Transit di Kuala Lumpur

Barangkali awal 2013—saya lupa-lupa ingat—sepulangnya dari melancong ke Malaysia, seorang kawan baik menghadiahi saya gantungan kunci. Bukan yang berbentuk Menara Kembar Petronas seperti oleh-oleh kebanyakan, tapi gantungan kunci berupa ukulele berbahan resin.

Waktu itu saya memang sedang senang-senangnya menggenjreng ukulele. Sejak berhasil menyanyikan “Blowin’ in the Wind” dengannya, instrumen musik berdawai empat itu sering saya bawa ke mana-mana. Hemat tempat soalnya. Muat di ransel. Nongkrong di kedai kopi, saya bawa. Pendakian rutin ke Gunung Api Purba, juga tak jarang saya bawa.

Sayangnya, kiprahnya berakhir di bus Pelangi—atau New Pelangi, atau Putra Pelangi, saya lupa—suatu pagi di Medan, ketika saya baru tiba dari Banda Aceh, paruh kedua tahun 2013. Ceritanya, saya buru-buru turun di pul Pelangi karena sudah tak mampu menahan gejolak dalam perut. Di kamar mandi, baru saya ingat bahwa ukulele masih tergantung manis di cantelan dekat jendela. Oh, tidak! Hajat selesai, saya keluar, bus itu sudah berlalu. Sejak saat itu saya tak pernah lagi melihat ukulele itu.

Tapi gantungan kunci itu masih awet sampai sekarang. Suvenir itu dibawa kawan saya dari Penang, dari sebuah toko ukulele legendaris: Manuel Ukulele. Konon belum ada yang menyamai kelengkapan toko musik itu seantero Asia Tenggara. Merk-merk ukulele yang dijual di sana juga beragam, mulai dari buatan Tiongkok yang biasa dipakai amatiran sampai ukulele produksi Hawaii yang biasa dimainkan musisi-musisi tenar seperti Jake Shimabukuro.

Sejak berlabuh di Penang, saya sudah ingin ke Manuel. Meskipun tidak membeli, saya sudah akan senang hanya berada di sana. Tapi kami terlalu asyik melihat Penang sampai-sampai saya melupakan Manuel. Malam terakhir di Penang, ketika kami sudah di Page 63 dan mulai berkemas, tiba-tiba saya ingat lagi soal toko ukulele itu. Tapi karena sadar bahwa ini sudah malam dan kami mesti istirahat, Manuel saya ikhlaskan saja. Saya yakin riwayatnya masih lama. Kapan-kapan, ketika ke Penang lagi, Manuel Ukulele, saya yakin, masih akan ada.

“Yakin nggak mau ke sana?” Nyonya bertanya, menggoda saya.

Saya bimbang.

“Tempatnya juga nggak jauh-jauh banget dari sini,” imbuhnya.

Di Penang ada dua Manuel Ukulele. Toko yang besar terletak jauh di selatan, di Bayan Lepas sana. Satu lagi berada tak jauh dari Komtar. Untuk ke toko kedua ini saya hanya perlu jalan kaki beberapa kilometer. Nyonya membuka aplikasi peta dan memperlihatkan rutenya pada saya. Memang dekat. Tinggal masuk-keluar lorong sedikit, lalu saya hanya perlu berjalan lurus untuk ke sana.

Saya tergoda. Mungkin memang saya ditakdirkan semesta untuk ke Manuel Ukulele malam itu.

Nyonya mempersilakan saya menikmati waktu. Sendirian, saya berjalan masuk salah satu lorong di Lebuh Pantai, lalu menyeberang ke Lebuh Kimberley. Jalan itu lumayan semarak. Warung-warung makan penuh. Di beberapa tempat antrean mengular. Sesekali, ketika saya melewati mulut jalan kecil atau gang, Komtar yang tua terekspos sepenuhnya.

>Kawasan kuliner Lebuh Kimberley (diambil dalam perjalanan pulang)
>Komtar yang tinggi menjulang (diambil dalam perjalanan pulang)

Di perempatan Lebuh Penang, saya naik ke jembatan penyeberangan, turun di sisi barat, lalu menyusuri trotoar sampai Lorong Kinta di mana Manuel Ukulele berada.

Jalan makin sepi. Suara langkah saya makin kentara. Saya makin deg-degan sebab sebentar lagi akan tiba di tempat yang sudah sejak lama bikin saya penasaran.

Sebentar lagi.

Langkah saya ke depan tapi mata saya menoleh ke kanan meneliti plang nama di blok ruko bergaya Peranakan itu satu per satu. Sudah tak ada toko yang buka. Makin mendekat. Semakin. Dan akhirnya mata saya tertumbuk pada tulisan “Manuel Ukulele.” Di bawahnya ada spanduk bertuliskan “Learn Ukulele Here without Flying to Hawaii” dengan foto Honoka dan Azita, duo pemetik ukulele dari Negeri Raja Kamehameha Agung itu.

>Manuel Ukulele Lorong Kinta

Pintu gulungnya tertutup rapat.

Manuel Ukulele tutup.

Saya cek jam di tablet: 20.40. Sudah malam. Wajar saja jika sudah tutup.

Tapi jendela-jendela toko alat musik itu hanya dilindungi teralis kayu. Saya naik ke beranda lalu mengintip suasana di dalam. Puluhan ukulele—soprano, concert, baritone—tergantung di dinding, hanya disirami cahaya sekenanya yang secara misterius malah memunculkan efek dramatis.

Hanya beberapa menit saya di sana. Lebih lama sedikit lagi, mungkin saya akan disangka hendak mencuri.

