Tahun Baru di Johor Bahru

Kami meninggalkan Bras Basah Complex lewat jalan lain yang lebih sempit ketimbang Bain St. Ada liukan sedikit yang membuatnya tampak lebih artistik.

Sisa-sisa petrikor bersekutu dengan aroma khas dapur restoran cepat saji, menguar, menggoreskan sesuatu pada pita memori. Di atas sana langit masih kelabu. Hujan rintik-rintik itu saya kira akan segera hilang—tapi tidak. Air malah kembali mengucur deras dari langit, memaksa kami berteduh di halte bus.

Mujurnya, halte itu nyaman sekali. Bangku panjangnya benar-benar memanjang sampai ujung. Kanopinya lebar meskipun tetap saja tak berdaya menghadapi tempias hasil pekerjaan angin. Kami duduk menunggu hujan reda di sana.

Entah berapa kali bus-tingkat datang dan pergi. Warna karoseri bus-bus itu cerah. Kebersihan mereka terpelihara. Dan tak satu pun saya lihat bus yang dikemudikan secara ugal-ugalan. Pasti nyaman sekali di kabin bus-tingkat itu. Sayang sekali kartu yang kami bawa tidak bisa dipakai membayar ongkos moda transpor itu.

Saat kami sedang duduk menyerap suasana, seorang perempuan—barangkali usianya empat puluhan—tiba di halte. Dari ujung, ia menghampiri orang-orang yang sedang duduk, menunduk sopan dan tersenyum, kemudian menyerahkan sesuatu kepada mereka. Sebentar saja ia sudah tiba di depan kami, tersenyum, lalu, tanpa memberi kami kesempatan mencerna kejadian itu, memberikan dua bungkus kue kering yang masing-masing sudah ditempeli kertas kecil berisi ucapan selamat tahun baru 2019.

Ternyata tak semua orang menyambut tahun anyar dengan bakar-bakar uang.

Selang sebentar, seolah-olah ada yang memutar keran kosmos di atas sana, hujan deras mengecil menjadi rinai. Hujan seperti ini takkan bikin buku-buku saya basah. Kami pun beranjak dari halte, berjalan cepat menyusuri trotoar, melewati pelataran luas National Library, lalu masuk ke stasiun kereta bawah tanah.

Stasiun-stasiun bawah tanah Singapura bagi saya cukup menarik. Di beberapa stasiun, peronnya sangat dalam sampai-sampai kami mesti beberapa kali berganti eskalator. Masih ada eskalator lawas dengan roda-roda ramping yang berputar di ujung atas dan bawah pembatas. Kalau dilihat-lihat, lebih banyak manusia yang beredar di bawah tanah ketimbang di permukaan. Orang-orang selalu tampak terburu-buru, berjalan kencang di lorong-lorong yang kompleks, seolah-olah nasib dunia bergantung di tangan mereka masing-masing. Anehnya, keramaian itu tak membuat publik jadi tidak tertib. Ketika naik-turun ekslator, secara otomatis orang-orang akan mengambil tempat di kiri. Sisi kanan anak tangga dibiarkan lowong agar orang-orang yang (lebih) terburu-buru bisa segera naik ke kereta masing-masing.

Karena sudah dua hari di Singapura, saya sudah mulai menyesuaikan diri dengan ritme cepat namun teratur itu. Secara otomatis saya akan mengambil posisi di kiri. Secara otomatis pula saya akan mempersiapkan kartu dari jauh untuk dipindai portal stasiun; lamban memindai kartu, saya akan jadi si Komo: penyebab kemacetan. Tapi, tetap saja saya menyerahkan soal pemilihan rute kepada Nyonya.

Sore itu, dia memandu saya dengan gemilang ke Decathlon sebuah pusat perbelanjaan di Little India lalu kembali ke Stasiun MRT Raffles Place. Kami hendak melihat Merlion. Langit masih kelabu saat kami keluar dari mulut stasiun. Masih rinai tapi beberapa orang anak muda asyik saja meliuk-liuk dan meloncat di papan seluncur. Suara papan beradu dengan lantai sesekali dipantul-pantulkan hutan beton.

Kami seberangi jalan kecil itu, memasuki celah mungil bernama Bonham St—jelas nama ini tak merujuk pada John Bonham sang penabuh drum Led Zeppelin, lalu muncul di depan Sungai Singapura. Celah itu seperti portal yang membawa kami ke waktu lampau. Di seberang sana ada beberapa bangunan megah bergaya Eropa. Dan ke arah sanalah Nyonya membawa saya.

