Category Archives: journey

Naik Kereta ke Nong Khai, Perbatasan Thailand-Laos

Mendengar saya—yang pagi itu dan sebagaimana pagi-pagi lainnya berdandanan bersahaja—mengatakan bahwa akan pergi dari Indonesia untuk melancong hampir satu setengah bulan, petugas imigrasi itu tak percaya. Buluk begini. Apalagi yang saya pegang adalah paspor kinclong. Ia pasti curiga saya mau cari kerja bukannya malala.

Ia menanyakan secara detail saya akan ke mana saja. Tapi, semakin detail saya menerangkan rute yang akan ditempuh, semakin berlipat-lipat mukanya. Dia lalu meminta saya memperlihatkan tiket pulang. Saya sodorkan tablet kepadanya.

“ISV itu siapa?” ia bertanya dari balik kotak kecilnya. Pertanyaan seperti itu bagi saya privasi, tapi barangkali baginya adalah rutinitas. Ia digaji memang untuk curiga. Saya mencoba mengerti. Saya jawab: pacar saya, nanti dia menyusul saya dan kami pulang sama-sama.

naik-kereta-thailand-laos

Stasiun Don Mueang

naik-kereta-thailand-laos

Suasana kereta “ordinary” menuju Hua Lamphong

Setelah menimbang-nimbang sebentar, ia lalu mengecap paspor saya. Untung saya tiba jauh lebih awal. Kalau tidak bisa-bisa saya ketinggalan pesawat ke Bangkok. Pagi itu antrean keluar lumayan panjang, mengular, banyak rombongan. Selepas imigrasi pun perjalanan ke gerbang keberangkatan lumayan lama. Maklum, Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta—dan gerbang saya hampir di ujung! Kalau datang mepet, konveyor-konveyor itu pun saya rasa takkan banyak membantu.

Ketinggalan pesawat ke Bangkok, alternatifnya tidak sebanyak jika ketinggalan Kereta Api Sri Tanjung ke Banyuwangi. Bisa gila kalau sampai harus ngeteng ke Thailand.

Sudah banyak orang yang menunggu di sekitar gerbang keberangkatan. Saya mengistirahatkan kaki di sebuah bangku empuk, menyandarkan punggung dan membebaskannya dari penat perjalanan kereta Jogja-Jakarta yang belum tuntas dilunasi oleh istirahat beberapa jam di rumah Deli. Saya istirahat sekitar setengah jam sebelum gerbang dibuka.

Setelah menyantap nasi lemak

Saya duduk di deretan bangku paling belakang, di sisi lorong, di antara orang-orang yang tampaknya tergabung dalam satu rombongan. Tapi saya terlalu mengantuk untuk memulai obrolan. Maka, saya segera memasang sabuk pengaman, menyandarkan punggung, lalu menutup mata dan membuka pintu alam mimpi.

Yang membangunkan saya adalah aroma lezat nasi lemak yang sedang dibagikan oleh pramugari-pramugari berseragam merah. Saat memesan tiket, Nyonya sudah memesankan nasi lemak buat saya, sebab ia tahu saya pasti takkan sarapan sebelum berangkat. Tak lama setelah saya bangun, seorang pramugari mengecek tiket saya kemudian memberikan seporsi nasi lemak. Seperti disulap, dalam sekejap kotak makan itu kosong melompong.

Kantuk saya hilang setelah makan. Selama sisa perjalanan—dari Jakarta ke Bangkok perlu waktu tiga jam—saya bertukar cerita dengan dua orang penumpang lain yang duduk di samping. Ternyata mereka rombongan kolega kantor yang hendak ke Chiang Mai. Dari Don Mueang mereka akan lanjut naik pesawat domestik ke kota berhawa segar di bagian utara Thailand itu.

naik kereta thailand laos

Suasana Bangkok sore hari

naik kereta thailand laos

Warga Bangkok berjalan di trotoar

Artinya, sebentar lagi mereka akan punya waktu yang panjang untuk istirahat. Sementara saya baru akan bisa menempatkan badan dalam posisi horizontal, barangkali, esok pagi. Dari Don Mueang saya akan naik kereta api ke Bangkok, duduk-duduk di Hua Lamphong sambil menunggu kereta malam ke Nong Khai (itu pun kalau tidak kehabisan), naik kereta kelas kambing ke perbatasan Thailand-Laos itu, lalu cuma semesta yang tahu bagaimana saya akan mencapai Vientiane dari Friendship Bridge. Tapi nanti saja pikirkan itu.

