Mengejar Kereta menuju Bangkok

“Nggak ditelepon aja?” usul Nyonya saat kami duduk menghampar di depan Warm Bed sekitar jam 6 pagi, 24 Desember 2018. Warna langit mulai memucat. Hanya bintang-bintang paling keras kepala yang masih bertahan di atas sana.

Dia mulai khawatir. Setengah jam ditunggu, tuk-tuk yang semestinya menjemput kami tak datang-datang. Sementara, menurut jadwal, dalam satu jam, jam 7 pagi, minivan akan mulai menggulirkan roda, dengan kami atau tanpa. Naik minivan jam 7, kami akan tiba di Poipet sekitar jam 10 dan punya waktu yang longgar sekali untuk melewati imigrasi Kamboja dan Thailand.

Tadi, kami sempat menyetop sebuah tuk-tuk yang sudah dua kali bolak-balik melintasi jalanan depan Warm Bed. Barangkali itu jemputan kami. Saya perlihatkan tiket kami pada pengemudinya. Setelah membaca, ia menggeleng. “Bukan saya,” ujarnya. “Nanti akan ada yang menjemput Anda. Tunggu saja.”

Tunggu saja.

“Nggak perlu,” ujar saya santai menjawab pertanyaan Nyonya. “Tunggu aja. Paling bentar lagi tuk-tuknya datang.”

Dia tak membalas tapi gerak-geriknya gelisah. Saya tahu dia sedang mencari cara untuk meyakinkan saya yang terlalu santai ini untuk menelepon agen tiket. Sebentar lagi, jika tuk-tuk itu masih belum datang, pasti dia akan kembali mencetuskan usul yang sama.

Saya masih santai menikmati penantian. Menunggu seperti ini adalah kemestian dalam sebuah perjalanan; ruang langka yang memberimu izin untuk sekadar “ada.” Entah sudah berapa kali saya menunggu; di terminal, stasiun kereta, bandara, pelabuhan, trotoar, tengah hutan yang konon bekas lokasi penangkaran ular, jalan lintas di timur Indonesia yang hanya dilintasi satu kendaraan sekali dalam dua puluh menit.

Benar saja. Beberapa menit kemudian ia kembali mengusulkan, “Telepon aja, yuk?” Saya kembali membalas dengan, “Nggak perlu. Tunggu aja.”

Sekitar jam 7, ketika kami semestinya sudah duduk santai dalam kabin minivan, baru saya menyerah. Senang sekali dia. Dia isi pulsa—entah bagaimana caranya—lalu diberikannya ponsel pintarnya pada saya. Saya mesti mendengar beberapa kali “tuuuut” sebelum seseorang mengangkat telepon di ujung sana.

“Ya?”

Parau suaranya. Suara orang sedang mengantuk memang sama saja di mana-mana.

Saya jelaskan siapa kami dan apa keluhan kami. Penjelasan saya usai, ada jeda sedikit sebelum akhirnya ia berkata, “Saya minta maaf. Akan saya hubungi pengemudi tuk-tuknya agar Anda bisa segera dijemput.”

Sekira setengah jam kemudian baru sebuah tuk-tuk tiba, tuk-tuk yang sama dengan yang sebelum-sebelumnya mengantarkan saya ke tempat menunggu bus, yakni kantor sebuah biro perjalanan tak jauh dari bundaran Wat Damnak. Tak ada basa-basi atau permintaan maaf. Tak perlu juga sebenarnya. Saya paham kalau sepagi ini ia mesti bolak-balik ke sana kemari. Sang pengendara hanya memeriksa tiket kami sekenanya lalu mempersilakan kami naik.

Kami tiba di biro perjalanan itu sekitar sepuluh menit sebelum jam delapan. (Tuk-tuk itu langsung dipacu pengemudinya entah ke mana.) Para calon penumpang yang sebagian besar pelancong sudah berkumpul di teras depan. Ransel-ransel besar teronggok di pojok-pojok. Kami melapor. Tak ada drama. Minivan jam 7 sudah berangkat dan kami dialihkan ke bus jam 9.

Usai melapor, kami kembali ke luar. Saya sedang asyik mengulet ketika terdengar suara ratusan langkah dari arah barat. Ternyata ada pawai. Atau long march? Anehnya, mereka hening. Peserta paling banyak adalah anak sekolah berkemeja putih dengan bawahan celana pendek atau rok dongker seperti warna celana siswa SMP di Indonesia. Guru-guru mereka mengatur dan mengiringi di sekitar. Ada beberapa kendaraan juga di pawai itu. Saya lihat ada tuk-tuk dengan seorang biksu di bagian belakang; ada pula truk kecil berisi beberapa orang biksu berjubah safron.

Beberapa anak yang berjalan di depan membawa karangan bunga; barangkali ini bagian dari upacara pemakaman.

Ketika bus berhenti di warung cum toilet

Jam 9 pagi bus itu berangkat. Musim belum berganti; pemandangan masih saja sama dengan yang saya lihat beberapa hari lalu. Meskipun sudah beberapa kali melewati jalan ini, saya masih tetap terkesima melihat adegan sehari-hari khas wilayah rural Kamboja seperti traktor dan tuk-tuk kelebihan muatan yang lalu-lalang.

