Perjalanan Panjang ke Penang

Gerai 7-Eleven di seberang Stasiun Hua Lamphong itu menyempil di antara rumah makan dan kafe, bersimbiosis dengan beberapa gerobak penjual bebakaran dan buah-buahan di bagian depan. Ke sanalah kami pergi sebelum menaiki kereta 171 jurusan Bangkok-Sungai Kolok yang akan membawa kami ke Hat Yai.

Tak banyak yang kami beli, hanya beberapa botol air mineral dingin dan makanan ringan pengganjal perut. Mana yang muat di ransel, kami masukkan. Yang tidak, terpaksa ditenteng.

Sekitar sepuluh menit menjelang jam 1 siang, kami memasuki Stasiun Hua Lamphong. Lobi riuh dipenuhi calon penumpang. Di satu titik, terpajang instalasi berupa baliho penuh foto dan cuplikan diari sepasang petualang Thailand yang baru saja pulang bersepeda keliling dunia, juga sepeda tangguh yang dulu mereka kayuh.

Lewat pintu besar di antara jejeran loket tiket, kami melangkah menuju kereta 171. Ular raksasa itu masih menunggu di sana, di peron ujung tempat ia menanti ketika kali pertama saya menaikinya. Kami susuri peron sampai ke gerbong di mana bangku kami berada.

>>Suasana peron Stasiun Hua Lamphong, Bangkok

Sebentar saja kami sudah duduk di bangku kereta. Kondisinya sebelas-dua belas dengan kereta ekonomi di tanah air. Warnanya pun sama meskipun tanpa penutup sandaran berisi iklan aplikasi pemesanan tiket milik PT KAI. Empuknya juga sama: tanggung. Mendadak saya merindukan bangku gerbong sleeper kelas dua, yang entah disangkutkan di depan atau belakang sana. Bangku-bangkunya—yang hanya khusus untuk satu orang—jauh lebih empuk ketimbang bangku gerbong-duduk kelas tiga.

Nyonya duduk dekat jendela, saya sisi lorong. Kami ikut kepanasan bersama para penumpang lain yang juga hendak bepergian ke selatan. Angin yang diproduksi jejeran kipas logam di plafon gerbong tak berdaya menghalau panas infernal kota Bangkok.

Memang tak ada yang lebih panas ketimbang matahari—setidaknya bagi kita, para penghuni bumi.

>>Rak-rak berisi plang jurusan kereta

Untungnya, meskipun tak dilengkapi pendingin ruangan, gerbong kereta kelas tiga—juga dua—di Thailand punya kemewahan berupa jendela yang bisa dibuka lebar-lebar. Jika sudah bergerak nanti pastilah akan terasa sejuk sekali.

Di luar sana, saya intip lewat jendela, beberapa petugas kargo dan dua unit truk garpu (forklift) masih sibuk memuat entah-apa ke dalam gerbong barang. Barang-barang berat dinaikkan oleh truk garpu itu sampai sejajar pintu gerbong, lalu diangkat dan diatur oleh para petugas kargo. Usai menunaikan tugas, mereka kembali ke arah lobi stasiun dengan ceria. Siapa yang takkan senang menumpang odong-odong?

Di balik jendela sisi kiri, dua orang petugas sedang sibuk membersihkan gerbong kereta. Seseorang akan menyabuni gerbong, menggosoknya naik-turun dengan penggalan khusus, sementara orang lainnya—entah berdiri di atap gerbong di atas atau celah antarkereta di bawah—akan membilas bagian-bagian yang berbusa itu dengan air yang menyembur kencang dari selang. Cepat sekali mereka kerja. Sekejap saja duo itu sudah menghilang ke gerbong yang tak lagi tampak di zona pandang.

Tepat jam 1 siang, saya merasakan hentakan. Sama seperti sebelumnya, kereta kelas tiga itu bertolak tepat waktu.

Kembali saya melihat gerak semu. Orang-orang yang duduk di bangku stasiun, gerbong-gerbong kereta yang sedang parkir, pojok stasiun tempat para awak menyimpan dan merawat plang jurusan kereta yang biasa ditaruh di dinding luar gerbong, tembok pemisah antara Stasiun Hua Lamphong dan jalan kecil di mana Train Guesthouse berada, semua bergerak ke arah kanan.

>>Gerbong kelas 3 kereta 171 jurusan Bangkok-Sungai Kolok

Dari jalinan rel yang kompleks di Stasiun Hua Lamphong, kereta itu kemudian meluncur mencari jalan ke selatan meluncuri rel ganda. Mula-mula, ia pelan-pelan saja. Lama-lama, semakin jauh dari keramaian kota Bangkok, sang masinis semakin bersemangat memacu kereta 171 itu.

Semakin kencang kereta itu melaju, semakin sejuk pula hawa di gerbong itu.

