Dua Malam di Bangkok

Jika perjalanan ini sebuah video klip musik, etape Aranyaprathet-Bangkok adalah kepingan interlude tanpa lirik yang di dalamnya kami duduk berhadap-hadapan di bangku kereta disirami cahaya mentari yang perlahan berubah dari garang menjadi menenangkan menjadi sepenuhnya hilang ditelan malam.

Tapi isi klip musik kosmik itu tak cuma kami.

Ada beberapa perempuan asal Kamboja yang menunjukkan surat entah apa kepada para polisi khusus kereta api, para polisi khusus kereta api yang mengajak kami berfoto bersama mengetahui kami dari Indonesia, pedagang bercelemek yang dengan bersemangat lalu-lalang menjajakan makanan dan minuman menggoda selera, hamparan sawah luas dengan kawanan bangau putih beterbangan di atasnya, tandon-tandon air yang tampak seperti menara Tokyo atau Seattle, dll., dll.

>Plang sebuah stasiun kecil antara Aranyaprathet dan Bangkok
>Perjalanan kereta dari Aranyaprathet ke Bangkok

Mendekati Bangkok, pemandangan di luar jendela mulai bercorak urban. Struktur-struktur beton raksasa memanjang mulai kelihatan. Gedung-gedung kembali tinggi dan jalanan kembali bebas dari debu.

Sudah jam delapan malam ketika kereta akhirnya berhenti di Stasiun Hua Lamphong. Telat. Kami bergegas turun, mengambil langkah-langkah besar di peron, melewati gerbong-gerbong mewah kereta Western & Oriental Express trayek “Singapore-Kuala Kangsar-River Kwai-Bangkok” yang harga tiketnya mencapai ribuan dolar Amerika, lalu masuk ke lobi stasiun yang masih ramai saja.

>Gerbong kereta Western & Oriental Express

Sebelum check-in di Train Guesthouse yang berada di belakang stasiun, kami terlebih dahulu ingin membeli tiket kereta ke Hat Yai, kota kecil di selatan Thailand yang berbatasan dengan Malaysia, untuk keberangkatan lusa.

Perjalanan menuju Hat Yai inilah yang paling saya nantikan. Saya ingin membawa Nyonya melintasi Thailand naik sleeper train kelas 2 yang satu setengah tahun lalu saya tumpangi. Waktu merencanakan perjalanan, agar tetap bisa duduk berhadap-hadapan, kami sudah sepakat untuk membeli satu tiket lower berth dan satu upper berth.

“Habis,” ujar petugas di balik loket.

Angan saya buyar.

“Maaf?” saya mencoba memastikan sebab masih belum yakin akan kebenaran informasi yang baru saja saya dengar.

“Tiket sleeper train kelas 2 ke Hat Yai tanggal segitu sudah habis,” ulangnya sambil menggeser sedikit monitor komputer agar bisa saya lihat.

“Bagaimana dengan tiket kelas 1?”

“Juga habis,” jawabnya lagi.

Dengan rasa kecewa, saya keluar dari antrean dan mengabarkan itu pada Nyonya. Ekspresinya lebih didominasi khawatir ketimbang kecewa. Menyesal saya tidak memesan tempat di sleeper train dari jauh-jauh hari, ketika kembali ke Bangkok tempo hari, karena terlalu optimis tidak akan kehabisan tiket. Saya lupa bahwa kami melanglang di masa-masa Natal dan Tahun Baru saat semua orang bergegas pulang untuk menikmati perlop bersama keluarga di rumah.

Kami pun berunding. Malam itu pikiran Nyonya jauh lebih jernih ketimbang saya. Saya mengusulkan untuk mencari tiket bus saja ke Mo Chit keesokan hari, tapi dia menyarankan agar kami naik kereta kelas 3 saja. Kereta sleeper bisa lain kali dicoba.

“Tapi kamu mau duduk di bangku kereta ekonomi 16 jam lebih?” saya bertanya untuk memastikan.

Dia mengangguk yakin sambil berkata bahwa pastilah sensasinya akan sama saja seperti naik kereta ekonomi di Indonesia. Barangkali kami memang ditakdirkan untuk naik kereta kelas 3 ke perbatasan Thailand-Malaysia.

Dia yang antre. Sebentar kemudian dia kembali membawa dua lembar tiket kereta kelas 3. “Murah banget,” ujarnya sambil menyimpan kedua tiket itu baik-baik. “Bedanya jauh banget dari sleeper. Bangkunya juga kayaknya masih banyak yang kosong tadi.”

