Tikhedhunga

Bus Prithivi itu melaju di jalanan pegunungan, semakin menjauh dari kota Pokhara. Lumayan penuh bus itu. Bangku kosong hanya satu-dua dan di lorongnya tergeletak beberapa karung yang isinya entah apa. Lagu-lagu yang entah Hindi atau Nepali mengalun lewat pelantang.

Di jalanan seperti itu susah untuk tidur. Tak ada ruas yang benar-benar mulus—beberapa bagian malah sedang direhab—dan setiap saat supir mesti mengantisipasi belokan. Untungnya mata saya sudah nyalang.

>Bus Prithivi yang kami tumpangi dari Pokhara ke Nayapul

Satu jam meliuk-liuk, sang juru mudi menginjak pedal rem dan bus berhenti di halaman sebuah warung sederhana. Udara pegunungan bikin pori-pori saya menutup sehingga cairan dalam tubuh saya mesti mencari jalan keluar lain.

Lewat setapak nan becek di samping warung saya berjalan ke toilet. Itu toilet terbuka. Di atas hanya ada langit dan di balik semak-semak sana jurang menganga. Jauh di sana, perbukitan memanjang. Matahari mengambang di atasnya. Tak ada kakus. Bau pesing menguar memecah kedamaian; urine hanya dialirkan lewat saluran sempit untuk disapu oleh air yang mengalir lewat keran yang selalu terbuka. Untuk kencing saya hanya perlu membuka ritsleting, memepetkan badan ke dinding, membuka bendungan, lalu membiarkan gravitasi bekerja.

>Perhentian bus

Selesai urusan, saya kembali ke depan. Tadi di halaman warung hanya ada bus kami. Kini sudah ada beberapa bus lain dan SUV. Sambil menunggu keberangkatan, saya sulut sebatang Pilot. Ezek tak melinting; aroma cokelatnya pasti akan memancing curiga.

Bus kembali melaju setelah berhenti selama sepuluh menit. Jalanan masih saja terjal dan berliku. Seandainya jalan itu sedikit lebih mulus, pasti saya akan menyangka sedang bepergian dari Ende ke Moni di kaki Gunung Kelimutu.

Selang satu jam, sang juru mudi memutar setir dan membawa bus keluar aspal memasuki jalan tanah sempit. Roda-roda bus sekarang mesti berjuang menghadapi batu-batu yang terserak di jalan. Sebentar kemudian bus berhenti. Kami sudah tiba di Nayapul. Saya keluar dari bus dengan jantung berdebar-debar.

>Nayapul

Toko-toko kecil berjejeran di kedua sisi jalan. Di ujung sana terparkir beberapa SUV Tata Motors.

Dengan keril di punggung, saya dan Ezek mulai berjalan. Orang-orang yang berkumpul di sekitar SUV-SUV itu menawarkan tumpangan, tapi kami menolak. Jika cerita-cerita yang saya baca akurat, Birethanti, desa yang kami pilih sebagai gerbang pendakian menuju Annapurna Base Camp, tak terlalu jauh dari Nayapul. Naik mobil hanya akan buang-buang uang.

Kami melangkah santai di pinggir jalan. Lembah menganga di sebelah kiri. Matahari bersinar terik dan setiap langkah yang kami ambil membuat debu berkepul-kepul. Tak perlu waktu lama sampai sepatu bot saya sewarna dengan debu jalanan.

Selepas jembatan besi kami berhenti sejenak di aliran air untuk minum dan mengisi botol. Pengembara berperut kebal seperti kami tak perlu menyiapkan anggaran air minum, sebab sumber air sangat melimpah di jalur Annapurna Base Camp.

Tapi efek kesegaran air itu tak bertahan lama. Sebentar kemudian saya kembali berkeringat. Matahari terlalu terik. Meskipun sudah memakai topi ala tentara Jepang, sinar surya tetap saja bikin pelipis saya tak henti-henti meneteskan keringat. Kaus oblong saya sudah basah, demikian pula buff kuning yang saya pasang di leher. Ah, barangkali seharusnya tadi saya minum tak terlalu banyak.

