Menuju Thamel

Akhirnya saya menapakkan kaki di Bandar Udara Tribhuvan, Kathmandu. Di sebelah sana, pesawat ATR bernomor seri 9N-AJO sedang berbelok. Baling-balingnya sudah berputar kencang—dan nanti akan semakin kencang menjelang digeber di landasan pacu. Pesawat itu milik maskapai yang namanya barangkali paling spiritual: Buddha Air.

Udara dingin ujung musim gugur menyelinap lewat pori-pori jaket Rei yang membalut tubuh saya. Tak terasa sudah cukup lama jaket usang ini menjadi kawan bertualang. Jahitannya mulai lepas, warnanya mulai pudar; digerus angin gunung, ditiup bayu samudra.

Jaket ini dihibahkan oleh seorang sahabat, pada suatu malam musim kemarau tahun 2013, di sebuah indekos dekat Stasiun Pasar Senen. Waktu itu kami baru pulang dari Pekan Raya Jakarta. Di stan Rei PRJ, kawan saya itu menemukan jaket anyar. Desainnya elegan, cocok untuk ke kantor. Jaket lawasnya pun dapat kesempatan menjalani peran sejatinya sebagai penahan dingin di alam bebas.

Keesokan harinya jaket ini menemani saya naik TransJakarta ke Kampung Rambutan, menumpang bus ke Cibodas, lalu menelusuri setapak sempit, lembap, dan terjal Gunung Pangrango. Ia, bersama selapis kaos oblong, sepotong kemeja flanel, dan jaket The North Face palsu compang-camping yang kelihatan seperti habis dicakar macan, menghangatkan tubuh saya yang menggigil menghadapi suhu 3 derajat Celsius Alun-alun Mandalawangi. Berpuluh-puluh purnama kemudian, kini, ia melindungi saya dari hawa Lembah Kathmandu yang terlampau sejuk.

>Buddha Air 9N-AJO

Bendera Nepal berkibar-kibar di pucuk bandara. Ubin yang melapisi dinding luar Tribhuvan mengingatkan saya pada Bandara Soekarno-Hatta. Warnanya juga merah bata, tapi lebih gelap. Bersama para penumpang lain, saya memasuki bandara lalu tiba di aula besar imigrasi. Beberapa komputer dijejerkan pada dinding yang menghadap apron. Itu bukan fasilitas internet gratis melainkan perangkat untuk mendaftar visa on-arrival. Saya mengantre di depan salah satunya, di baris ketiga.

Sebentar saja saya sudah berada di baris kedua. Perempuan Nubian di depan saya agak kesusahan mengisi formulir aplikasi visa. Saya bisa lihat bahwa ia luput mengisi salah satu kolom. Akibatnya, sistem belum bisa mengakhiri proses aplikasinya. Tapi sang perempuan tak menyadarinya. Kalau begitu terus pasti akan lama.

Saya mendekat dari belakang, menjaga jarak sopan, lalu berkata, “Mungkin Anda perlu mengisi kolom yang itu terlebih dahulu?”

Ia memutar kepala sedikit ke belakang, mencerna informasi itu, berterima kasih, lalu mengisi kolom yang saya maksud. Selang sebentar, prosesnya selesai dan giliran saya tiba. Satu-satu saya lengkapi informasi yang diperlukan untuk aplikasi visa. Sesaat setelah saya memencet tombol submit, mesin pencetak mengeluarkan secarik kertas untuk dibawa ke loket Rastriya Banijya Bank.

“Visa untuk berapa lama?” tanya perempuan tua berkacamata yang mengurus tansaksi biaya visa saya.

“Satu bulan,” jawab saya.

Tapi ia tak mendengarkan. Monitor komputer mendistraksinya.

“Maaf? Berapa lama?”

“Tiga puluh hari. Satu bulan,” saya ulangi.

Ia merespons itu dengan memencet tombol-tombol di tuts komputernya. Beberapa lembar kertas tercetak. Ia memberikan beberapa helai untuk dibawa ke imigrasi. Saya tebus kertas-kertas itu dengan selembar 50 dolar Amerika Serikat.

Saya tak tahu sekarang jam berapa. Mujurnya, di pojok bukti pembayaran visa ada rekaman waktu transaksi. Sekarang sudah beberapa menit menjelang jam 1 siang. Waktu Nepal, tentu saja. Di Indonesia bagian barat kini mestilah sudah lewat sekitar lima belas menit dari jam 2. Meskipun masih siang, nuansa warna di aula imigrasi terasa seperti “jam-jam emas” di wilayah tropis. Warna Nepal sesyahdu warna Kodak.

