Prolog: Terminal 2 Soekarno-Hatta

Hari keempat bulan November 2019 belum berakhir. Musim hujan yang semestinya sudah bikin tanah basah belum jua datang. Langit masih bersih. Awan kelabu masih bersembunyi entah di mana. Sisa-sisa dingin khas malam-malam musim kemarau masih menyelimuti Maguwo. Tapi angin sudah sedikit gelisah.

Nyonya berjalan menjauh dengan langkah-langkahnya yang biasa ke ujung timur Terminal B Bandara Adisutjipto. Dia memakai jaket jin Lee tebal yang saya temukan di Pasar Terong Makassar lebih dari setengah dasawarsa lalu.

Saya simpan baik-baik adegan itu dalam memori.

Begitu dia menghilang di belokan, saya balik kanan. Saya perlihatkan boarding pass dan kartu identitas kepada petugas yang berjaga. Ia persilakan saya masuk. Saya lewati pemeriksaan dengan santai lalu tiba di ruang tunggu yang ramai. Tadi saya sudah check-in, tak perlu lagi ke loket.

Malam begini ruang tunggu bandara tampak sendu. Deretan lampu neon yang seharusnya membuat suasana ceria malah bikin kesenduan terasa lebih sempurna. Tak banyak manusia yang bicara; gelombang lebih riuh ketimbang udara.

Di sebuah bangku kosong saya duduk. Tas lipat saya pangku. Ransel gunung hijau stabilo yang warnanya sudah memudar itu mestilah sudah ditumpuk di bagasi bersama barang-barang penumpang lain. Mendadak saya memikirkan tablet. Di mana? Saya geledah jaket. Syukurlah ada. Kejadian waktu saya dan Nyonya hendak berangkat ke Bali 2018 lalu tak terulang kalau begitu. Di ruang tunggu bandara saya baru sadar kalau tablet seukuran Kindle itu tertinggal di kasur. Tak mungkin diambil lagi; pesawat ‘kan segera berangkat. Jadilah selama beberapa hari di Bali saya menyepi dari dunia maya. Detoksifikasi insidental.

Gerbang keberangkatan AirAsia tujuan Bandara Soekarno-Hatta buka sebelum jam 11 malam. Saya melangkah ke ekor antrean. Para penumpang—beberapa sudah mengaitkan bantal empuk ke leher—melangkah kecil-kecil, bergerak pelan-pelan. Satu-satu mereka lolos dari pintu. Lewat dinding kaca saya lihat mereka melangkah di apron. Tak ada garbarata di Adisutjipto yang bersahaja.

Pertama kali saya naik AirAsia tahun 2006, kalau tidak salah, ketika maskapai Tony Fernandes itu masih memberikan kebebasan bagi para penumpang untuk memilih bangku suka-suka mereka. Maka proses boarding adalah kegilaan. Orang-orang berebut jadi yang tercepat masuk kabin demi menduduki bangku yang mereka mau. Bangku deretan depan jadi favorit. Mungkin mereka menganggap duduk di depan bikin mereka lebih cepat sampai. Saya dan kawan-kawan duduk di deretan belakang yang lengang, dekat toilet. Namun, akhirnya maskapai murah itu mengadopsi cara maskapai kebanyakan. Setiap penumpang diberi nomor tempat duduk. Keriuhan saat boarding AirAsia pun sekarang hanya tinggal kenangan.

Giliran saya tiba. Petugas merobek pas keberangkatan dan saya pun melangkah ke luar menghirup udara segar yang mengambang syahdu di sekitar landasan pacu. Dengan bersemangat saya ayunkan langkah besar-besar menuju pesawat. Suara sepatu gunung yang beradu dengan anak tangga seperti menyenandungkan lagu-lagu rakyat tentang kebebasan. Di ujung tangga, awak kabin menyambut dengan senyuman. Lalu saya masuk ke dalam petualangan baru.

