Menuju Sinuwa

Langit sudah agak terang begitu saya bangun.

Saya lepaskan diri dari selimut lalu turun ke kamar mandi yang letaknya terpisah dari bangunan utama. Kamar mandi itu luas. Barangkali yang terluas yang pernah saya masuki sepanjang trek Annapurna Base Camp. Dingin dan lembap yang terperangkap di dinding-dindingnya membuat saya tak betah lama-lama di dalam. Usai mengosongkan perut, saya bergegas keluar menyapa batara surya.

Di bawah cahaya perak matari, gemawan memagut lembah-lembah antara Annapurna South, Hiunchuli, Gangapurna, dan Machhapuchhre. Pucuk Machhapuchhre yang suci benar-benar kelihatan seperti sirip ikan. Gagak-gagak Himalaya bertengger di dahan-dahan pohon seperti kamerad-kamerad The Night’s Watch sedang berjaga di The Wall. Hanya bulu legam yang melindungi mereka dari dingin. Craig sedang sibuk memotret Pegunungan Annapurna dan sisa-sisa matahari terbit. Di sebelah sana beberapa orang pelancong juga sibuk memencet rana kamera. Saya duduk di pelataran batu di bawah kanopi, menyaksikan semuanya sambil menyedekapkan tangan ke ketiak.

Lalu Ezek datang dan kami memesan sarapan. Seperempat jam kemudian, chowmein pesanan kami tiba. Kami menyantap mi goreng itu di meja kayu biru. Ketika kami makan, dua sejoli Prancis itu muncul. Mereka sandarkan kedua ransel yang mereka bawa ke dinding lalu bergantian ke kamar mandi.

Sebagaimana di Tikhedhunga dan Ghorepani, porsi chowmein itu juga ekstra. Tapi, tetap saja kami bisa menghabiskan semua. Sampai hari keempat perjalanan lintas-alam ini, belum sekali pun saya menyisakan sarapan dan memasukkannya ke dalam wadah untuk disantap ketika makan siang. Padahal sebelum berangkat saya mengira porsi makanan di jalur pendakian akan cukup untuk dua kali makan. Tupperware malah saya isi dengan kacang-kacangan—yang sejumput saja ternyata sudah mengenyangkan.

Ketika kami selesai sarapan, pasangan Prancis itu masih belum berangkat menuju desa kecil di utara itu. Kami bertukar sapa dan melempar salam perpisahan dengan mereka sebelum kembali ke lantai dua.

>Tadapani

Lalu kami pun melakukan hal rutin: berkemas. Tak banyak yang perlu saya kemasi. Saya juga tak perlu mengepak kantong tidur, sebab setiap penginapan yang kami inapi selalu menyediakan selimut tebal yang jauh lebih nyaman ketimbang kantong tidur tropis yang saya bawa.

Sekejap saja kami selesai berkemas. Kami keluar kamar, menguncinya, lalu turun. Usai membayar biaya bermalam dan makan pada penjaga penginapan, Ezek tiba-tiba menyikut saya.

“Lihat itu,” ujarnya.

“Ada apa?” tanya saya.

“Lihat ke depan etalase itu,” jawabnya. Ia tampak menahan senyum—senyum bahagia.

Hijau, bergerigi, dan bergoyang-goyang diterpa angin sepoi-sepoi, menyaru di antara mawar merah, beberapa rumpun kanabis tumbuh sehat seperti tanaman obat keluarga. Tak seperti pohon-pohon plastik di Tikhedhunga dan Ghorepani kemarin, batang-batang kanabis itu tampak begitu natural. Beberapa catatan yang saya baca di jagat maya sebelum berangkat ke Nepal bercerita soal pohon ganja di semak-semak pinggir jalan, tapi saya tak menduga akan menemukan ‘rumput tertawa’ itu di tengah-tengah permukiman.

