Mencari Terminal

“Aku ikut kau ke Annapurna Base Camp,” ujar Ezek tiba-tiba.

Saya terkekeh. Sudah bikin keputusan dia rupanya.

Kami sedang duduk di atas Everest, di malam Kathmandu yang selalu jatuh lebih cepat, dengan perut penuh dal bhat. Asap tembakau yang lembut dan asap-kedamaian yang menyengat berkelindan dalam dingin, berpusar-pusar menuju sela-sela bendera doa. Tadi sore saya beli rokok lokal Nepal, merknya Pilot. Kering seperti Marlboro, murah seperti Halim.

“Nanti kita minum mate di sana!” imbuhnya.

“Berarti besok kita cari bus untuk ke Pokhara,” balas saya. Pokhara adalah kota transit untuk ke puncak-puncak rentang Annapurna. Rambler sebenarnya bisa memesankan tiket bus turis ke Pokhara. Tapi sudah jadi tabiat saya untuk tak serta-merta memesan angkutan lewat penginapan. Jika memang benar-benar sudah tak ada alternatif—atau sudah malas mencari—biasanya baru saya menghampiri resepsionis.

Meskipun kelihatan tak signifikan, roda waktu Kathmandu menggulirkan perubahan. Sampai beberapa tahun lalu, para pelancong yang hendak pergi ke kota-kota lain di Nepal biasanya jalan pagi-pagi ke Ratna Park untuk mencari tumpangan ke Pokhara dan kota-kota lain di penjuru Nepal. Kini pangkalan bus turis sudah pindah ke seruas jalan yang namanya belum tercantol di kepala saya. Tempat-tempat seperti itu menjual kemudahan kepada para pelancong, meskipun agen-agen sedikit menaikkan harga dari tarif reguler. Mencari terminal buat saya adalah pilihan yang bijaksana. Lagipula, menumpang angkutan reguler yang dipenuhi warga lokal mestilah akan lebih membukakan mata ketimbang naik moda transpor khusus pelancong.

“Kita coba cari terminal besok,” usul saya.

Lalu saya buka tablet, saya masukkan kata kunci ke Google Maps, lalu saya perlihatkan lokasi terminal kepada Ezek.

“Tak jauh-jauh amat,” ujarnya.

Kami lanjutkan obrolan soal perizinan dan jalur. Saya sudah mulai bikin coretan di catatan soal rencana perjalanan lintas-alam itu. Sembilan hari rencana, melipir dulu ke Ghorepani untuk ke puncak Poon Hill.

“Kita jalan santai saja,” kata saya. “Paling sehari kita jalan enam sampai tujuh jam.”

Obrolan kami berhenti ketika Rhys muncul dari tangga dengan topi rajutan warna jambon ala pelukis—atau pengarang komik.

“Woy! Picasso!” saya berkelakar. Ia terkekeh.

Lily menyusul dalam balutan jaket bulu angsa tebal. Rupanya di belakang mereka ada seorang lagi. Ia memakai kaus tipis dan celana pendek seperti Rhys seolah-olah dingin yang menusuk ini tak ada apa-apanya. Ternyata ia penghuni baru di kamar kami, baru pulang dari Sirkuit Annapurna. Nadav namanya, dari Israel. Aksen Amerikanya nyaris tanpa cela. Kami cerita-cerita soal Exodus, kibbutz, kanal Ask Project Corey Gill-Shuster, dan kehidupan di Israel.

Malam kian larut, makin banyak orang di lantai paling atas Rambler itu.

“Kau orang Israel pertama yang ngobrol-ngobrol panjang denganku,” ujar saya pada Nadav. Saya sudah pernah beberapa kali sekamar dengan orang Israel ketika menginap di hostel, tapi tak satu pun dari mereka yang tampak antusias untuk membaur seperti Nadav. Mereka yang sendirian cenderung murung; jika bersama-sama mereka cenderung menutup pintu untuk berinteraksi.

“Turis-turis Israel biasanya lebih suka menginap di hostel khusus orang Israel,” ujar Nadav. “Aku sendiri justru menghindari tempat-tempat itu.”

Saya pernah lihat hostel khusus orang Israel itu di Khao San. Aksara ibrani di plangnya menyaru dengan aksara Thai.

“Dan kau juga orang Indonesia pertama yang kukenal,” imbuh Nadav. Ada raut muka tak percaya di wajahnya. Barangkali ia tak menduga seseorang dari negara mayoritas Muslim bisa mengobrol satu meja dengan seseorang dari Tanah yang Dijanjikan seperti dirinya. “Aku penasaran sebenarnya ke Indonesia. Mau coba berselancar di ombak-ombaknya. Tapi, ya, kau tahu sendirilah.”

