Kawan Baru dari Rosario

Kami keluar ke Jalan Raya Pashupatinath lewat rute yang berbeda. Yang ini lebih terjal dan lebih mungil.

Jalan itu sama sekali tak sepi. Saya mesti terus berjalan di pinggir agar tak disundul sepeda motor yang terus saja muncul dari belakang.

Menjelang ujung, Ezek dan saya berhenti sejenak di pinggir menyaksikan dua mobil—satu mobil kecil dan sebuah truk kosong—kepayahan memanfaatkan sisa ruang sempit di badan jalan. Tapi para juru mudinya tampaknya sudah terbiasa menghadapi jalan kecil. Kurang dari sepuluh menit, keduanya sudah melewati rintangan itu dan berlalu ke tujuan masing-masing.

>Sebuah mobil kecil dan truk berpapasan di jalan kecil dekat Pashupatinath

Kembali kami menelusuri Jayabageshwori Marg. Ezek sudah lapar lagi. Ia berhenti di sebuah warung lalu membeli jeruk. Karena rokok saya sudah habis, saya tebus sebungkus Pilot di warung itu. Seperti biasa, perjalanan pulang terasa lebih cepat ketimbang berangkat. Tahu-tahu kami sudah tiba lagi di perempatan berhias pohon bodhi tadi.

Lapangan besar itu sekarang sudah ramai. Anak-anak dan pemuda berlarian di lapangan tanah, mengejar dan mengoper bola berusaha memasukkan si bundar ke bawah mistar. Kami pun duduk di palang besi yang membatasi lapangan dan jalanan. Saya menyulut rokok, Ezek melinting tembakau dan cokelat.

>Suasana perempatan dekat lapangan sepakbola, ujung Jayabageshwori Marg

“Coba bayangkan,” ujar Ezek tiba-tiba, “bagaimana rasanya kalau sepuluh-dua puluh tahun lagi kita ke tempat ini lagi tapi bareng keluarga kecil masing-masing?”

Saya terkekeh mendengar itu. Asap kedamaian bikin orang jadi cerewet.

Tapi, mau tak mau saya jadi membayangkan perubahan apa yang akan dialami Kathmandu dalam sepuluh-dua puluh tahun yang akan datang. Mungkin jalanan ini tak lagi berdebu. Barangkali rumput layaknya lapangan-lapangan bola di liga-liga sepakbola Eropa sudah melapisi lapangan ini. Anak-anak yang sedang berlarian bersama debu itu tentu sudah akan menjelang dewasa, dan para pemuda itu sudah mengambil tongkat estafet kepemimpinan Nepal.

Mungkin yang masih akan tetap sama adalah hawa dingin—jika manusia akhirnya tak ‘berhasil’ menjungkirbalikkan kesetimbangan iklim bumi.

Satu-dua batang rokok kemudian, dingin terasa makin menusuk. Hawa musim gugur mulai membelai lutut dan betis saya. Maklum, saya cuma pakai celana pendek motif loreng yang saya beli bersama Nyonya beberapa tahun lalu di Sunmor. Karena sebentar lagi matahari akan hilang, kami pun meneruskan perjalanan kembali ke Paknajol, melewati jembatan Dhobi Khola, lalu tiba di pertigaan Bhagawati Marg.

Alih-alih belok kanan, kami malah berjalan lurus. Entah ke mana kami tak tahu. Kami terus berjalan, berjalan, dan berjalan sampai pinggir jalanan kembali penuh oleh bangunan ruko. Kami tiba di Dilli Bazaar, lalu pindah ke Bag Bazaar. Jalanan penuh kendaraan dan trotoar semarak oleh manusia. Sepintas lalu, keramaian ini tak ada bedanya dari suasana di kota-kota besar di Indonesia. Hanya saja, entah kenapa saya merasa ada yang beda. Tapi apa?

>Antara Dilli Bazaar dan Bag Bazaar

Ah!

Masih banyak kios penjahit dan toko kelontong milik pribadi di jalanan ini—seperti suasana kota-kota besar di Indonesia dua atau tiga dasawarsa yang lalu barangkali. Saya juga baru sadar bahwa sejak pertama kali menginjakkan kaki di Kathmandu jarang sekali saya melihat minimarket seperti di kota-kota besar di Indonesia. Rezeki di Nepal, barangkali, masih mengalir deras ke akar rumput, kepada saudagar-saudagar bermodal kecil, bukan ke brankas-brankas besar.