Meneguk minuman dingin di kereta 171

Tapi selaju-lajunya kereta meluncur, sekencang-kencangnya angin berembus, tetap saja pelipis kami mengeluarkan keringat. Langit dominan biru; sinar matahari mengucur tanpa hambatan. Panas Thailand ibarat rasa pedas pada makanan yang dipicu takaran merica berlebihan; sukar untuk dinetralkan dengan cara-cara yang konvensional.

“Nanti kita minum soft drink pakai es,” ujar saya pada Nyonya.

Meneguk minuman ringan seperti Fanta, Coca Cola, atau Sprite, yang dituangkan ke dalam wadah berisi pecahan es—entah kresek atau gelas plastik besar—adalah praktik umum di Thailand, benar-benar ampuh untuk membuat tubuh sejenak melupakan betapa sumuk-nya udara. Pecahan-pecahan es itu bikin kesegaran minuman ringan bersoda tahan lebih lama.

Seingat saya, kali pertama melintasi leher Thailand naik kereta, sekitar satu jam setelah kereta berangkat pedagang soft drink plus es akan mulai ramai lalu-lalang di lorong gerbong. Tapi, entah kenapa, hampir dua jam kereta meluncur, mereka belum kelihatan.

>>Ketika kereta 171 melintasi jembatan

Kala itu saya membeli minuman menggiurkan itu ketika kereta berhenti di sebuah stasiun lumayan besar. Penjualnya adalah seorang bapak tua yang membuka lapak tak jauh dari peron. Semula saya ragu untuk membeli, takut harganya mahal. Bapak paruh baya yang duduk di hadapan saya sudah membeli minuman menyegarkan itu. Ia tampak bahagia. Lalu, barangkali karena melihat ekspresi mau-tapi-ragu pada wajah saya, ia lantas berkata sambil menunjuk minumannya, “Twenty… Twenty….” Harganya ternyata 20 baht saja.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Saya langsung memanggil sang penjual untuk menebus sebotol Fanta hijau plus satu kresek es. Segar sekali rasanya. Tahan lama pula. Sampai malam, ketika akhirnya pindah dari bangku ke upper berth, minuman itu masih tersisa dan saya gantung di cantelan besi.

Masalahnya, saya tak ingat nama stasiunnya. Dan barangkali memang mustahil untuk mengingat nama setiap stasiun yang dilewati sepanjang perjalanan sejauh 945 km itu. Mencatatnya pun saya lupa.

Sekitar jam 4 sore, ketika saya sudah hampir mengikhlaskan kesempatan untuk menyeruput minuman bersoda, Nyonya menjawil lengan saya.

“Eh, itu, bukan?” ia bertanya sambil menunjuk ke seorang anak perempuan usia SD dengan celemek tergantung di leher. Memunggungi kami, ia hampir mencapai ujung gerbong dan beranjak ke bordes. Terlalu tenggelam dalam lamunan membuat saya kurang awas dan membiarkan bocah penjual minuman ringan itu melewati kami begitu saja.

Tanpa menjawab, saya langsung bergegas ke arah anak kecil itu dan membeli dua botol Coca-Cola plus dua gelas besar es. Saya kembali ke bangku sambil tersenyum.

Saya tuangkan Coca-Cola ke dalam gelas plastik penuh es itu, saya biarkan gelembung-gelembung kecil itu mencari jalan ke permukaan, lalu saya seruput. Air soda yang sudah dingin itu naik dari gelas ke sedotan, menyentuh langit-langit mulut lalu tumpah di rongga, memproduksi sedit aroma karbol, lalu meluncur melewati kerongkongan sembari memijat-mijatnya dengan tusukan-tusukan kecil.

Segar.

Menghisap tembakau di Stasiun Phetchaburi

Menjelang jam 5 sore, sekitar 150 km dari Bangkok, kereta itu berhenti di Stasiun Phetchaburi. Karena ada tanda-tanda bahwa kereta akan setop agak lama, saya turun. Bukan ke sisi dalam stasiun, namun ke sebelah luar. Selain saya, puluhan penumpang lain juga turun. Takut ketinggalan, agar bisa sewaktu-waktu naik, sebagian besar dari mereka berkerumun di sekitar pintu gerbong.

Mulut saya sudah lumayan asam dan keinginan untuk merokok sudah tak tertahankan lagi. Saya amati sekitar; banyak yang merokok. Ada yang berdiri sambil mengobrol dengan para penumpang lain, ada pula yang duduk-duduk di bangku atau undakan apa pun yang bisa dijadikan tempat untuk mengempaskan pantat.

>>Para penumpang yang turun untuk meregangkan badan atau merokok di Stasiun Phetchaburi

Saya rogoh saku celana kargo kemudian saya keluarkan sebungkus rokok mild yang dibawakan Nyonya dari Indonesia. Saya ambil sebatang lalu saya sulut. Aroma tembakau bercampur cengkih menguar ke mana-mana, tapi hanya saya yang bisa mendengar letupan “Kretek! Kretek!” ketika api membakar rempah itu.