Tapi sebelum menapaki Jembatan Cavenagh yang bersejarah, kami berhenti sebentar. Nyonya penasaran mencoba es krim satu dolar yang dijajakan seorang bapak tua. Saya juga mau, sebab ada rasa durian. Enak juga. Rasanya kentara, padat, lama mencairnya. Kami lewati Jembatan Cavenagh dan gedung-gedung tua itu sambil memakan es krim satu dolar. Sebelum masuk terowongan—yang mengingatkan saya pada terowongan dalam film Cloverfield—es krim saya sudah habis.

>Jembatan Cavenagh di Sungai Singapura, 31 Desember 2018

Lepas terowongan, baru sadar saya bahwa di kanan adalah laut. Kami sudah hampir tiba di Merlion. Pemandangan sudah seperti yang sering saya lihat dalam foto-foto pelancong yang baru saja pulang jalan-jalan dari Singapura. Teluk itu penuh gedung bertingkat. Marina Bay Sands, tiga menara yang di puncaknya ada bentukan seperti kapal, juga sudah kelihatan di sana.

>Esplanade Dr, 31 Desember 2018/dok. Nyonya
>Marina Bay Sands, 31 Desember 2018/dok. Nyonya

Esplanade Drive ramai. Orang-orang berkumpul di sana-sini atau berjalan ke sana kemari. Petugas kemanan berjaga. Kami mesti berjalan pelan mengikuti arus manusia di depan. Langit di atas masih kelabu, hujan rintik-rintik masih turun, tapi di cakrawala ada semburat khas penanda bahwa petang ‘kan segera menjelang.

>Merlion yang terus-menerus menyemburkan air, 31 Desember 2018/dok. Nyonya

Kamera saya sudah hampir kehabisan baterai. Memorinya juga sudah penuh; tak bisa dipindahkan karena laptop saya rusak sejak di Saigon. Setiba di dekat Merlion, terdengar suara bip dari kamera saya dan seketika ia kehabisan daya.

Seven Eleven

Sudah lewat jam 7 ketika kami berdiri di lobi ABC Hostel. Sang resepsionis ber-tikka di dahi itu masih di sana. Sibuk sekali ia tampaknya. Lobi ABC malam itu memang lumayan ramai. Mestilah banyak tamu yang perlu dibantu.

Kami ke pojokan untuk mengambil ransel dan berkemas. Tak perlu waktu lama, semua beres. Sebelum mendorong pintu kaca itu, kami melemparkan ucapan selamat tahun baru kepada sang resepsionis. Ia mendongak dari balik meja lalu membalas ucapan kami dengan riang.

Kami mulai berjalan ke arah perwakilan StarMart di Golden Mile Complex, Beach Rd. Tengah malam nanti kami akan kembali ke Kuala Lumpur lalu naik penerbangan sore untuk pulang ke Jogja. Gerimis sudah berhenti. Leluasa sekali kami menelusuri trotoar dan menyeberangi perempatan.

Di emperan sebuah gedung di Jalan Sultan, sebelum pertigaan Minto Rd, kami berhenti karena ada sebuah benda yang—setidaknya bagi saya—menarik: mesin-jual otomatis jeruk peras. Berpuluh-puluh jeruk asli menumpuk dalam mesin itu.

Penasaran, kami masukkan uang ke celah yang tersedia, lalu berdebar-debar menunggu sampai minuman itu jadi. Saya sebenarnya agak ragu bahwa minuman itu akan tersaji, sebab yang diproses adalah jeruk bulat. Apakah sistem dalam mesin itu pas untuk memotong jeruk, memerasnya, lalu memasukkannya ke wadah? Tapi nyatanya minuman itu jadi juga. Gelas plastiknya seperti wadah jus biasa. Nyonya mencoblos segel plastik itu dengan sedotan. Setelah seruputan pertama, wajahnya langsung berseri. Enak, katanya. Saya coba juga. Memang enak. Jeruknya barangkali memang benar-benar terkurasi.

>Plang jalan di Singapura/dok. Nyonya

Sambil menghabiskan jeruk peras itu, kami berjalan ke arah Beach Rd, melewati plang-plang penunjuk jalan yang mengandung nama-nama yang rasa-rasanya pernah saya baca pada kalimat-kalimat dalam buku pelajaran atau makalah sejarah—Stamford, Crawford… Minto.

Tak terasa kami pun tiba di ujung Jalan Sultan. Kami lintasi perempatan Beach Rd itu lewat jembatan penyeberangan. Sebelum ke Golden Mile Complex, kami hendak makan malam terlebih dahulu di kantin Stasiun MRT Nicoll Highway. Makanan di sana lumayan menggiurkan. Tapi, sudah terlalu malam sepertinya, kantin itu tutup.

