Pinggir Danau Kintamani

Ingatan saya soal pendakian menuju puncak Gunung Batur sudah samar. Jika dipaksa membongkar laci memori, barangkali saya hanya bisa merogoh beberapa kepingan.

Kami mulai jalan sekitar jam 2 atau 3 dini hari. Berlima. Kawan-kawan ketika itu adalah V, S, dan dua orang keponakan J yang masih remaja. Tak ada rombongan pendaki lain yang kami jumpai di bawah, mungkin karena kami masuk lewat lawang yang biasanya hanya dilalui warga lokal.

Read More

1000 Tahun Lamanya

Saya dan kawan-kawan adalah sedikit di antara manusia yang turun ke dermaga Pelabuhan Nusa Penida sore itu tanpa baju putih, udeng, saput, dan kamen. Kami memang tak hendak beribadah, sekadar ingin pelesiran saja.

Lupa saya siapa yang melempar ide untuk kemping di Nusa Penida. Yang jelas akhirnya kami berangkat berempat. Rio dan Westi yang cari jalan. Mereka memang tinggal di Bali; saya dan Ucok hanya mampir. Mereka jelas lebih tahu Bali. Kami jadi pengikut yang baik saja. Soal tempat yang akan dituju, tempo hari mereka menyebut satu nama, tapi saya lupa.

Read More

Epilog: Pulang

Nama Johor Bahru pertama kali saya dengar ketika sekolah dasar. Entah kelas 2 atau kelas 3, saya lupa. Pokoknya salah satu di antaranya.

Salah seorang teman sekelas—yang wajahnya mirip Maissy, penyanyi cilik yang wara-wiri di televisi Indonesia pertengahan dasawarsa 1990-an—baru saja kemalangan. Ibunya meninggal muda. Suatu hari, beberapa pekan setelah kepergian ibunya, ia dan saudaranya diboyong sang ayah ke sebuah kota di Malaysia. Nama kota itu “Johor Baru.”

Read More

Tahun Baru di Johor Bahru

Kami meninggalkan Bras Basah Complex lewat jalan lain yang lebih sempit ketimbang Bain St. Ada liukan sedikit yang membuatnya tampak lebih artistik.

Sisa-sisa petrikor bersekutu dengan aroma khas dapur restoran cepat saji, menguar, menggoreskan sesuatu pada pita memori. Di atas sana langit masih kelabu. Hujan rintik-rintik itu saya kira akan segera hilang—tapi tidak. Air malah kembali mengucur deras dari langit, memaksa kami berteduh di halte bus.

Read More

Bras Basah Complex

Dari Stasiun Nicoll Highway, kami jalan kaki menuju ABC Hostel. Merujuk aplikasi peta di ponsel Nyonya, penginapan itu tak jauh dari sana. Lokasinya di Jalan Kubor. Kami hanya perlu jalan kaki beberapa kilometer. Memang masih terlalu pagi untuk check-in. Tapi menemukan hostel itu sesegera mungkin rasanya lebih baik ketimbang terlalu lama luntang-lantung di jalan.

Kami menyeberangi perempatan beberapa kali. Setiap hendak menyeberang, kami mesti berdiri menunggu sampai lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Langkah saya ringan dan tak tergesa-gesa ketika menyeberang. Saya menikmatinya. Senang sekali rasanya mendapati penyeberangan-bersetrip itu benar-benar berfungsi.

Read More

Transit di Kuala Lumpur

Barangkali awal 2013—saya lupa-lupa ingat—sepulangnya dari melancong ke Malaysia, seorang kawan baik menghadiahi saya gantungan kunci. Bukan yang berbentuk Menara Kembar Petronas seperti oleh-oleh kebanyakan, tapi gantungan kunci berupa ukulele berbahan resin.

Waktu itu saya memang sedang senang-senangnya menggenjreng ukulele. Sejak berhasil menyanyikan “Blowin’ in the Wind” dengannya, instrumen musik berdawai empat itu sering saya bawa ke mana-mana. Hemat tempat soalnya. Muat di ransel. Nongkrong di kedai kopi, saya bawa. Pendakian rutin ke Gunung Api Purba, juga tak jarang saya bawa.

Read More

Georgetown

Dari feri, gedung-gedung di Georgetown, Penang, tampak seperti instalasi seni aliran brutalisme. Bangunan-bangunan pencakar langit itu—termasuk Komtar yang legendaris—kelihatan bertabrakan dengan perbukitan memanjang di belakangnya, meskipun kontras itu agak tersamarkan oleh cahaya keemasan sang mentari tua yang sedang dalam perjalanan ke peraduan.

Di sebelah selatan sana, jembatan penghubung Malaysia semenanjung dan Penang membentang bak doppelgänger cakrawala.

Read More

Perjalanan Panjang ke Penang

Gerai 7-Eleven di seberang Stasiun Hua Lamphong itu menyempil di antara rumah makan dan kafe, bersimbiosis dengan beberapa gerobak penjual bebakaran dan buah-buahan di bagian depan. Ke sanalah kami pergi sebelum menaiki kereta 171 jurusan Bangkok-Sungai Kolok yang akan membawa kami ke Hat Yai.

Tak banyak yang kami beli, hanya beberapa botol air mineral dingin dan makanan ringan pengganjal perut. Mana yang muat di ransel, kami masukkan. Yang tidak, terpaksa ditenteng.

Read More

Dua Malam di Bangkok

Jika perjalanan ini sebuah video klip musik, etape Aranyaprathet-Bangkok adalah kepingan interlude tanpa lirik yang di dalamnya kami duduk berhadap-hadapan di bangku kereta disirami cahaya mentari yang perlahan berubah dari garang menjadi menenangkan menjadi sepenuhnya hilang ditelan malam.

Tapi isi klip musik kosmik itu tak cuma kami.

Read More