Karakoram

Dari jalan besar, Lily memasuki lorong sempit. Ezek dan saya mengikuti dari belakang. Yakety Yak, hostel yang ditemukan Lily dalam aplikasi, tersembunyi di salah satu sudut gang itu. Terbiasa melihat plang-plang yang dipasang tak beraturan di Jogja, saya serta-merta memasang mata lekat-lekat mencari tanda-tanda keberadaan hostel itu.

“Semestinya di sekitar sini,” ujar Lily sembari melihat ponselnya, ketika kami sampai di depan bentukan seperti pintu.

Rupanya itu bukan pintu, namun gerbang sebuah restoran luar-ruangan, entah gerbang depan atau belakang. Meja-meja berparasol dikelilingi kursi tersebar di sana. Beberapa orang duduk santai menyeruput minuman dan mencomot makanan. Dan di ujung sana, di rusuk salah satu bangunan-bangunan tinggi yang memagari restoran itu, saya melihat plang Yakety Yak.

“Itu dia,” ujar saya pada Lily dan Ezek.

Kami bertiga melintasi halaman restoran terbuka itu kemudian menaiki tangga lebar menuju Yaketi Yak. Saat melangkahkan kaki menapaki satu demi satu anak tangga, saya mendongak ke langit. Warnanya semakin sendu; hawa dingin semakin menyelimuti Kathmandu.

Temperatur di Lobi Yakety Yak yang bergaya industrial itu ternyata sama rendahnya dengan udara terbuka. Barangkali karena pintu yang lebar dan beberapa jendela besar itu. Tapi, resepsionisnya menyambut kami dengan hangat dari balik mejanya. Mereka punya tempat tidur kosong di kamar dormitori. Delapan dolar per dipan.

Mendengar harga itu, kami saling pandang. Delapan dolar barangkali takkan terasa memberatkan jika kami hanya pesiar beberapa hari. Tapi, buat kami yang mengantongi visa sebulan di Nepal, itu masih terlalu mahal.

“Anda punya yang lebih murah?” tanya Lily kepada sang resepsionis. Secara alamiah ia menjadi juru bicara gerombolan kami. Melihat desain interior hostel itu, saya tak yakin sang resepsionis akan bersedia menurunkan harga.

“Maaf, kami hanya punya yang delapan dolar,” jawabnya.

Benar belaka. Harga tak bisa diturunkan.

Masih terlalu mahal. Kami berterima kasih pada sang resepsionis lalu turun untuk mencari penginapan lain. Masih banyak lorong di Thamel untuk ditelusuri, masih banyak alternatif. Lagipula, meskipun kini sudah sore, langit belum gelap sehingga kami masih punya waktu mencari tempat untuk bermalam.

Beberapa meter melangkah dari ujung bawah tangga Yakety Yak, kami dihampiri seorang pria. Potongannya seperti tokoh-tokoh figuran dalam film-film India. Sebagaimana sebagian besar orang yang berkeliaran di Thamel, tubuhnya dibalut jaket bulu-angsa tebal berwarna gelap.

“Mau cari kamar?” ia bertanya.

“Ya, kami mau mencari yang murah,” jawab Lily.

“OK. Ikuti saya,” ujarnya.

Kami dipandu ke luar gang, kembali ke jalan besar, lalu masuk lagi ke lorong yang bahkan lebih sempit ketimbang gang menuju Yakety Yak tadi. Sekali-sekali saya mesti melipir ke pinggir untuk memberi jalan orang-orang yang datang dari arah berlawanan. Akhirnya kami tiba di mulut gang dan kembali ke jalan besar. Mobil-mobil kecil dan motor-motor lanang lalu-lalang di aspal. Kami berbelok ke kanan, melewati jalanan yang kedua sisinya penuh toko peralatan kegiatan alam-bebas, lalu tiba di sebuah simpang lima yang di tengah-tengahnya ada gazebo entah-apa.

Sang pria membawa kami melipiri pokok pohon bodhi, melewati toko minuman keras, lalu masuk ke sebuah jalan kecil yang aspalnya bolong di sana-sini. Bangunan-bangunan di jalan itu kelihatan seperti berasal dari masa lampau. Fasad-fasadnya berbahan kayu dengan ukiran-ukiran kecil di beberapa titik, pintunya rendah-rendah dan agak doyong entah ke kanan atau ke kiri. Cahaya miring menjelang matahari terbenam membuat jalanan itu tampak seperti foto-foto kartu pos.