Selesai sudah persoalan tiket. Dari depan loket, kami berjalan dengan langkah ringan melipir lobi Hua Lamphong ke arah pintu luar, lalu menyusuri trotoar menuju Train Guesthouse.

Setelah meletakkan barang, kami keluar mencari makan malam. Semula kami hendak makan di warung pad thai di samping penginapan. Sayangnya warung itu tutup. Akhirnya kami berjalan menuju tempat makan di seberang Stasiun Hua Lamphong, di samping 7-Eleven, yang meja-mejanya disebar di pinggir jalan. Dengan lahap, saya makan dua porsi pad thai itu malam. Enak sekali. Tak ada yang kurang selain porsinya yang agak lebih sedikit ketimbang pad thai yang dijual malam hari di kawasan Khao San.

Ketika lalu lintas sekitar Hua Lamphong sudah semakin lengang, kami kembali ke hostel.

Keliling Bangkok

Keesokan harinya, Natal 2018, kami naik MRT ke Holy Redeemer. Sepulang dari sana, kami kembali ke jalan besar, menyeberangi jalan lewat jembatan penyeberangan, lalu mampir sebentar ke Lumphini Park. Karena tengah hari, sudah tak terlalu banyak orang yang joging di aspal kecil yang membelah taman indah itu.

Dari jalan aspal, kami melipir ke jalan yang lebih kecil kemudian melangkah ke panggung kecil dan rendah tempat serombongan siswa taman kanak-kanak sepertinya sedang rehat dari latihan penampilan seni. Kami duduk di bibir panggung. Kawanan burung beterbangan di atas taman yang namanya diambil dari tempat kelahiran Siddharta Gautama itu. Di garis langit, yang saya lihat adalah kontras antara jejeran pohon dan hutan beton.

>Burung-burung beterbangan di Taman Lumphini

Segera setelah minuman ringan habis, kami keluar dari Lumphini Park lalu berjalan ke arah stasiun MRT. Hawa sejuk di tabung MRT yang meliuk-liuk di bawah tanah bikin kami segera melupakan teriknya hawa di permukaan Bangkok.

Sorenya, sekitar jam 3, setelah istirahat sekitar satu setengah jam di penginapan, kami kembali jalan-jalan di bawah langit Bangkok. Saya hendak membawa Nyonya melihat Wat Arun, Kuil Matahari Terbit, dari dekat. Rencananya kami akan menyeberang lewat dermaga dekat Istana Kerajaan (Royal Palace) Thailand.

Kami menunggu bus di boulevard seberang bundaran Hua Lamphong. Barangkali karena armadanya sedikit, agak lama kami menunggu bus menuju dermaga kecil itu. Kondisi busnya sama seperti bus langganan saya, no. 53: tua tapi prima. Dengan bus tua itu, kami meluncur menelusuri Bangkok yang mulai dijatuhi cahaya keemasan khas sore hari.

Mendapati antrean yang teramat panjang di depan dermaga, kami berubah pikiran. Kapan-kapan sajalah ke Wat Arun. Toh Wat Arun juga sepertinya malah lebih menarik jika diamati dari kejauhan.

“Ke Khao San aja, yuk?” ajak saya, mumpung masih sore dan Khao San belum terlalu ramai.

>Seorang pedagang es krim menunggu pembeli di depan Wat Pho

Nyonya mengangguk setuju. Kami pun balik kanan, melipir ke depan Wat Pho, lalu jalan kaki mengelilingi tembok Istana Kerajaan Thailand. Di banyak bagian, tembok putih dan trotoar rapi yang mengeliling tembok istana dibatasi oleh rumput Jepang yang terpotong rapi. Di balik tembok, ujung-ujung lancip stupa keemasan tampak berkilauan seolah-olah berusaha mati-matian menarik perhatian Sang Pencipta semesta.

Kami menyeberang menuju Alun-alun Sanamluang di ujung jalan. Menelusuri pinggiran Sanamluang terasa seperti menyelesaikan tantangan Ninja Warrior, sebab di trotoarnya, pada interval tertentu, ada pohon besar. Setiap beberapa langkah, kami dihadapkan pada dua pilihan pelik: menyelip lewat celah kecil di sebelah dalam atau melambung sebentar ke jalan raya.

Di ujung utara Sanamluang, kami menyeberang ke arah Jalan Ratchadamnoen Klang. Hotel Royal Rattanakosin tampak berwibawa di ujung sana. Karena persimpangan itu lumayan besar, kami perlu waktu agak lama untuk menyeberang. Setidak-tidaknya, kami perlu menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala sebanyak tiga kali.

