Sepotong Himalaya

Sembari memasang sabuk keselamatan, kepala saya menoleh ke jendela mungil pesawat. Rona pagi memenuhi langit. Halimun tipis mengambang di apron. Sementara itu, di dalam kabin para awak mulai lalu-lalang menutup kompartemen bagasi. Suara “klak!” bersahutan. Gerak mereka membuat udara dipenuhi aroma elegan.

Kemudian pintu pesawat ditutup. Sang burung besi mulai bergerak. Mula-mula ia mundur, lalu berbelok kikuk mengubah haluan menuju landasan pacu. Saat menyimak pramugari memberikan pengarahan, kelopak mata saya menjadi berat. Kantuk sedang bersiap-siap menyergap. Lelah mulai terasa, mengirim sinyal pada tubuh ‘tuk segera istirahat. Goyangan pesawat mulai membuai.

Kapal terbang itu mulai dipacu laju. Akselerasinya bikin punggung saya lekat ke sandaran. Narator dalam kepala saya mendendangkan lagu “Don’t Stop Me Now” Queen versi McFly. Setiap kali take off, ini lagu selalu muncul tanpa diundang, terus terbawa sejak penerbangan kedua saya selulus SMA dulu.

I’m a shooting star, leaping through the sky…. Like a tiger defying the laws of gravity….

Pesawat mulai mendongak. Pilot mulai memasrahkan tunggangannya kepada gaya angkat. Sesaat setelah melayang di langit Cengkareng, saya pun tertidur.

Saya membuka mata ketika para awak hendak menyemprot kabin dengan aerosol, pertanda sebentar lagi pesawat akan mendarat di Selangor. Mestilah sekarang saya sedang melayang di atas hamparan perkebunan kelapa sawit yang teksturnya seperti keset itu. Saya tarik buff sampai menutupi hidung dan mulut. Aerosol disemprot; kabin berkabut. Tapi, sebentar saja kabut putih itu hilang, menyisakan aroma rumah sakit.

Perubahan tekanan terasa dalam kepala saya. Pesawat mulai menurunkan ketinggian. Hentakan kecil terasa ketika roda-roda dikeluarkan. Saya selalu suka momen-momen sebelum mendarat, menebak-nebak apakah pendaratan akan mulus atau tidak. Di balik jendela, sayap mulai bergoyang seperti tangan seorang pemain akrobat sedang menyeimbangkan diri pada seutas tali. Burung besi semakin rendah, lalu roda-rodanya menyentuh landasan pacu. Pendaratan yang mulus. Saya tak terhenyak.

Sambil menunggu pesawat berhenti, saya raih ransel lipat dari bawah kursi. Karena mesti mengejar pesawat ke Kathmandu, saya langsung mengambil posisi di lorong begitu lampu-lampu indikator keselamatan dimatikan. Saya tak tahu sekarang jam berapa; saya tak memakai jam tangan—menghidupkan tablet hanya untuk melihat jam pun rasanya buang-buang waktu saja. Yang saya tahu cuma bahwa Malindo Air ke Kathmandu akan terbang pukul 09.05 Waktu Piawai Malaysia. Dan 09.05 WPM sebentar lagi.

Lewat dari ambang pesawat, saya segera berlari mencari gerbang keberangkatan Malindo Air tujuan Kathmandu. Saya akan berangkat lewat G1, tapi saya tak tahu cara menuju ke sana. Dekat perhentian kereta bandara, di antara deretan toko yang membuat KLIA1 lebih mirip mal ketimbang bandar udara, saya lihat seorang petugas perempuan berkerudung sedang berjaga. Saya tanyakan padanya bagaimana saya bisa mencapai G1.

“Naik kereta ini,” ujarnya sambil menunjuk kereta yang sedang berhenti. “Untuk ke G1, turun di perhentian selanjutnya.”

Saya bergegas naik kereta. Beberapa detik setelah saya masuk, pintu menutup dan kereta mulai meluncur mulus meninggalkan bangunan terminal, lalu meliuk sedikit membelah apron kelabu yang warnanya kontras sekali dengan langit biru.

