Naik Bus dari Malaysia ke Singapura

Tengah malam, Qistna Express tujuan Singapura itu berangkat dari TBS. Sebelum bus melaju tadi, kami dan para penumpang lain masing-masing diberi selembar kartu arrival/departure Singapura oleh sang supir.

“First time to Singapore, ha?” ia bertanya tadi.

Bagi saya, iya. Untuk Nyonya, tidak. Singapura sudah pernah didatanginya, meskipun bukan lewat darat tapi via udara. Mujurnya kami sudah familiar dengan kartu arrival/departure sehingga tak mengalami kesulitan mengisi formulir itu.

Dalam cahaya remang-remang, kami bergantian menggoreskan tinta di kartu. Data yang mesti diisi tak jauh beda dari kartu arrival/departure Kamboja dan Thailand. Imigrasi Singapura perlu nama kami, nomor paspor, tempat tinggal selama di sana, tujuan kunjungan, dan detail-detail lain. Sialnya, saat saya hendak mengisi kolom nomor telepon, pengemudi mematikan lampu-lampu utama kabin. Gerak tangan saya agak sedikit memelan karena mata mesti menyesuaikan diri dengan cahaya lindap.

Selesai.

Tapi, rupanya sedari tadi ada yang mengamati saya mengisi kartu, yakni seorang ibu yang tampaknya hendak melancong ke Singapura bersama keluarganya. Ia duduk di sisi lain lorong.

“Boleh pinjam?” ia bertanya. Maksudnya pulpen.

Saya berikan pulpen kepadanya. Ia menerimanya, mengisi kartunya, lalu memberikan kepada orang lain di sampingnya, dan orang lain itu mengoper pulpen itu ke orang lain lagi, dan lagi, sampai tintanya habis. Tintanya memang hanya tinggal sekitar seperlima tadi.

“Habis,” ujarnya saat mengembalikan. Ia tersenyum, ekspresinya sungkan, “Maaf, ya. Terima kasih.”

Saya terima pulpen itu dengan senyum santai. Bukan persoalan. Kami masih punya beberapa pulpen anyar yang masih akan cukup untuk menggoreskan kenangan dalam ratusan halaman buku tulis barangkali.

Lalu saya arahkan mata ke balik jendela, ke jalan tol yang masih sama saja bentuknya. Mulanya saya menduga takkan bisa tidur, sebab saya tahu perjalanan itu takkan lama, tak lebih lama ketimbang perjalanan siang hari dari Butterworth ke Kuala Lumpur. Tapi nyatanya, terlena pembatas jalan yang berkelebatan, dihipnotis marka jalan yang putus-putus, ditambah sisa penat perjalanan etape sebelumnya, saya tertidur juga.

>Perjalanan naik bus dari Malaysia ke Singapura

Begitu bangun, bus sudah merapat di imigresen Malaysia, Kompleks Sultan Abu Bakar, Johor Bahru. Sudah sekitar setengah lima pagi. Kami turun bersama semua penumpang bus menuju lobi pos imigrasi. Langkah kami ringan sebab barang-barang ditinggal di bagasi.

Pos imigrasi itu lumayan besar, tapi lobinya agaknya tak lebih besar ketimbang pos imigrasi Thailand di Aranyaprathet. Sebenarnya banyak loket di pos pemeriksaan itu. Tapi, seingat saya, hanya satu yang bertuliskan “Foreign Passport.” Sisanya ada tempelan bendera Malaysia. Para pelintas batas menerjemahkan kode itu dengan mengantre hanya di loket untuk pemegang paspor asing, termasuk kami.

Ketika giliran pemeriksaan saya tiba, petugas imigrasi di balik loket geleng-geleng kepala sambil mengomentari—mengomel barangkali persisnya—kenapa orang-orang hanya mengantre di satu loket. Sebenarnya saya ingin mengomentari balik, “Wajar saja. Tak ada yang mengarahkan. Petunjuknya pun mana?”

Tapi itu barangkali kurang bijaksana.

Lepas imigrasi Malaysia, bus melaju melintasi Johor Causeway, jembatan penghubung Semenanjung Malaysia dan Singapura yang mengangkangi Selat Johor. Gelap di luar. Kalau terang, mungkin saja saya akan melihat rel kereta api lintas negara yang melintang di sisi timur jembatan itu.

Saya jadi ingat obrolan dengan B, pemuda Singapura, calon guru, supir tank, yang dulu pertengahan 2017 menginap di kamar dormitori yang sama dengan saya ketika di Siem Reap.

“Mungkin nggak, sih, berenang dari Malaysia ke Singapura?”

B terkekeh. Dengan aksen campuran Singlish dan British, ia menjawab, “Paling nanti kau ditembak pas berenang.”

Tapi selat itu memang tak terlalu lebar. Menyampingkan kemungkinan ditembak senapan otomatis, mungkin-mungkin saja untuk diseberangi dengan berenang. Hanya sekitar lima menit setelah meninggalkan imigrasi Malaysia, bus Qistna Express itu menepi di pinggir selasar bangunan Tuas Checkpoint, Singapura.

Sekali peristiwa di pos imigrasi Singapura

Kali ini barang-barang mesti ikut turun untuk diperiksa. Dengan ransel besar di belakang dan tas kecil di depan, kami berjalan cepat menyusuri selasar pos pemeriksaan Tuas. Selasar itu lebar dan lantainya bersih.

