Pinggir Danau Kintamani

Ingatan saya soal pendakian menuju puncak Gunung Batur sudah samar. Jika dipaksa membongkar laci memori, barangkali saya hanya bisa merogoh beberapa kepingan.

Kami mulai jalan sekitar jam 2 atau 3 dini hari. Berlima. Kawan-kawan ketika itu adalah V, S, dan dua orang keponakan J yang masih remaja. Tak ada rombongan pendaki lain yang kami jumpai di bawah, mungkin karena kami masuk lewat lawang yang biasanya hanya dilalui warga lokal.

Kedua keponakan J itu—saya masih ingat kalau salah seorang di antara mereka memakai celana olahraga sekolah—bersemangat sekali berjalan di depan.

Agak heran saya sebenarnya dengan semangat mereka itu. Gunung Batur adalah halaman belakang bagi mereka. Setiap hari gunung gersang itu menemani aktivitas mereka seperti seorang squire yang setia mendampingi bangsawan-bangsawan Eropa zaman feodal. Sebagaimana halnya seorang squire, tentulah keberadaan Gunung Batur tak terlalu digubris. (Oh, sesekali mungkin diperhatikan, ketika ia batuk. Sisanya ia ada di latar. Menyaru dalam bokeh. Samar.) Nyatanya, tumbuh di Kintamani tak membuat mereka melihat Gunung Batur sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja; mereka tetap bersemangat menjelajahinya.

Di pinggir jalur menuju puncak Batur ada beberapa sanggah atau altar untuk menaruh persembahan. Hampir di setiap sanggah mereka berhenti untuk beribadah. Sementara mereka dengan khidmat menyapa Semesta, kami bertiga duduk menunggu di tepi trek. Satu-dua kali V membidik gambar mereka.

Pada permulaan perjalanan, dingin tak terasa begitu menusuk. Tapi, semakin ke atas, akibat vegetasi yang semakin jarang, dingin pun semakin kentara. Mujurnya, pelindung badan yang saya kenakan adalah semacam jaket anti-angin. Tak terlalu tebal tapi lapisan-lapisannya lumayan ampuh menapis aliran udara dingin.

Kami tiba di area puncak ketika matahari sudah naik dari balik perbukitan di timur. Pelan-pelan ia menyorot Danau Kintamani yang kelihatan seperti bulan sabit perak dengan permukaan bebas dari riak. Halimun berhamburan. Sudah banyak orang di puncak. Ada yang duduk-duduk di pinggir setapak, ada yang mencari kehangatan di bawah atap lapak, ada pula yang sibuk berkodak.

Usai menjejakkan kaki di titik tertinggi yang bisa dicapai, kami mencari tempat lowong, menggelar mantel, lalu tidur. Kami memang kurang tidur tadi malam. Surya yang ceria tak kami gubris. Lama-lama ia kesal. Cahayanya jadi garang dan memaksa kami membuka mata untuk melihatnya.

>Melepas penat di dekat puncak Gunung Batur, 21 Desember 2014/dok. S

Ketika hendak turun, saya diminta V untuk naik ke sebuah tebing kecil. Dia lalu membidik saya dari bawah. Hasilnya adalah gambar digital seorang pemuda berambut gondrong terurai, bercelana pendek, bersandal gunung, sedang berdiri di depan tebing tinggi Gunung Batur, menatap langit tak jelas maksudnya.

Cuma keping-keping itu yang bisa saya kenang dari cerita perjalanan ke puncak Gunung Batur. Tapi, jika berhenti di sini, catatan ini rasa-rasanya bakal terlalu singkat. Akan saya coba buka laci memori peristiwa lain.

Pura di pinggir Danau Kintamani

Saya ingat karavan kami kepayahan mengikuti J yang meliuk-liuk dengan mobil Mazda—atau Nissan—kecil warna birunya menuruni pematang Kintamani. Jalan sempit dan hari sudah malam. Yang bikin perjalanan turun itu lebih mendebarkan adalah truk-truk pasir yang masih saja lalu-lalang meskipun hari sudah gelap.

