Menjelang Senja di Pashupatinath

“Sekarang kalian sudah kayak anak kembar!” komentar Lily dengan aksen New York-nya begitu Ezek dan saya muncul di lantai paling atas Rambler. Mata dan suaranya jenaka. Ia sedang bersama Rhys yang masih memakai topi rajutan merah jambu ala pelukis. Baru dua hari bersama mereka sudah dekat saja. Beberapa botol bir tegak di meja. Di ujung sana, beberapa tamu hostel lain sedang asyik membicarakan entah apa.

Saya tertawa mendengar komentar Lily itu.

Selain sama-sama lecek dibalut debu Kathmandu, Ezek dan saya sama-sama mengenakan celana kargo panjang dan kemeja flanel. Kalau dilihat-lihat, seperti anak kembar memang—atau mirip kakak-adik di hari pertama Lebaran.

Saya tarik salah satu kursi lalu saya duduki. Punggung saya pun akhirnya beradu dengan sandaran. Hilanglah sedikit kepenatan akibat jalan kaki hampir seharian.

Meskipun belum jam delapan, tirai malam sudah sepenuhnya turun. Hawa dingin kering mulai bikin menggigil. Sesekali angin bertiup menggoyang potongan-potongan bendera doa. Emas di stupa Swayambunath berkilau di balik kabut tipis. Di bawah sana mestilah Paknajol Marg dan lampu-lampu jalannya yang sendu sedang kesepian karena ditinggal pulang kendaraan dan manusia. Ah, alam di negeri-negeri beriklim-sedang tak ubahnya junta militer yang seenak jidat memberlakukan jam malam.

“Kami tadi keliling pusat kota Kathmandu tiga kali,” ujar saya, usai menyulut sebatang rokok Pilot. Sambung-menyambung dengan Ezek saya menceritakan petualangan kami, soal dihalau paspampres di depan Istana Kepresidenan Nepal, susahnya menavigasi diri di negeri yang jauh dari khatulistiwa, soal Maharajgunj yang ramai di sore hari, sampai tentang melinting tembakau dan cokelat dekat lokasi razia. Entah berapa kali Lily berkata “Oh my God”, seperti Lily dalam How I Met Your Mother.

“Seharusnya dari kemarin kami pesan tiket di sini saja,” saya menghela napas, pura-pura menyesal. “Omong-omong, kalian tadi ke mana?”

Lily pun bersemangat mengisahkan perjalanan mereka ke Pashupatinath, kompleks kuil Hindu di bantaran Sungai Bagmati. Ia sampai membuka-buka folder ponselnya untuk memamerkan foto-foto yang diambilnya di Pashupatinath—gambar-gambar para sadhu, candi-candi batu, dan orang-orang yang berkumpul di perabuan melepas jenazah kembali ke Ibu Semesta.

“Tempat itu bikin aku ingat Varanasi. Tapi Varanasi lebih luas, sungainya lebih lebar,” ujarnya mengenang perjalanan beberapa minggunya mengitari sebagian India. Kisahnya soal kuil di pinggir Sungai Gangga itu bikin saya ingat penggal-penggal terakhir serial Balada si Roy, entah jilid kesembilan atau kesepuluh. Varanasi adalah persinggahan terakhir si Bandel dalam perjalanan akbarnya menelusuri Asia Tenggara, Bangladesh, dan India.

“Kalian tak mau ke sana?” tanya Lily. “Dekat, kok, dari sini.”

Jelas saya mau.

Usai gagal menemukan terminal, Ezek dan saya belum bicara banyak soal perjalanan ke Pokhara, kecuali soal membeli tiket bus lewat Rambler. Memperpanjang petualangan di Kathmandu sehari lagi sepertinya akan seru. Lagipula, Pashupatinath bisa jadi pengantar bagi perjalanan saya nanti, entah kapan, ke Varanasi.

“Mau ke sana?” tanya Ezek.

Mate

Keesokan harinya kami keluar dari Rambler sekitar jam sebelas siang. Baru tiga hari di Thamel saya sudah lumayan hafal lekuk-lekuknya, sampai-sampai saya bisa membawa Ezek mblusuk lewat jalan-jalan pintas.

Kami sarapan dulu di tempat biasa, Western Tandoori & Naan House. Awaknya sudah hafal pesanan kami: dal bhat dan naan.

“Chapati! Chapati!” ujar Ezek bersemangat ketika pesanan kami tiba.

You’ve got your party, we’ve got chapati,” timpal saya.

