Georgetown

Dari feri, gedung-gedung di Georgetown, Penang, tampak seperti instalasi seni aliran brutalisme. Bangunan-bangunan pencakar langit itu—termasuk Komtar yang legendaris—kelihatan bertabrakan dengan perbukitan memanjang di belakangnya, meskipun kontras itu agak tersamarkan oleh cahaya keemasan sang mentari tua yang sedang dalam perjalanan ke peraduan.

Di sebelah selatan sana, jembatan penghubung Malaysia semenanjung dan Penang membentang bak doppelgänger cakrawala.

>Beberapa orang penumpang feri sedang memandangi lanskap Georgetown, Penang
>Jembatan Penang

Matahari sudah bersembunyi di balik bukit ketika feri kami sandar di Terminal Feri Raja Tun Uda. Penyeberangan itu lumayan singkat, hanya sekitar 20-25 menit barangkali. Bersama para penumpang lain, kami keluar lewat ponton, melintasi terminal bus, lalu menelusuri Pengkalan Weld ke selatan. Penginapan kami di Lebuh Pantai, beberapa blok dari sana.

>Perjalanan keluar Terminal Feri Raja Tun Uda

Sore itu Pengkalan Weld lumayan padat. Kendaraan-kendaraan mesti melaju pelan. Di seberang sana, bangunan-bangunan tua penyintas zaman masih saja kokoh berdiri.

Saat kami berjalan, aroma tempura dan bebakaran menguar dari beberapa lapak. Rasa lapar membuat kami tergoda untuk membeli. Saat sedang menunggu Nyonya antre membeli tempura, tiba-tiba saya mendengar suara ribut-ribut.

“Ini namanya menghina negara kami!”

Dari mana? Ah, dari sana! Sumber suara itu tak jauh, tidak sampai sepuluh meter dari tempat saya berdiri. Logat orang yang berteriak itu jelas sekali bukan Melayu, tapi Indonesia.

“Saya sudah jualan dari dulu di sini!” serunya, membuat setiap orang yang lewat penasaran. “Ini namanya penghinaan! Mau menghina negara kami?”

Rupanya ia tak terima ada orang yang buka lapak di depan tempat ia berjualan. Entah apa yang ada dalam pikirannya, diseretnya seluruh Indonesia ke dalam dia punya persoalan pribadi. Yang ia ajak bersitegang tidak membalas, hanya diam dan meneruskan urusannya, barangkali sadar dengan privilesenya sebagai warga negara Malaysia. “Rekan senegara” tadi lama-lama kehilangan suara seperti pemain sandiwara ditinggal tidur pemirsa.

Nyonya akhirnya datang membawa tempura. Rasanya enak meskipun tidak seistimewa tempura di Thailand. Saat menyantap makanan jalanan itu, seorang bapak tua menghampiri kami. Badannya kurus dan rambutnya memutih. Dilihat dari perawakan, umurnya tak mungkin kurang dari 70 tahun.

“Dari Indonesia?” ia bertanya ramah.

Kami mengangguk dan tersenyum.

Senang sekali akhirnya setelah sekian lama kami bisa kembali mengobrol menggunakan bahasa Indonesia selain dengan satu sama lain. Sang bapak melempar pertanyaan-pertanyaan standar: baru dari mana, tinggal di mana, keperluan apa di sini, dsb., dsb. Sebagai ganti, kami juga bertanya ini-itu kepada sang bapak. Ia ternyata dari Bangka. Sengaja ia jauh-jauh terbang ke Penang untuk berobat.

“Lebih murah di sini soalnya,” ujarnya. “Fasilitas juga lebih bagus.”

Ia lanjut bercerita. Kami asyik mendengarkan—sesekali mengangguk-angguk sopan menimpali—sambil mengisi perut dengan tempura. Tak terasa beberapa potong tempura itu habis. Langit pun sudah gelap. Kami mesti lanjut jalan kaki ke Lebuh Pantai. Sebelum berpisah, bapak dari Bangka itu berpesan, “Kalau ada yang tanya soal berobat, rekomendasikan saja RS X di Penang.”

Dari Pengkalan Weld, kami belok kanan memasuki Lebuh Chulia, melewati perempatan Lebuh Victoria, lalu belok kiri di markas pemadam kebakaran untuk menyusuri Lebuh Pantai. Jalan itu jauh lebih kecil ketimbang Pengkalan Weld yang raksasa. Di kanan-kirinya adalah jejeran bangunan tua bergaya Peranakan dengan kapur bernuansa krem. Suasana mirip Melaka.