Maka kami jadi akrab dengan sensasi yang muncul ketika pedal rem mobil diinjak tiba-tiba. Bagi yang menyetir atau yang duduk di samping pengemudi, itu tentu tak masalah. Posisi duduk masih enak, leluasa untuk menjaga keseimbangan. Namun, yang sial kebagian tempat di belakang—kabin yang sudah dimodifikasi seperti dalaman truk makanan—mesti mengerahkan segala cara agar tidak terjengkang. Saya lupa siapa yang menyetir waktu itu. Kalau bukan S, berarti saya.

J memandu kami meluncur ke jalan yang lebih kecil, terus dan terus sampai tak ada lagi aspal yang bisa dilindas. Kami pun tiba di lahan parkir kecil depan pintu masuk sebuah kawasan pura. Rupanya, sebelum kami piknik mengelilingi api unggun di depan pondok meditasi keluarga J, dirinya hendak ke pura dulu untuk beribadah.

Dengan kamen terlilit di pinggang, kami mengintil J dan dua keponakan lanangnya memasuki kawasan pura. Pura itu ternyata “mengambang” di pinggir Danau Kintamani, seperti Pura Ulun Danu Beratan atau pura di Danau Tamblingan. Akses ke sana hanya sebuah jembatan bambu sempit sepanjang kira-kira dua puluh meter.

>Pura di pinggir Danau Kintamani, 21 Desember 2014/dok. S

Sebelum menapaki jembatan itu, saya baru sadar bahwa langit lumayan terang. Bintang-bintang kecil bersinar ceria. Cahayanya membias-memantul di permukaan Danau Kintamani. Bulan Desember begini langit terang adalah barang langka. Bibir kaldera Batur memanjang di cakrawala sana. Pemandangan itu bikin saya ingat hari-hari di bumi perkemahan pinggir Danau Segara Anak, Gunung Rinjani.

Jembatan bambu itu berderit dan bergoyang saat kami lewati. Saya tiba di ujung bersama perasaan lega.

J mempersiapkan diri untuk beribadah; kedua remaja itu mengikuti tantenya. Sampai sekarang, proyektor dalam kepala saya masih bisa memutar gambar ketika J, yang bersimpuh dan tertunduk, dengan anggun mengangkat telapak tangannya yang terkatup ke keningnya. Saat kami hendak pergi, ujung dupa masih merah menyala. Asap peraknya lepas ke udara, kemudian berpusar-pusar bak Bimasakti.

Suara misterius dari belakang

Saya takkan pernah lupa siapa yang menyetir mobil dari pura ke tempat kami akan menggelar api unggun: saya. Yang bikin diri ini selalu ingat adalah peristiwa yang akan saya ceritakan berikut.

Kalau ingatan saya tidak keliru, kami bertiga duduk di depan. Tak ada yang tinggal di luar untuk menjadi juru parkir. Dalam kondisi seperti itu sebenarnya kami perlu dipandu untuk memutar mobil, sebab sudah sangat gelap dan Mr K tak punya jendela belakang. Zona pandang dari bangku sopir mobil itu terbatas sekali.

Karavan itu pun saya hidupkan, saya atur persenelingnya ke mode mundur, lalu tipis-tipis saya injak pedal gas. Mr K pun mundur pelan-pelan, pelan-pelan, pelan-pe—bruk!!! Terdengar suara benturan dari belakang.

Saya menabrak sesuatu.

Keringat dingin langsung mengucur dari pelipis saya. Jangan-jangan saya menabrak gapura pura? Kalau iya, bisa panjang ini urusannya.

Kami bergegas keluar dari mobil. Tenyata bukan gapura yang saya tabrak, tapi pintu belakang mobil J. Penyok. Saya sungkan sekali. Kami—saya dan S—dan J baru satu-dua kali berjumpa, dipertemukan oleh V dan E tempo hari waktu kami pergi makan nasi sela pagi-pagi ke Pasar Kintamani. J anaknya asyik sekali memang, tapi tetap saja….

