Poon Hill

Kami baru saja tiba di ruang makan, pojok paling hangat di penginapan itu, ketika Ezek menyadari sesuatu.

“Bukannya itu kucing yang tadi?” ia bertanya sembari menunjuk makhluk berkaki empat yang sedang tidur nyenyak dekat perapian.

Jika dilihat-lihat, ukuran tubuhnya tak jauh beda dari kucing yang berlari-lari kecil ke arah Ghorepani waktu kami rehat makan siang tadi. Warna dan corak bulunya juga senada. Tapi, kucing seperti itu kodian. Bisa dijumpai di mana-mana.

“Mirip, sih,” jawab saya. “Mungkin iya.”

“Capek sekali dia tampaknya,” imbuh Ezek. Ia terkekeh.

Usai membaca menu, kami memesan makan malam kepada seorang remaja perempuan yang sedang duduk sambil mengupas sesuatu. Selesai mencatat pesanan kami, ia mengemasi perkakasnya lalu bergegas ke dapur lewat pintu kecil di pojok ruangan. Selang sebentar suara wajan beradu dengan sutil terdengar. Aroma bawang menguar. Itu pasti chowmein pesanan saya.

Kami menunggu di meja panjang yang menghadap jendela. Tak ada gorden. Saya bisa melihat bebas ke luar. Belum gelap tapi sudah sangat temaram. Meskipun duduk dekat perapian dan dilindungi tembok, saya bisa merasakan suhu mulai menukik.

>Tipikal jendela rumah di Ghorepani

Seperempat jam kemudian, seorang pria paruh baya keluar dari dapur membawa makan malam kami. Kepalanya ditutupi kupluk dan badannya dilapisi jaket bulu angsa. Raut muka, nuansa warna kulit, dan perawakannya tak jauh beda dari orang-orang yang bermukim di pegunungan Jawa. Jika ia tiba-tiba bicara dengan dialek ngapak, saya pasti akan percaya kalau ia mengaku berasal dari Wonosobo atau Banjarnegara.

“Boleh saya taruh botol minum di samping perapian?” tanya saya kepadanya.

Akan terlalu lancang rasanya jika saya langsung saja menaruh botol dekat perapian tanpa bertanya. Air panas adalah komoditas di jalur-jalur rumah teh Nepal. Di beberapa desa, harganya bahkan mencapai 200 rupee per liter, lebih mahal ketimbang biaya menginap semalam untuk satu orang.

“Silakan,” jawabnya.

Saya taruh botol minum anyar saya di samping perapian yang terbuat dari tong bekas itu. Ezek juga meletakkan botolnya di sana. Ada untungnya juga veldfles saya ketinggalan di Nepal Tourism Board.

Kami pun makan. Usai makan, kami mengambil botol minum—airnya sudah lumayan hangat—lalu beranjak ke pekarangan.

Sepuluh menit lagi mungkin langit akan sepenuhnya gelap. Suhu sudah sangat dingin sampai-sampai saya mesti memasang sarung tangan. Setiap kali mengembuskan napas, embun putih keluar dari lubang hidung saya. Rasanya seperti menjelang tengah malam di kaki Gunung Merapi. Di kejauhan, saya lihat ada satu-dua pelintas alam yang baru sampai di pos Ghorepani.

Ketika rokok baru saja saya sulut, Ezek naik ke kamar. Sebentar kemudian ia kembali dengan termos dan mate.

Ezek menunaikan janjinya untuk menyeduh minuman khas Amerika Selatan itu. Ia taruh sedotan bombilla ke dalam mate, ia tuangkan yerba mate, lalu ia seduh dengan air panas. Aroma serupa teh hijau menguar. Asapnya berkepul seperti nebula dan ditelan udara Himalaya. Kemudian Ezek menyeruput mate itu sampai airnya habis.

“Sini coba,” ujarnya sambil menuangkan kembali air panas ke dalam mate.

Ia sodorkan mate itu pada saya lalu saya seruput—panas! Tapi rasanya enak, seperti teh hijau namun lebih segar. Pahitnya masih dalam batas kewajaran.

“Enak,” komentar saya sambil mengangguk-angguk.

Ezek terkekeh lalu kembali menuangkan air panas.

“Apa aku perlu mengaduknya?” tanya saya.

