja?” dan variasi-variasi lainnya mulai dia tembakkan. Sebenarnya saya tidak tahu; peta-peta yang saya baca kebanyakan tanpa skala. Tapi saya jawab semuanya sediplomatis mungkin. Ada untungnya juga ternyata terbiasa jadi “tukang sapu” ketika mendaki gunung. Sekian lama trekking di belakang dan memotivasi para pendaki gunung bersemangat kurang, kemampuan “nyontong” saya jadi lumayan berkembang. Diolah saja sedikit lagi mungkin saya bisa menggantikan tugas Mario Teguh.

Beberapa menit sebelum jam setengah tiga, mata saya menangkap semacam keramaian di ujung sana, dekat fatamorgana. Dilihat-lihat dari bentuknya, itu adalah sebuah perempatan. Saya menduga loket tiket ada di sekitar sana. “Kayaknya udah deket, deh,” ujar saya. Nyonya makin bersemangat. Dalam hati, saya berdebar-debar berharap dugaan saya benar. Kami mengayuh semakin mendekat, mendekat, mendekat, dan—syukurlah—loket tiket benar-benar ada dekat sana.

Hampir 5 km sudah kami bersepeda.

Lepas memarkir sepeda, kami masuk ke bangunan megah itu lalu ikut antre membeli tiket. Tak sampai sepuluh orang di depan kami. Di ujung antrean, saat Nyonya sedang bertransaksi dengan petugas yang ada di balik kaca, seorang petugas lain yang berjaga di samping loket tiba-tiba bertanya kepadanya dalam bahasa Inggris.

>>Loket tiket masuk Angkor Wat

“Anda dari Indonesia?”

Nyonya menoleh padanya lalu menjawab, “Iya.”

“Turut berduka atas bencana tsunami [Banten, 22 Desember 2018] kemarin,” ujarnya. Sang penanya ternyata mencuri dengar waktu Nyonya ditanyai mengenai kewarganegaraan oleh petugas yang mengurus tiket.

Saya terharu mendengar itu.

Kuil Ta Prohm

Usai membeli tiket, kami melanjutkan perjalanan. Kami mengayuh ke utara lewat Jalan Apsara yang seolah-olah rata tapi sebenarnya miring. Sesekali, tuk-tuk memapas kami. Para penumpangnya, wisatawan-wisatawan berkacamata hitam berkaos bercelana pendek, duduk nyaman di gerobak belakang. Cepat sekali rasanya tuk-tuk itu meninggalkan kami.

Kami terus mengayuh. Sesekali Nyonya bertanya apakah Angkor Wat masih jauh.

Sekitar dua puluh menit kemudian, ujung jalan sudah kelihatan. Jalan Apsara berakhir di sebuah pertigaan. Di sana, kami diminta berhenti oleh petugas berseragam yang digaji oleh otoritas yang mengelola Angkor Wat. Tiket kami diperiksa.

Lepas dari sana, kami belok kiri. Jalanan sama mulusnya tapi vegetasi di kanan-kiri kini lebih lebat. Di bawah adalah semak-semak, sementara di atas adalah dahan-dahan rimbun yang menjulur dari pepohonan tinggi. Di satu ruas, kami meliuk menghindari pohon raksasa yang menjulang di lajur sepeda bak tiang listrik lawas yang lupa dipindahkan.

>>Pohon di jalur sepeda kompleks Angkor Wat

Jalan mulai menurun. Parit raksasa yang mengelilingi Angkor Wat sudah keliahatan. Riak-riak peraknya kontras sekali dengan hijau tua hutan yang kini sudah mengambil alih produk peradaban dari tangan manusia. Di ujung turunan, kami keluar dari aspal, mengarahkan setang ke kanan menuju gerbang timur Angkor Wat.

Sepeda kami parkir dan sekali lagi tiket kami diperiksa. Lepas pengecekan, kami jalan kaki ke arah barat, melipir reruntuhan Gerbang Taku (Gate of Taku), lalu melangkah pelan di jalan tanah berbatu yang mungkin saja dulu adalah sebuah boulevard luar biasa megah. Kanan-kiri adalah hutan dengan pepohonan tinggi menjulang.

>>Tiga orang pengunjung berjalan dekat reruntuhan “the Gate of Taku”

Ketiga menara Angkor Wat yang diabadikan dalam bendera Kamboja itu sudah kelihatan.

Kami masuk kompleks Angkor Wat lewat celah kecil antara polongan batu purba dan pagar kayu yang dibuat oleh manusia-manusia yang lahir kemudian. Kaki saya memang menapak di Angkor Wat, melangkahi pekarangannya, batu-batu tuanya, lorong-lorong batunya, tapi pikiran saya masih sibuk mencerna apakah ini nyata atau cuma idea. Ini terlalu sureal. Kenyataan bahwa saya melangkah di lantai batu kompleks Angkor Wat adalah realitas yang terlalu sureal.

Sampai ketika akhirnya kami kembali ke tempat memarkir sepeda, saya masih tak percaya bahwa saya baru saja melihat Angkor Wat.