>Selasar Tuas Checkpoint, Singapura

Di dalam, tas-tas kami dirontgen mesin sinar-X. Nyonya lewat, saya dihentikan. Petugas perempuan yang memelototi jeroan tas gunung saya berkata bahwa ia melihat di dalam ransel besar itu ada gulungan kabel agak tebal.

Yes, I have two rolls of cable,” ujar saya. Lalu dengan penuh kejujuran saya bercerita, “My laptop was broken so I asked my girlfriend to bring (another roll) of (charging) cable from Indonesia.

Laptop saya rusak di Saigon. Beberapa hari kemudian, ketika saya sudah menyeberang ke Kamboja, Nyonya menawarkan untuk membawa pengisi-daya lain dari Indonesia untuk mengetes jikalau yang rusak hanyalah kabel atau adaptor. Kawan kami punya satu set yang sudah tak digunakan. Tapi, memang laptopnya yang rusak ternyata. Kabel plus adaptor itu selanjutnya hanya memberat-beratkan ransel saja.

Can you show me, please?” pintanya sopan.

Sure,” saya jawab. Saya buka ritsleting tas di bagian bawah untuk memperlihatkan satu set kabel, lalu saya lepaskan tali kepala keril untuk memperlihatkan gulungan kabel lain yang saya simpan di bagian atas.

Ia mengangguk-angguk kemudian mempersilakan saya masuk ke ruang besar berisi jejeran loket imigrasi.

Ruangan yang besarnya minta ampun itu lumayan lowong itu pagi. Tak terlalu banyak orang dalam antrean. Entah kami yang tiba di jam yang pas atau memang biasanya sepi, saya tak tahu. Kami sempat khawatir akan tertahan lama karena antrean panjang di imigrasi Singapura, sebab sekarang 30 Desember. Besok malam semua akan bersorak menyambut kedatangan tahun baru, 2019.

Saya dan Nyonya memilih salah satu lajur kemudian ikut mengantre. Ada seorang petugas yang mengarahkan para pelintas batas untuk antre menurut jenis paspor yang dipegang. Pendatang umum seperti kami diarahkan ke sebuah lajur seperti labirin yang di ujung bercabang menjadi lima. Saya cuma bisa melirik iri kepada mereka-mereka yang datang dengan paspor diplomatik.

Pengaturan seperti itu membuat proses imigrasi berjalan efektif dan efisien. Kurang dari setengah jam, saya sudah di depan loket.

Are you traveling alone?” ujar perempuan muda berkacamata yang berjaga di belakang loket, sembari meneliti paspor dan kartu arrival saya. Mukanya tampak agak mengantuk tapi ia berusaha keras untuk tetap ramah.

No. With my girlfriend. Up there,” saya jawab. Ia menoleh ke arah Nyonya di sana.

Have you been to Singapore before?

No. It’s the first,” jawab saya.

Paspor saya langsung distempel. Dengan ramah, ia mengucapkan selamat datang.

“Thank you,” ujar saya, tersenyum.

Keramahan itu adalah keramahan pertama dari sekian keramahan yang kami temukan dalam perlawatan singkat ke negeri yang konon pernah jadi lokasi pelarian raja Sriwijaya terakhir itu.

Di bawah kanopi hutan beton

Kami menunggu agak lama sebelum bus kembali bergerak. Sang supir mesti menunggu rombongan keluarga—yang tadi meminjam pulpen saya—yang agak lama tertahan di imigrasi. Paspor anaknya sudah kedaluwarsa sejak bulan tujuh, sementara kala itu sudah bulan dua belas.

Ketika sedang menunggu keluarga itu, bus kami dihampiri seorang pemuda dari benua jauh yang meminta tumpangan ke kota. Ia ditinggal busnya. Berharap sekali ia ditumpangi. Tapi awak Qistna menggeleng. Saya curi-curi dengar, sang supir bilang pemuda itu sebaiknya menunggu bus StarMart—armada yang meninggalkannya tadi—selanjutnya. Sudah praktik lazim jika penumpang yang ketinggalan bus bisa menumpang armada berikutnya. Bus hanya menunggu 20 menit.

Akhirnya keluarga yang kami tunggu-tunggu itu keluar dari imigrasi. Entah bagaimana caranya, sang anak diperbolehkan memasuki Singapura—dan, saya baru sadar, entah bagaimana pula caranya ia bisa “keluar” dari Malaysia tadi.

Pintu bus menutup. Kendaraan besar itu langsung dipacu sang juru mudi menelusuri jalan mulus diapit pepohonan yang siluetnya tampak seperti hutan bakau. Suasana berubah. Jalan menjadi kelihatan lebih rapi. Rambu-rambu jalan sudah bertukar menjadi bahasa Inggris. Aspal makin mulus. Demikian mulusnya aspal itu sampai-sampai saya tertidur. Begitu membuka mata, bus sudah menepi di seberang Golden Mile Complex, Beach Road. Kami turun bersama para penumpang lain, lalu menopangkan ransel di sebuah bangku taman di depan masjid tua. Hijau sekali halaman masjid itu.

Masih terlalu pagi untuk check-in. (Jadwal check-in jam 3 sore.) Dan kami perlu uang tunai. Nyonya sudah menandai sebuah ATM di Raffles Place. Dari halaman masjid itu, kami naik jembatan penyeberangan lalu masuk ke Stasiun Nicoll Highway. Kami perlu turun beberapa puluh meter dengan eskalator menuju peron. Semakin ke bawah, hawa semakin dingin. Khas stasiun bawah tanah.

