Bras Basah Complex

Dari Stasiun Nicoll Highway, kami jalan kaki menuju ABC Hostel. Merujuk aplikasi peta di ponsel Nyonya, penginapan itu tak jauh dari sana. Lokasinya di Jalan Kubor. Kami hanya perlu jalan kaki beberapa kilometer. Memang masih terlalu pagi untuk check-in. Tapi menemukan hostel itu sesegera mungkin rasanya lebih baik ketimbang terlalu lama luntang-lantung di jalan.

Kami menyeberangi perempatan beberapa kali. Setiap hendak menyeberang, kami mesti berdiri menunggu sampai lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Langkah saya ringan dan tak tergesa-gesa ketika menyeberang. Saya menikmatinya. Senang sekali rasanya mendapati penyeberangan-bersetrip itu benar-benar berfungsi.

Sebenarnya saya tak terlalu suka aturan, terlebih yang mengekang sampai-sampai tidak menggubris hak-hak dasar. Tapi, aturan berlalu-lintas—kecuali yang bersifat administratif—sebisa mungkin saya taati. Bagi saya menaati aturan lalu-lintas adalah bentuk partisipasi menjaga keselamatan bersama. Saya setop di lampu merah bukan karena takut ditilang.

Sekali waktu, ketika menyetir Kijang tua dari Jambi ke Sumatera Barat lewat Lintas Tengah Sumatera, saya pernah berhenti ketika lampu menyala merah di perempatan kecil Sungai Dareh. Dini hari saat itu. Senyap. Saya pun sebenarnya sudah agak mengantuk. Tidak ada angkutan lain kecuali Kijang yang saya kemudikan. Saya ditertawakan seisi mobil, didesak untuk menerobos saja lampu merah itu. Tapi saya bergeming, menunggu hijau menyala, tak peduli meskipun ditertawakan. Saya masih mau tertawa selepas lampu merah itu.

Laku saya yang demikian barangkali aneh di tanah air. Di Singapura wajar-wajar saja sepertinya.

>Tombol yang mesti dipencet pejalan kaki agar lampu segera hijau

Lalu kami berjalan melipiri trotoar Victoria St, di samping pemakaman luas. Kijing-kijingnya sudah banyak yang berlumut. Pohon-pohon rindang berdiri di sana-sini. (Belakangan saya tahu bahwa di kompleks itu ada beberapa pusara anggota keluarga bangsawan Melayu.) Pemakaman luas itu terbagi dua dan di tengahnya ada seruas aspal bernama Jalan Kubor.

Kubor. Kubur. Ternyata itu maksudnya.

Jalan Kubor itu bersilangan dengan Victoria St. Menurut peta, hostel kami ada di seberang sana, sayap tenggara Jalan Kubor. Kami mesti menyeberang lagi. Tapi tak mengapa. Menyeberang di Singapura menyenangkan. Lalu kami cari tempat menyeberang, kami lintasi jalan, lalu masuk ke Jalan Kubor sisi tenggara.

ABC Hostel rupanya tak jauh dari pertigaan. Seorang resepsionis, perempuan muda dengan tikka di dahi, menyambut kami dengan ramah dari balik mejanya di ujung dalam lobi kecil itu. Kami yang datang terlalu pagi dipersilakan olehnya menunggu di kursi tamu. Tas-tas kami taruh di sudut, lalu kami duduk di kursi empuk itu dan menyandarkan punggung ke dinding kaca tebal transparan.

>Masjid Sultan tampak dari Victoria St

Saya mengantuk. Kombinasi kantuk dan capai bikin saya tak tertarik membuka majalah dan bacaan-bacaan lain yang tersedia di sekitar kursi tunggu itu. Saat saya sedang sibuk mencari posisi enak untuk istirahat, Nyonya menghampiri sang resepsionis untuk bertanya soal early check-in. Ternyata bisa, tapi kami mesti membayar. Agak mahal sebenarnya. Di Vietnam, uang sejumlah itu akan bisa bikin saya bermalam selama empat sampai lima hari di dormitori hostel. Tapi kami sedang benar-benar perlu istirahat.

Akhirnya sekitar jam 11 siang tempat tidur tersedia. Saya tidur pulas sampai agak sore.

Bras Basah Complex

Sekitar jam 3 sore, kami keluar dari hostel. Sementara Nyonya misa di Cathedral of the Good Shepherd, saya berkeliaran di jalanan Singapura untuk menemukan Bras Basah Complex. Seorang kawan—yang membawakan saya gantungan kunci ukulele dari Penang—dulu pernah menghadiahi saya dua novel bekas kondisi prima yang dibelinya di salah satu toko buku di pusat pertokoan itu.

>Bekas St. Joseph’s Institution yang kini menjadi bagian dari kompleks Singapore Art Museum
>Seseorang sedang melintasi Bain St, jalan di depan Bras Basah Complex

Setelah mengitari beberapa blok, akhirnya saya tiba di Bras Basah Complex. Hujan, yang dari tadi hanya menggantung di awan, akhirnya turun.

Bras Basah Complex sekilas mirip Shopping Center. Bedanya, Bras Basah Complex lebih lega. Nuansanya juga tidak semenjana Shopping. Lorong-lorongnya lebih lebar dan toko-tokonya lebih luas. Semula saya kira di tempat itu hanya ada toko buku. Ternyata yang dijual di sana serbaneka.

>Toko jam di Bras Basah Complex (atas) dan tangga menuju lantai dua (bawah)

Tempat itu sepi. Sebagian besar toko tutup. Tapi, rasa penasaran membuat saya naik ke lantai dua. Di satu pojok, ternyata ada sebuah toko buku yang buka. Di rusuk atas bangunan itu tertempel kotak-neon panjang bertuliskan Book Point. Dengan berdebar-debar saya memasukinya.

