The Breathtaking Mount Prau

The concrete passage soon became natural path with vegetable farms on the sides. What was planted I couldn’t see; the sky was still dark though. It was 2 am, way too early for the light to come. Above Dieng Plateau the wind never stopped shooing every clouds covering the pale moon and glittering stars. The valley was decorated with high columns of solfatara, illuminated by mellow lamps of geothermal power generator. Yellow lights emanating like fireflies from houses dwelling in the old valley below beckoned a hiker like me to come down and take shelter on its warmth, comfort, and stability—it is natural though for a hiker to regret his decision right after he takes his first step to scale a mountain, yet as he walked his way the feeling would peter out.

The lane ended to give way to a cobblestone road, which was even more difficult to walk on than the previous. Though it was less steep than the dirt road, the moss growing on the stones made it more slippery. My feet felt heavy; my stomach was empty. Yesterday, both Roiz and I only ate twice—once in the morning, then at 8 pm at Eko’s. While hiking, a heavy rucksack and an empty stomach weren’t a good combination—trust me! To make it worse I didn’t jog or do any other sports before starting this journey. I used to then—during one or two weeks before hiking I’d run or swim to put my lungs together. Consequently, my right-head felt warm and throbbing, cold sweat started falling down from my temples. I had already lost my breath while the journey was still young—I hadn’t even reached the first shelter yet. Baca lebih lanjut

Iklan

Lawu

Barangkali terlalu berlebihan untuk menyebutnya badai. Apalagi saya kurang paham mengenai klasifikasi angin. Namun yang jelas pagi ini angin bertiup teramat kencang. Pohon-pohon cemara di pinggir tebing tak henti goyang. Kabut pembawa dingin terombang-ambing dipermainkan oleh si udara yang bergerak. Meninggalkan jejak berupa putih translusen di Cemoro Kembar, Gunung Lawu. Pos 5 masih berjarak beberapa ratus meter vertikal lagi.

Seolah tak mau kalah, hujan ikut ambil bagian. Di pojok terpal, untuk menampung air Benny menaruh beberapa botol air minum kemasan yang sudah dipangkas bagian atasnya. Akhirnya saya mampu menghayati kalimat “hujan adalah berkah” sebab air meteorit itu turun persis ketika persediaan pemuas dahaga kami semakin menipis. Baca lebih lanjut

Rakutak

Akhirnya kami berlima berbalik arah, kembali menuruni punggungan yang dipenuhi tanaman rumput gajah. Langit telah gelap pekat namun kami urung jua sampai di Danau Ciharus. Hujan semakin lebat, kabut tipis yang nakal menghalangi mata melihat. Tanda-tanda alam itu seakan berusaha memberi pesan bahwa berjalan di malam hari tak akan membawa kami ke mana-mana. “Kalau kata gue sih kita nge-camp dulu di sini,” usul Novel, kawan baru dari Bandung.

Sepakat, tidak satu pun suara protes. Memang begitulah seharusnya ketika tersesat di gunung. Harus satu kepala. Tiap anggota tim harus rela meleburkan egonya ke dalam satu suara bulat. Banyak cincong hanya akan menghasilkan perselisihan. Saya jadi teringat kisah dua orang pendaki Gunung Merbabu, jauh bertahun-tahun yang lalu, yang berselisih paham soal jalan sesaat sebelum mencapai Sabana Pertama. Salah seorang memilih jalur kanan sementara yang lain bersikeras ke jalur kiri. Kata sepakat tak tercapai malah golok yang berbicara. Perselisihan mereka meninggalkan kenangan yang sampai sekarang masih dapat disaksikan para pendaki Merbabu: memoriam. Baca lebih lanjut

Lewat Pos Cemara

“Tutupi pakai mantel!” Pinta saya pada Eka ketika hujan mendadak turun dengan lebatnya, hanya beberapa ratus meter dari pos ketiga Gunung Slamet, Pos Cemara. “Aku ambil flysheet dulu. Kita bikin bivak.”

Dengan sigap Eka, Arta, dan saya membentangkan kain berukuran tiga kali tiga meter berwarna hitam itu lalu mengikatkannya dengan tali rafia kuning ke tiap sudut. Dalam beberapa menit saja kemah darurat bikinan kami siap. Lengkap dengan alas berupa mantel hujan dan parit-parit kecil untuk mengalirkan air. Baca lebih lanjut

Papandayan

Jika saja di Garut saya dan kawan-kawan tak berurusan dengan calo dan supir nakal barangkali kami tak akan pernah berkenalan dengan Pras, Mulki, Garry, dan Astri. Dan entah bagaimana pula nasib mereka: kehujanan di Pondok Salada; meringkuk kedinginan di bawah pohon sejenis cantigi; berlindung sia-sia di antara rumpun bunga abadi yang tak sanggup membendung derasnya terpaan angin gunung?

Menjelang pukul sembilan pagi ketika itu. Akhirnya kami duduk dalam elf yang akan mengantarkan ke Cisurupan, jalur paling umum untuk mendaki Gunung Papandayan. Seorang bapak paruh baya yang tidak jelas calo atau supir mewanti-wanti kami sesaat setelah keril diikat erat di atap mobil, “Pokoknya jangan mau kalau disuruh pindah.” Kami mengangguk sebab tanpa disuruh pun jelas sekali kami tak akan mau diusik dan disuruh pindah dari bangku elf yang sudah terlanjur nyaman ini. Tadi, sembari menunggu Zeni tiba, kami tiduran selama beberapa jam di atas ubin teras mushala Terminal Guntur yang dingin dan keras. Baca lebih lanjut

Argopuro

There is a pleasure in the pathless woods,
There is a rapture on the lonely shore,
There is society, where none intrudes,
By the deep sea, and music in its roar:
I love not man the less, but Nature more.

Lord Byron, Childe Harold’s Pilgrimage

Suara merak yang membahana seantero Cikasur membangunkan saya dari mimpi yang juga tentang merak. Saya tergeregap, membuka ritsleting tenda, lalu melongokkan kepala keluar. Sekujur tubuh masih dalam balutan kantong tidur. Saya mendapati diri tengah berada di sabana mahaluas.

“Mereka kalau mau terbang heboh, Jo,” ujar Berto, kawan dari Himpala Unas Jakarta, yang kemarin sore telah melihat kawanan burung berperawakan anggun itu. Tenda consina magnum-nya bahkan sudah dihiasi sebatang bulu merak yang tercecer dan telah kehilangan “mata”. Ia lanjut memanasi saya, “Kalau berjalan, Jo, ekornya goyang-goyang.” Baca lebih lanjut

Singgalang

Adalah sebuah kesalahan tidak menggunakan baju berlengan panjang ketika mendaki Gunung Singgalang. Miang dari hutan pimpiang, bambu hutan berdiameter kecil yang mendominasi bagian awal pendakian, cukup untuk membuat gatal bagian tubuh sial yang tak dibalut kain. Bersandar pada sebuah tiang listrik, saya usap-usap gatal pada lengan.

Tengah hari saat itu. Adek, Teguh, dan saya baru saja menyelesaikan trek pimpiang. Kami bertiga berhenti sebentar demi menghormati orang-orang yang sedang salat jumat. Hening hanya beradu dengan merdu suara burung. Kepik menjerit-jerit ditingkahi hembusan angin. Sejuk sebab panas mentari meluruh ditapis kanopi hutan tropis. Udara segar merasuk ke dalam paru-paru, juga sagun bakar yang bersatu dengan air segar, semua mengalir beriringan menjejali kerongkongan. Baca lebih lanjut