“Oh, jangan,” ujar Ezek. Mate cuma perlu diseduh dan diseruput sampai rasanya menjadi tawar.

Kami duduk di bangku kayu sambil minum mate dan mengisap tembakau. Berkas-berkas cahaya sudah hilang dari langit. Akhirnya gelap datang.

Bapak berkupluk yang tadi mengantarkan makanan kami muncul dari balik pintu. “Dingin,” ujarnya. “Masuk… Masuk….”

Bukannya masuk, kami malah keluar dari pekarangan dan berjalan ke arah Upper Ghorepani. Jalanan batu itu sepi. Orang-orang sudah nyaman berlindung di balik kehangatan tembok. Di ujung jalan, sebelum tanjakan terjal, segerombolan keledai sibuk melakukan entah apa. Barangkali sedang berpesta karena akhirnya lepas dari beban berat yang harus mereka tanggung seharian tadi. Lonceng mereka bergoyang-goyang dan berkelintingan seiring gerak mereka yang canggung.

Kami berhenti di sana. Tanjakan itu gelap dan kami lupa membawa senter. Akhirnya kami cuma duduk di bangku batu pinggir jalan. Ezek mengeluarkan cokelatnya. Dibakarnya ujung cokelat itu, digerusnya, lalu dicampurnya dengan tembakau. Lalu kami pun tertawa-tawa.

“Kucing tadi—”

“Hahahaha!”

“Juan apa kabar, ya?”

“Hahahaha!”

“Lihat itu! Keledai satu itu sedang apa?”

Keledai itu sedang menggesek-gesekkan bokongnya ke batu.

Tawa kami meledak.

Lalu, dari arah bawah, muncul dua orang. Mereka berjalan santai sambil menenteng senter.

Namaste,” kami menyapa mereka.

Namaste,” balas mereka.

Saya kira mereka pelancong. Ternyata bukan. Kedua orang itu polisi wisata. Salah seorang di antara mereka adalah pria berkacamata yang tadi mencatat kedatangan kami. Mereka menyorotkan senter pada kami lalu mendekat.

“Kalian mengisap hashish?” tanya pria berkacamata itu.

Tanpa kami jawab pun ia pasti sudah bisa menebak. Aroma itu terlalu khas.

Jantung saya mulai berdebar-debar.

“Kalian menginap di mana?” ia lanjut bertanya.

“Di bawah sana,” jawab Ezek.

“Dari mana asal kalian?”

“Argentina,” jawab Ezek. Saya tidak menjawab; sang polisi tidak bertanya lagi.

Saya makin berdebar-debar.

Pikiran macam-macam langsung terbayang di benak saya—denda, masuk daftar hitam, deportasi, penjara, masuk berita, deportasi, penjara, denda, masuk berita, penjara….

Polisi berkacamata itu menggeledah kantong-kantong dan tas pinggang Ezek lalu mengambil sisa cokelat yang dibelinya di Kathmandu tempo hari. Lalu ia menggeledah saya. Tapi, ia tak menemukan apa-apa kecuali puntung rokok yang saya koleksi sejak Pokhara.

“Ini saya sita,” ujar polisi berkacamata itu sambil memasukkan cokelat milik Ezek ke dalam saku. Jika kedapatan sekali lagi, katanya, kami akan kena masalah.

“Sekarang, kalian kembali ke penginapan,” perintahnya.

Mereka meneruskan perjalanan ke Upper Ghorepani. Kami masih di sana. Keledai itu sudah pergi entah ke mana.

Poon Hill

Setiba di penginapan, kami membuka jendela kamar dan kembali melinting. Ezek masih punya cadangan cokelat yang kemarin ia beli di Tikhedhunga. Kami mengobrol ngalor-ngidul—soal polisi tadi, tentang petualangan-petualangan yang pernah kami lakukan, tentang yang lain-lain.

Asap ajaib itu pelan-pelan bikin saya mengantuk. Lama-lama suara saya terdengar semakin sayup. Kelopak mata saya semakin berat, lalu menutup dan membawa saya ke dalam tidur tanpa mimpi.

Setelah lebih dari seminggu menjadi musafir, jam biologis saya yang kacau akhirnya kembali menemukan kesetimbangannya. Saya bangun sekitar jam setengah enam pagi dalam keadaan segar. Langit masih gelap. Sebelum jam enam, kami sudah melangkah di jalan batu Ghorepani menuju Poon Hill.