Sekitar seratus meter dari simpang lima itu, sang pria memelankan langkah, mendorong sebuah pintu kaca, lalu masuk ke lantai paling bawah sebuah bangunan yang menjulang enam tingkat ke langit.

K2

Beberapa orang sedang berkumpul di lobi hostel bernama Rambler itu. Pria yang mengantarkan kami menghampiri salah seorang di antaranya. Wajah orang itu agak bulat tapi hidungnya sedikit tajam. Batang hidungnya menyangga kacamata.

Setelah mereka berdua berbincang dalam bahasa Nepal, sang pria berkacamata itu menghampiri kami sambil tersenyum. Ia bilang ia punya kasur untuk kami. Dan harganya jauh lebih murah ketimbang yang ditawarkan Yakety Yak.

“Empat ratus rupee,” ujarnya.

Kembali kami saling tatap. Kali ini ekspresi sepakat tergurat dari wajah kami bertiga.

“Anda bisa lihat dulu kamarnya,” ujarnya.

Lily yang pergi melihat kamar. Ezek dan saya berdiri menunggu di depan meja resepsi Rambler. Sambil menunggu Lily, saya mengamati lobi itu. Meskipun sempit, lobi itu terasa nyaman sekali. Dua sofa panjang dijejerkan di dinding, dibatasi oleh sebuah meja kecil. Sebuah kulkas transparan ala Coca-Cola yang salah satu raknya dipenuhi bir dingin ditaruh dekat pintu menuju meja resepsionis. Ada gambar tiga puncak kerucut dan tiga atap di dinding belakang meja resepsionis.

>Rambler Hostel, Kathmandu

Tak sampai lima menit kemudian terdengar suara orang menuruni tangga. Lily tiba. Ia memperlihatkan foto-foto kamar kepada kami. Kamar itu bagus. Tidak ada alasan bagi kami untuk mencari hostel lain. Tentu kami akan bisa mencari dormitori yang lebih murah, barangkali tiga ratus rupee, tapi mungkin kamarnya tidak akan sebagus di Rambler.

Pemuda kurus berkacamata di belakang meja resepsionis meminta paspor kami untuk difotokopi.

“Argentina, Amerika Serikat, Indonesia,” ujarnya sambil mengamati sampul paspor kami. “Bagaimana kalian sampai bisa berteman?”

Saya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ezek dan Lily juga. Kepadanya kami bercerita soal pertemuan di Tribhuvan, soal berbagi ongkos taksi. Kisah hari pertama di Kathmandu itu membuat saya merasa seperti sudah lama sekali meninggalkan Jogja. Hari-hari di perjalanan, entah kenapa, selalu terasa lebih penuh.

Usai lapor-masuk, kami bertiga diantar ke kamar lewat tangga nan sempit. Di lantai dua, kami melewati kamar bernama Lhotse, gunung keempat tertinggi di dunia, 8.516 meter di atas permukaan laut. Di lantai dua ada kamar bernama Kanchenjunga (8.586 m), puncak ketiga tertinggi di bumi. Naik lagi, kami menjumpai pintu berlabel “K2.” K2 adalah singkatan dari Karakoram, puncak tertinggi nomor dua di dunia—dan salah satu yang paling berbahaya—yang menjadi latar film Vertical Limit yang pertama kali saya tonton hampir lima belas tahun silam. (Saya curiga kamar di atas diberi nama Everest sang atap dunia.) Di depan pintu itu kami berhenti. Tampaknya itu kamar kami.

Pemuda yang mengantarkan kami mengetuk pintu itu tiga kali, lalu membukanya.

Kamar itu lumayan lega. Ada empat unit kasur tingkat di sana—delapan kasur. Kamar mandi berada dekat pintu depan. Ada rak untuk menaruh sepatu, ada cermin, dan ada loker.

