Jalan Panjang ke Pokhara

Bunyi weker digital menghentikan tidur saya yang lembam. Usai mematikan alarm, saya cek tablet. Ada pesan dari Nyonya. “Hati-hati, ya,” tulisnya. Semalam saya kasih kabar kalau saya akan naik bus jam 7 pagi ke Pokhara.

“Di sana jam berapa sekarang?”

“Jam 6.58,” balasnya.

Mestilah di sana langit sudah terang. Kathmandu masih gelap; baru jam 5.43. Juan, Nadav, dan para penghuni lain masih tidur. Tampaknya takkan ada yang bangun sampai mentari muncul.

Setelah berkemas, Ezek dan saya berjinjit keluar kamar K2. Meskipun sudah berusaha keras untuk tak berisik, bunyi tapak kaki kami masih saja menggema ketika menuruni tangga.

Pemuda tinggi berkacamata itu sudah menunggu di bawah. Ia mengucapkan selamat pagi dengan riang.

“Tunggu sebentar, ya?” ujarnya. Masih ada beberapa tamu lagi ia tunggu. “Dari Malaysia,” imbuhnya. Mereka mau ke Chitwan.

Saya sandarkan ransel ke dinding lalu duduk di salah satu sofa panjang.

“Mau teh?” tanya sang pemuda.

“Tentu,” sambut saya.

Dikeluarkannya dua kantung teh lalu diseduhnya untuk kami. Aroma teh seketika memenuhi ruangan. Saat kami sedang menikmati minuman itu, tiga orang muncul dari tangga—seorang pria tua, seorang perempuan tua, dan seorang perempuan muda. Sang pemuda juga menawari mereka teh panas.

Begitu gelas-gelas teh itu kosong, kami keluar dari Rambler. Langit sudah mulai pucat.

>Paknajol Marg di pagi hari

“Kita jalan kaki,” ujar sang pemuda sembari menarik salah satu koper milik keluarga kecil dari Malaysia itu. “Tempatnya dekat sekali, kok.”

“Omong-omong, namamu siapa?” tanya saya pada sang pemuda.

“Panggil aku Rocky,” jawabnya. Lalu ia terkekeh. “Namaku Rosan, sih, sebenarnya,” sambungnya. Diddi-nya, kakak perempuannya, adalah istri dai sang pemilik hostel.

Paknajol Marg sudah bangun. Kendaraan sudah mulai lalu-lalang. Sudah ada beberapa warung yang buka. Sesekali para pelancong dengan ransel besar di punggung berjalan cepat melewati kami.

Kami berhenti sebentar di sebuah warung sebelum turunan. Keluarga Malaysia itu membeli bekal untuk perjalanan. Saya beli sebungkus Pilot. Harganya 100 rupee. Ah, berapa sebenarnya harga sebungkus Pilot? Hari pertama beli Pilot di warung dekat Rambler, saya menebusnya 80 rupee. Ketika ke sana keesokan harinya, wajar saja jika saya menyodorkan 80 rupee untuk membeli sebungkus pilot. Tapi, uang saya tak langsung diterima.

“Eidifaif,” ujar pria botak berkacamata yang berjaga di belakang etalase warung.

“Maaf?”

“Eidifaif,” ulangnya.

Saya berpikir sebentar. Ah, maksudnya eighty-five.

Delapan-puluh, delapan-puluh lima, seratus—harga rokok di Paknajol Marg cair sekali.

Rocky membawa kami ke Swayambhu Marg. Hari sudah makin terang. Dari kejauhan saya bisa melihat bus-bus turis aneka warna berbaris di pinggir jalan. Para pejalan merubungi kantor-kantor agen bus. Walaupun tak tahu akan naik bus yang mana, saya dan Ezek percaya diri saja berjalan di depan.

>Swayambhu Marg

Brother!” Rocky berteriak dari belakang. “Di sini!”

Rupanya kami berjalan terlalu jauh.

“Itu bus ke Chitwan,” ujar Rocky kepada keluarga dari Malaysia itu. Setelah memberikan tiga lembar tiket, Rocky membantu mereka memasukkan koper ke bagasi belakang bus.

Kemudian ia mengantarkan kami ke bus turis tujuan Pokhara. Setelah menyodorkan dua lembar tiket kepada kami, ia pamit.

“Semoga beruntung,” ujarnya sambil tersenyum.

