Category Archives: temple

Lawu

Barangkali terlalu berlebihan untuk menyebutnya badai. Apalagi saya kurang paham mengenai klasifikasi angin. Namun yang jelas pagi ini angin bertiup teramat kencang. Pohon-pohon cemara di pinggir tebing tak henti goyang. Kabut pembawa dingin terombang-ambing dipermainkan oleh si udara yang bergerak. Meninggalkan jejak berupa putih translusen di Cemoro Kembar, Gunung Lawu. Pos 5 masih berjarak beberapa ratus meter vertikal lagi.

Seolah tak mau kalah, hujan ikut ambil bagian. Di pojok terpal, untuk menampung air Benny menaruh beberapa botol air minum kemasan yang sudah dipangkas bagian atasnya. Akhirnya saya mampu menghayati kalimat “hujan adalah berkah” sebab air meteorit itu turun persis ketika persediaan pemuas dahaga kami semakin menipis. Baca lebih lanjut

Iklan

Arupadhatu

Saya keluar dari kantong tidur, mengumpulkan nyawa, kemudian meregangkan badan. Pagi, rumput Taman Lumbini masih dibasahi embun. Burung-burung berterbangan sembari berkicau bercengkrama. Para pelari pagi melintas, riang walaupun wajah pias. Borobudur terlihat menawan. Mentari kemudian menyinari kelabu raksasa itu. Perlahan, ia mendapatkan kembali warnanya yang sejati. Baca lebih lanjut

Di Gedong Songo

Senja

Jika ingin menikmati sebuah tempat indah, pergilah ke sana ketika tempat itu berada dalam keadaan sepi. Suatu sore di awal Oktober, saya turun di pertigaan Poli, Ambarawa. Dari Poli saya menyambung naik elf, bergelantungan bersama penduduk lokal sampai ke pertigaan jalan masuk Candi Gedong Songo.

Dari pertigaan saya berjalan kaki sekitar tiga kilometer sampai ke gerbang Gedong Songo. Sebenarnya di pertigaan ada pangkalan ojek. Namun saya lebih memilih untuk berjalan kaki. Naik ojek pasti akan mahal. Ongkosnya barangkali lebih mahal daripada yang saya bayar untuk naik bis sekitar 100 km dari Jogja ke Ambarawa. Dan selain hemat, jalan kaki ke Candi Gedong Songo juga menyenangkan karena kau akan melewati perkebunan bunga. Sesekali tengoklah ke belakang, gemunung tersibak di balik awan, dan di kakinya air Rawa Pening berpendaran. Baca lebih lanjut

Menyusuri Jalan-Jalan Kecil Kotagede

Di suatu Sabtu, ketika panitia Jogja Java Carnival sedang sibuk-sibuknya melakukan persiapan terakhir, saya dan kawan-kawan bersepeda ria ke Kotagede. Rencananya sepulang dari Kotagede nanti kami akan langsung ke Malioboro, ikut melarut dalam kemerihan “Harmonight”. Baca lebih lanjut

Bertandang Ke Candi Muara Jambi

Seminggu yang lalu saya berkesempatan untuk berkeliling Jambi dan sekitarnya selama sehari. Kali ini yang menemani saya, selain para sepupu tercinta, adalah sebuah kamera analog Canon Prima Junior keluaran tahun 1995 yang baru-baru ini dihibahkan ayah. Baca lebih lanjut

BPC Challenge: Mengenali Kota Sendiri

Semenjak rajin berkumpul dengan kawan-kawan Kaskus Backpacker Community (BPC) Regional Jogja, ada-ada saja aktivitas saya. Saya mulai sering keluar malam lagi. Mulai sering jalan-jalan di akhir pekan lagi. Dan mulai sering karaokean. Baca lebih lanjut

Langkah (37): Terapi Emosi di Kebun Raya Eka Karya – Bali Bukan Cuma Pantai

Gerimis dan hujan seolah tak bosan-bosan mengiringi kami. Dari dinihari tadi di Padang Bai sampai sekarang ketika kami meninggalkan Pura Ulun Danu, basah selalu. Bali akhir-akhir ini memang sering hujan. Makanya Bli Gede tadi berpesan, “Kalau hujan, tas kameranya langsung dibungkus sama kantung plastik merah yang di dalam tas itu ya..” Baca lebih lanjut