1000 Tahun Lamanya

Saya dan kawan-kawan adalah sedikit di antara manusia yang turun ke dermaga Pelabuhan Nusa Penida sore itu tanpa baju putih, udeng, saput, dan kamen. Kami memang tak hendak beribadah, sekadar ingin pelesiran saja.

Lupa saya siapa yang melempar ide untuk kemping di Nusa Penida. Yang jelas akhirnya kami berangkat berempat. Rio dan Westi yang cari jalan. Mereka memang tinggal di Bali; saya dan Ucok hanya mampir. Mereka jelas lebih tahu Bali. Kami jadi pengikut yang baik saja. Soal tempat yang akan dituju, tempo hari mereka menyebut satu nama, tapi saya lupa.

Engkau yang kerap melancong barangkali akan berpikiran sama dengan saya; kadang nama sebuah tempat tidak ada artinya. Kita saja, manusia modern, cyborg yang terlalu bergantung pada teknologi, yang tergila-gila menamai sesuatu, supaya semua titik mudah ditemukan dengan aplikasi peta, supaya bisa menandai tempat di Instagram dan berkata, “Saya sudah pernah ke sana.”

Supaya semua bisa diduga.

Jadi, saya dan Ucok mengikuti Rio dan Westi dari belakang. Kami meluncur dengan dua motor matik yang agak-agaknya sedikit kewalahan meladeni jalanan Nusa Penida yang kecil, bergelombang, dan bolong-bolong di sana-sini. Dari jalanan pesisir yang dari sana kami leluasa melihat jejeran ladang rumput laut, kami sampai di jalanan menanjak diapit hutan yang tak terlalu rapat. Meliuk-liuk, terjal pula. Mr K, karavan yang jadi rumah berjalan kami selama di Bali—yang sebenarnya adalah mobil promosi ala operator telekomunikasi seluler, pasti takkan sanggup melewati jalanan tak masuk akal ini. Bisa-bisa ia malah mengantarkan kami ke neraka.

Mujur kami sudah mengisi penuh tangki bahan bakar. Tak ada lagi tempat mengisi bensin kecuali warung-warung yang jarang-jarang. Oh—dan tambal ban! Saya agak khawatir dengan ini sebenarnya, sebab pernah sekali waktu, sekitar lima tahun sebelum perjalanan ini, saya dan kawan-kawan pernah kebanan di Bali dua kali dalam jeda hanya beberapa jam. Ah, tapi ini bukan Bali. Ini Nusa Penida. Beda pulau. Mudah-mudahan kesialan tidak bisa menyeberangi lautan.

Makin lama jalanan kian sepi. Deru mesin dan embusan knalpot kami rasa-rasanya begitu lancang memecah kebersahajaan suara alam. Matahari makin condong dan cahayanya gampang saja ditapis kanopi hutan. Di Indonesia bagian timur pasti orang-orang sudah mulai menghidupkan pelita.

Di sebuah warung kami berhenti. Westi dan Rio yang lupa-lupa ingat jalan ke tempat itu merasa kami perlu bertanya pada seseorang. Sang pemilik warung memberi tahu bahwa kami sudah dekat. Dari sana, kami hanya perlu mengambil belokan ke kiri lalu mengikuti jalan itu sampai tiba di sebuah desa. Dari desa itu, kedua kawan kami itu sudah tahu jalan mana yang akan dipilih.

Maka ke arah sanalah kami berkendara, berlomba-lomba dengan senja. Jalanan masih saja kecil dan berlubang-lubang. Lalu kami tiba di pintu angin, memasuki sebuah desa hijau yang rumah-rumahnya menyebar di antara lahan pertanian. Sanggah dan pura keluarga menghiasi pekarangan-pekarangan.

Kami mengikuti jejak Rio dan Westi yang berbelok ke kiri, menyusuri sebuah gang tanpa aspal yang tampaknya menuju ke pinggir desa, lalu tiba di sebuah pelana kecil yang berakhir di bibir tebing. Di ujung sana adalah samudra.