Meninggalkan Penang

Keesokan harinya kami check-out dari Page 63 jam 10.30. Bus Quick Liner yang akan kami tumpangi dari Butterworth ke Kuala Lumpur baru akan berangkat jam 12.30. Kami masih punya waktu untuk mengisi perut. Maka, sebelum ke Terminal Feri Raja Tun Uda, kami singgah dulu di Restoran Kassim Mustafa untuk makan nasi dalca.

Nasi dalca sebentuk dengan nasi padang. Isinya: nasi, sayur, kuah kari, dan lauk yang bisa dipilih sendiri. Kami makan nasi dalca dengan lauk dada ayam pagi itu. Soal pemilihan lauk ini, Nyonya ada cerita sendiri.

Jadi, ketika memesan nasi dalca, dia “diseneni” seorang ibu. “Kenapa you pesan ayam yang itu (dada)?” ujar ibu-ibu yang sedang antre di belakangnya. “Pakai paha lebih sedap.” Tapi sudah telanjur. Sepotong dada ayam sudah tergeletak pasrah di piring nasi dalca kami masing-masing.

Sang ibu mungkin benar. Tapi dengan lauk dada ayam ini saja nasi dalca sudah menggoda. Lumayan cepat habisnya.

Sebelum pergi dari Restoran Kassim Mustafa, kami sempat bertukar sapa dengan seorang pria yang sedang asyik makan dengan temannya di bangku dekat emperan. Setelah mengobrol sebentar—ia bertanya hal-hal biasa: dari mana, mau ke mana?—ia melepas kami sembari mengucap “semoga beruntung.”

Dengan lambung terisi nasi dalca, kami berjalan dengan langkah-langkah panjang di trotoar Little India, melewati kantor pemadam kebakaran, lalu menyusuri Lebuh Chulia diawasi jejeran gedung-gedung tua. Setiba di ujung, kami belok kiri menyusuri Pengkalan Weld lalu menyeberang ke terminal feri.

Naik feri trayek Butterworth-Penang ini ekonomis. Kami cuma perlu membayar sekali ketika berangkat. Jadi, saat akan kembali ke Butterworth, kami tak perlu lagi membeli tiket, tinggal duduk di bangku tunggu sampai gerbang dibuka.

Menjelang tengah hari itu penumpang tak terlalu ramai. Antrean di ruang tunggu tak panjang dan ketika di feri leluasa saja kami mencari tempat duduk.

Siang itu cerah sekali. Langit biru. Awan seperti bulu biri-biri hanya menggerombol sekadarnya di bawah gedung-gedung bertingkat di Penang. Komtar, Kompleks Tun Abdul Razak, gedung tertinggi di Penang, menjulang angkuh hampir 250 meter ke langit bak Menara Babel.

>Komtar (tengah, paling tinggi) dan bangunan-bangunan penghias garis langit Penang
>Salah satu feri Rapid Penang sedang meluncur ke Georgetown

Sekitar dua puluh menit kemudian feri itu sandar di Butterworth. Kami bergegas ke lobi terminal, memindai boarding pass, lalu, tepat tengah hari, turun lewat eskalator ke ruang tunggu Penang Sentral.

Bus Quick Liner itu berangkat tepat waktu. Jam 12.30 kami mulai meluncur meninggalkan Penang Sentral. Tata letak terminal membuat bus berputar-putar sebentar, lalu masuk ke jalan raya. Semula garis langit Pulau Penang masih tampak di barat sana. Gedung-gedung itu kelihatan seperti para awak dari kapal yang sedang meluncur santai di laut tenang, takzim dan penuh harap melihat daratan.

Lalu, di sebuah belokan, pulau itu pun menghilang.

Kuala Lumpur

Jalan tol di mana-mana sama saja: lebar, mulus, penuh rambu dan plang penunjuk jalan, dan tak ada belokan yang berarti. Tapi pemandangan di kanan-kiri tol Semenanjung Malaysia agak berbeda dari tol di Pulau Jawa. Perkebunan sawit dan karet adalah pemandangan lazim. Barangkali begini suasananya kalau Sumatera sudah terhubung sepenuhnya oleh jalan tol.

Pemandangan favorit saya adalah adalah tulisan “IPOH” besar di perbukitan karst yang mengelilingi Kota Ipoh di Negara Bagian Perak. Tapi, sebentar saja saya melihatnya. Lepas dari sana, pemandangan kembali seperti biasa. Mobil-mobil lalu-lalang, sesekali sepeda motor bebek atau lanang.

Sepanjang perjalanan, bus itu berhenti sekali di sebuah area peristirahatan. Setelah dari kamar mandi, kami berdiri-berdiri di depan jejeran kios kecil yang menjual makanan dan minuman ringan. Sambil merokok, saya takjub sendiri melihat truk-truk trailer kinclong bermoncong panjang—yang saya bayangkan sebagai saudara-saudara sepupunya Optimus Prime—yang sesekali melintas di ruas jalan tol depan area peristirahatan itu.

Hanya seperempat jam bus itu setop. Ia lalu kembali meluncur di jalan tol, kembali melaju menindih beton, kembali bersaing dengan kendaraan-kendaraan lain. Menjelang memasuki teritori Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, gedung-gedung pencakar langit mulai kelihatan. Bus Quick Liner itu berputar-putar di tol pinggir kota, berkali-kali membawa saya melihat dari jauh si Menara Kembar Petronas dan Menara KL, sebelum akhirnya, beberapa menit sebelum jam 6 sore Waktu Piawai Malaysia, berhenti di Terminal Bersepadu Selatan (TBS).