Kembali kami tumpangi eskalator menuju permukaan tanah. Lebih baik kami ke Golden Mile Complex saja. Pasti ada tempat makan di sana. Lagipula, jadwal keberangkatan bus masih lama, masih nanti tengah malam. Ini masih belum jam 9. Pun tak ada tempat makan di sana, kami bisa mencarinya di sekitar gedung itu.

Setelah melapor ke loket StarMart, kami masuk gedung untuk mencari makan malam. Ada kantin yang buka. Malam itu saya pilih nasi goreng. Enak. Sayangnya terlalu kecil porsinya.

>Menu di salah satu kantin Golden Mile Complex/dok. Nyonya

Setelah makan, kami keluar dan duduk-duduk menunggu di tangga depan. Saat menunggu itulah Nyonya baru sadar bahwa siklus bulanannya sudah dimulai. Kami perlu mencari pembalut. Saya ingat bahwa tadi kami melewati beberapa gerai Seven Eleven. Yang paling mudah dicapai ada di Jalan Sultan sana. Lalu, dengan beberapa koin dolar Singapura di saku, saya jalan cepat ke arah Seven Eleven terdekat.

Toserba dengan penerangan remang-remang itu lumayan lengkap. Sebentar saja saya sudah menemukan apa yang dicari dan bergegas ke kasir.

Sang kasir, pemuda berkacamata yang rasa-rasanya seumuran dengan saya, mengambil pembalut itu, memindainya ke mesin, lalu menyebutkan harga sesuai yang tertera di rak. Saya berikan kepadanya beberapa dolar dalam bentuk koin dan ia memberikan koin beberapa sen sebagai kembalian.

“You don’t need a plastic bag, do you?” ia bertanya dengan muka datar.

Saya merasa ada aliran darah tiba-tiba ke saya punya muka. Kenapa tadi saya tidak bawa tas saja? Hening. Bibir saya bergetar tapi tak kuasa berkata apa-apa. Suara jangkrik pasti akan menyempurnakan suasana.

“Kidding,” ujarnya sembari tersenyum iseng. “Gotcha!”

Saya terkekeh. Ia juga terkekeh. Kering juga ternyata humor orang sini! Diambilnya plastik kecil lalu diberikannya kepada saya. Saya masih tersenyum ketika memasukkan pembalut itu ke dalam kresek putih.

“Happy New Year!” ucap saya riang sebelum meninggalkan tempat itu. Ia membalasnya dengan ceria.

Senyum usil masih tersisa di wajahnya.

Tahun baru di Johor Bahru

Kami sedang mengobrol entah apa di tangga Golden Mile Complex ketika salah seorang karyawan perusahaan otobus itu, yang sedang memasukkan barang-barang penumpang ke bagasi samping, bertanya, “Ke TBS-kah?”

Saya menjawab iya dan ia membalasnya dengan berkata bahwa kami bisa naik armada yang hendak berangkat tersebut. Belum jam 10 malam saat itu. Kami pun bergegas memasukkan barang ke bagasi lalu naik ke bus tingkat itu—bus tingkat pertama yang kami naiki.

Jam 10, bus itu berangkat. Ia melaju di Beach Road. Entah lewat mana, ia kemudian sampai di jalan raya lebar dan mulus yang dari sana kami bisa melihat gedung-gedung pencakar langit sekitar Merlion Park beserta pendaran sinar aneka warnanya di laut hitam.

Sekitar satu jam kemudian, kami tiba di pos lintas batas Singapura. Proses keluar dari pulau yang pernah dikenal sebagai Temasek itu lancar-lancar saja. Sebentar saja bagi kami untuk melewati imigrasi Singapura. Setelah melewati Johor Causeway, kami diturunkan di pos imigrasi Malaysia. Begitu mendapat stempel masuk, kami pun melangkah santai ke tempat bus menunggu, lalu kembali masuk kabin dan naik ke tingkat dua.

Belum hitungan menit sejak kami duduk, seorang awak bus menghampiri dan mengecek tiket kami.

Bas ini tidak pergi ke TBS,” ujarnya. Ia meminta kami turun dan menunggu bus selanjutnya yang tujuan akhirnya ke TBS. Ia bilang, pelat nomornya TBY 33—pelat nomor bus yang tertera dalam tiket kami!