>Apron Bandara Tribhuvan

Saya mengamati sekitar. Ada beberapa loket yang buka, tapi antrean-antrean tak terlalu panjang. Barangkali karena para pendatang masih berjibaku di mesin pendaftaran visa dan di kasir. Di sebelah sana, seorang perempuan muda berambut pendek dan berkacamata, yang tampaknya seumuran saya, sedang menyerahkan paspor berwarna gelapnya ke petugas. Temannya yang berambut pirang menunggu giliran di belakang.

Tibalah giliran saya. Sang petugas menerima paspor dan nota pembayaran visa dari saya, lalu memeriksanya. Terus, ia bertanya ramah soal aktivitas apa yang akan saya lakukan di Nepal.

Sebetulnya saya belum punya rencana pasti hendak melakukan apa saja atau akan pergi ke mana saja. Semua masih tentatif. Yang jelas, saya ingin menelusuri setapak di pegunungan—dan ke Lumbini. Untuk mempercepat urusan, saya sebutkan saja yang pertama terpikirkan dalam kepala.

“Mau ke Annapurna Base Camp,” ujar saya.

Mendengar itu, sang petugas tersenyum, menempelkan visa Nepal ke paspor saya, lalu menyerahkannya sambil mengucapkan, “Selamat datang di Nepal.”

Saya sudah di Nepal. Sureal.

Saya bergegas ke konveyor bagasi. Tas Eiger saya sudah tergeletak di pojok. Ransel itu dibungkus penutup warna kuning dengan garis-garis kontur hitam dan angka-angka yang menandakan ketinggian. Saya buka kain penutup itu, saya gulung, lalu saya taruh di saku kecil di bawah kepala keril. Kemudian saya panggul tas gunung itu menuju beranda terminal kedatangan.

Di ambang, saya dihampiri seorang pria yang menawarkan jasa transpor ke kota. Seperti biasa, saya jawab tawaran itu dengan senyuman, sembari berharap ia bisa menangkap sinyal penolakan halus dari saya. Hidup di Indonesia, saya sudah terlatih untuk tidak tergesa-gesa mengambil keputusan di terminal, stasiun, atau bandara. Tenangkan diri dulu, pelajari pilihan-pilihan. Tapi pria itu tak jua beranjak pergi.

“Saya perlu ke ATM,” ujar saya, berharap ia akan menjauh.

“OK. Saya antarkan Anda ke ATM,” ujarnya. “Dekat sekali. Di pojok sana.”

Saya berjalan mengikutinya di belakang. Tapi, beberapa langkah kemudian, saya melipir ke arah jalan—kabur. Orang itu mestilah mencari saya. Gestur saya ini kasar barangkali. Tapi saya benar-benar sedang perlu privasi; saya baru menyelesaikan perjalanan melintasi sekitar 30 derajat garis lintang dari selatan garis khatulistiwa ke utara Tropic of Cancer.

Sendirian, saya cari ATM itu. Tapi, entah karena rasa capai atau lapar yang teramat sangat, saya gagal menemukannya. Saya pun kembali ke area kedatangan untuk bertanya pada petugas berseragam.

“Di balik sana,” ujarnya.

Saya ikuti instruksi sang petugas. Langkah saya kembali terhenti; orang yang menawarkan jasa transpor tadi kembali menghampiri. Dia belum menyerah rupanya.

“Jadi, bagaimana?” ia bertanya.

Biar ia tak bertanya lagi, saya jawab saja bahwa saya masih menunggu teman. Saya bohong. Tak ada kawan yang saya tunggu, tentu saja. Saya juga tak membuat janji dengan siapa pun di Kathmandu. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya saya tak bisa juga dibilang berbohong; selalu ada orang-orang beransel di bandara yang berpotensi jadi kawan. Dengan mereka, yang entah masih di mana, saya bisa berbagi ongkos taksi ke kawasan Thamel. (Jika nasib berkata lain dan saya tak menjumpai mereka, saya masih bisa jalan kaki ke luar bandara dan mencegat angkutan umum.)

“Teman Anda tiba jam berapa?”

Saya berlalu tanpa menjawab pertanyaannya. Energi saya sudah hampir habis. Andai saja ia tahu bahwa saya belum makan dengan layak sejak tadi malam. Pria itu pun menggerutu, lalu balik kanan untuk mengetuk pintu rezeki berikutnya.