Sekitar jam setengah 11, bus setop di perhentian satu-satunya selama perjalanan. Bukan di pom bensin, tapi di sebuah warung cum toilet umum di pertengahan jalan antara Siem Reap dan Poipet. Karena tak perlu ke toilet, saya hanya berdiri-berdiri saja sambil menyesap sebatang Winston mentol di sekitar bus. Nyonya sudah di ujung sana, dekat toilet.

Toilet itu sebenarnya gratis. Tapi, begitu para penumpang bus kembali ke depan selepas menunaikan urusan masing-masing, seorang perempuan penjaga lapak akan memaksa mereka untuk membeli makanan dan minuman ringan dengan harga beberapa kali lipat di atas pasaran.

Sama saja di mana-mana.

Buy! Buy! Buy!” ujarnya sambil menggerakkan tangan bak pelatih sepakbola hendak membisikkan strategi pamungkas pada pemain saat injury time.

Kali pertama ke sana, sungkan karena sudah buang hajat di toilet belakang, saya relakan beberapa dolar untuk beli sekaleng kecil Fanta. Fanta merah, barangkali. Saya lupa.

Selang sebentar, Nyonya kembali. Tangannya kosong tanpa Fanta atau Sprite atau sebungkus camilan atau apa pun.

“Lho, kamu kok bisa lolos?”

“Tadi aku keluar waktu mbaknya lagi sibuk ngasih kembalian,” jawabnya.

Saya terkekeh. Dia memang taktis. Di masa-masa awal pacaran dulu, setiap kali kami hendak bepergian, dia akan bertanya detail soal rute. Dari sini ke mana, lalu ke mana, lewat jalan mana lagi, dsb., dsb. Rasa-rasanya dulu dosen pembimbing saya tak pernah bertanya serinci itu saat saya hendak mengajukan proposal kerja praktik.

“Kita masih punya riel, ‘kan?” dia bertanya.

Saya mengangguk. Kami masih punya lembaran riel senilai beberapa dolar. Hanya beberapa yang mulus, sisanya adalah riel-riel kumal. Riel-riel itu, baik yang mulus maupun kumal, sama-sama tak berharga di luar Kamboja. Hanya money changer yang dijaga malaikat barangkali yang bersedia menerima riel untuk ditukar dengan mata uang lain. Jadi, mesti dihabiskan.

Nyonya mengambil riel-riel kumal itu dari dompet lalu, dengan langkah ringan tanpa dosa, ikut berkerumun di sekitar lapak “mbaknya” tadi. Dia kembali membawa sebungkus kerupuk yang belakangan saya tahu rasanya seperti opak.

>Suasana kabin bus Siem Reap-Poipet

Setelah berhenti sekitar seperempat jam, bus kembali melaju di jalanan yang kelewat lurus itu. Mendekati perbatasan, pemandangan di jendela perlahan berubah. Persawahan dan lahan tidur tak lagi merajai bingkai jendela dan memberi tempat pada jejeran rumah dan ruko.

Lima belas menit sebelum tengah hari kami tiba di Poipet.

Mengejar kereta menuju Bangkok

Kami mesti bergegas. Waktu mulai sempit. Sekarang sudah beberapa menit sebelum jam 12 dan kereta menuju Bangkok akan berangkat pukul 13.55.

Di imigrasi Kamboja, kami antre di dua loket yang berbeda. Tanpa ditanyai macam-macam—juga tanpa dikutip pungli 100 baht—urusan saya selesai lebih dulu. Saya tunggu Nyonya di pintu keluar.

Gilirannya akhirnya tiba. Dia maju ke depan loket, menyerahkan paspornya, diminta untuk memindai kedua telunjuk, kemudian menaikkan kedua tanganya ke atas pundak.

For what?! For what?!

Ternyata petugas yang mengurus paspor Nyonya adalah orang yang sama dengan yang berusaha meminta 100 baht dari saya beberapa hari yang lalu. Karena memang tak punya dasar, ia tak berkutik. Paspor Nyonya pun segera muncul lewat celah kecil di bawah kaca loket itu.

“Dia tadi melirik ke arah kamu terus ketawa-ketawa sama temennya,” ujar Nyonya begitu kami jalan kaki menuju Thailand. “Kayaknya dia bilang: ‘Tuh, orang yang kemaren.’”

Kami menyeberang ke kiri, melangkah di jembatan menyusuri jalur kecil khusus pejalan kaki, mengambil kartu arrival/departure, naik ke tingkat dua pos batas Ban Klong Luk, kemudian ikut mengantre bersama para pelintas batas lain.

Seperti biasa, antrean mengular. Tapi, kali ini, karena ini sudah lewat tengah hari dan sudah lumayan mepet dengan jadwal keberangkatan kereta menuju Bangkok, antrean itu bagi saya terasa begitu memuakkan. Pelaaaan sekali rasanya. Kura-kura raksasa di Kepulauan Galapagos pun barangkali berjalan lebih cepat ketimbang gerak kami siang itu. Dari belakang, saya lihat hanya tiga dari sekitar enam loket imigrasi yang buka. Pos lintas batas yang satu ini seperti saluran air sedang mampet.