Dari jalan, kami pindah melangkah ke emperan bangunan-bangunan tua itu, berjalan cepat melewati plengkung demi plengkung pemisah antarbangunan, melewati mulut-mulut lorong-lorong kecil yang penuh mural, memapas beberapa warung dengan meja-meja makan yang disebar di pinggir jalan, sampai akhirnya tiba di penginapan kami, Page 63.

Makan malam di Little India

Tempura itu ternyata masih menyisakan banyak ruang kosong dalam lambung kami; orkestra keroncong masih menggema. Usai meletakkan barang di Page 63, kami keluar mencari makan malam.

Dengan sisa-sisa energi, sekali lagi kami menelusuri jalanan Lebuh Pantai yang sekarang sudah semakin sepi. Di perempatan markas pemadam kebakaran, kami belok kiri ke Lebuh Chulia. Kami tiba di Little India.

Tak seperti Lebuh Pantai yang sepi, kawasan India Kecil ini ramai sekali. Indra penciuman saya segera menangkap aroma rempah-rempah yang tak kuasa saya sebutkan namanya satu per satu. Orang-orang berkumpul menyantap roti atau sajian berkari di rumah makan dan restoran, melangkah cepat di jalanan, atau berdiri menunggu bus Rapid Penang untuk membawa mereka pulang.

Kami berjalan semakin ke barat. Mengikuti insting, kami belok kanan, melewati Kuil Sri Mahammariaman, lalu menyusuri Lebuh Queen sampai ujung. Di perempatan penuh lapak makanan jalanan itu kami berdiri sebentar melihat-lihat keadaan. Karena tak ada yang tampak menarik, kami kembali menelusuri jalan ke arah datang, lalu berhenti di depan sebuah restoran India.

Bukan keramaian itu yang menarik bagi saya, melainkan tumpukan martabak di sebuah wajan datar raksasa di sana itu. Aroma gurih kulit martabak yang digoreng dengan margarin menguar memenuhi udara.

“Mencurigakan,” ujar saya pada Nyonya. Dia sudah paham bahwa itu adalah kode dari rasa keingintahuan saya.

Kami pun bergegas mendaki beberapa undakan dan memasuki restoran itu. Pojok kiri depan adalah wilayah kekuasaan kasir. Di ujung dalam sana ada sebuah etalase besar berisi tumpukan lauk, yakni aneka olahan ayam dan ikan dan lain-lain. Di antara kasir dan etalase, meja-meja disusun memepet dinding—tapi bangku-bangkunya penuh. Tak mengapa; masih ada banyak bangku kosong di ruang sebelah.

Kami tempati salah satu meja. Mata saya lalu berkeliaran menjelajahi nama makanan di papan menu di dinding seberang sana. Ada nasi biryani!

Tak lama setelah kami duduk, seorang pelayan restoran, bergamis dengan celemek di badan dan songkok haji di kepala, datang menghampiri. Parasnya India tapi ia melayani pemesanan kami dalam bahasa Melayu bercengkok lebih sempurna ketimbang aksen yang dipakai Iyeth Bustami ketika sedang menyanyi “Laksmana Raja di Laut.”

Semula saya hendak memesan martabak plus nasi biryani. Mendengar itu, sang pelayan restoran menggeleng seraya menambahkan, “Esok pagi. Esok pagi.”

Nasi biryani ternyata cuma disajikan dari pagi sampai siang di restoran itu. Apa boleh buat, martabak saja dulu. Akhirnya kami memesan martabak dan teh ais.

Selesai mencatat, pelayan bergamis itu langsung meneriakkan pesanan kami kepada juru saji di dapur. Selang sebentar, martabak—lengkap dengan kondimen berupa acar warna ungu yang sampai sekarang saya tak tahu apa namanya—dan teh ais pesanan kami sudah tersaji di meja. Selang sebentar pula semuanya terparkir sempurna di lambung kami masing-masing.

Ketika masuk, kami sama sekali tak ambil pusing dengan nama restoran itu. Sebenarnya, di papan menu restoran, nama tempat itu tertera. Tapi kami tak terlalu peduli karena sudah terlalu lapar. Baru ketika hendak pulang ke penginapan, ketika mendongak ke arah plang berlatar putih itu, ketika perut sudah terisi dan pikiran kami jadi jauh lebih jernih, kami tahu bahwa restoran itu bernama Tajuddin Hussain.

Esplanade

Besoknya Penang cerah sekali. Ketika kami keluar dari kenyamanan Page 63, langit biru dan matahari bersinar terik. Lewat jalan kemarin, kami kembali melangkah ke Little India untuk sarapan. (Kami sempat berhenti sebentar di depan sebuah restoran di Lebuh Pantai, terpancing oleh kerumunan orang yang—belakangan kami tahu dari pengelola Page 63—ternyata sedang menantikan istri Raja Malaysia keluar dari sana.)