Jalan kami santai tapi langkah kami lebar-lebar. Saat ritme langkah saya sudah harmonis dengan tarikan napas, kami melewati plang bertuliskan “Welcome to Annapurna Conservation Area.” Saya dan Ezek bergantian berfoto di sana. Ketika kami sedang berkodak, terdengar suara mesin bus meraung-raung. Ternyata itu bus yang tadi kami tumpangi. Perjalanannya masih panjang, memang. Tujuan akhirnya adalah Ghandruk. Dari Ghandruk, Annapurna Base Camp jauh lebih dekat.

Tak sampai sepuluh menit berjalan dari plang itu, kami tiba di Birethanti. Tiba-tiba saya teringat sesuatu: kami belum punya peta. Saya menoleh ke Ezek lalu berkata, “Aku perlu cari pe—“

“Permisi!”

Perkataan saya disela suara perempuan yang setengah berteriak. Ternyata dari sana, dari sebuah kios di seberang jalan.

“Anda mau trekking?” ia bertanya.

Perempuan itu ternyata petugas pemeriksa kartu Trekkers’ Information Management Systems (TIMS). Ia meminta kami memperlihatkan TIMS. Saya sempat berdebar-debar saat menyerahkan kartu itu, khawatir seandainya kartu TIMS kami palsu karena tak diurus langsung di Nepal Tourism Board. Tapi ketakutan saya tak beralasan. Sang perempuan hanya membolak-balik TIMS kami, mencatat sesuatu di register, lalu membubuhkan cap.

“Anda lewat Ghandruk atau Ghorepani?” ia bertanya.

“Ghorepani,” jawab saya.

“Setelah jembatan itu, ambil kiri,” ia menjelaskan dengan ramah.

Dari pos TIMS, kami menyeberang dan mampir ke sebuah toko untuk membeli peta—yang harganya sedikit lebih mahal ketimbang di Pokhara—lalu lanjut berjalan melewati jembatan yang mengangkangi Modi Khola.

Bangunan di seberang sungai itu ternyata pos pemeriksaan kartu Annapurna Conservation Area Project (ACAP). Kami kembali berhenti, menyandarkan keril ke dinding, lalu menyerahkan kartu ACAP untuk diperiksa.

Setelah menyeberangi Modi Khola

Keluar dari pos ACAP itu, saya merasa dapat suntikan semangat baru. Tapi, Ezek sepertinya jauh lebih bersemangat ketimbang saya. Ia berjalan cepat di depan, melewati serombongan pengembara yang sedang bertukar cerita di sebuah meja, lalu tiba di sebuah persimpangan. Tanpa ragu, ia memilih jalur turun, tapi—

“Tunggu! Tunggu!” para pelintas-alam itu tiba-tiba ribut seperti kor keliru mengambil nada dasar. Tangan mereka melambai-lambai memanggil Ezek. “Bukan yang itu,” ujar salah seorang di antaranya sembari menunjuk jalur naik. “Jalurnya yang di sebelah sana.”

Ezek terkekeh, balik kanan, lalu mengambil jalan yang ditunjukkan oleh para petualang baik hati itu.

Sambil tersenyum, saya mengikuti Ezek menaiki jalur berupa tangga batu. Wujudnya mengingatkan saya pada jalur pendakian Gunung Lawu lewat Cemoro Sewu, tapi tangga batu di Birethanti itu lebih rapi. Kaki saya tak perlu susah payah mencari pijakan yang enak.

>Tangga batu di Birethanti

Tapi tangga batu itu segera berakhir dan kami kembali ke jalan tanah. Bhurungdi Khola mengalir di sebelah kiri. Kombinasi sinar matahari yang sudah mulai miring dan hutan rapat di punggungan sebelah sana membuat jalanan itu terasa teduh. Sekitar selapangan bola dari percabangan jalan, Ezek menemukan tempat enak untuk duduk dan kami berhenti di sana.

Ezek mulai melinting. Saya membongkar ransel untuk mengeluarkan kacang-kacangan yang tadi kami beli di Pokhara. Saya pindahkan kacang itu ke Tupperware lalu kami santap sambil menikmati waktu. Suara air yang mengalir bersahut-sahutan dengan bunyi angin dan daun-daun yang bergesekan. Berkas-berkas keperakan terpantul ke permukaan sungai.