Nyonya sudah bawa dua kartu—yang entah apa namanya—yang sudah diisi deposit beberapa dolar Singapura. Saya pegang satu. Kami tinggal menempelkan kartu itu untuk menembus portal stasiun. Karena Nyonya sudah familiar dengan Singapura, dia yang membaca petunjuk dan mencari jalan. Tadi dia sudah bilang bahwa kami akan transit di X, terus lanjut dengan kereta lain di Y. Tapi rute itu terlalu kompleks buat saya yang biasa jalan kaki tak tentu arah di permukaan tanah. Saya jadi pengikut yang baik saja.

>Suasana stasiun MRT di Singapura pagi hari ketika kami baru tiba

Peron kosong. Kami hanya menunggu sebentar sebelum kereta bawah tanah itu tiba. Pintu membuka, kami masuk. Gerbong juga kosong melompong. Angkutan itu meliuk-liuk di bawah tanah, ke kanan, ke kiri, kanan, kiri lagi. Lalu kami turun, berganti jalur, dan saya kembali menikmati liukan gerbong kereta itu.

Akhirnya kami tiba di Stasiun Raffles Place. Kata Nyonya, tempat itu tak jauh dari Merlion. Tapi yang bikin saya bersemangat berada di sana adalah kedekatan tempat itu dengan kawasan yang diduga sebagai lokasi berlabuh pertama Stamford Raffles, Januari 1819 silam, di Singapura. Ah, begitu dekat rasanya dengan sejarah.

Kami naik eskalator untuk kembali ke permukaan lalu muncul di antara gedung-gedung tinggi menjulang yang pastinya belum ada ketika Raffles melihat Singapura untuk kali pertama. Hutan beton. Matahari sudah keluar, tapi sinarnya belum cukup tinggi untuk menembus celah-celah bangunan pencakar langit dan membelai kulit saya pagi itu.

>Raffles Place, 30 Desember 2018

Bilik ATM yang dicari Nyonya ada di pojok sana. Saat melangkah menuju ke sana, saya baru sadar bahwa udara yang saya hirup terasa amat segar. Dari mana asalnya? Dari gedung-gedung itu? Mustahil. Gedung-gedung itu tak punya daun, mereka tak punya stroma, grana, dan perangkat atau bahan lain yang diperlukan untuk berfotositensis.

Entahlah.

Segera saja Nyonya selesai menarik dolar Singapura di ATM itu. Kami bergegas kembali ke stasiun MRT dan lewat rute yang sama balik ke Nicoll Highway. Hari sudah makin siang dan orang-orang sudah mulai beraktivitas. Gerbong MRT sudah semakin ramai, namun kami masih leluasa memilih tempat duduk. Sebelum beranjak ke hostel di Jalan Kubor, kami mampir dulu di kantin Stasiun Nicoll Highway untuk sarapan nasi lemak.

78 comments

  1. Monch Weller · Juni 1

    Oh, you entered via Tuas Link!

    • morishige · Juni 1

      Yes, we did! 😀 Have you tried it?

      But I wonder what it’s like to enter the country through Changi. 😀

      • Monch Weller · Juni 1

        Haven’t entered Singapore via the causeways yet, but maybe next time. 🙂

        I’d say that Changi is an entire city in itself; lots of food and retail stores, connected to a mall (Jewel), and still accessible via the train system. Never really had much problem with SG immigration – the process there was a breeze!

      • morishige · Juni 1

        You’re gonna like it, Monch. 🙂

        Awesome! People do say many things about how cool the airport is, that they have game centers, Harry Potter theme park or something.

      • Monch Weller · Juni 1

        I think those things you mentioned are at the other terminals (T2, T3, etc.) I’ve flown Philippine Airlines during my two trips there, and they always land at Terminal 1 – that’s the one connected to Jewel Changi.

      • morishige · Juni 1

        Wow! It now sounds like really big an airport. So I guess it’s more awesome than KLIA1. I’m getting more curious. 😀

  2. macalder02 · Juni 1

    Taking the bus trip is much more fun than taking the plane. There are very curious situations, such as the lady who asked you for the pen or the landscapes that you can enjoy through the window. And so on until you reach your destination. It was a chronicle that I really enjoyed when I read it. The photos and video are fantastic.
    That you’re fine and take care
    Manuel

    • morishige · Juni 1

      I think so, Manuel. There are many things you can see when traveling by bus. Really glad that you liked it. For me, these post could be the remembrance for future me of places I visited and friends I met along the way. Thanks for your beautiful words, Manuel. Take care and please always stay well. Big hugs. 🙂

      • macalder02 · Juni 1

        For now, we can only remember the moments that we had a good time. The pandemic has not stopped and we must wait for better times to come. You also take care of yourself. Health is first.
        Manuel

      • morishige · Juni 1

        So true, Manuel. Now is the best time to recall old memories. And I’m looking forward to reading your next posts. 😀

      • Belungsing Balabad · Juni 1

        Soal bolpoin ini menarik. Kok ya kepikiran bawa lebih dari satu. 👍😇

      • morishige · Juni 1

        Nah, itu saya juga heran, Paman. Kalau nggak salah, saya cuma pesan buat dibawain satu pulpen, tapi dibawain 6 apa. 😀

  3. Zam · Juni 1

    entah kenapa saya selalu deg-degan kalo mengantre di imigrasi Singapura. baik jalur udara maupun laut (pernah menyeberang dari Batam), namun belum pernah dari jalur darat. kesannya dingin, tegas, efisien, sat set, kaku, namun berubah setelah pejalan dibolehkan masuk. saya jarang ditanyai, dan lega setelah terdengar bunyi jdok! jdok!