Dari gerbang timur Angkor Wat, kami lanjut bersepeda menuju Ta Prohm. Kami mengayuh melipir parit raksasa seluas danau-danau di Dieng. Warga lokal berkumpul di pinggir jalan, entah berduaan atau ramai-ramai bersama kawan atau keluarga. (Angkor Wat gratis bagi warga Kamboja.) Gerobak mi goreng, minuman dingin, dan aneka kuliner jalanan lain bikin kawasan Angkor Wat lebih semarak.

Kami terus ke utara, melewati gerbang selatan kompleks Angkor Thom (Tonle Om Gate), lalu tiba di Bayon dan mendapati bahwa langit sudah merah. Nyonya sudah mulai menikmati perjalanan. Di pertigaan depan Teras Gajah (Terrace of the Elephants), kami belok ke timur. Jalan mengecil. Suasana makin sepi. Yang terdengar hanya suara roda sepeda yang berputar di aspal, juga suara burung-burung atau entah-makhluk-apa yang menghuni hutan rimbun itu. Nyonya capai bersepeda di jalan yang seakan tanpa ujung itu.

>>Gerbang selatan Angkor Thom
>>Senja di Bayon
>>Sebuah sepeda motor hendak keluar kawasan Angkor Thom lewat Gerbang Kemenangan

Kami berhenti sebentar di Gerbang Kemenangan (Victory Gate). Nyonya menghela napas, saya menyerap suasana. Sesore ini, tak terlalu banyak kendaraan yang lewat Gerbang Kemenangan yang lorongnya hanya cukup untuk dilewati satu bus (benar-benar) mini itu. Orang-orang masa lalu yang membangun gerbang itu pasti tak pernah menyangka bahwa suatu saat benda seperti sepeda motor atau mobil akan melaju di lorong bangunan batu itu. Sepeda motor atau mobil bagi mereka tak ubahnya seperti UFO bagi kita.

Dari Gerbang Kemenangan, kami lanjut mengayuh sepeda ke arah Ta Prohm, lewat reruntuhan-reruntuhan guram yang namanya tidak setenar Angkor Wat atau Bayon. Hutan yang mengapit jalan makin lebat. Kami tiba di gerbang Ta Prohm jam lima lewat, saat matahari hampir menyentuh cakrawala barat.

>>Reruntuhan kuil Ta Prohm

Reruntuhan Ta Prohm agak jauh dari gerbangnya. Untuk tiba di kuil bahari yang pernah jadi latar pengambilan gambar Baraka (1992) dan Lara Croft: Tomb Raider (2001) itu, kami mesti berjalan sekitar lima menit lewat jalan tanah lebar yang pasti akan becek di musim basah.

Jalan tanah itu berakhir di platform kayu dan platform kayu itu berakhir di dinding luar reruntuhan Ta Prohm. Kepala saya menoleh ke sana kemari menyerap pemandangan: bangunan batu yang sudah runtuh atau masih utuh, pohon-pohon menjulang yang akarnya mencengkeram sudut-sudut kuil, orang-orang.

Kami di sana sekitar 45 menit.

Beberapa saat setelah kami tiba di luar, gerbang Ta Prohm ditutup pengelola. Sudah jam enam sore ternyata. Selepas meneguk minuman dingin di warung dekat parkiran, kami memulai perjalanan pulang ke Siem Reap lewat rute yang berbeda. Sebentar lagi lampu sepeda akan terasa sangat berguna.

71 comments

  1. Ayu Frani · April 21

    Tulisan yang luar biasa sekali, Kak. Saya yang membacanya bisa ikut menikmati perjalanan indah ini. Saya sangat terkesan dengan wisata seperti ini, menyadarkan kita akan kekuatan spesies kita di muka bumi ini.
    Terima kasih sudah berbagi, Kak.

    • morishige · April 21

      Terima kasih, Ayu. Susah sekali memang untuk percaya bahwa peradaban besar bisa hancur dan kembali diklaim oleh alam. Reruntuhan seperti ini bikin saya sadar bahwa manusia dan peradabannya itu sebenarnya rapuh.

      • Ayu Frani · April 21

        Setuju sekali, Kak. Saya suka pernyataan ini, “…manusia dan peradabannya itu sebenarnya rapuh”. Melihat kenyataan hingga pada saat ini, manusia begitu terobsesi untuk melakukan sesuatu yang kadang nampak seperti ‘diluar kodratnya’, dan mengeksplor seluruh kemampuannya untuk menakhlukkan alam semesta.
        Tapi, dilain pihak, manusia terus belajar bahkan dari rapuhnya peradaban yang dibangun sebelumnya. Berpijak pada banyaknya kegagalan, manusia membangun sesuatu dari kerapuhan dan rerentuhan tersebut. menciptakan sesuatu yang jauh lebih memuaskan dirinya.

        Menarik rasanya mendiskusikan hal seperti ini, Kak.