Seribu tahun lamanya

Nama tempat itu Pantai Atuh. Ia mendekam di sebuah teluk kecil sebelah utara pelana. Memang pantai itulah tempat yang paling pas untuk kemping. Di atas sini kurang nyaman untuk membuka tenda. Malam-malam angin akan terlalu kencang. Di bawah tebing selatan sana, pasir hanya secuil dan ketika laut pasang kemungkinan besar kami akan digulung ombak dan dilamun ke samudra. Barangkali ke Australia—atau sekalian ke Antartika.

>Sisi utara pelana (atas) dan pulau karang Batupadasan (bawah), 2 Januari 2015

Saat kami tiba, ada serombongan pelancong di pelana itu. Tapi begitu kami memarkir sepeda motor mereka pergi.

Lalu kami turun lewat setapak beton yang masih tampak baru. Ada sebuah gazebo kecil di sisi selatan teluk. Setiba di sana, kawanan serangga yang merasa terganggu oleh keberadaan kami mulai mengerubungi. Jitu sekali strategi mereka. Tak dikaruniai telapak tangan oleh mekanisme evolusi, mereka memanfaatkan telapak tangan saya untuk menepuk permukaan tubuh saya sendiri.

Kami membuka tenda lalu mencari ranting-ranting kering untuk bahan bakar api unggun. Jika angin sore saja sudah kencang begini, hawa malam hari barangkali akan jadi lebih dingin.

Setelah perkemahan jadi, kami mulai bersantai. Hari sudah malam. Di luar dugaan, tempat itu hening. Angin entah hengkang ke mana. Serangga-serangga itu masih saja berbunyi. Pesta barangkali. Entahlah. Saya coba menyemarakkan suasana dengan memetik-metik ukulele merah hati kesayangan. Mulanya saya saja yang bersenandung. Tapi, saya lalu ingat kalau suara ucok lumayan merdu. Kami bisa duet. Lumayan, bisa menghibur dua orang penonton; konser mini.

Waktu itu kami sedang sering dengar Dialog Dini Hari, Navicula, Saras Dewi (hanya hits-nya, “Lembayung Bali”), Jack Johnson, RAN (“Jauh di Mata Dekat di Hati” sedang laris waktu itu), John Legend (“All of Me”), dan Tulus. Semuanya masuk daftar-putar wajib pada perangkat audio Mr K. Di antara semua itu, kami tergila-gila pada Tulus sampai-sampai hampir hafal setiap lagu di album Gajah. Yang tidak saya suka dari lagu-lagu Tulus hanya satu hal: susah dimainkan pakai ukulele. Mungkin tidak susah-susah amat jika saya punya kemampuan setara Jake Shimabukuro.

Saya tetap ingin memainkan lagu Tulus. Tiba-tiba saja terpikirkan “1000 Tahun Lamanya.” Memang itu bukan lagu Tulus, melainkan lagu Pongki Barata yang diinterpretasi ulang oleh Tulus. Tapi itu gampang dimainkan. Setidaknya kami bisa ngejam “1000 Tahun Lamanya” dengan aransemen jazzy ala Tulus.

Ucok mulai bernyanyi: “Bila… kau sanggup untuk melupakan dia….”

Sisa-sisa kejayaannya sebagai vokalis grup musik masih kelihatan. Tapi cengkoknya masih “terlalu” Pongki. Rasanya sia-sia saja saya memetik dan menepuk senar demi mendapatkan suasana Tulus. Bait pertama lewat, bait kedua lewat, lalu masuk bridge, kemudian refrain. Waktu Ucok mengucap silabel “ta” dalam frasa “seribu tahun lamanya,” saya tiba-tiba lupa kunci.

Berkali-kali kami berhenti di “seribu ta—“ dan mengulangnya kembali seperti kaset kusut. Otak saya mandek waktu itu sampai-sampai gagal menalar progresi kord. Mungkin baterai saya sudah hampir habis dan kesatuan fungsi biologis saya mulai bermasalah.

Westi dan Rio, seingat saya, terkekeh mendengar kami bolak-balik di “seribu ta—.”

Hari berikutnya

Tentu saja keesokan harinya kami bangun siang. Langit mengeluarkan rona khas musim hujan tapi air laut tampak lebih jernih. Karang di depan teluk (yang belakangan saya mengerti namanya Batupadasan) tampak tulus melindungi Pantai Atuh dari gelombang. Di timur sana lamat-lamat pesisir Pulau Lombok kelihatan. Lombok memang dekat.