Kami berjalan ke samping penginapan dan meregangkan badan. Peregangan kecil, sebenarnya. Kalau diingat-ingat, baru sekali saya tidak melakukan peregangan sebelum pendakian, yakni waktu pendakian perdana dulu. Ketika itu, saya kira, karena sudah jalan kaki cukup jauh betis saya akan aman-aman saja diajak menanjak. Rupanya tidak. Sore hari menjelang Magrib kami terjebak hujan dan mesti berlindung di batang pohon besar yang dasarnya kopong seperti gua. Saya meringkuk seperti mumi Lembah Baliem, barangkali setengah jam. Ketika hujan berhenti dan kami hendak meneruskan pendakian, kaki saya tidak bisa diluruskan. Lalu kram. Sakit, jelas.

>Hiunchuli (kanan) dan Annapurna South (kiri)

Usai peregangan, Ezek membuka ranselnya kemudian menggelar kalung-kalungnya di atas meja. Satu per satu ia foto kalung-kalung itu dengan latar belakang pegunungan bertudung salju.

Menuju Chhomrong

Kami kembali masuk hutan. Machhapuchhre yang mula-mula mengintip dari ujung sana kemudian menghilang ditelan dahan pepohonan.

Lewat pori-pori flanel, kulit saya bisa merasakan hawa sejuk pagi hari musim gugur. Tapi kepala saya hangat karena memakai kupluk merah pemberian orangtua dari adik seorganisasi yang meninggal beberapa tahun lalu. Ketika melintasi pegunungan tropis, jarang sekali saya memakai penutup kepala di siang hari. Paling banter hanya ikat leher. Biasanya saya baru akan memasang kupluk di kepala ketika malam hari di tenda. Tapi, dalam perjalanan menuju Annapurna Base Camp, dingin memaksa saya untuk hampir setiap hari menutupi kepala saat jalan kaki.

Sekira lima belas menit dari Tadapani, dari arah berlawanan saya melihat dua muka familiar melangkah dengan tergesa-gesa. Rupanya mereka pasangan Kanton yang kami jumpai di Poon Hill tempo hari.

“Kalian mau ke mana?” tanya saya.

“Mau turun,” jawab yang laki-laki sambil tersengal-sengal. “Tapi sepertinya kami salah jalan. Mestinya ambil jalur lain dari Tadapani.”

Mereka segera melanjutkan perjalanan. Si laki-laki berjalan di depan, sementara pacarnya tertatih-tatih mengikutinya di belakang.

Di hari keempat perjalanan ini, saya sudah mulai familiar dengan beberapa wajah para petualang. Yang paling sering saya lihat adalah serombongan pelancong Tiongkok-Malaysia. Biasanya mereka mulai berjalan lebih awal dan akan kami salip menjelang tengah hari. Rasanya kami seperti kabilah-kabilah yang sedang mengembara, dipaksa oleh alam, untuk mencari tempat bermukim baru, seperti nenek moyang manusia yang eksodus dari Benua Afrika—atau entah dari mana—zaman dahulu kala.

Jalur berbukit dan berlurah itu kami lewati dengan ceria. Menjelang Chuile, setapak mulai menurun. Kotoran keledai menghiasi jalan setapak. Aroma pesing sesekali menguar mencapai indra penciuman saya. Kami pun tiba di penginapan yang di halaman luasnya tertancap tiang penuh bendera doa. Dari sana tampak lembah menganga dengan Kimrong Khola mengalir di celahnya.

>Chuile

Turunan makin terjal. Setapak itu kini meliuk-liuk di tanah miring. Di sampingnya tertancap deretan tiang listrik yang pengadaannya mestilah tak kalah sulit ketimbang jejeran tiang listrik yang membelah Gunung Singgalang. Di seberang sana, di sisi lain lembah, mengalir sederetan air terjun tanpa nama. Samar-samar saya mendengar suara jeram.

Di sebuah belokan Ezek berhenti.

“Lihat!” ujarnya.

“Apa?”

“Mereka sedang panen,” lanjutnya.