Seperti halnya petugas imigrasi, mereka juga seperti tak percaya rute yang akan saya ambil. Perjalanan saya seperti tak masuk akal bagi setidaknya sebagian orang. Tak banyak orang rela membuang-buang waktu satu setengah bulan berkeliaran di tanah asing, jauh dari kamar, atau dari kenyamanan perlindungan hukum negeri sendiri.

Sekitar jam sebelas pesawat sudah mendarat di Don Mueang. Pagi itu tak terlalu ramai. Pun tak ada masalah di imigrasi bandara meskipun saya tidak mengisi kolom tempat tinggal selama di Thailand. Kepada petugas saya katakan bahwa saya hanya akan transit dan segera melanjutkan perjalanan ke negara sebelah.

Don Mueang lumayan besar. Saya sempat nyasar beberapa waktu sebelum berhasil—dengan bantuan secarik kertas dari bagian informasi—menemukan “pintu keluar rahasia,” lift Hotel Amari, untuk mencapai stasiun kecil Don Mueang.

Keluarga kecil dari Russia

Untuk perjalanan sekitar satu jam dari Don Mueang ke Bangkok, ongkos kereta lumayan murah, hanya 5 Baht. Di dalam gerbong kereta ordinary dari utara itu, saya duduk berhadap-hadapan dengan sepasang pelancong rambut pirang yang membawa seorang bayi. Sepertinya bayi laki-laki.

Mata saya terpaku pada struktur beton yang sedang dibangun, yang entah calon jalan layang entah jalur BTS. Tapi, mata bulat bayi itu selalu tertuju pada saya. Jelas ia penasaran. Bagi bayi seperti dia, muka Asia adalah muka asing. Dan dalam usia semuda itu ia harus menyaksikan muka-muka asing. Pastilah semua ini membingungkan baginya, sebagaimana membingungkannya bagi kita, saat masih kecil dulu, melihat wajah-wajah asing pelancong Kaukasian. Tapi, setiap kali saya senyum, ia tertawa.

Saya tanyakan saja umurnya. Tentu bukan pada bayi kosmopolites itu, tapi pada bapaknya yang sedang menggendong. Ternyata umur bayi bermata bulat itu baru tujuh bulan. Tujuh bulan! Belum setahun dia tiba di dunia tapi sudah berkesempatan melihat sebanyak ini!

naik-kereta-thailand-laos

Bis kota Bangkok yang legendaris

naik kereta thailand laos

Vandalisme dalam bis kota

Saya penasaran, “Apa tak bermasalah melancong membawa anak umur tujuh bulan?” Dia jawab, “Sejauh ini tidak, sih. Baik-baik saja.”

Permainan senyum-dibalas-tawa itu berlangsung sampai Hua Lamphong, ketika akhirnya kami harus bersiap-siap untuk turun. Saat sedang antre keluar, bapak muda itu bertanya dari mana saya berasal. “Indonesia,” jawab saya. Saya balas bertanya mereka dari mana, yang dijawabnya dengan bersemangat: “Rasya!” Saya jelas kaget, “Kalian naik kereta jauh-jauh dari Russia?” “Oh, tidak,” jawabnya. “Kami traveling dari Vietnam.”

Tahu saya dari Indonesia, ia bertanya, “Kapan waktu terbaik untuk mampir ke Indonesia?” Saya jawab musim kemarau, sekitar Mei atau Juni. Ia mengangguk-angguk.

Good luck!” ujar istrinya kemudian, mewakili keluarga kecil itu untuk mengucapkan selamat tinggal. Lalu kami berpisah jalan, ikut arus penumpang yang turun di Stasiun Hua Lamphong, berlalu ke tujuan masing-masing, dan tak pernah berjumpa lagi.

Terjebak macet di Bangkok

Stasiun Gambir boleh menawan dengan tampilannya yang modern, namun Hua Lamphong kelihatan elegan dengan kanopi klasik berupa kubah yang tinggi dan arsitektur dari zaman baheula. Di dinding pembatas lobi dan peron terpajang foto Raja Vajiralongkorn ukuran raksasa, dan di bawahnya berderet loket tempat para calon penumpang antre untuk membeli tiket.

Saya ikut antre dan mendapatkan tiket yang saya inginkan, yakni kereta diesel ke Nong Khai, sebuah kota kecil di utara Thailand yang berbatasan dengan Vientiane, ibu kota Laos. Saya akan berangkat malam ini juga pukul 18.35. Jadi, saya masih punya banyak waktu untuk dihabiskan.