KLIA1

Kereta berhenti. Saya keluar, melihat plang, lalu mencari jalan menuju G1. Mudah saja menemukannya. Tapi pintu G1 tampak sepi. Jangan-jangan saya sudah terlambat? Di depan pintu, ada dua pemuda yang tampak kebingungan. Saya lewati mereka lalu masuk ke pintu G1 itu. Melihat saya masuk, mereka ikut. Barangkali saya adalah jawaban dari kebingungan mereka.

Melewati pintu, saya tiba di ujung eskalator yang bergerak turun. Sepi. Tak ada manusia lain di eskalator itu kecuali saya dan dua pemuda di belakang itu. Pikiran saya langsung melayang pada kemungkinan terburuk: saya ketinggalan pesawat dan mesti beli tiket lagi. Sudah setengah jalan begini menuju Nepal tak mungkin saya pulang. Terus bagaimana dengan ransel saya? Ah, nanti—besok, lusa, atau kapan pun saya tiba di Kathmandu—tas gunung itu bisa dicari di Lost and Found Tribhuvan. Akhirnya saya tiba di bawah, lalu belok kiri, dan mendapati bahwa antrean di G1 masih mengular. Lega rasanya. Tapi saya perlu memastikan bahwa itu adalah penerbangan ke Kathmandu.

“Kathmandu?” tanya saya pada dua orang yang mengikuti saya di belakang. Mereka mengangguk.

Memasuki G1, saya lalu mengambil antrean paling dekat dengan dinding kaca. Gerbang keberangkatan itu penuh orang berpaspor Nepal. Perawakan sebagian besar dari mereka hampir tak ada bedanya dengan saya. Kulit agak gelap, tinggi badan tipikal Mongoloid—ada beberapa berwajah Hindustani dengan potongan agak tinggi. Andai saja orang-orang itu berkeliaran di Ambarrukmo Plaza, tentu dengan gaya fesyen sedikit berbeda, mestilah mereka bisa disalah-kaprah sebagai warga Palbapang, Bantul.

Saya sedang asyik menghayati persamaan perawakan orang Indonesia dan Nepal ketika tiba-tiba saja seorang Nepali terjatuh di antrean sebelah sana. Badannya bergetar-getar hebat dan mulutnya mengeluarkan busa, seperti gejala epilepsi. Tas kecilnya tergeletak di samping. Barangkali hanya tas itulah teman perjalanannya; pengantre di depan dan belakangnya bergeming. Sebentar kemudian, adegan itu menarik perhatian petugas. Seorang petugas pria menghampiri orang yang kejang-kejang itu, mengambil boarding pass-nya, lalu bertanya dengan suara lantang pada segenap calon penumpang, “Ada yang kenal? Ada yang kenal?”

Tak ada yang merespons. Sang petugas mengeluarkan ponsel lalu menghubungi seseorang. Selang sebentar, dua petugas kesehatan bandara datang. Tapi orang itu sudah tak kejang-kejang lagi. Ia sudah tenang. Matanya yang berembun kini menatap nanar ke arah langit-langit. Kedua petugas kesehatan itu menanyainya macam-macam, namun tak satu pun pertanyaan itu yang digubris.

Saya menyaksikan peristiwa itu sambil pelan-pelan bergerak ke kepala antrean. Sampai saya lewat pemeriksaan, orang yang tadi kejang-kejang itu masih belum beranjak dari tempatnya berbaring.

“@#@%^#$@^&?”

Saat saya sedang membereskan bawaan, tiba-tiba ada yang mengajak saya bicara. Ia barangkali 10-15 tahun lebih tua ketimbang saya. Sebagian kepalanya sudah tak berhias rambut. Dengan kaos-kerah cokelat muda bergaris melintang di bagian dada dan celana bahan, ia tampak seperti saudara jauh guru olahraga saya ketika SMP. Namun, jangankan maksud perkataannya, satu pun saya tak menangkap arti kata-kata yang ia ucapkan.

“Maaf?”

“Oh, saya kira Anda Nepali,” ujarnya sambil tersenyum. Sekarang ia bicara dalam bahasa Inggris. “Wajah Anda seperti orang Nepal,” imbuhnya.

