Pura Vida

Hotel Angel tiga tingkat. Atapnya rata seperti atap sekolah dalam film-film Jepang. Ada paviliun kecil yang entah untuk apa. Dari bawah, mata saya juga menangkap kain-kain sedang dijemur. Bangunan hotel yang seperti huruf L memeluk sebuah halaman hijau dibingkai bunga-bunga aneka warna. Tali-tali bendera doa saling-silang di atasnya. Di tengah-tengah pekarangan itu berdiri sebuah gazebo kecil yang menaungi beberapa kursi—mestilah nyaman sekali sarapan di sana.

Tapi, pagi itu, Ezek dan saya menunggu sarapan di kursi plastik yang kami taruh di hamparan rumput. Kami berjemur. Hangatnya sinar surya mendarat di kulit saya yang semalaman dikeloni dingin musim gugur. Melancong ke negeri empat musim seperti ini bikin saya lebih menghargai matahari.

Kemudian seorang nenek yang tadi berjaga di dapur datang membawa nampan. Sarapan kami panekuk pisang rupanya, dan teh susu hangat. Panekuk pisang itu bikin saya terkenang Poppies Lane II dan Gili Trawangan. Cepat habis panekuk itu. Lalu kami merokok dan tertawa.

“Ayo mengurus izin trekking?” ajak Ezek.

Kami kembali ke dalam untuk bersiap-siap. Kamar dormitori pagi itu sepi. Pelancong Tiongkok yang pendiam itu tak tampak batang hidungnya. Pemuda India yang malam tadi masuk kamar dalam keadaan mabuk—dan sempat-sempatnya meminta air mineral pada kami—pun tak kelihatan. Hanya ada satu orang di kamar, yakni seorang pria paruh baya dari Korea Selatan.

“Rencananya saya mau tinggal di Machhapuchhre Base Camp tiga-puluh hari,” ujarnya tadi saat kami mengobrol basa-basi. Ransel kecilnya tampaknya sudah siap dibawa berangkat. Trekking pole-nya juga agaknya sudah tak sabar untuk menjadi pengawalnya di setapak pengunungan. Ia hendak menelusuri jalur ke Annapurna Base Camp juga. Sayang sekali tak ada ruang-bersama di Hotel Angel. Jika ada, saya pasti akan betah berlama-lama mendengarkan cerita-cerita petualangan bapak itu.

Lalu kami mulai berjalan ke arah kantor pengurusan izin trekking terdekat. Trotoar lebar di depan jejeran toko itu sepi. Tak banyak suara, tak banyak orang yang lalu-lalang. Aspal pun hanya sesekali digilas roda kendaraan. Di ujung sebuah jalan pintas kecil, dari sebuah toko suvenir, lagu syahdu berlirik “Om Mani Padme Hum” mengalun memuja dewa-dewi—atau menarik pembeli. Komodifikasi hal-hal yang sakral; sama di mana-mana.

Di sebelah kanan, sepagi ini Danau Phewa masih lengang. Sampan-sampan dan kano-kano sewaan belum kelihatan.

Kami belok kiri di sebuah pertigaan. Trotoar jadi makin kecil—dan sesekali menghilang. Dari aspal, pandangan saya naik ke rumah-rumah, lalu pelan-pelan mengarah ke langit biru berawan. Terus, awan tebal itu membuka, memamerkan pemandangan absurd: gunung berselimut salju nan tajam dan menjulang. Panorama surealis. Puluhan tahun dikungkung perspektif tropis, saya belum sepenuhnya terbiasa dengan lanskap subtropis Nepal.

“Bung! Lihat itu,” ujar saya sambil terseyum lebar pada Ezek. Manusia Andes itu cuma terkekeh.

Tempat mengurus izin itu dekat perempatan. Sekilas, bentuknya seperti apotek puskesmas. Seorang pria menyambut kami dari balik meja.

“Anda trekking mandiri atau dengan pemandu?” ia bertanya.

“Mandiri,” saya jawab.

“Oh, tempat ini hanya mengurusi perizinan trekking dengan pemandu,” jawabnya. Izin trekking mandiri, katanya, bisa diurus di Nepal Tourism Board. “Di pinggir danau,” imbuhnya.