Lega sekali rasanya ketika kami tiba di seberang dan jalan kaki dengan nyaman di pedestrian lebar Jalan Ratchadamnoen Klang.

F. Scott Fitzgerald di Soi Ram Buttri

Kami masuk Khao San lewat jalan kecil di timur Perpustakaan Kota Bangkok. Meskipun sudah mulai semarak, suasana Khao San belum menyebalkan. Musik-musik berisik belum berkumandang dari kafe pub diskotik. Pelancong-pelancong berkaos kutang yang lalu-lalang sambil menggenggam botol bir belum berkeliaran.

>Pedestrian depan Perpustakaan Kota Bangkok
>Suasana Ram Buttri sore hari
>Tuk-tuk sedang parkir di Ram Buttri

Khao San kami susuri sampai ujung. Kemudian kami belok ke utara menuju Ram Buttri sisi timur. Lewat gang kecil, saya bawa Nyonya ke depan (bekas) hostel milik pasangan Prancis-Thailand yang sudah sering saya ceritakan padanya. Sayang sekali waktu itu tak ada orang di sana. Jika bisa, saya ingin membawanya ke atas sana, ke tempat menjemur kain di mana para tamu hostel biasa duduk santai malam-malam mencari angin segar.

Dari Ram Buttri, kami kembali ke Khao San. Nyonya masuk ke salah satu toko suvenir dan mengirimkan beberapa kartu pos kepada beberapa orang kawan dan kerabat.

Ketika hari sudah mulai gelap, kami sudahi perlawatan ke Khao San. Karena hendak kembali ke Train Guesthouse menumpang bus no. 53, kami mesti ke Phra Athit. Maka, sekali lagi kami menelusuri Khao San, belok ke utara, lalu menyeberang ke Ram Buttri sisi barat.

Beberapa menit melangkah dari mulut jalan kecil itu, Nyonya tiba-tiba bersuara sambil menunjuk ke arah kanan, “Nggak mau mampir?”

Yang ia maksud adalah sebuah toko buku. Di dinding kaca depannya tertempel sebuah karton kuning persegi panjang bertuliskan “BOOKSHOP” beserta jam operasionalnya. Di luar, ada tiga etalase berisi buku bekas yang masing-masing terbungkus plastik transparan. Diapit dua toko baju, toko buku itu saru.

>Toko buku di Soi Ram Buttri

“Ah, males. Nggak, deh,” jawab saya.

Masih ada dua negara lagi yang akan kami lewati; masih ada banyak kesempatan untuk mencari buku.

Kami terus berjalan menyusuri Soi Ram Buttri.

“Yakin?” goda Nyonya beberapa puluh meter kemudian.

Rasa penasaran membuat saya tiba-tiba memutar arah. Dia tertawa. Dia tahu pasti saya takkan tahan menghadapi godaan untuk melihat-lihat koleksi toko buku itu. Sudah terlampau sering dia menemani saya menelusuri pasar loak dan toko buku bekas mencari Kerouac, Murakami, atau novel-novel apik terbitan Penguin Classics.

Mata saya nanar melihat jejeran rak toko buku itu. Buku bagus berbagai genre banyak sekali sampai-sampai saya bingung hendak memilih yang mana. Satu-dua Murakami yang belum saya punya—Sputnik Sweetheart salah satunya—tersedia di sana. Sayang sekali harganya masih terlalu mahal; baht kami mulai menipis.

“Masih ada buku juga di lantai dua,” ujar salah seorang karyawan toko buku itu.

Lewat tangga sempit, kami naik ke lantai dua. Sang karyawan membuka pintu, menghidupkan lampu, lalu mempersilakan kami mencari entah apa di sana. Tapi tak banyak yang menarik ternyata.

Sekitar sepuluh menit di atas, kami kembali turun. Saya lalu terpaku di seksi paling menarik di toko buku itu, menimbang-nimbang yang mana akan dibawa pulang. Kalau bingung seperti ini, biasanya yang jadi pilihan utama saya adalah buku-buku yang rasa-rasanya akan sulit dicari di Periplus atau toko buku bekas langganan di Sosrowijayan.

Akhirnya yang saya ambil adalah kumpulan cerita pendek karangan F. Scott Fitzgerald, Jazz Age Stories.