Deg-degan juga saya sebenarnya, sebab spanduk dilarang merokok dan mengonsumsi minuman keras tertempel di mana-mana di bangunan stasiun. Sekali-dua kali polisi khusus kereta api lewat, namun mereka membiarkan saja semuanya merokok. Tak seorang pun di antara mereka yang berhenti untuk mengomeli para perokok. Barangkali di area ini memang diperbolehkan untuk merokok—atau ini hanya sebuah pembiaran.

Kereta berhenti sekitar sepuluh menit, cukup untuk sebatang rokok. Ketika peluit sang kepala stasiun terdengar, saya bersama para penumpang yang rehat di luar berhamburan naik ke gerbong masing-masing.

Hari sudah semakin sore. Matahari sudah benar-benar condong ke barat. Di satu titik, ia melayang-layang di perbukitan karst memanjang, dibingkai latar depan berupa pepohonan lontar yang daunnya tampak seperti rambut manusia sehabis menyentuh generator Van de Graaff. Persawahan masih saja ramai. Bukan oleh manusia, melainkan kawanan bangau yang warnanya kontras sekali dengan hijau.

>>Matahari yang hampir tenggelam di balik perbukitan karst

Ketika kereta melambat sebelum berhenti di Stasiun Hua Hin, Nyonya melihat dua orang perempuan Karen, dengan perhiasan kuningan menumpuk di leher, sedang berdiri di pinggir jalan menunggu kereta lewat. Dekat Hua Hin memang ada beberapa permukiman komunitas etnik yang para perempuannya berleher panjang itu. Merekalah salah satu alasan para pejalan untuk mampir ke Hua Hin.

Memang banyak pelancong beransel yang turun di Hua Hin petang itu, termasuk perempuan pejalan yang tadi duduk tak jauh dari kami, yang di awal perjalanan mengobrol dengan pejalan lain yang duduk di depannya, seorang laki-laki bercelana pendek dan memakai jersey tim olahraga entah-apa. Sempat seru obrolan mereka tadi, tapi lama-lama mereka hanya saling melempar celetukan sesekali.

Kehilangan kawan mengobrol, ketika akhirnya kereta kembali melaju, lelaki itu menyapa kami. Ia ternyata seorang guru dari Filipina. Kini, entah dari mana, ia hendak ke Malaysia juga. Seandainya saja saya sedang bepergian sendirian, atau kami bertemu saat saya masih berkelana di Laos, Vietnam, atau Kamboja, barangkali kami akan mengobrol banyak soal perjalanan. Karena melanglang berdua, fokus saya hanya satu: Nyonya.

Bertualang sendirian dan berdua itu rasanya memang berbeda.

Di luar, matahari sudah sepenuhnya hilang. Gelap hanya diselingi oleh lampu-lampu rumah yang mengumpul di titik-titik tertentu, atau stupa keemasan yang disoroti cahaya dari bawah, atau gemintang yang akan tampak jika kau mengamati langit lekat-lekat.

Minuman bersoda dan kipas angin sudah tak diperlukan lagi; sudah dingin.

Tertahan setengah hari di Stasiun Hat Yai

Tak pernah saya benar-benar bisa tidur nyenyak dalam gerbong kereta. Di kereta ekonomi, sebelum bisa sepenuhnya masuk ke alam tidur, secara periodik saya akan dibangunkan oleh kepala sendiri yang menghantam jendela. Dalam gerbong eksekutif, saya akan selalu digugah oleh suhu yang terlampau rendah.

Seingat saya, seumur-umur hanya sekali saya bisa tidur nyenyak dalam kereta—itu pun hanya sekitar dua per tiga perjalanan—yakni ketika naik Taksaka Pagi jurusan Jakarta-Jogja bulan November 2015. Tidur di Karawang, saya bangun di Purwokerto. Itu pun karena semalam sebelumnya saya menghabiskan malam di emperan Stasiun Gambir yang penuh nyamuk.

Perjalanan dari Bangkok ke Hat Yai itu bukan pengecualian. Tak terhitung berapa kali saya terbangun sepanjang malam karena tak sanggup menahan angin dingin yang bertiup kencang dari jendela. Setiap kali terbangun, saya akan menaikkan pelat penutup jendela; setiap itu pula orang yang duduk di depan kami menurunkannya.

>>Suasana pagi dari jendela kereta

Ketika matahari mulai muncul, saya sudah tak berminat lagi tidur. Saya hanya menatap ke luar, ke arah persawahan perkebunan perbukitan berselimut halimun, atau ke stupa-stupa gemilang yang siap menyongsong matahari tua di puncak bukit di cakrawala sana. Saat kereta menyusuri rel melengkung yang diapit ilalang di kedua sisi, saya julurkan kepala dari jendela; tak pernah bosan saya melihat pemandangan seperti itu.