Saya arahkan kepala ke arah yang ditunjuknya. Di depan sebuah penginapan kecil dengan pekarangan berhiaskan kembang-kembang marigold, beberapa orang pria sedang khusyuk memetik daun-daun hijau kering. Seorang perempuan dan beberapa anak kecil berkumpul di sekitar mereka. Yang mereka petik itu kanabis! Saya jadi ingat cerita Alejandro soal Mary Jane gunung yang kuat namun murah.

“Aku mau coba tanya,” kata Ezek.

Ia menghampiri pria-pria itu lalu kembali dengan wajah gembira sambil menenteng kresek putih. Kemudian kami meneruskan perjalanan turun. Di bawah, tak jauh dari jembatan gantung, kami berhenti untuk istirahat. Ezek membuka kresek itu lalu memperlihatkannya pada saya.

“Bung!” ujarnya. “Sebanyak ini cuma 200 rupee!”

“Kau bercanda!” timpal saya. Tertangkap membawa kanabis kering sebanyak itu di Indonesia, mesti ia akan menginap beberapa tahun di penjara.

Dikais-kaisnya plastik berisi kanabis itu lalu diangkatnya setangkai daun yang di pangkalnya menggumpal buah super kecil berwarna hijau. “Ini bakal kusimpan,” ujarnya.

Sambil merokok, kami tertawa-tawa mengenang kejadian di Ghorepani. Tempo hari sepotong cokelatnya disita polisi wisata; hari ini Ezek sudah mendapatkan gantinya. Jalan hidup memang tak bisa diduga.

>Kimrong Khola

Kami melewati jembatan Kimrong Khola dengan ceria, menaiki tanjakan terjal di sisi lain lembah, meliuk-liuk di setapak yang sepi, lalu kembali melintasi jembatan gantung. Saat-saat yang paling melelahkan adalah mendaki setapak selepas jembatan-jembatan gantung tersebut. Tidak terlalu panjang, memang. Paling-paling hanya perlu waktu lima sampai sepuluh menit untuk tiba di ujung tanjakan. Tapi tetap saja melelahkan.

>Setelah jembatan pertama

Selepas jembatan gantung kedua, jalan amat landai. Kemudian kami tiba di pangkal sebuah turunan panjang yang berujung di jalan setapak yang meliuk-liuk di punggungan terbuka. Ezek melangkah turun sambil menyenandungkan nada-nada sederhana Seven Nation Army. Sebentar saja kami sudah berada di bawah.

>Setelah jembatan kedua

Usai berpapasan dengan kawanan domba dan gembalanya, kami kembali berjalan dalam diam. Ezek melangkah di depan dan saya mengikutinya di belakang. Hanya suara daun-daun yang bergesekan dan langkah kami yang terdengar. Beberapa saat kemudian saya mulai melihat rumah-rumah yang tersebar dalam jarak berjauhan.

>Lokasi makan siang

Samar-samar saya mendengar suara orang sedang mengobrol. Rupanya di depan sana ada sebuah restoran yang bangunannya mengangkangi trek. Di bawahnya, di pinggir jalur, ada undakan batu yang tampaknya enak sekali dijadikan tempat istirahat. Karena sudah lewat tengah hari, kami berhenti di sana dan membuka bekal makan siang.

Kotoran keledai

Selepas makan siang, kami berjalan dengan langkah santai di setapak pinggir ladang terasering yang sebagian besar sudah menguning. Trek antara Tadapani dan Chhomrong itu terasa makin sepi. Pelancong terakhir yang kami lihat adalah sepasang perempuan muda yang salah seorang di antaranya memakai kaus Singapore Management University.

Menjelang pertigaan menuju Chhomrong, beberapa kali kami mendapati helikopter menderu di langit. Saya jadi ingat pendakian ke Argopuro pada musim kemarau 2013. Hari kedua, ketika kami berteduh di bawah naungan pepohonan di samping sabana luas, dari jauh terdengar suara deru sepeda motor. Ketika lewat, rombongan itu—dua sepeda motor, kalau tidak salah—menyapa kami dengan nada meledek. Mereka pemburu. Setangkai bulu merak tersangkut di ransel salah seorang di antara mereka. Ilusi bahwa kami jauh dari peradaban pun buyar. Perjalanan yang sejak kemarin terasa heroik itu tiba-tiba kehilangan kegarangannya. Helikopter yang saya lihat siang itu memberi efek serupa.