“Ini alasannya kenapa aku ngotot supaya kamu menelepon tadi pagi,” ujar Nyonya.

Tapi pelintas batas di depan kami tampak santai-santai saja. Ia hampir sama tinggi dengan saya. Di tasnya tertempel bendera Kanada. Wajahnya Asia. Ketika sampai di sudut, kami berdiri berhadap-hadapan dengannya lalu saling menyapa. Ternyata ia satu bus dengan kami. Tapi, dari kokarde yang tergantung di lehernya, saya tebak ia beli tiket langsung entah ke Bangkok atau ke tempat-tempat lain di Thailand.

Akhirnya kami bertiga mengobrol asyik selama mengantre. Pancingan yang bikin obrolan kami lancar adalah “paspor” Kanada­ yang ia pegang.

“Warna paspormu kenapa abu-abu begitu? Paspor Kanada bukannya hitam?” tanya saya penasaran. Kemudian saya bercerita sedikit soal pertemuan dengan S, pejalan dari Kanada, dalam perjalanan dari Lao Cai ke Hanoi awal Desember lalu.

“Oh, punyaku ini travel document,” jawabnya. Travel document yang ia pegang, belakangan saya tahu, adalah Certificate of Identity Kanada yang bisa dipakai untuk keluar-masuk negara lain. Biasanya dokumen itu dimiliki residen permanen yang karena alasan tertentu belum bisa mengurus paspor.

Namanya P. Ia orang Kanada, orangtuanya pengungsi dari Tibet. Umurnya saya taksir tak lebih dari 25 tahun. (Tapi susah memang menebak usia orang Asia. Awet muda, soalnya. Oleh kawan-kawan pejalan yang saya jumpai saat bertualang, saya sendiri sering disangka lebih muda ketimbang usia sebenarnya.) Waktu P kecil, keluarganya lari dari Tibet ke India. Lalu dari India mereka mencari suaka ke Kanada.

P adalah pencari suaka pertama yang pernah saya ajak mengobrol. Selama mengantre, kami mengobrol macam-macam. (Obrolan-obrolan ringan seperti ini efektif sekali untuk mengalihkan perhatian dari rasa panik.) Dia penasaran dengan Indonesia dan saya penasaran dengan Tibet; Shangri-La; Shambala.

“Terus suatu saat kau mau nggak mampir ke Tibet lagi?”

Ia menggeleng sambil tersenyum getir.

Sekitar pukul 13.45 kami sudah di ujung antrean. P akan antre di sebelah sana, kami di sebelah sini. Kami berpisah.

Nyonya selesai lebih dulu dan saya menyusul. Kami berdua bergegas turun, melepas dan mengambil kembali tas di pos pemeriksaan, kemudian berlari-lari kecil ke pangkalan tuk-tuk dan ojek.

>Naik tuk-tuk ke Stasiun Aranyaprathet

Tak terasa, kami sudah melaju kencang naik tuk-tuk di jalanan sepi Aranyaprathet. Knalpot moda transpor khas Thailand itu meraung-raung sampai akhirnya kami tiba di depan stasiun. Jam 13.53 tiket sudah di tangan. Segera setelah kami masuk gerbong kereta mulai berjalan.

72 comments

  1. salsaworldtraveler · April 27

    I like taking flights, but travelling by bus or train is the best way to see a country and experience it as locals do. Thanks for sharing your travels.

    • morishige · April 27

      Couldn’t agree more. Although in some parts of the world we do need flights to reach certain place. Thanks for the thoughtful insight. Really appreciate it. 🙂

  2. cipukun · April 27

    Ceritanya begitu detail dan sangat menarik untuk diikuti. Saya sulit sekali menulis yang ceritanya mengalir seperti ini. Pengalaman bulan madu saya juga ke dekat dekat sana, saya dan istri waktu itu memilih ke Vietnam dan China. Senang pastinya punya istri yang mau diajak backpack dan gak manja. Can’t wait for more stories from your trip

    • morishige · April 27

      Makasih, Bang Cipu. 🙂 Baru kemarin-kemarin ini juga menemukan minat buat nulis blog lagi. Ternyata blog memang paling pas buat menulis cerita-cerita personal. Hehehe.

      Iya, Bang. Dulu saya baca tulisan Bang Cipu yang ke China kalau nggak salah. Seru banget. Banyak kejadian lucunya. Hehehe. Ini perjalanan panjang pertama juga sih sama mbak pacar, Bang. Untung nggak kapok melancong sama saya yang ngasal begini. 🙂

  3. febridwicahya · April 28

    Keluar kamar mandi langsung disodorin fanta dll coba… dan harganya berlipat, terus bak ditodong wgwgww

    nga bisa ngebayangin wgwgwgw

    • morishige · April 28

      Kesel juga ‘kan Feb kalau gitu? Kadang kayaknya emang perlu juga bersikap cuek pas jalan-jalan. 😀

      • febridwicahya · April 28

        Kesel kalau kesannya dipaksa gitu sih, mas wgwgw.