Kami duduk santai sambil makan pisang di undakan sebuah toko yang masih tutup. Di sebelah sana ada sekelompok pejalan berparas Melayu. Ransel gunung yang mereka pakai, Deuter, yang terlalu internasional, bikin saya sudah menebak dari mana mereka berasal. Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, atau Filipina? Entahlah.

Sekitar sepuluh menit menjelang jam 7, awak bus membuka bagasi belakang. Kami bangkit dari undakan itu lalu ikut mengantre untuk menaruh ransel. Beberapa saat setelah kami duduk di bangku paling belakang, bus itu berangkat.

Bus jam 7 ke Pokhara

Di samping saya duduk seorang pelancong. Perempuan muda. Parasnya seperti Renée Zellweger, tapi dengan rambut ikal berwarna cokelat. Setelah bertegur sapa, kami sibuk dengan urusan masing-masing.

Dari kota, bus melaju ke pinggiran lalu masuk ke jalan pegunungan yang berliku. Meskipun tak ada pendingin ruangan, angin yang berembus dari celah-celah jendela sudah cukup untuk membuat hawa kabin bus sedingin ruangan ujian sidang skripsi.

Jam setengah 9, sang supir menepi di sebuah warung tepat di siku tikungan. Pekarangan tanahnya luas, di belakangnya jurang. Begitu mesin bus dimatikan, terdengar suara kasak-kusuk khas. Obrolan manusia terdengar makin nyaring tanpa dilatari deru mesin. Dari bangku tepat di depan saya, telinga saya menangkap nada-nada khas: suara dua orang perempuan sedang mengobrol dalam bahasa Indonesia dialek Jakarta.

>Perhentian pertama

“Dari Indonesia, ya?” saya sapa mereka.

Keduanya menoleh ke arah saya. Lalu, dengan campuran nada heran dan gembira, salah seorang di antara mereka menjawab, “Iya.”

Kalau tak salah, dua orang itu bagian dari rombongan yang tadi saya lihat di Swayambhu Marg. Akhirnya saya dapat jawabannya: mereka dari Indonesia.

“Mas sendirian?”

“Iya, saya dari Indonesia sendirian,” jawab saya. “Mau ke Pokhara?”

“Iya.”

Lalu mereka kembali menoleh ke depan. Rekan-rekan mereka memanggil, mengajak turun. Ezek tertawa melihat saya bicara dalam bahasa yang tak ia mengerti. “Ketemu kawan sekampung, hah?” ujarnya.

Ketika lorong bus sudah kosong, Ezek dan saya turun. Sebagian penumpang merapat ke warung berdinding seng di ujung sana untuk mengisi perut, sebagian lain melipir ke belakang untuk mengosongkan perut. Saya dan Ezek menghisap tembakau di pinggir jalan mengamati kendaraan-kendaraan yang lalu-lalang.

Suasana di tempat ini bikin saya ingat jalanan Sitinjau Lauik. Tapi rupa-rupa truk di sini lebih semarak. Warnanya lebih… eksperimental dan stikernya lebih meriah. Sebagian besar stiker itu ditulis dalam aksara Devanagari yang mengingatkan saya pada daftar-nama-pembuat-film di akhir drama-drama India yang saya tonton ketika kecil dulu. Tapi ada juga bus yang ditempeli stiker beraksara latin. Tulisan-tulisannya memancing senyum: “Buddha Was Born in Nepal” atau “Jesus Loves You.

>Sebuah truk sedang menanjak di Prithvi Highway

Kami mengobrol sampai supir kembali menyalakan mesin bus.

Selanjutnya jalanan masih begitu-begitu saja: naik-turun dan berliku-liku. Renée Zellweger tampak kepayahan membaca bukunya.

“Susah untuk baca buku kalau jalanannya seperti ini,” ujar saya berbasa-basi.

Sambil tertawa, ia menutup bukunya. “Ya, susah,” ujarnya.

Ia membuka saku ranselnya lalu mengeluarkan plastik transparan berisi makanan entah apa.

“Mau?” ia bertanya.

“Apa ini?”

“Entahlah,” ujarnya dengan bahasa Inggris beraksen Amerika. “Tadi aku beli di warung sebelum berangkat.”

Saya ambil satu lalu saya gigit. Rupanya itu adalah potongan daging kelapa yang sudah dikeringkan. Barangkali seperti ini rasanya makan kopra.

Saya dan Ezek lalu berkenalan dengan perempuan muda itu. Ia dari Colorado.

“Kawanku ada yang kuliah di Colorado,” ujar saya. “Di sekolah pertambangan itu.”