Lampu-lampu jalan mulai menyala. Cahaya-cahaya temaram di plafon bangunan mulai beraksi menyinari gelap yang sebentar lagi akan datang. Ezek menepuk jidat, “Ah! Kita lupa beli mate!”

Di ujung Bag Bazaar, saat saya sedang menaiki tangga jembatan penyeberangan yang bentuknya seperti rantai hidrokarbon, orang-orang berkumpul di pinggir jalan menantikan angkutan yang akan membawa mereka pulang. Setelah melewati kerumunan pejalan, kami tiba di ujung jembatan penyeberangan, lalu turun dan melangkahkan kaki di pinggir Ratna Park.

Dari trotoar Ratna Park, kami masuk ke jalan kecil penuh manusia. Bangunan sudah kembali tinggi. Lapak-lapak dan toko-toko yang menjual kain, rempah-rempah, bahan makanan, dan lain-lain seperti lentera yang dikerubuti laron. Tapi keramaian itu dinamis. Kecuali mereka-mereka yang sedang bertransaksi, orang-orang bergerak cepat ke tujuan masing-masing. Saya tak perlu memperlambat langkah. Jalanan itu hanya menuntut saya untuk menjadi gesit.

>”Diagon Alley”

Saya merasa familiar dengan keramaian seperti ini: ini adalah gambar yang muncul dalam kepala saya ketika pertama kali membaca soal Diagon Alley di Harry Potter dan Tawanan Azkaban semasa SMP dulu.

Kawan baru dari Rosario

Saat saya membuka pintu kamar K2, seorang penghuni baru sedang berbincang dengan tamu Amerika, mantan tentara usia paruh baya, yang baru saja menyelesaikan petualangannya di rentang Himalaya. Ezek langsung ke kamar mandi, sementara saya ke dipan untuk menaruh barang.

Mantan tentara itu pun beranjak ke luar. Kehilangan teman mengobrol, penghuni baru itu segera saja mengajak saya mengobrol. Kami pun berkenalan. Pemuda bersemangat itu bernama Juan dan ternyata dari Argentina. Ia lebih tinggi dari Ezek, dan, tidak seperti Ezek yang berparas campuran, Juan tampak seperti orang Spanyol.

“Wah! Kebetulan,” ujar saya pada Ezek begitu ia muncul dari pintu kamar mandi. “Dia juga dari Argentina, nih!”

Mereka langsung mengobrol dalam bahasa Spanyol. Kata demi kata bertukar dalam kecepatan seperti banteng sedang berlari memburu kain merah yang diayun-ayunkan oleh matador. Saya cuma bisa menangkap satu-dua kata.

“Akhirnya aku bisa bicara dalam bahasa Spanyol lagi,” ujar Ezek. Sudah berminggu-minggu ia tak menemukan orang yang bisa diajaknya bicara dalam bahasa ibunya.

Dari kamar, kami naik ke ruang bersama di atas Everest. Mereka terus mengobrol. Juan bersemangat sekali bercerita ini-itu kepada Ezek. Ia rupanya adalah seorang mahasiswa dari Rosario, kota kelahiran Messi dan Gereja Maradoniana (Iglesia Maradoniana), yang sedang libur kuliah beberapa minggu dan berencana menelusuri trek Three Passes di wilayah Everest—satu rute dengan Rhys. Di sela-sela kalimat yang keluar darinya, saya mendengar kata “che.”

“Dia panggil kau ‘che’?” tanya saya pada Ezek.

“Iya,” jawabnya. “Biasanya kami memanggil laki-laki yang lebih senior dengan sebutan ‘che.’”

Saya pernah baca soal ini entah di mana. Tapi mendengarnya langsung dari para penutur asli bahasa Spanyol terasa berbeda. Saya jadi teringat lagu “Hasta Siempre Comandante” tentang Che Guevara yang diperkenalkan J ketika saya terjebak banjir di Da Nang akhir tahun 2018 lalu.

Lama-lama saya lapar. Saya pun mengajak mereka makan malam di warung dal bhat. Sampai di warung dal bhat pun—ternyata ada Nadav di sana—Juan masih terus bersemangat bercerita. Tak cuma mulutnya yang bergerak, tangannya pun ke mana-mana sampai-sampai sekali waktu lengannya menyambar teh susu panas yang sedang dibawa salah seorang pelayan.