Saya pernah disangka orang Malaysia, Thailand, dan Filipina—dan Jepang waktu rambut gondrong saya digulung seperti seorang samurai—namun baru kali ini dikira Nepali. Jika dikira orang Malaysia, Thailand, atau Filipina, saya masih bisa memaklumi. Negara-negara itu hanya selemparan batu dari Indonesia. Tapi Nepal terlalu jauh.

Atap dunia

Saya duduk di bangku 32F dalam perjalanan menuju Kathmandu, di samping jendela. Awal penerbangan, saya habiskan waktu membaca The Place of the Dead Roads karangan bapak baptis generasi beat, William S. Burroughs. Tapi novel itu terlalu getir dan bikin kantuk saya makin menjadi-jadi. Ditambah rasa lapar yang mulai menyerang karena belum makan berat sejak malam tadi, kelopak mata saya makin cepat menutup.

Saya bangun ketika pesawat melayang di atas daratan penuh sungai. Entah sekarang sedang di mana, saya tak tahu. Malindo Air yang saya tumpangi tak punya layar yang memberi tahu posisi termutakhir pesawat. Tapi, dalam Balada si Roy, saya pernah membaca bahwa Bangladesh adalah negeri penuh sungai. Bisa jadi saya sedang melayang di langit rural Bangladesh—atau pedalaman Myanmar.

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari arah tolet. Pintu toilet digedor-gedor, lalu terbuka membawa serta aroma asap rokok. Bau kabin pesawat itu pun berubah jadi seperti area merokok bus-bus eksekutif lintas Sumatera.

Rupanya ada pramugari yang memergoki seorang penumpang sedang merokok dalam toilet. Sang penumpang keluar dari toilet, menelusuri lorong dengan wajah tak bersalah, lalu duduk kembali di bangkunya. Sang pramugari memanggil awak kabin senior yang sedang bertugas di depan, lalu mereka berdua berdiskusi. Akhirnya, sang awak kabin senior menghampiri penumpang yang merokok tadi lalu mengambil paspornya.

Absurd.

Lalu saya alihkan pandangan ke jendela. Sekarang pesawat sedang terbang di langit pesisir. Banyak muara: delta dan estuaria. Makin jauh, lanskap berubah. Kini saya melayang di atas pesisir penuh pulau kecil dikelilingi laut akuamarin. Sekali-dua saya melihat garis putih—jejak perahu cepat. Langit di atas cerah, tapi pulau-pulau di bawah sesekali ditutupi awan.

Lama saya hanya menatap ke luar jendela. Burroughs terlupakan. Saya tutup buku itu lalu saya taruh di bawah, di atas ransel lipat Quechua yang sudah menemani saya sejak akhir 2018 itu. Siapa yang butuh cerita koboi gelap absurd semacam itu dalam perjalanan seperti ini?

Lalu saya tertidur lagi, barangkali terlalu lelah melihat biru langit dan hijau tua daratan. Tapi tidur saya hanya sebentar. Ketika kembali membuka mata, sungai, delta, dan estuaria sudah tak ada, digantikan kota berselimut debu. Dhaka? Sebentar saja, tapi. Saya kembali melihat daratan, lalu bosan.

Pandangan saya arahkan ke awan. Ada awan yang memanjang di timur-laut. Tak seperti kumpulan-kumpulan gemawan biasanya, bentuk awan memanjang itu cenderung tak berubah. Begitu-begitu saja. Pesawat makin mendekati awan itu, semakin dekat, dan dekat.

Saya keluarkan kamera saku, saya hidupkan, kemudian saya ungkit tuas untuk memperbesar gambar di layar kamera. Ada warna agak gelap seperti “wajah di bulan” di antara awan memanjang itu. Pesawat pun makin dekat. Sekarang saya tak perlu lagi membidiknya dengan kamera. Saya pun insyaf bahwa itu bukan awan—itu pegunungan es. Himalaya! Atap dunia. Ekor naga putih—yang dilahirkan oleh benturan antara Subkontinen India dan Benua Asia—yang membujur dari ujung Hindu Kush di Afghanistan sampai Hkakabo Razi di interior Myanmar.

