Tadapani

Kami keluar dari pekarangan Aayusha, belok kiri, lalu mulai melangkah ke arah Tadapani. Batara surya boleh saja meraja di atas sana, tapi di bawah sini dingin masih berkuasa.

Selepas plang biru—‘Tadapani, 4 Hour from Here’—trek mulai menanjak. Kemudian kami meniti tangga batu yang meliuk-liuk di hutan. Kelenjar keringat saya terpacu dan cairan garam mulai mengucur dari pori-pori saya seperti mata air. Hawa dingin menjadi tak terlalu terasa.

Tiba-tiba terdengar suara lonceng. Di bawah sana seekor keledai putih yang kebingungan berjalan di antara pepohonan. Keempat tungkainya menyapu tanaman merambat dan dedaunan kering yang menutupi tanah. Ia terus berjalan ke bawah, sementara kami lanjut melangkah ke atas.

Dari sela-sela dahan dan ranting, Upper Ghorepani menampakkan diri. Dhaulagiri yang putih menyembul di samping bukit hijau.

>Upper Ghorepani (kiri) dan Dhaulagiri (kanan)
>Annapurna I (kiri, tertutup awan), Annapurna South (tengah), dan Hiunchuli (kanan)

Ujung tanjakan itu adalah pangkal dari pelana yang memanjang sampai selepas Deurali Pass. Kini tak ada lagi yang menghalangi saya memandang Pegunungan Dhaulagiri dan Annapurna. Puncak-puncak bertudung salju itu sama putihnya dengan awan-awan berupa arsiran yang sekarang mengisi kanvas biru langit. Di pinggir jalur, rumput dan ilalang kecokelatan sedang meranggas diuji musim gugur. Kering. Lintasan yang tak dilapisi bebatuan itu mengepulkan debu setiap kali beradu dengan tapak sepatu kami.

Kami pun tiba di pertemuan jalur Lower dan Upper Ghorepani. Pasangan dari Kanton yang tadi kami jumpai di Poon Hill sedang duduk bersama beberapa pelancong lain dan Sherpa di undakan batu. Saya tak menyangka akan bertemu lagi dengan mereka dalam perjalanan ke Tadapani; saya kira mereka akan turun langsung ke Nayapul lewat Ulleri atau Tikhedhunga.

Karena sudah berjalan hampir satu jam, kami istirahat di sana. Saya sandarkan ransel lalu duduk menghadap Dhaulagiri.

>Pertemuan jalur Upper dan Lower Ghorepani

Dari arah Upper Ghorepani muncul serombongan pelancong—tiga orang perempuan dan beberapa orang pemandu dan porter. “Mereka bicara pakai bahasa Spanyol,” bisik Ezek. Ia pun berjalan ke arah mereka untuk menyapa. Sementara Ezek mengobrol dengan mereka, saya merokok.

Ezek kembali dengan muka gembira. “Akhirnya aku bisa bicara bahasa Spanyol lagi,” ia terkekeh. “Cewek itu dari Meksiko,” sambungnya. “Dari salah satu kota narcos. Kau bayangkan saja sendiri—dari kota narkoba.”

Tentu saya tak bisa membayangkan. Saya belum pernah menginjakkan kaki di Meksiko.

Rombongan perempuan Meksiko itu pun pergi. Kami masih tetap di sana sampai rokok saya habis.

Selepas pertemuan jalur Lower dan Upper Ghorepani itu kami berjalan di bawah naungan pepohonan. Tapi keteduhan itu hanya sebentar kami rasakan. Jalur kembali terbuka. Kami berjalan di tangga batu. Jurang menganga di kanan kiri. Bibir jurang hanya ditutupi oleh rumput dan ilalang yang meranggas. Selatan adalah lautan awan, sementara utara jadi kediaman pegunungan bertudung salju. Rentang Annapurna kini tampak dekat, Dhaulagiri mulai menjauh. Sekali-dua, kami mesti berbagi jalan dengan para petualang yang turun ke arah Ghorepani.

>Trek menjelang Deurali Pass

Kami pun tiba di Deurali Pass. Ada sebuah cairn tinggi di sana. Bendera-bendera doa terpasang di antara cagak-cagak kayu, berkelindan tak beraturan seperti kabel listrik di Thamel. Setelah menyandarkan ransel, saya duduk di bangku kayu dan mengedarkan pandangan ke pegunungan. Ezek melanjutkan obrolannya dengan perempuan Meksiko itu.

Topi drumben kampus yang dulu saya temukan tergeletak di pinggir Jalan Kaliurang itu saya lepas. Saya buka kuncir dan saya biarkan rambut gondrong saya terurai dan disapu angin. Rambut saya agak gimbal sebab sudah beberapa hari tak dicuci. Sekarang penampilan saya sudah tak ada bedanya dari orang-orang gunung. Tapi tak ada yang perlu dikhawatirkan; alam tak peduli pada hal-hal remeh-temeh seperti penampilan.