Rak-rak tinggi memenuhi toko buku itu. Saya telusuri rak itu satu per satu sampai menemukan seksi fiksi. Koleksi fiksi Book Point lumayan menggoda. Buku-bukunya terkurasi secara cermat. Saya menemukan The Dharma Bums karangan Jack Kerouac di sana. Tapi, setelah melihat label harga, pelan-pelan saya kembalikan buku itu ke tempatnya. Harga buku bekas itu, 17 dolar Singapura, tak jauh beda dari harga buku baru.

Sekitar sepuluh menit di sana, tak tahan lagi menahan godaan, saya turun ke lantai pertama. Rupanya ada satu toko buku lagi yang buka, Evernew Book Store.

Toko itu sedikit lebih kecil ketimbang Book Point. Koleksinya juga menarik meskipun tidak sekomplet toko di lantai dua itu. Agak lama saya di sana meneliti sudut-sudutnya. Ketika keluar, saya membawa sejilid Survival in the Killing Fields (Haing Ngor dan Roger Warner), Shalimar the Clown (Salman Rushdie), Hard-Boiled Wonderland and the End of the World (Haruki Murakami), dan Lord Jim (Joseph Conrad). Di antara buku-buku itu, yang agak mahal cuma novel Murakami. Lainnya saya tebus hanya dengan 2,5 dolar Singapura.

>Book Point, Bras Basah Complex

Dari Bras Basah, saya menjemput Nyonya, lalu kami naik kereta bawah tanah ke Little India untuk makan malam di los lambung Tekka Centre.

Dalam perjalanan, Nyonya bercerita bahwa Tekka Centre agak unik. Tak seperti tempat-tempat makan lain di Singapura, Tekka agak kemproh. Ketika akhirnya tiba di sana, saya amati los lambung itu memang sebagaimana yang dideskripsikan Nyonya. Tapi saya juga tetap melihat keteraturan di sana. Untuk makan, orang-orang tetap antre. Setelah makan, tetap saja piring dan baki ditaruh pada tempat-tempat yang sudah ditentukan. Di sana saya kembali menyantap nasi biryani. Lauknya ayam dan telur.

Usai santap malam, kami kembali ke bawah tanah. Entah sudah berapa kali kami transit di Stasiun Dhoby Ghaut hari itu. Nyonya memimpin jalan ke Orchard yang ramai. Kami di sana sebentar saja, hanya mampir ke toko suvenir. Sebelum kembali ke penginapan, kami mampir sebentar ke Jalan Bugis. Saya menemukan harta karun di sana: dashiki. Sudah lama saya ingin pakaian itu. Tapi, masih ragu-ragu, saya urungkan niat untuk membeli. Lagipula, masih ada besok.

Sore di Evernew Book Store

Keesokan harinya, 31 Desember 2018, kami bersantai di hostel sampai jam 11 siang lalu check-out. Karena baru akan kembali ke Malaysia malam nanti, kami masih punya waktu seharian untuk jalan-jalan di Negeri Titik Merah Kecil. Sang resepsionis baik hati itu membiarkan kami menaruh tas di pojok lobi.

Lewat Victoria St, kami kembali ke Bugis untuk membeli dashiki, lalu naik kereta bawah tanah menuju—lagi-lagi—Tekka Centre di Little India. Selera makan saya memang membosankan. Jika sudah senang satu makanan, saya akan betah berkali-kali menyantapnya.

>Mengantre untuk memesan makanan di Tekka Centre
>Little India

Usai makan nasi biryani, kami jalan kaki menelusuri Little India, lalu naik MRT ke Orchard untuk bertandang ke Kinokuniya. Saya tak beli apa-apa di sana; harga sejilid novel di Kinokuniya sebanding dengan delapan buku di Bras Basah. Tapi, berada di Kinokuniya saja saya sudah gembira. Entah sejak kapan saya penasaran melihat koleksi bukunya. Lalu—seperti setrika—kami balik arah ke Bras Basah.

Langit gelap ketika kami keluar dari stasiun bawah tanah di kawasan Bugis. Menjelang sampai di Bras Basah, rintik-rintik mulai turun. Hujan deras tak berhasil menyergap kami yang sudah telanjur tiba di Bras Basah.

Suasana Bras Basah masih sama seperti kemarin: sepi. Evernew juga masih sama sepinya. Nyonya membiarkan saya berkeliaran di antara rak-rak yang mengandung entah berapa lembar kertas itu. Dia pernah bilang bahwa saya seperti tenggelam dalam dunia sendiri saat berada di toko buku. Entahlah. Tapi saya memang menikmati momen-momen seperti itu—berjalan pelan dari satu rak ke rak lain, berdiri lama hanya untuk mengamati judul-judul di punggung buku, tersenyum ketika mendapati buku pengarang favorit.

Di salah satu lorong, ada seorang pria tua. Umurnya barangkali sudah lebih dari 60 tahun. Ubannya sudah banyak. Tapi mukanya berseri. Melihat saya menenteng buku kumpulan esai humor Jeremy Clarkson, ia berkomentar sambil tersenyum, “He is funny.” Lalu kami mengobrol seru. Ia, tentu saja, bertanya asal saya dari mana. Begitu saya jawab dari Indonesia, dengan bersemangat ia bercerita bahwa sudah pernah ke Jakarta, Bandung, Surabaya, dan beberapa kota lain di Indonesia.

Sekali-dua kali sang penjaga toko mengomel dan meminta kami untuk tenang. Terlalu bersemangat membuat kami terlalu ribut. Tapi bapak itu santai saja. “Don’t worry,” katanya. “I’m a regular.

You love traveling, right?” ujarnya. Tanpa menunggu, ia beranjak ke lorong sebelah. Saya secara refleks mengikutinya. Ia lalu mengambil sebuah buku.

Have you heard about him?” ia bertanya sambil menyerahkan sebuah buku kepada saya: Not Quite Worlds’ End: A Traveller’s Tale. Pengarangnya John Simpson. Saya belum pernah mendengar nama itu. Kalau Bart Simpson saya pernah dengar. Saya pun menggeleng.

He’s a British journalist,” jelas bapak itu. “And he writes a lot about his travels.

Menarik.