Ketika kami masuk, saya melihat beberapa ransel ditumpuk di pinggir ruangan. Tapi hanya ada dua manusia. Seorang sedang tidur di salah satu dipan bawah. Satunya lagi sedang duduk dan berkutat dengan ponsel di dipan bawah paling dekat kamar mandi. Melihat kami masuk, ia menoleh lalu tersenyum. Kami bertukar sapa lalu berkenalan. Namanya Rhys. Rambutnya panjang pirang, tingginya barangkali hampir dua meter. Usianya tampaknya tak jauh beda dari saya. Dandanannya seperti orang hendak berselancar—celana pendek, kaos kutang. Bagaimana ia bisa tahan berpakaian seperti itu dalam selimut hawa dingin Kathmandu?

“Aku dari dari Australia,” ujarnya.

“Wah, kita tetangga,” ujar saya. Rhys terkekeh. Kalimat “Wah, kita tetangga” itu sepertinya selalu saya ucapkan setiap kali bertemu orang dari Australia.

Cokelat

Saya baru saja selesai menaruh bawaan di dipan—saya ditempatkan di bawah—dan di loker ketika Ezek memanggil. Saya bahkan belum sempat membuka sepatu dan menggantinya dengan sandal jepit kesayangan.

“Mau ikut?” ia bertanya.

“Ya!” ujar saya. Saya tak tahu ia mengajak ke mana. Saya ambil ransel lipat Quechua lalu bergegas mengejar Ezek yang sudah mulai berlari-lari kecil menuruni tangga.

Di tangga, ia bercerita bahwa orang yang memandu kami ke Rambler tadi menawarkan cokelat kepadanya. Ezek diajak untuk mencoba.

“Ah! Sudah dua minggu aku tak merokok,” ia bercerita. Rupanya, sebelum ke Nepal ia menghabiskan dua minggu di Turki. Tembakau bisa dicari di sana, tapi cokelat susah, katanya.

Pria itu sudah menunggu di lobi Rambler. Kami mengikutinya berjalan beberapa puluh meter ke utara, lalu memasuki sebuah pintu rendah yang ternyata berakhir di sebuah tempat makan terbuka yang terlalu bersahaja untuk dibilang kafe namun terlalu bagus untuk disebut warung. Banyak orang di sana. Mereka duduk-duduk mengelilingi meja penuh cangkir kecil dan gelas bir di bawah langit senja Kathmandu yang mulai merona. Tempat itu seperti markas perkumpulan rahasia.

“Anda bisa pesan bir di sini,” ujar pria itu. Kami memesan dua botol besar Everest dingin.

Kami dibawa ke sebuah ruangan kecil tanpa daun pintu dan jendela. Ada meja dan kursi plastik di sana. Pria itu memanggil seorang kawannya dan mereka berdua duduk di ujung dalam ruangan itu, berhadap-hadapan dengan kami.

Mereka mengajak kami berbasa-basi. Tapi saya hanya tersenyum-senyum saja. Ezek yang lebih banyak berbicara. Saat sedang berbasa-basa itu, bir datang. Bir itu saya tuang ke gelas besar, lalu saya seruput. Diminum di tengah-tengah udara dingin begini, bir terasa benar-benar hangat.

Salah seorang di antara pria itu mengeluarkan sepotong kecil cokelat yang dicari Ezek.

“Ini kuat,” ujarnya sambil memberikan sepotongan kecil kepada Ezek. “Dari pegunungan,” imbuhnya.

Ezek membolak-balik cokelat itu, mengelus-elus dan merasakan teksturnya, lalu mendekatkannya ke hidung.

“Silakan dicoba,” ujar pria itu.

“Boleh?”

“Tentu,” ujarnya.

Ezek mengeluarkan tembakau, papir dan filter, juga mancis. Ditariknya selembar papir lalu dikeluarkannya sejumput tembakau. Ia lalu membakar salah satu sisi cokelat itu lalu menggerusnya dengan ibu jari. Butiran-butiran kecil itu dicampurnya dengan tembakau. Dipasangnya filter di ujung, lalu ia mulai melinting. Sekejap saja lintingan itu jadi. Dibakarnya ujung lintingan itu kemudian asap beraroma khas menguar memenuhi udara.

“Berapa?” Ezek bertanya.

Mereka pun tawar-menawar dan menemukan titik temu pada 20 euro untuk 15 gram. Uang Eropa itu berpindah tangan dari Ezek ke pria Nepal itu. Kami semua tertawa.

“Mau coba?” tanya Ezek sembari menyodorkan lintingan itu pada saya.