Setelah membayar, kami kembali menyusuri Soi Ram Buttri, mblusuk gang kecil yang menghubungkan jalan itu dengan Jalan Phra Athit yang besar, lalu menyeberang jalan menuju tempat menunggu bus no. 53.

Kami kira malam itu segera berakhir. Ternyata tidak. Sebelum kembali ke Train Guesthouse, kami melipir dulu ke Pecinan Bangkok untuk menikmati malam.

54 comments

  1. macalder02 · Mei 4

    Bangkok is a place that sounds like exotic fantasy. A city that always caught my attention either by movies or movies about life in the city. Your story has been, as always, very enjoyable and interesting in describing all your experience. In my college years, there was a song that haunted me because of the lyrics and the melody: “Murray Head – One Night In Bangkok” From CHESS “and now with your article it came to mind. Good trip and better experiences.
    Manuel

    • morishige · Mei 4

      Thanks for the beautiful words and Murray Head reference, Manuel. (In fact, I’m writing this while listening to One Night in Bangkok for the 2nd time in my life.)

      Bangkok is really wonderful. I’ve made several friends there and now I’m wondering in which part of the world they are now living.

      Stay safe and healthy. Have a wonderful day. 🙂

      • macalder02 · Mei 4

        All you have to do is take care of yourself on your trip so that the experience is perfect.

      • morishige · Mei 5

        Definitely. And you too, take care always 🙂

      • macalder02 · Mei 5

        Okey.

  2. Thanks for the tour of Bangkok. I look forward to your post on the train trip in economy section. My guess is it would be better than taking the bus.

    • morishige · Mei 4

      You’re most welcome. Really glad you enjoyed reading the post. Me too… I’m so excited to write the next part. I don’t know why but the train journey is always interesting for me.

  3. Cipu Suaib · Mei 5

    Saya sangat suka dengan Stasiun Hua Lamphong, punya karakter sendiri.

    Pernah pas di Medan, saya hampir nekat pesan pesawat langsung ke Hat Yai, penasaran juga saya sama Hat Yai. Cuma karena tiba tiba dipanggil balik ke Jakarta, jadinya urung ke Hat Yai. Jadi penasaran dengan kisah Mori menjelajahi Hat Yai

    • morishige · Mei 6

      Langit-langitnya itu keren banget ya, Bang? Dari satu sudut, kayak stasiun kereta di film Mr Bean’s Holiday, kayaknya kalau nggak di Inggris, di Prancis deh hehehe…

      Wah, ada pesawat langsung ke Hat Yai dari Medan, Bang Cipu? Seru banget itu… Oke, Bang. 🙂

      Btw, saya ke blog Bang Cipu kemarin sama tadi tapi nggak bisa komentar, Bang. Ada bug-kah?

  4. Nasirullah Sitam · Mei 5

    Salah satu godaan terberat itu kalau melihat ada toko buku dan koleksinya menarik untuk dibeli.
    Kadang buku-buku tersebut secara tidak sengaja menarik perhatian dan membuat kita menyisihkan sedikit dana untuk membawanya.

    • morishige · Mei 6

      Iya, Mas Sitam. Apalagi kalau toko buku bekas. Jadi mikir, “Kapan lagi? Besok kayaknya udah ada yang beli.” Dan kadang jadi lupa kalau masih banyak buku yang belum dibaca. Hehehe…

  5. CREAMENO · Mei 5

    Sayang banget ya mas, nggak dapat yang sleeper train, tapi mas beruntung karena Nyonya sangat pengertian 😀 hati saya hangat membacanya ehehehe ~ nggak kebayang Nyonya harus bertahan di kursi ekonomi selama 16 jam, pasti pegal sekali badannya 😆

    By the way saya suka lihat foto Taman Lumphini, looks so peaceful mas ~ apalagi saat siang panas-panas bisa berteduh di sana dan melihat burung berterbangan. Well, meski hanya duduk-duduk saja akan terasa menyenangkan sepertinya 😁 ohya, ngomong-ngomong, saya pun belum pernah ke Wat Pho, Wat Arun dan Wat Wat lainnya. Padahal setiap kali biztrip ke Thailand bisa hampir sebulanan tapi nggak pernah berniat pergi ke sana. Tapi setelah baca tulisan salah satu teman blog (lupa siapa, mba Ainun sepertinya) soal patung Buddha tertidur, saya jadi tertarik untuk berkunjung ke sana 😂