Kemudian saya duduk di tangga teras depan Stasiun Hua Lamphong, menghirup kretek sambil mengamati keramaian Bangkok. Haus, saya menyeberang ke Seven Eleven, kemudian kembali lagi ke beranda stasiun. Saya ingat: bulan depan saya akan kembali ke Bangkok dan menginap di Train Guesthouse yang berada di belakang stasiun. Jadi, saya sempatkan diri ke sana untuk melihat bagaimana wujudnya sekarang. Sekembali dari Train Guesthouse, saat masih di belakang stasiun, sebuah bis nomor 52 berhenti. Secara impulsif saya naik; saya ingin melihat-lihat Bangkok sebelum berangkat ke Nong Khai.

naik kereta thailand laos

Vandalisme di toilet Hua Lamphong

naik kereta thailand laos

Pangkas rambut di Stasiun Hua Lamphong

“Ratchadamnoen,” ujar saya ketika kondektur perempuan itu menghampiri. Ratchadamnoen adalah jalan besar yang berujung di Royal Palace. Khao San dekat sekali dari sana. Saya lumayan lapar. Barangkali ada makanan enak di Khao San. Saya rindu pad thai.

Tapi ternyata bis itu tidak lewat Ratchadamnoen, seperti dulu ketika masih dalam masa perkabungan Raja Bhumibol Adulyadej. Saya pun diturunkan di sebuah halte di seberang Alun-alun Sanamluang. Saya duduk sebentar saja di sana sebab hari sudah sore dan jalanan macet. Jika berlama-lama, bisa-bisa saya terjebak macet dan ketinggalan kereta ke Nong Khai dan harus bermalam di Bangkok.

Dari halte itu, saya menyeberang dan menunggu bis nomor 52 arah pulang. Tak lama saya menunggu sebelum bis selanjutnya datang. Kemudian, setelah naik bis, saya merutuki keputusan untuk jalan-jalan di Bangkok naik bis kota sore hari; macet. Anak-anak pulang sekolah dan semua mobil pribadi seolah-olah ke luar untuk menjemput mereka.

Ditambah lagi, sang kondektur bilang, setengah dengan bahasa Inggris dan setengah lagi bahasa isyarat, “Bis ini tidak lewat Hua Lamphong.” Tapi saya tak percaya, saya nekat naik bis itu, menerobos kemacetan sore hari di Bangkok yang bikin sakit kepala. Tak tahan lagi dengan kemacetan itu, saya meloncat turun di perhentian selanjutnya.

Di sebuah perempatan saya menjumpai sebuah pos polisi. Ada petugas di sana dan saya pun bertanya arah menuju stasiun. “Lurus,” jawab polisi itu. Setelah lima belas menit berjalan, akhirnya saya kembali tiba di Hua Lamphong. Lega sekali rasanya.

“Sucipto”

Saya sedang duduk-duduk di beranda depan Hua Lamphong ketika seorang kakek datang menenteng plastik belajaan. Isinya bukan kubis, sawi, atau bawang merah, tapi botol bir!—ukuran besar pula. Ia duduk di samping saya, lalu dengan santai mengeluarkan pembuka botol. Plosh! Aroma bir dingin pun melebur ke langit Bangkok yang saat itu sedang berpendar jingga.

Saya tawari ia rokok. Barangkali saja ia tertarik untuk mencoba kretek dari Indonesia. Ia menolak, tersenyum memperlihatkan giginya yang tinggal beberapa. Minum bir tapi tidak merokok. Hm… menarik. Sebagai ganti, ia menawari saya bir. Untuk meyakinkan saya, ia menunjuk ke arah stasiun lalu memberikan gestur “tidak boleh”—di kereta tidak boleh minum minuman keras. Tapi saya menggeleng; terlalu sore untuk minum bir.

Kakek itu tinggal di Bangkok. Mendengar saya akan ke Nong Khai, di bilang, “Nong Khai… long… long….” Benar, saya sadar perjalanan masih sangat panjang. Berangkat pukul 18.35 nanti, baru esok dini hari saya akan tiba di Nong Khai, setelah menumpang kereta kelas paling rendah yang sampai sekarang belum saya saksikan wujudnya.

naik kereta thailand laos

Gerbong kereta menuju Nong Khai

naik kereta thailand laos

Stasiun kecil di Thailand

Meskipun saya tak bisa bahasa Thailand dan sang kakek hanya bisa bahasa Inggris sepotong-sepotong, mengherankan sekali kami bisa bercakap-cakap.