J menanggapi kejadian itu dengan santai. Ia bilang kalau saya tak usah memikirkannya; pintu itu memang sudah agak peot, banyak baret-baretnya, dan perlu diganti. Perbuatan saya tadi, bagi J, hanya mengakselerasi proses penggantian pintu belakang itu.

>Jalan kecil di pinggir Danau Kintamani, 21 Desember 2014/dok. S

Dengan canggung, kami bertiga kembali ke kabin karavan. Saya hidupkan mesin mobil, saya persilakan J dan dua keponakannya duluan, lalu saya ikuti mereka dari belakang.

Tempat piknik kami tak jauh dari sana ternyata. Saya parkirkan Mr K di tempat kosong di pinggir jalan. Tanpa membahas kejadian barusan, kami keluarkan semua perbekalan. Segera saja api unggun menyala. Malam jadi hangat oleh energi yang menguar dari lidah-lidah api oranye yang melambai-lambai ke atas seolah-olah menyapa para saudara tuanya: gemintang.

Lalu Rio datang, disusul Ucok. Kami berdelapan bernyanyi dan mengobrol ditemani petikan gitar dan kehangatan api unggun. Sekitar jam 2 atau jam 3 dini hari, cuma lima di antara kami yang hatinya tergerak untuk menyapa sang penjaga Kintamani.


Foto atas: S

69 comments

  1. macalder02 · Juli 10

    A journey with great difficulty. but according to the photos, it was worth doing. Nature gives us wonderful places to appreciate it. So it was worth making the effort to get there. It was a wonderful adventure to meet such beauty.
    A big hug for you
    Manuel

    • morishige · Juli 15

      Couldn’t agree more, Manuel. Thanks for the beautiful words.
      Big hug. 🙂

  2. ysalma · Juli 10

    Kintamani itu dulunya identik dengan Nyanyian Rindu Ebiet G. Ade #eh.

    • morishige · Juli 15

      Syahdu banget itu lagunya, Mbak. Liriknya dalam dan suara Ebiet G. Ade bisa meruntuhkan dunia persilatan. 😀

  3. Sandra J · Juli 10

    What a view and great photos. I enjoyed the story. 🙂

  4. salsaworldtraveler · Juli 10

    Congratulations on reaching the top. The views are spectacular. i’m glad there was no eruption.😊

    • morishige · Agustus 15

      Thanks, dear friend. Yeah, fortunately there was no eruption. 🙂

  5. Nasirullah Sitam · Juli 11

    Jadi kangen mendaki, meski dulu hanya sekali sih ahhahahaha.
    Menyalakan api, bersantai, main gitar, dan bernyanyi semalaman menjadi sesuatu hal yang menyenangkan.

    • morishige · Agustus 15

      Sama, Mas Sitam. Entah kapan ini bisa mendaki lagi. 🙂

  6. CREAMENO · Juli 11

    Kalau bicara soal Batur, ingatan saya cuma keingatan disuruh bayar IDR 500.000 untuk foreigner, mas 😂 waktu itu soalnya tamu saya mau naik gunung Batur sama teman Indonesianya. Si teman diminta 5.000 dan si foreigner diminta 500.000 alhasil mereka nggak jadi naik ke atas 🙈

    Saya pribadi belum pernah naik Batur dan Kintamani, kecuali lihat dari kejauhan 🤭 mas Morishige sudah pernah menyebrang ke tempat yang seperti pemakaman itu kah? Yang ada di kaki gunung. Saya lupa namanya apa. Tapi pernah lihat di berita. Penasaran ceritanya kalau mas pernah ke sana 😍

    • agus warteg · Juli 16

      Wah, jauh sekali mbak bedanya. 5 ribu sama 500 ribu, kenapa ngga 50 ribu ya kan ngga terlalu jauh.