>Deurali Pass

Malam hari di sini mestilah sangat dingin. Sama seperti Poon Hill, Deurali Pass berada pada ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut. Seumur-umur, baru kali ini saya berada pada dua puncak berbeda dengan elevasi di atas 3.000 meter dalam interval kurang dari 12 jam. Tahun 2013 dulu saya pernah ke dua puncak yang berbeda dalam rentang waktu 6 jam, ketika menjelajahi Pegunungan Hyang di Jawa Timur. Tapi hanya salah satu dari dua puncak itu yang ketinggiannya lebih dari 3.000 meter. Selain itu, kami mendaki dengan gaya Himalayan, bukan alpen seperti kali ini.

Tadapani

Selepas Deurali Pass, kami berjalan di pinggir jurang. Awan menghampar seperti kembang kapas di belahan bumi selatan. Lalu kami kembali memasuki hutan. Barangkali karena landai, setapak itu tak ditutupi susunan batu. Kami ikuti jalur yang berliku itu, meliuk-liuk di antara rumpun perdu dan pohon konifera, sesekali menghindari akar cemara yang menyembul dari dalam tanah, sampai akhirnya tiba di Ban Thanti.

>Trek selepas Deurali Pass
>Deurali Yak Hotel

Kami lewati para petualang yang sedang duduk menanti makan siang di Deurali Yak Hotel. Kemudian kami menuruni jalur terjal menuju sebuah lembah sempit. Sungai kecil yang membelah lembah itu kami seberangi lewat jembatan kayu. Selama beberapa waktu, kami berjalan di jalur sempit pinggir lembah, kemudian kembali turun ke aliran sungai kecil itu. Saya baru sadar bahwa tepian sungai itu penuh batuan malihan yang pipih. Di satu titik, pinggir sungai itu penuh batu bersusun. Ah, apachetas lagi.

Trek itu membawa kami ke penginapan lain yang letaknya persis di pinggir sungai. Meskipun tampaknya akan menyenangkan makan siang di sana sambil mendengar gemercik air yang mengalir di antara bebatuan, kami tak menghentikan langkah.

>Batu bersusun di Ban Thanti
>Salah satu penginapan di Ban Thanti

Kini kami menelusuri punggungan. Di hari ketiga pendakian ini, ayunan kaki saya terasa semakin ringan. Tubuh saya sudah terbiasa dengan udara dan medan Himalaya. Lingkar pinggang saya makin mengecil karena lemak sudah banyak yang terbakar.

Sudah lewat tengah hari dan saya sudah mulai lapar. Saya ajak Ezek menepi untuk makan siang. Kami menyantap makanan kalengan dan kacang-kacangan sambil sesekali menerima tatapan penuh tanda tanya—dan senyuman—dari para pelancong yang lewat. Mereka pasti heran kenapa kami tak makan siang di desa.

Setelah menutup santap siang dengan asap tembakau, kami meneruskan perjalanan. Kabut lebih sering datang. Pepohonan yang pokoknya meliuk-liuk ganjil jadi tampak makin misterius dalam selimut kabut.

>Berjalan di hutan yang mulai diselimuti kabut

Kami makin sering berpapasan dengan kawanan keledai dan gembalanya. Semula saya kira keledai-keledai Sherpa itu hanya digunakan untuk membawa barang. Saya keliru. Ketika sedang istirahat di pinggir jalur, dari bawah muncul rombongan pelancong lanjut usia yang kami salip di Birethanti kemarin lusa. Salah seorang di antara mereka duduk sambil tertawa-tawa di punggung keledai yang tampak kepayahan menanggung beban. Rupanya keledai-keledai itu juga bisa disewa para pelancong yang sudah terlalu capai untuk menyelesaikan perjalanan dengan berjalan kaki.

Sejak Trekker’s Sanctuary Lodge di ujung Ban Thanti, kabut makin tebal. Langit sendu; matahari tak jelas lagi keberadaannya. Saya selalu menyukai kabut. Barangkali karena kabut selalu membawa saya pada nostalgia tentang masa kecil yang saya habiskan di kota kecil diapit pegunungan yang pagi-paginya hampir selalu berkabut.

Kami pun tiba di sebuah percabangan. Kiri terjal, kanan datar. Di sudut antara percabangan itu berdiri sebuah sanggah batu.

“Kanan,” ujar seorang pria Nepal yang berjalan di belakang kami, “yang ke kiri itu jalan memutar.”