Lalu serombongan pendaki uzur melintas. Suara langkah kaki dan tusukan tongkat mereka memecah suara alam. Ransel mereka kecil-kecil—barangkali sisa bawaan mereka sudah dibawa naik oleh para Sherpa.

Usai merokok, kami kembali melangkah. Kanopi pepohonan sudah hilang dan kini jalan tanah itu tak lagi terlindungi dari sengatan sinar matahari. Sebentar saja kami sudah melewati rombongan pendaki uzur itu. Ritme saya sudah kembali. Kini saya sudah tak terengah-engah lagi dan mulai bisa menikmati suasana.

>Bhurungdi Khola

Kami terus berjalan, menjauh dari Birethanti, sampai tiba di sebuah persimpangan yang di sana terpasang sebuah plang bertuliskan “Ghorepani Way To.” Jalur itu membawa kami ke sebuah jembatan gantung kecil yang berujung di sebuah tempat seperti desa-desa dalam lukisan Tiongkok. Perbukitan hijau yang memanjang dan tebing yang menjulang melindungi desa itu dari terpaan angin dingin. Di ladang dan di sekitar rumah-rumah bertingkat dua itu jerami menumpuk seperti stupa. Kembang-kembang marigold bermekaran di depan rumah.

>Desa kecil selepas Birethanti

Semula saya kira kami takkan lewat jalan besar lagi. Dugaan saya salah.

Matahari sudah makin miring dan langit sudah mulai ditutupi awan. Kami terus melangkah melewati jalan landai yang sesekali menanjak. Bhurungdi Khola semakin menjauh dan alirannya tampak semakin tenang. Petak-petak ladang terhampar sepanjang bantaran sungai.

Di sebuah tanjakan lumayan terjal, kami menemukan sebuah tempat nyaman untuk istirahat, yakni sebuah batu besar di pinggir jalan. Di bawah sana, di teras rumah pinggir ladang, sekelompok laki-laki Nepal sedang berkumpul. Mereka melambaikan tangan ke arah kami.

>Bagian hulu Bhurungdi Khola

Ezek mengamati mereka. “Kayaknya mereka lagi ngelinting, deh,” ujar Ezek. “Coba aku hampiri mereka. Kau ikut?” Saya menggeleng. Saya mau istirahat saja.

Ia berlari-lari kecil ke rumah itu. Ternyata mereka memang sedang melinting.

Saya menyibukkan diri dengan bermenung. Kemarin sore kami masih di Pokhara, berkumpul di kamar Alejandro dan Marcela menikmati “oleh-oleh” dari Mardi Himal. Sekarang saya sedang menunggu Ezek yang sedang menikmati mariyuana bersama orang-orang gunung. Setelah ini apa lagi yang akan saya alami?

Lalu telinga saya mendengar sebuah suara yang begitu familiar: mesin mobil. Sebuah SUV Tata Motors sedang menuruni jalan pelan-pelan. Para pengembara yang menumpang mobil itu terombang-ambing ke kiri dan ke kanan setiap kali sang supir bermanuver.

Beberapa menit setelah mobil itu hilang dari pandangan, Ezek kembali. “Barang gunung keras, Bung!” ujarnya.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Langkah Ezek pasti sekarang terasa ringan.

Tak terasa kami pun tiba di Hile. Matahari sudah terhalangi awan kelabu dan hawa mulai terasa dingin. Hamparan ladang di Hile sudah menguning, menyebar sampai ke punggung perbukitan.

>Hile

Saya duduk di anak tangga batu, sementara Ezek sedang mengisi botol minumnya di keran depan salah satu warung. Tika di kening saya sudah luntur. Tadi, sebelum Hile, jidat kami diolesi tika setelah memasukkan beberapa lembar rupee nominal kecil ke sebuah kotak sumbangan.

Ezek datang sambil terkekeh. “Tadi aku dipelototi orang,” ujarnya. “Mungkin dia heran lihat aku isi botol tapi tak pakai filter.”

Penginapan pertama

Tak sampai sepuluh menit berjalan dari ujung Hile, di sebuah trek landai kami disapa seorang pemuda yang sedang berduaan dengan seorang perempuan.

“Anda cari penginapan?” ia bertanya.

“Kami mau ke Tikhedhunga,” jawab saya—tidak menjawab pertanyaannya.