Tajuddin Hussain pagi menjelang siang itu sama ramainya dengan tadi malam. Kami memesan nasi biryani dengan lauk ayam dan kari kentang. Aroma rempah dalam nasi biryani itu bikin selera makan saya menjadi-jadi. Sebentar saja makanan itu ludes.

>Papan menu Restoran Tajuddin Hussain
>Nasi biryani, ayam ros, dan kari di Restoran Tajuddin Hussain

Dari Tajuddin Hussain, berbekal peta Penang gratisan dari penginapan, kami jalan kaki mencari Museum Sun Yat-sen. Kami berputar-putar agak lama di Lebuh Pasar sampai akhirnya menyadari bahwa saya salah membaca legenda peta! Museum Sun Yat-sen bukan di Lebuh Pasar, tapi di sana, di Lebuh Armenian dekat Masjid Kapitan Keling.

Kapan-kapan sajalah ke sana.

Dari Lebuh Pasar, kami melangkah ke utara, melipir ke jalan di seberang kawasan Fort Cornwallis, lalu mampir ke kantor pos dekat Pengkalan Weld untuk mengirimkan beberapa kartu pos kepada kawan dan kerabat. Terminal bus pelabuhan sudah dekat sekali dari sana. Lewat trotoar yang lebar dan rapi, kami jalan kaki ke selatan, melintasi Pengkalan Weld lewat jembatan penyeberangan, lalu naik bus CAT (Central Area Transit) Rapid Penang menuju Komtar.

>Pengkalan Weld, Georgetown

Seturun di Komtar, kami jalan santai ke Lebuh Penang, menelusuri jejeran toko suvenir yang diselingi oleh lapak-lapak penjual makanan dan minuman di mulut-mulut gang, sampai ujung. Sebelum kembali ke Komtar, kami berhenti dulu di Ais Tingkap dan memesan cendul dengan topping es krim.

Di Terminal Bus Komtar, kami naik Rapid Penang ke Penang Hill. Nyonya dan saya tak tahu apa-apa soal Penang Hill. Dalam bayangan saya, itu adalah puncak bukit dan bus akan membawa kami entah langsung ke puncak atau ke kaki bukit, dan dari sana kami trekking sedikit ke pucuk.

Letaknya ternyata agak jauh dari kawasan kota tua. Bus mesti lewat jalanan teduh yang semula datar kemudian mendaki, sampai akhirnya berhenti di samping sebuah pujasera.

Kami ikut turun bersama semua penumpang. Di depan sana ada sebuah bangunan semi-terbuka yang di depannya ada tulisan besar: “PENANG HILL.” Ke sanalah semua orang menuju. Ternyata perlu naik funicular ke puncak bukit. Tak berminat, kami kembali ke perhentian bus untuk menunggu Rapid Penang berikutnya yang akan kembali ke kota.

Setiba di kawasan kota tua, perut kami kembali keroncongan. Hari sudah sore memang. Karena tadi sudah makan di Tajuddin Hussain, kami cari restoran lain di Little India. Makanan di sana sebenarnya enak-enak saja. Tapi, karena suasananya tidak sesemarak Tajuddin Hussain—hanya kami berdua saja saat itu—sensasi makan di sana gampang sekali terlupa.

>Gereja Anglikan St. George, Penang
>Logan Memorial
>Esplanade

Dengan perut terisi, kami berjalan ke pinggir laut. Singgah sebentar ke Gereja Anglikan St. George dan Logan Memorial—untuk mengenang James Richardson Logan sang pengusul nama “Indonesia”—kami akhirnya tiba di Esplanade.

Lima belas menit lagi jam 7.

Di sana kami hanya duduk-duduk melihat laut yang beriak, diembus angin sepoi-sepoi, disirami sisa-sisa sinar mentari.