32 comments

  1. Art of the Beat · September 24

    Hey you!
    Thanks for another Excellent Adventure! Looking forward to reading the rest. I need to go back and read the one I missed 🙂 I was a little worried for a minute when you guys left with that one dude to find another place for lodging (especially since you never asked him). Just being a Grandma. Hope you are doing well. Take care and be safe. 🙂

    • morishige · September 27

      Yeah, thankfully something didn’t happen to us. But the dude seemed sincere we didn’t hesitate at all to follow him. 😀 And the story of my traveling to Nepal would be completely different if he didn’t find us and take us to the hostel. 😀

      Thank you, always, for reading the stories here, M. 😀 I hope you’re doing well too. 🙂

      • Art of the Beat · September 27

        Well, I am glad that you survived to write about it. The journey is the adventure, right? I really admire you and your friends for being so determined and being at the mercy of locals. The best, I tell ya. I like that your group is international as well, very cool.

        No problem! Thank you for writing and sharing with everyone! Have wnderful day and be well!

  2. ceritariyanti · September 24

    Ketika menginap di Bhaktapur, saya juga punya kamar dengan nama-nama terkenal di Nepal. Ada Lhotse, ada Manakamana, ada Annapurna… rasanya seru dibandingkan dengan menandainya dengan nomor yaa…

    • morishige · September 27

      Iya, Mbak. Tiap kali naik-turun tangga rasanya kayak naik-turun gunung. 😀

  3. CREAMENO · September 24

    Berarti mas Morishige menginap di penginapan itu sebulan lamanya? Woaaa sudah macam kos dong mas hehehehe. Sepertinya para traveller yang ke Nepal untuk mendaki, mereka rata-rata akan stay di Nepal sampai sebulan meski ada pula yang dua minggu saja 😍

    Saya pribadi di Nepal cuma semingguan karena nggak mendaki hehehehe. Tapi saya pernah ketemu orang di salah satu cafe yang cerita kalau dia baru turun dari ABC dan kata dia seru. Saya disuruh naik, saya bilang nggak bisa, saya nggak kuat naik ke atas, dan saya bawa koper bukan backpack nanti ribet dan berat 😂

    Eh dia bilang, “Kamu sewa jasa angkat barang saja.” — disitu saya kaget dan baru tau ternyata bisa dibawakan barangnya hahahaha. Tapi tetap sih saya nggak mendaki sebab saya penakut dan gampang lelah. Jadi cuma bisa menikmati pemandangan dari bawah 😆

    Sewaktu mau flight back. Saya baru tau kalau kita bisa ke ABC naik heli tanpa mendaki ke atas. Jiaaah telat banget saya taunya 😂 hehehe. Mas Morishige ditunggu cerita lanjutannya. Nggak sabar mau ikut membayangkan perjalanan mas di Nepal sebulan lamanya. Apalagi nanti kalau mendaki katanya tidur di rumah warga lokal 😍 penasaran saya bagaimana rasanya hehehe. Mas paling jago mendeskripsikan suasana soalnya. Saya jadi kebawa imajinasi ketika membaca 😂

    • morishige · September 27

      Di penginapan itu cuma beberapa hari, Mbak. Mesti geser dulu ke kota lain. 😀 Tapi tetap mesti jeli menghitung biaya harian penginapan supaya bisa bertahan sampai keluar dari Nepal. 😀 Benar, Mbak Eno. Waktu sebulan, kalau buat trekking, kalau dimaksimalkan bisa untuk trekking di dua jalur. Saya ketemu beberapa orang yang meluangkan waktu tiga bulan di Nepal karena ingin menelusuri beberapa trek.

      Benar, Mbak. Ada alternatif menyewa porter. Selain porter, juga banyak yang menggunakan jasa pemandu yang bakal mengatur semua hal selama trekking. Nah, itu… Naik helikopter mungkin bisa jadi alternatif, Mbak Eno. 😀 Ada juga kayaknya yang menawarkan tur naik pesawat twin otter mengitari Pegunungan Himalaya.

      Terima kasih, Mbak Eno. Ok, Mbak. Ditunggu lanjutannya, ya. 😀

  4. Blogombal · September 24

    Berdebar saya baca ini. Maklumlah saya bukan traveler, lagi pula terlalu tua untuk ambil risiko, apalagi dalam rombongan ada perempuan.
    Lebih berdebar lagi soal cokelat itu 🙈

    • morishige · September 27

      Absurd banget itu hari, Paman. Nggak nyangka kejadiannya bisa nikung kayak gitu. Dan saya berdebar-debar juga nulis cerita ini…. 😀

  5. Rudi Chandra · September 24

    Ternyata cokelat yang dimaksud bukan cokelat beneran, tadi sempat mikir diajak minum cokelat hangat karena cuacanya yang dingin.