    Terus saya jadi penasaran, di toko buku kecil itu ada jual buku berbahasa Inggris mas? Jarang-jarang ya, biasanya toko buku kecil hanya menjual buku lokal (seperti kebanyakan toko buku kecil di Indonesia yang pernah saya lihat) 😬 menarik juga kalau mas bisa sampai menemukan buku berbahasa Inggris di sana 😍

    • morishige · Mei 6

      Agak kecewa sih, Mbak Eno, pas tahu kalau ternyata tiket sleeper habis. Padalah pasti bakali seru banget itu bakalan… 🙂

      Kalau ke tempat-tempat spiritual, terlebih yang rutin dipakai untuk beribadah, saya bingung mau ngapain, Mbak. Paling cuma menikmati arsitekturnya, dan menikmati arsitektur, buat saya, enaknya dari jauh. Mungkin karena saya lebih senang lihat struktur dan bentuknya, ya. 🙂 Jadinya ke mana-mana lebih senang jalan kaki ke sana kemari nggak tentu arah sampai capek. Hehehe…

      Sebagian besar yang di toko buku itu bahasa Inggris, Mbak Eno. Bahasa lain kayak Prancis dan Jerman juga ada, juga Thai. Di kawasan-kawasan backpacker kayak gini biasanya pasti ada toko buku seperti ini, Mbak Eno. Stok bukunya biasanya didapat dari exchange sama pelancong-pelancong yang sudah selesai baca buku, jadi tukar tambah gitu. 🙂

  6. Agus warteg · Mei 5

    Kang Morishige ingatannya kuat sekali ya, kalo saya pernah jalan jalan tapi ngga terlalu ingat persis melakukan apa saja.

    Sayangnya ngga dapat tiket kereta sleeper ya, untungnya nyonya pengertian. Malah menawarkan ke toko buku dan akhirnya beli buku jazz age stories karya F. Scott Fitzgerald.😊

    • morishige · Mei 6

      Catatan-catatan dan dokumentasi seperti foto dan video membantu sekali untuk menuliskan perjalanan ini, Mas Agus. Jadi nggak cuma berdasarkan ingatan saja. 🙂

      Iya, Mas. Mungkin memang belum waktunya naik kereta sleeper. 🙂

      • Agus warteg · Mei 8

        Oh berarti dicatat ya kang selama perjalanan, apa saja yang berkesan atau menarik gitu, belum lagi ada videonya.😊

      • morishige · Mei 8

        Iya, Mas Agus. 😀 Sudah enak banget sekarang mengarsipkan perjalanan. 🙂

  7. Sandra J · Mei 5

    I really enjoy these trips you show us, I have never been on a train. I look forward to your next trip. 🙂

    • morishige · Mei 6

      Thank you, Sandra. Glad you liked it. I’m getting more excited to work on the train ride part. 🙂

  8. wening · Mei 6

    Godaan untuk “cuma liat-liat” di toko buku itu memang lebih nganu, haha

  9. Titik Asa · Mei 7

    Asik nih pagi ini saya dibawa jalan-jalan ke Bangkok lewat tulisan Mas ini.
    Mata saya terpaku ke foto pedagang es krim Mas. Kalau disini mungkin semacam es tong tong dengan penampung es-nya yang berbetuk kerucut terbuat dari simping. Apa sama dengan model penyajian demikian Mas.

    Nah itu Mas godaan kalau masuk ke toko buku. Pasti kepincut saja dengan buku-buku, akhirnya beli juga deh beberapa….hehehe. Btw, jadi ngingetin nih kalau saya sudah lama banget gak pernah main lagi ke toko buku. Saat ini hanya ada 2 toko buku di Sukabumi dan dua-duanya selalu sepi dari pengunjung…

    Sehat selalu Mas dan keluarga di Yogja ya.

    Salam dari saya di Sukabumi,

    • morishige · Mei 8

      Betul, Pak. Persis seperti es tong-tong. Penyajiannya pun sama, bisa pakai cone atau roti.

      Hehehe… Sekarang kayaknya jadi lebih mudah untuk cari buku, ya, Pak? Kadang saya suka nemu buku-buku bekas bagus di website e-commerse. Pernah juga dapat buku yang collector’s item, tapi karena penjualnya kayaknya nggak ngeh, harganya murah banget. 😀

      Sehat-sehat juga buat Pak Asa dan keluarga di Sukabumi. Terima kasih sudah ikut jalan-jalan di postingan ini, Pak. 🙂

  10. Pushandaka · Mei 7

    Nampaknya saya harus bertualang dulu di blog ini, sebelum menjalani petualangan yang sebenarnya, entah kapan. Terima kasih untuk cerita yang detail di setiap perjalananmu, mas.