60 comments

  1. cipukun · Mei 19

    Mori, kayaknya pengen banget makan nasi Biryani ya, sampai sampai dua kali ke Tajuddin Hussain hahaha. Gimana rasa Biyani nya enak ga? Aku kok jadi ikutan kepikiran Biryani ya? Jadi pengen, udah lama nggak makan soalnya 😅😅😍

    • morishige · Mei 20

      Iya, Bang Cipu, pengen banget. Agak kecewa juga ternyata malam sudah nggak ada lagi biryaninya. Enak banget. Apalagi ditambah ayam ros sama karinya itu. Pedes-pedes, haus, minum teh ais…. Aduh. Di Jakarta ada yang jualan biryani nggak, Bang? Hehehe

  2. Monch Weller · Mei 19

    The nasi biryani looks yummy ah! 😀

    • morishige · Mei 20

      It actually was. And I’m dying to try it some more 😀

  3. CREAMENO · Mei 19

    Foto yang pertama bagus banget, mas 😍 kelihatan dramatic, apalagi ada cahaya keemasannya ~ By the way, saya jadi penasaran rumah sakit yang direkomendasikan bapak-bapak tersebut hihi, sepertinya banyak sekali orang especially dari sumatera yang berobat di Penang. Meski saya belum pernah punya pengalaman berobat di sana 😂

    Dan bicara soal Nasi Biryani, rasa-rasanya kalau ke Penang, wajib sepertinya makan Nasi Biryani meski hanya 1x saja. Kebetulan saya suka nasi-nasi gurih dan memiliki rasa, seperti Nasi Biryani salah satunya 😆 terus habis lihat foto Nasi Biryani di atas ditambah ayamnya, jadi lapar sekarang 😂

    Ohya saya juga belum pernah ke Penang Hills mas, karena jauh jadi malas 😂 terus banyak yang bilang view-nya biasa saja, lebih bagus Victoria Peak-nya HK, jadi lebih worth every penny kalau mau lihat view dari Victoria Peak ketimbang Penang Hills. Begitchuuuu kata-kata dari review yang sudah saya baca 🤪

    Dan sekarang saya baru tau kalau James R. Logan yang mengusulkan nama Indonesia 😂 duh ke mana saja saya saat jam sekolah, ketauan paling malas belajar hapalan hahahaha. Padahal yang seperti itu harusnya dipahami ya, bukan dihapal 😅 *numpang curcol di kolom komentar*

    • morishige · Mei 20

      Reputasinya kayaknya emang udah tinggi banget, Mbak, RS-RS di Penang. (Mungkin sebagian karena promo yang gencar juga. Hehehe.)

      Selain enak, porsinya juga menarik, Mbak Eno. Makanan-makanan India itu porsinya bisa buat 2x makan, lauknya bener-bener bikin kenyang, apalagi kalau bungkus. 😀

      Wah, berarti dugaan saya benar, Mbak. Dilihat dari Semenanjung, Penang itu kayak Hong Kong yang saya lihat di foto-foto, meskipun gedung tingginya nggak sebanyak di Hong Kong. Mungkin karena itu pemandangannya jadi mirip, ya? 🙂

      Iya, Mbak. Logan Memorial ini salah satu alasan saya buat ke Penang. Tapi kayaknya di pelajaran Sejarah emang jarang banget disinggung soal ini. Banyak yang ke-skip kayaknya di silabus. 🙂

  4. Beautiful 😍

  5. temukonco · Mei 20

    Akhirnya sampai di Penaaang…

    Untuk layanan kesehatan, memang orang-orang kaya dari Medan dan Aceh kalau berobat umumnya lebih memilih berangkat ke Penang ketimbang berobat ke Jakarta.

    Konon selain layanan dan kualitasnya lebih baik, juga karena jarak dan waktu tempuhnya lebih pendek ketimbang harus ke Jakarta.

    • morishige · Mei 20

      Iya, Mas. Akhirnya sampai juga di Penang. 🙂

      Wah, ternyata begitu. Udaranya juga jauh lebih berkualitas sih, Mas, ketimbang Jakarta. Pasti bakalan lebih ngefek buat penyembuhan.

  6. Rissaid · Mei 20

    Esplanade jadi part favorit di post ini, sepertinya seru duduk sore2 sambil ngemil di situ haha

  7. ellafitria · Mei 20

    dududuud fotonya yg paling atas syahdu banget mas, jd kangen nyanset sama doi 😦
    btw, nasi Biryani ini kukira mie, pas tak zoom fotonya eh nasi beneran, dasar otakku penuh mie

    • morishige · Mei 20

      Makasih, Mbak Ella. 🙂

      Beras yang dipakai buat bikin nasi biryani emang yang varietas panjang-panjang sih, Mbak. Tak lihat-lihat lagi, ternyata dari jauh emang kayak mi. Apalagi warnanya kayak begitu hehehe…

      • ellafitria · Mei 22

        nah kan iya mas, sekilas kaya mie. pas tak zoom dan baca lagi oh nasi biryani, wkwk
        dasarnya aja aku suka bgt sm mie, ahaha

      • morishige · Mei 24

        Hehehe… Nama berasnya “basmati” Mbak Ella. Pasti kaget sendiri kalau lihat gambarnya 🙂

  8. Eris · Mei 20

    It’s been years since I’ve been in Penang – thanks for sharing such a vividly narrated trip ! Btw I think the purple stuff you get on the murtabak is pickled onion (not sure if it’s called Jeruk Bawang? lol.)