Ternyata ada dua bilik ATM di pojok dekat Airport Civil Aviation Office. Karena terlalu banyak manusia, bilik-bilik ATM itu luput dari perhatian saya. Saya masuk ke salah satu bilik. Tansaksi gagal. Lalu saya pindah ke bilik sebelah. Transaksi gagal. Lagi. Masih penasaran, saya kembali ke bilik pertama. Gagal lagi.

Sepertinya saya menukarkan dolar saja. Lembaran-lembaran uang dari Dunia Baru itu saya simpan dalam sebuah tempat khusus dalam tas Quechua. Saya buka tempat khusus itu—tak ada uang di sana. Jantung saya mulai berdebar-debar. Prasangka mulai muncul. Jangan-jangan waktu saya tidur di pesawat tadi penumpang yang duduk di samping saya membongkar tas, membuka tempat itu, lalu mengambil uang yang ada di sana?

Saya coba rogoh lagi tas Quechua itu. Ke sana kemari jemari saya bergerilya sampai ke sudut-sudut tersempit… dan ketemu! Lembaran-lembaran uang itu masih mulus bak baru saja diambil dari ATM.

Oh, prasangka. Saya mesti berlatih lebih keras lagi agar bisa menghancurkan tembok prasangka.

Perjalanan ke Thamel

Usai menukar uang, saya mengedarkan pandangan ke sekitar beranda bandara. Dekat ATM sana ada dua orang beransel yang sedang mengobrol. Salah seorang di antaranya adalah perempuan berambut pendek dan berkacamata yang saya lihat di imigrasi tadi. Lawan bicaranya adalah seorang laki-laki kulit putih beransel Quechua dan bertopi baret ala Pak Tino.

Saya hampiri mereka.

“Hai! Kalian mau ke Thamel?” saya bertanya.

Pejalan seperti mereka kemungkinan besar akan mencari penginapan di Thamel, kawasan backpacker legendaris di Kathmandu yang sejarahnya bisa ditarik sampai ke setengah abad lalu, ke masa-masa ketika para hippie berambut panjang memilih untuk menyebarkan cinta ketimbang perang, menyelipkan bunga ke daun telinga, lalu mengangkat ransel demi mencari kebijaksanaan Timur. Kata “Thamel” masuk ke dalam pustaka pengetahuan saya ketika membaca Into Thin Air, entah semasa kelas 3 SMP atau 1 SMA. Agensi pendakian yang memandu Jon Krakauer—sebagaimana para petualang lain yang hendak mendaki puncak-puncak beku Himalaya—menjadikan kawasan Thamel sebagai tempat transit sebelum melakukan perjalanan panjang menuju base camp.

“Ya,” jawab perempuan berambut pendek.

“Mau berbagi ongkos taksi?” imbuh saya.

Kedua pejalan itu saling pandang lalu tersenyum riang.

“Ya! Tentu. Kenapa tidak?!” ujar laki-laki bertopi itu. Sang perempuan juga mengangguk-angguk.

Lalu kami pun berkenalan. (Kedua orang itu ternyata belum saling menyebutkan nama.) Perempuan berambut pendek itu bernama Yi. Pelafalannya seperti menyebut huruf “i” dua harakat. Ia dari Amerika Serikat. Laki-laki bertopi itu dari Argentina. Namanya Ezek. Ezequiel.

“Ezek? Seperti tokoh dalam alkitab?” Yi bertanya.

“Ya. Aku tak habis pikir kenapa bapakku memberiku nama ini,” jawabnya sambil tersenyum. “Karena yang dilakukan Ezekiel adalah menghancurkan (Yerusalem).”

Kami semua tertawa.

“Ada satu kawan lagi,” ujar Yi sambil menunjuk ke arah ATM. “Ia sedang ambil uang.”

Sejurus kemudian kawan yang dimaksud datang. Ia berambut panjang pirang pirang. Posturnya sedikit lebih pendek ketimbang saya dan Ezek, tapi lebih tinggi sedikit dari Yi. Ia yang tadi saya lihat mengantre bersama Yi di imigrasi. Namanya Lily. Sama seperti Yi, ia juga dari Amerika Serikat.

Memanggul ransel masing-masing, kami berjalan ke arah pintu kedatangan untuk mencari loket taksi bandara. Lalu seseorang menghampiri kami.

“Delapan ratus rupee,” ujarnya. Artinya, masing-masing hanya perlu membayar 200 rupee, sekitar Rp25 ribu. Tentu kami menerima tawaran itu.

Saya dan kawan-kawan kemudian mengikuti pria tersebut menuju taksinya. Mobil produksi Tata Motors itu kecil saja, seperti Daihatsu Ceria lawas dengan moncong lebih datar. Warnanya abu-abu metalik. Ransel-ransel kami disusun di bagasi mungil belakang. Lily duduk di depan; Yi, Ezek, dan saya duduk di belakang. Begitu semua pintu mobil ditutup, taksi itu melaju lincah meninggalkan bandara.