>Terminal Bersepadu Selatan (TBS) Kuala Lumpur

Rencananya kami akan naik bus tengah malam ke tempat lain. Sembari menunggu jadwal keberangkatan bus, kami hendak ke pusat kota KL dulu sekadar mencari makan malam. Agar bahu tidak capek menggendong ransel, kami menyimpan tas-tas besar di salah satu loker berbayar yang tersedia di TBS. Kami hanya perlu memasukkan ringgit di slot, memasukkan kata sandi di papan ketik yang tersedia, lalu menaruh ransel-ransel besar kami di dalamnya.

Tanpa ransel, bahu saya terasa sangat ringan—meskipun postur berjalan saya masih agak membungkuk karena terlalu terbiasa memanggul tas gunung.

Dari TBS, kami naik LRT ke Masjid Jamek. Hari sudah hampir gelap dan cahaya-cahaya sudah memancar dari gedung-gedung pencakar langit Kuala Lumpur. Selepas beberapa perhentian, kami tiba di Stasiun Masjid Jamek. Saya kira semuanya akan lancar-lancar saja.

Duk!!!

Portal keluar stasiun itu tak bergerak. Padahal saya sudah memasukkan token biru itu.

Saya coba lagi.

Duk!!!

Masih tetap tak bisa.

Nyonya sudah di sana, sukses melewati portal. Saya lihat sekitar. Ada petugas di dalam loket sana. Saya hampiri loket itu dan saya ceritakan masalah itu.

“Coba buka laci di portal itu,” ujarnya menyarankan. “Nanti coba kasih masuk lagi tokennya.”

Saya coba cek. Ternyata token saya masih ada—dan ada satu token lagi! Saya ambil dua-duanya. Satu saya masukkan ke dalam slot, satu lagi saya kantongi sebagai memorabilia.

Kami keluar dari stasiun, melangkah ke tenggara di trotoar Jalan Tun Perak, lalu mengubah haluan ke selatan menuju Jalan Petaling. Salah satu jalan legendaris di Kuala Lumpur itu padat sekali malam itu. Terpaksa kami berjalan pelan. Di perempatan tengah-tengah Jalan Petaling, kami belok kiri dan sampai di sebuah kawasan los lambung. Sayang sekali tak ada masakan India di sana. Karena sedang tak ingin masakan Peranakan, di los lambung itu saya hanya duduk dan menyeruput minuman dingin menemani Nyonya.

>Jalan Petaling

Saya baru makan ketika kami hendak kembali ke TBS. Sekitar satu blok dari Jalan Tun Perak, ada sebuah rumah makan Bangladesh yang buka. Tak ada lagi nasi biryani, hanya nasi kandar dengan beberapa lauk yang tersisa. Saya makan dengan lauk ayam. Nyonya tergoda memakan samosa.

Ketika makanan itu habis, kami segera melanjutkan perjalanan. Sudah hampir jam 9 dan kami mesti kembali ke TBS. Sebelum putar arah secara penuh ke Stesen Masjid Jamek, kami berputar-putar dulu di kawasan tempat makan tadi dan, tanpa diduga, melihat Menara KL dari sudut yang lumayan menarik.

>Menara KL

Sekitar jam setengah sepuluh malam kami kembali berada dalam keramaian TBS. Ransel-ransel besar kami keluarkan dari loker, kemudian kami berdebar-debar menanti petualangan baru: Singapura.

72 comments

  1. Art of the Beat · Mei 25

    Love stories like the uke and you taking the chance to see if the shop was still open. How cool! The photos are awesome. Felt like I was long on the trip. I want to experience dalca rice and foods from Malaysia. One day…Thanks and hope you and Madam are staying safe 🙂

    • morishige · Mei 26

      Thank you very much, Arty. 🙂 One day I’m gonna go there again, browse the uke, and bring one home. Haha.

      Yes, it was. It took us more than 24 hours to get from Bangkok to Georgetown. But thank god they have delicious Indian food there in Penang.

      You’re most welcome. I hope you and your family are staying safe there too 🙂

      • Art of the Beat · Mei 26

        Ha ha! Good morning Fuji-san! You should go back and pick up a uke perhaps a new key chain? That is what you from that store, right? Bangkok, in my dreams. I so want to go to Thailand. That is in the top 5 trips. The landscape I hear and have seen in books is some of the greenest! Wow, that is 911 miles approximately according to google. That is a long trip. Wow,I hope you are writing a book! 🙂 You could do one on so many subjects. I’m just thinking about the food and the music…

        We are doing well, I ma just very tired and still not feeling too well. Hope you and Madam are doing well.

      • morishige · Mei 28

        Good afternoon, Arty! 😀 Yeah, someday I’m gonna do that. Guess I need to get a better ukulele. The one I have is fine but since it is mass-produced, the reverberation is not that good. 😀

        I believe you’re gonna love Thailand, particularly the countrysides. 🙂

        Yes, it was quite long. But thank god I’m kind of used to traveling by train that long in Indonesia. We have quite extensive a railway in Java, more than a thousand kilometre long from the western coast to the east. Guess I’m gonna finish this Indochina travel story and put it on a portfolio page so people can read it back to back. 🙂

        Thank you, Michelle. I hope you and your hubby are also doing fine. 🙂 Thanks for your beautiful words. Really appreciate it. 🙂

      • Art of the Beat · Mei 28

        Hey Ajo! Cool. We are trying to pick out a Kala U-bass uke, just trying to nail down what color and wood. Good to know about the reverb nation.