Mulanya saya hendak protes. Sebab, yang meminta kami naik bus-tingkat itu adalah awak perusahaan otobus itu sendiri. Kami sama sekali tak berharap akan dinaikkan ke bus yang pelat nomornya tidak sesuai dengan yang kami pesan. Tapi, sadar bahwa itu tak ada gunanya, saya tak bersuara. Awak bus itu meminta kami melapor ke petugas lain yang berjaga di parkiran pos lintas batas Malaysia itu.

Setelah melapor, kami mencari tempat duduk untuk menunggu. Tempat itu sepi-sepi saja, seolah-olah tahun baru masih dua ratus hari lagi. Hanya satu-dua manusia yang jalan melewati koridor yang ujungnya adalah halte bus itu.

Masih 11.30 malam. Kami menghabiskan waktu dengan mengobrol dan merekoleksi perjalanan-perjalanan yang sudah kami lakukan. (Tahun kemarin kami melewatkan tahun baru di gerbong kereta yang meluncur di rel antara Jogja dan Malang.) Lalu Nyonya melihat jam di ponsel. Sudah lewat jam 12 malam.

Sudah tahun baru.

Tak ada keramaian, tak ada kembang api. Tapi tak terbantahkan lagi bahwa itu adalah salah satu malam pergantian tahun yang akan selalu kami kenang.

Sebentar kemudian, pukul 00.11 Waktu Piawai Malaysia, bus berpelat nomor TBY 33 datang. Kami segera melapor ke awaknya. Saat mengecek lembaran tiket kami, ia berkata, “This is your bus, huh?

46 comments

  1. salsaworldtraveler · Juni 15

    I’m sorry your New Year wasn’t so happy. It made a nice blog post though.

    • morishige · Juni 21

      It wasn’t so festive. No fireworks in sight, nor the noisy sound of trumpets. But, come to think about it, I have lost interest in New Year’s Eve festivity for years. 😀

      Thanks for the beautiful words. 😀

  2. Zam · Juni 16

    tahun baru memang menarik dirayakan dengan cara unik..

    tahun 2008 saat masih kuliah, saya merayakan tahun baru dengan naik motor tengah malam dari Jogja ke Magelang dan menginap di Bukit Menoreh (Puncak Suroloyo)!

    lalu pada malam terakhir 2011 saya masih berada di Ho Chi Minh City dan tengah malam pada tanggal 1 Januari 2012, saya sedang berada di udara sebelum mendarat di Jakarta.. 😆

    di Berlin saya memutuskan kapok keluar di jalanan pada malam tahun baru. pengalaman di 2019 begitu ngeri, namun ternyata di awal tahun 2020 lalu saya malah terjebak di tengah konser yang disiarkan TV nasional Jerman.. 😆

    • morishige · Juni 21

      Hahaha…. Justru yang unik itu yang bakal selalu dikenang ya, Kang? 😀

      Tahun baru pas kuliah, yang paling saya ingat itu ada 2, Kang. Pertama kayaknya tahun baru 2009. Rame-rame ke Siung dari MU, naik pikap. Pas tengah malem, lagi asyik-asyik gitaran, ada dua temen pulang proyekan dari Pacitan. Lampu motornya mati dan mereka pakai headlamp dari Praci sampai ke Siung kalau nggak salah. 😀 Malam tahun baru 2011 saya nggowes dari sore sampai pagi, ikut 2 fun bike sama kawan-kawan. Tengah malam kejebak macet di KM 0, bener-bener nggak bisa ke mana-mana.

      Beberapa tahun lalu, kayaknya tahun baru 2017, malah lucu. Niatnya pengen ngajak Nyonya ke daerah Bukit Bintang, tapi naik lagi ke arah pematang tebing jalan ke Dlingo. Kirain sepi, soalnya dulu pernah field trip ke sana terus sepi banget masih, belum jadi tempat wisata. Eh, taunya malah rame. Akhirnya cari tempat lain deh. Hahahaha…

      Sekarang kayaknya juga saya udah kapok ke jalanan pas malam tahun baru hahaha.. 😀

  3. Ayu Frani · Juni 16

    Membaca tulisan ini, benar-benar membuat saya ingin melakukan perjalanan ke luar kota atau ke mana begitu. Saya jadi sangat rindu kesempatan untuk menikmati perjalanan bersama atau mungkin hanya seorang diri saya, berjajal dengan orang-orang untuk memperebutkan kursi makan di rumah makan atau hanya sekedar antri di toilet umum hahaha

    • morishige · Juni 21

      Yang paling bikin kangen dari bepergian itu justru hal-hal kecil seperti berebut kursi makan atau antre di toilet itu, ya?