“Aku dulu sekolah di sana,” ia tersenyum, barangkali karena momen ini terlalu absurd baginya; mengobrol tentang kampusnya, Colorado School of Mines, dengan orang asing di jalan antara Kathmandu dan Pokhara, Nepal, sekira separuh putaran Bumi dari Colorado.

“Geologi?”

“Bukan,” jawabnya. “Teknik mesin.”

Alumni Colorado School of Mines pastilah tak jauh dari kegiatan alam-bebas.

“Mau trekking ke mana?” saya bertanya.

“Oh, aku bukan mau trekking,” jawabnya. “Mau arung jeram.”

“Arung jeram?”

“Ya,” jawabnya. “Aku masih punya waktu tiga hari sebelum pulang.”

Ternyata ia baru kembali dari perjalanan dua minggu di Bhutan. Perjalanan itu mendadak, katanya. “Tiba-tiba saja temanku menelepon dan bilang ada satu kursi kosong untuk perjalanan ke Bhutan,” ia bercerita.

Ke Bhutan memang tak bisa sembarangan. Pelancong yang datang mesti ikut tur, ditemani pemandu, tak bisa melanglang sendirian. Slogan pariwisata negeri itu: “High Value, Low Impact.

“Udara di sana benar-benar segar,” lanjutnya.

Ia lalu memperlihatkan pada saya video ketika pesawat kecil yang ia tumpangi hendak mendarat di Bandara Paro. “Coba kau lihat langitnya,” ujarnya bersemangat. “Bersih!”

“Sempat ke Tiger’s Nest?”

Ia geser-geserkan telunjuknya di layar ponsel. “Ke sini?” ujarnya sambil memperlihatkan foto situs sakral itu.

Sungai besar mulai sering tampak di sebelah kanan jalan. Di antara jeram-jeram putih, sekali-sekali tampak perahu karet atau kayak sedang meluncur. Lalu, di depan sebuah kantor operator arung jeram di pinggir Sungai Trishuli, bus itu berhenti. Awak bus mempersilakan kawan baru kami itu turun, sebab ia sudah tiba di tujuan.

Saat bus kembali meluncur menuju Pokhara, perempuan Colorado itu berdiri tersenyum sambil meregangkan badan. Di belakangnya helm dan pelampung tergantung diam di tali jemuran. Sebentar lagi ia akan mengarungi riam.

Pegunungan bertudung es

Kini hanya ada Ezek dan saya di bangku belakang. Saya menghabiskan waktu melihat ke luar jendela, ke rumah-rumah di pinggir jalan, kendaraan-kendaraan yang datang dari arah berlawanan, jembatan-jembatan gantung yang membentang di antara dua pematang.

Sekitar jam setengah sebelas, bus kembali berhenti. Kami makan siang. Karena pagi tadi tidak sarapan banyak, perut saya lumayan lapar. Sebenarnya saya ingin makan dal bhat. Tapi kurang bijaksana rasanya makan besar dalam perjalanan panjang seperti ini. Akhirnya saya pesan semangkuk mi rebus. Karena bawa air minum sendiri, dengan veldfles TNI-AD bekas yang saya dapat di Pasar Kangen beberapa tahun lalu, saya tak pesan minuman.

>Perhentian kedua

Makanan kami cepat sekali habis. Usai makan, saya dan Ezek duduk-duduk menikmati asap tembakau di atas sepetak rumput kecil di halaman restoran itu.

“Mas dari Indonesia juga?” Tiba-tiba terdengar suara dari arah depan. Saya menjawab “Iya” sambil menoleh. Sumber suara itu adalah seorang pemuda kurus, berkaus, dan bercelana pendek.

“Luki,” ujarnya sambil mengajak saya berjabat tangan. Ia bilang, tadi temannya cerita kalau ada orang Indonesia yang menyapa mereka di bus.

“Sendirian aja?” lanjutnya.

“Dari Indonesia sendirian. Tapi ketemu kawan baru di bandara,” jawab saya. Lalu saya kenalkan ia pada Ezek.

Luki dan teman-temannya dari Jakarta. Sama seperti saya, mereka juga hendak ke Annapurna Base Camp juga. Tapi waktu luang mereka cuma sebentar. Besok pagi mereka sudah akan memulai perjalanan pergi-pulang lima hari ke Annapurna Base Camp.

Setelah mengobrol sebentar, ia pamit untuk kembali ke teman-temannya.