Kami kembali berjalan, melewati jalanan kecil, berbelok-belok, naik-turun, sampai tiba di sebuah kawasan perkantoran di mana orang-orang tampak sedang sibuk menyelesaikan urusan masing-masing. Banyak warung di sana, juga kios-kios fotokopi yang juga menawarkan jasa pembuatan pas foto kilat. Tapi, jalan itu keburu berakhir—di persimpangan yang kami lewati dalam perjalanan dari perhentian bus kemarin—sebelum kami menemukan gedung berplang “Nepal Tourism Board”.

“Ayo kita tanya saja ke orang-orang di sana,” usul saya pada Ezek.

Kami balik kanan dan menghampiri sebuah warung.

“Ke kiri, ikuti jalan pinggir danau,” ujar orang yang kami tanyai. “Nanti belok kanan kalau bertemu perempatan.”

Petunjuk itu membawa kami kembali ke bulevar yang kemarin kami lewati—yang pagi itu jadi lebih semarak. Toko-toko—kelontong, minuman, kios fotokopi dan pas foto kilat, dll.—ramai dan pelataran riuh oleh interaksi manusia. Di perempatan, kami belok kanan. Sekira seratus langkah kemudian, kami tiba di Nepal Tourism Board.

Lobi kantor itu sedang tak terlalu ramai. Di depan meja resepsionis hanya ada beberapa orang turis asing yang mengantre. Ketika giliran kami tiba, petugas perempuan yang berjaga memberi kami formulir untuk diisi.

Kami isi formulir itu di kursi tamu empuk dekat pintu masuk.

“Kau punya foto?” tanya Ezek.

“Ya. Aku sudah mencetak beberapa lembar foto,” jawab saya. Saya rogoh ransel lipat kecil Quechua saya untuk mencari plastik berisi foto itu. Tapi tak ada.

“Ah, fotoku ketinggalan di kamar,” ujar saya.

“Itu di sebelah sana sepertinya ada tempat bikin pas foto gratis,” kata Ezek sambil menunjuk salah satu sudut lobi kantor Nepal Tourism Board.

“Aku jemput sajalah ke hotel,” ujar saya.

“Kenapa?”

Saya bilang ke Ezek bahwa pas foto yang saya bawa itu diedit oleh seorang kawan baik. Sudah jauh-jauh saya bawa dari Indonesia, akan sia-sia sekali rasanya jika foto itu tak saya pakai. Ezek hanya menggeleng-geleng mendengar jawaban itu.

“Tunggu sebentar, ya!” ujar saya.

Lalu saya bergegas keluar dari kantor Nepal Tourism Board. Mata saya menatap ke depan, tapi pikiran saya sedang menghitung perkiraan waktu yang saya habiskan untuk berjalan bolak-balik dari Nepal Tourism Board ke Hotel Angel.

Fokus pada pikiran, saya lupa pada kenyataan. Tanpa sadar saya melamun.

“Tuan! Tuan!”

Saya mendengar teriakan—teriakan yang menyadarkan.

“Anda mau ke mana?”

Rupanya saya salah jalan. Alih-alih keluar kembali ke jalan raya, saya malah masuk ke pekarangan sebuah kantor. Saya tak tahu itu kantor apa. Tapi, saya lihat petugas yang bertanya “Anda mau ke mana?” itu memeluk senjata api laras panjang.

Asuransi

Sekira setengah jam kemudian, saya kembali berada di lobi Nepal Tourism Board. Ezek sudah rampung mengisi formulirnya. Pas foto pun sudah ia cetak. Segera saja kami menghampiri meja resepsionis untuk menyerahkan formulir itu.

“Mohon isi informasi asuransinya,” ujar petugas perempuan yang menerima formulir saya.

“Saya tak punya asuransi,” ujar saya. “Banyak artikel di internet yang menulis kalau asuransi ini opsional.”

“Tidak,” responsnya. “Anda perlu asuransi.”

Saya menoleh ke Ezek, “Kau punya asuransi?”

“Dulu aku pernah punya asuransi perjalanan, sih,” jawabnya, “tapi sudah kedaluwarsa sejak lama.”

Saya kembali bertanya pada sang petugas, “Apakah informasi asuransi itu benar-benar perlu diisi?”

“Ya,” jawabnya mantap.