        I am sure I am going to love Thailand. When I was younger I used to look at every book I could about Thailand and Vietnam and watch movies about the life especially since many of the photos mainly showed the lush green fields and picturesque water scenes. The markets have always fascinated me. Where I grew I up in Duarte, we had a several Thai families that moved to our area in the 70’s. Honestly, I thought they Mexican light…ha ha! Our cultures are silimiar.

        For me, more than an hour is unbearable to travel. You and your Madam are brave to travel by train. When I was younger I probably could have done it. Now with my spine issue I have to plan trip were my spine is not compromised. Wow, okay, I might have to try the railway to Java. That sounds so cool and I am just imagining the photos!!!
        It is a cool story. It’s your perspective and it tells things that other people may never have known about.

        We are doing okay. I got to see my grand kids yesterday and my youngest son! It was so great! Hope you and Madam are doing well. Stay safe.

      • morishige · Mei 28

        Awesome! Guess I’m gonna see the pictures of the uke on your following posts? 😀

        Hahaha… Yeah, it seems that people in Thailand really knows how to live harmoniously with natures. And they are pretty good as well dealing with the past. There’s even a city where ancient stupas are standing amongst urban housings 🙂

        But the railway in the US is pretty good, isn’t it? I imagine my self on a US train singing Freight Train or King of the Road while seeing the scenery and my long hair swept by the wind. 🙂

        Thank you, Michelle. I write these stories as a remembrance of the old version of me for the future-me, about things I did, things I saw, and whom I met.

        Wow… I’m so happy to hear that. I hope they are doing well. 🙂 Thanks, Michelle. I hope you and your hubby are doing well too. 🙂 Wear the mask! 🙂

      • Art of the Beat · Mei 29

        You know it! THe uke will become part of our family history. Hopefully, it will be easier to learn that the guitar. I am still stuck on the g chord…
        Yeah, I noticed that in the books and pictures I have seen. Old temples next to modern buildings and cars. I am sure that I would get along just fine. Hubby I am not so sure.
        It is I guess but I can’t sit for long. I have physical limitations. Because of this I have to plan short trips.
        You are welcome and thank you for being so kind and responding to me. It really is cool. My future self or kids will get to see this as well as a history 🙂

      • morishige · Mei 29

        It’s easier I guess. The fret board is narrower and the neck is way shorter. There’s a cool dude, Jake Shimabukoro, from Hawaii. He’s like the god of ukulele. When I just got my first ukulele, I watched many of his video on YouTube. His Bohemian Rhapsody cover is amazing. You should check him up.

        There’s a very interesting special episode of a BBC series, Top Gear, where the hosts traveled to Vietnam with motorbikes and Vespa, the Italian scooter. I bet you’re gonna enjoy the show.

        Thank you as well for these chats. It’s an honor for me to be able to chat with you, an amazing friend from the other side of the globe. 🙂

      • Art of the Beat · Mei 29

        I will have to check out Jake. Yeah the guitar has so much going on and my fingers are spastic. I mentioned that I had the stroke, right? So my right hand my fingers are curved and bent like I have cerebral palsy and sometimes they shake a bit. It makes playing and stretching the fingers a bit challenging. I really had tried with the guitar but it was frustrating. Hubby suggested the bass so maybe it will be easier as you are saying the fret board is narrower and shorter. Also the instrument is light.

        Love TOp Gear although I have not watched that show in years. I will look it up on netflix. I am sure I will like the scenery and just them riding bikes. You get to see more. Gosh I miss the freedom and feeling of riding on my moped without a helmet and catching bugs in my eyes and teeth 🙂

        Yeah, it is an honor to chat with you. I have a feeling you are probably going to be a great writer or are famous in Indonesia now (ha ha) or someday day. Yes, thanks for being a friend. Be safe out there. Our world right now, is just too scary. Not sure if you are seeing the news reports from the US but do check it out…it is not great 😦

      • morishige · Mei 29

        Yes, M. You mentioned it. Well, then a bass uke will be great. But if you perform as a duo with your hubby, no one will notice that you missed a single note as they’re gonna be captivated by your voice. 🙂

        Hahaha… The trio are amazing, aren’t they? They are like real blood brothers. Sadly, the show has ended on BBC. They have another show now on Amazon TV, The Grand Tour. It’s great but Top Gear was them on their prime time. Hahaha… Yeah, the bugs! That’s what every rider can relate to…

        Thanks again for the beautiful words, my dear friend. 🙂 You’ve added many things to my existence. Yes, it is. Our world is transforming now. I hope you’re staying well too there with your hubby. Guess I’m gonna check more international reports. We do need to know what’s happening in other countries.

      • Art of the Beat · Mei 29

        Performing with hubby is a pipe dream. He keeps saying that we will do it but he never wants to practice or learn anything I like. He is also impatient. I understand though,, he has played with so many musicians for so many years so I get that he might be tired. Maybe my voice sucks and this is his way of telling me I am horrible?

        Yeah they arem the Top Gear Show. I sometimes would watch that show through my fingers as I would cover my eyes… ha ha!! Yeah the taste of bugs…tastes like freedom…nothing like it!

        Again you are so welcome. Yeah more people need to get involve with others in the social media feeds. 🙂 there is a whole world out there waiting 🙂

      • morishige · Mei 30

        Hahaha… Nyonya was in a choir in college. So sometimes I play the guitar and she sings. (Last night we sung Bowie’s Space Oddity.) But she’s learning to play the guitar now. She only asks me once or twice a day about the chords when it’s hard for her to reach some note. 🙂

        I bet it’s just a matter of time before you actually make the duo. 😀

        Hahaha…. Yeah, they do silly things.

        Have a great day!