    • morishige · Mei 8

      Terima kasih sudah ikut jalan-jalan bareng cerita ini, Bli. 🙂

  11. Laleh Chini · Mei 8

    I would like to see it once. Maybe one day.

  12. Bang Ical · Mei 8

    Kukira, aku takkan juga bisa tahan untuk tidak mampir ke toko buku. Jangankan toko buku asing di antah-berantah, pameran buku yang selama 10 tahun koleksinya itu-itu saja masih tak tahan kusambangi. Dengan niat sekadar melihat hamparan buku, melihat harga, bisa saja berujung pada penemuan satu atau dua buku antik yang tak kusangka terselip di antara buku-buku yang menurutku kurang menarik.

    Aku penasaran dengan tradisi toko buku di Eropa atau Timur Tengah. Kabarnya, mereka selalu mampu mendesain toko buku yang bikin mabuk para bibliophile dan bibliophagist 🙂

    • morishige · Mei 8

      Toko buku kayak punya energi positif yang menarik kita buat datang ya, Bang? 😀 Nggak beli nggak apa-apa, yang penting lihat-lihat sinopsis di halaman belakang. (Syukur-syukur ada yang udah kebuka.) Hehehe…

      Woh, sama, Bang Ical. Saya juga penasaran banget. Si eL kayaknya sudah pernah (dan akan sedang) merasakan itu, deh. Beruntung sekali makhluk satu itu. Saya penasaran sama toko buku kecil di Paris, Shakespeare & Co. Kayaknya bisa dapat bekasan buku Foucault, Sartre, Camus, atau Proust di sana. Hahaha…

      • Bang Ical · Mei 9

        “Makhluk satu itu” 🤣🤣🤣

        Sepakat! Di Malang, Togamas selalu membuka sampul tiap satu eksemplar per judul. Kadang kubawa ke bangku pojok, kubaca di sana. Berasa macam ditraktir makan sama kawan. Di Gramedia Malang mulai melakukan hal yang sama, tapi hanya buku terbitan tertentu. Tapi yang enak itu emang nongkrong di kedai buku kawan, atau liat-liat buku di pasar buku. Banyak yang ndak bersampul 😁

        Shakespeare & Co. ✍
        Meluntjur ke youtube 🤜🤛

      • morishige · Mei 11

        Hahaha…

        Apalagi kalau ada kursi di sana, Bang. Bakal betah seharian itu. Wah, nongkrong di kedai buku kawan pasti seru banget, bisa sambil ngobrol soalnya. 😀

        Legendaris itu Bang. Semoga suatu saat bisa mampir ke sana. Amin. 😀

      • Bang Ical · Mei 12

        Amin. Amin😇

      • morishige · Mei 12

        😀

  13. bara anggara · Mei 8

    noted!! kalau gak mau gambling, sebaiknya beli tiket sleeper train dari bangkok ke perbatasan thai-malay via online aja..

    btw,, saya baru mengecek jalur2 yg bung lalui di google maps.. Dari sepanjang jalur yang dilalui itu, kayanya saya akan mencontek beberapa.. Tahun depan rencananya mau ke Malaysia-Kamboja-Thailand.. Dari KL-ke Phnom Penh sih via udara. Nah dari Phnom Penh ke Bangkok mau jalur darat juga dengan singgah di kawasan siem reap..

    kalau dari phnom penh ke siem reap cuma ada travel aja ya bung? ada kereta ngga ya? kereta yg nyaman gitu (soalnya mau bawa balita :D).. kalaupun pake travel, kalau hiace kayanya cukup nyaman juga sih yaa..

    Lalu dari Siem Reap ke Bangkok apa ada kereta ya bung? Atau dari Siem Reap ke Aranyaprathet adanya ya cuma mobil travel itu dan dari Aranyaprathet ke Bangkok baru ada kereta yg di postingan ini? Lalu untuk kelas keretanya, ada ngga ya nyaman dan cepat kaya kelas eksekutif di kita? Soalnya bawa balita ini agak rempong wkwk.. Sori banyak tanya ya bung hahaha..

    -traveler paruh waktu

    • morishige · Mei 8

      Wah, asyik! Dari sekarang aja saya udah nggak sabar menunggu ceritanya Bung. Hahaha. 