“Kalau tidak bertemu kalian, aku sepertinya akan naik bus saja ke Thamel,” ujar saya ketika taksi tiba di pertigaan antara jalan raya dan jalan masuk bandara.

“Mesti akan makan waktu berjam-jam,” ujar Yi terkekeh.

Ya, mungkin saja.

Kathmandu berdebu. Jalanannya kecil namun penuh kendaraan. Lebih banyak mobil lawas yang beredar ketimbang mobil baru. Royal Enfield di mana-mana. Kabel-kabel listriknya lebih semrawut ketimbang di Phnom Penh, Saigon, atau Hanoi.

“Jadi, kalian mau trekking ke mana?” Yi bertanya pada kami bertiga.

Lily belum punya rencana. Ezek juga. Saya, yang masih bingung, menjawab, “Rencananya mau ke ABC.”

Maret lalu, ketika rencana Nepal pertama kali muncul dalam kepala, saya malah sama sekali tak punya rencana menelusuri jalur lintas alam di Nepal. Saya cuma mau menenangkan diri di Negeri Atap Dunia itu. Barangkali sepekan di Kathmandu, terus seminggu di Pokhara, lalu sekitar tujuh hari di Lumbini, kemudian beberapa hari di Nagarkot. Lalu, saya mulai membaca cerita-cerita perjalanan melewati trek-trek “rumah teh,” tentang Poon Hill, Annapurna Base Camp, Annapurna Circuit, Mardi Himal, Langtang, Everest Base Camp, Upper Mustang…. Saya pun jadi tertarik untuk trekking. Tapi, sampai sekarang, ketika ditanya Yi dalam perjalanan menuju Thamel, saya sebetulnya belum yakin hendak ke mana. Yi sudah yakin. Ia akan mengitari Sirkuit Annapurna selama lebih dari dua minggu.

Semakin jauh dari Tribhuvan, yang berarti semakin dekat pula ke Thamel, jalanan semakin ramai. Lalu taksi itu dibelokkan ke kiri oleh sang sopir. Di balik jendela, saya melihat dinding bata merah yang entah memagari apa. Seterusnya, mobil melaju di antara toko peralatan alam-bebas yang akan membuat para pendaki gunung Indonesia meneteskan saliva.

Taksi pun berhenti di sebuah perempatan. Sudah sampai di Thamel. Kami mengumpulkan rupee untuk membayar ongkos. Satu per satu kami mengambil ransel di bagasi belakang, di antara kendaraan dan manusia berpakaian tebal yang lalu-lalang.

Yi ternyata sudah memesan penginapan lewat aplikasi daring. Kami mengucapkan selamat tinggal padanya dan membuat janji akan bertemu lagi. Lily, Ezek, dan saya belum tahu akan menginap di mana. Mujurnya, ini masih sore. Kami masih punya banyak waktu untuk mencari hostel.

>Kabel listik semrawut di Thamel

“Ada penginapan menarik dekat sini,” ujarnya sembari melihat ponsel. Di antara kami bertiga, cuma Lily yang punya sambungan internet. “Sudah kutandai,” imbuhnya. “Ayo!”

Ezek dan saya pun mengikuti Lily berjalan ke selatan. Dekat perempatan, beberapa orang dengan helm proyek sedang berkumpul di sekitar tiang listrik. Salah seorang di antaranya memanjat tiang itu dengan peralatan sekadarnya, berkutat dengan kabel simpang-siur.

“Mereka mungkin perlu waktu ribuan tahun untuk mencari kabel yang mesti diurus,” ujar saya berkelakar.

Kami bertiga terkekeh.

51 comments

  1. CREAMENO · September 8

    Seruuuu seruuu! Lanjutkan mas ceritanyaaa 😂 hehehehe. Seru banget yah bisa ketemu teman baru di-perjalanan. Sesuatu yang rasanya teramat sangat jarang saya lakukan. Jadi kalau jalan-jalan hanya interaksi sama pasangan saja 🙈 bahkan mau bayar taxi pun nggak bisa patungan. Ditelan sendiri deh rasa mahalnya 😩

    Nggak sabar baca cerita pendakiannya, mas. Selalu kagum bacanya sebab mendaki sampai ABC butuh waktu berhari-hari sampai berminggu minggu, which is beda jauh sama pendakian di gunung Bromo yang cuma beberapa menit naik anak tangga hahahaha 😂