      Semoga bisa segera pergi ke luar dan jalan-jalan, Maria. Kayaknya nanti akhirnya kalau sudah bisa jalan-jalan dengan bebas, saya bakalan terharu deh. 😀

      • Ayu Frani · Juni 21

        Ia, bener banget. Saat ini saya mulai menyadari bahwa hal-hal kecil seperti ini sangat berarti, karena saat ini sangat tidak bisa dan terbatas melakukan hal-hal seperti itu.

        Sabar…sabar, semoga pandemi ini cepat berlalu.

        Ia, saya juga akan sangat terharu, apalagi bisa merangkul dan menyelamati orang-orang terkasih kembali. Rasanya sangat tidak sabar.

      • morishige · Juni 24

        Mudah-mudahan, Maria. 🙂

  4. Nadya Irsalina · Juni 16

    Sigap banget ya mas beliin pembalut buat nyonya nya 💯 Hihihi

  5. Cipu Suaib · Juni 16

    Singapura itu memang transportasinya keren ya, bus nya on time dan rute nya mencakup banyak wilayah di sana. Tak heran memang orang orang lebih memilih naik transportasi publik di sana.

    Jadi kesannya tentang Singapura gimana mas Mori?

    • morishige · Juni 21

      Iya, Bang. Mungkin memang paling pas begitu, ya, Bang? Wilayah kecil begitu kalau cuma penuh mobil pasti bakalan nggak nyaman banget ditinggali.

      Karena cuma 2 hari semalam di sana, saya cuma bisa nangkap kesan permukaan, Bang Cipu. Teratur sekali. Di ruang-ruang publik, semua saling menghormati; mobil ngasih kesempatan pejalan kaki buat menyeberang, orang-orang otomatis menepi ke kiri waktu di eskalator. Utopianya Asia Tenggara. ;D

  6. Fanny Fristhika Nila · Juni 16

    Ya ampuuun udah kangeeeen banget aku traveling lg :(. Sampe ga nyangka bisa rindu Ama singapur :D. Sering bolak balik ke negara ini, tp jujurnya utk transit doang. Jrg stay lama di sana.

    Dan aku blm prnh traveling di saat tahun baru gitu mas. Jrg Nemu tiket yg hrg cocok hahahaha… Padahal pgn sih ngerasain tahun baru di negara orang :). Setelah wabah berlalu, aku coba ah cari tiket mendekati THN baru :).

    Mungkin hrs jauh2 hari kali ya biar harganya ga mahal2 banget. Blm lagi akomodasi yg biasanya full

    • morishige · Juni 21

      Semoga semua bisa segera bepergian dengan leluasa lagi ya, Mbak Fanny. 😀

      Sepertinya memang bakal mahal banget, Mbak, kalau pesannya dekat-dekat menjelang tahun baru. Untungnya saya berangkat sudah dari jauh hari, dan ke Malaysia dan Singapura-nya jalur darat, nggak langsung naik pesawat menjelang tahun baru. 🙂

      Makasih sudah mampir dan berkomentar, Mbak Fanny. Salam kenal. 😀

  7. Ikhwan · Juni 16

    Interkoneksi antara dua negara, singapura dan malaysia, ini memang bagus banget. Yang belum ada mungkin jalur kereta direct antar negara ya. Terakhir ada proyek kereta cepat tapi sepertinya dipending.
    Kemudahan koneksi ini bikin orang-orang dan pelancong dari Sg jadi dimudahkan banget kalau mau ke Malay (atau sebaliknya). Jalur banyak, bus nyaman, armada lancar, terjadwal rapi, ticketing juga oke.

    Ini berarti ceritanya masih ada sambungannya ya, Mas? Gantung soalnya ya haha. Ditunggu lanjutannya, penasaran pengen tahu kesannya gimana tentang Johor Baru yang sepi hehe.

    • morishige · Juni 21

      Jalur direct kayaknya dulu pernah ada, Mas Ikhwan. Tapi entah karena alasan apa, kedua negara sepakat untuk menutup jalur itu. (Tak intip-intip di Wikipedia, berhentinya sekitar 2011.)

      Yang kereta cepat proyek BRI Tiongkok itu lanjutkah, Mas Ikhwan? Kayaknya tahun kemarin saya pernah baca berita kalau Mahathir enggan melanjutkan proyek itu karena cuma bakal nambah-nambah hutang Malaysia.

      Iya, Mas. Jalur Malaysia-Singapura ini memang istimewa. Paling terinterkoneksi kayaknya di Asia Tenggara. Infrastrukturnya juga paling rapi.