        Bener, harus bisaaaaaa cuek untuk hal-hal semacam itu wgwgw

      • morishige · Mei 1

        Sing penting dewe kudu ngerti sithik-sithik soal peraturan, Feb, ben ora diapusi. 🙂

  4. Art of the Beat · April 28

    Thank you for that little trip young man. I felt like I was there with you and who is this Madam? She sounds quite official? Your description of the restrooms mabe me giggle like the juvenile that I am. You know something, I didn’t know that if I go to your actual website, there is a button on the top of the website that has a translate button…mindblown…:)

    Have a great evening or morning. Stay safe.

    • morishige · April 28

      You’re most welcome, Michelle. Glad you liked it. Madam (or Nyonya in bahasa Indonesia) is my GF. Thank god the automatic English translation is understandable. It’s often difficult for Google Translate to translate jokes. 🙂

      Yes, there is a button on the widget. It’s quite hidden. I tried to put it on the bottom widget but it didn’t work. 😀

      Have a good night and stay safe 🙂

      • Art of the Beat · April 28

        Very cool! I knew she must have been of importance because of the Madam. I like your style of writing. I felt like I was there with you guys. Very cool.

        Yeah, since my stroke I read kind of weird. I follow context clues so I can get the gist of the story even if it is not clear because my eyes are just scanning over the words. I have a hard time focusing while reading. I think this is why I like to look at things through a camera lens because it is easier to see things through one eye. anyhow. I understand 🙂

        You have a good night, hubby just left for work so I can catch up on stuff…hooray!!! 🙂

      • morishige · April 28

        I couldn’t find another words to address her on the blogposts. Well, I guess it’s fine to call her Madam. Thanks for the beautiful words. Really glad you liked it.

        You know, I learnt a lot from reading your posts, including the way you capture the moment. I will use all the knowledge the next time I hit the road.

        Wow! Looking forward to reading the next chapter of Jane’s life. 🙂 You have a wonderful day!

      • Art of the Beat · April 28

        Aw. Thank you friend! That is so cool that now I know who she is when I am reading, it makes the difference in the story for me.

        Really? Thank you so much for the feedback! My own friends and family don’t even acknowledge me so this has been fun. I am learning about your culture and I feel like I get to travel from my living room. So it’s like we are trading 🙂

        I wrote three more pages. I think I can get it all finished and closed. Maybe Jane will have a happy ending maybe not. Haven’t decided yet.

        Be well…

      • morishige · April 28

        Yes, I am. The story would be more interesting if I can shoot photos better. My friends say I’m too textual, so believe I’m gonna learn a lot from your photos.

        Well… I’m getting more and more curious about Jane! 🙂

        You too. Stay safe!

      • Art of the Beat · April 28

        Your photos are good. It shows your view, like from where you are standing or sitting. I felt like I was in the bus. Pretty cool.

        Have a good night! Time to bring Jane to life, at least right now 🙂 Be safe and well.

      • morishige · April 28

        Thanks for the encouraging comment. 😀

        Be safe and well too 🙂

      • Art of the Beat · April 28

        Anytime friend! Being encouraging and nice is easy. Take care… 🙂

  5. Seru bacanya, traveling bikin pengalaman bertambah.
    Ditunggu kelanjutannya

  6. Nasirullah Sitam · April 28

    Kayaknya kamu selow banget mas. Kadang banyak orang seperti nyonyamu loh. Akupun kalau rasanya nggak yakin pasti sudah gusar. Langsung buru-buru telpon dan yang lainnya. Hahhahahah

    • morishige · April 28

      Hahaha. Kayaknya iya, ya, Mas Sitam? 🙂 Sebenernya pengen juga sih nelpon. Tapi saya bakal nunggu dulu sampai minimal jam setengah 8 lah. Nggak enak juga ngebangunin orang lagi tidur. Hahaha..

  7. M Fikri · April 28

    kok kyak bertubi tubi banget ya mas, ada aja masalahnya haha

    -arenapublik.com-

    • morishige · Mei 1

      Iya, Mas. Pas baca komentar ini, saya juga jadi terheran-heran sendiri. 🙂 Bikin saya berpikir panjang juga. Mungkin ini bukan soal “persoalannya,” tapi soal bagaimana membingkainya. 🙂

      Makasih sudah mampir lagi, Mas Fikri. Dan terima kasih banyak untuk komentarnya yang dalam ini. 🙂

  8. Delonix Vanesta · April 29

    Sekilas kaya di Indonesia ya. Apalagi lihat pawai barisan anak berseragam kaya anak SMP di Indonesia.

    • morishige · Mei 1

      Iya, Mas Delonix. Suasananya mirip banget sama Indonesia. Yang bikin terasa berbeda paling cuma aksara dan bahasanya saja. 🙂 Terima kasih sudah mampir dan berkomentar. 🙂

  9. CREAMENO · April 29

    Mas hanya 2 hari saja kah di Kamboja? 😱 kuat bangetttttt mas, padahal perjalanannya lumayan jauh kan hihi. Amunisinya apa tho? Kok bisa tetap prima? Saya entah kenapa kalau terlalu mepet saat melakukan perjalanan, badan bisa meriang 😂 pernah coba beberapa kali, tapi habis itu terasa lelaaaah banget sampai mau bangun dari kasur saja susah 😅 berasa renta. Ehehehehe.