      • CREAMENO · Agustus 3

        Mas Morishige ke mana, yah? Kangen baca tulisannya 🙈

      • morishige · Agustus 15

        Hehehe… Ini baru muncul lagi, Mbak. 🙂 Kayaknya PR saya banyak ini karena melewatkan banyak tulisan teman-teman. 🙂

      • morishige · Agustus 15

        Jauh banget ya, Mas. 🙂

    • morishige · Agustus 15

      Praktik membedakan tarif wisatawan asing dan domestik ini sepertinya memang ada di banyak tempat, ya, Mbak Eno? 🙂 Agak ngeselin emang, soalnya selisihnya jauh banget. Hehehe. Kalau diminta Rp500 rb begitu, kayaknya saya juga nggak bakal naik. 🙂

      Kapan-kapan dicoba saja, Mbak Eno. Cocok untuk jalan-jalan santai. 🙂 Trunyan kah? Belum pernah, Mbak 😀 Dengar banyak cerita soal Trunyan dari teman-teman tapi entah kenapa sampai sekarang belum terlalu tertarik untuk ke sana. 🙂

      • agus warteg · Agustus 18

        Iya, memang terlalu Jomblang harganya jadinya sepertinya kurang adil gitu. Disini ada tempat wisata taman matahari tapi ngga terlalu jauh. Jika wisatawan lokal tiketnya 30 ribu, kalo turis asing 100 ribu.

  7. Zam · Juli 11

    Bali ini memang selalu ada sudut-sudut yang menarik untuk didatangi ya.. aku kalo ke Bali ya biasanya cuma ke Tulamben untuk menengok USS Liberty yang terbaring di sana..

    • morishige · Agustus 15

      Bener banget, Kang. Apalagi kalau sampai blusuk ke tengah-tengah pulau. 🙂 Saya penasaran banget menyelam di Tulamben. Kayaknya kapan-kapan mesti coba di sana. 🙂

  8. bara anggara · Juli 11

    kalau menulis cerita yg kejadian sudah lama, memang banyak detil yang hilang ya bung,, saya pun begitu.. sekarang di draft tulisan juga masih banyak cerita2 lama yg belum saya tuangkan, dan keterbatasan memori membuat beberapa detil harus rela untuk tak dituliskan karena tak ada lagi sisa2 ingatan tentang hal itu..

    saya ke Bali baru dua kali, yang pertama waktu SMA.. Saya lupa ke mana saja waktu study tour SMA itu. Rasa-rasanya kintamani nggak termasuk. Kayanya saya memang belum pernah ke area Kintamani ini. Padahal namanya sangat familiar karena ada di lagu anjing kintamani haha.. btw pas ke sana nggak nemuin anjing kintamani bung??

    • morishige · Agustus 15

      Iya, Bung. Apalagi kalau perjalanannya nggak ditulis di buku catatan dan nggak ada dokumentasi fotonya. Untungnya, seringnya saya ingat kejadian-kejadian berkesan dalam perjalanan. Kejadian-kejadian itu yang jadi kata kunci buat mengingat rangkaian perjalanan itu.

      Hahaha… Lagu waktu kita masih SMP dulu ya, Bung? Ketemu, Bung Bara. Bulu anjing Kintamani lumayan bagus. Mungkin karena mereka tinggal di pegunungan bulunya jadi bagus begitu. 🙂

  9. Agung Pushandaka · Juli 13

    Mungkin gunung Batur akan menjadi gunung pertama dan terakhir yang pernah saya daki. Saat itu pertengahan tahun 2008, saya harus menemani beberapa mahasiswa asing yang berencana mendaki gunung itu. Pendakian cukup mudah, tapi karena tak berpengalaman, saya tak mengenakan outfit yang layak.
    Baju yang basah kuyup karena keringat, ditambah dengan angin dan suhu yang dingin membuat tubuh saya kedinginan di puncak.

    Mi instan dan kopi panas tak banyak membantu.

    Besoknya saya demam tinggi. Haha!