      • Art of the Beat · Mei 30

        Really? That is cool, she must have a beautiful voice. What a great song! One of my favorite singers is Natalie Merchant an she does a great version that song. That is so sweet that you two are playing together. Have you recorded you two playing? If you do, you will have to share.

        I wish Hubby would not be so stingy with his knowledge. So, I will always be the photographer 🙂

        Be safe and well 🙂

      • morishige · Juni 1

        Yes. She has a great voice. We’re working to cover the demo version of that song. It’s really cool. David Bowie in his raw mode. 😀 We haven’t properly record it yet, sadly. 🙂

        I just searched and watched her Space Oddity cover. Her voice is amazing and she’s so charming on stage. Thanks for mentioning her name. 🙂

        Perhaps after the electric guitar is restored he’ll share some of his knowledge. Anyway, I guess a photographer plays quite important a role in framing the image of a musician. 🙂

        You too. Be safe and stay well. 🙂

      • Art of the Beat · Juni 1

        I can’t wait to hear you guys! You will have to post a video or at least audio of you two performing 🙂 I bet she does.

        Natalie Merchant is one of my favorite lady singers. It;s between her and India Arie. No problem. She also played in the band 10,000 Maniacs but only on the first few albums.

        We shall see if he loosens up. I hope so. As the photographer, all I have to do is make sure my setting are correct and the performers do all the rest 😉 but yes, there is the framing of the image of what story or how you want to present your photos.

        Take care and be safe 🙂

      • morishige · Juni 1

        Guess one day I’m gonna post the audio of us playing some songs. 😀

        So many talented singers out there waiting to be found. 😀

        I hope so too. 🙂 I’m always fascinated by the eyes of photographers. I’m not that visual. 😀

        You too! Have a great day 😀

  2. Rahma Frida · Mei 25

    Seru banget sih ceritanya.. saya jadi kangen MY. Kadang lebaran ke KL karena ada keluarga di sana. Btw, sering mendaki ke Gunung Api Purba, Mas? 😯 saya yg deket baru ke sana sekali doang haha

    • morishige · Mei 26

      Terima kasih, Mbak Rahma. 🙂 Jalanan Malaysia memang ngangenin, sih, ya?

      Iya. Dulu waktu kawan-kawan masih pada ngumpul semua, Mbak. Ceritanya, Gunung Api Purba jadi “gym” kita sebelum naik gunung yang lebih tinggi, biar nggak ngos-ngosan hehehe 🙂

      • Rahma Frida · Mei 31

        Ngangenin… ❤

        Keren! Iya juga ya, Kak. Lumayan di sana kalo buat pemanasan dulu 🙂

      • morishige · Juni 1

        Hehehe… 😀

  3. salsaworldtraveler · Mei 25

    Great story! I hope you get another ukulele. Jalan Petaling looks very interesting. Is it a street for shopping and restaurants?

    • morishige · Mei 26

      Thank you. Glad you liked it. I did get another ukulele less than a year later. 🙂 Yes, it is. There are many souvenir shops and restaurants on Jalan Petaling. And there are many hostels and lodgings around the area. I guess you’re gonna like it there. 🙂

  4. Nasirullah Sitam · Mei 26

    Kukira jadi beli Ukulele mas ahahhahah.
    Perjalanan masih panjang, tetap menunggu kelanjutannya.
    Aku juga suka mengoleksi gantungan kunci. Beberapa terakhir ini banyak dari Australia, semoga saja ada waktu menginjakkan kaki di sana

    • morishige · Mei 26

      Hehehe. Nggak jadi, Mas Sitam. Udah ada penggantinya juga, sih. 🙂

      Amin, Mas. Biasanya sih bakal ke sana langsung itu. Pasti seru banget Mas ngereview kedai kopi di Australia. The third wave industri kopi Indonesia konon dari sana 🙂

      Siap, Mas Sitam. 🙂

  5. CREAMENO · Mei 26

    Berarti mas punya alasan balik ke Penang, karena belum kesampaian masuk ke Manuel Ukulele 😂 by the way sekarang sudah ada pengganti untuk ukulele yang ketinggalan di jendela bus, mas? 😁

    Bicara soal dada dan paha atas itu memang termasuk peperangan sengit mas, biasanya di circle saya, yang suka paha atas pasti sering bilang kenapa pilih dada, giliran yang suka dada pasti nggak paham kenapa ada yang suka paha atas 😂 jadi mungkin si ibu yang bertanya itu cuma nggak paham di mana enaknya dada 😆 kebetulan saya team dada hahahahahahaha.

    By the way, view Komtar dari kapal cakep bangetttttttt. Suka lihatnya 😍

    • morishige · Mei 26

      Iya, Mbak. Mungkin itu alasannya. Hehehe… Untungnya sudah ada, Mbak. Kurang dari setahun setelahnya ada ukulele baru. Masih awet juga sampai sekarang. 🙂

      Wahahaha. Berarti soal paha dan dada ini semacam persoalan bubur ayam diaduk apa enggak ya, Mbak? Kalau dalam makanan India, kayaknya nggak mencolok banget gitu perbedaan antara paha dan dada. Ukurannya sama-sama “generous” soalnya. Dagingnya hampir sama aja banyaknya. 🙂 Sama, Mbak. Kalau geprekan pasti saya pilihnya dada. 🙂

      Cakep banget, Mbak. Untungnya cerah jadi kontrasnya kelihatan. Btw, puncak Komtar kayaknya juga dibuka untuk lihat-lihat pemandangan. Kayaknya lebih seru lihat pemandangan Penang dari sana deh, Mbak, ketimbang Penang Hill. 🙂

      • CREAMENO · Mei 26

        Terus sekarang sudah bisa main lagu apa saja mas pakai Ukulele kesayangan? 😍

        Sepertinya begitu mas, menurut teman saya yang hobi meneliti persoalan ayam-ayaman ini, kalau paha atas lebih juicy rasanya, sedangkan yang dada lebih thick mungkin itu juga alasan orang-orang yang diet disarankan makan ayam dada karena lemaknya memang nggak sebanyak paha 😁 jadi bukan sekedar persoalan ukuran, karena sebenarnya keduanya sama-sama besar 😂 tapi memang lebih ke rasa sepertinya. While alasan mendasar saya suka dada karena memang suka yang nggak begitu banyak lemaknya hehehe.