Buku itu pun saya peluk bersama buku-buku lain yang sudah saya ambil sebelumnya. Kami lanjut mengobrol ini dan itu. Penjaga toko tampak makin jengkel. Bapak tua itu bersemangat sekali berbicara; saya juga bersemangat menimpali, menyanggah, mengungkapkan pendapat. Kami seperti kawan lama yang sedang mengobrol di kedai kopi—atau seperti kakek sedang menceritakan masa mudanya yang gemilang kepada cucu kesayangannya.

Tumpukan buku yang terasa makin berat seperti menjadi kode bahwa saya mesti mengakhiri pencarian harta karun di Evernew. Saya celingak-celinguk mencari Nyonya; dia yang pegang uang soalnya. Ah, di sana. Nyonya mendekat lalu bertegur sapa dengan bapak itu. Sebelum kami ke kasir, pria tua yang ramah itu membisikkan sesuatu ke telinga saya: “Listen to your partner.” Relasi dengan pasangan itu, ujarnya, seperti hubungan pilot dan kopilot. Mendengar itu, saya tersenyum sembari berusaha mengingat dan mencerna.

Ia kemudian mengeluarkan kartu nama. Latarnya putih dan sudah agak lusuh. “But I only have one,” ujarnya. Saya pun sungkan sebenarnya jika diminta untuk menerima, sebab saya sendiri tak membawa kartu nama untuk dipertukarkan. Tak perlu khawatir, saya berkata kepada bapak tua itu, saya bisa memotretnya saja. Namanya: Tan.

Kami meninggalkan Evernew Book Store berbarengan. Di pundak saya tergantung tas belanja besar berisi berjilid-jilid buku, sementara tangan Pak Tan menggenggam satu buku. Ia bisa ke Bras Basah setiap hari.

Hujan tinggal rintik-rintik. Tapi langit masih kelabu.

76 comments

  1. Monch Weller · Juni 8

    Ah, you reached Little India and Tekka Centre too!

  2. Cipu Suaib · Juni 8

    Pengalamannya sangat personal Mori. Rasanya sangat menyenangkan saat kita traveling ke negara orang dan bertemu dengan orang lokal yang nyambung. Semoga di cerita-cerita selanjutnya Mori juga banyak bertemu dengan Tan Tan yang lain.

    • morishige · Juni 9

      Iya, Bang Cipu. Selalu menyenangkan berinteraksi dengan orang yang tinggal di tempat-tempat yang kita lewati. Rasanya seperti belajar menempatkan diri dalam sudut pandang yang berbeda. Satu waktu kita jadi pendatang, di waktu lain jadi “tuan rumah.” 🙂

  3. Art of the Beat · Juni 8

    Thank you for that little journey! Love the photos especial of the guy crossing the street. Great catch of motion.
    You and my middle son seem to be a bit alike. He is a reader as well.
    I smiled when you mentioned you bought that book Killing Fields book. Just yesterday hubby and I were talking about favorite movies and actors and Haing S Ngor is one of my favorites and that movie is still in my top 10.
    Have a good day or evening 🙂

    • morishige · Juni 9

      You’re most welcome, M. Really glad you liked the post. And getting a compliment about my photo from a photographer really means something. 🙂

      Really? I bet he’s a little bit too chatty like I am. 😀

      Before finding the book at the bookstore, I’d never known it. At first I thought it was written by Dith Pran himself, and I was surprised that it was the momoar of the actor who played Dith Pran on the movie. Sadly he was killed in the 80’s. 😦

      The dusk is coming here. It’s 5.05 pm. Have a good day too. 😀

      • Art of the Beat · Juni 9

        I do like the way you write your posts. I feel like I am along for the ride and getting to read you think and see things. It is cool. My son is coming out soon and I am going to have him read some of your posts and hopefully he will maybe travel instead of playing video games in his room 🙂 Actually this son is shy but once you get him talking he won’t stop, kind of like me…ha ha!!

        All the photos were cool. That one stuck out. Everything else is in focus except for him. It’s a great camera trick if that is what you were going for…ha ha! Most people catch those on accident because of a setting on the camera. I even went back to read the other post about the uke. I am getting excited waiting for the one hubby ordered to get here. Hope you get to go back and visit that shop.

        I love book stores. I haven’t been in one in a while. I love thrift stores because sometimes you can find some great books there and for pennies! I knew he wrote the book but had never got a chance to read it. I was sad when he was killed. I could have listened to his voice and to him speak for hours.

        Have a great evening! I think I am going to try and watch a movie 🙂

      • morishige · Juni 9

        Thank you very much, M. It means a lot to me.

        Guess your kid is like me. I was a shy kid also when I was still living in my childhood house. But I was a different person when I was with my friends. Still, it’s cool that you two get along. (He’s got a cool mom, anyway.) 😀

        Thanks again. 🙂 I was standing on the veranda of Bras Basah when I spotted that angle. And thankfully there was a man crossing the street. The street was empty so I guess I was just lucky to get that frame. 🙂

        I hope the uke gets to you soon so the butterflies in the stomach could go away. 🙂 Perhaps one day I could go there and bring home a concert ukulele. 😀

        Me too. Most of my book collections are from thrift stores or second-hand book stores. But everytime I found a valuable item, I need to put a flat-face so the seller won’t realize that the book is a treasure. 😀

        No wonder he was so great on the movie. He got an Oscar, didn’t he?

        Have a great morning! Send my regards to the hummingbird. 🙂

      • Art of the Beat · Juni 9

        You are so welcome Ajo 🙂

        You sound like my son. He is a joker as well, kind of like me. He was picked on much when he was younger because of his reading habits.

        That is the best thing about having a camera or any device to record photos around and ready to use. If it piques your interest then it surely will interest someone else 🙂 Empty streets are always great to capture but having a few people in it always makes a better story for me. 🙂

        Yeah, it is on back order. I wanted a natural wood color so I guess I have to wait. Hubby did surprise me with a cute coffee mug yesterday…this makes up for the wait…ha ha…(so sweet of him)

        We are lucky here, we have so many thrift stores that many times books are less than $1.00 (US dollars) and sometimes you can get 4 books for $1.00! Those are the best days. We have used book sellers but I have not really gone into many of those stores. Maybe I should?