    soal pemeriksaan barang, saya pernah sedih sekali saat beberapa botol Nutella dan Ovomaltine yang saya beli sebagai oleh-oleh dan masuk ke ransel (karena memang cuma sebentar berkunjung), terpaksa dibuang ke tempat sampah di depan saya oleh petugas customs karena aturan 100 mL cairan (dan juga selai) yang boleh masuk kabin.. 😭

    dan dipersilakan melanjutkan perjalanan.. btw, saya bahkan bercita-cita tinggal dan bekerja di Singapura, tapi rupanya nasib berkata lain.. 😆

    • morishige · Juni 1

      Iya, Mas Zam. Entah kenapa saya juga deg-degan pas masuk Singapura jalur darat–Malaysia juga. (Kalau soal masuk Malaysia, mungkin karena banyak berita soal orang yang ketangkep menyelundupkan sesuatu dari sana, Jadi saya mesti selalu pastikan nggak ada sesuatu di selipan-selipan ransel.) Tapi, tadi sore kayaknya kepikiran, kayaknya semua bakal lancar-lancar aja ya di imigrasi kalau kita bawaannya santai, apalagi kalau bisa berkomunikasi lancar sama petugas pos lintas batas.

      Bah, eman-eman banget itu, Kang, kalau Nutella beberapa botol dibuang. Berarti emang tegas banget ya peraturan di Changi soal batas maksimal cairan yang dibawa. Eh, itu pas naik pesawat ‘kan, Kang?

      Hahaha… Malah melipir ke Benua Biru. 😀 Memang enak kayaknya tinggal di sana ya, Kang? Suasananya udah kayak bukan di Asia Tenggara aja.

      • Zam · Juni 1

        iya. kalo keliatan tegang malah mencurigakan. dibawa santai, tapi ngga terlalu norak santainya malah aman.

        iya waktu itu naik pesawat, jadi selai pun dianggap cairan yang harusnya masuk bagasi..

        dulu kenapa pengen ke SG karena selain maju, kalo mau pulang-pulang gampang. terus SG itu kan hub ke mana aja, jadi mikirnya gampang juga kalo mau jalan-jalan, karena penerbangan dipastikan ada..

      • morishige · Juni 3

        Lucunya, saya malah lebih mencurigakan di mata petugas imigrasi kita, Kang. Sampai mesti njelasin rencana rute dari awal sampai akhir terus kasih lihat tiket pulang. Sedih juga sih rasanya… haha…

        Perkara aturan cairan ini emang rada riweuh 😀

        Iya juga ya, Mas. Tinggal di negara hub kayak Singapura bisa leluasa ke mana-mana. 😀

  4. Art of the Beat · Juni 1

    Thank you, as always for sharing! Now I feel like on this Monday, june 1, I took a ride to Singapore along with you and Madam. I want to be more like her, like Dora the Explorer! 🙂

    May both of you be safe and well 🙂

    • morishige · Juni 1

      You’re most welcome, M. Really glad that you liked the post. I too enjoyed reading your last road trip to the desert. Hahaha…. She’s the explorer, I’m the map. 😀

      You too. Don’t forget the face mask. 😀

      • Art of the Beat · Juni 2

        Yes, I liked the post 🙂 Now that I know who Madam is and I have gotten to know you through our messages it is really cool to read your stories about your travels. Really, I may never get the chance to see Malaysia or even travel out of the USA again but now I know about the lake on the 2nd tallest mountain in that area. Very cool.

        I won’t forget my mask it is getting fun to wear. 🙂 Take care and be well.

      • morishige · Juni 4

        Me too. Reading your posts means a lot to me as well. Now CA is a tiny bit more vivid on my mind. 😀

        We don’t know about the future. But let’s hope everything’s gonna get better. 😀

        Have a wonderful day. 😀

      • Art of the Beat · Juni 4

        I am going to have faith in humanity. Things will get better but there is much work to be done here and from the looks of the international news, everywhere. Racism is universal. I am not trying to say by any means that we, are at war but it feels like it right now. I know a super hero is not going to fly from the air to save us, so we all need to make changes for a better world. Sorry, if I getting to deep…ha ha!!!

        Be safe and get some sleep! 🙂 (Grama Kush talking)

      • morishige · Juni 4

        Couldn’t agree more. We all need to hear John Lennon’s “Imagine,” or Scorpion’s “Under the Same Sun,” or White Lion’s “When the Children Cry.”

        Will do. 😀 Please take care of the world while I sleep. 😀

        Good night from the other side of the globe. 😀

  5. Cipu Suaib · Juni 1

    Wuih enjoy Singapore. Btw mas, jalur yang kamu lewati dari Malaysia ke Singapore, adalah kebalikan dari jalur yang saya pernah lewati dulu sama Mila pas perjalanan dari Singapore ke KL via Johor Baru. Cuma bedanya kami naik kereta ke KL nya. Aku juga sempat disetop pas mau masuk KL , mungkin karna tampangku ga meyakinkan ya hahahah.

    Ayo disambung lagi ceritanya, pengen tahu apa yang terjadi di Singapura

    • morishige · Juni 1

      Wah, iyakah, Bang? Mau lihat ah ceritanya. Di blognya Bang Cipu ada juga kan ceritanya? 😀

      Kalau saya justru di Soekarno-Hatta, Bang, dicurigai. Sedih rasanya dicurigai sama rekan senegera. 😦

      Ok, Bang Cipu. 😀

  6. Nasirullah Sitam · Juni 2

    Bisa jadi udara segar di sana karena minimnya kendaraan pribadi, mas.
    Kebayang sih bagaimana suasana udara di Singapura kala pagi, tanpa ada suara rentetna klakson. Menyenangkan

    • morishige · Juni 3

      Bisa jadi, Mas Sitam. Atau mungkin juga karena masih terlalu pagi. 😀

      Singapura kalau tak lihat lebih ramai bawah tanahnya, Mas, ketimbang permukaan tanahnya.