Lima belas menit kemudian piring dan keranjang plastik wadah naan itu sudah kosong. Dengan perut penuh dal bhat dan chapati, kami bergerak ke timur mengikuti aplikasi peta di ponsel Ezek. Mode luring, tentu saja. Dari Western Tandoori & Naan House, kami ke perempatan Thamel, menelusuri trotoar Garden of Dreams, disapa oleh serombongan demonstran yang dikawal aparat keamanan, lalu jalan santai menuju Bhagawati Marg. Jalan makin besar. Debu makin tebal karena terus-menerus dipermainkan roda kendaraan berbagai ukuran.

>Pikap Tata Motors di Kathmandu

Di pertengahan Bhagawati Marg, kami berhenti di sebuah warung buah. Ezek membeli pisang.

“Potasio,” ujarnya.  “Bagus buat otot.”

Tak jauh dari warung buah itu, kami melewati sebuah toko suvenir. Etalase kaca transparannya memajang pernak-pernik kayu dan logam. Beberapa langkah dari sana, Ezek mengajak saya mampir. “Aku perlu cari mate,” ujarnya. Kemarin Ezek bilang kalau ia akan menyeduh mate saat menelusuri trek Annapurna Base Camp nanti. Karena wadah mate—yang juga disebut mate—miliknya sudah pecah, ia perlu cari yang baru.

Kami pun balik arah. Ezek masuk ke toko itu. Saya hanya menunggu di luar. Beberapa menit kemudian ia kembali. Ada yang menarik, katanya. “Nanti saja kita ke sini lagi pas pulang,” imbuhnya.

>Jemuran di trotoar Bhagawati Marg

Kami teruskan perjalanan. Di ujung, Bhagawati Marg berbelok ke kiri. Ada trotoar, tapi saya mesti melipir ke bahu jalan supaya tak terjebak di antara baju-baju yang sedang dijemur di tali yang diikatkan entah dari mana ke tiang listrik. Jalan itu menurun, lalu berbelok lagi, kemudian kami tiba di jembatan panjang yang melintasi Dhobi Khola (Sungai Dhobi). Pemandangan jadi sangat terbuka. Mau tak mau saya melihat langit: kelabu. Matahari tak jelas ada di mana. Semilir angin sesekali membuat pori-pori saya menebal.

>Jembatan Dhobi Kola

Lewat jembatan Sungai Dhobi, jalan menanjak lagi. Sandal jepit Indomaret hitam yang saya pakai sepertinya lebih kewalahan ketimbang dengkul saya. Mana sandal itu licin pula, tidak kesat seperti Swallow. Tahu begini tadi saya pakai sepatu saja.

Dari ujung tanjakan, mata saya melihat pohon bodhi raksasa. Rupanya itu penanda perempatan. Ada beberapa toko dan warung di sana—juga sebuah lapangan tempat anak-anak berlarian mengejar bola. Andai saja tulisan di plang-plang itu beraksara latin dan berbahasa Indonesia, pastilah saya merasa seperti sedang berada di kota-kota kecil di daerah pegunungan Indonesia.

>Jayabageshwori Marg

Lalu kami terus ke timur, ke jalan yang semakin mengecil di Jayabageshwori Marg, melintasi kuil kecil di pinggir jalan, warung-warung kecil dengan fasad seperti bangunan-bangunan di desa dekat Menara Suci Karin dalam komik Dragon Ball, lalu tiba di jalan besar Pashupatinath.

“Kayaknya ke kanan, deh,” tebak Ezek.

Jalan besar itu juga berdebu. Mobil dan sepeda motor lalu-lalang. Orang-orang, entah berdiri menunggu angkutan atau berjalan kaki ke tujuan masing-masing, memenuhi trotoar. Kami seberangi jalan itu.

>Jalan Pashupatinath

“Ah, itu ada plang Pashupatinath,” kata saya.

Kami pun belok kiri, makin ke timur, lalu menuruni jalan kecil yang semarak oleh orang-orang yang lalu-lalang dan penjual kembang-kembang kuning untuk persembahan.

Sadhu, rokok, dan kawanan monyet

“Seribu rupee,” ujar petugas yang berjaga di balik loket tiket. Sekitar Rp120.000. Saya tak menyangka harga tiket masuk kompleks Pashupatinath akan semahal itu. Ezek juga kaget.

What the hell,” katanya sambil menggeleng-geleng. “Tapi sudah kepalang tanggung. Kita sudah jauh-jauh jalan kaki ke sini.” Melangkah hampir lima kilometer hanya untuk balik kanan tanpa mampir ke Pashupatinath rasanya adalah sebuah kesia-siaan.