Di area merokok Terminal 2 Soekarno-Hatta

Selain lampu-lampu kota yang saling mengait seperti jaring laba-laba di bawah sana, tak ada pemandangan menarik yang bisa disaksikan saat terbang malam. (Sialnya, posisi duduk saya pun tak memungkinkan untuk sekadar melihat itu.) Maka sepanjang perjalanan saya cuma tidur-tidur ayam. Tidur, bangun, tidur, bangun, tidur, lalu tanpa terasa pilot sudah memberi pengumuman bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat.

Pelan-pelan pesawat merendah, lampu-lampu kota mendekat, kemudian roda-roda AirAsia itu menyentuh landasan pacu. Terdengar suara-suara kepala sabuk keselamatan yang dilepas terlalu cepat. Orang-orang mulai menghidupkan ponsel, bergegas memberi kabar pada entah-siapa. Sebelum lampu tanda mengenakan sabuk pengaman dimatikan, sudah banyak yang membuka bagasi kabin—seperti biasa.

Setelah mengambil ransel gunung di sabuk konveyor, saya segera keluar. Rongga mulut saya sudah asam mendamba asap tembakau. Saya seberangi jalan kecil bandara yang sudah sepi, menuju area merokok. Di sana, di antara mesin-mesin penjual makanan/minuman otomatis, saya lihat seorang perempuan muda dari negeri jauh sedang bertanya kepada seorang janitor. Sayup-sayup saya dengar pertanyaannya: “Do you know where the Grab point is?” Sang janitor tak mampu menjawab. Perempuan itu pun melanjutkan pencariannya. Ia menggerutu, melihat ke ponselnya, lalu melihat ke seberang, lalu kembali melihat ponselnya.

Ketika kami berpapasan, saya tanyakan padanya apakah ada yang bisa saya bantu. Ia, sebagaimana sudah saya curi-dengar tadi, sedang mencari tempat menunggu Grab. Saya edarkan pandangan ke sekitar. Di ujung sana, di beranda Terminal 2, saya lihat plang kecil berwarna hijau. Barangkali di sana. Saya sarankan ia ke sana. Ia pun berlalu meneruskan petualangannya, yang entah dari mana dan akan ke mana.

Di area merokok ada dua pria yang sedang duduk. Begitu saya duduk, salah seorang di antara mereka beranjak pergi. Saya duduk di seberang orang yang masih tinggal, seorang pria tua yang umurnya saya taksir hampir 60 tahun. Di antara kami adalah asbak tinggi berisi puntung-puntung rokok yang menancap seperti buntut-buntut dupa raksasa. Sambil bas-bus, pria itu tersenyum ramah. Saya sulut sebatang sigaret kretek mesin. Asap terhirup dan terhembus. Rongga mulut saya gembira. Lalu saya mengobrol dengan sang musafir itu. Rupanya ia baru saja tiba dari Surabaya. Perjalanannya panjang. Sebelum terbang dari Bandara Juanda, ia terlebih dahulu mesti naik angkutan darat dari Sumenep, melintasi jalanan Pulau Garam, menyeberangi Jembatan Suramadu. Pantas matanya merah begitu.

“Saya mau ke Hotel Millenium,” ujarnya. “Di Kebon Jeruk.” Rekan-rekannya sesama pegawai Kantor DPRD Sumenep sudah menunggu di sana. Tadi seorang sopir taksi menghampiri sang bapak dan menawarkan jasa antar ke hotel itu. “(Ongkosnya) dua ratus ribu,” ceritanya.

Ia bertanya apakah saya tahu rute menuju ke hotel itu. Jelas saya tak tahu. Jakarta yang saya kenal hanya Stasiun Senen, Stasiun Besar Gambir, Monas, Istiqlal dan katedral, Halim, Halte Harmoni, deretan nasi kapau dekat Atrium, Jalan Matraman Raya, rumah-rumah kawan, McD Mangga Dua tempat saya makan Big Mac untuk pertama kali tahun 2004 silam, Kota Tua, dan printilan-printilan tak relevan lainnya. (Bahkan, saya tak yakin bahwa ejaan nama hotel itu, Millenium, benar. Bisa jadi huruf L-nya hanya satu.)