  7. bara anggara · Juni 2

    perlakuan petugas imigrasinya kok beda bgt ya sama pas saya ke sana akhir tahun lalu.. masuk via laut dari batam, di sana petugasnya galak2,, ada beberapa orang yg dimarahin.. kalau saya untung hanya diperhatiin foto sama aslinya aja karena di foto rambut pendek tapi pas ke sana rambut lagi gondrong2nya haha.. tapi tetep gak ada senyuman ataupun ucapan selamat datang..

    apakah via darat , laut, udara tipikal petugasnya beda2 yaa?? itu anak kecil malah bisa lolos juga.. ajaib..

    -traveler paruh waktu

    • morishige · Juni 3

      Mungkin karena waktu itu masih pagi juga, Bung. Belum terlalu banyak yang datang dan bisa jadi petugasnya baru mulai sif. Kebayang juga sih betapa bosannya petugas Imigrasi ngecek identitas dan menstempel paspor berjam-jam, pasti kesel. 😀

      Tapi denger cerita Bung saja jadi penasaran coba masuk Singapura lewat laut. 😀

  8. Alid Abdul · Juni 2

    Dari sekian banyak perbatasan, aku paling gak suka sama perbatasan ini wkwkw. Antreannya bikin nggak sante, pernah dua jam antre dan ketinggalan bus ke bandara Johor. Akhirnya naik taksi yang lumayan merogoh kocek. Dari pada ketinggalan pesawat pulang ke Surabaya huvt.

    Dan benar visual dan tanda petunjukknya kurang bersahabat. Aku bolak-balik nyasar antara ke parkiran bus dan masuk mall. Ngeselin ahaha.

    • morishige · Juni 3

      Kemaren itu sebenernya sempet deg-degan juga, Mas Alid. Soalnya menjelang tahun baru. Eh, untungnya masih sepi. Kalau masuk-keluar Singapura kayaknya sih enak ya, Mas, soalnya arus imigrasi dibagi dua antara Woodlands sama Tuas.

      Hahaha… Ya, lucu jadinya kalau mereka menggerutu. Wong petunjuknya minim gitu. 😀

  9. Dinilint · Juni 2

    Hawanya segar mungkin karena masih lebih pagi dan ada banyak tanaman di sekitaran Raffles, tapi kalo siang panasnya sama kok kaya di kota-kota pantai di Indonesia.

    Aku nonton gambar MRT Singapura kok kangen ya. Mau ke sana di bulan-bulan ini juga nggak mungkin kan.

    • morishige · Juni 3

      Kayaknya sih begitu, Mbak Dini. Apalagi sekitaran Raffles itu lebih banyak jalur pedestriannya ketimbang jalur mobil.

      Iya, nih. Nulis catatan perjalanan gini saya juga kangen berpindah-pindah tiap hari. 😀

  10. CREAMENO · Juni 2

    Mas ada-ada saja, kok bisa kepikiran soal berenang di Selat Johor hahahaha 😂 imajinasi mas Morishige ini sungguh tinggi ya ~ by the way, saya seumur-umur coba bus di KL itu cuma dari Melaka ke Johor, karena waktu itu nggak ada penerbangan direct (adanya transit di KL), so dengan deg-degan saya coba booking bus lewat website setelah sehari semalam baca informasi bus mana yang bagus untuk digunakan (padahal kalau dipikir-pikir hanya 2-3 jam perjalanan (tapi lebay banget persiapannya) 😂 however saya belum pernah lewat perbatasan darat, jadi dari cerita mas saya baru tau deh bagaimana kira-kira situasinya 😍

    Ohya, ngomong-ngomong soal imigrasi Singapura, sepengalaman saya orangnya baik-baik (seenggaknya saya belum pernah dapat perlakuan sinis), bahkan pernah sekali waktu saya ke Singapura tepat di hari ulang tahun, dan petugas imigrasinya mengucapkan selamat ulang tahun 😂 “Happy birthday, welcome to Singapore. I wish you have a good time while in Singapore.” begitu katanya 😆 dan itu sekali dalam hidup saya dikasih ucapan ultah sama petugas imigrasi hahahahahahah 🙈

    Sekarang saya jadi nggak sabar baca cerita berikutnya, penasaran bagaimana gaya liburan mas kali ini ketika semua urusan di Singapura dihandle sama Nyonya 😍 pasti akan beda banget rasanya, kan ehehehe. Ditunggu kelanjutannya, mas 😁

    • morishige · Juni 3

      Hehehe. Soalnya kelihatannya deket, Mbak Eno. Apalagi kalau dalam peta. 😀

      Kalau overland sebagian negara Asia Tenggara ini saya malah nggak pernah pesan online angkutan, Mbak. Kalau nggak go-show, biasanya pesan di terminal atau agen sehari sebelum keberangkatan. Di Malaysia enak banget buat go-show buat bepergian jalur darat. Waktu keberangkatannya banyak dan semua armada yang tersedia bisa dipesan di loket mana pun di terminal.

      Sejauh ini, checkpoint imigrasi Singapura, jalur darat, menurut saya paling OK, Mbak. Bangunannya besar, bersih, rapi, dan sistemnya bagus.