Makin lama, Himalaya makin dekat. Lerengnya yang terjal makin jelas, juga gletser-gletser kecil yang mengisi sela-sela geriginya. Awan yang menghampar di sekitar lereng tampak seperti lautan kapas mahaluas.

Sang pilot memberi tahu lewat corong bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Kathmandu. Burung besi itu dibelokkan ke kiri dan Himalaya hilang dari zona pandang. Ketinggian berkurang. Di bawah sana, jalan-jalan tanah berdebu membelah perbukitan hijau, menghubungkan permukiman-permukiman yang dibangun pada lanskap tak-masuk-akal. Pemandangan begini pernah saya lihat ketika naik ATR dari Wamena ke Yahukimo.

Melampaui perbukitan, pesawat pun memasuki Lembah Kathmandu. Bangunan-bangunan beton tersebar tak beraturan seperti mainan yang diserakkan oleh seorang anak yang sudah bosan bermain. Pesawat semakin merendah, lalu mendarat di Bandar Udara Tribhuvan.

56 comments

  1. Art of the Beat · Agustus 25

    Hey there! Thank you for another journey! I was singing out “I;m going to Katmandu, that’s really, really what I am going to do…” It is a Bob Seger song from the 80s I think. Really though how amazing to see those snowy peaks from your seat in the air plane. All the photos told a great story! I may never make it there either but it feels a little closer Have a great day and stay safe 🙂

    • morishige · September 9

      Hi! The pleasure is mine. And thanks for reading this post. 🙂 Right after reading the lyrics you gave, I browse the song and play it. It’s nice. I’m imagining myself a 70’s hippie wearing dashiki with flowers in my hair hitchhiking to Kathmandu. 😀

      It felt surreal. I thought it was the clouds. But, yeah. you know… 🙂

      Stay safe and well, M!

      • Art of the Beat · September 9

        How cool is that! You just made this old lady smile! I am imagining you in a dashiki as well!! Funny but I am learning Night Moves on guitar right now. Maybe I will have to put that song on my list to learn. 🙂

        So, really, what is it like? I know that altitude is miles above sea level. Does it make your head feel weird? Is it hard to breath? Sorry for asking as I wonder if I would ever be able to travel to places of such heights.

        Again, thank you for sharing. I feel bad, I have read many of your posts and have not marked or commented on them….bad old lady…sorry!!!

        Have a great day!!

      • morishige · September 13

        Why not? Fondness for a song will make us learn it faster. 😀

        Perhaps because I took the trekking really slowly, my body got acclimatized perfectly. In general, I didn’t encounter any problems. But I will go into detail when I tell the stories of my trekking.

        The pleasure is mine. Thank you for reading my posts. I know it’s hard to read the translation because, you know, it is hard for Google to translate phrases and expressions. 😀

      • Art of the Beat · September 13

        Hey there!
        Yes. That is true and probably why I am picking out songs that I love to learn.

        Very cool. I wonder about people that hike to places in extreme high altitudes. You are like the only person that I have made contact that has climbed as high as you have.,

        Thanks for sharing your posts 🙂 I feel bad. Looking for a suitable translator as there are a few other blogs I would like to go back and read but the google translator changes back to the bloggers home language when you click on the links in the posts or try to read older posts???
        hope all is well in your world. Take care 🙂

      • morishige · September 26

        Howdy! Sorry for the late reply. 🙂

        I didn’t have any problem with my head when I was there. Perhaps because I walked slowly my body got acclimatized perfectly. But I found it difficult to breathe in the night. The oxygen was too low that my lung have to go the extra mile to inhale the amount of oxygen it needs.

        The pleasure is mine. Thank you for reading my stories. 😀

        You have a great day too. 🙂

      • Art of the Beat · September 26

        Hey you! Don’t worry, ever! Really! I enjoy reading your posts. Really, you be writing a travel book, right?

        Oh good to know. I feel funny at higher altitudes or was that because I was high? No, last time we drove through this one peak I think it was a mile or so high, you feel the difference in pressure. I know my ears sure felt it.

        Hope you are doing well. Take care and be safe 🙂

  2. andromedanoholo · Agustus 25

    Saya pikir larangan merokok di pesawat nyaris mustahil dilanggar. Ternyata ada aja ya.