      Masih ada, Mas Ikhwan. Mohon ditunggu, ya. Hehehe. 😀

      • Ikhwan · Juni 21

        Terakhir setahu saya juga dipending Mas, karena kebijakan Tun yang ga mau nambahin utang. Statusnya kayanya masih pending, tapi bisa jadi ditinjau ulang sama PM yang sekarang. Sebenernya bagus sih kalau ada yang direct ya, buat traveler yang mau hilir mudik antar negara jadi gampang.

        Siap mas shige, ditunggu lanjutan pengalamannya di JB hehe.

      • morishige · Juni 24

        Persoalan pelik banget, sih, hutang itu, Mas. Tapi masih tanda tanya juga ini, soalnya perpolitikan Malaysia kayaknya seru juga. Kalau rel itu benar-benar jadi, pasti perjalanan terasa beda sekali, ya, Mas? Kayaknya Singapura-Eropa bagian barat bakalan makin mudah ditelusuri naik kereta. 😀

      • Ikhwan · Juni 25

        Politik Malaysia kayanya mirip-mirip dengan kita ya,pemainnya masih seputaran itu-itu saja hehe.

        Ga kebayang kalau singapura sudah terkoneksi dengan semenanjung malaysia via rel kereta, lalu jalurnya lanjut ke asia lainnya dan terus ke eropa. Wah bisa-bisa perjalanan keliling dunia jadi menyenangkan sekali. 🙂

      • morishige · Juni 30

        Iya, Mas. Paling jeda sebentar itu lagi itu lagi. 😀

        Enak banget bakal, Mas. 😀 Naik kereta dari A ke B, mampir, lanjut ke C, terus naik kereta lagi ke D. 😀

  8. Alid Abdul · Juni 16

    Waduh klo aku mending taun baruan liat kembang api di Esplanade ehehe. Dua kali aku ke Singapura pas libur Imlek, dan tiap malam ada kembang api di sana. Jadi penasaran klo tahun baru masehi pasti lebih seru. Rasanya nggak ada deh tradisi bakar-bakar uang di tahun baru masehi muehehehe.

    Tiket Johor-Jogja mahal ya mas? Daripada bolak-balik ke KL yang mayan duitnya. Aku pernah sih PP Jogja-Johor pakai AirAsia soalnya dengan tiket promoan ehehe. Ato jangan-jangan rutenya udah tutup?

    • morishige · Juni 21

      Kita sengaja balik sebelum jam 12 malam supaya nggak kena macet, Mas Alid. Ternyata–untungnya–ya sepi-sepi aja. 😀 Tau gitu berangkatnya dini hari aja dari Singapura. Hehehe.

      Kemarin itu nggak sempet ngecek tiket Johor-Jogja, Mas Alid. Jadi keputusan buat mampir ke Singapura dibikin pas tiket pulang saya (dari KL) sudah dibeli. Dan perjalanan ke Singapura kemarin tentatif aja sebenernya, Mas. Bonus kalau memang punya waktu yang cukup buat mampir. Ternyata masih cukup waktunya. 😀

  9. Nasirullah Sitam · Juni 16

    Menikmati akhir tahun di sana sambil motret kembang api, mas. Hhahahahhaha.
    Beberapa spot di sana pasti menyenangkan, menarik buat difoto.

    • morishige · Juni 21

      Kayaknya lain kali mesti bawa tripod ringkes nih, Mas. Boleh juga idenya Mas Sitam. 😀

  10. Agung Pushandaka · Juni 17

    Membaca tulisan ini, saya jadi ikut mengucapkan selamat tahun baru juga di komentar ini, tapi untung saya segera sadar dan menghapusnya. Suasana tahun baru yang sunyi jadi semakin terasa karena saya membaca tulisan ini pukul 12.00 tengah malam.
    Mungkin perayaan tahun baru 2021 nanti akan sesunyi itu kalau Covid-19 masih belum tertangani dengan baik di Malaysia atau Singapura. Tidak berlaku di Indonesia. Pasti akan tetap ramai apapun situasinya. Sigh.

    • morishige · Juni 21

      Pas banget waktunya ya, Mas Agung. 😀

      Denger-denger Malaysia sudah mulai buka akses perjalanan antarnegara-bagian. Singapura sudah mulai buka akses untuk warga dari beberapa negara. Tapi kayaknya belum bisa ditebak juga nih, Mas, bakal bagaimana kondisi akhir tahun nanti. 😀

  11. CREAMENO · Juni 17

    Tahun baru yang berkesan ya mas, apalagi sama orang tersayang 😍

    Saya pribadi biasanya tahun baru justru di kasur dan tertidur pulas. Sampai lupa kapan terakhir kali merayakan tahun baru di luar rumah 😂 karena saya paling malas ke luar saat macet atau ramai orang, alhasil saya menikmati tahun baru keesokan harinya dari status sosial media teman-teman saya 🤪