Andai saja ada cermin, mestilah saya bisa melihat warna kelabu kekecewaan menggantung di wajah saya.

“Ayo balik ke hotel saja dulu,” ujar Ezek santai. “Tenang, Bung!”

Saya keluar dari Nepal Tourism Board dengan lesu. Rasanya saya seperti seorang pengemudi yang tiba-tiba menghantam tembok tinggi—tembok yang tak semestinya ada. Sebenarnya saya bisa saja mengisi informasi asuransi itu sembarangan. Saya tak yakin juga petugas akan sampai menelepon asuransi untuk verifikasi. Tapi saya tak mau begitu; tak etis rasanya perjalanan ke Annapurna Base Camp diawali dengan kebohongan.

Pikiran kalut bikin saya terpisah dari kenyataan, sampai-sampai saya tak sadar bahwa kami sudah kembali berjalan di trotoar jalanan pinggir danau. Dan saya haus, perlu minum. Saya cari veldfles hijau bekas tentara itu—tak ada.

“Oh, tidak,” saya menepuk jidat. “Botol minumku ketinggalan di atas meja tadi.”

Ezek tergelak. “Mau balik?” ia bertanya.

“Ah, tak usahlah,” jawab saya.

Kami terus melangkah di trotoar yang meliuk-liuk itu, melewati toko kelontong, toko buku, toko perlengkapan alam-bebas, toko-toko yang menjual syal Kashmir, agen perjalanan—

Ada tulisan “TIMS & ACAP” di papan promosi agen perjalanan itu. Sambil menunjuk itu, saya tanya Ezek, “Mau coba ke sana?”

Ezek mengiyakan. Kami pun masuk ke dalam kantor agen travel itu. Seorang perempuan yang saya taksir berumur 40-an menyambut kami dengan senyum. “Ada yang bisa saya bantu?” ia bertanya.

Saya jelaskan persoalan kami kepadanya. Ia mendengar cerita saya sambil mengangguk-angguk dan tersenyum. Raut mukanya tampak santai, seolah-olah persoalan saya ada urusan sehari-hari baginya.

“Ya, kami bisa membantu mengurusnya,” ujarnya setelah saya rampung bercerita.

“Biayanya berapa?”

“Enam ribu rupee,” jawabnya yakin. Cuma selisih seribu rupee dari biaya jika kami mengurus langsung di Nepal Tourism Board.

Saya menoleh ke Ezek.

“Cuma selisih seribu rupee,” responsnya. Rupanya dia juga langsung menghitung.

Sambil mengambil gagang telepon, perempuan itu berkata, “Tunggu sebentar, ya?”

Selama beberapa menit, ia berbicara dengan seseorang lewat telepon. Usai menelepon, ia bilang bahwa ia baru saja bicara dengan kakak laki-lakinya yang memang sudah biasa mengurus perizinan haiking. “Mohon tunggu sepuluh menit, ya?” pintanya sambil tersenyum.

Kurang dari sepuluh menit kemudian, kakak laki-lakinya tiba. Tapi, usai mendengarkan persoalan kami, ia menaikkan harga. “Delapan ribu rupee,” ujarnya.

“Lho? Tadi katanya enam ribu rupee,” balas saya.

Ia menjawab bahwa harga ia naikkan karena kami tak punya asuransi—persoalan yang sejak pertama sudah kami ceritakan pada perempuan di balik meja itu.

“Saya perlu mengurus asuransi Anda,” timpalnya. “Karena itu harganya saya naikkan.”

Kalau begitu, kenapa tak dari awal dikatakan bahwa biayanya enam ribu rupee? Ah, ini pasti akal-akalan untuk menambah margin. Tapi orang itu salah cari lawan; kakek buyut saya pedagang.

“Ya, sudah. Mau bagaimana lagi kalau memang tidak bisa sepakat di enam ribu rupee,” kata saya.

“Lalu apa yang akan anda lakukan selanjutnya?” tanya sang pria.

“Kembali ke Kathmandu, mungkin. Atau ke Nagarkot,” jawab saya.