Sebaliknya, saya juga ingin sekali ke Israel, menghampiri tempat-tempat yang namanya kerap muncul dalam kitab suci-kitab suci kepercayaan Abrahamik dan mencoba memahami kenapa negeri tandus itu bisa melahirkan demikian banyak nabi. Tapi, populisme dan politik hubungan internasional yang absurd membuat mustahil bagi saya untuk melancong melenggang-kangkung tanpa kepentingan ke tanah bekas koloni Inggris itu. Sayang saya bukan diplomat atau pekerja PBB.

Ah! Tak ada konsep yang lebih absurd untuk dicerna oleh para pengelana selain batas-batas imajiner negara-bangsa.

Disorientasi

Andai saja tak ada suara riuh dari sekolah yang berada di seberang Rambler itu, mestilah saya masih betah terlelap dalam kehangatan selimut tebal. Bahagia sekali sepertinya jadi anak sekolah di Nepal. Sekolah baru mulai jam 10, tak perlu bergegas bangun pagi dan berangkat menuntut ilmu dalam keadaan mengantuk.

Setelah mencuci muka, saya ambil kotak rokok Pilot lalu saya bawa ke atas. Matahari sudah naik tapi tak maksimal. Lembah itu dibiarkan semesta terus-menerus dalam keadaan menggigil. Tapi kawanan gagak yang berisik dan elang-elang soliter yang elegan itu tampaknya betah-betah saja menunggangi angin dingin.

Ezek sudah siap. Kami sarapan di tempat biasa lalu memulai perjalanan mencari terminal. Yang kami tahu soal terminal itu cuma bahwa ia berada di sisi barat-laut Kathmandu. Jalan ke sana bisa dikira-kira.

>Salah satu moda transportasi publik di Kathmandu

Kami keluar dari Thamel lewat Garden of Dreams yang sebagian dindingnya penuh pashmina warna-warni. Ada gambar Bob Marley di sana. Senang sekali pasti Marley melancong ke Nepal, meskipun hanya sebagai lembaran kain. Kami telusuri trotoar ke arah barat, kemudian melipir ke utara. Sepertinya akan lebih mudah menavigasi diri di luar Thamel yang seperti labirin itu.

Jalanan ramai penuh mobil dan sepeda motor. Tapi perempatan-perempatan hanya dijaga oleh seorang polisi berseragam biru langit, seperti dalam potret-potret Indonesia zaman baheula. Makin ke utara, jalanan yang kami lewati semakin menyempit. Selimut debu menipis dan bangunan-bangunan semakin mengilap. Tentu saja perempatan-perempatan masih tanpa lampu merah.

>Polisi Kathmandu sedang mengatur lalu lintas

Di sebuah taman kami berhenti dan duduk-duduk sambil merokok. Banyak juga orang yang duduk-duduk santai di sana, di bangku-bangku panjang yang disusun mengelilingi kolam berair keruh yang tentu saja kurang cocok untuk berendam.

Usai menyesap satu-dua batang rokok, kami teruskan perjalanan mencari terminal. Nyaman juga berjalan di trotoar lebar kota Kathmandu. Mobil-mobil tua dan keluaran terbaru hilir-mudik, juga motor-motor lanang entah Bajaj entah Royal Enfield. Motor-motor kecil tampaknya tak begitu diminati di sini. Sekali waktu, saat menelusuri sebuah trotoar lebar di kawasan lumayan elite, saya tergelak melihat sebuah truk berdandanan menor melintas. Saya pernah lihat truk macam itu di film-film India yang diputar RCTI pagi-pagi waktu saya SMP dulu.

>Tempelan di tiang listrik Kathmandu (atas) dan pohon bodhi di pinggir jalan (bawah)

Kami tiba di sebuah pertigaan dekat sebuah ruang terbuka, lalu belok kiri ke jalan yang lebih lebar. Trotoar makin naik tapi menyempit. Di seberang sana ada pagar memanjang berwarna putih, tebal seperti benteng Keraton Jogja, dan di baliknya berdiri sebuah gedung besar. Saya senang mengambil klip-klip pendek dengan kamera saku Nikon kesayangan. Bentukan seperti itu tentulah menarik perhatian saya. Begitu kami melintas di seberang pintu gerbang bangunan itu saya berhenti dan mengarahkan kamera ke sana. Laku saya itu rupanya menarik perhatian orang bersetelan yang berjaga di sekitar pos dekat pintu gerbang itu. Ia keluar lalu membuat gestur seperti menghalau.

“Apa-apaan?” ujar Ezek.