    • morishige · September 10

      Iya, Mbak. Seru banget ketemu sama teman-teman baru dalam perjalanan. 😀 Senang banget bisa dengerin cerita-cerita mereka–dan berbagi ongkos tentunya. 😀

      Ditunggu ya, Mbak Eno. 🙂

      • CREAMENO · September 14

        Menunggu dengan sabar 😂 kayaknya sebentar lagi akan tayang, ya kan mas? Biasanya setiap minggu tayangnya 😆 *pembaca garis keras*

  2. Philip Edwards · September 9

    ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️

  3. andromedanoholo · September 9

    Selalu ngga sabar menanti cerita selanjutnya, Mas.
    Btw ternyata kabel semrawut bener-bener semrawut itu ya.

    Aku mau nanya, Mas. Gimana caranya Mas Mori bisa benar-benar ingat detil kecil di setiap perjalanan?Apa selalu membawa notes kecil untuk tulis poin-poin menarik?

    • travelingpersecond · September 9

      Harusnya aku menjajal pesawat pesawat kincir mereka …pasti seru….hihihi.

      • morishige · September 10

        Hooh, Mas. Paling dredeg disko sithik. 😀

      • travelingpersecond · September 11

        Hahaha…Btw, Nepal ncen otentik yo mas…..didelok ngisor, nduwur, samping, tetep orisinil…..katokh tenan njenengan sesasi nang kono…..weeisss jiann😁

    • morishige · September 10

      Semrawutnya pol, Mas Andro. 😀

      Iya, Mas. Saya selalu bawa catatan kecil dan sebisa mungkin mencatat kejadian yang dialami setiap hari. Untuk merekoleksi dan menceritakan latar, saya biasanya juga membuka-buka lagi foto-foto dan klip-klip video yang saya ambil dalam perjalanan itu. 😀

  4. Nasirullah Sitam · September 9

    Selalu menyenangkan kalau bisa bertemu dengan kawan baru, berbagi biaya transportasi, dan tentunya mendapatkan informasi-informasi di sekitar tempat yang kita kunjungi. Menarik untuk melihat cerita lanjutan tentang Katmandhu

    • morishige · September 10

      Benar, Mas Sitam. Ketemu kawan-kawan baru bagi saya benar-benar memperkaya sebuah perjalanan. 😀

      Siap, Mas. 🙂

  5. Zizy Damanik · September 9

    Solo traveling memang menyenangkan karena bisa ketemu teman2 baru.
    AKU TUNGGU KELANJUTAN CERITAMU MASSS….!

    • morishige · September 10

      Ok, Mbak Zizy. 😀 Dinantikan, ya. 😀

  6. rivai hidayat · September 10

    yang selalu menyenangkan ketika jalan sendirian, ketemu dengan orang baru dan berbagi ongkos transportasi. Kemudian merencanakan perjalanan bareng. Jadi ga sabar nunggu kelanjutan cerita nepal-nya mas 😀

    Aah, itu kabelnya ternyata lebih parah daripada di indonesia. –“

    • morishige · September 11

      Mendengarkan cerita dari kawan-kawan baru itu menyenangkan sekali, Masvay. Rasanya kayak membuka zona baru dalam game Age of Empire. 😀

      Iya, Mas. Kayaknya saya belum pernah ketemu tiang listrik yang sekusut itu di Indonesia. Kusut pun biasanya bukan kabel, tapi tali bekas spanduk. 😀

      Ditunggu kelanjutannya ya, Masvay. 😀

  7. bara anggara · September 10

    Bung Moris adalah travel blogger di Indonesia yang “paling traveler” menurut saya..

    Gaya perjalanan bung Moris mengingatkan saya terhadap para traveler (yang kebanyakan bule) yang seringkali saya jumpai di Flores, Alor dan sekitarnya pada akhir 2011 sampai akhir 2013. 2 tahun ketika saya tinggal di NTT dan setiap bulannya bertugas ke berbagai sudut bumi flobamorata. Dalam perjalanan tugas itu, yang sesekali saya selingi dengan jelajah alamnya di kala akhir pekan tiba, saya berjumpa banyak traveler. Saya mendengar banyak cerita-cerita mereka, tentang bagaimana mereka menjejak satu tempat ke tempat lainnya, bagaimana mereka meninggalkan rumah sampai berbulan-bulan bahkan hitungan tahun, bagaimana mereka menemukan teman-teman baru di perjalanan, bagaimana berbagi ongkos kendaraan dan penginapan, dan hal-hal baru lainnya yang kala itu baru saya tahu.