>Pantai Atuh, 3 Januari 2015/dok. Ucok
>Karang bolong Batupadasan, 3 Januari 2015

Kami main-main air, berkejar-kejaran dengan ombak yang mengempas, duduk-duduk di batu karang sambil melihat-lihat Pantai Atuh dari berbagai sudut. Tiap-tiap kami sibuk menyalin pengalaman itu ke dalam memori.

Lalu kami bosan dan segera beranjak dari Pantai Atuh. Masih mengantuk sebenarnya. Tapi mengistirahatkan badan di tenda siang-siang panas begini sama saja seperti mandi sauna.

Di kota—mungkin bisa dibilang kota—kami menyewa sebuah kamar berkasur ukuran raja dan menyetel pendingin ruangan pada temperatur semasuk-akal mungkin. Lalu kami tidur sampai sore, bangun lagi, menghidupkan lampu tidur, tidur lagi, dan terbangun lagi karena lapar.

Kami ke los lambung terdekat. Makan apa saya lupa. Pokoknya saya menyantap sajian itu dengan lahap.

Habis makan, kami cari angin naik sepeda motor ke pelabuhan rakyat. Di sana kami cuma duduk-duduk saja melihat perahu yang diombang-ambingkan ombak kecil. Tali-tambatnya bergoyang-goyang seperti sedang melayani anak kecil main tali, sesekali terbenam, kemudian muncul, terbenam lagi. Berkecipak.

Sebagaimana biasa, malam menjadi larut lebih cepat di tempat-tempat sepi. Jam delapan malam saja Nusa Penida sudah seperti pulau tak berpenghuni. Lucunya, kantuk juga jadi lebih cepat datang. Kami pun kembali ke penginapan lewat jalanan kecil nan sepi dengan penerangan tak seberapa itu.

Ingatan terakhir saya tentang perjalanan ke Nusa Penida kali itu adalah kadal raksasa yang kaget melihat kami di pekarangan sebuah pura. Sebenarnya saya masih ingat satu fragmen lagi, yakni bermain-main dengan ombak di sebuah pantai yang namanya saya lupa. Tapi mungkin itu tak masuk hitungan, soalnya letaknya bukan di Nusa Penida, tapi dekat Padang Bai. Beda cerita.

57 comments

  1. Ikhwan · Juni 29

    Wah jadi membayangkan dengerin Lembayung Bali di Bali langsung, cocok banget pasti suasananya hehe. Kemana ya sekarang Mba penyanyi-nyambi-dosen-filsafat satu itu? Lirik-lirik lagunya dalam sekali dengan melodi yang juga indah.

    Saya belum pernah sama sekali ke Bali, tapi dari foto-foto yang banyak muncul di internet, Bali sepertinya punya daya magis yang bikin orang berkali-kali balik lagi ke sana. Dari foto-foto Nusa Penida di sini sepertinya makin menguatkan Pantai sebagai salah satu kekuatan utama Bali ya.

    Ngomong-ngomong gimana Nusa Penida secara umum menurut Mas Shige dibanding wilayah Bali yang lain? Less touristy kah? Atau malah lebih ramai karena spot pantainya hits banget?

    • morishige · Juli 10

      Akhirnya sampai nggak berani dengerin lagu itu lagi, Mas Ikhwan. Nggak kuat menahan kucuran kenangannya. Hehehe. Sekarang kayaknya beliau benar-benar mengasyiki dunia akademik, Mas. Tempo hari kayaknya saya lihat poster webinar atau simposium yang pembicaranya Saras Dewi, deh.

      Sepertinya demikian, Mas Ikhwan. Kalau bagi saya, daya magisnya itu adalah kawan-kawan di sana. Kangen juga ngobrol-ngobrol dengan mereka. 😀

      Saya mampir ke Nusa Penida kayaknya sebelum Pantai Kelingking (yang ternyata dekat sekali dengan Atuh) viral di media sosial, Mas. Karena cuma tiga hari di sana, belum bisa lihat apakah dulu sudah ramai atau belum. Tapi, dari dulu memang sudah ada kapal cepat menuju Nusa Penida dari Sanur. Ketimbang pantai, Nusa Penida dulu kayaknya lebih populer sebagai tujuan wisata selam, Mas Ikhwan.