        Yes, he did get an Oscar and he was a doctor and had been in a Cambodian prison camp. He had a very interesting life and story. Tragic how it ended.

        I was just washing dishes and she and a couple others hummingbirds were already at the window. I need to fill their feeder..ha ha!!

      • morishige · Juni 10

        I picked up the reading habit quite early too. I guess it’s because I was read so many stories from newspapers or magazine when I was a kid. 😀

        Perhaps it is the way it works. The person behind the camera is the first editor (or curator) or the photos. 🙂

        Wow… it’s sure a lovely uke. That’s so sweet of him. 🙂

        No way! 1 USD? That’s a steal! Perhaps you should…. We never know if they have a copy of Haing Ngor’s book at one of the stores. 😀

        Before reading the epilogue, I didn’t know that Haing Ngor was shot. I thought perhaps one day I could meet him or something. But, yeah, he died long before I was born.

        Haha! She invited her friends?! Guess you are her favorite host. 🙂

        Good evening from the other side of the globe! Stay safe and stay well. 🙂

  4. mhilal · Juni 8

    Btw, Mas Mori pernah membukukan cerita-cerita petualangan sampean seperti John Simpson itu? Menurut sy cerita-cerita di blog ini sudah lebih dari layak lho 😉

    • morishige · Juni 9

      Belum, Mas Hilal. 😀 Terima kasih apresiasinya, Mas. 🙂 Tapi jelas masih jauh banget dari John Simpson, Mas. 🙂

  5. salsaworldtraveler · Juni 8

    I love the food courts on the street in Singapore. I sampled a couple on my last trip to Singapore. There seems to be great variety in types of food and it is very tasty. Learning the procedure for ordering and the proper combination of dishes was a bit intimidating. But still fun and very good.

    • morishige · Juni 9

      Me too–although I only got to visit two of the food courts. 🙂 I guess next time I go there I will sample other food courts. Thanks for sharing this thoughtful comment. 🙂

  6. Laleh Chini · Juni 8

    I haven’t been in India yet, it is in my bucket list, LOL.

    • morishige · Juni 9

      Me too… Perhaps the Little India in Singapore could serve as a prologue before actually going to India. 🙂 Have a wonderful day, Laleh. 🙂

      • Laleh Chini · Juni 9

        Great suggestion, thank you. You too.🌺

      • morishige · Juni 10

        You’re most welcome 🙂 🌺

  7. macalder02 · Juni 9

    Impatience in youth is a very pronounced characteristic and for this reason, too, he does not like to abide by the rules of coexistence. Good for you that in Sigapur makes you mature a little. The book thing is a great investment. Nothing like having a good read on long trips. One fills time with new wisdom. The photos are great and it gives me an idea what you enjoyed on your trip.
    A big hug Manuel

    • morishige · Juni 9

      Thanks for the beautiful words, Manuel. Really glad you enjoyed this virtual trip. The journey did give me many lessons, although it is hard sometimes to compose those into words that make sense.

      Stay safe there and big hug. 🙂

      • macalder02 · Juni 9

        Taking care of ourselves is the only thing we have left. Thank you

      • morishige · Juni 10

        Couldn’t agree more, Manuel. You’re most welcome. 🙂

      • macalder02 · Juni 11

        Thank you very much friend,

      • morishige · Juni 16

        You’re most welcome, Manuel 🙂

  8. Agung Pushandaka · Juni 9

    Tulisan ini benar-benar membawa pikiran saya kembali ke Singapura, karena saya dan pacar (istri saya sekarang) pernah berwisata ke SIngapura dan menginap di sekitar Victoria St. Makan di Tekka Centre. Kalau tidak salah ada warung makan/restoran Indonesia juga di sekitar sana, tapi saya lupa dimana tepatnya.
    Bro, cobalah cari penerbit yang mau cetak tulisan di blog ini untuk menjadi sebuah buku biar bisa seperti John Simpson itu.

    • morishige · Juni 9

      Wah, ternyata saya menelusuri jejak-jejak Mas Agung. 😀 Nanti tak intip-intip di pushandaka.com ah tulisannya. 🙂

      Restorannya di sekitar Bugis itukah, Mas? Mungkin banyak makanan Sulawesi juga ya di sana? Kemarin saya kurang cermat juga lihat-lihat tempat makan (sebagaimana biasanya). 😀

      Hehehe… Semoga suatu saat bisa, Mas Agung. Tapi cerita-cerita ini dibaca dan dapat umpan-balik dari kawan-kawan narablog saja saya sudah lebih dari gembira. 🙂

  9. Bang Ical · Juni 9

    “Dengan berdebar-debar saya memasukinya.” Sial, saya selalu merasakan ini waktu ketemu toko buku baru! >__<

    Saya sedikit banyak sama seperti Bang Morish. Kalau sudah suka sama satu makanan, saya betah makan itu-itu saja. Saya suka tempe, dan sampai sekarang, tempe menjadi makanan wajib buat saya. Rasa-rasanya jarang sekali dalam sehari tidak makan tempe. Di Singapura, tidak ada tempe. Sementara saya agak kesulitan dengan masakan-masakan berkuahnya. Saya pikir rasanya akan sama seperti masakan padang, yang kaya rasa, tapi ternyata tidak demikian.

    • morishige · Juni 9

      Pas ke toko buku bekas, saya deg-degannya kalau-kalau uang yang saya bawa nggak cukup, Bang Ical. Kompetisi dapetin buku bekas yang terjemahannya belum beredar itu lumayan sengit, sih. Nggak dibeli waktu pertama kali lihat, bisa-bisa pas balik lagi besoknya–atau malah sorenya–sudah raib dibeli orang yang beruntung. 😀

      Masakan berkuahnya kalau diingat-ingat memang rasanya agak lebih “bold” ketimbang masakan padang, Bang Ical. Masakan padang rasanya lebih warna-warni dan aroma karinya nggak sekental masakan India.