    Saya menunggu lanjutan kisahnya mas.

    • morishige · September 9

      Saya sangka juga demikian, Mas. 😀 Absurd banget kejadiannya.

      Siap, Mas Andromeda. 🙂 Dan terima kasih sudah membaca. 🙂

  3. grubik · Agustus 25

    Wingi neng bandara, saiki neng pesawat.., siap menunggu lanjutane…

    Bar mbatin wong Nepal koyo wong Mbantul trus dikira wong nepal: instant karma, mas… 😀

    • morishige · September 9

      Hahaha… Paling yo, Mas. 😀

      Siap, Mister. 🙂

  4. salsaworldtraveler · Agustus 26

    It is good you were sitting on the correct side of the plane to see the mountains.

    • morishige · September 9

      Yes, it felt good sitting on the correct side of the plane. 😀

  5. Fanny_dcatqueen · Agustus 26

    Aku penasaran dengan penumpang yg terkena serangan epilepsi tadi, apa akhirnya dibolehkan jalan?

    Pas baca deskripsimu saat pesawat take off, ya ampuuun sumpah mas, kangeeeen byangetttt mau terbang lagi. Sampe merinding, segitu pengennya aku terbang dan ngetrip 😦 . Harusnya skr ini aku udh mulai packing utk keberangkatan ke Iran September awal besok :D. Tapi jadinya di reschedule September THN depan ekwkwkwkwkwk. Udah sakaw berat itu 😀

    Iyaa yaa, bangunannya terlihat berantakan dari atas, ga teratur seperti bangunan2 Malaysia dan singapur kalo diliat dr atas. Tapi aku suka rumah2 di sana Krn bagian atapnya itu dibuat datar. Jd bisa utk tempat2 duduk menjelang sore ato malam :D. Aku punya mimpi kalo ntr merenov rumah, bagian atas aku buat datar aja, ga pake atap. Jd aku bisa bikin tempat duduk santai di sana dan taman kecil 😀

    • morishige · September 9

      Saya juga penasaran, Mbak. Tapi sepertinya dia nggak diizinkan berangkat waktu itu. Mungkin naik penerbangan berikutnya, atau malah batal terbang.

      Hehehe… Rencana jalan-jalan kayaknya memang harus ditunda dulu, Mbak Fanny. Apalagi sekarang banyak negara yang nggak mengizinkan WNI masuk ke negaranya karena statistik kita naik terus. 🙂

      Iya, Mbak. Layout permukimannya nggak beraturan, tapi rumahnya minimalis. Cocok banget kayaknya untuk daerah-daerah dingin kayak Puncak atau Tawangmangu. Bakal seru itu duduk-duduk sore atau makan malam di atap datarnya. 🙂

  6. Waduh masih nekad ya ngerokok di pesawat. Setelah diambil paspornya kira2 diapain ya. Dendakah?

    Seru memang cerita2 di pesawat itu

    • morishige · September 9

      Mungkin didenda, Phebie. Paling buruk di-ban nggak boleh terbang naik maskapai itu.

      Yoih. Kita cuma perlu memasang mata dan memerhatikan. 🙂

  7. Sandra J · Agustus 27

    I love the view from an airplane window. I have not flown in years. 🙂

    • morishige · September 9

      Thanks, Sandra. 🙂 The view is amazing indeed. 🙂

  8. Ranger Kimi · Agustus 27

    Ceritanya seru, Mas. Gak sabar nunggu kelanjutannya.

  9. Nasirullah Sitam · Agustus 27

    Hhahahahhaa, kok bisa-bisanya orang merokok di sini.
    Aku punya banyak kenalan orang Nepal, karena mereka kuliah di UGM. Pernah suatu ketika dia disuruh menebak nama kota dia, seakan-akan kotanya tidak dikenal oleh sebagian besar warga Indonesia.
    Aku bilang aja nama kota Pokhara, dan dia kaget karena jawabanku benar. Katanya, baru kali ini benar. kalau orang Indonesia tahunya Kathmandu saja hahahahahhah

    • morishige · September 10

      Itulah, Mas Sitam. Saya juga bingung. Barangkali baginya perjalanan sekitar 4 jam itu terlalu panjang dan susah untuk menahan keinginan merokok selama itu. 😀

      Kayaknya waktu sekolah dulu nama kota di Nepal yang sering disebut cuma ibukotanya itu ya, Mas Sitam. Mungkin karena itu orang Indonesia cenderung cuma tahu nama Kathmandu. 🙂

  10. ceritariyanti · Agustus 27

    Ditunggu lanjutan ceritanya, ABC or EBC ato yang lain?