      • Ikhwan · Juli 14

        Iya kayanya lebih fokus ke dunia akademik ya beliau. Semoga kapan-kapan bisa ngeluarin lagu lagi sih, hehe.

        Baru tau euy, kirain nusa penida baru naik daun belakangan ini aja. Makasi banyak infonya, mas shige.

  2. rivai hidayat · Juni 29

    Aku lebih suka dengerin lagu 1000 tahun lamanya versi jikustik. Lagu-lagu jikustik membawaku kembali ke masa sma. Mereka pernah manggung di acara pensi sekolahku. Jadi beberapa lagunya masih didengerin hingga sekarang.

    • morishige · Juli 10

      Nuansa lagunya memang jadi beda banget ya, Mas, waktu dinyanyikan sama Tulus? Dulu waktu remaja juga senang dengar lagu-lagunya Jikustik. Tapi gengsi cerita ke temen-temen karena semua pada dengerin Linkin Park dan band-band pop punk waktu itu. 😀

  3. Zam · Juni 29

    Nusa Penida. selatnya sungguh luar biasa. saya mengalami pengalaman hampir dijemput ajal di sana. arusnya kejam, suhu air lautnua keji. 21°C di permukaan dan mencapai 18°C di kedalaman. kami berencana melihat mola-mola. namun arus sialan itu sempat menyeret saya, dan seorang dive-buddy terpisah dari rombongan. untung saya sempat mengaitkan hook ke karang dan sempat terombang-ambing. untungnya guide lokal kami datang menjemput seyrlah tersadar anggotanya ada yang hilang. kami diberi petunjuk untuk ambil arah mana untuk memotong arus. kami berhasil lolos. namun tangki sudah hampir terkuras, dan akhirnya kami menyerah. dadah mola-mola. saat kami naik ke permukaan, ada banyak kapal lalu-lalang. seorang penyelam katanya hilang, terseret arus. beberapa hari kemudian, ku baca berita. jasadnya ditemukan di sekitar Lombok.

    • morishige · Juli 10

      Beuh… Nyaris banget itu, Mas Zam. Dingin banget, 18 derajat Celsius. Dive suitnya berapa mili, Mas? 😀

      Nyari mola-mola kayaknya paling aman di daerah Tulamben ya, Mas Zam? Berisiko banget itu kalau di Nusa Penida, apalagi mesti turun lumayan dalam kalau mau lihat mola-mola.

      • Zam · Juli 10

        waktu itu punyanya yg 5 mm 😅 Mola-Mola suka yang dingin dan dalam.. Tulamben setauku ngga ada Mola-Mola.. ah, kangen Tulamben ini kaan.. 😅

  4. Nadya Irsalina · Juni 30

    Ini perjalanan taun 2015 kah mas? Masih inget aja detail ceritanya. Aahh aku pengen bgt ke Nusa Penida. February taun, bbrp temen kantor dapet jatah liburan, dan salah satu destinasinya adalah Nusa Penida ini. Sayang sekali waktu itu saya belum dapet jatah liburan, eh taun pas dapet malah ada covid. Nasiiiibb 😅

    • morishige · Juli 10

      Iya, Nad. Cuma kepingan-kepingan aja yang bisa saya ingat. Kalau diminta merunutnya juga sudah bingung. 😀 Ini karena keinget 1000 Tahun Lamanya aja masih bisa cerita-cerita, Nad. 😀

      Nusa Penida nggak ke mana-mana kok, Nad. Mungkin ditakdirkan ke sana nanti sama Febri. 😀

  5. macalder02 · Juni 30

    Bali always sounds like an enchanted island. Thousands of history are woven, especially for its reefs and volcanic mountains. The photos show that it was worth making the effort to take that walk. the beaches seem to come out of a paradise and its gestation fills the entire landscape with green. a true experience not to be forgotten.
    A big hug
    Manuel

    • morishige · Juli 10

      Yes, it does, Manuel. Bali has the magic that attracts people. I guess the magicians are the people. 😀

      Big hug. Stay safe there. 🙂

  6. Bang Ical · Juni 30

    Setiap mendengarkan Tulus, imaji saya selalu melayang ke Bandung. Sebuah kota yang manis. Membaca pos ini, saya berusaha keras menyambungkan Jangan Cintai Aku Apa Adanya dengan imaji tebing batas samudera.

