Dal Bhat

“Surya?” ujar salah seorang di antara dua pria Nepal itu sambil tersenyum dan mendekatkan batang rokok itu ke batang hidungnya. “Kami juga punya rokok Surya di sini.”

Tapi namanya saja yang sama. Produsennya berbeda. Surya Nepal bukan keluaran Gudang Garam. Pria itu bercerita bahwa Surya Nepal lebih hambar, tak searomatik dan semanis Surya Indonesia. Wajar saja. Mereka tak punya cengkih.

“Rokok seperti ini namanya kretek,” ujar saya.

Saya ceritakan asal istilah “kretek” kepada mereka, soal bunyi “kretek” yang keluar ketika cengkih yang dicampur dengan tembakau itu terbakar. Mereka tersenyum sambil mengangguk-angguk—tapi barangkali tak peduli. Kalau jadi mereka, saya mestilah juga takkan peduli ocehan saya, pemuda asing dari negeri jauh yang baru saja menjejakkan kaki di negeri mereka. Maka saya urungkan bercerita soal Agus Salim yang seenak jidat mengembuskan asap kretek—dan mengeluarkan celetukan legendarisnya—di depan Pangeran Philip yang sedang berdebar-debar di sudut Istana Buckingham menanti dimulainya koronasi Ratu Elizabeth II lebih dari setengah abad lalu. Tak ada gunanya.

Bir habis. Waktunya beranjak dari tempat itu. Saya kemasi kaleng rokok Surya yang saya bawa dari Jogja. Isinya sudah berkurang beberapa. Satu-dua saya hisap saat transit di Soekarno-Hatta. Dua lagi sudah berpindah—atas nama diplomasi—ke tangan dua Nepali itu. Ezek dan saya mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal kepada mereka, lalu kembali ke Rambler.

Di depan pintu kamar K2 rupanya ada Yi. Ia sedang menunggu Lily dan Rhys. Mereka mau makan malam.

“Kalian mau ikut?” tanya Rhys begitu ia muncul dari balik pintu. Ia hendak mengajak kami ke restoran favoritnya di Thamel.

“Tentu,” sambut saya.

Kalau punya mulut dan bibir, lambung saya yang sudah mengeluarkan suara-suara lucu karena sejak tadi malam tidak diberi makan barangkali sekarang sedang tersenyum bahagia. Saya pun bergegas ke loker, membongkar ransel, lalu mengeluarkan kemeja flanel. Dipakai di daerah bersuhu rendah, kehangatan kemeja itu terasa nyata.

Kami berlima pun keluar dari Rambler. Rhys di depan membuka jalan. Hari sudah gelap tapi ia tampak amat lincah menavigasi diri seolah-olah sudah bertahun-tahun di Thamel. Kami dibawa ke haluan yang berlawan dari arah kedatangan tadi, meliuk-liuk di jalan-jalan kecil, menghindari lautan manusia yang lalu-lalang di antara toko oleh-oleh dan peralatan alam-bebas, lalu tiba di perempatan tempat tadi kami diturunkan oleh supir taksi.

Rhys memimpin kami belok kiri menuju jalan lebih kecil. Tidak ada trotoar. Kami mesti menepi sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu sepeda motor dan mobil yang melaju tergesa-gesa di jalanan sempit itu. Sekali-dua saya sampai mesti melangkah di selokan kecil kering di depan toko-toko yang sudah tutup. Dan suara-suara klakson itu terdengar menjengkelkan—tak pernah suka saya mendengar suara klakson. Sekitar seratus meter dari perempatan, Rhys mengajak kami menyeberang.

Warung itu kecil saja tapi ramai. Sebagian besar isinya adalah pelancong berambut pirang, berjaket, dan berbicara dalam bahasa-bahasa cadel dari negeri-negeri jauh. Di bagian depan, berhadap-hadapan dengan meja kasir, sebuah oven tanah liat menguarkan asap putih samar-samar dari bukaan bundar di bagian atasnya—kompor tandoori. Seorang pemuda berkacamata, dengan celemek terlilit di badan, berdiri di sampingnya. Ia menampar-nampar adonan roti, memipihkannya, meletakkannya ke bantalan yang tampaknya empuk, lalu menempelkan adonan itu ke dinding dalam tandoori. Kemudian ia mengintip ke dalam tandoori itu, mengambil roti yang sudah matang, meletakkannya di piring plastik.