      Kalau saya lihat, petugas imigrasinya banyak yang muda, Mbak. Curiganya, mereka itu pemuda-pemuda yang lagi tugas mengabdi pasca-wajib militer hehehe…

      Makasih, Mbak Eno. Mohon ditunggu ya postingan berikutnya. 😀

  11. Sintia Astarina · Juni 2

    Beberapa tahun lalu pernah naik bus dari SG – Malay dan sebaliknya, tapi lupa sama pengalamannya. Dulu bahkan belum kepikiran nulis blog travel. Jadi menyesal sekarang ini wkwkw. Mau diingat-ingat pun memorinya sudah ndak utuh. 😦

  12. Bang Ical · Juni 3

    Masjid Hajjah Fatimah? Itu masjid bersejarah. Wanginya seperti dupa:-)

    Saya ingat, Bang, saking deg-degannya masuk ke Singapura (karena konon imigrasinya galak), paspor saya terjatuh entah di mana. Dalam hati saya sudah batin, matilah saya subuh ini. Untung saya sadar paspor saya hilang sewaktu masih antri. Untung pula saya bisa menguasai diri dan bersikap tenang. Saya minta bantuan pada petugas imigrasi. Ternyata, masalah seperti ini sering mereka temukan. Saya bilang, kemungkinan besar terjatuh di bus. Saya dikawal ke bus, dan betul, paspor saya jatuh di bawah kursi –“

    • morishige · Juni 4

      Barusan saya cek di Maps, benar, Bang Ical. Masjid Hajjah Fatimah. Tak intip-intip informasinya di Wikipedia, ternyata dibangunnya tahun 1846, Bang. 😀

      Wah, seru juga ceritanya Bang Ical pas masuk Singapura. 😀 Tapi petugasnya keren juga, Bang, sampai menemani ke bus. 😀

      • Bang Ical · Juni 4

        Kerennya karena waspada, Bang Morish. Dikiranya aku bakal kabur>_<

        Tapi masjid itu sepi. Well, memang tidak seperti Indonesia yang ribut-ribut. Tapi taman di depan masjid itu indah, sayang sekali. Pagi hari, orang-orang bersiap kerja. Yang jalan sehat di taman itu hanya satu orang saja.

      • morishige · Juni 5

        Hahaha…. Memang taat aturan ya mereka, Bang? Lucu juga sih ini soal perbatasan. Tiap negara punya gayanya masing-masing. 🙂

        Tempat-tempat publik lain di Singapura kalau dipikir-pikir jauh dari kata bising juga ya, Bang? Kecuali 1-2 tempat yang bener-bener turistik. Stasiun MRT-nya juga. Meskipun ramai, tetep aja nggak bising. 🙂

      • Bang Ical · Juni 5

        Betul. Saya mulanya kaget waktu ngeliat ada plang di sebuah taman: jangan ribut. Mikirnya, kenapa ndak boleh, kan itu taman? Setelah diskusi sama temen, saya baru sadar kalau keributan itu akan berpengaruh pada populasi burung:-)

      • morishige · Juni 5

        Bisa jadi, Bang Ical. Mungkin penduduk negara itu sudah menemukan pola interaksi yang pas antara sesama manusia dan mulai memikirkan relasi dengan alam. 🙂

        Yang bikin saya heran itu eskalator-eskalatornya, entah di stasiun kereta atau di mal. Mereka pasti akan secara otomatis mengambil posisi di kiri agar orang-orang yang sedang terburu-buru bisa bergegas jalan di kanan.

      • Bang Ical · Juni 5

        Betul juga. Saya sering mendapati yang begitu, bahkan di Malaysia. Kenapa mereka bisa menggunakan teknologi dengan memaksimalkan etika, ya?

      • morishige · Juni 6

        Nah, itu juga yang bikin saya menerka-nerka, Bang Ical. Dalam konteks Singapura, mungkin itu ada hubungannya dengan wilayah mereka yang kecil. Wilayah kecil akan terasa maksimal pemanfaatannya jika teratur. Maka teknologi-teknologi sesimpel apa pun, termasuk lampu merah dan eskalator, mereka manfaatkan dengan benar-benar demi kepentingan publik.

      • Bang Ical · Juni 6

        …. Mereka kecil, dan diapit oleh dua negara menjadi sumber pemasukannya. Tingkah laku masyarakatnya tidak boleh memprovokasi negara-negara tetangganya. Masyarakat perlu membiasakan penggunaan teknologi dengan dibarengi etika.

      • morishige · Juni 6

        Iya, Bang. Bisa dibilang Swiss-nya Asia Tenggara, ya? 🙂

      • Bang Ical · Juni 6

        …… Karakteristik geopolitiknya, iya:-)

      • morishige · Juni 8

        Iya, Bang. 🙂 Ideal banget buat cari suaka. Hehehe.

      • Bang Ical · Juni 6

        Mungkin begitu:-D

  13. ellafitria · Juni 5

    Yakali mas kl berenang mo jd apa. Wqwqwq
    Untung nggak kudu bongkar semua yaa, cukup liatin kabel rolnya udh beres.. Syukurlah

    • morishige · Juni 5

      Hehehe. Kayaknya bakal masuk berita, Mbak. 😀
      Iya, untungnya nggak disuruh bongkar semua. Kayaknya memang mereka cuma ingin memastikan saja kalau yang saya bawa bukan kabel aneh-aneh. 🙂

  14. febridwicahya · Juni 7

    WAHAHAHA suda di jam-jam manusia beraktivitas, gerbong MRT sudah mulai penuh, tapi masih tetap bisa leluasa milih tempat duduk.

    bisa begitu yak ampon.

    saya otewe singapura ah, mau pacaran disana ahoy.