    😁

    Tos kita! Suka sama Tulus!

    • morishige · Juli 10

      Bandung sepertinya punya tempat yang khusus dalam kenangan Bang Ical? 🙂 Wah, saya langsung bersenandung waktu baca Jangan Cintai Aku Apa Adanya. 😀

      Tos! 😀

      • Bang Ical · Juli 10

        Sulit untuk tidak refleks bersenandung 😁😁😁

  7. Nasirullah Sitam · Juli 1

    Aku pernah terpikirkan pengen dolan menyusuri sepanjang jalan tepian pantai di Bali. Terakhir ke sana tahun 2013, jadi sudah layak untuk datang kembali.

    Ngomongin Pongki, aku malah kepikiran kemarin habis ketemu dan bincang santai bareng Jikustik, sekarang vokalisnya udah Brian sejak 2011 kalau gak salah

    • morishige · Juli 11

      Sepedaan kayaknya bakal seru banget, Mas Sitam. Mulai dari Gilimanuk, lewat jalur utara, ke timur, selatan, lalu balik lewat barat. 😀

      Iya, Mas. Beda banget nuansanya Jikustik jadinya setelah ganti vokalis. 😀

  8. Laleh Chini · Juli 2

    Beautiful.

  9. Zizy Damanik · Juli 2

    Wow Pantai Atuh.
    Pantai yang terlalu indah. Saya ingat ke sana tahun lalu.
    Ikut membayangkan asyiknya kemping sambil main gitar ala-ala konser mini. Gpplah gak dapat Tulus yaaa yg penting terhibur 🙂

    • morishige · Juli 12

      Untung dulu bingung cari kord-nya, Mbak Zizy. Kalau enggak, mungkin sekarang sudah lupa sama cerita pas di Atuh. 😀

  10. Agung Pushandaka · Juli 2

    Lagu 1000 Tahun Lamanya itu dulu saya pakai untuk merayu salah satu mantan saya di Jogja. Pssst,, jangan bilang-bilang istri saya ya, nanti dia ilfil kalau mendengar lagu itu.

    • morishige · Juli 12

      Hahaha… Pakai headset aja kalau dengerin 1000 Tahun Lamanya, Mas Agung. 😀 Bahaya nanti kalau disetel kencang-kencang. 😀

  11. Inggrity · Juli 2

    Dari tiap catatan perjalanan yang diposting yang bikin kagum tu, kok bisa inget sebegitu detil?
    Termasuk perjalanan ini, padahal udah 5 tahun yang lalu :0

    • morishige · Juli 12

      Sebenernya nggak detail juga, Inggrity. Kepingan-kepingan yang berkesan saja. 😀

  12. travelingpersecond · Juli 4

    Ra dicritakne iki, masak opo nang kempingan mas?😀😀

    • morishige · Juli 12

      Wes lali, Mas Donny. Sing kelingan gur gitar-gitaran kuwi tok. 😀

      • travelingpersecond · Juli 12

        Biasane aku yo ngono mas….kelingan hura hurane tok….hahaha….sing penting happy😁

  13. Cipu Suaib · Juli 5

    Itu Pantai Atuh jadi serasa milik sendiri. Kelamaan di rumah dan baca postingan ini membuat saya makin kangen sama vitamin sea. Rasanya tak sabar ingin segera bertualang di pesisir pantai, meski hanya sekedar snorkeling dan berendam di pinggir pantai.
    Meski saya sering ke Bali, tapi belum pernah ke Nusa Penida.

    • morishige · Juli 13

      Saya juga rindu ke pantai, Bang Cipu. Bisa dengar suara ombak menghempas aja sudah senang banget pasti. 😀

      Kapan-kapan kalau ke Bali, melipir aja sebentar ke Sanur, Bang. Bisa banget curi-curi waktu seharian di Penida kalau naik kapal cepat dari Sanur. 🙂

  14. bara anggara · Juli 5

    Menikmati pantai yang sepi dengan mendirikan tenda, menyalakan api unggun, mengalunkan melodi, dan bercengkrama bersawa kawan-kawan adalah perpaduan sempurna.. Saya beberapa kali melakukan itu, hanya saja minus api unggun, minus alunan suara gitar/ukulele, dan minus kawan-kawan, hanya berdua bersama pasangan di pulau-pulau kecil yang cantik di wilayah administratif Kota Padang..