Seseorang bergerak lincah dari dalam lalu menghampiri kami.

“Berapa orang?” ujarnya.

Ia lalu memandu kami berlima ke dalam dan mendudukkan kami di sebuah meja yang terlalu sesak untuk berlima. Lily dan Rhys duduk sebangku; Ezek, Yi, dan saya duduk di hadapan mereka. Begitu kami duduk, seorang pelayan memberikan beberapa lembar menu.

Saya menatap menu itu dan meneliti nama makanan dan minuman yang disediakan satu per satu. Ada satu-dua makanan India yang namanya familiar, seperti samosa dan chapati. Tapi saya tak tahu hendak memesan apa.

Dal bhat,” ujar Rhys pada sang pelayan. Kami semua menoleh pada Rhys yang lalu menjelaskan apa itu dal bhat. Di antara semua yang dijelaskan olehnya, saya hanya tertarik pada satu hal: bahwa kalau memesan dal bhat kita bisa nanduk sekenyangnya.

Persoalan bergeser ke arah minuman. Entah kenapa malam itu rasanya terlalu istimewa untuk air putih. Dari kemarin malam perut saya terlalu akrab dengan air putih. Tadi ia memang sudah merasakan bir Everest, tapi ia perlu diberi hadiah lain karena sudah cukup lama menderita. Di antara minuman yang ditawarkan warung makan itu, teh susu tampaknya yang paling menarik. Jadi saya pesan saja itu.

Selang sebentar, dal bhat pesanan kami datang dalam piring-piring aluminium besar selazimnya wadah makan di warung-warung makan India di Malaysia. Teh susu dan minuman-minuman lain yang kami pesan pun menyusul. Asap mengepul dari teh susu itu. Panas. Ngilu-ngilu kuku tak laku di Kathmandu kala musim gugur begini.

>Seporsi dal bhat (difoto 7/11/2019)

Pusat dal bhat adalah nasi (bhat) pera—dalam porsi besar. Mengorbit di sekitar nasi itu adalah semangkuk kecil kari berisi kacang-kacangan (dal), kentang kari kental, sayur pahit campur kari yang saya tak tahu namanya, lalu potongan misterius warna putih yang menurut dugaan Rhys adalah pickle—acar mentimun barangkali. Pengetahuan saya tentang gizi cetek, tapi saya tahu kalau sebagian besar isi dal bhat adalah karbohidrat. Dal bhat bukan makanan—itu adalah bahan bakar!

Saya makan dal bhat itu dengan lahap. Habis, seorang pelayan dengan sigap datang membawa wadah-wadah berisi komponen-komponen dal bhat.

“Lagi?” ia bertanya.

Sekali lagi piring itu penuh bhat, dal, dan kentang. Saya makan lagi. Mula-mula cepat, namun, menjelang piring itu kering, rahang saya terlalu letih untuk mengunyah dan lambung saya mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Saya perlu tekad untuk menghabiskan porsi dal bhat kedua itu. Dan akhirnya habis juga. Bahan-bahan karbohidrat itu saya siram dengan teh susu yang sekarang sudah jauh lebih dingin.

Saya menepuk-nepuk perut, lalu melihat teman-teman yang sebagian juga sudah selesai santap malam. Saya geleng-geleng sambil menepuk-nepuk perut. Mudah-mudahan kantuk tak segera datang.

Di atas Everest

Dalam keadaan kenyang kami beranjak dari tempat makan itu. Rhys rupanya belum kenyang meskipun sudah memasukkan karbohidrat yang cukup untuk dipakai mendaki setengah hari—bahkan seharian—itu. Tubuh setinggi hampir dua meternya perlu asupan tambahan. Ia pamit, memisahkan diri untuk ke tempat makan lain.

Lily, Yi, Ezek, dan saya kembali ke penginapan lewat jalan yang berbeda, memutar. Kami melewati mulut gang menuju Yakety Yak, lalu terus ke selatan. Toko-toko masih buka. Jalanan masih semarak oleh sepeda motor, mobil-mobil kecil, dan manusia-manusia yang berjalan kaki. Kain, syal berbahan kashmir, jaket garis-garis ala hippies, baju kaus oleh-oleh—termasuk kaus putih bergambar Visit Nepal 2020, mangkuk-mangkuk perunggu, dan aksesori lain terpajang di toko-toko yang masih buka. Beberapa puluh langkah setelah kami berbelok ke barat, saya terkekeh melihat sebuah kaos yang tulisannya menarik: “Dal Bhat Power 24 Hour.”