Lewat setapak di seberang tempat duduk kami semalam, kami melangkah naik di antara rumpun-rumpun perdu. Jalan kecil itu meliuk-liuk dan sesekali membawa kami ke punggungan terbuka. Trek itu mirip jalur di sekitar Hargo Dumilah, puncak Gunung Lawu.

Selepas trek diapit perdu itu, kami tiba di sebuah bukaan besar. Ada bangunan di sana. Loket karcis. Beberapa orang berkupluk dan berjaket tebal berkumpul menunggu pelancong yang akan ke Poon Hill.

>Semburat jingga di timur

Usai membayar tiket masuk, kami melewati gerbang Poon Hill dan terus melangkah ke atas. Sesekali angin kencang bertiup. Hidung saya agak meler. Tapi fajar mulai menyemburat. Warna oranye sudah muncul di cakrawala timur.

Di sebuah tempat terbuka dekat menara telekomunikasi, kami duduk di bangku besi yang dinginnya minta ampun. Tirai gelap perlahan memudar. Annapurna I, Annapurna South, Hiunchuli, dan Machhapuchhre pelan-pelan menampakkan diri.

Sejak dari Ghorepani tadi kami tak berpapasan dengan seorang pelancong pun. Apa kami kepagian? Ah, rasanya tak mungkin. Justru sebaliknya, barangkali. Kami bangun terlalu siang.

>(Dari kanan ke kiri) Hiunchuli, Annapurna South, Annapurna I
>Machhapuchhre

Kami pun melanjutkan perjalanan. Langkah saya masih pelan. Ezek sudah di depan sana. Selepas sebuah belokan, Dhaulagiri kelihatan.

Suara berisik tiba-tiba memenuhi udara. Selang sebentar, sebuah pesawat baling-baling seperti armada Susi Air muncul. Ia terbang dari arah selatan, melayang di perbukitan yang memagari Machhapuchhre, lalu menghilang di balik daun-daun tajam konifera.

>Dhaulagiri (kiri)

Hiruk pikuk suara manusia mulai terdengar. Lalu, selepas sebuah belokan ke kanan, gardu pandang Poon Hill muncul di zona pandang. Matahari sudah menyinari perbukitan Ghorepani dengan cahaya keemasan. Trek menjadi penuh manusia. Orang-orang sudah mulai turun dan kami berjalan melawan arus.

Terjawab sudah kenapa dari tadi kami tak bertemu pelancong lain: kami bangun kesiangan. Orang-orang yang memang berniat untuk menyaksikan matahari terbit di Poon Hill mestilah bangun jauh lebih awal.

Kalau dipikir-pikir, seumur-umur baru sekali saya pernah melihat matahari terbit benar-benar di puncak gunung. Sudah lama sekali, tahun 2006, di Merbabu. Kami tiba di Kenteng Songo menjelang jam lima. Dingin sekali. Bibir saya kebas sampai-sampai tak mampu melafalkan huruf “p”. Begitu matahari muncul, kami bergegas turun dari “funcak”.

Kami pun tiba di puncak Poon Hill. Suhu tak sedingin Merbabu 2006 dan saya tak kesulitan melafalkan huruf “f” pada frasa Poon Hill.

>Orang-orang berkumpul di sekitar plang puncak Poon Hill

Poon Hill ternyata lumayan tinggi. Dekat gardu, ada plang yang memberi tahu bahwa tempat itu berada pada ketinggian 3.210 meter di atas permukaan laut, hanya sekitar 55 meter lebih rendah ketimbang puncak Lawu namun lebih tinggi ketimbang Sindoro, Merapi, dan Merbabu.

Kami berjalan melewati keramaian sekitar gardu pandang lalu tiba di pelataran luas. Para pelancong sibuk mengabadikan momen dengan kamera. Di barat sana Dhaulagiri dan pegunungan yang mengawalnya membentang, sementara di cakrawala timur menjulang beberapa puncak Pegunungan Annapurna. Bulan purnama, yang warnanya serupa es yang menutupi pucuk-pucuk Himalaya, masih enggan undur diri dari kubah langit.

>Pegunungan Annapurna
>Dhaulagiri

Tak jauh dari gardu pandang ada sebuah kios. Kami ke sana. Saya memesan teh lemon hangat yang disajikan dalam cangkir aluminium kecil.