    Even though saat pergantian tahun saya ada di sebuah negara, biasanya saya tetap stay di hotel dan nggak ke mana-mana 😂 apa pengaruh umur, yah? Jadi berasa exhausted duluan hanya dengan membayangkan hingar bingar perayaan hahahahaha 🙈

    Ngomong-ngomong, salut sama Mas Morishige yang mau bantu belikan pembalut untuk pasangan 😁 meski hampir saja harus bawa pembalut tersebut tanpa kantung hahahahaha tapi kalaupun kejadian nggak dikasih kantung, mungkin bisa dimasukkan ke dalam baju mas seperti si kesayangan saya yang pernah lupa bawa kantung belanja dan nggak diberikan kantung dari minimartnya 😂 alhasil dia masukkan tangannya ke dalam baju (dari bawah) 🤭

    Ps: foto Beach Rd-nya jadi mengingatkan saya lagi pada kenangan saya di sana ahahaha 😆

    • morishige · Juni 21

      Iya, Mbak. Tahun baru yang bakal terus dikenang. 🙂

      Saya juga udah lewat masa-masa tahun baruan hura-hura gitu. Kayaknya terakhir kali rame-rame itu tahun baru 2015 dulu, di Amed. Sahabat saya sampai masang keyboard di saung terus kita nyanyi-nyanyi sampai capek, dari sore. 😀

      Iya, Mbak. Mutual, sih. Seandainya saya yang entah sedang sakit atau gimana, mesti Nyonya yang akan sibuk ke sana kemari. 😀

      Hahaha… Yang di postingan Mbak Eno yang dulu itu, ya?

  12. bara anggara · Juni 17

    waduh kalau saya gak bisa bung kalau file2 di kamera ngga dipindahkan, soalnya ngga bakal cukup menampung dokumentasi perjalanan yg bakal penuh dg video. Nyesek juga ya laptop rusak pas di perjalanan..

    berarti bung Morishige tanggal 1 Januari 2019 pulang dan mengakhiri petualangan kala itu? 2 hari kemudian, tanggal 3 Januari 2019, saya baru memulai perjalanan keliling Sulawesi – Papua selama sekitar 50 hari ahaha.. Kalau ingat ini jadi miris. Tahun lalu saya mengalami perjalanan terhebat di hidup saya karena bisa full traveling hampir 2 bulan (sebagai pegawai yg cuti tahunannya cuma punya 12 hari, ini istimewa, bisa pergi lama karena memanfaatkan cuti besar maksimal 3 bulan yg bisa diajukan setiap 5 tahun, itu pun kalau disetujui atasan dan mestakung, atasan acc).. Lalu tahun ini, tiba-tiba corona menghancurkan rencana-rencana yang tersusun, sepertinya sampai akhir tahun nggak akan kemana-mana..

    -traveler paruh waktu

    • morishige · Juni 21

      Iya, Bung. Kalau saya ngevlog kayak Bung Bara, mungkin udah bingung banget itu. 😀 Cuma, kadang bawa laptop bisa ngurangin fleksibilitas pas jalan-jalan, Bung. Apalagi kalau kita melancongnya lintas bentang alam, dari pantai ke gunung, yang ada perubahan suhunya. Perlindungan buat barang-barang elektronik mesti ekstra. Andaikan ada kabel data yang bisa langsung mentransfer dokumen dari kamera ke hardisk eksternal, pasti pendokumentasian perjalanan jadi makin asyik ya, Bung? 😀

      Iya, Bung. Tanggal 1 Januari 2019 pulangnya. Bener-bener disuruh diam dulu kayaknya kita sekarang, Bung. Ada positifnya juga, sih, soalnya kita bisa merenungkan perjalanan-perjalanan itu dan mengabadikannya entah dalam tulisan atau jahitan video. Tapi, sekarang baru terasa ternyata traveling tak terlalu sering tapi lama itu sustain juga buat penulis perjalanan, Bung. Kita punya stok cerita yang banyak untuk diceritakan. Perjalanan dua bulan Bung aja kalau ditulis seminggu sekali mungkin akan cukup untuk stok tulisan setahun. 😀

      Lagipula, kalau nggak ada wabah ini, mungkin saya nggak akan nyasar dan berjumpa dengan Bung. 🙂