      • morishige · April 21

        Iya, sekarang saja kita dibikin nggak bisa ngapa-ngapain sama makhluk renik. Kayaknya manusia mesti memikirkan ulang lagi soal “kemajuan,” deh. Dan keputusan-keputusan kita ngga bisa eksklusif buat manusia aja, tapi mesti inklusif dan menyertakan bumi.

        Yoi, menarik banget. Bisa panjang banget ini obrolannya. 🙂

      • Ayu Frani · April 23

        Setuju sekali dengan pernyataan ini, Kak. Manusia bisa saja membangun gedung anti gempa, atau menciptakan kapal penjelajah ruang angkasa. Tapi, ketika berhadapan dnegan makluk renik ini, kita dipaksa untuk diam dirumah dan diliputi banyak ketakutan.

  2. Anna Liwun · April 21

    Hallo,

    Saya sudah dua kali ke Angkor Watt. Pertama kali ke sana, saya masih harus bayar VoA 25$ untuk masuk. Kedua kali, saya sudah bebas masuk, tanpa VoA hanya suami wajib VoA. Cuma memang suasananya gak berbeda seperti saya datang kedua kali dan seperti yang anda ceritakan. Hanya saja Siem Riep dapat penghargaan ‘Clean City’ jadi lebih bersih keliahatannya sekarang, terlihat dari video anda. Terimakasih untuk cerita anda yang menyentuh.

    Salam,
    Anna

    • morishige · April 21

      Halo, Anna. Pasti menyenangkan sekali bisa kembali datang ke Siem Reap (dan Angkor Wat) setelah jeda beberapa tahun dan melihat perbedaannya. Selain “Clean City,” kalau tidak salah Siem Reap juga dimasukkan dalam daftar “10 Kota Ternyaman” di Asia oleh sebuah majalah perjalanan, bersama Ubud.

      Terima kasih sudah membaca dan bernostalgia dengan postingan ini. 🙂

  3. salsaworldtraveler · April 21

    Thanks for taking me back to Siem Reap, Angkor Wat and Angkor Thom. I visited a few years ago and had forgotten the names of many of places and temples like Ta Prohm. Your descriptions of the town, sites, and the photos you included are amazing.

    • morishige · April 21

      You’re most welcome. Glad you liked this post. The ambiance must be quite different to the time when you visited it several years ago. There are some progress, I guess. I don’t usually post a lot of photos but since Angkor Wat temples are so wonderful, I made an exception. Thanks for stopping by. 🙂

  4. Titik Asa · April 21

    Asik nih perjalanannya bersepeda begitu Mas. Untukg cuma 5 km ya Mas. Kalau jalan kaki itu bisa sampai 1 jam lebih dikit. Saya biasa jalan kaki dari rumah di Cisaat ke rumah orang tua di kota Sukabumi, sekitar 5 km juga.

    Angkor Wat itu peninggalan budaya masa lalu ya Mas. Ramai juga kunjungan turis kesana? Bagaimana kalau dibandingkan dengan Candi Borobudur misalnya? Apakah ada kesamaan latar belakang sejarah?

    Saya terpesona melihat foto-foto Angkor Wat dang Angkor Thom. Sudut foto yang oke jadi serasa saya disana melihatnya langsung.

    Btw, pada foto-foto disini ada misteri nih Mas. Siapakah yang bersepeda yang membawa tas punggung hijau muda itu?

    Salam,

    • morishige · April 21

      Asyik banget, Pak Asa. Meskipun jarak lurus dari Siem Reap cuma sekitar 5,5 km, sebenarnya jarak bersepeda waktu itu sampai hitungan 2 digit dalam kilometer, Pak. Jarak 5 km dalam cerita itu baru sampai tempat beli tiketnya saja. Berangkatnya jam 2 siang, tiba di penginapan sekitar jam 8 malam. 😀 Soal jarak ini rencananya bakal direkap di postingan selanjutnya, Pak. Hehehe. 😀

      Kompleks Angkor ini memang atraksi utama pariwisata Kamboja, Pak. Salutnya, orang Kamboja tak dipungut biaya untuk masuk. Beda dengan Borobudur yang menarik biaya masuk pada orang Indonesia.

      Dari segi wilayah, kompleks Angkor Wat ini luar biasa luas, Pak. Konon dulu kompleks ini pernah jadi ibu kota Kerajaan Khmer. Kuil Angkor ini jadi semacam “Istiqlal”-nya. Kalau soal usia, Angkor Wat sepertinya lebih muda ketimbang Borobudur. Angkor dari abad ke-12, Borobudur dari abad ke-9. Semula, kuil Angkor dibuat sebagai tempat ibadah Hindu, tapi lalu berubah jadi Buddha akhir abad ke-12. Jadi kini Angkor dan Borobudur sama-sama kuil Buddha. Soal kesamaan latar belakang sejarah, di zaman pra-Borobudur ada satu cerita tentang seorang anak Dinasti Sanjaya yang menikah dengan seorang putri dari Kamboja. Detailnya saya belum tahu benar, tapi menarik juga untuk dikulik. 🙂

      Hahaha… Pengamatan Pak Asa jeli sekali. 😀

      Semoga Pak Asa tetap sehat di Sukabumi. 🙂

      • Titik Asa · April 24

        Ini keren Mas, memasuki kawasan wisata bersejarah seperti Angkor tidak dipungut biaya. Kalau disini mah ya biaya masuk, ya biaya parkir juga…

        Saya membayangkan saja luas Angkor tersebut karena pernah jadi ibu kota. Namanya kota, sekecil-kecilnya juga pasti luas juga ya Mas.