    Nusa Penida saya belum pernah ke sana bung, tapi sudah dalam radar tempat yg ingin dikunjungi dalam waktu tak terlalu lama.. Tapi pasti suasana sekarang tak lagi seperawan di tahun 2015 karena beberapa tahun ini booming, terutama spot kelingking beach..

    • morishige · Juli 13

      Iya, Bung. Perpaduan yang apik. Akhirnya yang saya kenang adalah momen kebersamaan itu, bukan lanskapnya. 😀

      Foto-foto Kelingking Beach itu memang menggiurkan, Bung. Kayaknya dulu saya pernah lihat foto behind the scene di titik foto Kelingking Beach itu. Kalau lagi ramai, mesti antre panjang dulu sebelum bisa foto-foto di sana. 😀

  15. Art of the Beat · Juli 6

    Good morning! Hope you are doing well! Sorry been preoccupied with stuff here. Love this adventure and the story! Wish could have been in a tree listening to you and you friend playing music and singing. I really am amazed at all the adventures that you have taken and not being afraid to sleep out in the wild 🙂

    Hope you and Madam are safe. Thank you for sharing friend 🙂

    • morishige · Juli 14

      Good evening! It’s early a.m here. Me too. I’m revisiting an old hobby and I’ve drowned in it. But it feels good to finally read your posts. 🙂

      I bet you’d laugh at us doing silly things like forgetting the chords. Hahaha.

      We’ve been going out once in a while, still following the health protocols. I hope you and the hubby stay safe too. Thanks for stumbling in. 🙂

      • Art of the Beat · Juli 14

        I have some of your posts all printed out after I translate them…ugh…sorry. I like to read and google so I can look up more facts about what you write about. You see, you are my eyes out there in that part of the world and I am getting to discover new things. So again, thank you!! If I don’t see them right away on the computer I din’t get back to them. I thought would check on you, just like on my sons…sorry.

        Well, seems Hubby broke a string on that acoustic that I was practicing on and now I have to wait :/ Yeah, I do make silly faces…I laugh looking at my cat so yeah.. 🙂

        Be safe and well 🙂

  16. Sukman Ibrahim · Juli 7

    Melihat foto-foto eksotis di atas, saya merasa jadi begitu hening. Dalam, sangat dalam…Sejatinya saya sedang mencari tempat-tempat seperti ini Mas? Semoga, entah kapan, saya dapat mengunjungi tempat ini. Bakal banyak kisah dan cerita yang akan aku tulis..

    Salam…

    • morishige · Juli 14

      Mesti akan sampai waktunya Mas Sukman mampir ke Nusa Penida. Nanti pasti akan seru baca ceritanya. 🙂

  17. ellafitria · Juli 8

    Duh mas. Aku sudah niat tahun ini ke Nusa Penida sudah direncanakan disiapkan tahun lalu. Tapi apa daya pandemi ini bikin gagal total 😦
    Mengasyikan sekali bisa kemping di sana ya, duh ya ampun makin ngiler lah main2 pasir.. Nggak cm kedua temenmu yg ketawa sih, aku juga pengen ketawa bayangin suasana km ngulang2 seribu ta seribu ta.. Blank lagi🤣

    • morishige · Juli 14

      Kalau sempat, pas nanti ke sana bawa tenda saja, Mbak Ella. Mampir saja ke Pantai Atuh dan kemping semalam di sana. 🙂

      Mestinya kemarin itu nyanyi Balonku Ada Lima saja, Mbak Ella. Lebih mudah diiringi dengan ukulele 😀

  18. Agus warteg · Juli 8

    Oh ternyata 1000 tahun lamanya itu lagu Pongki Barata yang diinterpretasikan oleh tulus ya kang, kirain aku judulnya 1000 tahun lamanya itu apa.😂

    Jalan jalan ke Nusa penida tahun 2015 tapi masih ada fotonya ya, aku pernah jalan jalan ke ragunan tahun 2017 udah hilang. Mungkin harus di backup di google Drive kali ya biar aman.