      Dari Phnom Penh ke Siem Reap, Bung bisa naik minivan Cambodia Post. Beli tiketnya di Cambodia Post Phnom Penh, letaknya di pusat kota, nggak seberapa jauh dari Wat Phnom dan Kedubes Amerika Serikat. Nyaman banget, Bung, dan, dari dua kali perlawatan naik minivan Cambodia Post, sepi penumpang. Tiketnya tahun 2018 itu 8 USD. Kayaknya mungkin masih bakal sama, soalnya pertama kali naik, Juni 2017 kalau nggak salah, harganya juga segitu. Ini pilihan yang jauh lebih bijaksana menurut saya ketimbang naik bus (yang pasti ditawarkan di penginapan-penginapan.)

      Opsi naik kereta dari Siem Riep sementara belum tersedia kayaknya, Bung. Kereta di Kamboja kayaknya yang aktif baru beberapa, Bung: (1) dari Phnom Penh ke Sihanoukville, (2) kereta bandara Phnom Penh (nanti Bung bisa coba kereta bandara ini… ditunggu ceritanya, soalnya saya belum pernah masuk lewat udara.. hehehe…), (3) kereta antarnegara Aranyaprathet-Poipet (PP), yang kayaknya bisa nyambung dengan (4) kereta Battambang-Poipet PP (http://asean.travel/2018/05/02/battambang-now-connected-by-rail/).

      Dari Siem Reap, supaya si kecil nyaman, Bung bisa beli tiket langsung entah ke Bangkok atau tempat lain di Thailand. Ada dua opsi. Pertama, Bung bisa naik bus Nattakan (Transport.co) kayak yang saya naiki dari Bangkok ke Siem Reap sama Nyonya. Ongkosnya sekitar USD28/orang. Penumpang dapat minum, snack, dan makan siang. Tempat duduknya nyaman dan legroom-nya luas. Nanti Bung bisa perkaya risetnya, soalnya sudah banyak yang review juga. Posisi perwakilannya di Siem Reap kayaknya juga sudah di-tag di Maps. Di Bangkok, berhentinya di Mo Chit 2.
      Kedua, Bung bisa naik angkutan milik biro perjalanan biasa. Jadi nanti Bung bakal naik bus/minivan ke perbatasan, terus disambung naik armada yang di Thailand ke tujuan. Nanti sebelum jalan ke imigrasi, Bung bakal diminta pakai kokarde supaya pihak transpor yang di Thailand bisa mengenali. Kereta Aranyaprathet-Bangkok cuma yang kelas 3 (ordinary), Bung. Tapi saya rekomendasikan Nattakan, sih. Pindah-pindah angkutan bakal terlalu repot kayaknya.

      Demikian, Bung. Semoga membantu. 😀

      PS: Nanti kalau dipalakin 100 baht, bilang aja temennya Morishige. Hahahaha.

      • bara anggara · Mei 8

        wuiih,, lengkap juga informasinya.. makasih banyak bung, :cheers … saya copas dulu buat disimpan trs nanti riset lebih lanjut..

        iya kayanya kalau pindah-pindah angkutan lebih repot yaa.. cuma ini perlu dikomunikasikan lagi dengan nyonya,, kalau terasa ribet, terpaksa kambojanya dicoret dulu untuk perjalanan berikutnya ahaha..

        makasih banyak bung morishige.

      • morishige · Mei 8

        Sans, Bung. Senang bisa sharing dengan sesama pejalan. (Ya, nanti suatu saat saya pasti bakal banyak tanya juga soal Maluku ke Bung. Hehehe.)

        Bener sih, Bung. Kalau Bung sendirian kayak perjalanan Maluku dan Sulawesi itu, pasti oke-oke saja. Si kecil perlu pembiasaan dulu. Hehehe. Dan Thailand atau Malaysia saja sudah seru banget to Bung. 🙂

        Anytime, Bung. Cheers! ☕

  14. Zam · Mei 8

    wah, lucu sekali toko buku kecil ituu.. anyway buku-buku yg dijual di situ mayoritas berbahasa apa? Inggris? Thai? saya ingat dulu suka menitip teman untuk membeli majalah National Geographic versi lokal negaranya, namun koleksi tersebut terpaksa kutinggal di Indonesia

    • morishige · Mei 8

      Lucu banget, Mas Zam. Rasanya pengen tak sewa kontainer terus bawa semua bukunya ke Jogja. Karena ini konsepnya book exchange, kayak Boomerang di Sosrowijayan, sebagian besar bahasa Inggris, Kang. Ada Jerman dan Prancis juga.