      Jadi, waktu di Singapura Bang Ical makan apa saja jadinya? 🙂

      • Bang Ical · Juni 9

        Ternyata begitu. Saya pikir berdebar senang saja, Bang Morish. Saya mengerti bila buku langka diperebutkan, tapi belum tahu kalau rebut-rebutan itu mempertimbangkan terjemahan yang belum beredar. Itu mungkin sama kayak rebutan beli first edition bagi pengoleksi buku-buku tua cetakan pertama:-)

        Waktu di Singapura, saya sempat mampir ke apartemen kecil seorang sastrawan Singapura, Nyonya Rohani Din. Kami dijamu di rumah beliau masakan pribadi. Di situ saya tahu kalau masakan rumahan di Singapura penuh warna tapi tidak terlalu berasa. Terus, sempat mampir makan di resto kecil India, Arab dan Melayu. Di semacam kampung India, karena tempat menginap kami di sekitar situ. Sama, rasanya tidak “sekeras” nasi padang:-)

      • morishige · Juni 9

        “Jalur distribusinya” random banget soalnya, Bang Ical. Nggak tahu kapan lagi bisa menemukan buku yang sama, dan entah di mana. Hehehe.

        Menarik banget nih cerita Bang Ical soal mencoba masakan rumahan Singapura. Pasti beda sekali pengalaman yang didapat ketimbang menyantap makanan yang memang sengaja dibikin untuk dijual. Sudah dituliskan di blog Bang Ical? Kalau sudah, kayaknya nanti saya mau intip. 🙂

      • Bang Ical · Juni 9

        Saya pernah rebutan buku cetakan pertama Dunia Sophie, edisi Bahasa Indonesia, tentu, tapi itu sudah cukup membuat saya ingin sekali membelinya. Saya rebutan dengan seseorang yang saya tidak kenal. Malu-maluin, tapi menyenangkan. Sayangnya waktu itu saya kalah. Hahaha. Mungkin rasa debarnya begitu:-)

        Belum ditulis, Bang Morish:”) Sempat dulu serial pengalaman ke Singapura dan Malaysia saya buat untuk sebuah situs web, yang kini sudah tutup usia:-)

      • morishige · Juni 9

        Wah, yang sampulnya wayang itu, Bang Ical? Itu harta karun! 😀 Wah, sayang sekali harus nangkring di rak orang lain. 😦

        Sayang sekali. Kalau begitu, selalu saya nantikan ceritanya di blog Bang Ical. 🙂 Siapa tahu Bang Ical ada kesempatan untuk menulis edisi revisinya. 😀

      • Bang Ical · Juni 9

        Tapi jodoh memang takkan ke mana. Suatu siang yang terik di Lombok, seorang kawan yang tidak suka baca buku datang ke rumah membawa koleksi buku kakaknya yang telah wafat. Katanya, lebih berharga buku-buku itu di tangan saya. Salah satunya buku Dunia Sophie cetakan pertama:”)

        Mudah-mudahan ada energi untuk itu. Saya ingin memuatnya di blog. Makasih Bang Morish!

      • morishige · Juni 10

        Benar-benar Bang Ical sudah ditakdirkan untuk merawat Dunia Sophie cetakan pertama itu. Tapi dari dulu saya yakin kalau bukulah yang mencari pembacanya, Bang. 🙂

        Sama-sama, Bang Ical. Makasih sudah berbagi cuplikannya. 🙂 Semoga sehat selalu di sana. 🙂

      • Bang Ical · Juni 10

        ….. Saya merinding ini, Bang Morish. Baru kemarin saya iseng bilang begitu pada teman yang menurutnya dia diikuti hantu setelah membeli Tantra. Saya iseng, sumpah. Sekarang Bang Morish bilang begitu.

        Menurut Bang Morish, mengapa begitu?

      • morishige · Juni 10

        Woh… Ajaib! Tapi saya melihatnya dari sudut pandang lain, Bang Ical. Menurut saya sebuah buku di toko buku nggak akan ke mana-mana. Soalnya yang akan tertarik pasti hanya mereka yang mengerti, entah mengerti genre, pengarang, atau penerbitnya. Saya pernah lihat the Pillars of Hercules beberapa tahun lalu di satu toko buku bekas langganan. Setahun kemudian buku itu masih ada. Saya penasaran, kenapa? Padahal pengarangnya keren, Paul Theroux. Lalu saya sadar kalau kayaknya nggak banyak yang tahu Paul Theroux di sini, jadi buku itu belum menemukan “pemiliknya.”

        Soal diikuti setelah membeli Tantra, menurut saya ada kerja sugesti di sana, Bang Ical. Saya suka dapat sensasi-sensasi aneh juga setelah baca buku. Kalau bukunya positif, saya bakal terpengaruh. Jika bukunya melankolis, saya bakal lihat langit jadi kelabu, padahal ya cerah-cerah saja.

      • Bang Ical · Juni 10

        Betul juga. Itu sama kayak nemu buku berharga di sebuah lapak buku bekas dan penjualnya membandrol dengan harga terlalu murah. Yang jual ndak paham, yang beli ndak tahu:”)

        Itu … harfiah? Langit jadi kelabu?

      • morishige · Juni 10

        Iya, Bang. Percaya ndak ada yang jual the Satanic Verses-nya Salman Rushdie 70 ribuan? 😀

        Cuma persepsi sih, Bang Ical. Kayaknya setelah berhalaman-halaman mengonsumsi cerita itu pikiran saya jadi terpengaruh dan melihat langit jadi kelabu hahaha.