    • morishige · Agustus 15

      Wah, pasti beda sekali suasananya tahun 2008, Mas Agung. 🙂 Mi instan dan kopi panas itu juara kalau dinikmati di puncak hehehe 😀

      Betis dan paha gimana, Mas Agung? Pegalkah? 🙂

  10. grubik · Juli 13

    Jadi, si J memang istimewa : pemandu yang baik, tante yang disayang ponakan, taat beribadah, juga seorang yang sabar karena bereaksi dengan asyik ketika pintu mobilnya ditubruk.. 😀

    • morishige · Agustus 15

      Iya, Mas. 😀 Kami saja yang tak tahu diri jadi teman. Hehehehe…

  11. Ponjer · Juli 14

    Enak dan asyik memang memandang keindahan alam, cuma kalau curam ngeri saya.

    • morishige · Agustus 15

      Sama, Mas Ponjer. Ngeri-ngeri sedap juga sih kalau curam. 😀

  12. kutukamus · Juli 14

    Agak bingung waktunya: pas turun ketemu truk sudah gelap (seingat saya memang gelap banget jalannya), berarti bola bersinar yang di pura/jembatan itu Bulan ya? Bagus banget lighting alamnya. Dan angle foto terakhir asyik sekali, seolah dari udara. Mantap!

    • morishige · Agustus 15

      Itu fotonya diambil hari berikutnya, KK. 😀 Tapi lebih syahdu malam-malam pemandangannya. Sebenarnya pengen kasih foto malam-malam, tapi sudah hilang kontak dengan kawan yang punya stok fotonya. 😀 Foto yang terakhir memang pakai drone, KK. Kawan saya dulu bawa drone ke sana. Sebenarnya agak enggan pakai foto itu, karena terlalu “wow.” 😀

  13. Ikhwan · Juli 14

    Umumnya warga lokal yang sudah setiap hari melihat gunung Batur harusnya ga terlalu gimana gitu ya kalau diajak mengeksplorasi lokasi yang sudah sangat familiar buat mereka. Menarik bahwa keponakan J malah tetap bersemangat. Sepertinya bisa disimpulkan kalau kecantikan gunung ini dan pemandangan yang bisa dinikmati dari sana ga membosankan sama sekali hehhe.

    Ngomong-ngomong foto terakhir terlihat seperti diambil dari drone ya. Seolah-olah bird-eye view gitu. Bagus!

    • morishige · Agustus 15

      Iya, Mas Ikhwan. Saya pasti males kalau jadi ponakannya J. LIhat Batur tiap hari. Tapi mereka malah menikmatinya. 😀 (Atau mungkin karena nggak enak sama tantenya? :D)

      Iya, Mas. Itu pakai drone. Kawan dulu bawa drone pas ke sana. Jago banget dia memang nerbangin drone. 😀

      • Ikhwan · 29 Days Ago

        Bisa jadi karena ngerasa ga enak juga ya hahaha.. Tapi kayanya benar-benar menikmati sih hehe.

  14. Agus warteg · Juli 15

    Banyak juga petualangan bang Morishige, selain di luar negeri juga sampai ke Bali. Eh, gunung Rinjani juga ya waktu kemah.

    Waduh, sudah mundur kan mobil pelan-pelan, eh tahu tahu brak, nabrak mobilnya J. Untung dia ngga marah ya.😂

    J itu siapa bang? Apa James Bond? 😁

    • morishige · Agustus 15

      Beneran saya jadi sungkan banget abis nabrak itu, Mas Agus. 😀

      Lebih keren dari James Bond kalau kawan saya yang satu itu, Mas. 😀

  15. Zizy Damanik · Juli 16

    Biasanya, yang tinggal deket situs yang populer punya banyak temuan dan cerita dan tetap merasa excited untuk explore lagi, siapa tahu ada yang cerita baru lagi. Sebab belum tentu juga mereka akan explore jauh ke dalam, apalagi kalau anak2 ya, mesti ada orang dewasa yang menemani.
    Duh enak banget itu foto yang lagi kemping :)….. pasti nikmat betul ya…

    • morishige · Agustus 15

      Mungkin begitu, Mbak Zizy. Apalagi mereka tinggal di tempat seperti Bali yang reputasinya sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Kalau saya lihat, banyak teman dari tempat-tempat jauh dan menarik yang baru sadar kalau kampung halamannya menarik setelah mereka merantau. Mungkin karena tempat mereka baru “dianggap” menarik belakangan ini, ya?