  13. ellafitria · Juni 19

    Wahahaha. Ikutan ketawa gara2 pranknya kasir toserba. Duh nyonya beruntung bgt ya, dibeliin pembalut. Kl temen tumbuhku mana mau beliin pembalut. Pernah lg jalan2 trus q lupa stock pembalut abis, mnta tlg beliin nggak mauuu. Kan kampret, untung aman2 aja. Wkwkwk
    Panas gini jg bayangin harga es krim satu dollar. Duh berasa lg nelen es krim rasa durian nih. Ahaha

    • morishige · Juni 21

      Iseng banget memang kasir itu, Mbak Ella. 😀

      Duh, saya juga jadi ngebayangin lagi nih es krim durian itu, Mbak. 😀

  14. travelingpersecond · Juni 20

    Wehhhh…Joss Iki…KUL-SIN-KUL……ra nduwe kesel.
    Kalau pakai jam tangan yg sering dipakai orang orang utk menghitung jumlah langkahnya seharian…pasti jebol mas, jammu….hahaha.

    • morishige · Juni 22

      Hahaha… Nek dipikir saiki yo koyoke edyan, Mas. 😀 Tapi jadi kepikiran: kapan lagi ya bisa jalan dengan leluasa kayak gitu? Sampai vaksin ketemu kayaknya mesti terus ditembak pakai termometer dan dirapid test atau swab, yo, Mas? 😦

      • travelingpersecond · Juni 23

        Ah …aku aja ga jelas petualangan akhir taon ini mas…tiket kubatalkan kabeh wes….nunda Russia dan Asia Tengah…..Padahal udah kebayang cantiknya Awewe disana…..hahahaha#nakal.😁😁

      • morishige · Juni 24

        Hahaha… Ketoke bijaksana sih Mas Donny nunda perjalanan. Setidaknya sampai kurvanya bener-bener sudah datar. Wagu juga dolan ning ora iso ngopo-ngopo. Mending nonton film dokumenter. 😀

  15. Daeng Ipul · Juni 20

    Bagaimana rasanya melewati hari di negara yang sangat rapi dan teratur? Hahaha.

    Kayanya, bahkan orang Indonesia yang paling selebor pun bisa tiba-tiba jadi rapi dan teratur bila ada di Singapura.

    • morishige · Juni 22

      Tetep rasanya dihantam, Daeng. Hahaha. Padahal aslinya cenderung tertib juga. Rada konservatif kalau soal aturan demi keselamatan bersama. (Kecuali yang administratif. Hahaha.)

      Ya, mau gimana lagi, Daeng. 😀 Kayaknya pada takut sama ancaman dendanya. Mencolok banget juga bakalan kalau pada nyelonong pas lampu jalan kaki masih merah. 😀 Viral nanti. 😀

  16. Ace Vision Nepal · Juni 21

    Hi
    Thank you so much for sharing your Great post, This is really lovely place, I was visit this palace love to explore in Johor Baru,
    https://acevisiontreks.com/

  17. Bang Ical · Juni 25

    Saya tertegun membaca cerita perempuan yang membagi-bagi kue itu. Pun kasir yang bercanda soal pembalut.

    Bagi sebagian orang, dunia telah terlalu bising dan sekaligus sepi. Mereka semacam kemerdekaan tersendiri.

    • morishige · Juni 30

      Benar-benar tak disangka, Bang Ical. Saya sudah siap dengan perlakuan dingin khas kultur urban. Nyatanya masih ada kehangatan di sana. 😀

      Mungkin tensi kota sudah sampai pada titik puncak, Bang. Semua mendamba interaksi, tapi masih dikuasai gengsi.

      • Bang Ical · Juni 30

        Bang Morish pernah lihat komunitas “one minute eye contact”? Mereka nongkrong di pusat kota, di keramaian, dan mengajak orang-orang berhenti untuk sejenak duduk diam saling berhadapan dan saling menatap mata masing-masing. Tanpa perlu bicara, hanya menatap. Mungkin mereka anak-anak muda yang seperti abang bilang: jengah dengan tensi kota yang sudah di titik puncak. Obatnya, bagi mereka, sederhana: eye contact. Kehangatan akan timbul dari situ.

        Setelah lewat satu menit, mereka akan berpelukan dan berpamitan.

        Saya pernah coba, sama teman-teman. Ternyata efeknya luar biasa 🙂

  18. kutukamus · Juni 27

    Wah, saya belum pernah nemu orang Singapur yang doyan ‘gojek nggambus’ (penjaga toko di jam dinas pulak) Haha

    • morishige · Juni 29

      Absurd banget, KK. Mungkin karena dia ngeliat saya berpotensi jadi pelawak, ya? Heheheh

  19. Stefannietjhu · Juli 19

    Follback ya om

Tinggalkan Balasan ke Ayu Frani Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s