“Tikhedhunga sudah dekat sekali,” balasnya.

Lalu, sang pemuda menawarkan penginapan gratis. “Nanti di Tikhedhunga cari saja Indra Guest House,” ujarnya.

>Setapak menuju Tikhedhunga

Kami mengucapkan dhanyabad kepadanya kemudian terus berjalan.

“Indra, ya!” ia berteriak dari belakang. Saat menoleh, saya lihat ia mengambil ponselnya dari saku lalu menelepon seseorang. Pengelola Indra Guest House itu, barangkali.

Sekitar lima menit kemudian kami tiba di Tikhedhunga. Masih ada warna biru di langit, tapi suhu udara mulai turun.

“Apa tadi namanya?” tanya Ezek.

“Indra,” jawab saya.

Kami berjalan pelan di tangga curam Tikhedhunga sambil memasang mata mencari plang bertuliskan “Indra.” Tinggal di kota yang dihiasi banyak plang membuat mata saya jeli. Indra Guest House ada di depan sana, sebelah kiri jalan dekat belokan.

>Tikhedhunga

Ketika tiba, kami disapa seorang laki-laki berusia sekitar 30 tahun.

“Tadi di jalan kami bertemu seseorang,” kata saya. “Ia bilang di sini kami bisa menginap gratis.”

“Oh, iya,” jawabnya. Ternyata pemuda yang menawarkan penginapan gratis tadi itu adalah saudaranya.

Ia mengantarkan kami ke lantai paling atas, ke kamar paling ujung dekat kamar mandi. Kamar itu lebar. Ada dua dipan di sana dan keduanya dilengkapi selimut tebal. Tampaknya saya belum akan perlu kantong tidur.

Setelah laki-laki itu pergi, kami memasukkan barang ke dalam kamar, membuka sepatu, lalu duduk di bangku kayu depan kamar sambil menikmati lintingan tembakau dan cokelat.

Satu lintingan habis, kami turun dan memesan makanan. Kami menunggu makanan tiba di salah satu meja plastik di halaman Indra Guest House. Tikhedhunga senja itu tenang sekali. Keheningan hanya sesekali dipecahkan oleh suara senda gurau rombongan pelancong yang baru tiba.

Pura vida,” ujar Ezek.

Makan malam kami pun datang. Dal bhat dan teh susu itu saya santap dengan lahap. Dalam sekejap dua porsi dal bhat memenuhi lambung saya.

Setelah membersihkan meja, laki-laki itu ikut duduk bersama kami. Namanya Raju Chetri. Begitu tahu saya dari Indonesia, ia bercerita bahwa ia pernah kerja di Malaysia selama tiga tahun. Tapi memori tentang Malaysia itu bikin ia sendu. Usai mengenang Kuala Lumpur dan kota-kota lain di Semenanjung yang pernah ia datangi, Raju terdiam.

Tikhedhunga yang sudah telanjur sepi jadi makin sunyi.

Saya bertanya kepadanya kenapa Tikhedhunga bisa sesepi ini, padahal November adalah musim ramai. Raju curiga penyebabnya adalah jalan baru yang menghubungkan Birethanti dengan Ulleri. Kini para petualang bisa langsung naik SUV sampai Ulleri yang lebih dekat dari Ghorepani. Ketergesa-gesaan para pejalan membuat pemilik penginapan di desa-desa seperti Tikhedhunga mulai kekurangan tamu.

Kami sedang asyik bertukar cerita ketika seorang remaja kurus datang dan menyapa Raju. Ia membawa keranjang berisi buah-buahan kemudian menawarkan dagangannya pada kami. Saya menggeleng, Ezek juga.

“Mau cokelat?” ujar sang pemuda setengah berbisik.

Ezek tertarik. Sang pemuda menyodorkan sampel. Sampel itu dicampur dengan tembakau, dilinting, lalu lintingan itu disulut dengan api. Aroma khas menguar, berkelindan dengan asap, lalu bubar ditelan luasnya semesta.

35 pemikiran pada “Tikhedhunga

  1. Woaaahhh fotonya makin mengingatkan jalan yang pernah kulewati… aku juga menemukan tanaman itu di pinggir jalan setapak. Mau dibawa takut dosa (padahal takut imigrasi😂)

  2. Cerita yang menarik, mirip dengan seorang teman yang sua melakukan perjalanan jenis ini maupun espedisi.
    Kalau berminat dengan ceritanya bisa berunjung ke Instagram dengan id [at]gapaitinggi.