Tapi saya tahu kalau ongkos DAMRI lebih murah. Dari perhentian DAMRI, ia bisa mencari halte TransJakarta terdekat atau mencegat taksi atau naik ojol ke hotel itu. Saya sarankan ia untuk naik DAMRI saja. “Atau Bapak bisa naik kereta bandara,” saya tiba-tiba ingat moda transpor anyar itu. “Lebih cepat tapi tarifnya lebih mahal.”

Bapak itu mengangguk-angguk, menimbang-nimbang, lalu lanjut menghisap rokoknya. Kemudian obrolan kami bergeser ke soal saya.

“Mas ini mau ke mana?” ia bertanya.

“Nepal, Pak,” jawab saya.

Jawaban itu terdengar seperti diucapkan oleh orang lain, bukan dari mulut saya sendiri. Sampai duduk di Bandara Soekarno-Hatta sekarang saya masih tak percaya bahwa saya benar-benar akan melanglang ke Nepal, negara yang pertama kali saya kenal lewat peta buta yang kami pelajari waktu sekolah dasar; yang saya selami lewat diskusi pelajaran Geografi sekolah menengah pertama; yang saya bayangkan ketika membaca Into Thin Air terjemahan Qanitadi akhir SMP atau awal SMA barangkali, lewat Siddharta, lewat Annapurna, lewat sebuah koin perunggu 1 Rupee Nepal yang saya temukan di Iboih, Pulau Weh, tahun 2013 silam, yang sekarang tersimpan aman dalam lipatan dompet saya.

>Beranda bungalow di Iboih, Pulau Weh (2013)

“Wah, jauh, ya?” ia tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya. “Kerja di sana?”

“Nggak, Pak,” jawab saya. “Rencananya mau jalan-jalan ke gunung. Cari-cari udara segar.”

“Sendirian saja? Nggak ada temannya?”

“Iya, sendirian, Pak,” saya jawab sambil tersenyum. Ia pasti paham bahwa bagi manusia seusia saya jalan-jalan bersama kawan adalah kemewahan. “Tapi nanti mesti bakal ketemu teman-teman baru di sana.”

Ia tersenyum, mengangguk-angguk, lalu menceritakan Madura yang rata, lalu sebuah pulau yang konon paling segar di dunia, lalu Sumenep, lalu masa kerjanya yang hanya tinggal dua tahun lagi, dll. dll. Satu demi satu puntung rokok baru tertancap di asbak tinggi itu. Para perokok datang dan pergi. Tak terasa sudah jam 3 pagi. Pesawat yang saya tumpangi ke Kuala Lumpur akan berangkat pukul 5.35 nanti. Saya mesti pergi.

“Nanti kalau mampir ke Sumenep cari saja saya di DPRD,” ujar bapak itu. “Tanya saja Pak Chandra Purnama.”

Ia tersenyum—gemar sekali bapak itu tersenyum. Lalu ia menunduk melihat jam.

“Kayaknya saya naik DAMRI saja,” ujarnya. “Di sebelah mana loketnya?”

“Di sebelah sana, Pak,” jawab saya, menunjuk ke ujung terjauh Terminal 2 tempat loket DAMRI dan beberapa perusahaan otobus lain berada. Beberapa tahun lalu saya pernah naik Cipaganti menuju Bandung dari sana. “Dekat, kok. Saya antar saja, Pak.”

“Ah, terima kasih,” ujarnya. Tersenyum.

Kami pun menyeberang lalu berjalan di atas ubin lawas beranda Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta yang wujudnya hampir tak berubah sejak Mamet, dengan sedan Mercedes-Benz lawasnya, mengantarkan Cinta dkk. melepas Rangga yang hendak ke Amerika Serikat dalam film Ada Apa dengan Cinta jilid pertama.

Masih belum ada aktivitas di loket DAMRI. Tapi pintu ruang tunggunya tidak terkunci. Ada orang di dalam. Kami masuk dan bertanya pada orang itu tentang jadwal DAMRI. Masih satu-dua jam lagi sebelum armada pertama mulai jalan. Tapi Pak Chandra boleh menunggu di dalam. Kami pun berjabat tangan. Ia tersenyum, saya juga. Lalu kami berpisah.