Barangkali memang tak ada lagi—atau benar-benar tinggal secuil—tempat di muka bumi ini yang belum terjelajahi. Bahkan Machhapuchhre yang suci itu pun sudah pernah dicolek manusia tahun 1957, meskipun bukan pucuknya. Jika sudah begini, lucu rasanya membaca judul tulisan perjalanan dengan kata-kata banal seperti ‘mengeksplorasi’ dan ‘menaklukkan’ atau ‘mutiara terpendam’ dan ‘belum terjamah’, dll. Sepertinya kita perlu sadar bahwa yang kita lakukan hanyalah mengekor jejak-jejak manusia masa lampau—kecuali, barangkali, jika kita adalah pengelana luar angkasa yang pertama kali menjejakkan kaki di Mars, misalnya.

>Machhapuchhre

Kami pun tiba di pertigaan Chhomrong. Beberapa kelompok pelancong duduk santai di kursi-kursi yang digelar pekarangan-pekarangan restoran. Kami mengikuti plang dan mengambil jalur ke kiri. Selepas jejeran kios, kami mulai meniti tangga mendaki. Di dekat sanggah, seorang bapak paruh baya duduk di depan buah-buahan jajaannya. Di atas sana, Machhapuchhre menjulang dalam diam. Angin dingin bertiup dari lembah besar di sebelah kanan.

Selepas tanjakan, kami meliuk-liuk di setapak tanah rata yang terlindungi kanopi pohon. Sunyi yang tadi menemani kami dari Tadapani sudah pergi. Kini manusia sudah banyak lagi. Sesekali kami melintasi pekarangan penginapan dan memapas rombongan pelancong yang sedang istirahat. Sekali waktu, kami memapas bocah kecil berjaket tipis yang entah sedang berjalan pulang atau hendak bertandang ke rumah kawannya.

Ujung setapak itu membawa kami ke Chhomrong, desa yang permukimannya menempel ke lembah. Desa yang berada di jalur utama menuju Annapurna Base Camp itu tampak jauh lebih megah ketimbang Tadapani. Pelancong-pelancong beransel dan berjaket tebal duduk-duduk santai di sekitar warung dan penginapan. Kedelai-keledai Himalaya berkerumun di pinggir jalan, tak peduli pada bau pesing—dari kotoran mereka sendiri—di sekitar.

>Chhomrong
>Pos pemeriksaan ACAP di Chhomrong

Saya terus menuruni tangga terjal itu dengan hati-hati, semakin ke bawah, lalu tiba di pos pemeriksaan kartu ACAP yang berada di pekarangan bangunan yang tampak seperti gedung sekolah. Karena tak banyak yang melapor, sebentar saja ACAP kami sudah dicap dan kami meneruskan perjalanan ke Sinuwa.

Selepas pos pemeriksaan, kami mesti melewati turunan terjal dan panjang. Kotoran kedelai membuat saya enggan mengambil napas dalam-dalam. Ketika sedang menuruni tanjakan itu, dari jauh saya melihat muka familiar sedang berjalan naik. Saat ia sudah dekat, saya bisa mengenalinya. Itu Luki, pemuda Jakarta yang sebus dengan Ezek dan saya dalam perjalanan dari Kathmandu ke Pokhara.

“Sudah balik saja?” tanya saya.

Luki, yang sedang khusyuk meniti tangga, tampak kaget.

“Lho? Baru sampai sini?”