        Hehehe…karena tas punggung warna hijau itu muncul di beberapa scene ya Mas.

        Aamiin… Semoga Mas dan keluarga juga sehat selalu di Yogja.

        Salam,

      • morishige · April 25

        Itulah kalau kita hanya melihat kawasan bersejarah sebegai objek wisata, Pak. Jadi cuma jadi lumbung uang saja akhirnya. Padahal tempat-tempat bersejarah ini bisa ngasih tahu orang-orang yang hidup sekarang soal asal-usulnya.

        Untuk ukuran abad ke-12, kota itu rasa-rasanya sudah sangat besar, Pak. Saya jadi inget, kemarin lusa saya baru lanjut baca buku George McT. Kahin yang “Nationalism and Revolution in Indonesia.” Kebetulan dia lagi cerita soal jumlah penduduk Hindia Belanda. Dalam sensus abad ke-19, penduduk Hindia Belanda yang wilayahnya luas ini saja nggak cuma skitar 30 juta, Pak. Jadi, pastilah di abad ke-12 kompleks Angkor itu, yang berada di wilayah yang lebih kecil ketimbang Hindia Belanda, termasuk kota besar.

        Hehehe…

        Selamat berpuasa, Pak Asa. 😀

      • Titik Asa · April 30

        Terima kasih Mas pencerahannya mengenai kompleks Angkor tsb. Kagum juga.

        Selamat berpuasa juga Mas.

      • morishige · Mei 1

        Sama-sama, Pak. Terima kasih sudah membaca cerita perjalanan ke Angkor Wat ini. 🙂

  5. salsaworldtraveler · April 21

    I really like your blog so I have nominated you for the Liebster Award. I hope that you will accept the award and that you enjoy answering the questions. I have already added a link to your blog. You can find the award post here https://salsaworldtraveler.com/2020/04/20/liebster-award/

    • morishige · April 21

      Thanks for passing the award. 😀 Really appreciate it. I took me a while to write it, but it’s done. 😀

  6. Bang Ical · April 21

    Bang, tulisan abang selalu detail. Abang suka mencatatkah, hanya mengingatkah, atau langsung menuliskan pengalaman seharian itu sebelum tidur?

    • morishige · April 21

      Terima kasih, Bang Ical. Saya selalu bawa buku catatan kecil dan beberapa pulpun kalau jalan-jalan, entah ke kota lain atau ke gunung. Sebisa mungkin saya catat perjalanan sedetail-detailnya. Kalau malas, poin-poinnya saja yang dicatat. Bisa setiap hari sebelum tidur atau setelah bangun pagi, atau, kalau nggak memungkinkan, beberapa hari sekali. Dokumentasi seperti foto dan video juga berguna banget untuk merekonstruksi latar. 😀

      • Bang Ical · April 21

        Begitu rupanya. Ini rahasianya. Ini kebiasaan yang belum kujalankan. Beberapa bulan lagi aku mau pergi ke Maluku, ke beberapa pulau, ikut keluarga kawan. Aku niatnya mau bikin serial khusus perjalanan ke sana. Kupikir kebiasaan itu akan berguna 🙂

      • morishige · April 21

        Wah, kayaknya bakal seru itu, Bang Ical. Bener-bener tak tunggu ini cerita-ceritanya. Btw, catatannya bakal banyak banget itu. Bawa beberapa buku catatan aja, Bang Ical. 🙂

      • Bang Ical · April 21

        Siap! Siap! 😊

      • morishige · April 21

        🙂

  7. Eris · April 21

    Still haven’t been to Siem Reap – it’s on my bucket list! Hopefully once this whole pandemic is over and stuff returns to a somewhat semi-normal state and travelling is safe again. Thanks for the virtual trip. 😉

    • morishige · April 21

      I believe you’re gonna check the list once this covid-19 thing is over. And an overland journey from KL (Puchong) to Siem Reap would be really cool! You’re most welcome. Really glad you liked it. I don’t usually put many photos in a post but since Angkor Wat is really cool, and I know we are all in need for travel, any kinds of travel, I decided to make an exception. Stay safe there and have a wonderful day! 🙂

  8. Nasirullah Sitam · April 21

    Ini yang membuat saya makin antusias, bersepeda menuju destinasi terkenal macam Angkor Wat. Kayaknya jarak memang tidak jauh, tapi bersepeda di Negara orang dengan jalur yang berbeda pasti aneh rasanya. Salut buat nyonya yang semangat juga sepedaannya. Sepeda di Jogja kayaknya sama dengan punyaku “Monarch” ahhahhahha

    • morishige · April 21

      Iya, Mas Sitam. Nggak jauh-jauh banget sebenernya. Kalau ditotal, paling cuma 20 km perjalanannya, lebih jauh Kota Jogja-Parangtritis (30 km). (Kalau lurus-lurus saja, paling cuma 5,5 km.)