Tapi ada yang aneh. Ini sudah terlalu terang. Semestinya, ketika cahaya sudah seperti itu, kereta sudah tiba di Hat Yai. Saya tengok jam: setengah 7. Mungkin sebentar lagi. Menurut jadwal, pukul 06.45 kereta sudah akan tiba di Stasiun Hat Yai. (Waktu naik gerbong sleeper satu setengah tahun lalu, saya bangun satu stasiun menjelang Hat Yai dan hanya sempat menyikat gigi sebelum kereta berhenti.)

Dan kereta pun berhenti, tapi bukan di Hat Yai. Stasiun berikutnya juga bukan Hat Yai. Selanjutnya juga bukan. Pukul 06.45 sudah lewat, lalu pukul 07.00, lalu 07.30. Kereta shuttle pertama ke Padang Besar, Malaysia, pasti sudah berangkat!

Jam 8 lewat seperempat barulah kereta 171 itu tiba di Stasiun Hat Yai, telat sekitar satu setengah jam. (Perjalanan yang semestinya “hanya” 17 jam 45 menit molor jadi sekitar 19 jam!) Kami segera turun. Nyonya menjaga ransel di kursi panjang stasiun sementara saya bergegas ke loket penjualan tiket.

>>Suasana Stasiun Hat Yai

Shuttle train ke Padang Besar sudah berangkat?” sia-sia sebenarnya saya bertanya.

“Sudah,” jawab petugas di balik loket.

Akhirnya saya membeli dua lembar tiket kereta shuttle kedua—dan terakhir hari itu—yang akan berangkat jam 2 siang.

Sambil menunggu jam 2 tiba, kami bergantian ke kamar mandi, mengobrol, membaca buku, mencari sesuatu untuk mengisi perut dan menawar dahaga… menikmati suasana. Kami terlalu lelah untuk ke mana-mana. (Nyonya bahkan menyarankan untuk ke hostel di area stasiun. Tapi menurut saya tanggung sekali.)

Untungnya kami berdua; waktu terasa cepat berlalu. Menjelang jam 2 siang, kami naik ke salah satu gerbong shuttle train. Penuh, tapi kami masih dapat tempat duduk. Sayangnya, kereta antarnegara yang kami tumpangi kali itu berbeda dari yang saya naiki dulu, yang jauh lebih baru. Kereta yang ini tak ada bedanya dari kereta Aranyaprathet-Bangkok, hanya gerbongnya saja yang lebih sedikit. Hanya empat, kalau tidak salah.

>>Gerbong shuttle train Hat Yai-Padang Besar

Kurang dari satu jam kemudian, kami sudah tiba di Padang Besar. Karena shuttle train itu penuh, antrean imigrasi untuk keluar Thailand dan masuk Malaysia lumayan panjang meskipun lancar-lancar saja.

>>Gerbong KTM Commuter Padang Besar-Butterworth

Dari Padang Besar, kami naik komuter pukul 16.25 Waktu Piawai Malaysia (WPM) ke Butterworth dan tiba di sana sekitar sepuluh menit lewat jam 6. Karena memakai standar waktu GMT+8, hari-hari di Semenanjung Malaysia masih terang meskipun sudah jam segitu.

Sebelum menyeberang naik feri ke Pulau Penang, kami mampir terlebih dahulu ke Penang Sentral untuk membeli tiket kereta api ke Kuala Lumpur. Sayangnya tiket kereta ke Ibu Kota Malaysia untuk tanggal 29 Desember 2018 sudah habis. Akhirnya pilihan kami jatuh ke moda transportasi lain: bus.

58 comments

  1. Rissaid · Mei 11

    Mesti kalau baca Peron auto inget HP hahaha.

    Bapaknya peka sekali dan lsg twenty2 😁

    • morishige · Mei 11

      Iya, Ris. Peron 9 3/4. Saya pertama kali tahu istilah peron ya pas baca Harry Potter 3, kelas 1 SMP 😀

      Kayaknya beliau nggak tega lihat jakun saya sudah naik turun. 😀

  2. Cipu · Mei 12

    Aku ngakak baca peringatan di kereta yang tulisannya “Please do not stick anybody out of the coach”, kira kira kalau di kita jadi “Jangan jogrokin teman ke luar kereta”. Semoga peringatan ini dibuat untuk jaga jaga saja yah, bukan karena ada kejadian nyata kasus iseng di kereta.

    Wah tidak explore Hat Yai barang sehari kah Mas?