    • morishige · Juli 14

      Iya, Mas. Judul lagu. 😀

      Kemarin buat ketemu foto-foto ini saya ngubek-ubek folder, Mas Agus. Untung ada. Mujurnya lagi, kawan masih simpan itu di Drive. 🙂

      • agus warteg · Juli 15

        Sebenarnya saya suka foto foto, makanya dulu pernah beli hape Sony Ericsson tipe cyber shot yang kameranya jernih, cuma kadang hapenya dijual maka fotonya juga ilang.😂

  19. kutukamus · Juli 14

    Suka sekali spirit ‘venturing the unknown’-nya. Ibarat film Star Trek, Morishige cs memenuhi syarat jadi ‘spacer’ sejati. 🙂 Eh tapi bener tiba-tiba lupa kunci ya? Jadi ingat lagu Kuburan (yang cuma ingat kunci). Lagian lagunya sadis juga sih sampe seribu, coba cuma setahun gitu Hahaha BTW keren itu tebingnya.

    • morishige · Juli 15

      Nanti kalau ada lowongan USS Enterprise, tolong dikabari ya, KK? Hehehe… 😀

      Iya, KK. Mungkin karena sudah terlalu letih sampai-sampai pikiran gagal menyediakan informasi yang diperlukan untuk main lagu 1000 Tahun Lamanya pakai ukulele. 😀

      Mungkin lagu itu soal John Oldman, manusia gua berumur 14.000 tahun dalam The Man from Earth, KK. 😀

      • kutukamus · Juli 16

        Wah belum tahu John yang itu. Besok saya coba cari info.

        [Nebeng di sini] Untuk reply panjang yang rada kompleks (ala toponimi), kadang suka saya edit dikit pas weekend. Untuk clarity, bukan merubah isi. Yah, untuk catatan saya juga gitu. 🍸

      • morishige · Agustus 15

        Gimana, KK? Udah ketemu John yang itu? 😀

      • kutukamus · Agustus 15

        Walah, lupa! Rada susul-menyusul ini-itu kemaren, rencana lima postingan selesai sebelum 17an, sekarang baru tiga hehe

        Trims sudah diingetin. Barusan cek wiki, sepertinya boleh juga. BTW, ternyata berkibar dari torrent ya. OK, sekarang saya cari link torrent-nya 🍸

      • morishige · Agustus 17

        Iya, KK. Dulu tak cari di rental VCD sama IDWS nggak nemu. Dapetnya di torrent. Lama juga sih nunggunya dulu karena nggak banyak yang punya file-nya. 😀

      • kutukamus · Agustus 17

        Sekarang torrent baik hati, untuk unduh satu film si John yang itu kemarin cuma butuh satu rokokan. Kalau nggak salah rekor saya tahun 2006, unduh satu album MP3 (Renaissance – “Scheherazade and Other Stories”, 1975) butuh sekitar empat setengah bulan(!) 🙂

      • kutukamus · Agustus 16

        ]Reply saya kemarin nggak masuk ternyata ya?] Semalem udah dapat dari torrent. Ini barusan nonton. Wuuiii!! Terima kasih banyak! ⭐️⭐️⭐️⭐️

      • kutukamus · Agustus 16

        Lah, komennya ilang lagi..??

  20. Ellen Shriner · Juli 17

    Your photos are beautiful. No wonder you love the place. Thanks for checking out WordSisters.

    • morishige · Agustus 15

      Thanks Ellen. Thanks for visiting this blog too. 🙂

  21. ysalma · Agustus 16

    Foto Pantai Atuh di atas memberkan gambaran utuh betapa indahnya pantai yang dipunyai Nusa Penida.

    Btw, kuncinya lupa mungkin krn teman duetnya Ucok, kalau Butet akan berbedan 1000 tahun itu, hehe

    • morishige · September 13

      Nah, iya, Mbak. Kalau namanya Butet pasti bakal beda. 😀

  22. cheriewhite · September 22

    Beautiful beach pictures!

Tinggalkan Balasan ke Zizy Damanik Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s