Berarti saya tak perlu makan sampai besok malam.

Di ujung jalan, kami berhenti sebentar di sekitar sebuah stupa putih berpagar. Bagi pendatang seperti saya, stupa itu jelas tampak menarik. Tapi, untuk orang-orang Kathmandu stupa itu adalah bagian dari keseharian, sebagai sesuatu yang ada tapi bokeh, kabur. Orang-orang yang lalu-lalang di sana, saya kira, merasakan hal yang sama seperti warga Jogja melihat wisatawan berkodak di Tugu, atau seperti warga Badung melihat orang-orang bergerombol menanti matahari terbenam di Pantai Kuta.

Dari sana kami melanjutkan perjalanan keluar-masuk jalan-jalan kecil Thamel. Semula saya tak tahu kami sedang di mana. Tapi kami terus berjalan sampai tiba di perempatan yang tampak familiar—sudah dekat Rambler. Di sudut perempatan itu, saya dan Ezek berhenti di toko minuman dan membeli bir untuk menemani kami duduk santai di tingkat paling atas Rambler. (Lily dan Yi yang berjalan di depan tak melihat kami berhenti; mereka terus berjalan.) Bir Everest di sana murah, harganya hampir setengah harga bir di warung terselubung yang kami datangi tadi sore.

Usai membayar, dengan botol besar Everest di tangan, kami meneruskan jalan kaki. Lily dan Yi sudah tak tampak lagi—tapi kami malah melihat Rhys di sebuah kedai makan sedang menunggu pesanannya datang.

Lobi kecil Rambler sudah sepi saat kami tiba. Kami melangkah cepat-cepat di tangga, tak sabar ingin duduk-duduk santai sambil merokok dan menyesap bir di lantai paling atas. Lhotse, Kanchenjunga, dan K2 kami lewati, lalu tiba di lantai yang kamarnya—sesuai dugaan saya tadi—diberi nama Everest. Dari Everest kami melanjutkan pendakian ke atas. Lorong tangga itu gelap, tapi ujungnya terang. Lalu, disambut angin dingin, kami pun tiba di lantai paling atas—di atas Everest.

Ruang terbuka itu kosong. Ada beberapa meja dan kursi kayu di sana. Bendera-bendera doa berkibaran di antara tiang. Dapur di pojok ruangan itu tertutup, lampunya tidak hidup. Saya menarik salah satu kursi lalu duduk sambil menarik napas panjang. Ezek segera mengeluarkan tembakau dan papirnya, meraciknya dengan cokelat, membakarnya, menghisapnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap kedamaian.

Pura vida,” hidup yang murni, ujarnya, lalu tertawa seperti Seth Rogen sedang giting dalam 500 Days of Summer.

Saya nikmati Gudang Garam sambil melihat pemandangan dari lantai enam itu. Gedung-gedung di Thamel tinggi-tinggi juga ternyata, seperti gedung-gedung di Hanoi dan Saigon. Di antara titik-titik terang itu, yang paling mencolok bagi saya adalah yang di sana, di perbukitan itu. Samar-samar, saya bisa melihat bahwa itu adalah stupa yang disinari lampu sorot dari bawah. Puncak emasnya bersinar. Di sekitar stupa itu, samar-samar pula, saya lihat garis-garis warna-warni yang tampaknya adalah bendera-bendera doa.

Lalu ada suara dari tangga. Sebentar kemudian, sang pemilik hostel muncul dari lorong gelap, bersama seorang pelancong tua yang juga menginap di kamar K2. Melihat Ezek dan saya meminum bir yang bukan dibeli di hostel itu, ia berkata, “Kami juga punya bir di sini. Tinggal ambil di bawah.”

Ya, bisa diambil di bawah dengan harga hampir dua kali lipat. Tapi tentu itu tak saya ucapkan keras-keras. Saya hanya menimpalinya dengan tersenyum dan mengangguk-angguk. Bagaimanapun, ia jualan.

Sang pemilik kemudian mengobrol serius dengan pelancong tua itu. Saya tak perlu memasang telinga lekat-lekat untuk mendengar pertanyaan-pertanyaan sang pelancong tua: soal kondisi Kathmandu sebelum dan setelah gempa besar dulu. Lama mereka mengobol.