Selang sebentar Barok dan kawan-kawannya yang lain menyusul. Saya dan Ezek berhenti sebentar untuk berbasa-basi dengan mereka. Senang rasanya bisa bicara bahasa Jawa lagi dengan Barok. Saat kami sedang mengobrol, sekawanan keledai Himalaya lewat. Lonceng-lonceng mereka berkelinting heboh. Gembala mereka berteriak-teriak, mengatur mereka dengan tongkat terhunus. Begitu keledai-keledai itu hilang dari pandangan, kami mengucapkan selamat tinggal pada Barok dan kawan-kawan.

>Menuju jembatan Chhomrong Khola

Jalan penuh kotoran keledai itu membawa kami makin dalam turun ke lembah, lalu berakhir di jembatan gantung panjang yang mengangkangi Chhomrong Khola. Kami berhenti agak lama di pangkal jembatan untuk memberi jalan pada kawanan keledai.

>Kawanan keledai melintasi Chhomrong Khola

Selepas jembatan, kami kembali mendapati tanjakan terjal. Tenaga saya sudah mulai terkuras dan jalan saya makin melambat. Sekitar lima belas menit setelah jembatan gantung, kami tiba di ujung bawah Lower Sinuwa. Chhomrong sudah jauh di belakang dan mulai ditutupi selimut tipis halimun. Bangunan makin banyak dan akhirnya kami tiba di tempat paling ramai di Lower Sinuwa.

Sudah hampir jam empat sore. Rasanya takkan ada gunanya melanjutkan perjalanan ke Upper Sinuwa. Kami pun masuk ke gang kecil untuk mencari penginapan. Gang kecil itu membawa kami ke halaman belakang rumah, lalu ke jalan setapak menanjak yang lama-lama terasa janggal. Kami salah pilih jalan. Jalan itu akhirnya memaksa kami memanjati sebuah bangunan kosong—tampaknya penginapan yang baru selesai dibangun atau sedang direnovasi—sebelum kembali tiba di jalan utama. Akhirnya kami berhenti di sebuah penginapan lumayan besar di ujung Lower Sinuwa.

>Lower Sinuwa

Kami segera memasukkan ransel ke kamar. Setelah itu kami ke halaman kecil di depan kamar, membuka sepatu dan menjemurnya, lalu duduk sambil merokok di kursi besi.

Matahari makin condong di kaki langit, bendera doa menari-nari dipermainkan angin, dan Chhomrong makin samar disembunyikan halimun.

Dari arah bawah, terdengar suara berisik. Rupanya ada serombongan pelancong yang juga salah memilih jalan seperti kami. Salah seorang di antara mereka mencium aroma khas lintingan Ezek.

“Boleh coba sehisap?” ia bertanya dengan suara lantang.

Ezek turun lewat tangga kecil di pojok pekarangan lalu memberikan lintingan itu kepadanya. Pelancong itu menghisap lintingan itu dalam-dalam lalu menyodorkan kembali lintingan itu pada Ezek.

“Bawa saja,” ujar Ezek. “Itu buat kau.”

31 pemikiran pada “Menuju Sinuwa

  1. Hey Ajo!
    What an adventure and I didn’t even leave my easy chair. I am still chuckling about the score that Ezek made in that village and secretly dreamed about being there enjoying and laughing along with you guys. The photos are incredible as usual. You are quite talented in both writing and taking photos as you find light in both mediums 🙂

    Hope all is well in your world and that you all vaccinated and ready to travel. The world seems to be opening up and I am so ready to travel! I just got my birth certificate so I can apply for a passport!

    Take care and be safe 🙂

    1. Hi, M! Howdy!

      Yes, if you were with us we’d laugh all the time. It was really nice being in the wild, to escape for a while from everything. Thank you. But, still, I have to learn more from you in order to take better photos.

      Well, if things don’t go south, I’ll get the first dose in early August! 😀 But I’m not sure when I am going to be able to travel again. Things are still unpredictable here in the southern part of the globe.

      Wow! Good news! Congrats, M! Well, I’ve just read a travel book about South America. It’s only three doors down from the US, right? Hahaha…

      Stay safe too there, M!