    • morishige · Juni 8

      Hajar, Feb. Enak banget tempatnya buat “nyetreet.” 😀

  15. Nadya Irsalina · Juni 7

    Hahahahah aku juga sesungguhnya suka berhayal kalau misal pergi ke negara lain dengan cara berenang kira kira bs gak ya.. tapi kemudian saya kubur dalam dalam, wong ya gabisa renang juga.

    Btw aku jg jadi penasaran anak yang passportnya expired 5 bulan itu apa orgtuanya tida berpikir panjang ya sebelum bepergian…. Ckck

    • morishige · Juni 8

      Hahaha… Sambil nyelam aja, Nad. Kan menyelam nggak perlu bisa berenang, cuma perlu kemampuan tenggelam. 😀

      Heran juga sih, Nad. Mungkin mereka juga sudah siap-siap seandainya nggak diizinkan masuk. 😀 Iseng-iseng berhadiah. 😀

      • Nadya Irsalina · Juni 8

        Hahahah kalau nyelam aku takut gabisa balik ke permukaan lagi maaas, tenggelam terooos ga maju maju.

        Bisa jadi sih, atau mgkn that wasn’t their first time? Dalam waktu 5 bulan bs aja mereka udh pernah pergi dgn passport mati dan aman aman aja haha

      • morishige · Juni 9

        Hehehe. Tenang, Nad. Nyelem tetep pakai pelampung kok. 😀

        Bisa jadi, Nad. Tapi saya pernah lihat kejadian yang lebih absurd. Beberapa tahun lalu waktu ngebus dari Vietnam ke Kamboja, ada kakek-kakek yang nyelundupin cucunya masuk ke Kamboja. Jadi cucunya lupa paspor. Terus, deket pertigaan cucunya diturunin lalu naik ojek lewat jalan tikus sampai kota perbatasan Kamboja. 😀

  16. Agung Pushandaka · Juni 7

    Ah, membaca kisah ini, saya jadi rindu suasana Singapura. Suasana yang tegas, disiplin, kaku dalam penegakan aturan, tapi tetap humanis, ramah kepada orang lain dan luwes dalam komunikasi. Juga kota yang bersih, rapih dan serba teratur.

    • morishige · Juni 8

      Iya, Mas Agung. Warnanya beda banget dari Indonesia. Tapi mungkin lama di sana bakal bikin rindu juga sama keriuhan dan keluwesan Indonesia, ya? 😀

  17. adieriyanto · Juni 7

    Iya, dari stasiun MRT Raffles Place itu deket sih ke Merlion, tapi kalau ke tempat Raffles pertama kali menjejak Singapore ya lumayan jauh sih. Ada kali sekitar sekiloan. Soalnya jalannya musti muter dulu. Hehehe.

    Saya belum pernah lewat perbatasan Malaysia-Singapura di Johor Baru. Baca catatan perjalanan orang-orang kok ya sepertinya kurang nyaman. Yowis lah naik pesawat aja hehehe 😅

    • morishige · Juni 8

      Hehehe… Cuma enak banget ya Mas jalan kaki di Singapura ini? Jalan jauh itu nggak terasa karena nggak mesti lewat halangan dan rintangan. 😀

      Di waktu-waktu tertentu kayaknya memang kurang nyaman karena terlalu ramai, Mas Adie. Kemarin juga deg-degan itu, takut antrean mengular karena menjelang tahun baru. 😀

  18. Ikhwan · Juni 8

    Imigrasi Singapura itu menarik. Bikin deg-degan karena aturan dan petugas yang sangat strict, antrian yang mengular karena yang mau berkunjung sangat banyak (terutama di akhir pekan), tapi di saat yang sama proses di imigrasinya juga sangat terstandarisasi,efektif, dan efisien. Terutama di poin efisien.

    Saya pernah mencoba masuk Singapura dari Malaysia dengan bus dan jalur yang sama. Cukup banyak tahapannya ya sebenernya sejak dari imigrasi Malaysia. Beberapa kali juga harus turun naik bus. Begitu sampai di imigrasi Singapura, turun dulu lalu masuk ke bangunan utama lalu turun lagi untuk naik lagi ke bus. Bolehlah kalau waktunya agak renggang, tapi sepertinya kurang cocok buat traveler yang mengejar pesawat dari Changi atau mengejar feey ke Batam misalnya. Bisa-bisa ketinggalan hehe.

    • morishige · Juni 8

      Benar, Mas Ikhwan. Sentuhan-sentuhan dalam tiap tahapannya itu pas sekali.

      Tapi jadi penasaran juga merasakan suasana imigrasi Singapura pas lagi ramai-ramainya. 🙂 Berapa lama prosesnya dulu, Mas Ikhwan?