    • morishige · Mei 12

      Hahaha… Iya, Bang. Percobaan menghilangkan nyawa orang sih itu namanya hehehe. Lucu juga, ternyata mistranslasi juga terjadi di State Railway of Thailand, nggak cuma di PT KAI aja. 😀

      Enggak, Bang Cipu. Telanjur capek habis perjalanan panjang itu. Tapi penasaran juga sih sebenarnya keliaran di bagian selatan Thailand. Saya denger banyak cerita soal Thailand selatan dari kawan-kawan pejalan. 🙂

  3. Agung Pushandaka · Mei 12

    Gara-gara baca beberapa paragraf awal tentang minuman dingin, saya jadi ngiler dan akhirnya melanjutkan membaca paragraf selanjutnya sambil menikmati minuman dingin juga.

    • morishige · Mei 12

      Hehehe… Kemarin pas nulis jakun saya juga naik-turun, Bli. Seger banget emang minuman bersoda diseruput pas udara lagi panas-panasnya 😀

  4. Nasirullah Sitam · Mei 12

    Bayangin kalau benar-benar larangan merokok itu diberlakukan hahahhhah.
    Itu di foto terakhir banyak yang lesehan mas? Memang diperbolehkan atau gimana ya ahhahahhaa

    • morishige · Mei 12

      Wah bisa panen itu, Mas Sitam, kalau bener-bener diberlakukan dan orang yang ngerokok ditarikin denda. 😀

      Sebenernya sih enggak, Mas. Tapi kayaknya udah jadi praktik umum juga. Pihak KTM mungkin memaklumi karena orang-orang habis dari perjalanan panjang naik kereta di Thailand hahaha..

  5. Rudi Chandra · Mei 12

    Naik kereta api jarak jauh memang seru, bisa menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan, tapi kalo ngantuk, kepala pun benjol-benjol dibikin jendelanya.

    • morishige · Mei 12

      Hahaha. Iya, Mas. Dari dulu pengen cari bantal buat leher itu tapi belum jadi-jadi. Kayaknya lain kali mesti bawa itu supaya leher nggak goyang-goyang pas naik kereta hahaha.

  6. I took this trip several times and know it well. Thank you for brining me back.

  7. temukonco · Mei 13

    Di sana memang standar-nya kalau jual minuman juga disertakan es batu seplastik itu ya Mas?
    Nggak sabar nunggu cerita pas di Penang-nya. Semoga banyak kulinerannya ya… 😀

    • morishige · Mei 13

      Pedagang-pedagang asongan atau yang jualan pakai bentor biasanya begitu, Mas Temukonco. Lumayan juga, selain dinginnya maksimal, habisnya juga lama hehehe…

      Terima kasih sudah mampir dan berkomentar, Mas. Salam kenal. 🙂

  8. ellafitria · Mei 13

    Eh aku auto bayangin naik kereta yg jendela kacanya bisa dibuka mas. Pasti seger bgt ya wush wush.. Hhh
    Lg puasa gini baca analog minuman bersoda tenggorokan auto kering pdhl baru set 7 pagi. Ahaaha
    Emg bener sih kl bepergian berdua bakal lebih fokus ke temen perjalanan, aku jg kaya nyonya tp bukan colek2 buat beli minuman bersoda, melainkan pop mie. Karena duduk deket jendela lebih sering nyolek dia kl mau pop mie🤣

    • morishige · Mei 13

      Enak banget semilir-semilir gitu kalau kaca jendelanya dibuka. 😀 Mudah-mudahan nggak pada batal puasanya pas baca paragraf minum Coca-Cola itu, Mbak Ela. 😀

      Naik kereta itu kayaknya Mbak Ela bakalan sering tergoda, soalnya banyak banget makanan yang lalu-lalang. 😀

  9. CREAMENO · Mei 13

    Memang kalau jalan berdua itu fokusnya harus ke pasangan, mas 😆 hehehe. Pasti Nyonya bahagia, pasangannya sebaik mas soalnya ~ saya pun merasa fokus ke pasangan ini penting, apalagi saat perjalanan panjang, akan bete sekali kalau semisal pasangan saya justru berbicara dengan orang lain hahahahaha 😂

    Jadi bagaimana mas setelah 19 jam perjalanan? Apa after effect-nya duduk sampai 19 jam lamanya? 😁 ditambah orang yang duduk di depan terus-terus menaikan jendela, untung mas nggak sampai masuk angin, ya 😂 hahaha. Eniho, saya jadi penasaran kira-kira topik apa yang menyenangkan untuk dibahas bersama pasangan saat dalam perjalanan jarak panjang? Apakah mas dan Nyonya membahas soal rencana perjalanan berikutnya juga? 😆

    • morishige · Mei 13

      Paling curi-curi waktunya pas malam-malam banget pas mau tidur, Mbak Eno. Suka ikut nimbrung sama pejalan-pejalan yang lagi duduk-duduk ngobrol di common room hostel. Tapi kalau lagi di jalan, fokus. 🙂