    • morishige · September 10

      Ditunggu kelanjutannya ya, Mbak Riyanti. 🙂

  11. Rifan Jusuf · Agustus 27

    Mwantapp.. Berasa ikutan suasana naik pesawatnya.
    Waduuh ngrokok di pesawat, jann ora mikirr.

    Belum pernah ke Himalaya. Selalu ngiler kalau liat pemandangan Kathmandu dan gunungnya.
    Saya termasuk anak window seat juga, ada sebuah kesenangan tersendiri bisa melihat ‘preview’ suatu kota sebelum mendarat dari atas awan.

    Baru landing sudah menarik begini, kemanakah selanjutnya? ditunggu. 😀

    • morishige · September 10

      Duduk dekat jendela menyenangkan sekali ya, Mas? Jadi bener-bener kerasa kalau melayang di udara. 😀

      Terima kasih, Mas Rifan. Ditunggu kelanjutannya, ya. 😀

  12. CREAMENO · Agustus 28

    Kasian yang kejang 😭 huhu. By the way, itu yang merokok juga nggak dengar peraturan apa, ya. Kan jelas-jelas bisa kena denda kalau merokok di dalam pesawat plus bisa membahayakan orang banyak. Apalagi kalau asapnya sampai masuk ke kabiiiin huftttt 😥

    Terus saya ketawa baca perumpaman orang Nepal mirip orang Bantul dengan gaya sedikit berbeda hahahahaha. Jadi nggak heran kalau mas Morishige dikira mirip orang Nepal, kan mas dari Bantul juga 😆 hehehehehe.

    • morishige · September 10

      Iya, Mbak. Seumur-umur saya baru sekali itu lihat orang merokok dalam pesawat. Sebelum melihat kejadian itu, paling banter pelanggaran yang saya lihat cuma orang yang buka sabuk keselamatan sebelum lampu indikatornya dimatikan. 😀

      Hehehe… Yang beda bener-bener cuma “style”-nya aja, Mbak. Jangan-jangan…. 😀

  13. Agus warteg · Agustus 28

    Oh dalam pesawat ngga boleh merokok ya bang, kirain aku boleh. Tapi memang bahaya ya, siapa tahu bisa menyebabkan kebakaran.

    Itu orang yang kejang kejang di bandara kasihan ya, mana sendirian lagi. Harusnya paling ngga ada saudaranya yang mendampingi biar kalo terjadi kejang lagi ada yang membantu. Iya sih di bandara banyak orang lihat dan mungkin membantu, lha kalo di tengah jalan yang sepi, bisa bisa hilang barangnya.

    Ditunggu petualangan nya di Nepal. Soalnya baru datang jadi belum tahu apakah nemu batu infinity stone apa ngga.🤣

    • morishige · September 10

      Iya, Mas Agus. Bahaya banget. Apalagi kalau sampai nyundut orang. 😀

      Entahlah, Mas. Mungkin dia cuma bisa pergi sendirian. Mudah-mudahan orangnya nggak sampai kejang-kejang di tempat sepi.

      Ditunggu ya, Mas. 😀 Kalau ketemu infinity stone yang saya pikirin cuma satu: mengasahnya gimana? 😀

  14. Zam · Agustus 31

    aku baru tau ada yang nyemport aerosol itu.. untuk apa? 🤔

    menarik, merek Quechua ini aku juga baru tau akhir-akhir ini, dijual di Decathlon.. awalnya kukira merek Cina, rupanya Prancis punya.. 😆

    • morishige · September 10

      Buat mengenyahkan kuman dan serangga, Mas Zam. Tapi saya belum cari informasi sejak kapan peraturan itu mulai berlaku di udara Malaysia. Curiganya sih karena epidemi-epidemi yang dulu-dulu itu.