“Tunggu sebentar,” ujar sang pria. Ia lalu berdiskusi dengan adiknya. Di sela-sela obrolan mereka, sang adik berkali-kali melihat kepada kami dengan ekspresi seorang kakak yang gemas melihat kelakuan adiknya. Di sebuah pesawat televisi yang dipajang di dinding belakang kasir, seseorang tampak sedang bersenang-senang menjajal paralayang. Pegunungan bertudung es terhampar di bawahnya.

“Baiklah,” ujar sang pria, akhirnya. “Enam ribu dua ratus lima puluh. Dan saya akan mengurus asuransi untuk Anda.”

Saya menoleh pada Ezek. Ia mengangguk.

Setelah mengumpulkan formulir dan foto-foto kami, pria itu pergi. Sang perempuan meminta kami kembali dua jam lagi.

“Pura vida”

Siang itu kami dibawa Alejandro dan Marcela ke warung langganan mereka. Letaknya tak jauh dari sebuah pertigaan besar dekat Taman Basundhara. Pengelolanya sepasang suami-istri berumur akhir 30-an atau awal 40-an. Saya coba chowmein di sana. Sambalnya enak. Pedas dan kaya rempah.

Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke agen travel itu. Kartu TIMS hijau dan ACAP kami sudah jadi.

Saya gembira.

Setiba di hotel, Alejandro dan Marcela mengajak kami ke kamar mereka. Di kasur besar mereka, peti pipih kecil terbuka, memamerkan cincin-cincin logam bermata batu alam warna-warni karya Alejandro. Di pojok, tersandar sebuah ukulele. Saya ambil ukulele itu lalu saya duduk di bangku rotan dekat tempat tidur.

Sembari memetik-metik senar ukulele, saya dengarkan mereka bercerita. Saya terkekeh ketika Ezek cerita soal kawannya, orang Kolombia, yang bernama Escobar.

“Dia tak punya hubungan keluarga sama Pablo Escobar,” ujar Ezek. Escobar rupanya nama belakang yang cukup banyak digunakan di Kolombia. “Tapi dia sering diinterogasi di bandara sama petugas imigrasi.”

Alejandro melinting Doña Juanita lalu mencampurnya dengan cokelat. Lintingan itu berpindah-pindah tangan, lalu sampai ke saya. Satu hisap, dua hisap, tak terjadi apa-apa.

Saya terus memetik-metik ukulele, mendisrupsi kesetimbangan gelombang semesta. Mereka terus mengobrol, tertawa-tawa. Saya terus memainkan ukulele.

Lalu, ruangan itu mendadak tampak berputar. Tak cuma spasial, tapi juga temporal. Saya merasa seperti bolak-balik dalam waktu. Alejandro, Marcela, dan Ezek kelihatan seperti berada dalam adegan slow motion.

Shit! It’s good!

“Heh… heh… heh…,” Alejandro tertawa dalam gerak lambat. “Mantap, ‘kan?”

Saya jelaskan sensasi yang saya alami pada mereka, meskipun saya tak dapat menemukan kata dan kalimat yang pas untuk mengekspresikannya. Tapi, mereka tetap saja tertawa.

Kemudian Alejandro membuka peta jalur lintas-alam Pegunungan Annapurna dan memberikan kuliah singkat tentang rute yang dapat kami lewati.

“Kalian bisa mulai dari Nayapul—ah, di mana Nayapul?” mulainya, dalam gerak lambat. (Tahu-tahu saja kami berempat sudah berkumpul mengelilingi peta.) Tangannya menelusuri garis-garis di peta. Saya—yang mulai melayang—berusaha mendengarkannya dengan saksama. Sesekali Marcela memotong demi melengkapi cerita Alejandro. “Nah, di sini. Terus, kalian lanjut ke sini… sini…. Blablabla… Blablabla… Menginap di sini… Blablabla…”

Ada energi besar yang tertahan di rongga dada saya yang kalau dikeluarkan akan meledak jadi tawa. Sambil menyimak Alejandro, saya pukul-pukul saya punya dada. Doña Juanita dan cokelat memang bangsat! Lalu, tahu-tahu saja kuliah singkat Alejandro selesai.

Ezek tiba-tiba ingat sesuatu, “Ah, aku harus cari jaket bulu angsa!”

Kami pun pamit pada Alejandro dan Marcela.