      • Bang Ical · Juni 10

        Wah … Apa yang penjualnya pikirkan … >__<

      • morishige · Juni 10

        Hehehe… Buku akan menemukan pemiliknya, Bang Ical. 😀

  10. Nadya Irsalina · Juni 9

    Aku ngebayangin pertemuan dan adegan percakapan sama bapak bapak di toko bukunya kok kyk dramatis gitu, kayak adegan di film film… 😁😁

    • morishige · Juni 9

      Iya, Nad. Nggak nyangka juga bakalan ada yang ngajak ngobrol di sana. Saya malah berusaha sediam mungkin supaya nggak ganggu ketenangan toko buku itu. Eh ternyata… 🙂

  11. Nasirullah Sitam · Juni 9

    Blusukan di sana ternyata begitu menyenangkan, mas. Apalagi kalau tempat yang kita kunjungi memang sesuai dengan minat kita.
    Untuk urusan patuh di jalan raya, ketika kita di negara tetangga rasanya jadi patuh, balik ke Indonesia, banyak yang lupa ahahhaha

    • morishige · Juni 9

      Hahaha… Itulah, Mas Sitam. Kadang sedih juga kalau sudah berusaha tertib tapi masih juga diklakson. 😀

  12. Dinilint · Juni 9

    Eh lho,, aku ke mana aja ya pas main ke Singapura. Ingetnya cuma toko-toko nyeni di Haji Lane. Kalau punya kesempatan ke Singapore lagi mampir ke Bras Basah ah.

    Btw, kamu dapat buku yang bercerita tentang Siem Reap dan Kamboja di situ yaaa. Duh, jadi pengen ngintip

    • morishige · Juni 9

      Disarankan buat menyiapkan satu tas khusus, Mbak Dini. Jaga-jaga kalau “khilaf.” 😀

      Iya, Mbak, ketemunya di sana. Rampung baca itu, pas tak Googling, eh ternyata bukunya sudah pernah diterjemahkan Gramedia, judulnya: Neraka Kamboja. Tapi tahun 90-an terbitnya.

  13. Ikhwan · Juni 10

    Masuk ke toko buku memang selalu menyenangkan ya, bawaannya kaya bocah yang diajak ke toko mainan hehe.

    Selain di komplek Bras Basah ini, ada satu toko buku second juga yang koleksinya juga lumayan banyak, namanya Sultana Book Store di daerah Peace Centre. Tapi memang sih untuk berburu buku-buku second dg kualitas dan harga yg oke, Bras Basah ini emg pilihan yang tepat karena ada beberapa toko buku di satu tempat. Semacam lantai dasarnya blok M plaza di Jakarta.

    • morishige · Juni 10

      Iya, Mas. Kayak anak TK ketemu perosotan. Hehehe.

      Wah, noted, Mas Ikhwan. Terima kasih untuk rekomendasinya. Nanti kapan-kapan kalau mampir lagi tak coba mampir ke Sultana Book Store. 🙂

  14. Alid Abdul · Juni 10

    Percayalah, orang-orang Singapura kalau di luar negara mereka juga suka nggak tertib. Sama halnya dengan orang kita yang mendadak tertib begitu masuk ke Singapura hehehe. Takut di denda.

    Padahal dari Bras Basah ke Little India jaraknya selemparan batu, ngapain juga naik MRT lagi hehehe. Aku belum pernah makan di Tekka Centre, tapi di dekat situ ada bangunan kecil berwarna-warni, konon katanya bersejarah. Tan Teng Niah namanya.

    • morishige · Juni 10

      Wahahaha… Bener juga kayaknya, Mas Alid. Kayaknya tergantung tempatnya juga. Kalau di tempat itu penegakannya jalan, orang otomatis ikut, nggak perlu pakai mikirin alasannya. 😀 Kayak larangan merokok di Thailand misalnya. 😀

      Di Singapura jadi manja, Mas Alid. Stasiunnya sih pakai banyak. Kan jadi tergoda selalu buat naik. Hahaha. Wah, iyakah? Nggak ngeh kemarin saya, Mas. Tapi kapan-kapan kayaknya perlu dicari itu Tan Teng Niah. Noted. 😀

  15. ellafitria · Juni 11

    Tos dulu mas. Kita samaan. Aku pun kl ke toko buku berasa kaya tenggelam sendirian, jalan pelan menyusuri rak2 buku. Trs kl nemu buku penulis fav berhenti sejenak. Membaca resensi di cover belakang, jika dirasa cocok trs diambil. Lanjut jalan lagi. Pelan2. Pernah zaman kuliah dulu di toko buku smpe lupa waktu, karena sendirian dan asyik bgt. Wkwk
    Wah sarapan nasi briyani lagi nih

    • morishige · Juni 16

      Pas kuliah dulu, yang ngeselin itu kalau ketemu buku yang kayaknya bagus tapi ternyata disegel, Mbak Ella. 😀 Padahal lagi bokek. Hahaha. 😀

      Iya, Mbak. Nasi biryani terus 😀

  16. Mutiara · Juni 12

    Bras basah, kaya nama apa gitu ya ehehe. Jadi inget beberapa tahun yg lalu ke singapura, dan emang se-teratur itu negaranya, mobil2nya sedikit. Dan kata pemandu wisata di sana, orang yang suka nyalain klakson, dianggap kurang ajar. Karena negara yang pertama kukunjungi adalah singapura, jadi aku kira negara maju lainnya juga kayak gitu. Taunya gak semuanya gitu 😂

    • morishige · Juni 16

      Nama kawasan itu memang bikin bertanya-tanya ya, Mbak. Hehehe. Bras Basah itu ternyata dari Beras Basah. Dulu di sana ada sungai kecil yang di pinggirannya orang-orang menjemur beras. 🙂

      Maju atau tidak, ternyata tiap negara memang punya karakternya masing-masing ya, Mbak? 🙂

      Btw, terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar. 🙂

  17. Agus warteg · Juni 12

    Bras Basah Complex itu tempat toko buku seperti di daerah Blok M ya bang, banyak yang jual buku baik buku baru atau buku bekas.

    Aku juga sebenarnya suka buku terutama novel fiksi, tapi sayangnya jarang ke toko buku karena kendala finansial.

    Belanja berapa buku bang di evernew book store, sepertinya banyak ya soalnya tasnya berat.