      1. Yes, I would make sure we would all stay laughing. Especially if we are smoking stuff 😉 I am sure you are a jokester too. Your photos look like a professional shot them, really and I felt like I was there. I could almost smell the place. I know that I will never travel there as it seems you need to be in great physical condition.

        Oh wow! Still no shot for you? I saw that your country had a surge in virus case. One news report a few weeks ago listed your country, I think they mentioned Jakarta specifically, was the current epicenter of the virus. I hope it gets better so life can go back to normal and you can travel again.

        South American? Planning to scale Machu Picchu? That is on my bucket list, but again, I know I will never go because of my medical conditions. Hope you make it out this way and yes, you are right, South America and US are neighbors 🙂

      2. I think I can tell a joke or two–and we can leave the rest to the holy smoke. 😀 Well, thank you. I guess it is more because of the camera. I used a tough camera, Nikon AW130, and I love how it captures the color. The color tones are sepia, a bit at least, like that of Kodak film.

        Well, yes. Jakarta is the biggest city in Indonesia and also the gate to this country. If they locked Jakarta down right after they found the first cases in March 2020 and shut the international airports, it would be different. But, yeah… 😀

        Anyway I hear that your new president can take care of the pandemic there! Congrats! 😀

        One day, perhaps. And the Inca Trail. Ezek told me amazing stories about the Inca Trail. 😀 Well, we never know. Perhaps the Universe will bring you there. At least I believe it. 🙂

      3. From your posts, I feel like I know Ezek as well. Gosh, it would have been a great documentary. I really like how culturally diverse the hike is. I know you mentioned people from other countries.

        Yes, we can leave it to the Holy Smoke. Love it! I have never heard of that one, I will have to google it. I do love the colors of those photos and the photos are what I would call “crisp”. I have been searching Ebay for a “new” camera. (one a good used one with low shutter count.)

        It is so sad that so many countries, USA included, didn;t go along with the pre-cautions. Things could be so different right now. For example, the Olympics. It is sad seeing all those empty seats and those athletes that have trained for their whole lives having to be sent home because of the virus.

        I hope he can convince others to make changes. He is doing a decent job especially when he has so many against him.

        You will probably make it to the Inca Trail before I do and if you do, hope you get lots of good photos 🙂

      4. When I was with them, I forgot that countries have borders. Differences aside, we’re basically the same. We joke, we get mad about things, we have past stories, and we are eager to find out about the future. They are no different from friends I have or my old friends back then when I was a kid.

        Yeah, the Olympics. I guess they have their own reason. But I find it rather, I don’t know, perhaps I’m wrong, unethical. I mean, the could reallocate the budget to save more people, right?

        I hope so too. Our countries really need leadership now.

        Will do! 😀

      5. That is a beautiful thing! We are all humans and on the same planet. I guess I am just so tired of all the race issues we have been having here in the US. That hike or hikes like that seem to be great bonding experiences. Having to depend on another person especially when you both do not speak the same language would be like changing and inspiring.

        Yeah, I didn’t think they should have hosted the Olympics either. I have read so many stories about athletes and them knowing that they shouldn’t be there but taking the chance because this is their last chance at their goals and dreams. Just so sad.

        I hope your country gets better 🙂

      6. Agreed. Such experience gives us opportunities to really talk to people, to know how they live, to understand a bit how they think.

        Well, yeah. And we can only wonder how the history will write about this year’s Olympics.

        Thank you, M. I hope the rest of the world will get better too. Sooner, I hope.

  2. Greetings! Thanks for sharing the experiences on the Annapurna Trail. I did a two-day trek from Phedi to the Australian Camp in 2016. Beautiful country and scenery. We had good views of Fishtail and Annapurna South but never saw Annapurna.