Sebelum terbang

Saya kembali menelusuri ubin-ubin lawas beranda Bandara Soekarno-Hatta, kemudian naik ke lantai dua yang lebih ceria. Pintu menuju lobi, tempat loket-loket check-in berada, masih belum buka. Para penumpang menggerombol di sekitar bangku-bangku panjang, menjaga koper-koper dan tas-tas besar mereka.

Saya duduk di antara kelompok Paduan Suara Mahasiswa UIN Jakarta. Makin lama mereka makin ramai. Lalu sebuah spanduk terkembang. Ternyata mereka hendak berangkat lomba ke Macau. Mereka berfoto bersama. Berulang-ulang. Mudah-mudahan mereka menang.

Lalu mahasiswa-mahasiswa itu mengambil bawaan mereka dan dan membuat antrean lumayan panjang. (Sudah ada sedikit pergerakan dari dalam lobi.) Tak lama kemudian, pintu lobi dibuka dan satu per satu calon penumpang masuk lewat pintu, seperti butiran-butiran kecil di jam pasir.

Selepas pintu, saya melangkah menuju loket dan ikut mengantre. Ransel gunung dan tas lipat tak saya lepas. Jika bisa, ransel hijau stabilo itu akan saya masukkan ke bagasi, biar tak repot-repot membawanya melewati imigrasi. Tapi saya tak yakin akan dapat jatah bagasi. Dalam kolom “bagasi” tiket, pada penerbangan dari Soekarno-Hatta ke KLIA1 saya tak dapat jatah bagasi, namun saya dapat kuota 15 kg dari KLIA1 ke Bandara Tribhuvan, Kathmandu. Sama saja artinya saya tak mendapat jatah bagasi. Jika jadwal penerbangan sesuai dengan yang tertera di tiket, saya cuma punya waktu sekitar 10-15 menit untuk turun pesawat dan mengejar pesawat selanjutnya menuju Nepal. Waktu segitu tak cukup untuk ke loket dan menaruh ransel di bagasi bawah.

Akhirnya tiba giliran saya.

“Ke Kathmandu,” saya bilang. “Dapat jatah bagasi nggak, ya, Mas?”

Sang petugas melihat tiket elektronik saya lewat tablet, lalu mencermatinya sampai agak mengernyit.

“Malindo Air di sebelah sana, Mas,” ujarnya sambil menyerahkan tablet saya.

Saya perhatikan sekeliling. Rupanya saya mengantre di loket yang salah. Tiket saya Malindo Air tapi saya malah mengantre di AirAsia. Barangkali kantuk saya memang sudah terlalu parah. Darah meluncur ke pembuluh di wajah saya, membuatnya memerah. Sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala, saya melangkah menuju loket Malindo Air.

Lebih sedikit orang yang mengantre di Malindo. Saya berbaris di loket yang sedang melayani serombongan jemaah tabligh yang semuanya bergamis dan bersongkok. Tas-tas mereka menumpuk di sekitar timbangan, menunggu ditakar dan dilepas ke sabuk konveyor. Tapi lama sekali. Lima belas menit lebih mereka belum selesai-selesai. Akhirnya saya pindah ke loket lain, yang antreannya lebih panjang namun geraknya lebih cepat. Kurang dari lima belas menit saya sudah selesai melapor. Ransel gunung saya masuk ke bagasi—ternyata dapat jatah. Dengan ransel lipat kecil berisi laptop, saya berjalan santai ke imigrasi. Tapi, petugas imigrasi kurang santai memeriksa paspor saya.

“Mau ngapain ke Nepal, Mas?”

Saya jawab bahwa saya hendak ke gunung.

“Kenapa sendirian?”

Saya beri jawaban standar bahwa saya memang biasa pergi sendirian. Ia bertanya satu-dua hal lagi, sampai akhirnya meminta saya memperlihatkan tiket pulang. Saya buka tablet lalu saya tunjukkan tiket Kathmandu-Bangkok tanggal keberangkatan 3 Desember 2019. Tiket itu bikin ia melempar pertanyaan lanjutan.

“Dari Bangkok mau ke mana?”