Setelah menebus tiket itu dengan lembaran-lembaran baru rupee Nepal, kami berjalan di atas ubin batu mulus menuju bantaran Sungai Bhagawati. Di beberapa tempat, kawanan merpati hitam sibuk mematuk butiran-butiran makanan yang tersebar di tanah. Sesekali mereka diusik anak-anak kecil yang berlarian dengan gemas. Bangunan-bangunan kokoh berdiri tegak menantang zaman, tak peduli dengan makhluk-makhluk fana yang berkeliaran di sekitarnya. Lahan-lahan kosong diisi rumput-rumput hijau dan kembang-kembang aneka warna.

“Rutenya lewat sini, Sir,” tiba-tiba kami dihampiri oleh seseorang. Pemandu barangkali. Saya hanya meresponsnya dengan tersenyum. Ia mengarahkan kami melewati jalan-jalan kecil di kompleks Pashupatinath. Belok ke sini, lalu ke sana. Sambil berjalan, ia terus saja berbicara. Di ujung sebuah belokan, Ezek dan saya berhenti berjalan. Salah satu di antara kami mengatakan kepadanya bahwa kami tidak hendak menyewa jasa pemandu. Akhirnya, dengan muka kecewa, ia balik badan.

Kami pun terus melangkah, melewati kuil-kuil yang semarak, lalu tiba di jembatan beton sempit yang mengangkangi Sungai Bagmati. Jembatan itu ramai. Di sisi utara, turis-turis bersenjatakan ponsel pintar berdiri merekam perabuan-perabuan yang sedang menyala. Asap mengepul, berpusar-pusar, lalu dipermainkan udara dan diterbangkan ke angkasa. Tali-tali penuh kembang berwarna kuning membujur dari barat ke timur. Pria-pria Nepal berpeci dan perempuan-perempuan bersari tampak di antara candi-candi.

>Suasana di jembatan Pashupatinath

Di ujung jembatan kami belok kanan. Ahli-ahli nujum menggelar tikar dan mengembangkan payung di ghat, sibuk mengobati rasa penasaran orang awam tentang peruntungan dan masa depan. Di sisi kiri, sebuah bagunan tua memanjang, dengan kapur yang sudah mengelupas di sana-sini, pasrah saja dipanjati kawanan monyet. Beberapa orang sadhu tampak di sekitar tembok bangunan itu, entah duduk bersila atau berdiri. Mereka berkumis dan berjanggut. Pakaian mereka berwarna safron, kepala mereka—sekaligus rambut gimbal alami mereka—dibalut surban, dan kening mereka dicat seperti pendukung kesebelasan sepakbola finalis Piala Dunia.

>Suasana ghat di pinggir Sungai Bagmati

“Foto? Foto?” tawar seorang sadhu ketika kami melewatinya. Orang suci yang semestinya sudah melepas hal-hal keduniawian namun menawarkan untuk difoto demi imbalan adalah sesuatu yang absurd bagi saya. Tapi, ya, dunia barangkali memang tidak hitam dan putih. Tak ada yang absolut, tak ada kutub, di ranah kasatmata.

“Tidak. Terima kasih,” jawab saya sambil menggeleng dan mengatupkan kedua tangan seperti direksi BUMN sedang mengucapkan selamat-hari-raya-entah-apa.

“Rokok? Ada rokok?”

Saya buka ransel lipat lalu saya rogoh untuk mengambil kaleng Surya. Saya berikan beberapa batang kepada sang sadhu yang lalu membagikannya ke beberapa orang rekannya.

Kemudian kami duduk di ghat bersama puluhan orang lainnya. Di seberang sana sebuah pondok perabuan sedang ramai. Sekumpulan orang sedang berjalan mengelilingi jenazah—yang sudah dibaringkan di tumpukan kayu—diiringi alunan nada dari alat musik tiup yang rasa-rasanya pernah saya dengar entah di mana. Ah, dalam film Seven Years in Tibet!

>Upacara kremasi jenazah

Tak lama kemudian tumpukan kayu itu dibakar. Asap kelabu pekat mengepul, suara-suara tangis terdengar di antara jilatan lidah api yang menari-nari. Lalu tiba-tiba saja kawanan monyet berlarian di pinggir Sungai Bagmati. Monyet-monyet jantan berkelahi, sementara para betina kepayahan membawa monyet-monyet kecil yang entah menggelantung di depan entah menunggang di belakang.

Menjelang senja di Pashupatinath

Tangga beton di timur Sungai Bagmati itu membawa kami ke kompleks kuil yang candi-candinya mengingatkan saya pada sisa-sisa candi perwara di Prambanan. Kami berjalan sampai ke ujung, kemudian melipir lewat jalan setapak yang membelah rerumputan, melewati beberapa ekor sapi yang sedang memamah, lalu mencari tempat yang pas untuk duduk.

