Lubang di Bukit Siguntang

Dalam sebuah perjalanan yang berlangsung berminggu-minggu terkadang engkau merasa menjadi terlalu terbiasa untuk berpindah angkutan; dari kereta ke kereta, dari bis ke bis, dari kapal ke kapal. Apa yang kau rasakan, apa yang kau lakukan, secara aneh berubah jadi rutinitas. Semua yang awalnya menyenangkan perlahan berubah menjadi biasa, kemudian memuakkan.

Tak ada yang istimewa dari berganti-ganti moda transportasi. Apalagi ketika melihat cahaya lindap di rumah-rumah yang kau lewati di malam hari, dengan siluet orang-orangnya yang tampak nyaman bercengkerama di ruang keluarga, berbagi kisah yang mereka alami sepanjang hari yang keras dan melelahkan. Hangat. Kehangatan yang jauh lebih menenangkan ketimbang sumuk berbalut keringat dalam bis yang melaju di pulau ribuan kilometer jauhnya dari rumah. Continue reading “Lubang di Bukit Siguntang”

Menuju Empang

Konon dua jenis ferry inilah yang berkeliaran di Selat Lombok: yang lambung kapalnya bergambar lumba-lumba, dan satu lagi yang tidak. “Yang ada lumba-lumbanya lebih bagus biasanya,” Jibi menjelaskan sementara kami melangkah di atas ubin keramik putih ruang tungggu pelabuhan yang sepi dan telantar, seusai menebus dua tiket kapal.

Kebetulan siang itu kami menumpang ferry jenis kedua. Sungguh nyaman di dalamnya. Pengondisi-udara ruangannya terasa. Kursinya empuk meskipun masih dipasang berhadap-hadapan. Hampir tiap pojok dihiasi televisi layar datar yang kali ini memutar film Fast and Furious semasa Paul Walker masih hidup. Mujur sekali memang. Dulu dalam perjalanan pulang ke Jawa seusai roadtrip motor Jawa-Lombok, kami dapat ferry yang mengenaskan; bangkunya kecil, tidak empuk sama sekali, sementara lantainya coklat karatan–bau pula. Di lantai karatan itulah saya menghabiskan setengah malam tidur berselimut kantong tidur. Oleng kanan, oleng kiri, kadang kepala saya berbenturan dengan tiang penyangga kursi.

Continue reading “Menuju Empang”

Ajaib

Meskipun Bali secara administratif masuk wilayah Indonesia, prosedur masuk via laut ke pulau itu agak berbeda; harus memperlihatkan kartu identitas. Saya telah mengisi data sejak setahun yang lalu namun belum menerima hak saya – e-KTP. Kartu identitas yang saya punya hanyalah KTP lama yang keadaannya sudah mengenaskan. Beberapa kali terkena rembesan air setelah berenang, tulisan dalam KTP itu pun menjadi kabur sehingga sulit dibaca.

Maka dinihari itu saya bersiap untuk mengeluarkan paspor jika TNI yang bertugas mengecek identitas tidak menerima KTP itu. Tapi ternyata tidak terjadi apa-apa. Setelah berusaha sedikit keras, tampak dari ekspresinya, tentara itu berhasil membaca biodata saya. Terima kasih pada kacamata yang ia pakai. Continue reading “Ajaib”

Rencana B

Rencana B

“Don’t think about what you’ll tell people afterward. The time is here and now. Make the most of it.” – Paulo Coelho, Aleph.

 

Empat menit setelah kereta berangkat, saya baru tiba di Stasiun Lempuyangan. “Sudah, mas,” jawab satpam stasiun ketika saya memastikan sekali lagi. “Sudah berangkat.”

Rencana yang saya susun berantakan sudah. Padahal ini baru perjalanan hari pertama! Dari seminggu yang lalu saya sudah mulai mencorat-coret jadwal di catatan, semacam itinerary sederhana yang detilnya saya sesuaikan begitu rupa dengan anggaran yang saya punya. Dalam angan, hari ini saya akan menumpang Kereta Api Ekonomi Sri Tanjung ke Banyuwangi. Saya hanya perlu duduk manis di dalam gerbong yang kini sudah dilengkapi pendingin ruangan, sesekali barangkali akan membuka Coelho yang saya bawa, sampai tiba di Banyuwangi kisaran pukul delapan malam. Setelah istirahat sejenak di sekitar pelabuhan, mengisi perut yang keroncongan, membiarkan mulut seharian masam merasakan nikmatnya kretek, saya akan menyeberangi Selat Bali dengan kapal roro kemudian sandar di ujung barat Pulau Dewata. Setiba di Gilimanuk, pukul tiga dinihari, saya akan menumpang bis langsung pertama yang bakal mengantarkan saya sampai tepat ke depan terminal keberangkatan Padang Bai. Continue reading “Rencana B”

April

The night was still young in late April–or early May–when Dimas, Ficher, and I were riding our bikes along the empty Brawijaya St., the main road of Tulungrejo, Pare. Though it was only few minutes past ten, we saw no motor vehicle. It made me feel that I was being left behind by the rest of the people in the world.

Ficher was by himself but I rode along with Dimas. In the cold dark night, our faces were still filled by the reminiscence of laughter from Jendela Mimpi Cafe. We then turned to Dahlia Street. Ficher’s boarding house was not far from the three way junction intertwining the roads of Dahlia and Brawijaya. From its yard, I could see Ficher’s friends were still busy talking in the living room. Continue reading “April”

Over the fence

I have never rented a bicycle ever since I arrived here about two months ago. In Pare, everyone rides a bicycle to go to their English classes. I choose not to rent one.

Right now, I am staying in a dormitory named Samudra. Located about one kilometer from Elfast, I have to walk for about 10 minutes to the course everyday. I see it as a work out to exercise my fat belly. Besides, I am always eager to do it because I have to step my feet along a small irrigation canal separating beautiful large green rice fields from the bumpy narrow road of Kemuning street. Also, the fresh air of dawn is too good to be passed. Continue reading “Over the fence”

Monas

Monas menjadi penanda bahwa sebentar lagi kereta yang saya tumpangi dari Bandung akan tiba di Stasiun Besar Gambir. Kereta Argo Parahyangan itu meluncur di bawah langit Jakarta yang kelabu. Ia perlahan melambat sebelum sepenuhnya menghentikan laju. Para penumpang yang semula duduk berbondong-bondong keluar dari gerbong. Bergegas  mereka–dikejar entah apa–mencari pintu keluar untuk masuk ke dalam dunia masing-masing. Barangkali sudah tak sabar ingin menuntaskan urusan yang telah ditunda perjalanan selama tiga jam.

Saya sendiri segera melangkahkan kaki ke sana, ke monumen raksasa perlambang lingga-yoni yang dibangun pada masa orde lama. Monas memang cuma selemparan batu dari Stasiun Gambir. Sudah bertahun-tahun saya mendamba memasukinya, sejak ayah membawakan oleh-oleh kaos putih bergambar Monas dahulu sekali ketika saya bocah. Selama ini saya hanya bisa melihatnya dari jauh; dari kaca jendela kereta Taksaka dalam perjalanan mudik, dari kaca jendela bis Damri yang mengantar saya ke Soekarno-Hatta. Continue reading “Monas”