      Hahaha… Selain bersemangat, juga sudah telanjur, Mas Sitam. 😀

      Wah, kebetulan banget. Saya juga dulu Monarch, dari tahun kedua kuliah. Tapi sudah tak jual ke pasar sepeda di Jokteng. 😀 Aduh, menyesal juga sekarang. 🙂

  9. rivai hidayat · April 21

    asyik yaa mas bersepeda ke angkor wat. Jalan yang dilewati sepertinya cukup bersahabat dengan pesepeda. Pohon di tengah jalur sepeda juga unik. Jadi pengen bersepeda di sini Angkor wat mas 😀
    Liat kuil Ta prohm jadi teringat si Angelina jolie 😀
    foto-fotonya sangat bagus 🙂

    • morishige · April 25

      Asyik banget, Masvay. Aspalnya sebagian besar mulus. Paling cuma areal yang nyempil aja yang ada bolong-bolongnya dikit. Kemiringannya juga manusiawi. 😀

      Makasih, Masvay 😀

  10. kutukamus · April 22

    Petugas simpatiknya yang di foto ke-3 dari kanan itukah?

    Apapun, salut sama Kamboja. Meski roda dua di mana-mana, baik jalanan kotanya maupun area wisata utamanya pada bersih. Jadi ingat kampung sendiri yang ‘nyampah adalah sebagian dari iman’. 🙂

    • morishige · April 25

      Iya, KK. Yang berdiri pas di depan loket tiket itu. 😀

      Sebagian barangkali karena mereka sadar betul bahwa Angkor Wat adalah sumber pemasukan utama mereka, KK. Jadi mau nggak mau semuanya mesti menjaga kebersihan, paling tidak, jalan-jalan utama menuju ke sana. Lewat jalan-jalan kecil yang ramai penduduk lokal tapi jarang turis, saya lihat juga kondisinya sama saja kayak kota-kota di tanah air, KK.

  11. Sukman Ibrahim · April 22

    Wah perjalanan yang luar biasa Mas. Tapi saya penasaran dengan sejarah atau mungkin kisah dibalik bangunan-bangunan mirip Candi ya?

    • morishige · April 25

      Makasih, Mas Sukman. Iya, Mas, saya tertarik juga dengan kisah-kisah di balik bangunan-bangunan di kompleks Angkor Wat dan Angkor Thom itu. (Apalagi nama “Angka” atau Angkor sempat dipakai Pol Pot untuk menamai sosok “Big Brother” misterius masa Khmer Rouge dulu.)

      • Sukman Ibrahim · Mei 3

        Saya belum punya bacaan atau referensi soal Ankor Wat Mas? Semoga Mas bisa mengupas lebih dalam soal ini..

      • morishige · Mei 4

        Mungkin lain kali bisa tak tulis secara terpisah, Mas, soal sejarah Angkor Wat ini. Kemarin sengaja nggak disertakan karena pasti ceritanya bakal jomplang hehehehe… soalnya yang saya ceritakan cuma laporan pandangan mata 😀

        Btw, barangkali link berikut bisa jadi pemanasan kalau Mas Sukman benar-benar tertarik dengan sejarah kompleks Angkor 😀 https://whc.unesco.org/en/list/668/

  12. Agus warteg · April 22

    Berarti gowes bareng nyonya ini tanggal 22 Desember 2018 pas ada tsunami di selat Sunda itu ya kang. Orang Kamboja respek juga ya kang.

    Lihat candi Angkor Wat kok agak serem ya kang, padahal itu siang hari ya, apalagi kalo malam.😱

    Pulangnya kok pakai rute yang berbeda kang, apa ngga takut kesasar dan diculik kalong wewe ya.😂

    • morishige · April 25

      Iya, Mas Agus. Sehari setelah tsunami Selat Sunda itu. Tapi orang Asia, apalagi Asia Tenggara, memang cenderung peduli kok, Mas Agus.

      Hahaha. Iya juga ya, Mas? Untungnya saya agak bebal, Mas Agus. Jadi nggak mikir aneh-aneh waktu pergi ke tempat-tempat bersejarah kayak gini. Pas mampir ke tempat-tempat kayak gini sih yang muncul justru rasa kagum saya sama orang-orang di masa lalu, Mas. 😀

      Hahaha… Nyari suasana beda aja, Mas. Kalau kalong wewe sih kayaknya masih otw Kamboja, Mas. 😀

  13. CREAMENO · April 22

    Waaaw naik sepeda ke Angkor Wat? Jauh banget kan mas, nggak kebayang ngegowesnya 😂