  6. Nasirullah Sitam · September 24

    Hahahhaha, bolehkah satu sebat dua sebat. Lebih dari itu jangan.

    Menyenangkan jika bertemu sesama pejalan, bertukar informasi dan saling menyapa. Kadang, orang-orang ini bisa ketemu di tempat yang lain

    • morishige · September 27

      Sebats dua bats kedamaian, Mas Sitam. 😀

      Iya, Mas. Pertemuan-pertemuan kembali yang ajaib itu memang nyata adanya. 😀

  7. bara anggara · September 25

    Saya berdecak kagum baca cerita bung Morishige.. Lagi-lagi saya katakan bahwa perjalanan yang bung lakukan adalah gambaran saya tentang arti traveler yang sesungguhnya.. Saya tetap berprinsip bahwa tidak semua orang yang melakukan perjalanan adalah seorang traveler di mata saya, sebagian adalah turis. Gambaran traveler adalah seperti yang bung Morishige lakukan. Saya jadi ingat ketika menginap di hotel-hotel di Flores saat tugas luar kota di NTT. Saya sering bingung mendapati kenapa mereka bule2 yang datang segerombolan itu berasal dari negara yang berbeda-beda? Salah seorang petugas hotel yang waktu itu terlihat akrab sama para traveler (terutama traveler2 cewe :V ) memberi tahu saya bahwa mereka berkenalan di perjalanan lalu bergabung membentuk kelompok-kelompok kecil untuk berbagi biaya, entah transportasi atau penginapan.

    ditunggu cerita perjalanan selanjutnya bung..

    • morishige · September 27

      Secara mengherankan, buat saya, melancong itu seperti membuka sekat-sekat yang dibikin manusia, Bung. Entah sekat kebangsaan, kultur, agama, dll. Mungkin karena itu saya bisa menikmati berinteraksi dengan kawan-kawan sesama pejalan. Banyak yang bilang bahasa menjadi kendala, tapi sebenarnya kurang tepat juga. Asal gestur kita bagus, meskipun nggak bisa berkomunikasi verbal dengan orang yang bicara pakai bahasa beda, mesti bakalan nyambung. 🙂

      Terima kasih, Bung. Ditunggu lanjutannya, ya. 🙂

  8. Zizy · September 25

    Aku seperti membaca novel.
    Asli deg-degan baca kelanjutannya, kirain tadi bakal ditipu sama orang Nepal itu, oh ternyata tidak. Terus kirain coklat apa gitu.

    Lama juga ya updatednya Mas. 18 hari lalu. Coba tiap 4 hari gitu… 🙂

    • morishige · September 27

      Mungkin karena masih terang, jadi santai-santai aja rasanya waktu itu, Mbak. Kalau nggak cocok, mungkin bakal cari tempat lain juga.

      Mudah-mudahan interval updateannya bisa lebih singkat, Mbak Zizy. 😀

      • Djangkaru Bumi · September 29

        Sesekali disertakan video, biar saya lebih tergambarkan suasana disana
        Saya kan penasaran banget

  9. #justinindyo · September 26

    Jadi bentukan coklat ini kayak apa sih Mas? Coklat batang gitu? Emang warnanya coklat? Maap nih ogut gak gaul soal dunia pernyimengan. Pernah ada temen ngajarin bikin linting gitu dulu pas di kampus, gagal hahaha. Duh apaan katanya kurang estetis.

    Gak sabar nih next episode.

    • morishige · September 27

      Bentuk dan warnanya seperti potongan kecil cokelat batangan, Mbak Justin. 😀

      Ditunggu lanjutannya, ya. 😀

  10. Djangkaru Bumi · September 27

    Delapan dolar tergolong mahal
    Kalau empat ratus rupee ,kalau dirupihakan berapa ya
    wah kisah yang penuh menarik sekaligus menantang.