      Lumayan, Mbak Eno. (Paling yang agak malesin ya malam-malam itu karena dingin dan yang kelihatan cuma lampu-lampu dan bintang sesekali.) Hehehe… Untung juga keretanya telat, jadi punya waktu buat istirahat dulu sebelum lanjut ke Malaysia. Ujung-ujungnya nyampe Penang menjelang magrib. 😀 Paling sering sih ngobrolin hal-hal lucu yang kita lihat sepanjang perjalanan, Mbak Eno. Ada-ada sih yang nggak sengaja dilihat pas di jalan. Juga cerita-cerita soal tempat-tempat yang udah dilewati. 🙂

  10. travelingpersecond · Mei 13

    Haruse ini dapat endorse soko Coca Cola mas…..masalahe ketoke suegerrr tenan. Aku moco melu sumuk banget….Hahahah

    • morishige · Mei 13

      Bwahahaha! Sukses berarti, Mas. Cen iki niate ngiming-imingi og. 😀

  11. Sandra J · Mei 13

    What an adventure you go on. Thank you for sharing, it is so interesting and I love it. 🙂

    • morishige · Mei 14

      You’re most welcome, Sandra. Really glad you liked it. 🙂

  12. Eris · Mei 14

    Can’t wait to read about your time in Malaysia. 😀

  13. Jadi kangen jalan-jalan naik kereta. Btw mas blognya aku nominasikan Liebster Award ya. Semoga berkenan.
    https://lifeessentially.net/mendapat-double-liebster-award/

  14. Rifan Jusuf · Mei 15

    Selalu ada kesannya tersendiri ya kalau naik kereta jarak jauh. Kalau momen favorit saya sih saat bisa menatap panorama dari kaca jendela, sambil mendengarkan musik nostalgia. haha

    Saya juga tipe susah bisa tidur nyenyak di kereta. Apalagi kalau pas jalan solo, takut bablas. heuheu. Pas menjelaskan momen gimana nikmatnya minum es disaat momen-momen dahaga di kereta, lha kok saya bisa kerasa melu-melu seger banget. Sama kaya ngrasain nikmatnya pas buka puasa dan minum yang dingin-dingin. haha

    • morishige · Mei 19

      Iya, Mas Rifan. Selalu ada yang bisa dikenang pas perjalanan jarak jauh naik kereta. 🙂

      Bablas itu tuh paling ngeri, Mas. Saya pernah tuh bablas karena ketidurannya menjelang Jogja. Bangun-bangun udah di Prambanan. Akhirnya jalan kaki lintas provinsi pagi-pagi hahaha…

      Itu minumannya emang dahsyat banget, Mas. Sampai sekarang aja masih kebayang sensasi meminumnya kayak gimana hahaha..

  15. bara anggara · Mei 15

    buset,, melalui 19 jam di kereta dengan jarak 900an km.. keretanya macam kereta ekonomi di kita pula.. belum lagi lanjut ke Malaysia nya.. kalau saya sih mungkin enggak sanggup lagi harus duduk selama itu,,

    sepemikiran, melanglang buana sendirian dengan bersama pasangan itu berbeda.. saat sendiri sebenernya lebih kerasa ya jiwa bertualangnya, tapi masing-masing ada plus minusnya sih..

    -traveler paruh waktu

    • morishige · Mei 19

      Tiap kali naik kereta ekonomi, saya sebenernya ngerasa nggak yakin sih Bung bisa melewatinya. Yang kebayang selalu rasa pegel karena harus duduk di bangku yang sandarannya lurus. 😀

      Iya, Bung. Yang dilihat jadi beda banget. Tapi, ya, tetap ada keasyikannya sendiri-sendiri. 😀

  16. Zam · Mei 18

    aku membayangkan Stasiun Phetchaburi ini mirip Stasiun Cirebon, di mana biasanya banyak yang turun sekadar meluruskan pantat dan merokok.. 🤣

    • morishige · Mei 19

      Kayaknya demikian, Kang. 😀 Haduh jadi kangen numpak sepur iki. Hahaha…

  17. Bang Ical · Mei 19

    Aku terpaku betul pada gambar bergerak suasana pagi dari pinggir jendela. Kabut dan remang. Aku teringat bagaimana aku bukan makhluk pagi. Aku bertemu pagi bila pulang dari warung kupi bakda subuh. Langit pagi sebelum matahari sempurna keluar dari peraduan memang magis. Aku merasakan betul daya dekapnya pada ego.