Makanan kami cepat habis. Sekitar lima sampai sepuluh menit usai makan, karena warung itu sedang ramai, kami pergi dari sana. Nadav pamit untuk mencari makanan pencuci mulut. Juan, Ezek, dan saya berjalan kembali ke arah hostel.

“Mau ngebir?” tanya Ezek begitu kami tiba di bawah pohon bodhi di pertigaan Paknajol Marg.

Kami pun membeli tiga botol bir dingin di toko minuman dekat pohon bodhi lalu membawanya berjalan ke arah hostel. Kami duduk di undakan ruko samping hostel, membuka bir, lalu lanjut mengobrol. Ezek melinting tembakau dan cokelat. Lintingan berpindah tangan dan kami jadi lebih banyak tertawa. Kami jadi turis brengsek. Meskipun bir dijual bebas di Thamel, hampir tak pernah saya menemukan turis yang seenak jidat meminumnya di pinggir jalan, dilihat dengan pandangan miring oleh orang-orang yang lalu-lalang, seperti kami.

>Tembok sekolah depan Rambler

Ketika kami sedang asyik tertawa-tawa, seorang pemuda Nepal yang baru saja berjalan melewati kami tiba-tiba berhenti. Matanya melihat curiga ke arah kami bertiga.

“Kalian punya rokok?” ia bertanya.

“Ya,” jawab Ezek.

“Boleh minta?”

“Tentu,” jawab Ezek. Saya pun memberikan kaleng rokok Surya pada Ezek. Ia mengeluarkan sebatang lalu menyodorkannya pada sang pemuda.

Belum sempat mengambil sebatang rokok itu, ia bertanya, “Kalian sedang hisap marijuana?”

Jantung saya mulai berdebar kencang. Saya berusaha sebisa mungkin agar tak kelihatan grogi, meskipun dalam kepala saya sudah terbayang kemungkinan-kemungkinan terburuk. Jangan-jangan pemuda itu intel dan sebentar lagi teman-temannya muncul entah dari mana, meringkus kami, dan membawa kami ke kantor polisi.

Saya tak mau masuk koran.

“Tidak,” jawab Ezek. “Cuma tembakau. Tabak.”

Ia tak bohong. Memang benar kami tak sedang menghisap marijuana. Yang kami hisap adalah tembakau campur cokelat.

“Boleh minta satu?”

“Rokok ini saja,” jawab Ezek.

Dengan muka tak rela, ia menerima sebatang Surya yang disodorkan Ezek itu. Setelah menyulutnya, ia pun melanjutkan langkahnya entah ke mana. Ketika berjalan menjauh ia sesekali melihat ke belakang. Kami pun bergegas menghabiskan bir lalu membuang botolnya ke dalam karung di tempat pembuangan sampah seberang Rambler.

Sebelum naik ke lantai paling atas, kami menghampiri meja resepsionis untuk memesan tiket bus ke Pokhara.

“Jam setengah tujuh sudah di bawah, ya,” ujar pemuda berkacamata yang malam itu sedang berjaga di belakang meja resepsionis.

Di samping sofa lobi kecil Rambler itu ada sebuah rak kecil berisi buku-buku dan peta-peta jalur lintas alam di Nepal. Saya ambil sebuah peta Sirkuit Annapurna dan sebuah buku tentang Nepal, lalu saya bawa ke atas.

Di atas Everest, peta itu saya bentangkan lebar-lebar di permukaan meja. Dengan kepala mulai berkabut, saya cari lintasan Annapurna Base Camp dan saya jelaskan kepada Ezek rute yang akan kami tempuh. Bosan melihat peta, kami lanjut mengobrol. Alkohol dan asap kedamaian bikin kepala saya ringan, sampai-sampai saya tak sadar bahwa hari sudah berganti. Sudah jam 1.30 dini hari.

32 pemikiran pada “Kawan Baru dari Rosario

  1. Hi there!

    Great story and love the way you used motion in many of your photos. That one of the vehicles on that tiny street made my heart race a bit! By the way, I am beginning to think you are a famous writer as I almost felt like I was there with you and Ezek and I could totally relate to the marijuana thing 🙂

    Hope you are well. Stay safe 🙂

    1. Hi, M! Thank you. 🙂 Really glad you liked them.

      I always walked almost next to the buildings when I was in Thamel. There were so many vehicles moving like Dom Toretto, but with the sound of horns blaring endlessly… 😀

      If you were there, we would have a really great time together. 🙂 I still can recall my heartbeat racing and cold sweat pouring when the guy asked if we were smoking marijuana. I would be, at least, deported if he were really a cop. 😀 I read some stories about backpackers caught red-handed smoking a joint and taken to the police station. 😀

      Stay well too! 🙂

      1. Your words were perfect pictures of the atmosphere and just the normal everyday life that was going on around you. Loved it! Your photos were expertly shot and enhanced the story.