“Myanmar,” saya jawab. “Mau naik kereta api di sana. Terus dari sana saya terus ke selatan sampai Kuala Lumpur. Baru dari Kuala Lumpur terbang kembali ke Yogyakarta.”

Saya tak bilang rencana ke Filipina kepadanya. Selain karena ia pasti takkan percaya, tiket ke Manila juga belum saya beli. Penggal ketiga Desember nanti Nyonya akan menyusul ke Kuala Lumpur, kami akan di Malaysia selama beberapa hari, kemudian ke Filipina menghabiskan waktu beberapa hari di Ilocos Sur.

Ia membolak-balik paspor saya. Ke halaman belakang, lalu ke depan. Bolak-balik. Akhirnya ia membubuhkan stempel keluar di paspor saya.

Saya melangkah cepat-cepat ke gerbang F4, di mana, sesuai boarding pass, saya mesti menunggu. Tapi F4 sepi. Ternyata gerbang penerbangan Malindo pindah ke F5. Mata saya sudah berat-berat tanggung. Mudah-mudahan saya bisa tidur nyenyak dalam perjalanan ke Kuala Lumpur.

44 comments

  1. Nasirullah Sitam · Agustus 15

    Hehehehhe, di Madura pada waktu itu pulau Giliyang mungkin belum dikenal. Tapi memang salah satu pulau favorit untuk dikunjungi selain Gililabak.

    Kalau ke Madura, aku malah pengen napak tilas keluarga dari ibu yang berasal dari Sumenep, khususnya pulau Masalembo

    • morishige · Agustus 22

      Madura kayaknya menarik, ya, Mas Sitam? Suatu saat kalau diberi kesempatan saya pengen keliling Madura, naik bus dari satu kota ke kota lain, mampir ke makam-makam para Kyai. 😀

      Wah, pasti keren banget itu nanti ceritanya, Mas Sitam. 😀

  2. salsaworldtraveler · Agustus 15

    Airports are interesting places full of small adventures and chance encounters. I’m glad you got to the right ticket counter. The trip is off to a great start.

    • morishige · Agustus 22

      Couldn’t agree more. The place of many hellos and goodbyes. 🙂 Thanks. 😀 I guess I zoned out because I was too enthusiastic anticipating the journey. 😀

  3. ysalma · Agustus 16

    Perjalanan malam yang banyak memanggil kenangan agar muncul kembali dalam ingatan sepertinya ini, hingga ubin lawas terminal pun mengingatkan akan AADC 🙂

    • morishige · Agustus 22

      Perjalanan malam memang punya pesonanya sendiri, ya, Mbak? 😀

  4. Susilowati · Agustus 17

    Membaca tulisan semacam puisi gini bikin ikut terbawa suasana, dan oalah, kok dari awal jadi ngeri karena cerita malam jadi ingat film hantu di bandara… Apa aku kebanyakan nonton film hantu? Hihi.

    Jaketnya bersejarah sekali sampai puluhan tahun.

    • morishige · Agustus 22

      Hehehe… Kayaknya mungkin saya yang terlalu banyak nonton komedi soal bandara, jadinya cuek-cuek saja. 😀

  5. Cipu · Agustus 17

    Wah Mori sudah ke Nepal. Istriku pun sudah ngeduluin saya ke Nepal dan Bhutan, kalau kata istri: you have to go there…..

    Mori ini kalau cerita bener bener bisa membawa kita sampai akhir kalimat. Saya sama sekali ga bisa skim saat membaca postingannya, karena khawatir ada detail yang terlewatkan. Ditunggu kisahnya di Nepal, tapi sepertinya akan ada cerita tentang Bangkok dulu

    • morishige · Agustus 22

      Sepakat sama istrinya Bang Cipu: you have to go there, Bang! 🙂

      Makasih, Bang Cipu. 😀 Syukurlah ceritanya bisa terbaca. 🙂

  6. Agus warteg · Agustus 18

    Wah, pernah ketinggalan tablet juga di Bali ya kang. Lumayan tuh yang nemu. Eh tapi harusnya dibalikin ya, minta alamatnya lalu dikirim pakai paket, soal biaya nanti dibayar kok.😄