    Cerita-cerita itu terpatri dalam benak saya, menjadikan bayangan saya tentang traveler ya seperti itu. Sejak tinggal di NTT pula, jiwa petualang saya mulai muncul.

    • morishige · September 13

      Wah, justru saya yang salut sama perjalanan-perjalanannya Bung Bara. 🙂 Membaca tulisan-tulisan terkini Bung bikin saya penasaran sama cerita-cerita yang diposting lebih awal. 😀

      Setiap orang, entah warga setempat atau pejalan, yang kita temui dalam perjalanan bagi saya seperti buku-buku yang menarik untuk dibaca, Bung. Mereka punya cerita masing-masing yang kalau digali bisa membantu kita mencari makna–juga menginspirasi kita tentunya. 🙂

      • rivai hidayat · September 13

        Aku selalu suka membaca cerita perjalanan kalian berdua. Cerita kalian itu bisa membawa pembacanya (termasuk aku) larut dalam ceritanya. Semangat yaa buat kalian untuk terus bercerita 🙂

  8. Agus warteg · September 10

    Saya ketawa pas baca bang Morishige ditawari naik taksi malah kabur pas mau ke atm. Celingak-celinguk nyari ATM ngga ketemu, setelah tanya petugas lha kok ketemu lagi sama supir taksi itu yang ditinggal kabur.😂

    Enak memang kalo bisa patungan, jadinya ngirit ya bang.

    Jadi sebenarnya ke Nepal cuma buat refreshing saja, belum ada rencana mau nyari batu infinity stone ya? 🤔

    • morishige · September 13

      Hehehe… Terpaksa saya keluarkan jurus terakhir (kabur) itu, Mas Agus. 😀 Untungnya, kayaknya itu memang keputusan tepat. Akhirnya bisa ketemu kawan-kawan baru. 🙂

      Sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui, Mas Agus. Refreshing tapi kalau nemu infinity stone nggak nolak. 😀

  9. ceritariyanti · September 11

    Rasanya setiap orang yang baru pertama kali ke Kathmandu akan ngeliat kabel yang kusut itu lalu membicarakannya (dalam hati kalo sendirian 😀 )
    By the way, jadi ke Lumbini? Uh, tempat paling asik di daerah Terai… rindu heningnya, rindu duduk di bawah pohon Boddhi…

    • morishige · September 13

      Barangkali iya, Mbak. Rasanya mustahil untuk nggak mengomentari kabel-kabel kusut itu. 😀

      Tentang Lumbini, dinantikan di postingan-postingan selanjutnya ya, Mbak. 🙂

  10. salsaworldtraveler · September 11

    Getting from the airport to Thamel was an adventure. When were you in Nepal? I was there in 2016. Electricity operated only about 10 hours a day and traffic was terrible. Almost no traffic lights. Trekking to ABC sounds great. Can’t wait for more posts. 😄

    • morishige · September 13

      It was indeed. I was there last year in 2019, November-December. Wow, 10 hours a day? Was that in Kathmandu? When I was there the electricity had been fully operated 24/7. But traffic light was still almost nonexistent. I only saw one traffic light working, but there was no red and green, only the blinking yellow. 😀

      • salsaworldtraveler · September 25

        The lack of power was in Kathmandu and Pokara.

        I was also surprised that Tribhuvan Airport was located in the center of the city.

  11. omnduut · September 11

    Nemu temen seperjalanan yang mau share biaya transportasi itu rezeki banget, terutama kalau lagi jalan sendirian. Lumayan menghemat 🙂

    Soal “penguntit” di bandara, sama kayak India haha, berusaha dapetin pelanggan dengan ngikutin ke sana ke mari haha. Pengen euy bisa ke Nepal, cuma kalau gak ke Himalaya agak-agak “rugi” kayaknya.

    • morishige · September 13

      Iya, Om. Selisihnya bisa buat makan beberapa kali. 😀

      Mesti pasang tampang cuek ya Om supaya bisa lepas dari incaran. 😀 Untungnya sudah lumayan terbiasa menghadapi calo terminal bus. 😀

      Daya tariknya Nepal memang trekking. Tapi overland Nepal seru juga, sih, Om.

      • omnduut · September 14

        Gitu ya. Aku tertarik dengan tulisan banyak pejalan yang bilang Nepal itu fotogenic. Mau dilihat dari sudut manapun jadinya cakep haha. Nah secara aku bukan anak gunung dan sukanya dengan kota-kota tua aja, jadi ya paling eksplor kotanya aja.