    • morishige · Mei 20

      Years? Really? No way… 🙂

      You’re most welcome, Eris. 🙂 And thanks for tagging along on the journey. Penang is wonderful. I really love the ambiance and the tranquility–and the food, of course.

      Perhaps it is. I can recall that it tastes like the big onion (or bawang bombay in bahasa Indonesia). But the taste of the onion is too obscured by the purple substance. It fits amazingly with the murtabak tho. 🙂

  9. ysalma · Mei 21

    Berobat di Penang ternyata justru dipromosikan oleh pasien asal Indonesia sendiri ya. Itu artinya pelayanannya memuaskan ya.
    Kedai Tajjuddin Hussain berarti juga spesial jika berkunjung ke Penang 🙂 .

    • morishige · Mei 24

      Sepertinya iya, Mbak. Layanan kesehatan kayaknya memang nggak bisa bohong, ya? 😀 Bagus ya bagus, nggak bagus tapi dibagus-bagusin pasti bakal ketahuan. 😀

      Iya, Mbak. Recommended restorannya. 🙂

  10. Zam · Mei 22

    wah, menarik. sempat pengen ke Penang bersama istri, tapi rencana itu sirna karena keburu pindah ke sini.. 😆

    • morishige · Mei 24

      Hehehe… Kalau Mas Zam ke Penang sekarang, mungkin bakal inget sama kota-kota di Eropa, Mas. 😀

  11. bara anggara · Mei 22

    Penang emang terkenal akan wisata berobatnya ya, banyak orang Indonesia yg sering berobat ke sana..

    Nasi biryani pernah makan di Padang, yg punya restoran orang India juga, tapi kok rasanya biasa aja, kayanya harus nyoba nasi biryani luar negeri nih siapa tau citarasanya beda..

    Penasaran sama James Richardson Logan sang pengusul nama “Indonesia”, jadi pgn menggali informasi lebih lanjut..

    -traveler paruh waktu

    • morishige · Mei 24

      Kayaknya servis dan suasana di sana mendukung banget untuk penyembuhan, Bung. 🙂

      Hehehe… Mungkin Bung memang kurang cocok dengan makanan ber-kari. Rasanya kayak nasi digoreng pakai bumbu gulai kalau menurut saya. DIbanding nasi kebuli, kayaknya nasi biryani ini rasanya lebih “kasar” dan nonjok. 😀

      Lucu juga itu Bung ceritanya. Dia bener-bener ngasih usulan aja. Koleganya pertama pakai nama Indunesia. Tapi dia nganggap Indunesia semacam kurang sedap dan mengganti “u” jadi “o.” 😀

      • bara anggara · Mei 24

        Sepertinya begitu bung,, kurang cocok sama makanan berkari..

        Brrti nama Indonesia yg ngusulin bukan org kita sendiri ya? Kalau indunesia emang kurang oke rasanya..

      • morishige · Mei 26

        Kari memang agak nyegrak di hidung dan tenggorokan, ya, Bung? 😀

        Iya, Bung. Usulan nama itu di ranah akademis sebenarnya dulu, dari makalah jurnal. Kita di nusantara baru terpapar agak masif sama pendidikan barat, termasuk konsep dialog keilmuan lewat makalah, kira-kira baru zaman politik etis paruh kedua abad ke-19. Mungkin kalau lebih cepat, dan ilmuwan kita sudah banyak waktu itu, nama negara ini bisa lain lagi.

  12. Sintia Astarina · Mei 23

    Wahh aku baru tahu soal James Richardson Logan! Langsung pengin googling dan pengin tahu kisah lengkapnya! 😀 Anyway seru banget duduk-duduk di pinggir laut. Pasti adem dan damai banget rasanya.

    • morishige · Mei 24

      Monggo, Mbak, diselidiki. 🙂 Iya, seru banget. Anginnya semilir terus cahayanya bagus banget. Tenang pula. 🙂 Terima kasih sudah mampir dan berkomentar. 🙂

  13. Agus warteg · Mei 23

    Memang kalo di negara orang lalu bertemu dengan orang satu negara dan pakai bahasa yang sama rasanya istimewa ya kang.

    Ternyata dia mau berobat di Penang ya, berarti pengobatannya bagus ya soalnya dia mempromosikan nya.