Obrolan dan asap rokok bikin saya haus. Saya cari veldfles kesayangan: tak ada!

“Ah, botol minumku ketinggalan,” ujar saya sambil menepuk jidat. Ezek terbahak.

Saya pun kembali ke meja makan kami tadi. Botol itu masih di sana. Ah, ada masalah apa antara saya dan botol minum?

Setelah berhenti sekitar setengah jam, bus kembali melaju. Jalan masih meliuk-liuk, yang saya lihat masih saja gunung, lembah, dan sungai.

>Sungai Trishuli

Menjelang tengah hari, bus melambat. Lalu lintas merayap. Penyebab kemacetan itu rupanya adalah sebuah stasiun kereta gantung. Lepas dari sana, bus melaju tanpa hambatan.

Sekitar jam 1 lewat, mata saya menangkap sesuatu yang aneh di atas awan: pegunungan bertudung es. Meskipun sudah ‘berkenalan’ dengan Pegunungan Himalaya pada penerbangan Jakarta-Kathmandu lima hari lalu, saya masih tetap saja gumun.

“Senyummu lebar sekali,” Ezek meledek. “Senang sekali sepertinya.”

Orang Andes itu takkan pernah tahu perasaan makhluk tropis saat melihat pemandangan seperti ini.

Tak lama setelah saya tak bisa lagi melihat puncak-puncak pegunungan es, bus kembali berhenti. Ezek lapar, ia makan. Saya duduk-duduk saja di bangku beton di tepi pekarangan restoran itu. Di depan saya, para penumpang bus sedang mengantre membeli kopi.

Entah sejak kapan, saya senang sekali membaca sesuatu yang barangkali tak lazim dibaca orang. Waktu kecil, saya senang baca obituari di koran. Waktu remaja, saya senang sekali membaca nama-nama para produser dan ‘additional player’ di sampul kaset. Dalam perjalanan, saya tak tahan untuk tidak membaca plang-plang nama toko di pasar-pasar atau keramaian yang saya lewati. Maka, wajar saja jika siang itu saya ‘tak sengaja’ membaca tulisan di kaus hitam yang dipakai pria botak paruh-baya yang sedang berdiri di antara tempat duduk saya dan kafe itu. Ada tulisan ‘Tulamben’ di sana.

Saya hampiri dia. “Anda menyelam?”

“Maaf?”

“Ada tulisan ‘Tulamben’ di baju Anda,” jawab saya.

“Oh,” ia tertawa lalu melepas kacamata hitamnya. “Iya. Saya dive master.”

Menjumpai seorang penyelam di jalan antara Kathmandu dan Pokhara rasanya seperti menemukan fosil amonit di lereng Pegunungan Himalaya.

>Stasiun pengisian bahan bakar

Di pinggir Danau Phewa

Lepas perhentian ketiga, jalanan mulai melandai. Bus kini tak lagi melaju di jalanan pinggir jurang. Rasanya seperti sedang menelusuri jalanan dari Lubuk Selasih sampai ke Kota Solok usai meliuk-liuk di Sitinjau Lauik.

>Kabin bus turis Kathmandu-Pokhara

Sekitar jam 3 sore, bus berhenti di sebuah jalan besar yang ramai. Ada satu-dua tulisan ‘Pokhara’ dalam aksara latin di plang-plang toko. Semula saya kira itu adalah perhentian kami, rupanya bukan. Setelah berhenti sebentar, bus itu kembali melaju sampai akhirnya berhenti di sebuah lapangan besar.

Karena duduk paling belakang, Ezek dan saya turun paling terakhir. Lalu kami berkumpul bersama para penumpang lain dekat bagasi belakang untuk mengambil ransel masing-masing. Ransel kami sudah diturunkan, ditumpuk dengan ransel-ransel Deuter milik Luki dan teman-temannya.

“Nginap di mana, Mas?” tanya Luki.

“Belum tahu,” jawab saya. Hari masih sore; masih banyak waktu untuk mencari penginapan.

“Indonesianya di mana, Mas?” tanya salah seorang di antara mereka.

“Jogja,” jawab saya. Lalu saya dan dia bicara dalam bahasa Jawa. Ternyata dia ketua rombongannya. Namanya Barok, tinggal di Pulau Bali.

Lalu kami berpisah. Ezek dan saya jalan kaki mengikuti para pelancong lain.

“Kayaknya kita cari kafe yang ada WiFi-nya dulu, deh,” ujar Ezek. “Aku mau cek pesan balasan dari kawanku.”