    By the way, pasangan mas sabar sekali, diajak menunggu tetap mau meski awalnya ingin telepon untuk tanya Tuk-tuk. Sepertinya beliau sudah sangat paham dengan style traveling mas yang santai 😁 kalau saya mungkin sudah gelisah apabila jemputan nggak datang sesuai jadwal yang ditentukan 😂

    Saya penasaran sama P yang orang Kanada itu mas, kenapa dia lari dari Tibet ke India? Saya nggak begitu mempelajari sejarah soalnya jadi belum tau ada masalah apa di Tibet sana. Sampai P trauma dan nggak mau kembali lagi ke Tibet saat mas tanya. Apakah ada perang di Tibet, mas? Saya tadi baca ada perang Tibet saat Cina menginvasi tahun 1950, apa karena itu ya? CMIIW 😆

    • morishige · Mei 1

      Iya, Mbak Eno. Lusanya sudah ke Bangkok lagi. Kalau saya kayaknya yang bikin tetap bertenaga itu karena badan sudah terbiasa bergerak selama sebulan, Mbak. Melancong seperti ini tiap hari kayaknya saya jalan kaki antara 5-10 km sehari. Karena siang tenaga habis, malamnya tidur bisa nyenyak banget dan badan bisa segera pulih.

      Hehehe, kayaknya memang sudah terbiasa, Mbak. Tapi akhirnya ya ditelepon juga karena sudah terlalu lama. 😀

      Dulu Tibet memang diambil dengan cara yang lumayan “kasar,” Mbak Eno, sampai-sampai para pemimpin spiritualnya, termasuk yang tertinggi, Dalai Lama, melarikan diri ke India. Dari sudut pandang orang Tibet, ini pendudukan. Barangkali keluarga P adalah salah seorang yang sangat nggak setuju dengan pendudukan itu dan memilih melarikan diri ke luar Tibet.

  10. ysalma · April 29

    Pungli kecil-kecilan dalam berbagai wajah itu ternyata di mana-mana ada ya.
    Nyonya ga ‘merepet’ itu setelah di telpon, baru tuk-tuk datang tanpa merasa bersalah? Ga ada drama ngerajuknya 🙂
    Bertukar cerita dengan sesama pelancong itu yg membedakan setiap kisah perjalanan ya.

    • morishige · Mei 1

      Iya, Mbak Salma. Di mana-mana pasti ada. Dan kita mesti selalu waspada hehehe…

      Enggak, Mbak. Diam-diam kayaknya dia juga menikmati petualangan itu.

      Bener banget, Mbak Salma. Setiap orang yang dijumpai di jalan pasti punya ceritanya sendiri-sendiri. 🙂

  11. Nadya Irsalina · April 30

    Tiap baca ceritamu aku berasa ikut ngerasain tiap moment deg-degan dan jengkelnya Mas 😅 saking super detail ceritanya.

    Hmm ternyata dimana mana org kayak gitu (yg suka naikin harga & ngelakuin pungli) tetep ada yaaa, atau mgkn bahkan bisa lebih sadis dari yg ada di Indonesia? .-.

    • morishige · Mei 1

      Modusnya sebenarnya sama saja di mana-mana, Nadya. Oknum-oknumnya nyari celah di ketidaktahuan kita.

      Wah, makasih udah ikut berdebar-debar pas baca cerita-cerita di sini. 🙂

      • Nadya Irsalina · Mei 2

        Betul banget sih mas, memanfaatkan ketidaktahuan seseorang. Mengambil keuntungan dgn ‘memeras’ orang yang lg traveling gitutuh jahatnya berlipet lipet sih menurutku. Kan bs aja budget mereka pas-pas an. Who knows.

        Kadang aku suka sedih kalau misal tamu hostel tempatku kerja ada yang kena scam di jalan 😦 padahal sebelum berangkat selalu kita ingetin buat hati2 sama scammers, kalau ada yang nawarin blablablabla pls just say no to them. Eee tp tetep aja masih ada yang kena. Pulang pulang kadang ada yang mewek.

        Samasamaaa maaas! Hehehe

      • morishige · Mei 4

        Ujung-ujungnya memang kembali lagi ke turisnya, Nadya. Biasanya pada tergiur sama tawaran kenyamanan dengan harga murah. Pernah saya baca cerita di blog soal turis Indonesia yang kena scam di Ho Chi Minh City. Ceritanya dia lagi capek dan tiba-tiba ada yang nawarin jasa pijat. Anehnya, bukannya tukang pijatnya yang datang, dia malah dibawa ke sebuah ruangan yang di dalamnya sudah ada preman yang menunggu. Barang-barang yang dia bawa diambil semua. Untungnya paspor dia dipegang sama penginapan. (Untungnya dia nyeritain itu di blog supaya orang ngerti.) 😀