>Menjelang Tadapani

Kabut makin tebal. Tapi samar-samar saya bisa melihat bangunan-bangunan bercat biru di balik selimut halimun. Sejurus kemudian, kami tiba di Tadapani.

Plaza Tadapani yang mungil penuh meja kayu dan kursi plastik. Para pelancong duduk di sana, mengobrol entah apa sambil menyantap makanan atau menyeruput minuman hangat. Di pinggir plaza, para Sherpa berkumpul menjaga perlengkapan pendakian para pelancong yang menyewa jasa mereka. Para pedagang duduk di sekitar lapak mereka menunggu pembeli.

Hawa makin dingin. Kami mesti segera mencari tempat menginap. Kami pun berjalan menjauh dari plaza dan tiba di depan sebuah penginapan yang tampaknya menarik. Di pekarangan penginapan itu, di sebuah meja kayu, empat orang pelancong sedang asyik main remi. Taruhannya Snickers. Dekat mereka, berdiri dua tenda yang lapisan luarnya berkibar-kibar ditiup angin.

Seorang pemuda berjaket tebal menghampiri kami. Ia bertanya apakah kami sedang mencari penginapan. Masih ada kamar kosong di penginapan itu dan ia menyebutkan harga. Setelah kami mengiyakan, pemuda itu meminta kami mengikutinya ke lantai dua.

Kami ditempatkan di ujung, pojok, tak jauh dari cerobong pediangan. Kaca jendelanya lebar-lebar seperti jendela bus pariwisata. Ketimbang kamar kami di Ghorepani, ruangan itu jauh lebih kecil. Tapi, di tempat-tempat dingin seperti ini, lebih nyaman menghabiskan malam di kamar berukuran kecil ketimbang yang lebar; lebih hangat.

>Kamar di Tadapani

Kabut makin tebal. Angin bertiup makin kencang. Di bawah sana, empat orang pelancong itu masih betah main remi di pekarangan. Snickers berpindah-pindah tangan.

Jam makan malam masih lama. Kami istirahat di kamar. Karena tak bisa tidur, saya keluarkan novel Burroughs yang tempo hari saya beli di Big Bad Wolf. Tapi saya sedang tak mampu mencerna absurditas Burroughs. Akhirnya buku itu saya tutup dan saya mengobrol sambil merokok dengan Ezek.

Menjelang gelap, saya keluar kamar dan jalan kaki ke arah plaza Tadapani. Pelataran itu makin semarak meskipun kabut makin pekat. Neon dan bohlam mulai dinyalakan. Sambil merokok, saya berdiri di depan peta jalur Annapurna Base Camp sederhana di plang besar di pinggir plaza. Kalau dilihat-lihat, sudah lumayan jauh juga kami berjalan.

Purnama

Hari sudah gelap ketika kami masuk ke ruang makan lewat pintu belakang. Empat pelancong yang tadi main remi sekarang sudah tak kelihatan.

Kami memesan makanan lalu duduk menunggu di kursi panjang di samping perapian besi. Selain kami berdua, hanya ada tiga orang lain di ruang makan itu—sepasang pelancong Eropa dan seorang perempuan Nepal. Selang sebentar, seorang lelaki Nepal tua masuk ke ruang makan dan berbincang dengan sang perempuan. Saya dan Ezek pindah ke meja makan.

Dekat tempat saya duduk, menempel di dinding, ada sebuah rak berisi beberapa buku. Sebagian besar adalah buku panduan perjalanan. Mata saya menangkap sesuatu yang menarik, yakni sebuah buku berjudul The Snow Leopard karangan Peter Matthiessen. Saya ambil buku itu dan saya buka.

“Lihat,” ujar saya pada Ezek. “Ini dalam bahasa Spanyol.”

Saya serahkan buku itu padanya.

“Apa?” Ezek tertawa. Ia lalu membaca buku itu.

Di samping pediangan, perempuan dan lelaki Nepal itu asyik berbincang. Suara mereka memenuhi ruangan itu sampai-sampai sepasang turis Eropa yang sedang membaca itu berkali-kali menoleh ke arah mereka. Tiba-tiba dari mulut perempuan itu keluar sebuah kata yang terdengar familiar di telinga saya: kursi.

“Maaf,” ujar saya ketika mereka sedang berhenti bicara. “Apakah tadi Anda mengatakan ‘kursi’?”

“Ya,” jawab sang perempuan.

“Apa artinya?” balas saya.

“Kursi,” jawabnya sambil menunjuk tempat duduknya sendiri.

“Oh! Di Indonesia kami juga menyebutnya kursi,” timpal saya. Tapi perempuan itu tak peduli. Ia meneruskan obrolannya dengan pria itu.

Makanan kami akhirnya datang. Saya khusyuk menyantap hidangan itu. Ezek makan sambil membolak-balik The Snow Leopard.