    • morishige · Oktober 4

      Satu dolar itu nilai tukarnya sekitar 120-an rupee, Mas Djangkaru. Tapi supaya mudah, saya anggap saja 1 dolar itu 100 rupee. Jadi kalau ada yang menawarkan penginapan 400 rupee, harganya ekuivalen sama sekitar 4-5 dolar.

  11. ellafitria · September 27

    untung bertemu dengan bapak2 yg mengantarkan ke hostel murah ya. sepertinya ku juga curiga, jangan2 kamar di atas K2 namanya nama Everest.. wkwkwk. btw baru tahu kl cokelat bisa dicampur dengan tembaku dan buat ngrokok, hhh

    • morishige · Oktober 4

      Dalam perjalan kita nggak pernah tau bakal dipertemukan dengan siapa ya, Mbak? 😀

  12. fanny_dcatqueen · September 29

    Aku td sempet ga mudeng mas, coklat opo ini yg dimaksud :p. Setelah baca sampe kebawa, jd ngerti hahahahah.

    Asik bangett sampe sebulan. Kapan lah aku bisa traveling selama itu yaaa :D. Suami sejak punya anak jd ga mau, dan ngebatasin hari. Aku udh ga kerja sih sbnrnya, tapi kalo traveling selama itu hanya dgn temen ato sendiri, aku ga suka juga. Enakan Ama si pak suami wkwkwkkwk

    Td aku baca judulnya, mungkin Krn sepintas, sempet kebaca karaokean :p. Ternyata karakoram. Sampe aku liat di google bntuk gunungnya seperti apa 🙂

    Eh tp td baca yg kalian dapet penginapan ini Krn ada calo yg menawarkan, jd ga terlalu berfikir jelek. Biasanya aku menghindari orang2 yg nawarin penginapan ato tensportasi begitu mas. Takut scam aja. Tp di sana bisa dipercaya lah yaa.

    • Djangkaru Bumi · September 29

      Saya boro-boro bisa trevelin
      Setahun ini di rumah saja, terpaksa cari bahan ceritanya ya sekitar rumah.
      Kapan bisa keluar negeri

  13. rivai hidayat · Oktober 1

    kalau baca tulisanmu mas moris, aku mesti baca pelan. Biar bisa sambil membayangkan suasana dan keadaan di setiap kata dan kalimatnya. tulisanmu terlalu sering ngajak untuk berimajinasi mas..hahaha

    sebulan jalan sendirian, kemudian ketemu orang-orang baru. Sepertinya sangat menyenangkan yaa mas. Selalu suka baca pengalaman orang-orang yang ketemu dengan orang baru dalam perjalanan. Proses pertemuannya selalu dengan cara yang tidak pernah kita duga.

    Di bagian cokelat, aku langsung penasaran dengan judul. Masa cuma sekadar cokelat mesti ditawari dulu. Eeh ternyata cokelat yang lain. Aah, ternyata ada permainan kode segala. Mirip kayak di indonesia 😀

    Ditunggu cerita tentang teman-temannya cokelat mas 😀

    • morishige · Oktober 4

      Benar, Masvay. Pertemuan-pertemuan itu dengan cara yang nggak diduga. Keputusan-keputusan kecil yang dibikin ternyata memang membawa ke pengalaman-pengalaman yang jauh berbeda. 🙂

      Hehehe… Iya, Mas. Sama saja ternyata di mana-mana.

      Terima kasih, Masvay. Ditunggu lanjutannya, ya. 🙂

  14. grubik · Oktober 4

    Argentina, Amerika, Indonesia… Memang mengundang pertanyaan
    Tapi, si mas kacamata benar-benar tipikal pemandu lokal yang paripurna. Paripurna dan jeli… 😀
    Dari hotel sampai cokelat dia tahu…

    • morishige · Oktober 4

      Terlalu beragam begitu ternyata mencolok juga, ya, Mr. Grubs? 😀

  15. ainunisnaeni · Oktober 9

    jadi kangen check in di hostel hahaha
    apalagi sampe bertemu temen baru seperjalanan yang share cost taksi.
    kayaknya selama sejarahku, aku belum pernah share cost taksi dengan orang asing yang baru aku kenal, mungkin karena aku seringnya solo traveling jadi agak wanti wanti.

  16. Zam · Oktober 11

    mancis.. sungguh kata-kata yang arkais.. 🤭

Tinggalkan Balasan ke morishige Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s