Baglung

Pada pagi ketiga di Pokhara, kami mengikuti pemuda bertato yang murah senyum itu berjalan di beranda Hotel Angel. Ezek dan saya hendak menitipkan barang-barang yang tak kami bawa ke kaki Annapurna. Semula saya kira kami akan diantar ke dapur, bawah tangga, atau entah ke pojok mana di lantai bawah. Ternyata tidak. Kami dibawa naik tangga, ke atap, ke paviliun dekat jejeran tali jemuran yang rupanya adalah gudang.

Sang pemuda membuka kunci gembok, mendorong pintu, lalu menyilakan kami menaruh barang. Pojok-pojok ruangan sudah penuh barang titipan, tapi tengah ruangan masih lega. Saya taruh tas laptop dan tas lipat Quechua punya saya di sana. Ezek meninggalkan “bengkel” berjalannya.

>Eiger Dyneema 35+5L

Usai menaruh barang, kami keluar dari gudang. Sang pemuda segera mentutup pintu lalu mengancingi gembok. Tak ada nomor titipan.

Di bawah, Alejandro dan Marcela sudah menunggu. Kami berjabat tangan dan berpelukan. “Selamat bersenang-senang,” kata salah seorang di antara mereka. Lalu kami berangkat. Dari gerbang Hotel Angel, ketika menoleh ke belakang, saya lihat dua sejoli itu melambai-lambaikan tangan seperti sedang melepas sahabat merantau ke seberang lautan.

Langkah saya ringan. Meskipun dari luar tampak padat, keril Eiger Dyneema saya tak berat. Yang bikin ransel gunung itu gembung adalah penghangat badan—jaket bulu angsa TNF bekas dan kantong-tidur Cozmeed. Botol minum baru, yang saya beli tadi malam, saya sangkutkan di samping keril. Bolongan di tutupnya terlilit di apa yang seharusnya jadi tempat menyangkutkan kapak es—tak perlu kapak es untuk ke Annapurna Base Camp. Tas-pinggang saya selempangkan di dada. Di dalamnya saya taruh paspor, TIMS dan ACAP, dan kamera.

Ezek menyenandungkan melodi “Seven Nation Army”, lagu sederhana The White Stripes yang biasanya terdengar pada pertandingan-pertandingan sepakbola, sambil mengangkat kedua tangan ke udara. Saya tertawa, lalu urun suara-dua. Sejak di Kathmandu kami sering menyanyikan lagu itu. “Kita bakal nyanyi lagu ini nanti di Annapurna Base Camp,” ujarnya tempo hari.

Di trotoar depan, kami mencegat bus rongsok mirip Kopata yang sedang melaju ke arah barat. “Baglung?” tanya saya, menyebut nama terminal, kepada sang supir, begitu kami duduk di sampingnya, di bangku panjang yang membelakangi jendela bus. “Ya… ya…,” jawabnya. Lalu ia menginjak pedal gas.

>Suasana bus menuju Terminal Baglung

Bus itu meliuk-liuk mengikuti jalan pinggir danau, memutari bundaran, lalu masuk ke bulevar dekat Nepal Tourism Board. Di ujung, sang supir memutar setir ke kiri, membawa kami ke jalan yang kian lebar. Sebentar kemudian, mata saya melihat bandar udara dan pesawat-pesawat kecil yang terparkir di pinggir landasan pacu. Selepas itu bus meraung-raung menghadapi tanjakan. Sudutnya pas; saya bisa melihat langit. Warnanya biru. Awan putih menggumpal-gumpal di kaki langit. Dan, seperti tombak yang siap melahap pasukan penerjun, tegak menjulang puncak gunung bertudung salju. Dekat perempatan, bus itu berhenti sebentar. Sang kernet memanfaatkan momen itu untuk menarik ongkos.

>Perjalanan menuju Terminal Baglung

Lalu bus kembali melaju, berputar-putar di Pokhara, melewati perempatan-perempatan di mana lalu lintas hanya diatur oleh polisi, memasuki jalanan kecil penuh toko entah-apa yang mengingatkan saya pada Wamena, sampai akhirnya sang kernet menyuruh kami untuk bersiap-siap.

“Terminal… di sana,” ujarnya, sambil menunjuk ke depan, ketika kami sudah berdiri di depan pintu bus yang terbuka.

Bus itu berhenti. Kami turun lalu berjalan ke arah yang dituju telunjuk sang kernet. Di ujung sana saya lihat ada beberapa bus terparkir. Terminal Baglung sudah dekat, saya semakin bersemangat.