Ia bercerita tentang seorang pesepakbola dari Indonesia bernama “Sucipto” yang pernah berlaga di “King Cup” Thailand. Sucipto? Sucipto siapa? Baru kali itu saya mendengar nama itu.

Semula saya mengira yang ia maksud adalah Airlangga Sutjipto. Belakangan saya baru tahu bahwa ia bercerita tentang masa yang lebih silam. “Sucipto” itu adalah Sutjipto Soentoro, penyerang bayangan yang dulu mencetak gol satu-satunya saat Indonesia mengalahkan Burma 1-0 dalam final King’s Cup (Piala Raja) perdana tahun 1968, sekitar dua puluh tahun sebelum saya dilahirkan. Pantas saja nama itu asing bagi saya.

Sekitar jam setengah enam saya pamit ke belakang untuk mengosongkan perut sebelum menempuh perjalanan panjang. Selesai hajat, saya menyeberang ke arah Seven Eleven untuk membungkus makan malam, kembali ke Hua Lamphong, berdiri mendengarkan lagu kebangsaan (phleng chat), lalu masuk peron dan meloncat ke gerbong kereta tujuan Nong Khai.

Naik kereta diesel menuju Nong Khai

Sama seperti PT KAI, State Railway of Thailand (SRT) menyediakan gerbong kereta api berbagai kelas, dari mulai yang paling mewah sampai yang paling bersahaja, seperti yang saya tumpangi malam itu.

Memasuki gerbong, saya agak menyesal sebenarnya. Saya tak menyangka bahwa SRT tak berbasa-basi. Gerbong hard seat itu seat-nya benar-benar hard. Jangan tanya apakah sandarannya bisa diatur.

Interior gerbong seperti Kereta Api Prambanan Ekspres alias Prameks jurusan Jogja-Solo. Tapi Prameks masih mending, sebab ada pendingin ruangan. Gerbong saya ini hanya dilengkapi dengan kipas angin besi yang berputar-putar berisik di langit-langit. Untung saja jendelanya bisa dibuka sehingga udara di tabung berjalan itu tidak gerah. Yang menggembirakan, pedagang makanan boleh lalu-lalang di kereta ini.

Malam itu kursi tak penuh. Hanya ada beberapa orang penumpang yang naik dari Hua Lamphong. Selain manusia turut pula seekor anjing bersama pemiliknya. Benar, kamu tidak salah baca—anjing diperbolehkan masuk gerbong. Di banjar yang berseberangan dengan saya, anjing itu duduk tertib di antara punggung pemiliknya dan sandaran bangku. (Sesekali ia mengamati saya dengan mata bulatnya.) Tak sekali pun ia menyalak sampai akhirnya turun entah di stasiun mana.

naik kereta thailand laos

Stasiun Nong Khai

naik kereta thailand laos

Papan penunjuk jalan menuju Vientiane, Laos

naik kereta thailand laos

Pelintas batas berkumpul di Pos Imigrasi Nong Khai

Ternyata pendingin ruangan memang tidak diperlukan dalam perjalanan dari Bangkok ke Nong Khai. Setelah Stasiun Kaeng Khoi di Provinsi Saraburi, mata saya mendapati siluet perbukitan. (Sekali waktu saya mendapati sekompleks patung Buddha-berdiri berwarna emas di kaki bukit, sebelah kiri rel.) Dari sana jalan semakin menanjak ke arah timur laut dan udara semakin dingin. Saya terpaksa mengeluarkan jaket.

Sepanjang perjalanan saya hanya bisa tidur-tidur ayam. Saya lesu dan mengantuk. Tapi ketika akhirnya kereta tiba di Nong Khai sekitar jam setengah lima pagi dan saya mulai berjalan kaki ke arah Pos Perbatasan Thailand, entah kenapa semangat saya kembali terkumpul. Barangkali karena tubuh saya antusias sebab sebentar lagi ia akan menapaki tanah baru: Laos.

Iklan

Ke Siem Reap tapi Tidak ke Angkor Wat

Dormitory atau dorm di Tropical Breeze itu adalah akomodasi paling mewah yang saya inapi selama bertualang menelusuri Indochina dan Semenanjung Malaysia. Aircon-nya menyala sempurna, menjadikan kamar berisi tiga dipan-tingkat (bunk bed) itu suaka yang nyaman dari Siem Reap yang membara.