Segera setelah makanan itu habis, kami keluar dan duduk di samping ruang makan sambil melihat pemandangan. Garis-garis pegunungan yang hitam tampak samar-samar di antara awan. Lalu, dari suatu tempat di kaki langit, semburat pucat muncul. Lama-lama semburat itu makin terang dan purnama menetas.

Para pelancong lain segera berkumpul di sana.

“Cantik, ya?” tanya seseorang tiba-tiba dalam bahasa Inggris berlogat Amerika Serikat. Saya menoleh, mendapati seorang pria paruh baya berdiri di samping saya. Setelah bertanya apakah saya hendak naik atau turun, ia menyodorkan tangan. “Namaku Craig,” ujarnya. Ia dari North Carolina.

Saya menyambut jabat tangan itu sembari menyebutkan nama.

“Kau tahu?” sambungnya tanpa diminta. “’Craig’ itu nama Irlandia yang artinya batu.”

Saat sedang asyik mengobrol dengan Craig sembari melihat bulan dan siluet pegunungan batu berselimut salju, pelancong Eropa yang tadi membaca di ruang makan menghampiri kami dan menyapa.

“Boleh coba?” ujarnya sambil melihat ke arah lintingan yang baru saja berpindah tangan. “Punyaku habis.”

Ezek menyodorkan lintingan itu kepadanya.

Pemuda itu dari Prancis. Jika diperhatikan, umurnya barangkali belum sampai tiga puluh. Dua-puluh enam atau dua-puluh tujuh, barangkali. Atau malah lebih muda. Ia sudah pernah ke Annapurna Base Camp beberapa tahun lalu. Dalam perjalanan kali ini ia hendak mengajak pacarnya ke sebuah kampung bernama Kopa.

“Letaknya di utara sana. Katanya di sana sepi,” ujarnya. “Hmm… barang bagus ini.”

Di atas sana, bulan enggan naik lebih tinggi lagi. Ia melayang-layang saja beberapa derajat di atas puncak-puncak gunung.

Malam makin larut. Angin makin dingin. Satu per satu para pelancong kembali ke kamarnya dan mencari suaka dalam kehangatan selimut.

8 pemikiran pada “Tadapani

  1. saat membaca ini, cuaca di Berlin tengah galau. musim semi yang harusnya hangat, kini lebih sering dingin. aku bisa membayangkan, matahari terik, namun hawa masih dingin. pemanas pusat di gedung sudah dimatikan, karena masuk musim semi, membuat hawa dingin masuk. aku seperti bisa mersakan hawa dingin itu saat membaca tulisan ini.

  2. Uh, rasanya iri dengan perjalananmu mas, abis dari ghorepani, berhenti lagi di tadapani. Benar-benar menikmati yaa, Kalau dulu, tadapani hanya jadi tempat buat makan siang. Sebenernya saya pengennya gitu, menginap di setiap desa yang nyaman dengan kamar yang berjendela luas hahaha.
    Hmmm… kebayang enak juga makan makanan kalengan di pinggir jalan, selingan dalbhat ya… 😀

  3. How the way you tell the story is amazing! The chosen words are beautiful. Saya seperti merasakan juga suasana yang digambarkan dalam cerita ini. Terima kasih sudah bercerita. Saya tunggu kelanjutan ceritanya 😀

  4. Aku suka lihat tiap foto-fotonya. Indah.
    Kamar di Tadapani juga indah, dengan jendela besar menghadap ke desa dan pegunungan dan linen bersih. Such a wonderful experiment

  5. Aku blm pernah ngerasain tracking begini sbnrnya. Dan jujur ga yakin staminaku kuat :). Tapi baca cerita mas, ada pikiran pengen mencoba :D. Ngeliat foto2nya , hutan berkabut, puncak gunung salju, ini sbnrnya view alam yg aku paling suka, drpd pantai2 :).

    Ntahlah apa suami mau dibujukin tracking begini kalo ke Nepal :D. Sbnrnya kalo dia mau, aku udh pasti semangat siiih hahaha. Yg ptg ada temennya

  6. Ezek langsung berbahasa spanyol ketika ketemu rombongan dari meksiko. Berasa seperti orang jawa langsung pake bahasa jawa letika ketemu orang jawa di perantauan. Apakah itu jadi hal yang biasa ya dalam berkomunikasi..? Rasanya langsung lega ketika kita menggunakan bahasa ibu untuk berkomunikasi. Setelah lama tidak digunakan.

    Snow leopard, aku jadi ingat scene di film the secret life of walter mitty, si walter ketemu si fotografer ketika fotografer rersebut sedang hunting foto snow leopard. Ketika snow leopard itu muncul, dia tidak memotretnya. Dia hanya menikmati momen itu dengan penglihatannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s