      Hehehe… Enaknya banget tidur sebentar setelah capek mendaki, Mbak. 🙂

  16. Laleh Chini · Juli 16

    You always walk us to the great world. Thank you

    • morishige · Agustus 15

      Thank you very much for the beautiful words, Laleh. And I admire how you can extract meaning from stories. 🙂

  17. ellafitria · Juli 19

    Waaawww puranya indah banget mengapung gitu mas.. Bayangin ibadah di pinggir danau kayaknya bisa khusuk bgt ya..
    Btw ku kira suara misteriusnya hantu atau mbka kunti lho eh ternyata nambrak sesuatu ya.wkwk

    • morishige · Agustus 15

      Iya, Mbak Ella. Kayak mengapung gitu puranya. Sayangnya saya nggak punya foto malam hari di sana. 🙂

      Hahaha…. Iya. Ternyata yang ditabrak benda nyata. 🙂

  18. Cipu Suaib · Juli 19

    Mori, what a view …. Saya tak terlalu sering mendaki, karena kondisi kaki yang rawan keseleo saat bertemu permukaan tak rata. Makanya lebih hobi jadi road runner ketimbang trail runner.

    Eh ito ada temennya namanya Rio, itu mas Rio yang juga blogger kah?

    • morishige · Agustus 15

      Indeed, Bang Cipu.

      Tapi kayaknya dulu saya pernah baca Bang Cipu trail running. Kayaknya di sekitar Jawa Barat, Bang?

      Iya, Bang. Itu Rio. The one and only. 😀

  19. Sukman Ibrahim · Juli 20

    Membaca tulisanmu, Mas, aku terngiang lagunya Ebiet G Ade. Shaydu dan dalam banget. Apa benar ada gadis-gadis kecil menjajakan cincin? Hehe…Bisa berlembar-lembar tuh nulisnya, kalau aku ke situ…

    • morishige · Agustus 15

      Wah, terima kasih, Mas Sukman. Mungkin ada, Mas Sukman, di tempat-tempat yang ramai. Kebetulan saya mampirnya ke tempat-tempat sepi saja, jadi tak menjumpai penjaja cincin di sana. 😀 Iya, Mas. Kayaknya kalau duduk di sana dan menulis bisa habis kertas berlembar-lembar. 😀

  20. Alid Abdul · Juli 21

    Aku ke Bali nggak pernah kepikiran untuk eksplore wilayah lain. Dengan cuti terbatas, ke sana selalu ya ajib-ajib sekitaran Kuta dan Seminyak. Pengen deh libur seminggu dan sewa motor terus keliling memutari Pulau Bali ehehe.

    • morishige · Agustus 15

      Seminggu menjelajah Bali bakalan seru banget itu, Mas Alid. Daerah pegunungannya syahdu banget. Apalagi kalau dekat-dekat hari raya, seperti Galungan, Kuningan, atau Nyepi. 🙂

  21. Ida · Juli 22

    Saya pernah sekali mendaki gunung Batur tp lupa thn berapa hehe

  22. adnabilah · Juli 23

    Senang sekali baca post2nya, apik sekali penulisannya pun. Di tengah pandemi ini karena belum bisa liburan ke mana2 lagi jadi cukup terhibur juga baca travel post orang2 yang seru2 🙂 salam kenal dari follower baru!

    • morishige · Agustus 15

      Terima kasih, Adnabilah. Salam kenal. 🙂

  23. Fanny_dcatqueen · Juli 28

    Sudah berlalu lama, tapi kamu masih bisa nulis ceritanya, walo ga detil, dengan bagus mas :). Aku agak susah menceritakan trip yg udh lewat bertahun2, hanya berbekalkan foto. Ingatanku jujurnya rada payah :D.itulah kenapa aku menulis blog, biar ga lupa 😀

    Bagus banget yaaaa kintamani. Beruntung banget temenmu yg bisa melihat gunung Batur setiap saat. Di JKT, boro2 aku ngeliat gunung, langit biru aja langka :P.