        Itu di Jogja, Nadya? Nah, ternyata di Jogja aja masih ada, ya? Jadi inget. Saya dulu pernah pas awal-awal kuliah bawa temen ke Malioboro terus dikasih harga Rp15.000 buat semangkuk soto. Padahal dulu soto paling cuma sekitar Rp5.000. Hehehe…

      • Nadya Irsalina · Mei 5

        What….ngeri sekali ceritanya T_T kok ya bisa gitu lho ada org sejahat itu. Eh ya bisa aja sih, kalo udah nyangkut duit org bisa aja jadi kyk setan 😅

        Yes di Jogja. Biasanya mereka berkeliaran di deket taman sari, kraton, Malioboro. Mereka blg kalau tamsar/kraton tutup, lagi ada perayaan besar, mending kamu datang ke batik exhibition aja this is their last day. Tamuku dulu pernah beli batik seharga 3 million, terus temen kerjaku akhirnya besoknya nganterin dia balik lagi ke tempat baliknya (dan tentu saja mereka masih ada, padahal bilangnya kemarin adalah last day) dan di refund 50%. Makanya kalo ada tamu yang mau jalan jalan sendiri pasti kita peringatin bgt ati ati sama scammer dan kita ajarin dikit dikit bahasa Indonesia/Jawa untuk nolak orang kalau ada yang mencurigakan.

        Temenmu orang luar kah? Atau org Indonesia juga? Kok bisa-bisanya ngasi haga mahal bet. Ini sih yang kadang bikin males utk beli makan ditempat wisata gitu. Udah harganya biasa aja (dan sering gaenak) eh masih ditempeleng dengan harga yang gamasuk akal.

      • morishige · Mei 6

        Kalau kata Bang Napi, “Kejahatan itu terjadi juga karena ada kesempatan.” 😀

        Wah, ngeri banget itu ambil untungnya. Memang susah kalau kita masih pada nganggap pelancong itu berduit semua, cuma karena mereka berasal dari tempat yang kita kira makmur. 😀

        WNI, Nad. Temen-temen SMA yang pada kuliah di Jakarta dan Bandung. Kayaknya kelihatan banget kalau “orang baru” dari logat. Kecenderungan wilayah yang di-branding jadi tempat wisata kayak gitu sih, ya? 😀

  12. snydez · April 30

    kalo naek tuktuk, terus hujan, apa ada penutupnya kaya’ bajaj?

    • morishige · Mei 1

      Ada, Kak Syndez. Tuktuk yang di Thailand ini nyaman banget, sih. Ruang kakinya lega dan kayaknya mesinnya juga baru-baru. Pakai knalpot racing pula 🙂

  13. bara anggara · April 30

    udah dateng telat, terus kaya ngga ada bersalahnya tuh pengemudi tuktuk..

    masih inget ya petugas di pos lintas batas itu sama bung, ngga berani lagi dia minta pungli? 😀

    kayanya bung P udah trauma di Tibet ya sampai dia nggak mau lagi kembali ke Tibet.. apakah itu berkaitan dengan konflik antara Tibet dan Cina ya bung?

    -Traveler Paruh Waktu

    • morishige · Mei 1

      Untungnya proses ngoper ke busnya nggak ribet, Bung. Kalau sampai ribet, keknya saya bakal mencak-mencak di sana. 😀

      Iya, Bung. Keknya rambut gondrong ini sudah ditandai sama dia. 😀

      Iya, Bung. Sampai sekarang masih banyak yang nggak seneng sama pendudukan Tibet oleh RRT. Baca-baca di blog kawan yang sudah ke Tibet, orang Tibet dan Tiongkok sendiri juga kayaknya masih perlu izin buat ke Tibet. Pelancong ke sana mesti mengurus permit segala. Serem sih itu. 😦

  14. Titik Asa · April 30

    Sepertinya kalau bepergian sama nyonya mirip-mirip deh Mas. Cepet gelisah kalau yang ditunggu belum juga nongol. Atau kitanya yang terlalu santai ya kalau bepergian. Cuma yang repot kalau nunggu nyonya dandan saja…hehehe
    Jadi sering naik tuk tuk ya Mas. Tuk tuk itu bentuknya apa semacam bajaj kalau disini Mas?

    Btw, wah Mas sepertinya wajahnya terlihat lebih muda dari usianya nih… Jadi penasaran nih saya. Moga bisa jumpa nanti untuk membuktikan hal ini.

    Sehat selalu Mas & keluarga di Yogja.

    Salam dari Sukabumi.

    • morishige · Mei 1

      Hehehe.. Sama-sama harus menyesuaikan ya, Pak? 🙂

      Dibilang sering nggak juga, Pak. Cuma kalau benar-benar perlu saja. Iya, Pak. Bentuknya seperti bajaj. Tapi, kalau di Jakarta bajaj seperti sudah dianaktirikan, di Bangkok tuk-tuk bebas lalu-lalang. Mungkin karena Thailand sadar bahwa tuk-tuk ini sudah jadi semacam ikon pariwisata Thailand. 🙂

      Hehehe… Semoga suatu saat kita bisa bertemu, Pak. Pasti saya bakalan dapat banyak cerita dari bapak.