“Di sana mungkin ada mate,” kata Ezek. Beberapa langkah di depan kami ada sebuah toko perkakas logam. Ezek masuk, saya menunggu di luar. Sebentar kemudian ia datang membawa sebuah wadah kecil yang terbuat dari—tampaknya—perunggu.

“Mate!” ujarnya riang.

Ketika Ezek memperlihatkannya pada saya, mata saya bisa menangkap jelaga hitam di dinding dalam wadah itu.

Ezek memasukkan mate baru itu ke ranselnya dan kami pun lanjut berjalan. Beberapa puluh langkah kemudian kami tiba di Baglung.

Baglung

Terminal Baglung, pada pagi menjelang siang itu, lumayan ramai. Para calon penumpang berlindung dari terik matahari di bawah kanopi yang memanjang di depan jejeran ruko. Taksi-taksi kecil terparkir di tengah-tengah terminal, membelakangi beberapa pohon besar. Supir-supir berkerumun di sekitarnya.

Beberapa bus menuju Nayapul antre dekat gerbang keluar. Kami menghampiri bus paling depan. “Lima belas menit!” teriak seseorang, entah supir atau kernetnya. Kami masih punya waktu seperempat jam sebelum bus berangkat.

>Suasana Terminal Baglung

“Mau beli bekal?” tanya Ezek.

Saya mengangguk. Kami memang perlu bekal. Waktu diskusi tempo hari, saya sudah bilang pada Ezek bahwa kami bisa menghemat biaya makan siang dengan membawa bekal sendiri. Umumnya, para pelintas-alam akan makan siang di penginapan/restoran. Kami akan mencoba cara lain—pada jam makan siang kami akan cari tempat nyaman di pinggir trek dan menyantap bekal sendiri.

Kami pun berjalan ke arah swalayan di pojok terminal.

Swalayan itu tak gemerlap sama sekali. Tak ada neon terang dan papan iklan warna-warni. Lorong-lorongnya seperti lorong-lorong swalayan dalam film-film pascakiamat. Jika swalayan ini buka di Indonesia, apalagi tepat di samping Indomaret, tentu takkan ada orang yang tertarik datang. Tapi isinya cukup lengkap. Rokok berjejeran dekat kasir; botol-botol air mineral tersedia untuk dibeli; begitu juga minuman ringan aneka rasa; makanan ringan entah bikinan pabrik besar atau yang diproduksi usaha rumahan—ada makanan ringan seperti kopra yang dibawa oleh cewek Colorado kemarin; dan di ujung sana ada makanan kelengan.

Saya mengambil beberapa makanan kalengan—kacang merah dan jagung, beberapa bungkus kacang-kacangan kering, dan roti bantal, lalu segera ke kasir. Rokok sudah saya beli di pinggir danau. Ditambah sisa Surya yang saya bawa dari Indonesia, sepertinya stok rokok sudah cukup untuk perjalanan ke Annapurna Base Camp. Air mineral tidak saya beli; kami akan ambil air di keran-keran di desa-desa yang kami lewati atau di mata air-mata air alami sepanjang jalur.

Usai membayar, saya keluar dari swalayan itu. Ezek masih di dalam. Sembari menunggu, saya bongkar ransel untuk memasukkan bekal. Untuk perjalanan lintas-alam yang berlangsung hampir sepertiga bulan, sebetulnya saya agak kaget mendapati bahwa bawaan saya tak banyak. Masih banyak ruang kosong dalam keril saya. Barangkali karena trek yang akan saya lewati tak seperti jalur sebagian besar gunung di Indonesia yang menuntut pendaki untuk mandiri.

Ezek, yang sudah selesai membayar, menghampiri saya di beranda swalayan. Usai mengemasi bekalnya, ia lari terbirit-birit ke toilet di pojok terminal.

Setelah ia kembali, kami beranjak ke bus dan menaruh keril dekat bangku belakang. Bus itu sudah lumayan penuh. Karena belum ada tanda-tanda bus akan segera berangkat, kami kembali turun. Ezek yang lapar—padahal tadi sudah makan pisang—pergi ke warung kecil di sebelah sana untuk mengisi perut. Saya sendiri hanya bersandar di besi yang memagari terminal, menghisap rokok sambil mengamati kendaraan yang lalu-lalang dan puncak gunung bertudung es yang mengambang di balik atap jejeran ruko di seberang sana.