  12. Phebie | Life Essentially · September 11

    Ya ampun mas lihat kabelnya pusing saya…..Gimana yang membetulkan ya..
    Jadi terkenang jaman-jaman suka solo traveling kalau baca cerita mas Morishige…
    Lanjut terus ceritanya mas…:))

    • morishige · September 13

      Iya, Phebie. Nggak jelas ujung dan pangkalnya di mana. 😀

      Wah, selamat bernostalgia. 😀 Ditunggu ya lanjutannya. 😀

  13. Fanny_dcatqueen · September 11

    Gila semrawut amat itu kabeeel hahahahahah.

    Aku msh galau ke Nepal ini. Sbnrnya pengeeeen bangettt. THN depan itu akhir THN 2021, aku sbnrnya udh book tiket ke Bhutan. Itu transit di Nepal tp cuma sehari, pas pergi, dan sehari pas pulang. Kalo cuma utk kliling kotany doang si cukup, tapi Nepal spertinya menarik banget yaaa. Masalahnya Krn itu pake travel, secara Bhutan wajib pake travel berlicensed (kayak Korut), jadi fokus wisatanya pasti ke si Bhutan. Jadi kepikiran apa aku extend pas pulangnya, biar bisa jelajah Nepal :D.

    Di sana murah2 mas? Makanannya enak kah? 🙂

    • morishige · September 13

      Kalau punya waktu lowong, di-extend saja beberapa hari, Mbak Fanny. Sekitr 3-4 hari sudah cukup sepertinya buat keliling-keliling Kathmandu dan kota-kota terdekat.

      Akomodasinya sangat terjangkau, Mbak Fanny. Tempat tidur di kamar dormitori mulai 300-an rupee, sekitar 3USD. Kamar privat biasa di bawah Rp100.000 per malam masih banyak. Makanannya beragam, mulai dari yang bercorak Hindi sampai Tibetan. Harganya murah dan porsinya banyak. 😀

      • Agus warteg · September 17

        Wah murah murah tuh mbak Fanny, semoga setelah pandemi ini berlalu mbak Fanny bisa pergi ke Nepal untuk refreshing dan siapa tahu nemu batu infinity stone.😂

  14. #justinindyo · September 12

    Alur ceritanya panjang yhaaa bikin gregetan. Pengin banget cus diceritain soal Thamel. Kangen banget asli! Btw ternyata 4 orang itu semua solo ya? Eh kecuali duo amrik itu ding. Asik banget! Tambah lagi orang Nepal itu friendly banget, pasti kamu pulang pulang punya banyak teman deh Mas. Buruan lanjutkan yah ceritanya.

    • morishige · September 13

      Semuanya baru ketemu di bandara ternyata, Mbak Justin, termasuk duo Amrik itu. Jadi kita berempat bener-bener perfect stranger. 😀

      Oke, Mbak. Ditunggu lanjutannya, ya. 🙂

  15. grubik · September 12

    Dulu waktu sering ngebis, kalo di terminal nemu calo dan sejenisnya yang saya lakukan adalah pura-pura nelpon, hape nokia ketika itu, saya cuma berlagak nelpon seseorang trus bilang lagi di terminal, dan diam saja sambil pegang telpon ditelinga dan ra nggagas si calo. Biasanya dia akan bosen sendiri nunggu… 😀

    Tetap tenang dengan serangan penawar jasa transpor dan yakin dengan pertemuan dengan teman baru adalah bukti traveler berpengalaman…, juga ngirit… 😀 😀

    • morishige · September 13

      Modus nelpon itu kayaknya nanti bisa saya praktekin, Mr Grubs. 😀 Makasih tipsnya. 😀

      Paling enak itu, seturun dari bus cari tempat enak buat ngopi dan menarik napas panjang dengan bantuan tembakau. 😀 Baru, kalau sudah segar, tentukan langkah selanjutnya. Iya, nggak, Mas Grubs. 😀

  16. Zam · September 14

    soal jaket, aku juga punya jaket merek Tyroleans (entah dari brand mana) yang kubeli dari sebuah toko outdoor di PIM. harganya waktu itu sekitar Rp 400.000. sudah menemani ke berbagai tempat hingga kini masih awet. resleting yang biasanya paling rentan rusak, masih kuat. hanya warnanya saja yang memudar.