Di depan kios itu, kami mengobrol dengan sepasang pelancong yang kemarin mendahului kami selepas Ulleri. Ternyata mereka dari Tiongkok bagian selatan. “Kami orang Kanton,” ujar yang laki-laki. Dia yang lebih banyak bicara. Pasangannya hanya senyum-senyum saja.

“Kalian mau terus ke Annapurna Base Camp?” saya bertanya.

“Tidak,” jawab si laki-laki dengan bahasa Inggris berlogat Tiongkok. “Kami cuma ke Ghorepani saja.”

Begitu cangkir-cangkir kami kosong, kami beranjak ke bangunan beton di pinggir pelataran puncak. Pasangan Tiongkok itu segera mencari titik terbaik untuk berkodak. Kami jadi fotografer dadakan. Begitu rampung, mereka pamit dan segera turun ke Ghorepani.

Langit makin biru dan matahari pelan-pelan menjauh dari horizon. Dhaulagiri dan teman-temannya sudah tampak cemerlang, sementara sisi barat Pegunungan Annapurna masih tertutup bayang-bayang.

>Gardu pandang Poon Hill

Dengan langkah pelan, kami meninggalkan Poon Hill bersama para pelancong lain. Setiba di loket tiket—yang kini sudah tutup—kami memilih jalur yang berbeda. Trek itu membawa kami ke Upper Ghorepani yang suasananya jauh lebih semarak ketimbang Lower Ghorepani.

Kami berjalan di antara penginapan-penginapan megah Upper Ghorepani lalu menuruni tanjakan terjal. Ezek tertawa-tawa ketika kami tiba di tempat kejadian perkara semalam. Saya suruh ia berdiri di sana dan saya pencet rana kamera.

Setiba di penginapan, kami memesan sarapan. Ruang makan Aayusha pagi itu ramai. Di meja pojok, empat orang pelintas alam Nepal sedang bercengkerama. Dilihat dari perawakan, saya tebak mereka sekurang-kurangnya berusia 45 tahun. Kemarin sore mereka baru tiba dari arah Tadapani. Rute mereka berkebalikan dari kami. Mereka ke Annapurna Base Camp terlebih dahulu baru mampir ke Ghorepani dalam perjalanan turun.

Setelah makan, kami meluruskan kaki sebentar di kamar lalu mengemasi ransel. Rasanya enggan meninggalkan kamar yang nyaman itu. Tapi, apa boleh buat, perjalanan harus diteruskan.

7 pemikiran pada “Poon Hill

  1. ngeliat view puncak gunung berwarna putih itu rasanya ademmm
    aku ngebayangin apa aku sanggup yak hahaha, baru wiken kemarin naik gunung yang cuman memiliki ketinggian 2000 sekian tanpa persiapan apa apa, rasanya….:D
    semacam di Bromo kah ini mas Morish? apa tuh ya namanya puncak sunrise apa ya, yang tempat ngeliat sunrise, aku lupa hahahaha

  2. Aku udah lama nggak mampir, sekarang desainnya cakep Bang.
    Foto-foto di artikel ini juga cakep sekali. Anapurna cantik nian. Meski telat bangun tapi tetep dapet pemandangan super cakep gitu.
    Btw, kenapa sih coklatnya disita sama polisi? Trus enak kah coklat dibakar lalu dicampur tembakau?

  3. Untuk foto lansekap di sana pas banget, mas. Berbagai pegunungan yang terlihat tampatknya asyik buat diabadikan.
    Oya, kalau polisi pariwisata itu seperti apa ya misalkan di Indonesia? Kayaknya jarang di sini ya. Kalau polhut ada, polair ada juga hehhehe

  4. Foto-fotonya bagus mas, adem, berasa diajak menikmati pemandangannya. 😀

    Gada alasan kenapa cokelat-nya ezek diambil polisi wisata mas…?
    Sepertinya ezek punya banyak stok cokelat 😀

  5. saya begitu sampai tea house, pesan makan malam, dan setelah itu langsung masuk sleeping bag hahahaha.. mana setiap sore mendung dan hujan, padahal niat selama di Nepal mau motret bintang2 .yang ada ketemu bintang di dalam mimpi dan kalau pas jalan dipaksa nanjak2.. bintang2nya muncul di depan mata hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s