    • morishige · Mei 20

      Sama, Bang Ical. Saya juga bukan makhluk pagi, tapi kalau ada kesempatan melihat pagi pasti nggak akan saya lewatkan. Mungkin karena jarang ketemu pagi itu kita jadi lebih menghargai pagi, ya? 😀

  18. wening · Mei 21

    Pengalaman pertama saya naik kereta api adalah saat usia 6 tahun, dari Purwokerto ke Jakarta. Yang kedua kali, November tahun lalu, itupun naik Pramex, dari Jogja ke Solo, hahaha. Meskipun dengan drama nyaris tidak bisa balik Jogja karena tiket Pramex habis, wkwkwk. Tapi, nagih! Menyenangkan!
    Dan, lihat matahari tenggelam pas naik kereta api itu, sesuatu sekali buat saya.
    Eh, jadi ingat adegan Before Sunrise jugaaak, haha!

    • morishige · Mei 24

      Wah, pasti dulu rasanya beda banget naik kereta. 🙂 Rame banget pasti, Mbak, gerbongnya? Dulu kadang suka melongo lihat berita soal mudik naik kereta di Pulau Jawa. Sampai pada naik lewat jendela gitu. 😀

      Iya. Tapi keretanya nggak semewah di Before Sunrise. 😀

  19. ysalma · Mei 21

    Aku mbaca ini padahal masih pagi, ikut ngebayangin puanasnya perjalanan di Thailand, trus minum minuman dingin bersoda yang gelembungnya meletup saat bertemu es batu, malah ikutan nelan ludah *puasaku terintimidasi hahaha*.

    • morishige · Mei 24

      Hehehe. Memang dahsyat betul itu minuman bersoda dingin kalau diseruput pas lagi panas-panasnya. 😀

  20. Daeng Ipul · Mei 21

    benar-benar petualangan lintas negara ya? hihihi. Bagusnya karena gak butuh visa.
    tapi susah membayangkan naik kereta 19 jam dengan kursi seperti itu. bisa-bisa encok saya hahaha
    lebih bagus tiduran di lantai sih daripada duduk terus 19 jam seperti itu.

    • morishige · Mei 24

      Iya, Daeng. Udah nggak seribet perjalanan semasa Gola Gong dulu. 😀

      Mirip-mirip perjalanan naik kereta jarak jauh di Jawa juga sih, Daeng. Tapi agak lebih sepi. Pegelnya ya sama aja. Untung bisa smoke break sekalian peregangan. 😀

  21. kutukamus · Mei 24

    Lho, susah tidur juga to kalau di kereta? Haha ternyata ada juga teman senasib. Pedagang berseliweran di dalam gerbong ini memng ngangenin banget (terutama mungkin buat yang tipe kancilen) 🙂

    Sekarang saya jadi ingat pengalaman naik KA ekonomi. Mungkin nanti bakal nulis artikel khusus soal itu. Terima kasih untuk inspirasinya.

    • morishige · Mei 26

      Susah banget, KK. Apalagi sekarang pas kereta ekonomi sudah nggak dikecilkan lagi cahaya lampunya malam-malam–dan AC-nya dingin sangat.

      Kalau diingat-ingat, sekarang saya salut banget rasanya sama pedagang-pedagang itu, KK. Susah banget pasti itu hilir-mudik di kereta sambil melewati rintangan: kaki-kaki yang membujur di lorong dan bordes. 😀

      Ditunggu banget tulisannya, KK. Saya selalu penasaran membaca kisah naik kereta ekonomi. Apalagi ada kemungkinan cerita KK settingnya sebelum tahun 2006. 🙂

  22. Alid Abdul · Mei 27

    Cita-citaku dulu pengen naik kereta api dari KL sampai Bangkok, tapi nggak pernah kesampaian. Yah gimana jauhnya minta ampun dan butuh seharian sendiri. Mana cuti juga mepet, ngecek tiket juga kadang lebih ekonomis pesawat ehehe.

    Makanya mas, aku klo jalan selalu bawa bantal leher. Lumayan buat pelindung kepala biar gak keras menghadapi kursi keras ekonomi ehehe. Tapi aku orangnya cepet pulas sih di manapun. Sampai naik kereta ekonomi ke Semarang aja dibangunin kondektur, ngingetin klo ngecas hape dijaga baik-baik. Mungkin dia lihat aku pules tidur melungker wkwkwkw.

    • morishige · Mei 28

      Beneran makan waktu banget sih Mas kalau naik kereta. Sehari semalam lah minimal. Eman-eman banget kalau kita punya waktu luang yang terbatas. Mana kalau naik kereta ini jadi ngiler pengen turun di kota-kota di antara Bangkok dan KL itu. 😀

      Kayaknya bantal leher itu emang mesti punya, Mas Alid. Kapan itu saya lihat ada yang pakai bantal leher tapi ditiup. Praktis banget kayaknya. Tapi belum pernah nemu toko yang jual sih. 😀

      Btw, saya malah lebih sering tidur nyenak pas naik SK atau Mira, Mas. Hahahaha…..