Ezek dan saya juga mengobrol ini-itu. Dari obrolan itu saya tahu bahwa ia sudah pergi dari Talapampa, kota kelahirannya di dekat Pegunungan Andes, sejak tiga tahun lalu. Umurnya 27 tahun—berarti ia melanglang sejak usia 24.

“Tapi Maret kemarin aku sempat pulang sebentar,” ia bercerita.

Selama tiga tahun ini, ia menyambung hidup dengan membuat liontin dari tulang sapi lalu menjualnya di tanah-tanah yang ditapakinya. (“Sejauh ini tempat jualan paling enak itu di sekitar Tembok Berlin,” ia berkisah.) Target pasarnya adalah pelancong-pelancong dari Eropa yang liburan membawa banyak uang. Ia belajar membuat liontin dari bapaknya yang punya toko perhiasan.

“Sepertinya aku akan cari kontrakan di suatu tempat, lalu membuat liontin. Nanti setelah itu akan kujual, jual, jual,” ujarnya sambil membuat gestur seperti seorang ninja sedang melempar shuriken menggunakan kedua tangan. “Tapi sepertinya aku akan coba cari bahan lain. Tak mungkin bikin liontin dari tulang sapi di sini.”

Saya lalu bercerita soal rencana trekking, tentang angan ke Annapurna Base Camp dan perjalanan berhari-hari menuju ke sana.

“Entahlah,” ujarnya. Ia tak tampak tertarik, barangkali karena di rumah gampang saja baginya untuk melihat gerigi Pegunungan Andes. “Waktu mau ke sini aku tak bikin rencana soal trekking.”

Kami masih asyik mengobrol saat sang pelancong tua pamit untuk tidur kepada sang pemilik hostel. Sang pelancong tua lalu turun lewat tangga yang kelam. Sang pemilik hostel tetap di atas dan ikut mengobrol bersama kami. Kepadanya saya bertanya soal stupa misterius di perbukitan itu.

“Oh, itu Swayambhunath,” jelasnya. “Kalian bisa, kok, jalan kaki dari sini ke sana. Barangkali cuma satu jam.”

Tiba-tiba angin dingin bertiup. Hawa jadi berlipat-lipat lebih dingin. Saya menyedekapkan tangan rapat-rapat ke perut. Tapi Ezek tampak biasa-biasa saja, seolah-olah sama sekali tak terpengaruh oleh suhu Kathmandu yang sedang terjun bebas.

“Kau tak dingin?”

“Tidak,” ujarnya, lalu berkelakar, “Aku dari Andes.”

“Ya,” saya menghela napas. “Aku tropis.”

36 comments

  1. Gunawan · Oktober 3

    Penasaran, kalau perjalanan gini, sering kontak nyonya atau tidak kang Mori?

    • morishige · Oktober 4

      Jika ada WiFi, biasanya disempatkan mengontak di pagi hari dan sebelum tidur, Mas Gunawan. Jika tidak ada WiFi, bisa berhari-hari saya tak berkabar. 😀

      Terima kasih sudah mampir dan berkomentar. 🙂

  2. CREAMENO · Oktober 4

    Duuuh suka bangettt baca tulisan mas Morishige. Rasanya seperti baca novel terjemahan hahahaha entah sudah berapa kali saya bilang 😂 tapi itu yang saya rasakan, jadi seperti masuk ke dalam cerita dan ikut membayangkan serta merasakan apa yang mas alami ketika di sana 😍

    By the way, saya pernah coba Dal Bhat sekali saja. Sebab seingat saya, di sana saya lebih sering makan aman hahahaha. Dan saya ikut ketawa waktu baca tulisan, “Seperti orang Badung yang lihat orang-orang menunggu sunset di pantai Kuta.” Wk. Tapi saya meski sudah lama di Bali tetap merasa dan bergaya layaknya turis lho mas sometimes dengan topi pantai dan kacamata hitam 🤪

    Eniho, saya bisa relate sama jawaban, “Saya dari Andes.” karena si kesayangan saya sering bilang begitu kalau saya tanya dingin apa nggak, dia bilang, “Saya dari negara 4 musim, you know?” hahaha zz.