      Semoga sehat selalu juga di Sukabumi, Pak. 😀

      • Titik Asa · Mei 2

        Benar juga Mas, bajaj seperti diabaikan di Jakarta, apalagi kini dengan kehadiran transportasi on line.

        Kalau tentang ikon wisata itu, saya jadi inget bemo di kota Bogor Mas. Sekarang sudah gak ada. Coba kepikiran ya bemo jadi ikon wisata seperti tuk tuk di Thailand itu…

        Moga bisa jumpa Mas. Barangkali nanti di Ngayogjazz…insya Allah.

        Amin, Mas. Hatur nuhun.

        Salam,

      • morishige · Mei 4

        Kayaknya pemerintah Bangkok lumayan serius mengurus transportasi publik, Pak. Hasilnya, meskipun masih terhitung banyak, pengguna kendaraan pribadi nggak membeludak. Jadi angkutan seperti tuk-tuk masih pas-pas saja berkeliaran di kota.

        Wah, ternyata bemo sempat ramai di Bogor, ya, Pak? Kayaknya dulu waktu saya TK di beberapa kota di Sumatera bemo juga sempat ramai. Menyenangkan sekali rasanya pas mencet tombol bel terus tiba-tiba bemonya berhenti. 😀

        Amin, Pak. 🙂 Sehat-sehat selalu di Sukabumi. 🙂

      • Titik Asa · Mei 7

        Salut juga kepada penanganan transportasi publik disana Mas. Bagaimana dengan kemacetan di Bangkok Mas? Apa parah seperti di Jakarta ya?

        Tentang bemo, selain di Bogor sekitar tahun 83-an, saat saya kuliah di Jakarta, ada beberapa daerah dimana bemo masih beroperasi. Diantaranya pada lintasan yang menghubungkan Salemba (di seberang kampus UI) dan Rawasari (di seberang kampus Univ Jayabaya). Ah ya ada bel di ruang penumpang…hehehe Mas masih ingat saja…

        Salam dan sehat selalu ya Mas.

      • morishige · Mei 8

        Saya belum tahu persis bagaimana perbandingannya dengan Jakarta. Tapi, sepenglihatan saya, di bagian-bagian Bangkok yang pernah saya lewati, macetnya nggak separah Jakarta, Pak. Biasanya paling hanya pagi hari dan sore hari di tempat-tempat kayak Chinatown dan dekat-dekat sekolah (pas orangtua mengantar anaknya ke sekolah). Dan saya lihat masih banyak sekali yang jalan kaki, karena trotoarnya lebih banyak dan nyaman dilewati.

        Mungkin karena Indonesia punya pandangan yang beda soal kemajuan, ya, Pak? Jadi semua yang lama dianggap tak layak lagi, dianggap ketinggalan, dan mesti diganti dengan sesuatu yang baru…

  15. Laleh Chini · Mei 1

    Have a great weekend.

  16. Andai paspor hijau sesakti paspor “Barat”…pasti indah hidup ini.
    Ini seperti perjalanan Vientiane-Pakse-Siem Reap, hal yg mendebarkan bukan masalah van mereka yg suka ngegassss tapi justru pada hal “menunggu”. Takut ditinggal……..

    • morishige · Mei 1

      Wah…. Bebas banget itu bakal, Mas. VOA-VOA wae nek ngono. Ra perlu ngurus-ngurus rekening koran dsb. kuwi. 😀

      Hahaha… Kayaknya seru juga itu Mas nyeberang ke Kamboja dari utara. Rame juga po, Mas, perbatasan rute Vientiane-Pakse-Siem Reap iku? 😀

    • Himawan Sant · Mei 2

      Laaah .. ada preman ‘halus’ juga di Thailand … , main paksa kudu membeli makanan dan minuman ringan dengan harga beberapa kali lipat di atas pasaran ..
      Hahhaaha , bener-bener ya jengkelin nemuin kayak gitu 😆

      • morishige · Mei 4

        Di Kamboja, Mas Himawan. 🙂 Iya, Mas. Yang seperti itu sebenernya ada di mana-mana. 🙂

  17. Sukman Ibrahim · Mei 3

    Selalu menarik menyimak ceritamu Mas, dan selalu ada hal baru yang saya ketahui. Tuk-Tuk…apakah ini sejenis Bajaj di Indonesia? Apa yang terjadi jika Mas Morishige menolak membeli fanta itu?

    • morishige · Mei 4

      Terima kasih, Mas Sukman. Iya, Mas. Sejenis bajaj cuma ukurannya lebih besar ketimbang bajaj biru. Ruang penumpangnya lebih lega dan lebih terbuka.

      Mungkin cuma bakal diomelin, Mas. Tapi buat saya yang suka sungkan begini, lebih baik menghindari itu hehehe… 😀

  18. ellafitria · Mei 3

    wah nyonya bisa ditiru juga nih, memanfaatkan peluang demi lolos dr tukang jualan.. wkwkwk
    seru bangeeet, aku juga mirip2 nyonya.. kl diajak bepergian mesti jelas dlu rundownnya mau kemana aja dan jam berapa, tp makin kesini makin yaudah. sedapatnya waktu aja, sambil menikmati perjalanan.. hhh

    • morishige · Mei 4

      Monggo dicoba caranya, Mbak Ella. 😀 Lumayan bisa hemat. Hehehe.