    Enak juga kalo punya pasangan membiarkan kita belanja barang yang menjadi hobi kita misalnya buku. Istri ngga keberatan ya beli buku segitu banyaknya? 😃

    • morishige · Juni 16

      Teman-teman ada yang bilang begitu juga, Mas Agus. Mirip yang di Blok M katanya–meskipun saya belum ke sana juga sih. 🙂

      Sekitar 10, Mas Agus. Satu buku rata-rata cuma 25ribu rupiah soalnya. Hehehe.

      Nggak keberatan, Mas Agus. 🙂

  18. ainunisnaeni · Juni 12

    hari yang menyenangkan ya, seneng kalo seharian ketika traveling kayak gini trus ketemu orang baru yang tampak sudah kenal lama dan punya kegemaran yang sama juga, jadi banyak tuker ceritanya hehe
    selama ini bras basah cuman aku lewati, tapi penasaran juga buat liat liat ke dalam.
    temen aja sampe niatin mo beli buku disana waktu ada rencana transit milih singapur

    • morishige · Juni 16

      Iya, Mbak Ainun. Menenangkan banget. Ketemunya di waktu-waktu dan tempat yang tak terduga.

      Monggo dicoba mampir, Mbak. Ditunggu ceritanya soal Bras Basah. 🙂

  19. bara anggara · Juni 12

    wah ngeborong banyak buku bung, dan ada juga buku yang murah ya, sedikit lebih mahal dari harga aqua botol ukuran sedang di sana haha.. sepertinya bung morishige ini suka banget baca, tercermin sih dari pemilihan kata-katanya, kaya, nggak monoton, ini mencerminkan bung adalah orang yg memang penggila baca.

    nama los lambung mengingatkan saya akan nasi kapau uni lis di pasa ateh bukittinggi.. tetiba jadi ingin nasi kapau. sepertinya bung suka sekali nasi biryani ya..

    salah satu hal yang bakal terkenang selama perjalanan adalah ketika kita berjumpa dengan orang-orang baru dan bertukar cerita dengan banyak hal.. saya lebih sering menjumpai hal seperti ini ketika sedang solo traveling..

    -traveler paruh waktu

    • morishige · Juni 16

      Iya, Bung. 😀 Yang paling mahal kemarin itu kayaknya novelnya Murakami–meskipun harganya tetap sekitar Rp100 rb lebih murah ketimbang yang baru. 🙂 Tapi banyak harta karun di sana, buku-buku penulis bagus yang namanya sudah mulai dilupakan orang.

      Saya lebih senang pakai los lambung, sih, Bung ketimbang foodcourt atau pujasera. 😀 Wah, juara itu, Bung! Jadi ngebayangin kuahnya 😀 Lebih dahsyat nasi kapau, sih, sebenernya, nggak setebal rempah-rempah biryani. 😀

      Iya, Bung. Lebih mudah buat terhubung kalau jalan-jalan sendirian. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kita nggak pernah benar-benar “solo,” ya, pas traveling? 😀

      • bara anggara · Juni 17

        boleh juga nih kalau ke sana hunting buku..

        kalau solo traveling, pas memulainya aja sendiri,, tapi nanti di perjalanan, justru akan lebih banyak interaksi dengan orang-orang baru,, sedangkan kalau kita berangkat dg pasangan atau teman-teman, interaksi kita mayoritas akan dg orang-orang dekat kita itu..

      • morishige · Juni 21

        Monggo dicoba, Bung. 😀

        Iya, Bung. Pas jalan-jalan berdua biasanya saya sempetin nongkrong di lobi hostel pas malam-malam atau pas sarapan. Hehehe.

  20. Zam · Juni 13

    Jalan Bugis. pusat oleh-oleh Singapura.. 🤭

    ngomong-omong soal toko buku, aku tak bisa membayangkan gimana dirimu akan bersikap kalo misal mampir ke toko buku Dussmann, di sini. macam Gramedia tapi suasananya berbeda. namun sepertinya dirimu juga akan bingung karena mayoritas bukunya dalam bahasa Jerman, atau terjemahan dalam bahasa Jerman. harga buku di sini murah, asal jangan di-kurs (pajak buku di Jerman rendah).. 🤭

    • morishige · Juni 16

      Saya nggak nyangka juga akhirnya bisa lihat gimana bentuk Jalan Bugis dan Orchard, Kang. 😀

      Mesti edyan itu, Kang. Kayaknya saya mesti mulai belajar German, deh. Suatu saat kalau mampir ke Berlin bisa bawa pulang karangan para filsuf dalam bahasa aslinya. 😀

      Mbok kapan-kapan diulas, Mas Zam, biar pada ngiler. 😀

  21. Adie Riyanto · Juni 14

    Hostel ABC ini kayaknya emang favorit banyak pejalan ya. Meski belum pernah nginap di situ, tapi sering ditanya gitu lokasi di mana hostel itu berada. Iya, kalau mz-nya favorit banget sama Little India, kalau saya paling suka ya di Bugis ini. Mau ke mana aja, makannya tetep di warung melayu langganan, tak jauh dari Masjid Sultan. Nginap pun biasanya milih di deket sini juga. Biar gampang ke masjidnya. Tapi ke stasiun MRT ya agak lumayan sih.