    Ditunggu lanjutannya, mas! 😍

    • morishige · Oktober 18

      Makasih, Mbak Eno. 🙂

      Selain porsinya, yang bikin saya suka dal bhat itu penyajiannya yang cepat, Mbak Eno. Kalau pesan makanan yang mesti diolah, kadang mesti nunggu lama soalnya. 😀

      Hahaha. Kadang saya juga begitu, Mbak. Jalan kaki, pakai ransel lipat kayak turis. 😀 Tapi kayaknya orang-orang bisa lihat, sih, mana yang warga lokal mana yang beneran pelancong. 😀

      Buat orang-orang empat musim, kayaknya belum dingin kalau belum beku kayak di freezer, ya, Mbak? 😀

  3. macalder02 · Oktober 4

    as he always does, your chronicle of the visit to Nepal is extremely interesting. The details, like the cigar, give your story an expevial ​​tinge.
    After more than two months off the blog, I rejoin the site.
    I hope you are well, taking good care of yourself and enjoying the weekend.
    A hug
    Manuel Angel

    • morishige · Oktober 18

      Thank you very much for tagging along with my journeys, Manuel.

      And welcome back! I went to your blog and it felt nice to be able to read your poems after your long hiatus.

      You too. I hope you are doing well there. Stay safe. 🙂

      • macalder02 · Oktober 19

        I enjoy reading you because you let me know those wonderful places that you visit and you write it so well that I feel like being in the place.
        Over here, all good. I finished my unfinished business and went back to the blog.
        We are out of quarantine but you still have to take care of yourself.
        Take care you too
        Manuel Angel

  4. salsaworldtraveler · Oktober 4

    I really like dal bhat. My guide on a short trek on the Annapurna Trail wore a T-shirt that said Dal Bhat Power 24 Hours. I am looking forward to more of your wonderful posts from Nepal.

    • morishige · Oktober 18

      Same here. 🙂 I love dal bhat too. Thank you. 🙂 I too am looking forward to writing the next posts about Nepal.

  5. grubik · Oktober 4

    Sangar, langsung sampai atas everest setelah ngedalbat… 😀
    Dan, rokok kretek di udara dingin, suara kretek-kreteknya makin syahdu… 😀

    • morishige · Oktober 18

      Bisa buat bolak-balik Lhotse-Everest berkali-kali, Mr Grub. 😀
      Wah, itu bener banget. Aroma tembakau dan cengkeh bareng-bareng jadi penawar udara dingin. 😀

  6. Ranger Kimi · Oktober 4

    Selalu suka baca tulisan Bang Morish. Jadi pengen minta diajarin cara nulis sekeren ini. Ditunggu kelanjutannya ya, Bang!

  7. Agus Warteg · Oktober 5

    Oh Ezek ternyata dari pegunungan Andes Peru ya, pantesan tidak terlalu kedinginan di Nepal. Kalo kang mori biasanya hangat jadinya perlu jaket tebal ya kang.

    Rhys kok orangnya doyan makan ya, sudah makan Dal Bhat juga masih cari makanan lain. Mungkin karena badannya gede kali jadinya perlu makan yang banyak.

    Senang nya kalo jalan jalan ke luar, bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara dan juga budaya.😃

    • morishige · Oktober 18

      Ezek kebagian Andes yang di Argentinya, Mas Agus. Panjang banget itu ternyata Pegunungan Andes. 🙂

      Mungkin, Mas Agus. Tingginya hampir dua meter soalnya. 🙂

      Iya, Mas Agus. Menyenangkan sekali bisa ketemu orang dari tempat-tempat lain pas jalan-jalan. 🙂

  8. Nasirullahsitam · Oktober 5

    Hahahahahha, cocok kalau punya kawan yang sudah tahu menu pas untuk para pejalan. Setidaknya, slogan kuat 24 jam ini menyiratkan sesuatu yang baik. Kenyang sampe sore

    • morishige · Oktober 19

      Iya, Mas Sitam. Kenyang sampai sore. 🙂

  9. Rudi Chandra · Oktober 5

    Hebat juga power Dal Bhat, bisa tahan hingga 24 jam. 🤣

    • morishige · Oktober 21

      Habis makan dal bhat rasanya seperti motor habis diisi full tank, Mas Rudi. 😀

  10. Art of the Beat · Oktober 6

    The food looks amazing! Wish I was there to try all of it! Hope all is going well. Be safe 🙂

    • morishige · Oktober 22

      I believe someday you will, M. It’s going great here in this part of the world. I hope you’re doing well too there. Stay safe. 🙂