Dari boulevard itu, kami belok kiri. Trotoar semakin lebar. Kini di sebelah kiri kami adalah hutan kota dengan pohon-pohon rindang. Samar-samar, saya bisa melihat riak-riak perak di permukaan Danau Phewa. Hawa di Pokhara terasa sedikit lebih dingin ketimbang Kathmandu.

Melihat ada kafe menarik di sebelah sana, kami menyeberangi jalan. Hanya ada beberapa orang di kafe itu, pelancong dari negeri jauh yang sedang menikmati santap sore. Kami memesan bir dingin dan beberapa potong naan.

“Kawanku itu menginap di Hotel Angel,” katanya. “Dekat dari sini.”

Begitu bir habis, kami berjalan ke arah Hotel Angel. Trotoar di sisi kanan ini sama lebarnya dengan yang di seberang sana. Banyak toko peralatan alam-bebas. Barang-barang obral ditaruh di dalam kardus. Kupluk-kupluk dan sarung tangan wol tergantung di tali.

Tak susah mencari Hotel Angel. Ketika kami tiba di gerbang penginapan itu, kawan Ezek melambai-lambai sambil tersenyum dari lantai dua. Di sampingnya ada seorang perempuan. Mereka berdua bergegas turun menghampiri kami.

Kawan Ezek itu bernama Alejandro. Perempuan yang bersamanya, yang ternyata adalah pacarnya, bernama Marcela. Mereka menyewa satu kamar. Karena satu kamar saja sudah murah, mereka yakin kalau kamar dormitori di Hotel Angel juga murah. Daripada harus mencari penginapan lain, sementara hari sudah hampir gelap, kami menginap di Hotel Angel saja.

Kamar dormitorinya besar. Dipannya ada delapan—dipan tunggal, bukan tingkat—tapi colokan listrik hanya ada dua.

Ketika hari sudah gelap, Alejandro dan Marcela mengajak kami makan malam. Semakin ke utara, suasana semakin ramai. Toko-toko peralatan alam-bebas makin banyak, juga toko souvenir, toko buku, dan lain-lain. Di ujung jalan, kami belok kiri lalu masuk ke sebuah warung makan kecil.

Setelah makanan dan bir habis, kami pergi ke pinggir Danau Phewa. Alejandro dan Marcela baru pulang dari Mardi Himal. Dalam perjalanan, mereka membeli cokelat dan Doña Juanita gunung. Alejandro melinting. Lintingan berpindah-pindah.

Kami mengobrol sambil melihat cahaya-cahaya warna-warni yang dipantulkan permukaan Danau Phewa. Ada bianglala di sebelah sana. Di atas sana, di puncak pegunungan, lampu-lampu berkelap-kelip.

“Itu Sarangkot,” ujar Alejandro.

Tiba-tiba saja seekor anjing mendekati kami. Badannya besar dan bulunya tebal. Peranakan golden retriever, barangkali. Mukanya bijaksana. Ia lalu duduk di dekat kami bak pengawal yang siap pasang badan jika sewaktu-waktu ada yang menyerang.

29 pemikiran pada “Jalan Panjang ke Pokhara

    1. Kalau nggak salah, waktu itu dia cuma punya sisa waktu 3 hari buat dihabisin di Nepal, Mas Rudy. Karena nggak cukup buat trekking, dia pilih arung jeram saja. Tapi kayaknya dia juga sudah kebanyakan trekking di Bhutan. 😀

  1. Hey Ajo!

    Thanks again for taking me on a trip with you. I am so jealous of lady from Colorado. I wish I could be spontaneous and take a trip like that. Honestly, that is so cool and I hope to do that someday. It is also cool how you get to meet so many international people. I wish more people were open to learning about other cultures.

    By the way, your photos are perfect!

    Take care and be well 🙂

    1. You’re most welcome, M! And thank you for reading this story.

      Her adventure to Bhutan made me jealous too. 😀

      It is amazing how ordinary people from all around the globe could really talk to each other when traveling. They only meet once and the experience lasts for the rest of their life.

      Thanks, M! I wish I went there before I stumbled upon your website–my photos would be better. 😀

      You too! Take care and be well 😀

      1. Hola Ajo!

        Thank you for writing them 🙂

        It is a cool thing about travel and meeting others when you are traveling. it must be the shared experience of adventure. You are right, it is weird how people out being a tourist will speak with people they would not talk to in their regular life.

