Kategori: Nepal

Poon Hill

Kami baru saja tiba di ruang makan, pojok paling hangat di penginapan itu, ketika Ezek menyadari sesuatu. “Bukannya itu kucing yang tadi?” ia bertanya sembari menunjuk makhluk berkaki empat yang sedang tidur nyenyak dekat perapian.

Menuju Ghorepani

Usai menggosok gigi, mencuci muka, dan mengosongkan perut, saya keluar dari kamar mandi. Gigi-gigi saya bergemeletuk tidak terkontrol menghadapi dinginnya udara pagi. Baru jam 7 lewat namun langit sudah biru. Awan hanya berupa arsiran. Bendera doa yang warna-warni menari-nari di kanopi. Di kamar, Ezek sedang … Lanjutkan membaca Menuju Ghorepani

Tikhedhunga

Bus Prithivi itu melaju di jalanan pegunungan, semakin menjauh dari kota Pokhara. Lumayan penuh bus itu. Bangku kosong hanya satu-dua dan di lorongnya tergeletak beberapa karung yang isinya entah apa. Lagu-lagu yang entah Hindi atau Nepali mengalun lewat pelantang. Di jalanan seperti itu susah untuk … Lanjutkan membaca Tikhedhunga

Baglung

Pada pagi ketiga di Pokhara, kami mengikuti pemuda bertato yang murah senyum itu berjalan di beranda Hotel Angel. Ezek dan saya hendak menitipkan barang-barang yang tak kami bawa ke kaki Annapurna. Semula saya kira kami akan diantar ke dapur, bawah tangga, atau entah ke pojok … Lanjutkan membaca Baglung

Pura Vida

Hotel Angel tiga tingkat. Atapnya rata seperti atap sekolah dalam film-film Jepang. Ada paviliun kecil yang entah untuk apa. Dari bawah, mata saya juga menangkap kain-kain sedang dijemur. Bangunan hotel yang seperti huruf L memeluk sebuah halaman hijau dibingkai bunga-bunga aneka warna. Tali-tali bendera doa … Lanjutkan membaca Pura Vida

Jalan Panjang ke Pokhara

Bunyi weker digital menghentikan tidur saya yang lembam. Usai mematikan alarm, saya cek tablet. Ada pesan dari Nyonya. “Hati-hati, ya,” tulisnya. Semalam saya kasih kabar kalau saya akan naik bus jam 7 pagi ke Pokhara. “Di sana jam berapa sekarang?”

Kawan Baru dari Rosario

Kami keluar ke Jalan Raya Pashupatinath lewat rute yang berbeda. Yang ini lebih terjal dan lebih mungil. Jalan itu sama sekali tak sepi. Saya mesti terus berjalan di pinggir agar tak disundul sepeda motor yang terus saja muncul dari belakang.

Kathmandu dari Ketinggian

Saya baru bangun. Entah jam berapa, sudah siang yang jelas, tapi hawa masih bikin menggigil meskipun pendingin-ruangan kamar itu tak menyala. Ketika saya baru saja berhasil membebaskan diri dari kehangatan selimut tebal, sang pemilik hostel muncul dari balik pintu.