    Kalau ke Singapore saya malah gak pernah beli buku. Gak tau tempat yang murah sih. Ini baru tahu juga baca blog ini. Taunya cuma Kino aja. Dan bener sih, ada di Kino, meski gak beli tetap aja hati kayaknya senang aja gitu. Mungkin karena kita suka baca kali ya. Jadi ada perasaan bahagia gitu kalau bisa dekat-dekat dengan buku 🙂

    • morishige · Juni 16

      Waktu ke sana dulu, ketemu banyak rombongan dari Indonesia, sih, Mas Adie. Posisinya strategis memang, ya? Ke tempat beli oleh-oleh cuma perlu jalan aja. Tak lihat-lihat di peta, deket juga sebenernya ke Marina Bay. Jalan-jalan sore kayaknya seru. 😀

      Harga buku bekasnya lebih murah ketimbang di toko buku di kawasan Khao San, Mas Adie. Dan beli 1 buku di Kinokuniya bisa buat nebus 7-8 buku di Bras Basah. 😀 Iya, Mas. Dan bahagia banget kalau ketemu buku-buku yang nggak beredar di Indonesia. Nggak perlu sampai cari bajakannya di lib.gen. 😀

  22. CREAMENO · Juni 14

    Saya ketawa baca kalimat kalau sudah suka satu makanan, itu-itu saja yang dimakan 😂 kita sama bangetttt, mas. Hahaha. Saya juga begitu kalau sudah suka bisa re-peat minimal 30 hari ke depan 🙈 contoh seperti ayam geprek yang lately saya suka bangettt, paling cuma sayurnya yang saya bedakan, kadang tumis buncis, kadang tumis kangkung, atau kadang tumis brokoli 🤪 huhu terus jadi keroncongan perut saya sekarang menunggu another ayam geprek untuk makan siang 🤭

    Eniho, saya nggak tau ada tempat Bras Basah di Singapura 😬 saya pribadi jarang hunting buku abroad soalnya kecuali kalau memang sekalian lewat dan lihat. Belum sampai tahap bela-bela pergi ke sana seperti mas yang sangat cinta bebukuan 😍 terus gara-gara rekomendasi bapak itu, saya langsung cari review bukunya dongggg. Penasaran seperti apa buku yang direkomendasikan bapaknya 😂 dan sepertinya, mas pun bisa menjadi penulis buku sekeren penulis tersebut 😆 ayo mas, terbitkan buku! *semoga Gramedia baca komentar saya* hahahahaha.

    Oh dan saya juga nggak tau Tekka Centre, selama ini kalau ke Little India biasa cari makanan di resto atau cafe yang ada di pinggiran jalan saja 🙈 asli deh main saya kurang jauh rupanya hahahaha. Maybe next time kalau ada trip / biztrip ke Singapura, saya akan coba ke Tekka Centre 😁 penasaran seperti apa rasa nasi Biryani yang disuka mas Morishige di sana 😍

    • morishige · Juni 16

      Hahaha. Tipikal kayak kita nggak seru banget kalau diajakin kulineran ya, Mbak? Tapi jadi keuntungan juga kalau jalan-jalan. Nggak perlu repot-repot cari tempat makan. Tinggal balik aja ke tempat makan tadi pagi. 😀

      Saya pertama kali dengar tentang Bras Basah ini dari kawan, Mbak. Yang bikin penasaran ya harganya itu. 😀

      Wah, terima kasih, Mbak Eno. Tapi kayaknya masih jauh kalau jadi penulis. 🙂

      Monggo dicoba ke Tekka Centre, Mbak Eno. Ada beberapa kios yang sedia makanan selain India juga di sana. 🙂

  23. Roda dan Roti · Juni 14

    Kangen Jalan jalan lagi, terakhir ke singapore Januari lalu cuma mampir pipis doang

    • morishige · Juni 16

      Wah 😀 Semoga bisa segera jalan-jalan lagi, Kak. 🙂

      Terima kasih sudah mampir dan berkomentar. 🙂

  24. travelingpersecond · Juni 20

    Bisa kubayangkan kalian berdua “ubyang-ubyung” menelusuri Kota Singa itu….Lucu pasti….Hehehe.

    • morishige · Juni 22

      Wahahaha… Kadang jalannya barengan, kadang saya jalan kecepetan di depan, kadang di belakang. 😀 Tapi asli enak banget jalan kaki di sana, Mas Donny. 😀

      • travelingpersecond · Juni 23

        Ho oh…..emang enak jalan kaki disana…..surganya para pedestrian…..cuma panasnya yg ga nguatin….😁😁

      • morishige · Juni 24

        Mungkin karena panasnya yang puol itu banyak yang betah di bawah tanah, ya, Mas? Adem… AC-ne seger. 😀

  25. kutukamus · Juni 27

    Keren soal pilot-copilot itu mah. BTW, kalo di kampung sendiri mungkin kita memang perlu siap ‘impruv’ soal lalu-lintas ya. Pernah waktu pulang sekitar jam 2:30 pagi, di lampu merah ada dua-tiga motor dengan jumlah orang yang lebih banyak daripada motornya. Yang mengundang tanda tanya, posisi berhentinya tidak persis di zebra-cross (meski tidak ada kendaraan lain) tapi sekian meter sebelum lampu menggerombol dan agak nyilang (sehingga sudut mata mereka bisa melihat kendaraan lain yang mnedekat). Di bangjo itu ada empat lajur. Feel saya langsung nggak asyik. Bagusnya, posisi saya masih 50 meteran lebih dari situ, dan countdown setop masih 20 detikan lagi. Ya sudah, saya melambat ekstrim (agar tidak harus berhenti di bangjo), sambil mikir: “Kalo lu pada mau nekat, minimal satu motor gue lindes dan dua orang gue tabrak” (sayang mobi sih, tapi entah kenapa pagi itu alarm survival kok seperti berdenting kencang). Sampai lampu pas ijo, saya melaju biasa (tidak tancap gas) agar bisa lebih fokus lihat ke tiga spion. Syukur semua baik-baik saja. Maaf kalo ini off-topic banget, just in case aja gitu hehe. OK, baik-baik di jalan. 🍸

    • morishige · Juni 29

      Di jalanan kampung sendiri kayaknya mesti pakai prinsip “every man for himself,” KK. Mau diapain lagi bingung, padahal itu plang merah bahwa pengendara mesti ikut sinyal lampu sudah dipajang besar-besar di tiang bangjo. Lewat jalan lingkar juga pada cuek nerobos lampu merah, padahal itu truk besar lalu-lalang bawa muatan. Yang bikin sedih itu, kadang kita malah diklakson karena taat peraturan, KK. 😀 🍸

Tinggalkan Balasan ke Nadya Irsalina Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s