Saya balas halauan itu dengan menangkupkan kedua tangan membuat gestur meminta maaf. Lalu kami pergi.

“Sepertinya itu istana kepresidenan,” ujar saya pada Ezek sambil terkekeh. Dan yang menghalau kami tadi adalah Paspampres Nepal.

>Taksi-taksi mungil Kathmandu terparkir di pinggir jalan

Saya jadi ingat kejadian serupa waktu di Bangkok pertengahan 2017 lalu. Waktu itu sedang masa berkabung mangkatnya Raja Bhumibol Adulyadej. Orang-orang Bangkok ke mana-mana masih memakai baju hitam dan setiap hari ada saja yang datang ke istana untuk melepas kepergian sang raja. Sanamluang sedang ramai-ramainya, sebab alun-alun itu dijadikan pintu masuk Istana Kerajaan. Tentara dan polisi berjaga 24 jam. Suatu malam yang panas, saya keluar dari hostel busuk di Khao San itu dan jalan-jalan ke arah istana. Saat melipir pagar Sanamluang, saya arahkan kamera saku saya untuk membidik para pelayat sedang mengantre. Baru beberapa bingkai saya tangkap, seorang tentara bersenjata lengkap menghampiri dan mengomel dalam bahasa Thai meminta saya menghapus foto-foto yang sudah saya ambil.

Ada hal-hal yang terlalu “suci” untuk ditangkap dengan kamera.

Kami terus melangkah menelusuri trotoar itu, berbelok-belok dan mendaki-menurun, melewati kantor-kantor bank dan beberapa kantor kedutaan. Keringat saya berkucuran namun lekas hilang disapu udara dingin. Terus, terus, kami berjalan, sampai tiba di tempat yang pernah kami lewati: sebuah kawasan militer berpagar merah bata.

>Harley-Davidson Kathmandu

Saya cari matahari di atas. Tengah hari tapi matahari masih tergatung setengah tiang. Matahari di wilayah subtropis seperti ini rupanya enggan mencapai puncak; susah untuk tahu arah utara, selatan, barat, timur. Jika ini di Jogja, dengan panduan arah, mestilah sekarang saya sudah sangat dekat dengan terminal; matahari di khatulistiwa benar-benar bisa jadi panduan.

Sekali waktu saya pernah nyasar di daerah Sewon, Bantul, sepulang mengantarkan kamera analog untuk diservis di bengkel kamera Pak Tumijo. Obi, kawan baik saya, waktu itu memilih jalan yang berbeda untuk kembali ke kota. Jalanan desa yang rumit membuat kami tersesat di antara kebun tebu. Itu belum zaman ponsel pintar. Kami masih perlu memencet tombol fisik untuk mengirimkan pesan pendek. Jadi, Google Maps masih sekadar teknologi canggih ala Star Trek bagi kami. Akhirnya saya melihat matahari. Sang surya sudah condong ke barat, berarti jika terus ke timur kami akan tiba di Jalan Parangtritis. Saya pandu Obi memilih jalan sampai kami tiba di belakang ISI. Masuk dari Jalan Bantul, kami muncul di Jalan Paris.

>Salah satu ruas trotoar di Kathmandu

Mungkin memang sudah rencana semesta kami memutar-mutar begini. Saya nikmati saja perjalanan itu. Kami teruskan langkah sambil mengobrol tak tentu arah. Ah—kami memapas taman air itu lagi, istana kepresidenan lagi, kedutaan besar-kedutaan besar itu lagi, trotoar ini lagi, perempatan itu lagi, jalan ini lagi.

Hari sudah sore. Matahari yang sudah condong jadi makin condong ke cakrawala. Di sebuah pertigaan, kami mengambil jalan yang berbeda lalu masuk ke permukiman sunyi semacam yang saya lihat sepulang dari Swayambunath kemarin. Rupanya jalan itu berakhir di jalan besar dekat Kedutaan Besar Jepang, beberapa ratus meter sebelah barat dari Istana Kepresidenan Nepal.

Di putaran ketiga itu, kami berbelok ke Maharajgunj. Jam pulang kerja bikin jalanan jadi makin ramai. Bus-bus lalu-lalang, kadang-kadang berhenti untuk menaik-turunkan penumpang. Lama-lama saya sadar bahwa jalanan itu menanjak. Beberapa puluh menit dari ujung Maharajgunj, kami melewati Kedutaan Besar Amerika Serikat yang ramai tapi pengamanannya mahaketat. Orang-orang masih mengantre di depan entah untuk urusan apa.