        Iya mas, saya pernah baca info katanya puncak Komtar dibuka dan kita bisa naik untuk lihat pemandangan. Tapi saya pribadi belum pernah ke sana. Seumur-umur naik ke atas di Malaysia itu cuma di KL Tower saja, dan pemandangan malamnya memang juara meski areanya biasa 😬 nah, saya juga berpikir sama mas, sepertinya pemandangan dari kapal jauh lebih dramatic daripada Penang Hills, terbukti dengan foto di atas yang cantik sekali 😆

      • morishige · Mei 28

        Wah… Bisa lah satu-dua lagu, Mbak. Pembiasaan main ukulele, kalau punya dasar-dasar gitar, lumayan mudah, Mbak Eno. Kita cuma mesti menyesuaikan sama tuning senarnya yang beda. Jadi bentuk chord-nya agak beda. 😀

        Hehehe… Begitu ya, Mbak. 😀 Kalau saya dari dulu emang fokus ke daging kalau makan ayam. Jadi agak terganggung sebenarnya sama tulang. Karena biasanya tulang yang ikut di dada sedikit, saya lebih senang dada ketimbang paha. 😀

        Hehehe… Kadang memang ada hal-hal yang lebih menyenangkan kalau dilihat dari jauh, ya, Mbak? 😀

      • CREAMENO · Mei 30

        Ini betul nggak nih balasnya di sini? 😂 takut salah ahahaha ~ bicara soal Gitar atau Ukulele, saya sempat belajar duluuuuu banget meski cuma beberapa bait saja, lagunya sejuta umat berjudul “More Than World” hahahaha. Terus sekarang lupa 😂

        By the way, saya juga paling malas berurusan sama tulang, jadi saya suka banget makan ayam dada fillet soalnya nggak perlu pusing sama tulang-tulang dan rasanya enakkkkk 😆 hahaha jadi malah bahas ayam, ini nggak masuk topik liburan padahal 😂 ohya mas, gara-gara pembahasan ayam ini jadi mau sekalian kasih kabar kalau saya ada kirim hampers lebaran (sekalian kirim ke kerabat dan handai taulan) isinya ayam bakar ke alamat mba Vivi yang mas berikan di waktu silam. Dan sepertinya si ayam sudah mendarat cantik kemarin kalau dari notif yang saya dapat 😂 semoga rasanya cocok ya sama selera mas dan keluarga 😁

      • morishige · Mei 30

        Lagu More than Words itu lucu juga sih sebenernya, Mbak. Banyak temen yang menyerah di petikan-petikan pertama, karena makin ke ujung makin kompleks nadanya. 😀

        Kalau soal pilihan bagian ayam yang dimakan ini, saya cukup prinsipil, sih, Mbak Eno. Hampir selalu request dada. Kalau emang udah nggak ada, baru paha atas. 🙂

        Iya, Mbak. Kemarin sampainya. Baru sempat mengabari Mbak Eno tadi pagi via email. Terima kasih banyak, Mbak Eno, untuk hampers-nya. Ayam bakar dan ikan bakarnya maknyus sekali.

        Selamat Idulfitri, Mbak Eno. Maaf lahir batin, ya. 🙂

  6. Sintia Astarina · Mei 26

    Foto kawasan kuliner Lebuh Kimberley ngingetin aku sama Sudirman Street-nya Bandung. Ramai, kiri kanan isinya makanan semua, ngangenin juga. Hehe.

    • morishige · Mei 28

      Wah, terima kasih untuk referensinya, Mbak. Kapan-kapan kalau ke Bandung tak coba mampir ke Jalan Sudirman buat makan-makan. 🙂

  7. Cipu Suaib · Mei 26

    Pas depan Manuel Ukulele itu pasti ada rasa haru di dada. Akhirnya bisa melihat asal dari ukulele yang pernah dimiliki ya Mas?

    Harusnya coba gedor gedor pintunya, siapa tahu empunya masih di dalam. Nanti pas dibukain pintu bilang aja, saya cuma mau nostalgia hahahah

    • morishige · Mei 28

      Iya, Bang Cipu. Rasanya kayak berada di ujung peziarahan. 😀 Tapi tempatnya tutup hahaha…

      Tapi untung juga sih tutup, Bang. Jadi nggak perlu sungkan kalau masuk sana, lihat-lihat, terus keluar nggak beli apa-apa. 😀

  8. Alid Abdul · Mei 27

    Jadi belum kesampaian masuk ke Manuel? Yasalam udah di depan padahal. Aku sendiri nggak bisa main instrumen alat musik apapun, pernah belajar gitar langsung kapok. Jari-jariku rapuh hahahaha.

    Kenapa nggak turun di KL Sentral mas? Emang sih bus-bus antar kota dialihkan semua ke TBS, tetapi yang dari Penang tetap mampir ke KL Sentral sebentar setahuku.