Dari kecil saya selalu terobsesi dengan dipan atas bunk bed. Jadi saya pilih tempat tidur bagian atas dipan yang sejajar dengan kamar mandi. Begitu punggung saya menyentuh kasur, mata saya langsung mengantuk. Saya pun tidur selama beberapa jam. Baca lebih lanjut

Naik Cambodia Post Minivan ke Siem Reap

Hari kedua di Phnom Penh saya pulang dalam kondisi capek bukan main. Itu muara dari usaha sia-sia saya untuk menemukan pesisir Sungai Mekong yang tampak dekat dalam peta tanpa skala yang saya bawa.

Pagi-pagi sekali hari itu, dari Boeung Kak saya jalan kaki ke Pusat Kota Phnom Penh. Langit biru cerah dan lalu-lintasnya masuk akal untuk ukuran ibu kota negara. Melewati permukiman sepi, saya lalu melipir ke pagar Wat Phnom sebelum tiba di Cambodia Post. Baca lebih lanjut

The Country with Two Currencies

Soon as the last passenger sat in his seat, our bus dashed through the neutral zone separating Vietnam and Cambodia. The atmosphere was somehow changing. One minute later, when the bus finally reached the immigration post of the Kingdom of Cambodia, all of the passengers were ordered to get off.

Right beside the bus’s front door, two immigration officers had stood up, ready to retrieve our passports. I gave my passport suspiciously, so did Ching, a 27-year-old Chinese citizen who sat beside me on the bus. We entered the immigration post. Crossing the whole length of it, we ended up at the other end of the building—with no explanation whatsoever and no passport in our hand. Baca lebih lanjut

Naik Kereta dari Thailand ke Malaysia

Bis itu berhenti dekat Pos Imigrasi Poipet, Kamboja. Saya masih terkekeh mengingat lelucon si Milad. Si botak berkacamata mirip gitaris System of a Down itu tadi memamerkan paspornya.

“Kadang petugas imigrasi curiga lihat pasporku. Soalnya fotonya beda sama penampilanku sekarang,” ia mengelus-elus kepala plontosnya. Di paspor, ia berambut tapi tak berjanggut. Sekarang berjanggut tapi tak berambut. “Jadi aku balik saja paspornya, terus bilang: ‘Nih saya yang sekarang.’” Baca lebih lanjut

The Breathtaking Mount Prau

The concrete passage soon became natural path with vegetable farms on the sides. What was planted I couldn’t see; the sky was still dark though. It was 2 am, way too early for the light to come. Above Dieng Plateau the wind never stopped shooing every clouds covering the pale moon and glittering stars. The valley was decorated with high columns of solfatara, illuminated by mellow lamps of geothermal power generator. Yellow lights emanating like fireflies from houses dwelling in the old valley below beckoned a hiker like me to come down and take shelter on its warmth, comfort, and stability—it is natural though for a hiker to regret his decision right after he takes his first step to scale a mountain, yet as he walked his way the feeling would peter out.

The lane ended to give way to a cobblestone road, which was even more difficult to walk on than the previous. Though it was less steep than the dirt road, the moss growing on the stones made it more slippery. My feet felt heavy; my stomach was empty. Yesterday, both Roiz and I only ate twice—once in the morning, then at 8 pm at Eko’s. While hiking, a heavy rucksack and an empty stomach weren’t a good combination—trust me! To make it worse I didn’t jog or do any other sports before starting this journey. I used to then—during one or two weeks before hiking I’d run or swim to put my lungs together. Consequently, my right-head felt warm and throbbing, cold sweat started falling down from my temples. I had already lost my breath while the journey was still young—I hadn’t even reached the first shelter yet. Baca lebih lanjut

Lubang di Bukit Siguntang

Dalam sebuah perjalanan yang berlangsung berminggu-minggu terkadang engkau merasa menjadi terlalu terbiasa untuk berpindah angkutan; dari kereta ke kereta, dari bis ke bis, dari kapal ke kapal. Apa yang kau rasakan, apa yang kau lakukan, secara aneh berubah jadi rutinitas. Semua yang awalnya menyenangkan perlahan berubah menjadi biasa, kemudian memuakkan.

Tak ada yang istimewa dari berganti-ganti moda transportasi. Apalagi ketika melihat cahaya lindap di rumah-rumah yang kau lewati di malam hari, dengan siluet orang-orangnya yang tampak nyaman bercengkerama di ruang keluarga, berbagi kisah yang mereka alami sepanjang hari yang keras dan melelahkan. Hangat. Kehangatan yang jauh lebih menenangkan ketimbang sumuk berbalut keringat dalam bis yang melaju di pulau ribuan kilometer jauhnya dari rumah. Baca lebih lanjut