    Kenapa ngga diakrabi saja anggota DPRD itu bang, kan lumayan barang kali nanti dapat proyek di Sumenep.😁

    Ke Nepal itu cuma buat rekreasi ke gunung cari udara segar atau ada tujuan khusus mas, misalnya nyari batu infinity stone seperti Doctor Stranger biar jadi anggota Avengers.🤣

    • morishige · Agustus 22

      Ketinggalannya di kamar, Mas Agus. Kalau ketinggalan di Bali mesti sudah tak hubungi penginapannya. 😀

      Proyek apa, Mas Agus? Hehehe…

      Harapannya sih begitu, Mas Agus. Biar pulang-pulang bawa cincin besar-besar kayak Thanos. 😀

      • Agus warteg · Agustus 28

        Ya proyek apa saja, yang penting ada duitnya.😂

        Wah mending kalo kayak Thanos, gimana kalo kayak Tessi yang jadi kolektor batu akik.🤣

  7. rivai hidayat · Agustus 18

    Bandara soetta memang selalu memberikan drama tersendiri. Jarak terminal yang jauh kadang merepotkan juga. Apalagi kalau salah terminal…wkwkwkk
    Aku hampir ketinggalan pesawat pas di terminal 3. Biasa, penerbangan pertama 😀

    Cerita nepal sudah pernah ditulis mas…?
    Atau baru akan ditulis sekarang…?

    • morishige · Agustus 22

      Iya, Masvay. Sampai sekarang pun saya masih berasa kalau Soekarno-Hatta ini terlalu besar. Sebelum turun dari bus, mesti harus selalu memastikan bahwa saya tiba di terminal yang sesuai tiket. 😀 Tapi Terminal 3 keren banget, sih, ya, Mas? 😀

      Belum pernah, Masvay. Baru ditulis sekarang. 😀

      • rivai hidayat · Agustus 24

        Sekarang sudah ada kereta antar terminal, jadi sangat membantu untuk berpindah-pindah 😀
        Keren banget mas, semoga kapan-kapan bisa mencoba terminal 3. 😀

        Ditunggu kelanjutan ceritanya mas 😀

  8. ellafitria · Agustus 19

    makin syahdu aja tulisannya mas, makin bisa membawaku seolah mbuntut di Bandara, hhh
    nggak sabar nunggu cerita selanjutnya nih, 🙂

  9. CREAMENO · Agustus 20

    Yayyyyy akhirnya ada update 😂 sudah lama menunggu cerita perjalanan mas Morishige berikutnya. Ternyata ke Nepal. Terus saya jadi ingat kalau saya sampai sekarang belum kelar edit foto-foto Nepal cencunya tanpa cerita naik gunung di dalamnya hahahahaha 🙈

    Nggak sabar mau baca cerita Nepal dari sudut pandang mas Morishige which is saya yakin akan banyak hal baru dari Nepal yang nggak pernah saya lihat. Sebabnya, saya hanya main di kotanya 😅 oh dan saya ketawa dongggg baca kalimat Mamet AADC, memang yaaah dari jaman AADC sampai sekarang, keramik bandara masih itu-itu saja warnanya 😂 however saya tetap suka, classic soalnya 🙈

    Ditunggu kelanjutannya, mas! 😍

    • morishige · Agustus 22

      Iya, Mbak. Setelah cerita Asia Tenggara selesai, sengaja ambil jeda supaya bisa segar menulis catatan selanjutnya.

      Sampai sekarang setiap kali ke Soetta saya selalu ingat adegan Mamet di AADC itu, Mbak. Ubin merahnya, pilar-pilarnya, dinding kacanya, semua bikin inget AADC. Hehehe.