      Hahaha… Persoalan banget itu, Kang. Akhirnya malah jadi pajangan aja, ya? 😀 Saya pernah bersemangat nemu berjilid-jilid Harry Potter murah di gang toko buku belakang Kantor Pos Saigon, terus kecewa begitu lihat ternyata bahasa Vietnam. Hahaha….

  15. Sukman Ibrahim · Mei 9

    Gini Mas…saya tertarik pada bagian di toko bukut itu. Apakah di sana toko buku juga sepi pengunjung seperti di Indoensia? Mengingat betapa minimnya minat baca masyarakat kita. Atau di sana sebaliknya Mas?

    • morishige · Mei 11

      Kebetulan saya cuma mampir ke toko buku di kawasan Khao San itu, Mas Sukman. Tapi sejarah pendidikan (publik) di Thailand sudah lumayan panjang. Kalau tak salah, di kesempatan berikutnya ke Bangkok saya pernah lewat sebuah kampus seni cukup tua di dekat istana kerajaan. Orang Italia yang merintisnya atas restu Raja Thailand kala itu, sekitar tahun 1800.

  16. Daeng Ipul · Mei 10

    Bangkok ini salah satu kota yang ingin sekali saya datangi. Saya melihat dia sebagai perpaduan antara modernitas dan tradisi yang masih dijaga.

    • morishige · Mei 11

      Iya, Daeng. Berarakter banget. Pasti nanti ulasan Daeng soal Bangkok menarik banget 🙂

  17. Dinilint · Mei 10

    Datang ke Bangkok lewat jalur kereta api itu emang punya kesan tersendiri ya. Rasanya seperti keluar ladang rumput apalah itu terus masuk ke hutan beton yang semrawut, tapi ya gitu,, ngangenin.
    Lumayan nih baca tulisanmu ngobatin kangen keliling Bangkok.
    Seru banget nemu toko buku bekas yang nyimpen buku bagus gitu.

    • morishige · Mei 11

      Iya, Mbak. Tapi perpindahannya itu nggak terlalu “abrupt.” Mulus banget dari rural ke urban. Entah kenapa…. Atau mungkin cuma penglihatan saya aja. 🙂

      Makasih, Mbak Dini. Nanti kalau ke Bangkok lagi, mampir aja ke sana. Tapi siapin bagasi karena pasti bakal borong banyak. 🙂

  18. Rudi Chandra · Mei 12

    Ternyata nggak cuma di sini aja pohonnya tumbuh di trotoar, tapi di Bangkok juga.

    Penggambaran yang detail ya Mas, jadi bisa ngebayangin saat sore menjelajahi jalanan Kota Bangkok.

    • morishige · Mei 12

      Iya, Mas. Ternyata di tempat-tempat lain juga kayak gitu. 😀

      Wah, terima kasih, Mas Rudi. Senang sekali Mas Rudi bisa ikut ngebayangin jalan-jalan sore di Bangkok. 🙂

  19. travelingpersecond · Mei 13

    Mbok masuk gerbong Western & Orietal Express mas, dalemannya kayak apa kok harganya selangit.
    Harus jadi pengusaha dulu biar bisa naik itu macam pelawat berkaos kutang.
    Keren keknya

    • morishige · Mei 13

      Tak intip-intip di blog atau website, kayak kapal pesiar, Mas Donny. Full service itu sih makanya bisa selangit ongkosnya. Seru banget emang kayaknya naik itu dari Singapura sampai Thailand. 🙂

  20. kutukamus · Mei 24

    Bagian ini “. . .keemasan tampak berkilauan seolah-olah berusaha mati-matian menarik perhatian Sang Pencipta semesta” dalem banget. Saya temui di banyak sekali tempat (dalam berbagai wujud), pun yang terpencil/terbelakang/miskin. Tapi tidak bisa nyembur di sini, nanti bisa terlalu ‘sensi’ untuk banyak orang. 🙂

    PS: sepertinya kita bertiga punya kelemahan genetik yang serupa. . . toko buku(!)

    • morishige · Mei 26

      Hahaha. Soal deskripsi cahaya keemasan itu, kawan saya pernah ngomong sinis kalau saya seperti penggiat aliran “mooi Indie.” Tapi sebenarnya itu cuma manifestasi dari keyakinan saya bahwa kisah perjalanan adalah sebuah impresi yang subjektif–dan kontekstual sekali.

      Dan pemandangan seperti itu bagi saya mengharukan juga, sih. 🙂

      KK pasti kalap kalau ke toko buku itu. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s