Sepotong Himalaya

Sembari memasang sabuk keselamatan, kepala saya menoleh ke jendela mungil pesawat. Rona pagi memenuhi langit. Halimun tipis mengambang di apron. Sementara itu, di dalam kabin para awak mulai lalu-lalang menutup kompartemen bagasi. Suara “klak!” bersahutan. Gerak mereka membuat udara dipenuhi aroma elegan.

Kemudian pintu pesawat ditutup. Sang burung besi mulai bergerak. Mula-mula ia mundur, lalu berbelok kikuk mengubah haluan menuju landasan pacu. Saat menyimak pramugari memberikan pengarahan, kelopak mata saya menjadi berat. Kantuk sedang bersiap-siap menyergap. Lelah mulai terasa, mengirim sinyal pada tubuh ‘tuk segera istirahat. Goyangan pesawat mulai membuai.

Read More

Epilog: Pulang

Nama Johor Bahru pertama kali saya dengar ketika sekolah dasar. Entah kelas 2 atau kelas 3, saya lupa. Pokoknya salah satu di antaranya.

Salah seorang teman sekelas—yang wajahnya mirip Maissy, penyanyi cilik yang wara-wiri di televisi Indonesia pertengahan dasawarsa 1990-an—baru saja kemalangan. Ibunya meninggal muda. Suatu hari, beberapa pekan setelah kepergian ibunya, ia dan saudaranya diboyong sang ayah ke sebuah kota di Malaysia. Nama kota itu “Johor Baru.”

Read More

Tahun Baru di Johor Bahru

Kami meninggalkan Bras Basah Complex lewat jalan lain yang lebih sempit ketimbang Bain St. Ada liukan sedikit yang membuatnya tampak lebih artistik.

Sisa-sisa petrikor bersekutu dengan aroma khas dapur restoran cepat saji, menguar, menggoreskan sesuatu pada pita memori. Di atas sana langit masih kelabu. Hujan rintik-rintik itu saya kira akan segera hilang—tapi tidak. Air malah kembali mengucur deras dari langit, memaksa kami berteduh di halte bus.

Read More

Transit di Kuala Lumpur

Barangkali awal 2013—saya lupa-lupa ingat—sepulangnya dari melancong ke Malaysia, seorang kawan baik menghadiahi saya gantungan kunci. Bukan yang berbentuk Menara Kembar Petronas seperti oleh-oleh kebanyakan, tapi gantungan kunci berupa ukulele berbahan resin.

Waktu itu saya memang sedang senang-senangnya menggenjreng ukulele. Sejak berhasil menyanyikan “Blowin’ in the Wind” dengannya, instrumen musik berdawai empat itu sering saya bawa ke mana-mana. Hemat tempat soalnya. Muat di ransel. Nongkrong di kedai kopi, saya bawa. Pendakian rutin ke Gunung Api Purba, juga tak jarang saya bawa.

Read More

Georgetown

Dari feri, gedung-gedung di Georgetown, Penang, tampak seperti instalasi seni aliran brutalisme. Bangunan-bangunan pencakar langit itu—termasuk Komtar yang legendaris—kelihatan bertabrakan dengan perbukitan memanjang di belakangnya, meskipun kontras itu agak tersamarkan oleh cahaya keemasan sang mentari tua yang sedang dalam perjalanan ke peraduan.

Di sebelah selatan sana, jembatan penghubung Malaysia semenanjung dan Penang membentang bak doppelgänger cakrawala.

Read More

Perjalanan Panjang ke Penang

Gerai 7-Eleven di seberang Stasiun Hua Lamphong itu menyempil di antara rumah makan dan kafe, bersimbiosis dengan beberapa gerobak penjual bebakaran dan buah-buahan di bagian depan. Ke sanalah kami pergi sebelum menaiki kereta 171 jurusan Bangkok-Sungai Kolok yang akan membawa kami ke Hat Yai.

Tak banyak yang kami beli, hanya beberapa botol air mineral dingin dan makanan ringan pengganjal perut. Mana yang muat di ransel, kami masukkan. Yang tidak, terpaksa ditenteng.

Read More

Naik Kereta dari Thailand ke Malaysia

Bis itu berhenti dekat Pos Imigrasi Poipet, Kamboja. Saya masih terkekeh mengingat lelucon si Milad. Si botak berkacamata mirip gitaris System of a Down itu tadi memamerkan paspornya.

“Kadang petugas imigrasi curiga lihat pasporku. Soalnya fotonya beda sama penampilanku sekarang,” ia mengelus-elus kepala plontosnya. Di paspor, ia berambut tapi tak berjanggut. Sekarang berjanggut tapi tak berambut. “Jadi aku balik saja paspornya, terus bilang: ‘Nih saya yang sekarang.’”

Read More