>Jalan Raya Pokhara-Baglung

Langit masih biru. Saya masih tak percaya bahwa saya akan segera memulai perjalanan lintas-alam menuju Annapurna Base Camp, berbulan-bulan lamanya setelah merencanakan perjalanan ke Nepal; enam tahun setelah mengambil koin satu rupee Nepal di sebuah bungalow di Iboih, Sabang; sebelas-dua belas tahun setelah pertama kali mendengar istilah ABC—Annapurna Base Camp—dari senior SMA ketika kami mendaki Sindoro dan Sumbing; tiga belas tahun setelah menonton film dokumenter BBC soal penemuan fosil amonit di Pegunungan Himalaya; tiga belas tahun setelah melakukan pendakian perdana.

“Nayapul! Nayapul!” seseorang berteriak. “Ayo! Ayo!”

Mesin bus pun mulai menderu. Ezek rupanya mendengar teriakan “Nayapul!” itu. Dari jauh, saya lihat ia tergesa-gesa menghabiskan isi gelasnya, membayar makanan-minumannya, lalu berlari-lari kecil ke arah bus sambil membawa makanan entah-apa dalam bungkus koran.

“Kau makan apa?” saya bertanya.

“Samosa!” jawabnya. “Mau?”

11 comments

  1. macalder02 · 24 Days Ago

    You continue on your long journey to reach the desired goal. The trip is very detailed and the photos make the perfect frame to illustrate the story. I enjoyed your story and sometimes one would like to take the same trip, to experience the same emotions that you experienced.
    Have a good week and take care of yourself.

    • morishige · 18 Days Ago

      Thank you, Manuel. Really glad that you enjoyed reading this story. 🙂

      Stay safe there 🙂

  2. Nasirullah Sitam · 24 Days Ago

    Huaaaa, tentu menjadi sangat menyenangkan dan pasti terkenanng untung melalukan perjalanan ini, mas. Setidaknya, niat yang sudah tersemat sejak dulu akhirnya hampir terealisasikan

    • morishige · 18 Days Ago

      Iya, Mas Sitam. Peristiwa-peristiwa dari bertahun-tahun lalu ternyata bermuara di perjalanan ke Nepal. 🙂

  3. bara anggara · 20 Days Ago

    saya malah baru pertama kali mendengar annapurna base camp ini 1-2 tahun lalu,, mungkin karena bukan pendaki juga jadi ngga begitu tau banyak tentang hal-hal berbau gunung.

    bekal makan siangnya kalau ada warung nasi padang mantul tuh, porsi nasinya segambreng haha..

    suasananya mirip-mirip india yaa,, mobil-mobil dan bus yang berkeliaran pun desainnya india bgt, busnya merk tata.

    • morishige · 17 Days Ago

      Hahaha.. Iya, Bung. Mesti mantul banget itu. Untungnya ada dal bhat yang rasanya mirip-mirip nasi padang meskipun nggak pedes–dan full karbo. 😀

      Iya, Bung. Kalau dibandingin sama foto-foto di catatan-catatan perjalanan tentang India, mirip. Apalagi daerah selatan yang dekat perbatasan India.

  4. Zam · 18 Days Ago

    sayup-sayup gunung bertudung salju itu.. wah waah..

    • morishige · 17 Days Ago

      Hehehe… Itu pas di Baglung jantung saya udah mulai berdebar-debar, Kang. Nggak sabar lagi buat mendekat 😀

    • fanny_dcatqueen · 16 Days Ago

      Mas ,mate itu fungsinya apa?

      Aku penasaran pengen baca setelah sampai Annapurna nya :D.

      Itu serius bekal yg dibeli cuma makanan kaleng dan roti mas? Td aku pikir bakal beli semacam nasi dan lauk wkwkwkwkwk. Kan butuh energi banyak naik gunung :D.

      • Zam · 16 Days Ago

        mate ini semacam daun teh dari Amerika Tengah/Selatan yang mengandung kafein agak lebih banyak. diminum dengan cawan khusus dari logam dan disedot dengan semacam sedotan khusus. dalam postingan ini, “mate” merujuk pada cawan tersebut.

  5. Alid Abdul · 1 Day Ago

    Pokhara itu love hate sama saya ehehehe. Jauh-jauh dari Kathmandu demi sunrise di Sarangkot, udah sewa mobil mahal buat nganterin subuh-subuh. Eh laaah kabut pekat di mana-mana. Paling seru nyasar keliling Pokhara pakai motor rentalan, mblusuk sampai ke kampung antah berantah, mana peta offline sudah acak kadut mendeteksi gps, out of the road bhuahahaha. Paling demen duduk melamun sendiri di tepi danau Phewa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s