    Saya belum pernah ke Angkor Wat, btw ~ meski waktu itu diajak tapi saya menolak 😁 sebab saya pikir hanya hutan, dan runtuhan kuil / bangunan kuno peninggalan sejarah era kerajaan dan sejenisnya jadi saya nggak begitu berminat. Mana waktu ke Kamboja sedang musim panas, jadi saya nggak ada tenaga buat membayangkan nanti panas-panasan di Angkor Wat 😂 tapi anehnya, saya suka kalau baca cerita perjalanan teman-teman lain ke Angkor Wat atau ke candi dan tempat sejenis, serasa ikut masuk ke ceritanya (tapi giliran disuruh jalan sendiri malas-malasan) 😆

    Saya salut sama mas dan pasangan, nggak mudah untuk naik sepeda sejauh itu 😍 mungkin karena mas sudah terbiasa kali yaaa, soalnya tadi saya baca bahkan pernah naik sepeda sampai ke Bantul 😂

    • morishige · April 25

      Iya, Mbak. 😀 Lumayan, sih, meskipun nggak sejauh Jogja-Borobudur. Hehehe.

      Perlu 2 kali ke (dan lewat) Kamboja buat saya sebelum muncul keinginan besar untuk ke Angkor Wat, Mbak. Kayaknya juga dulu karena habis nonton film The Killing Fields, deh. Filmnya bercerita soal suasana pas rezim Pol Pot.

      Saya lihat-lihat, naik tuk-tuk sewaan keliling Angkor Wat enak banget, sih, Mbak. Jadi panas-panasannya paling cuma sebentar pas di lokasi-lokasi saja. Sisanya enak diterpa angin pas tuk-tuk lagi jalan. 😀

      Hehehe. Sepertinya supaya perjalanan bersepeda berdua jadi asyik, minimal satu orang di antaranya sudah sering sepedaan, sih, Mbak. Jadi kalau satunya capek, dia bisa kasih kata-kata yang menyemangati. 😀

      Monggo, Mbak Eno, kapan-kapan dicoba saja sepedaan ke Angkor Wat. 😀

  14. Rudi Chandra · April 22

    Selalu takjub melihat peninggalan bersejarah seperti ini.
    Tak terbayangkan dimasa lalu, ketika teknologi kontruksi belum bisa dikatakan maju, tapi mereka bisa membangun bangunan yang begitu megah dengan ornamen-ornamen yang begitu detail.

    Dan bangunan itu bisa bertahan menembus waktu, menunjukkan sisa-sisa peradaban, menunjukkan bahwa mereka pernah ada.

    • morishige · April 25

      Bangunan-bangunan dari zaman dulu ini biasanya lebih kaya dengan konteks lokal, Mas Rudi; disesuaikan sama kebutuhan, kondisi, dan karakter lokal. Seperti rumah-rumah adat di Indonesia, misalnya. Kalau dikaitkan dengan kemajuan dalam konteks global, mungkin terkesan “belum maju.” Tapi kalau dalam konteks lokal, teknologinya sudah advance banget. Saya juga heran gimana orang-orang zaman dulu bisa bikin pola mandala dengan akurat tanpa pake alat ukur kayak teodolit. Hehehe.

      Mudah-mudahan bagunan-bangunan tua itu bisa kasih inspirasi ke mereka-mereka yang tahu, Mas. 😀

  15. Daeng Ipul · April 23

    Luas sekali Angkor Wat ini ya? Benar-benar kompleks candi yang sangat megah di zamannya. Terbayang bagaimana luar biasanya orang dulu itu, membangun candi sebesar itu dalam satu kompleks yang besar, dengan berbagai kerumitannya, tanpa komputer!

    • morishige · April 25

      Iya, Daeng. Luas sekali. Saya juga bertanya-tanya mereka pakai teknik apa dulu pas bangun kompleks ini.

  16. Moel · April 23

    Keren bangat perjalanannya; juwoss

    • morishige · April 25

      Terima kasih sudah mampir dan berkomenter, Mas Moel. 🙂

  17. vanisa · April 24

    bacanya seakan-akan sha yang jalan-jalan, keren!

  18. Zam · April 25

    saya dulu juga berkeliling kompleks Ankor bersepeda. dapat guide dari seorang kenalan di Facebook. saya disewakan sepeda. kami berangkat subuh untuk membeli tiket (yang sudah ramai).mengejar sunrise yang mana isinya adalah cendol-cendol orang yang sudah menempati posisi..

    tiketnya masih pakai pas foto segala tidak? maksudya setelah membeli tiket, pembeli tiket akan dipotret dan wajahnya tertera di tiket.

    selesai liat sunrise, balik ke hotel melanjutkan tidur sebelum paginya masuk ke ankor. saat berpindah dari satu candi ke candi lainnya beberapa monyet liar terlihat di jalan dan jika tidak waspada, beberapa barang akan sirna diembat monyet.

    ku melihat seorang bule tampak nanar melihat kamera sakunya digotong monyet dan dibawa ke atas pohon.

    kami juga sempat makan Amok, makanan kebanggaan Kamboja, yang mirip gule bersantan yang dihidangkan dalam buah kelapa..

    baca tulisan ini seakan-akan aku bisa mengulang kembali masa-masa itu..