>Candi “perwara” di Pashupatinath

Kami duduk di dekat turunan, di sebelah kiri jalan setapak yang jika diteruskan entah akan berakhir di mana. Pepohonan tak sepenuhnya menutupi pemandangan. Dari celah di antara dua pohon saya bisa melihat secuil garis-langit kathmandu.

Ezek mengeluarkan tembakau, cokelat, dan papir. Tembakau itu dari Amerika Selatan, diimpor ke Eropa, dan dibeli Ezek di Jerman. Sambil menikmati asap kedamaian, ia mengenang petualangannya di Jerman.

“Aku jualan di pinggir sisa-sisa Tembok Berlin,” ujarnya. Turis-turis yang memadati Tembok Berlin bikin tempat itu jadi favorit para pengelana yang menyambung petualangannya dengan berjualan cenderamata. Untung besar dia di sana.

“Di Jerman aku ketemu seorang kawan,” ceritanya. Kawannya itu orang Kolombia. Sejak pertama kali berkenalan, mereka sudah pernah berjumpa tujuh kali di negara-negara yang berbeda. Semuanya tanpa janjian. “Kami tak pernah tukar nomor,” Ezek terkekeh. Tapi, ketika bertemu ketujuh kalinya di Jerman, merasa bahwa semesta memang sudah menakdirkan mereka untuk bersahabat, akhirnya mereka bertukar nomor ponsel.

“Dia sekarang sedang di Pokhara,” ujar Ezek. “Aku sudah hubungi dia tapi belum dibalas.”

Ketika sedang asyik menikmati waktu, seekor anjing kecil berbulu hitam mendekat. Ezek menggodanya. Sebentar saja, anjing itu tak lagi ragu-ragu bermain dengan Ezek. Ia mulai berani mencakar dan menggigit-gigit—sampai kaki si Argentina itu berdarah.

Itu kode bagi kami untuk beranjak dari tempat itu.

Kami kembali menelusuri jalan setapak itu, lalu kembali menyusuri ubin-ubin besar kasar di antara candi-candi. Di pertigaan kecil sebelum turunan ke bantaran Sungai Bagmati, kami belok kiri. Jalan berlapis balok beton itu dipagari pohon rindang, membuat nuansa menjadi sepia. Di ujung sana ada sebuah bangunan memanjang warna bata yang tampak terbengkalai. Bekas biarakah? Kami terus berjalan sampai ke depan bangunan itu, lalu menelusuri setapak tanah yang mengelilinginya. Rupanya bagian belakang bangunan itu jadi tempat mojok pemuda-pemudi lokal.

Sebentar saja kami sudah mengitari bangunan tua itu dan kembali berjalan di jalan berlapis balok beton. Entah kenapa, mata saya lekat mengamati candi-candi yang berdiri kokoh di semak-semak itu. Mirip sekali memang dengan candi-candi perwara di Prambanan. Tapi ada yang beda: ada daun jendela kayu di jendela-jendelanya. Jangan-jangan dulu candi di Indonesia juga punya daun jendela kayu seperti itu?

>Menjelang senja di Pashupatinath

Dalam perjalanan turun, tangga beton menuju bantaran Sungai Bagmati itu tampak lebih syahdu. Kabut tipis membuat sinar matahari makin anggun. Sebelum kembali ke Thamel, kami duduk-duduk sebentar di salah satu bangku panjang di pelataran. Asap dari perabuan masih saja membumbung, tak bisa lagi dibedakan dengan kabut. Satu-dua jam lagi mentari akan tenggelam.

11 pemikiran pada “Menjelang Senja di Pashupatinath

  1. Sampai kaki si Argentina itu berdarah. Busyet, itu sih bukan bermain lagi namanya Mas. 😂

    Wah… Iya ya, candi perwaranya punya jendela, apakah dulu candi-candi di Indonesia juga memiliki jendela?

    1. Hahaha… Cakar-cakaran, Mas Rudi. 🙂

      Mungkin saja, Mas. Cuma, candi-candi kita kebanyakan pernah tertimbun terus digali dan direstorasi. Jadi sepertinya susah melacak bentuk asli jendelanya. Apalagi kayu gampang lapuk kalau tertimbun.

  2. Songkok yang dipakai anak-anak muda itu mirip yang dipakai kawanku orang Nepal, namanya Shagun hehehehehe. Kami dulu kenal gegara dia mahasiswa internasional di kampus tempat kerjaku. Blogger juga, tapi khusus tentang kesehatan masyarakat.

  3. Aduh teringat langsung jalan-jalanku ke pashupatinath, si pemandu ngekor padahal aku sudah nolak berkali-kali… lalu kedua kali ke pashupatinath yaa liat sunset dan sayangnya ga sempet liat aarti puja disana (later malah liatnya di janakpur)
    sempet liat di pashupatinath mas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s