      Pelan-pelan, saya coba bikin Nyonya terbiasa untuk santai di perjalanan, Mbak Ella. Jadi saya cuma akan menyusun rencana perjalanan antarkota. Soal mau ke mana saja di kota itu, nanti bisa disesuaikan. Enaknya, kalau mau mengobrol dengan orang-orang di penginapan atau hostel, selalu saja ada kegiatan seru yang bisa dilakukan, yang kadang-kadang jarang diangkat di cerita-cerita perjalanan yang banyak beredar. 🙂

  19. pushandaka · Mei 3

    Setelah sekian lama tak mengikuti kisah petualanganmu, ternyata sekarang sudah ada tandem bertualangnya, ya!
    Sehat selalu, mas dan mbak.

    • morishige · Mei 4

      Hehehe… Iya, Bli. Sudah nggak terlalu ngenes seperti dulu nih kehidupan asmara. 😀

      Makasih, Bli. Sehat-sehat selalu juga buat bli dan keluarga di sana.

      Btw, saya barusan mampir ke blog pushandaka.com tapi berkali-kali nggak bisa berkomentar. Problem debug katanya. 😦

  20. Bang Ical · Mei 4

    “Menunggu adalah ruang langka yang memberimu izin untuk sekadar ‘ada’.”

    Berapa lama abang terbiasa dengan seni kesabaran begitu? Seni khas di kalangan para traveler? 🙂

    • morishige · Mei 4

      Lama banget kayaknya, Bang Ical. Sampai sekarang pun masih terus belajar membiasakan diri. Kadang kalau terburu-buru itu suka sedih sepulang perjalanan. Momennya nggak bisa diulang, Bang Ical. 🙂

      • Bang Ical · Mei 5

        Insyaallah, besok akan kuceritakan tentang seseorang yang menarik, di blog. Dia pernah jadi pengelana juga. Kisahnya relate dengan pertanyaanku. Tunggu ya, Bang 🙂😊

      • morishige · Mei 6

        Siap, Bang Ical. Ditunggu cerita tentang pengelana itu. 🙂

  21. rivai hidayat · Mei 9

    Kejar-kejaran dengan waktu agara tidak ketinggalan kereta. Antara deg-degan selama perjalanan ke stasiun dan akhirnya ketawa karena tidak ketinggalan kereta memang pengalaman yang nganu. Lumayan menguji adrenalin…hahahah
    Aku juga pernah naik ke gerbong kereta pas 3 menit sebelum kereta berangkat. Sampai di atas kereta cuma ketawa nyengir, untung ga ketinggalan kereta 😀

    • morishige · Mei 11

      Iya, Masvay. Nganu banget, apalagi kalau di kota yang banyak lampu merah. Hehehe… Kalau lagi kayak gitu, determinasi diperlukan banget.

      Beuh, 3 menit. Itu kesalahan sedikit aja bisa berujung kacau, Masvay. Kebanan, misalnya hehehe…

  22. Daeng Ipul · Mei 10

    untung nyonya cuma komentar singkat begitu ya?
    coba kalau panjang. Makanya, harusnya, tadi kan udah dibilangin, bla bla bla
    waddohhh
    hahahaha

    • morishige · Mei 11

      Genre tulisannya bisa langsung berubah itu, Daeng hahahaha 😀

  23. Rudi Chandra · Mei 12

    Petugas imigrasinya masih juga nyoba malakin orang ya Mas?
    Bentar lagi jadi orang kaya tuh petugas.

    Kamu tipe yang sabar saat menunggu ya Mas, kalo saya nggak bakal sabar tuh, apalagi kalo harus ngejar jadwal kereta atau transportasi lain.

    • morishige · Mei 12

      Iya, Mas Rudi. Kayaknya memang udah biasa. Orangnya ya itu lagi itu lagi. Hahaha.. Paling ntar lagi pensiun 😀

      Soalnya udah pernah beberapa kali ketinggalan transpor, Mas. Jadi mikirnya, ya seburuk-buruknya ya cari transpor lain hahaha…

  24. kutukamus · Mei 24

    Hebat juga si ‘pecek’ (petugas cepek) itu ya. Maksudnya, dalam sehari dia entah sudah biasa malakin berapa orang, sekian hari kemudian saat menghadapi orang lain dia masih ingat sama mantan (korban) yang notabene ada di loket beda. Atau, jangan-jangan memang Morishige yang secara profil tampak menonjol di tengah orang Kamboja? (mis tinggi badan atau model rambut gitu) 🙂

    • morishige · Mei 26

      Iya, KK. Hebat dia. Semula saya kira dia cuma ambil sample random sesekali. Ternyata sampling-nya banyak banget. 😀

      Tapi, wajah timur mungkin berpengaruh juga, KK. Dia barangkali akan menyangka saya pasrah saja untuk membayar demi menghindari cekcok, tanpa protes, agar semuanya cepat selesai. 😀

  25. SARA · Mei 25

    nice article

Tinggalkan Balasan ke pushandaka Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s