Saya berjalan di belakang Ezek, masih di bawah pengaruh campuran Doña Juanita dan cokelat. Setiap beberapa langkah, saya merasa seperti ada waktu yang terlewati, ter-skip, seolah-olah ‘waktu’ beberapa detik menguap begitu saja ke kolong semesta.

Pura vida…,” ujar Ezek, entah ketika kami berada di mana.

17 comments

  1. Art of the Beat · Januari 19

    Pura Vida! Truly! Great post! I like how you went back to your room to get that photo. It tells so much about your character and I laughed during the insurance price haggling. I would have paid what they asked me. even if I knew they were taking advantage of a traveler.

    Can’t wait to buy your book!!!

    • morishige · 18 Days Ago

      Hahaha… Thanks, M. The day was like a rollercoaster. 😀

      One day I’ll send the book–the translated version–to CV. Haha… 😀

      • Art of the Beat · 18 Days Ago

        Yes! Really, I hope you are writing a book! I have google translator – only works sometime 😦 Ha ha!!

  2. macalder02 · Januari 19

    You really have a knack for words to accurately describe your hiking adventures. An entertaining and interesting read from the time they left the Japanese-style hotel until they met Alejandro and Marcela to give their adventure a Latin touch. That is why I understand the title of your publication “Pura Vida”.
    Again I enjoyed great storytelling. Such is it, now I have a taste for hiking. I hope you are well and taking care of yourself. Health is first.
    Manuel Angel

    • morishige · 17 Days Ago

      Thanks for the beautiful words, Manuel. Surprisingly, I met many new Latin friends during the journey. And it enriched my experience. 🙂

      Stay safe there in Chile. 🙂

  3. salsaworldtraveler · Januari 19

    This is quite an adventure. I look forward to the rest of it.

    • morishige · 17 Days Ago

      Thank you. I really appreciate it. 🙂

  4. Nasirullah Sitam · Januari 20

    Banyak cerita yang menyenangkan hahahah
    Oya mas, apakah ini kali pertaman ditanyai tentang asuransi? Kadang orang seperti saya pun bingung kalau ditanya asuransi ahahahha

    • morishige · 17 Days Ago

      Iya, Mas Sitam. Baru kali ini benar-benar ditanyai soal asuransi. Mungkin karena aktivitasnya agak berbahaya, ada risiko kena AMS yang bisa saja bikin tak bisa meneruskan perjalanan. 😀 Kalau naik gunung-gunung di Jawa biasanya paling banter cuma diminta surat sehat dari dokter. 😀

  5. ceritariyanti · Januari 20

    Hahahahaha… gak habis-habis saya ketawa baca soal efek campuran Doña Juanita dan cokelat… ceritanya semakin seru jadinya wkwkwkwkwk…

    • morishige · 17 Days Ago

      Hahaha… Sensasinya lumayan intens, Mbak Riyanti. 🙂

  6. alrisblog · Januari 24

    Cerita perjalanan yang seru. Bikin lanjutannya. Ditunggu.

    salam

    • morishige · 17 Days Ago

      Terima kasih, Bang. Ditunggu, ya, lanjutannya… 🙂

  7. Zam · 18 Days Ago

    asuransi.. sebuah hal yang sebenarnya sangat penting, tapi seringkali kita abaikan karena dianggap tidak berguna.. namanya juga perlindungan, sebaiknya ada dan jangan sampai terpakai.. 😆

    • morishige · 17 Days Ago

      Bener banget, Mas Zam. Kayaknya sekarang asuransi perjalanan juga lebih mudah pengurusannya. Nanti-nanti kalau mau trekking lagi kayaknya saya bakal urus asuransi aja sebelum berangkat. Hehehe…

  8. fanny_dcatqueen · 16 Days Ago

    Jdi intinya, asuransi ttp harus ada ya mas saat trekking :D. Berarti kalo pake travel insurance sebenernya bisa juga kan yaa asal ada poin yg mengcover utk trekking? Aku sekalinya beli insurance tiap kali bepergian.

    Itu kenapa ketinggalan barang Mulu bolak balik hahahahah

  9. kutukamus · 15 Days Ago

    Barusan cek wiki untuk ‘pura vida’. Trims jadi dapat frasa baru. Seru juga tuh sampai nyasar ke restricted area hehe Yang pasti, salut untuk ‘balik foto’-nya 🍸

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s