    • morishige · Mei 28

      Sayangnya belum, Mas Alid. Belum ditakdirkan memang. Mungkin persiapan saya masih kurang buat ziarah ke sana. Hehehe…

      Quick Liner kemarin nggak mampir ke TBS emang, Mas. Banyak banget sih bus yang ke KL dan terminal akhirnya beda-beda. Selain itu, kayaknya udah jatuh cinta sama TBS, Mas Alid. Hehehe. Pilihan transpor buat meneruskan perjalanan juga sepertinya lebih banyak di TBS. 🙂

  9. adieriyanto · Mei 27

    Tempat favoritku klo nginep di KL itu ya sekitaran Masjid Jamek. Selain ke mana-mana deket, deket masjid juga, mau makan pilihannya banyak. Kalau mau makan agak borju ya ke Petaling atau kalau gak malas ya jalan ke Bukit Nanas.

    Kalau ke Penang, malah baru tau tentang toko ukulele ini. Nanti kalau ke sana lagi tak carinya. Aku malah senang berlama-lama di toko Cats & Dogs karena banyak pernak pernik kucing macam mural yang ada di Penang 😁🙏

    • morishige · Mei 28

      Emang enak banget sih suasana sekitar Masjid Jamek dan Jalan Petaling ini, Mas. 😀

      Wah, dinantikan ceritanya, Mas Adie. 🙂 Ntar kalau ke sana lagi, tak coba cari juga Cats & Dogs. 😀 Btw, Bookxcess-nya Penang juga luas banget, Mas Adie. 😀

  10. Daeng Ipul · Mei 27

    Dari kota yang masih menyisakan peninggalan kolonial, transit ke kota besar, dan bersiap ke kota moderen
    Sungguh perjalanan yang menyenangkan, ibarat waktu yang berjalan ke depan ya
    😁

    • morishige · Mei 28

      Deskripsi Daeng pas banget. 🙂 Perjalanan ini lumayan membuka mata saya soal kondisi sebagian wilayah Asia Tenggara. 🙂

  11. Bang Ical · Mei 27

    Suatu saat nanti aku akan kembali ke Ipoh. Aku akan menghabiskan lebih banyak waktu di sana. Berjalan kaki, coba-coba kuliner, mengintip toko buku tua. Macam abang, lah.

    Kutunggu: Singapura!

    • morishige · Mei 28

      Amin, Bang Ical. Ipoh memang bener-bener ngangenin, ya? 🙂 Tenang. Cocok untuk menyepi.

      Siap, Bang Ical. 😀

      • Bang Ical · Mei 28

        Betul. Cocok untuk menyepi:-)

  12. ellafitria · Mei 29

    Duh ukulele, pdhl pas td baca part yg mau ke toko ukulele udh deg2a dan penasaran mo ikutan lihat berbagai jenis ukulele lho mas. Sayangnya udh tutup karena kemalaman 😦

    Tengkyu ya, udh ngajak aku jalan2 ke KL. Besok bakal di ajak jalan2 ke Singapura, selalu suka dg tulisan2mu yg bisa bikin seolah2 ikutan jalan2 🙂

    • morishige · Mei 29

      Iya, Mbak Ella. Sayang sekali sudah tutup. Padahal saya juga sudah deg-degan mau nyobain genjreng salah satu ukulele yang ada di sana. 😀

      Terima kasih, Mbak Ella. 🙂

  13. Deddy Huang · Mei 29

    Penang sendiri aku belum explore, kemarin lebih buat berobat check up. Agak sulit emang kalau berobat sekaligus jalan-jalan hehe..

    • morishige · Mei 29

      Wah, memang keren ya, Mas, fasilitas kesehatan di sana? Hehehe…. Ntar malah impas, Mas, kalau sekalian jalan-jalan 😀 Kalau Mas Deddy muter-muter sana, pasti foto-fotonya bakalan keren itu. 🙂

  14. cerita nina · Mei 30

    Masih penasaran sama isi toko ukulele ituuu..

    • morishige · Mei 30

      Sama, Kaks. Sampai sekarang masih kebayang-bayang ukulele-ukulele yang indah tergantung di sana… 😦

  15. Indi Sugar · Mei 30

    Wah, sayangnya tutup ya :’) Aku juga suka main ukulele, bakal seneng banget kalau bisa lihat-lihat isi tokonya. Btw, pemandangannya bagus sekali. Lihat ini jadi semakin kangen jalan-jalan 🙂

  16. Mira Marsellia · Mei 30

    keren

  17. travelingpersecond · Mei 31

    Nah penggalan cerita itu ketemu di episode ini.
    Yang katanya hanya melihat si “Jangkung kembar” kebanggaan Negeri Jiran.

    Mungkin kembaran itu pula yang menginspirasi pembuatan sekuel Upin Ipin, mas….Kan kembar juga.

    Btw aku ada kenangan di Petaling. Duduk di trotoar lalu makan quacker oat kering satu mug kecil…..dilihatin orang yg berlalu lalang mas….geli ngingetnya…..harusnya aku taruh topi, mungkin ringgit akan menghampiriku….Hahaha

    • morishige · Juni 1

      Wah, Mas Donny masih inget aja komentar lawas itu. 😀 Mungkin saya disuruh ke puncak Monas dulu, Mas. Sampai sekarang masih penasaran naik ke puncak Monas. Nggak tau kenapa selalu saja nggak pas waktunya pas mampir ke Jakarta. Hehehe…

      Hehehe… Bisa jadi, Mas Donny. 😀

      Beuh, nelongso banget, Mas Donny. Itu kurang Sewu Kuto-nya Didi Kempot aja rampung bakalan. 😀

      • travelingpersecond · Juni 1

        Aku baca tulisanmu lihat diorama di museum bawah monas….lah itu ga naek ya….encen, naiknya ngantri mas….seumur hidup aku juga baru sekali naik, 3 tahun lalu.

