Pura Vida

Hotel Angel tiga tingkat. Atapnya rata seperti atap sekolah dalam film-film Jepang. Ada paviliun kecil yang entah untuk apa. Dari bawah, mata saya juga menangkap kain-kain sedang dijemur. Bangunan hotel yang seperti huruf L memeluk sebuah halaman hijau dibingkai bunga-bunga aneka warna. Tali-tali bendera doa saling-silang di atasnya. Di tengah-tengah pekarangan itu berdiri sebuah gazebo kecil yang menaungi beberapa kursi—mestilah nyaman sekali sarapan di sana.

Tapi, pagi itu, Ezek dan saya menunggu sarapan di kursi plastik yang kami taruh di hamparan rumput. Kami berjemur. Hangatnya sinar surya mendarat di kulit saya yang semalaman dikeloni dingin musim gugur. Melancong ke negeri empat musim seperti ini bikin saya lebih menghargai matahari.

Read More

Jalan Panjang ke Pokhara

Bunyi weker digital menghentikan tidur saya yang lembam. Usai mematikan alarm, saya cek tablet. Ada pesan dari Nyonya. “Hati-hati, ya,” tulisnya. Semalam saya kasih kabar kalau saya akan naik bus jam 7 pagi ke Pokhara.

“Di sana jam berapa sekarang?”

Read More

Menjelang Senja di Pashupatinath

“Sekarang kalian sudah kayak anak kembar!” komentar Lily dengan aksen New York-nya begitu Ezek dan saya muncul di lantai paling atas Rambler. Mata dan suaranya jenaka. Ia sedang bersama Rhys yang masih memakai topi rajutan merah jambu ala pelukis. Baru dua hari bersama mereka sudah dekat saja. Beberapa botol bir tegak di meja. Di ujung sana, beberapa tamu hostel lain sedang asyik membicarakan entah apa.

Saya tertawa mendengar komentar Lily itu.

Read More

Kathmandu dari Ketinggian

Saya baru bangun. Entah jam berapa, sudah siang yang jelas, tapi hawa masih bikin menggigil meskipun pendingin-ruangan kamar itu tak menyala.

Ketika saya baru saja berhasil membebaskan diri dari kehangatan selimut tebal, sang pemilik hostel muncul dari balik pintu.

Read More

Dal Bhat

“Surya?” ujar salah seorang di antara dua pria Nepal itu sambil tersenyum dan mendekatkan batang rokok itu ke batang hidungnya. “Kami juga punya rokok Surya di sini.”

Tapi namanya saja yang sama. Produsennya berbeda. Surya Nepal bukan keluaran Gudang Garam. Pria itu bercerita bahwa Surya Nepal lebih hambar, tak searomatik dan semanis Surya Indonesia. Wajar saja. Mereka tak punya cengkih.

Read More

Karakoram

Dari jalan besar, Lily memasuki lorong sempit. Ezek dan saya mengikuti dari belakang. Yakety Yak, hostel yang ditemukan Lily dalam aplikasi, tersembunyi di salah satu sudut gang itu. Terbiasa melihat plang-plang yang dipasang tak beraturan di Jogja, saya serta-merta memasang mata lekat-lekat mencari tanda-tanda keberadaan hostel itu.

“Semestinya di sekitar sini,” ujar Lily sembari melihat ponselnya, ketika kami sampai di depan bentukan seperti pintu.

Read More

Menuju Thamel

Akhirnya saya menapakkan kaki di Bandar Udara Tribhuvan, Kathmandu. Di sebelah sana, pesawat ATR bernomor seri 9N-AJO sedang berbelok. Baling-balingnya sudah berputar kencang—dan nanti akan semakin kencang menjelang digeber di landasan pacu. Pesawat itu milik maskapai yang namanya barangkali paling spiritual: Buddha Air.

Udara dingin ujung musim gugur menyelinap lewat pori-pori jaket Rei yang membalut tubuh saya. Tak terasa sudah cukup lama jaket usang ini menjadi kawan bertualang. Jahitannya mulai lepas, warnanya mulai pudar; digerus angin gunung, ditiup bayu samudra.

Read More

Sepotong Himalaya

Sembari memasang sabuk keselamatan, kepala saya menoleh ke jendela mungil pesawat. Rona pagi memenuhi langit. Halimun tipis mengambang di apron. Sementara itu, di dalam kabin para awak mulai lalu-lalang menutup kompartemen bagasi. Suara “klak!” bersahutan. Gerak mereka membuat udara dipenuhi aroma elegan.

Kemudian pintu pesawat ditutup. Sang burung besi mulai bergerak. Mula-mula ia mundur, lalu berbelok kikuk mengubah haluan menuju landasan pacu. Saat menyimak pramugari memberikan pengarahan, kelopak mata saya menjadi berat. Kantuk sedang bersiap-siap menyergap. Lelah mulai terasa, mengirim sinyal pada tubuh ‘tuk segera istirahat. Goyangan pesawat mulai membuai.

Read More