Naik Bus dari Bangkok ke Siem Reap

Mulut stasiun MRT seberang Hua Lamphong belum buka saat kami tiba. Langit memang masih kelam. Pagi sekali masih. Puncak wat yang runcing di sebelah sana tampak anggun diterpa lampu sorot dari bawah. Dari tempat saya memandang, bangunan spritual itu menyempil di antara gedung-gedung bertingkat dan ruko-ruko yang menyimbolkan hal-hal material.

Yang lalu-lalang di jalanan sekitar Hua Lamphong masih mereka-mereka yang mendamba rezeki pagi. Masih belum waktunya bagi para pekerja berkerah untuk bergerak ke kubikel masing-masing.

Read More

Bus No. 49

Karena semalam sudah mandi, saya merasa segar sekali ketika bangun itu pagi. Saya bergegas mengemas ransel, berjinjit turun lewat tangga kayu, lalu keluar hostel mungil itu.

Suara orkestra pagi menyambut. Gang kecil yang sekilas mirip lorong-lorong Jalan Sosrowijayan itu masih mengumpulkan nyawa. Lengang sekali. Restoran atau kafe yang sudah buka baru kedatangan satu-dua pelanggan saja. Sebagian besar turis masih istirahat memulihkan tenaga yang habis karena semalaman pesta.

Read More

Sirkumnavigasi dan Bangkok

Sebentar lagi kereta akan tiba di Stasiun Hua Lamphong, Bangkok. Sudah malam. Gedung-gedung pencakar langit sudah hadir kembali di cakrawala. Jalan layang, kendaraan, dan manusia kembali ramai seolah-olah dimuntahkan tiba-tiba dari lubang hitam yang hampa.

Saya berdebar-debar mengantisipasi sirkumnavigasi.

Read More

Menyeberang ke Thailand

Tuk-tuk Kamboja agak beda dari yang beredar di Thailand. Alih-alih menyerupai bajaj, moda transportasi itu akan lebih tepat jika digambarkan sebagai versi lebih panjang dari delman-delman yang lalu-lalang di Pantai Parangtritis. Hanya saja, bukan kuda hidup yang menarik gerobaknya, tapi kuda Jepang.

Sasis gerobaknya tampak agak jauh dari kata solid. Viar atau Tossa masih lebih baik. Lewat jalan yang kurang mulus, gerobak tuk-tuk itu akan bergoyang heboh memproduksi bunyi yang mungkin saja bisa disalah kaprah sebagai suara kerincing logam di tepian tamborin.

Read More

Malam yang Jatuh Lebih Cepat di Siem Reap

Kamar mandi White River bagi saya biasa-biasa saja, meskipun pasti akan dicela oleh pengulas akomodasi dan restoran profesional. Ada wastafel di sana, klosetnya sudah duduk, nuansanya putih, dan ubin-ubinnya yang mulai pudar menegaskan bahwa kamar mandi itu sudah veteran. Entah sudah berapa ribu tamu hostel atau bar yang pernah ke sana.

Sekitar jam 6 pagi, setelah membersihkan badan di kamar mandi itu, saya check-out. White River sedang memulai kehidupannya. Pekerja hostel dan bar itu lalu-lalang, sebagian membersihkan ruangan, menata meja dan kursi, sebagian lain sibuk beraktivitas di dapur.

Read More

White River, Phnom Penh

Semalam saya sudah berkemas. Jadi, pagi itu, sekitar jam 6, saya hanya tinggal memanggul ransel, check-out, lalu jalan kaki ke arah kantor The Sinh Tourist. Dekat perempatan Buffalo, saya berhenti sebentar untuk membeli seporsi banh mi yang kemudian terburu-buru saya santap di depan The Sinh Tourist.

Saya terkekeh mendapati bahwa The Sinh Tourist ternyata malah memberi saya tiket bus Phnom Penh Sorya. Usai melapor, saya diminta menunggu. Ruang tunggu di dalam terlalu ramai, saya keluar saja. Tak berapa lama, seorang pria berusia tiga puluhan akhir—atau empat puluh awal—berseragam Phnom Penh Sorya datang menghampiri. Perawakannya seperti orang Kamboja.

Read More

Saigon

Bus akhirnya datang. Sekira jam 9 malam, pintu-pintu bagasi dibuka. Setengah jam kemudian, bus The Sinh Tourist itu mulai melaju, meninggalkan Danau Xuan Huong dan pendar warna-warni yang menghiasi permukaannya, meninggalkan kota Dalat yang sedang menggigil dibasuh gerimis.

Jalan yang semula hanya cukup untuk dua bus kemudian berubah menjadi jalan tol yang lebar dan mulus. Karena belum mengantuk, saya habiskan waktu dengan membaca autobiografi John Muir, naturalis legendaris pentolan Sierra Club yang namanya diabadikan sebagai sebuah trek lintas alam di Amerika Serikat bagian barat, John Muir Trail. Tapi lama-lama bosan juga. Saya pun mulai mengantuk, lalu tertidur.

Read More

Semalam di Dalat

Seandainya bersikeras mencari hostel yang direkomendasikan J, barangkali saya akan berakhir di jalanan itu malam.

Maka saya biarkan insting menuntun entah ke mana. Masih pagi. Saya masih punya banyak waktu untuk menemukan akomodasi yang sesuai. Kaki saya pun kemudian melangkah ringan menelusuri jalanan Dalat, lewat pertokoan, jalan yang mendaki-menurun, memapas bangunan-bangunan tua, sampai akhirnya tiba di pusat keramaian Dalat: bundaran dekat Cho Da Lat (Pasar Dalat).

Read More

Perjalanan ke Dalat

Pagi ketiga di Hoi An, saya kembali menelusuri tepian Sungai Thu Bon. Jalanan berlapis aspal itu menghitam, basah, sebab sepanjang malam diguyur hujan. Cahaya yang terpancar dari langit kelabu bikin bangunan-bangunan tua itu tampak sendu, sesendu nakhoda-nakhoda perahu yang sedang menantikan penumpang pertama mereka hari itu.

Hoi An tak lagi menjadi kota mimpi. Ia sudah takluk pada kenyataan, menyerah pada keseharian.

Read More