        Ya begitu kelakuan memalukan diriku ketika di negeri orang. Ga ada tetangga yang tahu mas….santeee weeh….hahaha😁

      • morishige · Juni 1

        Nah, itu salah satunya, Mas. Ga isa naik karena waktu itu lift-nya masih dibenerin. 😀 Penasaran lihat jakarta dari puncak Monas nih. 😀 Apik ora, Mas? 😀

        Hahaha… Bener kuwi, Mas. Ketemu yo mung pisan tok. 😀 Waton ora diciduk aparat wae. Hahaha…

      • travelingpersecond · Juni 1

        Lihat dari atas ya tentu sedap mas…..sudirman kelitan bagus….boleh di coba kapan kapan

      • morishige · Juni 1

        Wah, seru kayaknya tuh. Semoga, Mas Donny. Ntar kalau ke Jakarta bener-bener tak sempetin ke puncak Monas. 😀

      • travelingpersecond · Juni 1

        Text me ya kalau ke Jakarta. Siapa tahu bisa ngopi bareng kita…..😁

      • morishige · Juni 1

        Siap, Mas Donny! Ngopi-ngopi kita. 😀 Btw, ditunggu terus lanjutan cerita-cerita serunya di travelingpersecond. Penasaran sama cerita-cerita edyan yang Mas Donny sebut di komentar. 😀

      • travelingpersecond · Juni 1

        Siap….Hahaha.

  18. Inggrity · Mei 31

    Tiap baca postinganmu kumerasa ikut jalan-jalan, karena selalu detil. Padahal belum pernah juga ke Malaysia.

    Kalau liat cover lagu yang diiringi ukulele di Yutub udah seseru itu, aku menduga rasanya pasti makin seru saat bisa main ukulele dan diiringi nyanyian orang terkasih 🙂
    Btw, semoga next time bisa ngedapetin ukulele dari Manuel itu ya..

    • morishige · Juni 1

      Makasih banyak, Ing. 😀

      Iya, seru banget itu. Sore-sore di kursi ruang tamu, nyanyi bareng. 😀

      Amin. Semoga. 😀

  19. Onixtin Sianturi · Mei 31

    Jadi pengin ke toko Manuel Ukulele langsung deh! nggak ada fotonya yaa? kok aku ngebayangin toko yang penuh alat musik klasik gitu yaah, ala-ala vintage :3

    • morishige · Juni 1

      Monggo ke sana, Kak. 😀 Iya, mirip-mirip seperti itu barangkali, tapi isinya gitar klasik berukuran mini. 🙂 Yang lebih besar kayanya tokonya yang satu lagi. 🙂

  20. Zam · Mei 31

    saya malah penasaran dengan Nasi Kandar. seorang teman yang pernah beberapa kali bertugas ke KL selalu merekomendasikan nasi ini..

    • morishige · Juni 1

      Kayak nasi padang, Kang Zam. Kalau dibungkus, astaga, porsinya luar biasa jumbo. Bisa buat dua kali makan kayaknya. 😀

  21. bara anggara · Juni 2

    walaupun belum bisa masuk ke dalamnya, setidaknya pernah bertemu muka dengan manuel ukulele. next time semoga bisa masuk ke dalamnya bung, sekalian ke toko yang besarnya.. kalau saya gak bisa main ukulele tapi kalau gitar bisa.. mau belajar tapi kok rasanya males, padahal kalau untuk traveling memang lebih enak bawa ukulele yang ringkas. walaupun ada juga gitarlele yg kecil, tapi tetap tak secompact ukulele..

    Wah KL, harusnya sebelum lebaran kemarin ke sana, tapi corona merusak segalanya.. padahal udah gak sabar hunting kuliner di petaling street..

    -traveler paruh waktu

    • morishige · Juni 3

      Iya, Bung. Terharu juga akhirnya bisa lihat Manuel Ukulele. Penyesuaiannya lumayan enak kok, Bung, dari gitar ke ukulele. Logikanya sama. Cuma karena tuningnya agak beda, posisi jari agak beda dari gitar.

      Wabah ini memang bikin banyak rencana tertunda. Mudah-mudahan semua segera membaik dan semua bisa leluasa bergerak lagi, Bung.

  22. Ping-balik: Bras Basah Complex | jejaka petualang
  23. kutukamus · Juni 27

    Ooh baru ngeh kalau biang ukulele itu Hawaii.. Jadi ingat sama Hawaiian Seniors nya Pak Hoegeng di TVRI dulu. Waktu SMP pernah diajari tetangga, tapi nggak mudeng-mudeng (jauh lebih gampang gitar). BTW, Nyonya kalau kasih pancingan wacana buat ngeluyur (meski udah malam dan capek) berat juga ya Haha

    • morishige · Juni 29

      Wah, iya…. Tapi saya cuma denger legendanya saja. (Habis ini cari, ah, di YouTube. :D)

      Perlu penyesuaian beberapa jam, sih, KK, buat pindah dari logika gitar senar 6 ke ukulele. Tuningnya agak beda. Saya belajarnya pakai ‘Blowing in the Wind” supaya tahu kunci-kunci dasarnya. Abis itu enak. 😀

      Nggak mempan, KK. Jam tidurnya lebih teratur ketimbang saya. Jadi kalau sudah malam begitu, ya, begitulah. Hehehe. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s