    • morishige · April 25

      Wah, penasaran juga sih, Kang, sebenernya lihat sunrise di Angkor Wat. Tapi males juga kemaren bangun pagi. Masih kesel banget karena perjalanan panjang sehari sebelumnya. (Kayaknya aku kelewat postingan Mas Zam yang Angkor Wat, deh. Ntar tak ubek-ubek lagi arsip Matriphe. Hehehe.)

      Masih, Kang. Ada fotonya hehehe…. Tiketnya lumayan banget buat kenang-kenangan. Masih tak simpen sampai sekarang. 😀

      Pas sore-sore itu masih banyak monyet di pinggir jalan antara Angkor Wat dan Bayon. Hahaha… Terus dibawa pergi aja gitu kamera sakunya itu? Lihai juga, ya, monyetnya, Kang. Kayak di Monkey Forest atau di Uluwatu. 😀

      Saya kayaknya belum sempet nyobain amok, Kang. “Diet”-nya tiap hari mi goreng atau nasi goreng. Kayaknya bisa dijadiin alesan mampir ke Kamboja lagi nih amok. 🙂

      Makasih udah ikut jalan-jalan dan bernostalgia sama postingan ini, Kang. 😀

  19. Kresnoadi DH · April 26

    Waaah seru bangeet. Untungnya itu siang ke sore ya. Nggak kebayang kalau pagi ke siang. Pulanngya bagian kena panas. Hehehe. Jadi inget dulu suka naik sepeda (kalo pas niat) ke sekolah biar bisa menikimati perjalanannya. Ternyata luas banget ya itu kompleks angkor watnya mas.

    • morishige · April 26

      Mungkin bakal dehidrasi kalau dari pagi, Mas Adi. Ada beberapa ruas jalan yang terbuka banget, soalnya. Wah, berarti kalau mampir ke Siem Reap, Mas Adi bakalan senang sekali itu sepedaan ke Angkor Wat. 🙂

      Iya, Mas, luas banget. Pantas ada yang sampai bolak-balik berhari-hari ke kompleks Angkor Wat. Apalagi mereka-mereka yang benar-benar minat sejarah. Karena kawasannya luas, selalu ada detail baru yang bisa dipelajari. 🙂

  20. nonadita · April 26

    Oh how I miss Angkor Wat and Siem Reap 😦

    Saya pernah ke sana pada tahun 2012 dan rasanya ingin kembali lagi untuk explore lebih baik. Thank you for the post. I feel like I was there reading your story.

    • morishige · April 26

      Siem Reap dan Angkor Wat bener-bener ngangenin ya, Nonadita? 🙂

      Wow, mesti beda banget suasananya itu tahun 2012?

      You’re most welcome. And thanks for the beautiful words. 🙂

  21. Justin Larissa · April 27

    Asli kaget bacanya, sepedahan keliling Angkor Wat. Tapi untung agak sorean yah, karena kalau dari pagi, kelojotan kepanasan kali wkwk. Saya dan Mas Gepeng ke Angkor Wat naik tuktuk, dari sunrise sampai siang jam 2, habis itu minta pulang karena puanas buanget.

    Tapi Angkor Wat ternyata juga cantik pas kena matahari sore ya. Dan pas di sana, saya juga ngerasa takjub, gimana orang-orang dulu bikin begini? Apalagi semua serba filosofis, serba ada maknanya, kayak Candi Borobudur.

    Anw tengkyu ulasannya, saya selalu suka artikel yg panjang dan kaya seperti punya Mas Morishige. Salam buat nyonya ya!

    • morishige · April 27

      Semula rencananya mau nyewa motor, Mbak Justin. Tapi entah kenapa nasib menggiring ke menyewa sepeda. Hehehe. Kayaknya bakal dehidrasi juga itu kalau sepedaannya dari pagi. Naik tuk-tuk aja ternyata melelahkan juga. 😀

      Magis banget suasananya pas sore, Mbak. Tapi sayangnya kuil-kuil yang mblusuk kayaknya pada tutup jam 6 semua.

      Iya, Mbak. Bisa bangun kota kayak begitu, peradabannya mesti maju banget. Kayaknya bakal menarik banget belajar-belajar sedikit soal Angkor Wat ini. Banyak banget bakal makna yang bisa digali.

      Terima kasih, Mbak Justin. Terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Semoga kita semua bisa jalan-jalan lagi setelah wabah. 😀

  22. Cipu Suaib · April 27

    Wah lama banget baru mampir ke sini lagi. Tahu tahu sudah ada nyonya sebagai pendamping. First and foremost, Go Kekkon Omedetou Ne.

    Saya sudah lama banget pengen ke Siam Reap cuma belum kunjung kesampaian. Thanks sudah sharing ya, dari gambar gambarnya sepertinya memang siam reap ini sangat menarik. Pernah terbersit mau ikut event running di sana.

    • morishige · April 27

      Hehehe. Apa kabar, Bang Cipu? Kemaren saya antusias banget pas lihat di reader kalau ada postingan baru dari Bang Cipu. Kemarin-kemarin Kak Mila nongol lagi. Tapi Kak Rosa kayaknya blognya terakhir update udah lama banget.