      Wah, malah saya yang jadi penasaran sama cerita Mbak Eno pas ke Nepal. 🙂

    • rivai hidayat · Agustus 24

      Para penonton AADC berkumpul di sini. Kalau ngomongin AADC itu berasa jebakan umur mbak eno…hahaha
      Kalau aku di AADC ingatnya pas rangga cium cinta di bandara..hahhaha

  10. ainunisnaeni · Agustus 20

    cerita pagi di bandara dengan orang baru dan bisa membantu mereka menuju tujuannya, meskipun nggak mengantar langsung sampai destinasi si bapak candra tadi, minimal dapat kenalan
    hehehe kadang kusuka gemes kalau di bagian imigrasi ditanyai terlalu detail, mungkin prosentase orang yang “kepo” hanya 1%an dari deretan petugas yang ada
    inget nepal, inget corona ini, yang mana nepal lockdown sampe segitu lamanya

    • morishige · Agustus 22

      Mungkin karena merasa sama-sama jadi musafir, Mbak. 🙂 Mula-mula saya agak kesal sebenarnya. Tapi lama-lama jadi sadar bahwa itu tuntutan pekerjaan mereka. Kalau ada yang agak janggal menurut norma umum, wajar saja jika mereka curiga. Saya cuma bisa berharap perlakuan itu nggak cuma didapat oleh orang-orang berpenampilan (terlalu) kasual saja, tapi juga yang rapi. 😀 Kayaknya keputusan Nepal buat lockdown cukup bijaksana, Mbak. Mereka rela menutup pariwisata demi menyelamatkan nyawa penduduknya.

  11. Zam · Agustus 22

    entah kenapa, saya lebih suka wajah Terminal 2 Soekarno-Hatta. sangat Indonesia. dengan sapaan khas Balinya. Paul Andreu memang luar biasa. ciri khas bandara yang ramah dan “beda” dari bandara-bandara lain yang cenderung dingin, bata merah memberikan kesan hangat dan menyenangkan.

    • morishige · Agustus 27

      Sependapat, Mas Zam. Terminal tua Soekarno-Hatta terasa ramah. Terminal 3 futuristik tapi terlalu berjarak rasanya. 😀

  12. kutukamus · Agustus 23

    “Kenapa sendirian?” Hahaha Jangan-jangan ngantuk juga si Mas petugasnya. Pertanyaannya aneh sekali soalnya 🙂 BTW selama menunggu dan udat-udut, Morishige tidak ngopi (atau apa gitu) sama sekali kah? Hebat sekali

    • morishige · Agustus 27

      Nah, itulah, KK. Saya rasa sudah sangat banyak WNI yang bepergian sendirian. Mestinya tak aneh lagi. Atau mungkin karena penampilan saya yang slengean? 😀

    • morishige · Agustus 28

      Waktu nunggu cuma minum air putih, KK. 😀 Dalam perjalanan panjang kayak gini saya cenderung menghindari kopi, KK, supaya perut tak bergolak. 😀

  13. Zizy Damanik · Agustus 23

    Heboh amaaatt petugasnya? Sukak-sukak akulahhhh mo pergi sendirian kek mo satu erte kek…. ANEH. Sepertinya dia model orang yang tak bisa melakukan apa2 sendirian.
    Nah, bener itu, Bapak tadi mah naik damri turun di Gambir habis itu nai taxi ke Hotel Millenium gak akan sampai 30rb, wong deket banget itu.

    • morishige · Agustus 28

      Mungkin petugasnya lebih sering meriksa orang yang pergi berombongan, Mbak Zizy. 😀

      Wah, syukurlah saran saya tepat. Jauh lebih hemat kayak gitu ketimbang naik taksi. 😀

  14. Bang Ical · Agustus 24

    Mungkin karena saya jarang naik pesawat: saya merasa sayang sekali menghabiskan tiket hanya untuk tidur di udara. Rasanya ingin tetap melek dan lihat sana sini. Saya juga baru tahu ada maskapai yang pernah membebaskan nomor kursi. Saya pasti akan duduk di belakang terus 🙂

    • morishige · Agustus 28

      Kalau dapat bangku samping jendela, mungkin saya bakal betah lihat lampu-lampu di bawah, Bang. Pantura Jawa elok sekali kalau dilihat malam-malam. 😀

      Duduk di belakang nyaman sekali, Bang. Kadang satu deret cuma diisi satu penumpang. Jadi bisa sambil selonjoran. 😀

      • Bang Ical · September 3

        Betul. Kalau duduk di belakang, besar kemungkinan kita bebas memilih duduk di sebelah jendela. Kalau saya pribadi, Bang, paling senang bepergian sore. Langitnya agak berbeda :’)

  15. andromedanoholo · Agustus 25

    Fiuh..nikmat sekali membaca detilnya mas. Salut sama orang yang bisa menulis setiap sudut detil menjadi bahan bacaan yang enak. Tidak membosankan.