    Kalo nanti bisa ke Bali LG,pengen sih sesekali ngeliat wisata yg berbau pegunungan gini

    • morishige · Agustus 15

      Mungkin karena ada kejadian berkesan, Mbak Fanny. 🙂 Wah, sama, Mbak. Saya juga nulis di blog biar nggak lupa. Dan kalau sewaktu-waktu kangen, bisa dibaca lagi dan bernostalgia.

      Iya, Mbak. Beruntung banget. 🙂

      Monggo disamperin Kitamani kalau ke Bali lagi, Mbak Fanny. 🙂

  24. travelingpersecond · Agustus 3

    Manusia mah begitu rata rata mas…..Obyek deket rumah dianggurin, obyek jauh jauh dan musti didatangi dengan terbang pun di jabanin….Sama kek kelakuan saya….Mungkin juga situ, mas?…..Hahaha.

    • morishige · Agustus 15

      Persis Mas Donny. Aku yo ngono ketoke. Hahaha… Sakjane momen koyo ngono iso dadi momen berefleksi. Kudune luwih menghargai sekitar dewe yo? 🙂

  25. Art of the Beat · Agustus 5

    Nice post and thank you for taking us on that trip.I love the last portion of the post and your memories of playing music with friends. I felt like I was there. Hopefully soon, life will get back to normal.

    Be safe and well 🙂

    • morishige · Agustus 15

      Thanks, M. I’ve been away for a while from the blogosphere. Now I have to do my homework, blogwalking. 🙂 See you on Art of the Beat. Will go there soon as I can. 🙂

      Be safe and well too. 🙂

      • Art of the Beat · Agustus 15

        Hey! Hey!! Glad to hear from you. I heard about the volcano that erupted, the news said Indonesia so…Be safe and well 🙂

      • morishige · Agustus 19

        Hey! 😀 Do you mean Sinabung? Yeah… Fortunately it is on another island, quite far from where I live. But, thanks! You too. Stay safe and well. 🙂

      • Art of the Beat · Agustus 19

        That is the one. Glad you are far away from it and I hope there was not to much damage. Take care and be safe 🙂

  26. Bang Ical · Agustus 6

    Saya kira abang menabrak hantu –“

    • morishige · Agustus 15

      Hehehe…. Kalau itu mending, sih, Bang. Transparan. 😀

      • Bang Ical · Agustus 15

        Ndak usah ganti rugi 😅

  27. rivai hidayat · Agustus 18

    Menceritakan perjalanan lama atau beberapa tahun yang lalu memang tidak mudah yaa mas. Banyak yang lupa, tidak ditulis berasa jadi utang atau beban tersendiri. Tapi kalau ingin ditulis mesti mengingat banyak hal dulu sebelum mulai menceritakannya.
    Menuliskan cerita lama memang memiliki tantangan tersendiri.

    Daerah pegunungan di bali memang punya magis tersendiri. Aku yang pernah ke kintamani juga merasakan hal itu. Rasanya ingin lebih lama, namun apa daya kami tidak punya banyak waktu. Sehingga mesti segera kembali ke kota

    • morishige · September 13

      Betul sekali, Mas Rivai. Kita mesti membongkar-bongkar catatan, ingatan, dan folder-folder dokumentasi sebelum menuliskan perjalanan-perjalanan yang sudah lama.

      Kintamani selalu memanggil, Masvay. Saya yakin suatu saat Masvay akan kembali ke sana. 🙂

  28. ainunisnaeni · Agustus 20

    aku belum ke danau kintamani,
    dan beberapa kali ajakan temen ke danau tamblingan pun, selalu ga cocok dengan jadwalku, mereka bisa camping menikmati pagi ketemu malam, semoga nanti bisa ke danau danau di bali sana

    • morishige · September 13

      Amin, Mbak Ainun. Semoga nanti bisa ke sana. Ditunggu ceritanya. 🙂

  29. lhooo gak ngomong lagi di Bali. kan bisa tak traktir betutu.

    • morishige · September 13

      Eh, ada Kak Pito. 😀 Perjalanan lawas ini, Kak. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s