        Yeah, when I saw that about the guy asking about marijuana, I cringed as I know that some places you can get fined or arrested for spitting on the sidewalk. Glad you made it to your destination and back home 🙂

      2. With things that I have learned from seeing the photos you’ve posted on the blog, I hope I could produce better pictures in the future. I really love the way you capture the light.

        Me too… If things went south, perhaps I wouldn’t make it back before the thing invaded the world. 🙂

      3. Well I kind of think of you as tour guide 🙂 I have been wanting to travel to your part of the world for so long and Hubby says that is out of the question unless I go by myself. So, I may just do it!

        Thank you! I just shoot and hope I get a good shot. My eyes aren’t as good as they used to be 🙂

      4. And when you do it and you somehow get to Yogyakarta, we’d have a bottle of cold beer and hours of talking about many things. 🙂

        They are great, really. Guess it’s a matter of soul. You have the soul. 🙂

      5. Ah…nice to think and dream about. One day I will make it there or close to it. I am putting it out there in my Universe…:)

        That would be the best to socialize with other travelers and locals and hear their stories. Sound like a great time to me 🙂

  2. Thanks for taking me along as you explore Katmandu. In 2016 when I was there power was only on about 12 hours each day and the country was still struggling to overcome the 2015 earthquake. I’m looking forward to the next posts about your trip. 😃

    1. You’re most welcome. I guess Kathmandu looked really different in 2016. When I was there, late 2019, the electricity had already run 24/7. Guess I should open your old posts to see what Kathmandu looked like in 2016.

  3. Aku bayangin kalau yang salipan mobil itu di Indonesia, mesti ramai banget dan polah ahhahaha.
    Kenapa di sana kalau ada yang merokok linting dikira mariyuana ya, mas? Apa karena lokasinya berdekatan dengan negara penghasil itu? Melintasi beberapa negara dengan jalur yang tidak biasa

    1. Kayaknya udah masuk TikTok atau Instagram itu, Mas. 😀

      Memang banyak, sih, di Nepal, Mas. Dulu, dari cerita-cerita yang saya dapat, santai-santai aja pemerintahnya. Tapi sekitar dua tahun lalu ladang-ladang di gunung mulai dibakar sama otoritas.

  4. Pemandangan kotanya emang rasanya nggak asing sih.
    Kayak pemandangan di kota-kota tua kecil yang belum dimasuki para investor bermodal besar.

    Di Sumatera ada beberapa kota yang rasanya mirip seperti ini.

  5. I have a doubt. Are you doing these trips now or was it at another time? . I say this because of the issue of the pandemic. In any case, the walking tour is very tiring and in the cold it is more difficult to walk. In the end it is an adventure and when you are young, the body can take it. It is seen that the cities of Indonesia are very populated and the traffic must be chaotic. The good thing about all this is that they enjoy it and that’s what counts.
    The end of the year is approaching. I wish you the best for this 2021. May you continue traveling and enjoying life that is one. A hug.
    Manuel Angel

    1. Hi, Manuel. I did the trip late 2019, before the outbreak, when people were still going out without facemask. 🙂

      Agreed. I didn’t face any problem dealing with the pollution, because our cities are quite polluted. But the cold was a challenge for someone living in the tropics like me. Fortunately, the temperature in Kathmandu was not that cold (at least above 0 Celsius), like in the mountains, so I could still manage walking only wearing flannel.

      Thank you Manuel. I wish you all the best too for the following year. I hope things get better and we all can get back to walking under the sun without worrying too much about our health. Big hug.

      1. I also hope the same. That at least the vaccine allows us more freedom of movement.
        Your adventure was great and I am glad that it was before the pandemic.
        The photos are great.
        The best this new year.
        A big hug and you have to take good care of yourself
        because health comes first.

  6. woww keasikan ngobrol bisa sampai lupa waktu ya mas Morish. Tapi kalau nemu temen baru yang seru, asik, kayaknya nggak capek capek tenaganya
    aku deg degan pas baca ketika ada pemuda lokal menanyakan marijuana, haduhhh kalau dia intel beneran kan bisa berabe juga acara trip nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s