    • morishige · September 26

      Jaket kayak gitu susah banget buat dipensiunkan, ya, Mas Zam? Rasanya nggak rela aja ngebiarin dia di dalam laci terus kita jalan-jalan entah ke mana. 😀

  17. ellafitria · September 15

    wahaha, kabur malah ketemu lagi. macam kaya jodoh aja sama supir taksinya, wkwkw. untung ketemu sama teman baru bisa patungan ya mas.. hhh
    sebelum memperhatikan foto kabel di atas, ku kira kabel itu ruh akar yang tumbuh di ranting pepohonan, eh ternyata kabel, hhh

    • morishige · September 26

      Itulah risikonya pergi tanpa pamit, Mbak Ella: dicariin. 😀

      Kabel di Thamel itu bikin tiang listrik kita di sini kayak serapi bonsai, Mbak. 😀

  18. Dinilint · September 15

    Aku suka caramu bercerita. Aku berasa baca buku cerita, tapi ikut jalan-jalan juga.
    Btw, model sopir taksi di Kathmandu mirip-mirip dengan di Indonesia ya. Kalau aku mengalami hal begini, kadang suka sebel sendiri dan asal terima aja dipalak si sopir taksi, tp menyesal kemudian. Emang kudu sabaaaarrrr.

    • morishige · September 26

      Terima kasih, Mbak Dini. 🙂

      Keadaan di Tribhuvan kayaknya memang mirip-mirip bandara kecil di Indonesia, Mbak. Moda transpor bandaranya masih terbatas, nggak kayak di Soekarno-Hatta atau Juanda, misalnya. Waktu itu saya sengaja pilih penerbangan pagi supaya sampai di Kathmandu sore. Jadi kalau memang nggak dapat transpor murah, saya bisa pakai plan B: jalan kaki ke Thamel. 😀

  19. Aradhana Singh · September 16

    Nice

  20. Djangkaru Bumi · September 21

    Saya yang ke kota jakarta saja bingung
    Apalagi ke luar negri dijamin lebih keder
    Ngurus visa tenyata lama juga ya
    Betul sekali, berprasangka baik itu perlu dan penting.
    Dan akhirnya semua diluar perkiraan, masih baik baik dan mulus mulus saja
    duitnya masih utuh

    • morishige · September 26

      Waktu itu, mulai dari mengisi formulir sampai dapat visa, kayaknya kurang dari setengah jam, Mas Djangkaru. Yang makan waktu paling lama pas mengantre di imigrasi. 🙂

  21. Agung Pushandaka · September 23

    Paragraf pertama bikin saya ketawa, maskapai paling spritual: Buddha Air. Hahay!
    Waktu pertama kali ke Jakarta, saya pakai trik yang sama menghindari taksi ilegal. Kita kemana saja, diikuti. Merokok, ditunggui. Tapi saya kaburnya ke pangkalan taksi silverbird yang mahal itu. Haha! Soalnya cuma taksi itu yang saya lihat terdekat dari saya untuk menghindari pengawalan dari sopir taksi ilegal. Gpp deh tekor sekali ini.

    Btw bro, prasangka itu penting juga lho untuk selalu membuat kita waspada.

    Kalau sesama traveler, enak juga ya berbagi taksi. Sebab ada rasa senasib sependeritaan. Kalau saya mungkin tidak terlalu nyaman karena saya tidak terlalu mahir memulai percakapan dengan orang asing, jadi saya akan membayangkan dulu, mau ngobrol apa sepanjang perjalanan nanti. Hehe.

    • morishige · September 26

      Trik itu bakal makin nampol kalau pasang tampang angker, Mas Agung. 😀

      Bener banget. Prasangka ini kayaknya mekanisme yang bikin manusia bisa terus eksis sampai sekarang. 😀 Tinggal bagaimana melatih untuk menggunakannya. Kadang membuka selimut prasangka bisa membawa kita ke petualangan yang nggak terduga, Mas Agung. 😀

      Enak banget, Mas. Solidaritas sesama pejalan ini buat saya unik juga. Kita bisa melupakan sekat-sekat kebangsaan, kultur, agama, dll. Yang menyatukan pejalan, kayaknya, adalah cerita-cerita yang mereka bawa. 😀

  22. imeldasutarno · 23 Days Ago

    Salam kenal mas….aku benar2 salfok pada ruwetnya kabel listrik di fotomu. Berantakan dan carut marut sekali hehe 🙂

  23. ainunisnaeni · 18 Days Ago

    emang paling sebel kadang ya kalau tiba di bandara ataupun terminal, dan dibuntuti sama sopir taksi, kadangkala kita masih ingin menenangkan pikiran dulu, apalagi kalau solo traveling, yang semua mua serba mandiri. meskipun plan sudah diatur, misal kayak mau ke kota naik apa sudah ada patokan.
    macam masuk toko yang dibuntuti spg aja nih hehehe

Tinggalkan Balasan ke Phebie | Life Essentially Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s