      Iya, Mas Zam. Prancis punya. Gerainya banyak banget di Malaysia dan Singapura. Di Jakarta kayaknya baru 1, deh. Tapi denger-denger mereka ada rencana buka cabang di kota-kota lain. Dan ternyata Quechua itu nama salah satu suku native American di Amerika Selatan, Mas Zam. Dulu pas baca salah satu seri Supernova-nya Dee lihat nama itu dalam ceritanya. 😀

  15. travelingpersecond · Agustus 31

    Nah….sebaran pemukiman warga itu yg otentik…..masih keinget sampai sekarang…..trus pas turun, apron shuttle busnya mirip kopaja kita…..sangat otentik….Hahaha.

    • morishige · September 10

      Iya, Mas. Shuttle bus-nya bikin inget shuttle bus di Bandara DEO Sorong. 😀

      • travelingpersecond · September 11

        Loh, Sorong podo yo apron shuttle bus ee……hihi….pantesan mereka njaluk mardiko mas……lha bedo adoh karo jakarta…..mugo mugo, saiki wes apik yo Sorong……😁

  16. Agung Pushandaka · Agustus 31

    Keren mas. Sayang saya membaca tulisan ini memakai ponsel, jadi tak bisa menikmati fotonya dengan enak.

    Ngomong²,, nasib kita sama mas. Saya juga pernah dikira orang Filipina, Jepang dan Cina, bahkan oleh warga lokal saat saya ada di tiga negara itu. Saya jadi mikir, muka saya sebegitunya amat ya.

    Haha.

    • morishige · September 10

      Makasih, Mas Agung. 😀

      Mungkin muka kita ini benang merah, Mas Agung. Jadi pergi ke tempat-tempat lain bisa menyaru dengan karakter muka lokal. 😀

  17. andriekrist5 · Agustus 31

    Yang dua orang pemuda kebingungan didepan pintu itu aku banget. Saat pertama kali naik pesawat dulu, suka bingung apa udah boleh masuk apa belum. Mungkin kalau gak ada yang masuk didepan pintu yang ditungguin itu juga gak bakal masuk, pengalaman deh.

    • morishige · September 10

      Pengalaman pertama memang selalu bikin deg-degan, Mas Andrie. Hal-hal yang semestinya kelihatan aja bisa nggak kelihatan karena grogi. 🙂

      Terima kasih sudah mampir, Mas. Btw, saya sudah main ke blognya Mas Andrie tapi tak bisa komentar karena harus punya akun Google/blogger. 🙂

  18. bara anggara · Agustus 31

    full of drama yaa.. saya sih pasti kebayang-bayang kalau ngeliat langsung orang kejang-kejang itu,, gak tega dan ngeri gitu..

    himalaya itu sekilas memang mirip sekumpulan awan ya,, hanya saja sudut-sudut lancipnya menjadi pembeda, kalau tak jeli pasti tertipu, apalagi buat orang-orang tropis..
    ditunggu kelanjutan ceritanya bung..

    • morishige · September 10

      Saya juga perih lihatnya, Bung. Petugas di gerbang keberangkatan juga agak lambat responsnya. Tapi untung orangnya nggak kenapa kenapa.

      Iya, Bung. Mirip awan memanjang. Pemandangan yang nggak lazim buat kita yang tinggal di daerah tropis. 🙂 Ok, Bung. 😀

  19. omnduut · September 1

    Salah satu temenku di SD ada yang epilepsi juga. Walaupun gak pernah lihat dia kumat, dulu denger cerita temen-temen aja kayaknya itu mengerikan banget. Terakhir nonton Reply 1988 baru tahu kalau saat penderitanya kumat, dapat diatasi dengan beberapa cara. Kasihan juga kalau emang dia batal terbang gara-gara itu ya. Tapi memang membahayakan juga, nggak hanya ke dia tapi penumpang lain in case menghadapi situasi genting.