    Penasaran dengan rasa nasi Biryani karena kang Morishige sampai dua kali kesana, apa rasanya seperti nasi Padang kesukaanku ya, soalnya aku merasa nasi Padang nasi terbaik.😊

    • morishige · Mei 24

      Iya, Mas Agus. Rasanya lidah jadi bener lagi hehehe. Bapaknya spontan aja bilang begitu, mungkin benar, Mas. 🙂

      Monggo dicobain, Mas Agus. Kalau Mas Agus senang nasi padang, kemungkinan bakal suka juga nasi biryani. Soalnya rasanya kayak nasi goreng tapi digorengnya pakai bumbu gulai. 🙂

  14. kutukamus · Mei 24

    Wah, baru tahu saya kalau orang kita ternyata ada juga yang setidak tahu diri itu di negeri jiran. Selama ini setahu saya merekalah yang kemelinthi kalau di sana (pernah mengalamai sendiri), sama persis dengan kita yang kemaki pol kalau di kampung sendiri (dan gemar sekali mengatasnamakan ini-itu) Tapi mungkin kekonyolan-kekonyolan seperti ini termasuk bagian dari bekal yang bisa kita pungut di jalan ya 🙂

    • morishige · Mei 26

      Saya agak risih mendengar dia bawa-bawa negaranya dalam konflik seperti itu, KK. Tapi saya juga paham kalau mungkin saya kurang ngerti juga konteksnya. Sebagai pejalan, saya cuma lewat. Sementara dia sehari-hari menyambung hidup di sana. (Meskipun itu juga sama sekali tak bisa dijadikan alasan.) Iya, KK. Hal-hal yang seperti itu jadi pelajaran yang berharga sekali. 🙂

  15. Agung Pushandaka · Mei 24

    Kali ini saya tak ingin mengalami kejadian yang sama saat seperti membaca tulisan Mas sebelumnya. Begitu paragraf awal sudah menyentuh tempura, saya memilih minggir dulu dan menyantap makan siang. Dalam kondisi kenyang, saya lebih bisa menahan nafsu saat membaca paragraf-paragraf selanjutnya. Hehe.
    Saya ingin sekali bisa ke Malaysia, atau ke negara Asia Tenggara lainnya, selain Singapura. Sejak beberapa kali mendapat kesempatan dinas ke luar negeri, tak sekalipun saya mendapat tugas ke negara sekitar. Tapi dari cerita-cerita di blog ini, plus foto-fotonya, saya bisa ikut merasakan suasana di sana dan akan jadi panduan saya kalau misalnya mendapat kesempatan berkunjung ke lokasi yang sama.

    • morishige · Mei 26

      Hehehe. Tempura plus minuman bersoda dingin pasti bakal dahsyat sekali rasanya, ya, Bli? 😀

      Saya yakin tinggal menunggu waktu saja Bli ke Malaysia dan Singapura. Dan saya juga yakin saya bakal baca cerita-cerita seru dari sudut pandang yang menarik. 😀

      Terima kasih, Bli. 🙂

  16. Daeng Ipul · Mei 27

    Ini kota yang keren ya? Masih ada unsur Eropanya, tapi ada juga unsur Melayu dan Indianya.
    Apalagi mereka punya fasilitas kesehatan yang bagus dan murah, pantas aja orang Indonesia banyak yang ke sana.

    • morishige · Mei 28

      Iya, Daeng. Keren. Salutnya, mereka masih tetap menggunakan dan merawat bangunan-bangunan itu. Jadi nggak cuma jadi warisan budaya benda yang cuma bisa dilihat aja. 🙂

      Enak banget sih memang kayaknya buat berobat, Daeng. Kombinasi fasilitas dan suasananya mendukung sekali. 🙂

  17. Dinilint · Mei 29

    Resto Tajuddin apa itu sepertinya berkesan banget ya. Jadi penasaran rasa makanan di sana seperti apa.

    Bagian salah baca peta dan males ke tujuan semula, kok sama yaaa. Aku juga sering salah baca peta trus jalan aja suka-suka.

    • morishige · Mei 30

      Monggo dicoba kalau mampir ke Penang, Mbak Dini. 🙂

      Biasanya, kalau sendirian, saya pakai peta cuma dari transport hub ke penginapan, Mbak. Kalau bawaan sudah aman di kamar, jarang pakai peta. Lagian kalau dipikir-pikir nyasar pun nggak bakal mungkin juga sampai ke kota sebelah hehehe..

  18. Winarto K. Amat · Mei 30

    Really love your writing mas! Penulisannya bagus 👍

    Sempat berkunjung ke hawker daerah Gurney Plaza? Mas bakalan senang lihatin penjual rojak memotong buah dan gorengan..

