Sehari di Negeri Tembakau

Beberapa tahun yang lalu di Kaldera Rinjani, matahari sudah condong ke barat dan stok rokok saya sudah menipis. Tepian Segara Anak masih jauh. Di sisi jalur saya mengistirahatkan kaki bersama beberapa pendaki dari Mataram. Demi menghemat rokok, saya hanya duduk diam melihat pemandangan. Perjalanan masih panjang.

“Rokok, Bang?” Salah seorang dari mereka menawarkan. “Terima kasih,” saya menjawab. “Masih ada, kok.” Continue reading “Sehari di Negeri Tembakau”

Lawu

Barangkali terlalu berlebihan untuk menyebutnya badai. Apalagi saya kurang paham mengenai klasifikasi angin. Namun yang jelas pagi ini angin bertiup teramat kencang. Pohon-pohon cemara di pinggir tebing tak henti goyang. Kabut pembawa dingin terombang-ambing dipermainkan oleh si udara yang bergerak. Meninggalkan jejak berupa putih translusen di Cemoro Kembar, Gunung Lawu. Pos 5 masih berjarak beberapa ratus meter vertikal lagi.

Seolah tak mau kalah, hujan ikut ambil bagian. Di pojok terpal, untuk menampung air Benny menaruh beberapa botol air minum kemasan yang sudah dipangkas bagian atasnya. Akhirnya saya mampu menghayati kalimat “hujan adalah berkah” sebab air meteorit itu turun persis ketika persediaan pemuas dahaga kami semakin menipis. Continue reading “Lawu”

Monas

Monas menjadi penanda bahwa sebentar lagi kereta yang saya tumpangi dari Bandung akan tiba di Stasiun Besar Gambir. Kereta Argo Parahyangan itu meluncur di bawah langit Jakarta yang kelabu. Ia perlahan melambat sebelum sepenuhnya menghentikan laju. Para penumpang yang semula duduk berbondong-bondong keluar dari gerbong. Bergegas  mereka–dikejar entah apa–mencari pintu keluar untuk masuk ke dalam dunia masing-masing. Barangkali sudah tak sabar ingin menuntaskan urusan yang telah ditunda perjalanan selama tiga jam.

Saya sendiri segera melangkahkan kaki ke sana, ke monumen raksasa perlambang lingga-yoni yang dibangun pada masa orde lama. Monas memang cuma selemparan batu dari Stasiun Gambir. Sudah bertahun-tahun saya mendamba memasukinya, sejak ayah membawakan oleh-oleh kaos putih bergambar Monas dahulu sekali ketika saya bocah. Selama ini saya hanya bisa melihatnya dari jauh; dari kaca jendela kereta Taksaka dalam perjalanan mudik, dari kaca jendela bis Damri yang mengantar saya ke Soekarno-Hatta. Continue reading “Monas”

Arupadhatu

Saya keluar dari kantong tidur, mengumpulkan nyawa, kemudian meregangkan badan. Pagi, rumput Taman Lumbini masih dibasahi embun. Burung-burung berterbangan sembari berkicau bercengkrama. Para pelari pagi melintas, riang walaupun wajah pias. Borobudur terlihat menawan. Mentari kemudian menyinari kelabu raksasa itu. Perlahan, ia mendapatkan kembali warnanya yang sejati. Continue reading “Arupadhatu”

Di Gedong Songo

Senja

Jika ingin menikmati sebuah tempat indah, pergilah ke sana ketika tempat itu berada dalam keadaan sepi. Suatu sore di awal Oktober, saya turun di pertigaan Poli, Ambarawa. Dari Poli saya menyambung naik elf, bergelantungan bersama penduduk lokal sampai ke pertigaan jalan masuk Candi Gedong Songo.

Dari pertigaan saya berjalan kaki sekitar tiga kilometer sampai ke gerbang Gedong Songo. Sebenarnya di pertigaan ada pangkalan ojek. Namun saya lebih memilih untuk berjalan kaki. Naik ojek pasti akan mahal. Ongkosnya barangkali lebih mahal daripada yang saya bayar untuk naik bis sekitar 100 km dari Jogja ke Ambarawa. Dan selain hemat, jalan kaki ke Candi Gedong Songo juga menyenangkan karena kau akan melewati perkebunan bunga. Sesekali tengoklah ke belakang, gemunung tersibak di balik awan, dan di kakinya air Rawa Pening berpendaran. Continue reading “Di Gedong Songo”

Ketika Analog Menjadi Andalan

Awal 2010 lalu kamera saku digital saya hilang. Semua foto di Gili Trawangan dan Pulau Lombok ikut-ikutan raib. Praktis sejak itu yang menjadi andalan hanya kamera ponsel dan kamera pinjaman, itu pun jika ada yang bersedia meminjamkan. Akibatnya perjalanan-perjalanan yang saya lakukan antara awal sampai akhir tahun 2010 minim dokumentasi. Sampai pada suatu malam di awal bulan syawal 1432 H, malam terakhir di kampung ketika mudik tahun itu, papa melungsurkan Canon Prima Junior ke saya, “Ini kamera lama, bawa saja. Sudah tidak dipakai lagi.”

Sejak itu saya jadi menggilai kamera analog. Dan sekarang di kamar saya sudah ada tiga kamera lawas yang masih menggunakan film; Canon Prima Junior, Yashica FX-3, dan Fujica M1. Canon Prima Junior merupakan kamera saku, sudah agak modern dan operasionalnya membutuhkan baterai, penggulungan filmnya sudah otomatis, tinggal ungkit tombol sedikit film dapat menggulung balik sendiri. Kamera kedua, Yashica FX-3 agak lebih tua umurnya, SLR produksi tahun ‘70an. Kamera ini sudah memiliki light meter (indikator pencahayaan) dan punya slot untuk flash. Lensa favorit saya adalah lensa fixed. Dengan efek bokeh yang dihasilkan, lensa ini sempurna untuk memotret manusia dalam jarak dekat. Kamera ketiga, Fujica M1, adalah toycam mainan mama waktu masih muda dulu. Lebaran kemarin saya temukan teronggok di tumpukan barang rongsok di pojok rumah. Semula saya kira rusak, namun tanpa diduga kamera ini masih bisa digunakan, meskipun lensa dan kekerannya kotor, warnanya masih keluar. Continue reading “Ketika Analog Menjadi Andalan”