    Netijen kecewa. Coba foto rambut bak seorang Samurai itu dipamerin hahaha biar bisa ngeliat langsung 😀
    Ditunggu sambungan catatan perjalanannya ya.

    • morishige · September 10

      Sebelum ini saya kayaknya baru sekali lihat orang yang epilepsinya kambuh, Om. Sudah lama banget. Di sebuah masjid di Jambi waktu itu. Tapi segera ditolongin sama orang-orang di dekatnya. Kalau kambuhnya di pesawat, bakal kerja keras itu nanti awak kabinnya.

      Hehehe… Cuma rambutnya lebih sering kayak Bob Marley nanggung, Om. Gimbal-gimbal tipis-tipis alami. Kayak samurai cuma kalau habis mandi aja. 😀

      Siap, Om. 😀

  20. rivai hidayat · September 2

    aku baru tahu kalau ada orang yang merokok di pesawat, padahal itu dilarang sangat berbahaya. Sungguh tidak punya etika dan pikiran.
    Aku juga pernah ketemu orang yang mengalami epilepsi. Terlihat kasihan dan memang mesti segera ditolong.

    Itu desain kota dan bangunan-bangunan sangat menarik. Bentuknya tidak beraturan dan tidak biasa. Beda dengan kebanyakan yang biasa terlihat simetris.

    Ditunggu kelanjutannya mas 😀

    • morishige · September 10

      Sama, Mas. Saya juga baru sekali itu melihat langsung ada yang kedapatan merokok di toilet kabin. 😀

      Yang bikin ngeri itu, kalau nggak cepat ditangani bisa aja lidahnya kegigit sendiri. Kalau sudah begitu bisa gawat. 😦

      Susunan bangunan di Kathmandu itu kalau dari sudut yang pas jadi tampak menarik memang, Masvay.

      Ok, Mas. 🙂

  21. ysalma · September 2

    Serasa ikut dalam perjalanannya, mengejar pesawat, ngantri, yg dikagetkan penderita epilepsi dan dikira Nepali. Berarti wajahnya bisa membaur dengan baik selama perjalanan itu mas.
    Foto-foto bagusnya membuat cerita perjalanannya semakin terasa nyata bagi yg baca.
    Ditunggu episode petualangan selanjutnya di Kathmandu.

    • morishige · September 10

      Kayaknya wajah ini bisa jadi poin plus kalau ngelamar jadi agen rahasia untuk ditempatkan di negara-negara Asia, Mbak. 😀

      Terima kasih, Mbak Salma. 😀

  22. Payjo · September 3

    Berdoa semoga semua kisah perjalanan di blog ini menjadi novrl. Amin.

  23. Laleh Chini · September 4

    World is moving forward.

    • morishige · September 10

      It is indeed. Thanks for the beautiful words, Laleh. 🙂

  24. #justinindyo · September 9

    Lucky you Mas Morishige, disambut Himalaya saat pesawat hendak landing ke Tribhuvan. Langit cerah, dan drama asap di pesawat, lika liku perjalanan ya.

    Btw, yang epilepsi, semoga baik-baik aja ya. Pertongan pertama pada orang epilepsi memang jarang yang tahu, padahal mungkin bisa bantu mengurangi efek samping kejang itu. Penasaran, dia jadi terbang gak yah…

    • morishige · September 10

      Iya, Mbak Justin. Perjalanan yang nggak akan terlupakan. 🙂

      Waktu datang, petugas medisnya juga saya lihat agak kebingungan, Mbak. Ada dua orang, tapi dua-duanya kayak bingung gitu mau ngapain. Semoga, Mbak. Kayaknya masnya nggak ikut penerbangan itu, deh. Mudah-mudahan akhirnya bisa dialihkan ke penerbangan berikutnya.

  25. ainunisnaeni · 22 Days Ago

    bisa dibilang perjalanan yang penuh drama disini ya
    biasanya kalau udah berurusan sama connecting flight memang bikin ketar ketir, apalagi jika waktu yang diambil mepet banget.
    yaampunnn penumpang yang ngerokok ini macam kenek di angkot aja ya hahaha, muka tanpa rasa bersalah gitu. santuy banget dah

Tinggalkan Balasan ke Ranger Kimi Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s