      • Ikhwan · Juni 9

        Dulu saya sekitar 3 jam dari malaysia sampai masuk kota singapuranya. Akhirnya ketinggalan kapal dah. :)))

      • morishige · Juni 10

        Waduh 😀 Tapi akhirnya malah jadi kenangan yang nggak terlupakan ya, Mas? 😀

      • Ikhwan · Juni 10

        Iya sih, jadi mikir-mikir juga kalo mesti lewat sana lagi :))

  19. ainunisnaeni · Juni 13

    aku senang kalo melewati perjalanan lintas negara dari malam lalu tiba di negara selanjutnya pagi pagi, liat ‘muka’ negara lain dari gelap kemudian menyaksikan matahari naik, dari yang biasanya mungkin masih tidur di hotel.
    melihat pergerakan manusianya yang beraktivitas di pagi hari
    belum pernah lintas malaysia singapura via darat, kalo baca baca cerita di blog ada yang agak tersendat di imigrasinya, pertanyaan imigrasi yang macem macem, tapi kalau lintasnya malem begini kayaknya lancar lancar aja

    • morishige · Juni 16

      Syahdu sekali, ya, Mbak Ainun? Apalagi kalau perbedaan karakter kedua negara itu lumayan kontras. 😀

      Kalau dilihat-lihat, memang sepertinya benar bahwa ini cuma persoalan pemilihan waktu, Mbak Ainun. Mungkin catatan-catatan perjalanan lebih banyak bercerita soal perjalanan akhir pekan, dan akhirnya kita mengira kalau setiap waktu pergerakan di pos tersendat seperti itu.

      Monggo dicoba kapan-kapan, Mbak Ainun. 🙂

      • ainunisnaeni · Juni 17

        yes semoga nanti aku “berani” untuk mencoba lintas negara singapur dan malaysia via darat begini
        ngebayangin ditinggal bisnya aja udah keder duluan kayaknya hehehe

      • morishige · Juni 21

        Hehehe… Ditunggu ceritanya di blog, Mbak Ainun. 🙂

  20. Daeng Ipul · Juni 15

    Penasaran, apakah habis ini akan menyeberang ke Indonesia? 😁
    Soal Singapura, ini salah satu negara yang tidak terlalu menarik buat saya pribadi. Hanya negara yang sudah maju dan budaya yang merupakan persilangan dari banyak budaya lainnya.
    Belum lagi (katanya) kehidupan di sana terlalu kaku dan sangat teratur. Bukan tipe saya

    • morishige · Juni 16

      Hehehe… Ditunggu ya lanjutannya, Daeng.

      Singapura ini kayaknya memang beda banget sama negara-negara tetangga kita lainnya, Daeng. Dan Benar kata Daeng bahwa ruang publik di sana, setidaknya buat kita yang biasa hidup di tempat santai, terkesan terlalu kaku. 😀

  21. travelingpersecond · Juni 20

    Kalau di land border MAS-SING, ada yg kontras mas…..Bas Pekerja yang masuk dari Johor Bahru kebanyakan mirip Mayasari Bakti Non AC yg menjadi raja jalanan Ibukota kita…..Jadul, kusam dan cat sering terkelupas…..Sementara bus lain keliatan moncer dan mengkilat…..Lucunya.

    Lain kali masuk lewat Woodlands, mas…..Beuh disana super ketat……Random checking mejadi hal biasa di woodlands….bahkan isi dompet minta dihitung di depan petugas…..Hahahaha

    • morishige · Juni 22

      Sebelum ke Singapura, tak kira bus-bus rapid di Malaysia udah kinclong banget, Mas Donny. Balik dari sana, kayaknya bus-bus rapid jadi kelihatan kusam malam. Kebangetan memang kinclongnya bus kota di Singapura.

      Iya, Mas. Mudah-mudahan bisa suatu saat lewat sana. Penasaran juga gimana suasana woodlands. (Mungkin sekalian nyobain naik sleeper train di Malaysia. Tapi masih ada nggak ya?) Bajila… ada yang sampai minta dihitung isi dompet? Kebangetan itu sih hahaha…

      • travelingpersecond · Juni 23

        Habis dr singapore, negara negara sebelah tuh kayak ketinggal 10 tahun dibelakang emang….hahaha.
        Coba keBrunei deh mas…..sueppiiiii puollll…..kalah rame ama Bekasi hahahaha

      • morishige · Juni 24

        Kalau nggak teratur kayaknya mereka ambyar itu ya Mas? 😀 Mau nggak mau harus teratur. Hehehe. Beneran, Mas? Pas baca-baca cerita soal Brunei, keliatan kalau Bandar Seri Begawan itu itu sepi banget. 😀

  22. kutukamus · Juni 27

    Rada-rada mirip (alias nggak mirip-mirio amat), saya justru sempat ‘ditahan’ di imigresen Johor waktu OTW ke Singapura. Dua loket. Anehnya, yang satu puanjang, yang satunya lagi cuma sedikit orang. Karena bebas (tidak ada peruntukan khusus), ya saya pindah antrian. Sebentar saja langsung ‘dilayani’. Si Embak bolak-balik lihat paspor dan muka saya. What the hell..? Dan benar saja, ia manggil petugas lain yang lalu membawa saya ke sebuah ruangan yang sepertinya khusus disediakan bagi ‘pelintas bermasalah’ (relatif ada banyak orang lain di sana). Setelah sekian lama duduk nunggu, akhirnya dipanggi ke counter: “You can go”, kata si petugas tanpa melihat muka. Uasu!

    Kalau tak salah, kejadiannya beberapa saat sebelum Dr Azahari dan Noordin M. Top terindikasi berada di Indonesia. 🙂

    • morishige · Juni 29

      Hahahaha. Kocak banget ini, KK. Mungkin matanya sudah lelah lihat foto pelintas batas seharian (dan ini sepertinya menjelaskan juga soal kecenderungan ekspresi murung di balik bilik imigrasi itu). Cuma, ya, tugas mereka buat curiga. 😀

      Makanya saya agak heran juga waktu ketemu petugas imigrasi yang kasih senyum waktu masuk Singapura itu. Entah karena masih muda atau sif-nya baru mulai. Hehehe.

Tinggalkan Balasan ke kutukamus Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s