    1. Hi there! These last two months I hardly do the blogwalking. It’s nice to finally read your blog again.

      Yeah, I guess it is quite difficult to spot Annapurna I from there. Annapurna I stands a bit north from Annapurna South and it is hidden from the view by Annapurna South and Hiunchuli. But, still, the view is amazing, right? Anyway, I heard that the scenery from the Australian Camp is really pretty. I hope one day I can walk there…. a little detour after finishing the Circuit, perhaps. 😀

    1. Sama, Kak. Nulis ini pake bongkar-bongkar catatan, foto, sama video. Yah… Mungkin buat ngobatin jalan-jalan. Ini kakiku sudah pegel lagi pengen naik gunung. Hah….

    1. Sama, Kak. Nulis ini pake bongkar-bongkar catatan, foto, sama video. Yah… Mungkin buat ngobatin jalan-jalan. Ini kakiku sudah pegel lagi pengen naik gunung. Hah….

  3. Duh liat foto-foto jadi inget tripku 2017 lalu. Ada foto chuile, ada foto tempat makan di ghurjung… senangnya….. dan seru amat bisa ketemu yg lagi panen canabis..

  4. Duh cakep banget mas, jadi pengen kesana juga sih.
    Sempat sih teman ngajakin kesana, cuma waktunya lagi gak pas.
    Semoga besok2 masih ada kesempatan buat main kesana juga.
    Sekarang siapkan kondisi fisik dulu buat tahan dingin hehehe

  5. sempat ngalamin neraka pacet selepas tadapani ndak mas e ?
    nasib trekking pas musim hujan, pacetnya pada ngumpul ramai ramai di ujung daun di pinggir jalan hahaha..
    dulu dari tadapani cuma mentok di lower Chomrong.. hujan deras jadi musti berteduh hihihihi
    ditunggu perjalanan sinuwa – abc nya ya

    1. Untungnya tidak, Mas Bek. Pacet kayaknya pada hibernasi di musim gugur. 😀

      Selama trekking kemarin, suasana yang agak kelabu paling cuma dari MBC ke ABC. Dapet salju kecil sebentar banget pas tiba di ABC. 😀 Tak kira asap orang bakar-bakar, ternyata dingin. 😀

      Siap, Kang! Ditunggu, ya! 😀

  6. Sudah 12 tahun apa ya saya tidak main ke sini..?
    Annapurna, Nepal. Bukan lokasi yang masuk wishlist, tapi menyenangkan membaca kisahmu. Sepertinya saya akan lekas melambat kalau berjalan sejauh itu dengan ransel penuh..

    1. Hm… Iya. Waktu ramalan Oy Uyo masih belum terwujud. 😀

      Makasih, Bang! Tak perlu berjalan cepat di sana–dan untungnya ransel tak perlu penuh. 😀

  7. Ternyata ketemu daun surga juga. Menarik yaa mas, ternyata disana juga mengenal berbagi hisapan di antara para penggemar daun surga 😀
    Eh mas, selama perjalanan di Annapurna, apakah menyediakan waktu khusus untuk hunting foto? atau emang seperti apa yg ditemui saja dalam perjalanannya..hehhehee

    mungkin sudah reflek yaa, ketemu orang indonesia/jawa secara otomatis ngomong pake bahasa jawa 😀

    1. Iya, Masvay, ketemu. 😀 Sama saja ternyata. Sama-sama “joinan”. 😀 Tapi habis pandemi ini kayaknya bakal mikir-mikir buat joinan.

      Biasanya saya ambil apa yang ada di depan mata saja, Masvay, entah pas sedang jalan atau istirahat. Untungnya kameranya kecil dan nggak berat waktu dikalungkan di leher.

      Iya, Masvay. Mulut jadi relaks lagi ngomong bahasa Jawa/Indonesia. 😀

  8. Di sana ganja legal ya mas? Kebayang aja itu kalo ezek bawa seplastik masuk ke Indonesia hahahahaha. Welcome to prodeo :D.

    Aku cukup baca dan ngebayangin ceritamu aja :D. Kalo kesana rasanya ga sanggub sih, bukan penyuka naik gunung juga, walopun aku sukaaaa view gunung :D.

    Tapi Nepal tetep pengen aku datangin, hanya saja bukan utk gunungnya sih. Mau jelajah kotanya :D.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s