    • morishige · Agustus 29

      Terima kasih, Mas Andromeda. Saya juga menikmati sekali membaca tulisan-tulisan Mas. 😀

  16. Fanny_dcatqueen · Agustus 26

    Aku slalu takjub mas masih bisa menuliskan secara detil gini moment2 sebelum pergi, padahal udah lama lewat :). Aku agak susah kalo harus mengingat yg udh lewat dari sebulan hahahhaha.

    Btw, aku ga pernah ngerasain tuh zaman airasia msh hrs rebutan tempat duduknya, to temenku udah. Ya ampuuun aku ngakak pas denger dia cerita gimana dia dan rombongan harus rebutan tempat cepet2, bagaikan naik bus biasa :p. Mungkin itu juga yg bikin aku ga mau nyobain air Asia di masa awal2nya. Baru mau setelah maskapai itu mengganti sistem seatnya jd LBH teratur :D.

    Ga sabar mau lanjut baca ttg Nepal :D. Ini juga negara impianku. Tp bukan Krn pgn liat gunung, pgn jelajah kotanya aja, dan kemudian lanjut ke Bhutan 😀

    • morishige · Agustus 29

      Makasih, Mbak Fanny. 😀

      Heboh banget pas nggak ada nomor tempat duduk itu, Mbak. 😀 Saya piih masuk belakangan aja supaya nggak kejepit di lorong. 😀

      Semoga Mbak Fanny bisa segera ke Nepal dan Bhutan 🙂

  17. ceritariyanti · Agustus 27

    hahaha… jadi inget rebutan kursi di AA dan Indonesia terkenal ganas soal rebutan, mungkin sampe sekarang, belum ada panggilan boarding tapi udah pada ngantri kayak gak bakal dapat kursi.

    Aduh cepetan dong mas nulisnya hahaha… gak sabar baca kisah nepalnya, saya ke nepal udah beberapa kali, tapi belom bosen dan suka banget denger cerita orang tentang nepal. seru.

    • morishige · Agustus 29

      Pada pengen duduk di depan, Mbak, supaya cepat sampai. 😀 Ditunggu, ya, Mbak. 😀 Terima kasih sudah mampir. Salam kenal. 🙂

  18. travelingpersecond · Agustus 30

    Gimana Malindo Mas?
    Waktu aku ke Dhaka, pesawat itu bergetar sepanjang perjalanan….Ketika penduduk Dhaka didalamnya ketawa tersenyum sepanjang udara, aku hanya menahan kecut……Kacaoo.
    Hahahaha…….

    • morishige · September 13

      Lebih kece Batik kayaknya, Mas Donny. 😀

      Bah, bergetar? Wah itu doa keluar semua pasti, Mas? 😀

      • travelingpersecond · September 13

        Wah yo wes piye maneh, mas……pas kutanya ke pramugarinya, doi cm bilang: “It’s a normal bumpy flight, Sir”.
        Wah…dibilangnya normal….padahal aku wes ndrodok, wedi ra tekan nggone ki mas….jiannnn

  19. bara anggara · Agustus 31

    selalu menarik ya berinteraksi dengan orang-orang baru dalam suatu perjalanan, rupa-rupa cerita yang keluar dari orang-orang asing yang kita jumpai. Walau hanya berjumpa sekilas, obrolan dan jabatan tangan menjadi sebuah memori dan kehangatan tersendiri yang menjadi bumbu di bagian kecil waktu. Saya sering seperti itu juga tapi lebih sering lupa detilnya..

    • morishige · September 13

      Iya, Bung. Cerita-cerita dari mereka yang bikin saya jadi inget dengan mereka. 😀

Tinggalkan Balasan ke Cipu Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s