  3. ahh jadi balik ke masa kami melewati jalur yang sama.. tapi bedanya saat itu sedang monsoon.. jadi setiap hari harus berjumpa dengan hujan.. ditunggu perjalanan menikmati matahari terbit di Ghorepani kang. Dulu saya melewatkan soalnya pagi pagi hujan.. jadi lebih enjoy melanjutkan tidur hahahahaha

  4. Mas kamu harus menjadikan semua cerita petualangan ini menjadi buku. Ceritamu sungguh menghanyutkan, codok dibaca sambil ngelinting… eh ngopi santai sore hari….
    Eniwei, kenapa si pemuda menawarkan guest house gratis? Bukankah mereka membuat gh untuk mendapatkan penghasilan?

    1. Makasih, Mbak Zy. 😀

      Penghasilan tea house sepanjang trek di Nepal itu sebenernya sebagian besar dari makanan, Mbak Zie. Penginapannya murah banget. sekitar 200-an rupee. Nggak nyampe 30rb per malam/orang. Penginapan gratis ini biasanya gampang dicari pas musim sepi. Biar gratis, ada semacam aturan tak tertulis kalau tamu mesti makan di penginapan. Nah, dari makanan itu penginapan biasanya dapat untung banyak.

    1. Terima kasih sudah mampir, Mbak Indy. Iya, Mbak. Biasanya banyak yang nawarin gratis pas musim sepi. Tapi, udah jadi norma kalau tamu mesti makan di penginapan. Dari situ pengelola penginapan dapat penghasilan.

      1. Yeah, I read it on your blogpost. Congrats! I hope the vaccination goes well. 🙂 You take care too… and don’t forget the facemask. 🙂

  5. Ini masih di perjalanan di Nepal ya bang morishige? Sudah lama tidak kesini.🙏

    Pemandangan nya bagus bagus, lewat foto saja hasilnya sebagus ini apalagi kalo melihat langsung.

    Ternyata di sana sama seperti disini kalo soal kencing ya, tidak banyak aturan tinggal buka resleting saja lalu curr.😂

  6. surprise sama template barunya hehehe
    perasaan kayak baru kemarin buka web ini
    dipikiranku pas baca ini, tenaganya mas morishhh luar biasa, habis perjalanan dengan bis, terus lanjut jalan lagi, lanjut tracking, meskipun jalannya juga santai
    aku bayangin itu aku, terus sambil gembol tas backpack gede, omaigoddd kayaknya udah mau pingsan hahaha

    aku kira tadi bis yang dinaiki semacam bis AKAS gitu, gede ukuran bisnya, ternyata mini bus kayak yang di flores gitu ya
    seru sihhh ini

    1. Tempo hari pas buka-buka dashboard ketemu tema yang kayaknya pas. Jadi langsung diganti aja. 😀

      Untungnya sebelum berangkat udah persiapan jalan kaki rutin selama beberapa bulan, Mbak Ainun. Pas di Kathmandu dan Pokhara juga tiap hari pemanasan ngelatih daya tahan. Kalau nggak persiapan, mungkin sudah tepar di beberapa kilometer pertama. 🙂

      Iya, Mbak. Busnya kecil kayak kopaja. Tapi tenaganya ternyata lumayan. 🙂

  7. Akhirnya sampai sini juga setelah baca cerita berseri ini. Terlalu sibuk urusan, sampai lupa singgah disini 😀
    Ezek, emang hobi nglinting yaa mas..? 😀
    Mantaap, bisa ikut ngumpul dengan warga desa gara-gara suka nglinting..hehehhee

    Pemandangan desa Tikhedhunga sangat bagus dan bersih. 🙂

    1. Saya juga akhir-akhir ini jarang blogwaking ke blognya teman-teman, Mas. Tapi beberapa hari ini entah kenapa kangen dan ngebut blogwakingnya. 😀

      Iya, Masvay. Ngelinting terus dia. 🙂

      Karena ke sana pas akhir musim gugur, langitnya bersih banget, Masvay. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s