    • morishige · Juni 1

      Makasih, Mas Win. 🙂

      Belum sempat, Mas Win. Kali terakhir baru mampir ke Gurney Paragon. Nanti kalau mampir ke Penang lagi akan saya coba mampir ke sana, Mas. Kayaknya menarik itu. 🙂

      • Winarto K. Amat · Juni 1

        Paragon sdh masuk area hawker juga mas, sudah dekat sekali, hehehe. kl bahasa lokal disana ‘huanakak’, next cobain cari cemilan disana juga seru mas 🙂

      • morishige · Juni 1

        Owalah… Noted, Mas Win. 😀 Kayaknya mesti coba makanan-makanan lain juga selain masakan India. 😀

      • Winarto K. Amat · Juni 1

        Iya mas, saya juga senang dengan masakan yg full rempah2.. Malay food will be the best choice besides Indian food 🙂

        Nah yg paling buat saya senang sampai bad mood bisa berubah menjadi good mood adalah Mie Kari ala Penang.. aromanya pekat, sampai susah jelasinnya mas, hahaha

      • morishige · Juni 1

        Wah, mie kari. Tak masukin lagi dalam catatan. Saya kayaknya mesti pelan-pelan belajar memvariasikan menu makan, nih, Mas Win. Banyak yang bakal kelewatan kayaknya kalau terus memelihara kebiasaan makan nggak variatif kayak gini. 😀

        Selain makanan India, paling saya baru coba Chinese food, kayak chicken rice atau char kway teow. Makan Melayu mentok-mentok nasi lemak. 😀

      • Winarto K. Amat · Juni 1

        Lumayan mas ada tambahan referensi 🙂
        Malay mixed Indian food ada Nasi Kandar juga, pedas bnyk rempah dan gak mahal2 amet..
        Chinese food rata2 pakai pork. Are you okay with that mas? Kalau ok, saya bisa bagi referensi lain lagi, if you mind ya mas, hehehe

        Nasi lemak! I like it.. apalagi yg di bungkus mini gitu, senang banget sama ikan bilis dan sambal tak pedasnya itu, hehehe

      • morishige · Juni 1

        Hahaha. Nasi kandar andelan itu Mas kalau lagi laper banget. Dibungkus porsinya super. Ngebungkusnya juga kayaknya ada teknik sendiri pakai-pakai tali rafia apa gimana itu. 😀

        Di Malaysia belum pernah icip sih, Mas. 😀 Itu tadi, karena terlalu terpesona sama makanan India. Hahaha. Tapi pas di Laos, Vietnam, Kamboja, Thailand, lumayan. Olahannya pas. Hahaha.

        Sebenernya saya agak bertanya-tanya soal nasi lemak Malaysia ini. Kayaknya lebih gurih nasi lemak di Jambi dan Palembang, ya, Mas?

      • Winarto K. Amat · Juni 2

        Iya pas itu mas, cara bungkus mereka memang beda. Bahkan minuman juga diikat tali biar bs digantung gitu katanya, hehehe

        Mengenai nasi lemak, sepertinya yg versi Indonesia lebih gurih 🙂 cuman masih bingung itu nasi lemak jd hak paten siapa skrng? Hmm

        Btw, sdh brp kali berkunjung ke Penang mas?

      • morishige · Juni 3

        Hehehe… Semula tak kira bungkusnya pakai bungkus nasi padang. Eh, ternyata. 😀 Iya, minumannya juga. 😀

        Susah sih itu buat ditentuin, Mas. Kebudayaan Melayu sebarannya luas banget, sih. Dan masing-masing sebenarnya bisa mengklaim. Tapi klaim nggak ada gunanya juga sih kalau dipikir-pikir. 😀

        Baru dua kali, Mas. Tapi kayaknya masih banyak banget sudut Penang yang menarik. Dan posisinya juga strategis. Enak banget buat transit.

      • Winarto K. Amat · Juni 7

        Iya mas..
        Saya pernah beli kwetiao goreng panas2 dibungkus kantongan plastik minuman, batin saya berpikir bakal jd aroma apa itu makanan setelah dingin? Hahaha

        Pulau satu ini memang buat ngangenin mas, bnyk makanan khas yg hrs dicoba dsni.. oh ya mas, pernah coba kukis tradisionalnya? Namanya Be Teh So, it’s so nice!

        Apalagi makin bnyk penerbangan kesana dari Jakarta dan sekitarnya 🙂

      • morishige · Juni 8

        Hahaha… Jadi makin kentel karena plastiknya kayaknya, Mas. Hehehe.