        Your photos are fabulous! Everyone is so intent on getting the perfect Instagram shot, I like the personal ones that were not planned and are really candid. THey tell better stories 🙂

        Be well 🙂

      2. A thank you for sharing your experiences! I may never get to actually visit that county or stand on the same mountain but I still get to experience it through your writing. 🙂

  2. Aku bisa bayangin bagaimana ekspresi teman-teman Indonesia yang mendadak ketemu kawan senegara secara tidak sengaja. Jadi sedikit terobati toh mas bisa bicara bahasa Indonesia di sana ahahhahaha.
    Jalurnya asyik, perbukitan yang indah tapi tetap kudu waspada.

  3. Waktu bocah suka baca obituari koran? Wah, kayaknya langka sekali ini! Haha.. Atau mungkin juga indikasi kalau morishige punya naluri kontemplatif/filosofis gitu kali ya? Ada yang bikin penasaran, soal bir dingin. Bukannya di sana hawanya sudah dingin banget? Atau mungkin saya yang terlalu orthodox berani nenggaknya kalau di dataran rendah doang. 🙂

    1. Ah, entahlah, KK. Hahaha… Saya suka takjub sama umur orang-orang di obituari itu, juga sama sanak keluarga mereka yang terpencar ke berbagai penjuru.

      Di Kathmandu dan Pokhara, hawanya masih masuk akal, KK, jadi bir dingin masih enak banget diminum. Tapi kalau di kaki pegunungan yang suhunya lebih rendah lebih enak rum atau single malt.

  4. Deuter.. dulu kukira itu merek luar biasa yang banyak dipakai di Jerman.. ternyata ya memang banyak dipakai.. bahkan seperti kalo di Indonesia pakai Eiger.. 😆

    tas Deuter yang kubeli di Jakarta, buatan Vietnam, kini pulang kampung ke negara asalnya.. 😆

  5. Asyiknya kalo traveling yg memang banyak turis, pasti Nemu turis2 lain bahkan sampe dr negara sendiri yaaa :D. Aku paling seneng loh kalo sdg jalan ke mana, trus ada ketemu sesama Indonesia :).

    Aku berharap THN ini bisa ke Bhutan, tp rasanya masih harus nunggu penyebaran vaksin :(. Ga yakin THN ini udah bisa traveling

    1. Ketemu sesama Indonesia pas kelayapan rasanya kayak ketemu saudara sendiri, Mbak. 😀

      Mudah-mudahan keadaan membaik, Mbak Fanny. Ditunggu tulisan-tulisannya nanti tentang Bhutan. 🙂

  6. Ah ceritanya sudah ada pegunungan bersaljunya, liat fotonya yang sudah ada layer lembahnya… rindu banget, rindu juga liat sungai trishuli (tempat arung jeram)…
    Berenti makan siang jam 11 karena jam makan siang orang nepal ya jam 11 bukan jam 12 kayak kita. Ah, kebayang macetnya di manakamana cable car itu, saya sempat berhenti di stasiunnya tahun 2014 tapi ga naik karena antreannya ga nahanin, abis itu gak bisa kesana-kesana lagi karena manakamana templenya rusak parah saat gempa 2015.
    ditunggu cerita lanjutannya di pokhara, pasti seru…

    1. Waktu jalan mulai macet, semula saya kira ada kecelakaan atau semacamnya. Eh, ternyata stasiun kereta gantung. 😀 Nggak nyangka juga bakal melewati stasiun kereta gantung dalam perjalanan Kathmandu-Pokhara. Hehehe…

      Ditunggu lanjutannya, ya, Mbak. 🙂

  7. Perjalanan saya dari Kathmandu ke Pokhara kebetulan dpt tiket harga miring krn duduknya memang nyamping di belakang sopir, enak juga sih malah bisa melihat pemandangan di depan dgn leluasa 🙂

  8. My husband travelled to India and then to Pokhara in 1976. When he came back to his family in Italy he had serious problems with accepting occidental lifestyle again. We met in 1981 and I’m quite sure he was my soulmate ❤
    He died on Frbnruary 11, 2005 but still planted in my heart. Just like Pokhara in his heart.
    I wish you all the best!
    Hugs from Italy,
    Vicky

    1. Hi, Vicky!

      Wow, your husband went there during a great era. I bet he experienced a lot of things there, I envied him. I can imagine how hard it was for him to adjust with living in the West after spending some time in the East.

      Thank you for reading this post and your beautiful comment. I really appreciate it.

      Stay safe there in Italy! Hugs from Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s