      Iya, Bang. Asmara sudah lebih baik ketimbang beberapa tahun lalu. 😀

      Siem Reap kotanya enak banget, Bang Cipu. Abang pasti senang kalau ke sana. Bang Cipu masih rutin running, kah? 🙂

      • cipukun · April 27

        Iya running sempat kendor, cuma sejak WFH saya lari tiap hari sejauh 5 km/hari. Kecuali hari ini, yang pas mau lari, eh malah hujan. Morishige dimana skrg?

      • morishige · April 27

        Kemarin-kemarin sempet pengen cobain running juga, Bang Cipu. Lumayan banget kayaknya untuk jaga stamina. Tahun baru iseng-iseng lari ke Malioboro ujung-ujungnya malah pegel sendiri. Ditargetin Merapi Run tapi kayaknya nggak jadi deh acaranya. Keburu Covid-19. Di Jogja, Bang. Keterusan. Kapan-kapan kalau Bang Cipu ke Jogja berkabar lah. Belum sempat ketemu kan kita? 🙂

  23. Ra wani nyalip mesti iki..ngepit ning tengen?…Hahahaha. Opo nyalipe tetep mudun aspal, kulino nyalip nganan…..hew.
    Makan Mie kuah di kedai sekitaran Ankor Wat uenakk tenan mas…..mbuh, ono minyak babine katone…..😊.
    Makan Kalajengking ndak mas?

    • morishige · Mei 1

      Iyo, Mas. Ndredeg nek ameh nyalip. Ora kulino blas karo konsep lalu lintase. 😀

      Nek andelanku gerobak-gerobak ngarep Old Market, Mas. Kuwi enak-enak kabeh mi gorenge. Hahaha….

      Kalajengking ora, Mas. Aku dudu sing “fear factor”-an kae wonge. Nek mangan biasa blas hahahaha…

  24. Dinilint · Mei 7

    Wow. Keliling Angkor dengan sepeda nggak sekalipun terbersit di aku. Saat ke Angkor tahun lalu, aku pilih sewa tuktuk. Aku beli tiket untuk satu hari dan memulai perjalanan sebelum matahari terbit.
    Pas di perjalanan menuju Angkor ditambah keliling kompleks Angkor, dilengkapi udara super panas Siem Reap, aku selalu terkagum-kagum dengan turis lain yang memilih naik sepeda, bahkan ada yang jalan kaki.
    Btw, aku menikmati cara kamu nulis pengalaman bersepeda di Angkor. Aku berasa ikutan mengayuh sepeda dan keringetan.

    • morishige · Mei 8

      Sepertinya kapan-kapan saya juga mesti coba keliling Angkor Wat naik tuk-tuk, Mbak Dini. Kayaknya seru juga. Waktu bisa lebih banyak buat melihat detail kompleks itu. Naik sepeda memang seru banget, tapi kurang maksimal kalau mau tahu lebih banyak soal sejarahnya.

      Terima kasih, Mbak Dini. Senang rasanya Mbak Dini bisa ikut mengayuh bersama tulisan ini. 🙂

  25. Belungsing Balabad · Mei 11

    OOT:
    Masih jejaka terus. Apa nyonya gak protes? 🤭

    • morishige · Mei 11

      Sudah jadi merk dagang, Paman. Agak susah buat diganti. Hahaha… 😀

  26. Ikhwan · Juni 5

    Cukup kaget juga ada petugas tiket yang tahu soal Tsunami Banten mengingat skala pemberitaannya yang tidak semasif tsunami Aceh dulu. Kadang, sentuhan-sentuhan kecil kemanusiaan yang ditunjukkan pengelola tempat wisata semacam itu yang bikin kita teringat pada tempatnya, di luar objek yang dijual yang memang sudah bagus dari sananya ya.

    • morishige · Juni 6

      Sama, Mas Ikhwan. Saya juga kaget. Padahal kami sendiri baru tahu soal itu pagi harinya dari postingan media sosial. Setuju banget sama kalimat kedua Mas Ikhwan. Sentuhan-sentuhan kecil itu yang akan terus dikenang. 🙂

      Btw, terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar, Mas Ikhwan. Salam kenal. 🙂

      • Ikhwan · Juni 7

        Bener mas. Itu kayanya yang perlu ditambahkan di objek-objek wisata yang kita punya.

        Sama-sama Mas. Salam kenal juga!

      • morishige · Juni 9

        Iya, Mas. Bakalan bener-bener hospitality jadinya, bukan cuma menjual tempat wisata. 🙂

  27. ceritariyanti · Agustus 27

    Waah jadi kangen Angkor, tempat saya recharging kalo mabok kerja 🙂 🙂 🙂 tapi terus terang gak pernah pake sepeda siih abis luas banget…

    • morishige · September 13

      Kalau buat santai kayaknya memang lebih enak naik motor atau tuktuk, sih, Mbak. Naik sepeda betis bisa bekonde. 😀

Tinggalkan Balasan ke Agus warteg Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s