  11. bara anggara · Oktober 6

    ikut terkekeh (walau kecil) saat membaca “Dal Bhat Power 24 Hour”, haha.. Melihat makanan tersaji di meja itu rasanya kaya lagi di rumah makan malabar (rumah makan kepunyaan etnis India di Kota Padang),, menunya terlihat mirip..
    Sejak menyukai perjalanan sampai sekarang, selalu kagum dengan tipe-tipe seperti Ezek. Masih tak habis pikir kok bisa meninggalkan rumah bertahun-tahun tanpa ada pekerjaan yang jelas. Itu hal yang paling saya kagumi dari seorang traveler, ilmu survivalnya keren bgt, sesuatu yang rasanya tak bisa dan tak mungkin saya lakukan sekarang. salut.
    Dalam perjalanan, terkadang saya menghindari tempat touristy, tapi terkadang juga rindu. base-base para backpacker berkumpul memiliki vibe dan atmosfer sendiri yang seringkali membuat rindu saat perjalanan lama tak dilakukan, seperti saat pandemi ini.

    • morishige · Oktober 22

      Jangan-jangan di Malabar ada Dal Bhat, Bung? 😀

      Pejalan-pejalan seperti Ezek buat saya jadi semacam penerus petualang-petualang lawas, Bung. Dulu kita dengar cerita soal Ibnu Batutah atau Marcopolo. Mungkin generasi-generasi berikutnya bakal dengar cerita soal Ezek dan kawan-kawan. 😀

      Iya, Bung. Vibe markasnya para pejalan itu emang unik. Datang ke sana kayak pulang ke rumah, ketemu teman-teman lama, cerita soal apa yang sudah dialami, dll. 😀

  12. Zizy Damanik · Oktober 7

    Tapi tak masalah ya beli bir di luar diminum di hotel? Atau minumnya di kamar jadi gpp ya?
    Mas, dirimu bawa berapa banyak kaleng Surya ke sana? Untuk bekal.

    • morishige · Oktober 22

      Nggak ada larangan, sih, Mbak Zizy. Tapi di Rambler secara halus dianjurkan beli di sana. Mereka punya kulkas minuman kayak di minimarket. Cuma harganya dua kali lipat dari di warung. 😀

      Cuma sekaleng kemaren, Mbak. 😀

  13. ainunisnaeni · Oktober 9

    dal bhat for 24 hour hehehe, kalau aku karna makannya porsi kecil, kayaknya belum sampe 24 jam udah pengsan hahahaha
    aku salfok sama nasinya, kenapa tiap aku makan makanan india atau melayu ketika ke LN, tekstur berasnya kayak pecah gitu ya, di Indo jarang banget soalnya nemuin nasi yang udah masak jadinya kepyar gitu, bahasa jawa nih kepyar mas morish hehehe

    • morishige · Oktober 22

      Di Jawa kita memang akrab dengan nasi pulen, Mbak Ainun. Tapi di Sumatera nasinya biasanya dimasak kepyar alias pera gitu. Kayak nasi yang dipakai bikin nasi goreng. 🙂

  14. Zam · Oktober 11

    soal dingin ini memang.. 😆

    soal pelancong jangka panjang ini, yang selalu penasaran, how they make money coba? berjualan dan cari kerja juga bisa jadi membahayakan visanya.. 😆

    • morishige · Oktober 22

      Tapi sekarang sudah terbiasa, Kang? 😀

      Mereka biasanya cari duit pakai skill yang mereka punya, Kang. Sebenarnya sama aja kayak “digital nomad,” tapi versi luring. Cuma, lebih ribet urusannya sama otoritas, sih, kalau cari duit luring begini. Iya, bahaya banget. Tapi itu, saya lihat, buat mereka adalah bagian dari petualangan. 😀

  15. Laleh Chini · Oktober 13

    I love Dal.

  16. rivai hidayat · Oktober 15

    Lucu juga dengan kalimat “Dal Bhat power 24 hour.”
    Porsinya terlihat banyak, apalagi kalau nambah lagi. Tapi mas morish bisa menghabiskannya..wkwkwwkwk

    Keren juga si Rhys yang sdah pergi selama 3th dan menghidupi dirinya dengan berjualan selama perjalanan.

    • morishige · Oktober 22

      Porsinya banyak banget, Masvay. Karbohidrat semua lagi. 😀

      Iya, waktu dengar Ezek udah jalan 3 tahun saya juga geleng-geleng kepala, Masvay. 😀

  17. Indonesia Hebat · Oktober 24

    Wah, saya baru tau juga kenapa dinamakan kretek asal muasalnya seperti itu :D, Maklum bukan perokok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s