        Belum coba, Mas Win. Masuk catatan lagi, nih. 😀

        Cocok buat para weekend warrior, ya, Mas Win? 🙂

      • Winarto K. Amat · Juni 8

        Hahaha, kentel dan lengket pastinya mas..

        Sbnrnya masih ada menu makanan andalan lainnya yg bisa saya bagi info, namun sepertinya tidak halal.. mas pantang sama pork?

        It’s so true mas! Jumat malam berangkat (kalau ada flight) trs minggu sore balik deh (kalau ada flight sore ke area pulau Jawa yaa)

      • morishige · Juni 9

        Iya sih, Mas Win. Banyak banget menu menarik di Penang. Apa nama menunya, Mas? Nanti tak coba cari pas ke Penang. Hahaha.

        Hehehe. Sesial-sialnya paling cuma perlu transit di KLIA ya, Mas Win? 😀

      • Winarto K. Amat · Juni 11

        Ada 1 resto di area Carnavon Street, namanya Tek Sen. Semua masakannya enak tanpa terkecuali. Menu andalan disana tuh Sio Bak Cabe Rawit (Pork), gak bakalan cukup order 1 piring mas.. dijamin nagih.
        Terus ada yg sejenis Kway Teow: Horfun, rata2 enak semua disini..
        Lok Lok, sepertinya di Jakarta ada juga mas..
        Aha! Mie Pansit Kecap Hitam, gak mirip mie ayam, tekstur mie sangat tipis dan licin seperti belut menari! Aromanya khas, gak terlalu asin ditambah sambal paduan kari dan cabe merah.
        Pernah coba lobak goreng taoge plus daun prei, jenis snack ini juga tersohor di Penang.

        Betul mas, itu juga gpp deh kalau harus transit di KL. Demi santai dan ngemil weekend, hehehe.

      • morishige · Juni 16

        Wah, perut saya langsung keroncongan, Mas Win, baca komentar Mas yang ini. 😀

        Noted, Mas Win. Terima kasih. Nanti bakal tak cek kapan-kapan kalau ke sana lagi. 😀

        Bisa nyeberang ke Thailand juga bentar. Pergi dini hari balik sore. Hehehe… 😀

  19. travelingpersecond · Mei 31

    Wah ini sandiwarane nggantung….ra ono jotosan piye mas…..Hahaha.
    Naik ferry itu gimana ya…keknya ga nyampai nyampai saking ga sabar masuk ke kota tua Georgetown, pengene nyemplung trus nglangi….lebih cepet perasaan….hahahaha.

    • morishige · Juni 1

      Hahaha… Iyo, Mas. Ketoke gek akeh masalah ae kuwi mase. Mangkane nesunan.

      Bisa dicoba tuh, Mas Donny. Paling titip tas wae ro penumpang ferry. 😀

      • travelingpersecond · Juni 1

        *baru ngeh juga,orang Indonesia bisa buka lapak di negeri jiran gitu. Legal ga ya?😁.

        Antara nglangi atau angslup ra munggah-munggah mas……haha😁

      • morishige · Juni 1

        Nah, itulah, Mas. Jadi ngga tega juga berkomentar banyak karena saya nggak ngerti cerita utuhnya gimana.

        Latihan neng Selat Madura sik ketoke, Mas Donny. Mulihe numpak feri. 😀

  20. Fanny Fristhika Nila · Juni 16

    Kalo udh bicara ttg Penang , aku jujurnya kayak lgs mau balik kesana :D.4 THN kuliah di Penang , jd kuanggab Penang itu kayak rumah kedua
    . Tp kalo ksana lg mas, aku saranin utk coba nasi campur ato briyani di restoran Hameediyahh, NS , dan Deen maju. Aissshhh baru ngebayangin nasi campur ayam dan dorongnya aja, plus sayur Okra dan kubis, aku lgs lapeeeer bangettt hahahahaha… Tp Penang memang the best lah kalo untuk kuliner. Aku LBH suka kuliner di sana malah drpd di KL 🙂

    • morishige · Juni 21

      Wah, mudah-mudahan Mbak Fanny bisa nostalgia masa kuliah pas baca postingan soal Penang ini. 😀

      Noted, Mbak Fanny. Nanti bakal dicoba makan di tempat-tempat yang Mbak Fanny rekomendasikan. Nggak ada rekomendasi yang lebih akurat ketimbang rekomendasi seseorang yang sudah pernah tinggal di tempat itu. 🙂

      Iya, Mbak. Ragam kulinernya warna-warni. Kapan-kapan kayaknya pengen coba bener-bener wisata kuliner aja di Penang. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s