      • Alid Abdul · Mei 29

        Saya punya bantal leher angin yang ditiup, dulu beli atas pesawat AirAsia yang sepaket dengan peralatan tidur lainnya untuk jalan-jalan. Tetapi saya lebih suka bantal leher biasa yang banyak dijual di mana saja. Yanga tiup memang praktis bisa dilipat, tetapi niupnya itu yang butuh tenaga ekstra hahaha. Jadi suka bantal leher biasa yg dicantolkan di ransel ehehe.

      • morishige · Mei 29

        Bener juga sih, Mas Alid. PR banget niupnya pasti. Bisa-bisa abis ditiup ngantuknya jadi ilang. 😀

        Beneran dah. Ntar tak cari bantal leher yang ringan dan nggak makan tempat. Biar turun-turun angkutan lehernya nggak tengeng. 😀

  23. tosupedia · Mei 29

    Wah perjalanan yang sangat menarik

  24. Ikhwan · Juni 16

    19 jam dan 945 kilometer. Luar biasa, mas.
    Fasilitas keretanya gimana mas, seperti toilet apa cukup bersih dengan ketersediaan air yang memadai? Apa tersedia gerbong restorasi juga buat yang pengen makan atau minum gitu?

    • morishige · Juni 21

      Saya baru pernah coba kereta kelas 2 dan 3, Mas Ikhwan. Gerbongnya kayak kereta ekonomi sebelum reformasi Jonan. Di gerbong kelas 3, toiletnya 11-12 dengan kereta ekonomi di Indonesia. Di kereta sleeper kelas 2 kamar mandinya juga hampir sama, tapi agak lebih banyak jumlahnya. Ada beberapa wastafel juga dekat bordes.

      Di kereta ekspres kelas atas ada restorasi, Mas. Tapi di kereta ordinary kelas 3 nggak ada. Untungnya, pedagang asongan masih boleh lalu-lalang di kereta. Ada yang emang ikut kereta itu, ada pula yang cuma naik pas kereta berhenti di stasiun. Harganya juga murah-murah. Untuk makan dan minum rasanya penumpang nggak perlu khawatir.

      • Ikhwan · Juni 21

        Kalau gambarannya begitu, berarti kondisinya persis kondisi kereta api kita beberapa tahun yang lampau ya, jaman-jaman pedagang masih bisa seliweran di gerbong.

        Tapi setidaknya masiha da yang jualan makanan dan cemilan ya. Ga kebayang kalo perut kriuk kriuk selama perjalanan panjang begitu.

      • morishige · Juni 24

        Kurang lebih demikian, Mas Ikhwan. Yang saya lihat dari Thailand ini, mereka nggak serta-merta membuang masa lalu. Yang lama direvitalisasi, disandingkan sama yang modern, termasuk kereta api. Akhirnya, rentang kelas keretanya bisa beragam dan dijangkau beragam kalangan juga.

      • Ikhwan · Juni 25

        Menarik juga, semoga konsepnya bisa diadopsi juga sama KAI di sini, minimal saat merevitalisasi stasiun dan peron, mungkin bisa tetap mempertahankan ciri khas bangunan lamanya.

      • morishige · Juni 30

        Salah satu yang bikin gumun itu, di stasiun-stasiun besar pengantar bisa masuk sampai ke peron, Mas Ikhwan. Jadi masih bisa bikin adegan-adegan romantis ala film-film lawas. Hehehe…

      • Ikhwan · Juni 30

        Dadah-dadahan kaya mau berangkat perang ya :))

  25. Fanny Fristhika Nila · Juni 16

    Lumayan juga perjalanannya ya mas :D. Aku baru sekali naik kereta ekonomi dari Bangkok ke Siam Rep, dan itu jujur kapok. Tempat duduknya dari kayu keras, perjalanan 9 jam, tanpa AC, hanya ada kipas dan jendela yg bisa dibuka. Bonusnya,kereta juga mengangkut ayam dan ternak dan berhenti di setiap stasiun sampe ke Siam Rep wkwkwkwkwk.. itu pertama dan trakhir, aku lgs bilang ke suami, next naik pesawat aja hahahaha.. muka udh ketutupan debu tebel lah sampe di tujuan :p

    Tp diinget2 skr, ya jadi seru. Apalagi perginya Ama pasangan sendiri 😀 . Kangeeen banget aku traveling lg :(.

    • morishige · Juni 21

      Iya, Mbak Fanny, lumayan. Bikin inget perjalanan-perjalanan naik kereta ekonomi sebelum tahun 2013 dulu. Tapi nggak separah itu juga sih kondisinya. Di kerete kelas bawah di Thailand nggak ada yang nggak dapet tempat duduk sampai-sampai mesti selonjoran di lorong atau tidur di kompartemen barang. 😀

      Hehehe… Saya juga merasa demikian, Mbak. Pas dijalani pait tapi pas diinget jadi cerita baut ditertawakan. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s