Tak lama kemudian kami tiba di jalan lingkar. Kami belok kiri melewati tumpukan batang pohon yang jelas sekali baru ditebang, lalu menyelinap melewati razia polisi lalu lintas. Tak jauh dari sana, Ezek melihat tempat enak untuk duduk. Kami istirahat di sana. Saya mengeluarkan Pilot, Ezek mengeluarkan papir, tembakau, dan cokelat, tak peduli di sana itu sedang ada razia. Tapi siapa yang peduli bau asap seperti ini di tengah-tengah paparan asap buangan sepeda motor, mobil, bus, dan truk yang lalu-lalang?

“Kayaknya kita pesan tiket bus ke Pokhara lewat Rambler saja,” ujar saya sambil terkekeh.

“Iya,” timpal Ezek, juga tertawa kecil. “Sepertinya lebih baik begitu.”

13 comments

  1. macalder02 · 18 Days Ago

    What a fascinating adventure on Everest. It always seemed to me a spectacular mountain with its almost 9 thousand meters high. In films and documentaries you can see its majestic image.
    That is why his story seems extremely interesting to me because it is
    well defined and easy to read.
    Good for you who enjoyed it in person.
    A hug
    Manuel Angel

  2. Art of the Beat · 18 Days Ago

    Hey there and good morning! Lucky they didn’t take your Nikon! I often get scared when out taking street photos as you never know who may not approve and I hate confrontations.
    Love the photos and your perspective, very cool, especially the two guys on the moped. Some how as I read this last post, I think, hmmm, maybe Ajo is a going to publish a book or possibly has a published book. 🙂
    Hope all is well in your world or getting better (speaking of the virus). Be safe 🙂

  3. salsaworldtraveler · 18 Days Ago

    Everyday is a new and interesting adventure. I was in Pokara in 2016 before starting the Annapurna Trail. Your photos photos and detailed descriptions bring back memories. Looking forward to next posts!

  4. Nasirullah Sitam · 18 Days Ago

    Sepertinya ritme perjalananmu santai banget, mas. Kalau banyak orang mementingkan banyak jumlah destinasi, kamu beda. Ini yang menjadikan kami (pembaca) paham sedikit seluk beluk suatu tempat dengan lebih detail haaaa

  5. ceritariyanti · 18 Days Ago

    Bwahahaha… Semesta memang kadang menutupkan sense of direction…. dan ketika sadar paling-paling menertawakan diri sendiri. Setiap langkah kan membawa kenangan 😀 😀

  6. Dinilint · 16 Days Ago

    Ahahaha,, menyenangkan baca tulisan perjalananmu mas. Aku berasa ikut nyasar di Nepal. Kalau punya waktu fleksibel emang get lost begini asik ya.

  7. Greatnesia · 15 Days Ago

    Jadi ceritanya seharian muter2 disekitar istana presiden yang gak boleh difoto itu aja ya Mas?

  8. Rudi Chandra · 13 Days Ago

    Ahahaha… Jadi seharian cuma muter-muter aja ya Mas. 🤣

  9. Asaphine · 13 Days Ago

    Great story!! ah semoga suatu hari bisa backpackeran kek mas-nya, biar nyasarnya ga hanya jalan kerumah sodara aja keke. Can’t wait for everest

  10. andromedanoholo · 12 Days Ago

    Sama, Mas. Saya juga tipe yang suka ngider santai aja kalo lagi di destinasi baru. Soal nanti ya diatur nanti. 😀

  11. CREAMENO · 10 Days Ago

    Wah enak banget jadi anak sekolah Nepal bisa bangun siang atau kerjakan PR sebelum sekolah hahahahaha 😂 Jadi ingat dulu jaman sekolah, happy banget kalau masuknya siang jam 12. Kadang ada masanya demikian, seperti saat renovasi sekolah 😍 Maklum, ketika itu, bangun pagi rasanya berat ~ 😅

    Eniho, seharian ended up nggak menghasilkan apa-apa, mas? Capek banget pasti hahahaha. But it seems really fun, buktinya jadi post terpisah 🙈 Memang kadang nggak semua rencana kita berjalan lancar, dan sekarang jadi tau alasan counter tiket di area Rambler ada bukan tanpa alasan. Mungkin tujuannya untuk mempermudah hajat hidup calon-calon pengembara Himalaya 😂

  12. Zam · 9 Days Ago

    kalo ngga nyari terminal, nggak bakal ada cerita ini, kan? 😆

  13. Zizy Damanik · 8 Days Ago

    Jadi maksudnya jalan 6-7 jam itu apakah berjalan kaki? Luar biasa. Tapi kalau jalan santai sih asyik-asyk saja, dan pastinya banyak pemandangan. Saya penasaran ingin tahu foto apa yang dihalau itu Mas?
    Apakah sudah di dihapus?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s