Lubang di Bukit Siguntang

Dalam sebuah perjalanan yang berlangsung berminggu-minggu terkadang engkau merasa menjadi terlalu terbiasa untuk berpindah angkutan; dari kereta ke kereta, dari bis ke bis, dari kapal ke kapal. Apa yang kau rasakan, apa yang kau lakukan, secara aneh berubah jadi rutinitas. Semua yang awalnya menyenangkan perlahan berubah menjadi biasa, kemudian memuakkan.

Tak ada yang istimewa dari berganti-ganti moda transportasi. Apalagi ketika melihat cahaya lindap di rumah-rumah yang kau lewati di malam hari, dengan siluet orang-orangnya yang tampak nyaman bercengkerama di ruang keluarga, berbagi kisah yang mereka alami sepanjang hari yang keras dan melelahkan. Hangat. Kehangatan yang jauh lebih menenangkan ketimbang sumuk berbalut keringat dalam bis yang melaju di pulau ribuan kilometer jauhnya dari rumah. Continue reading “Lubang di Bukit Siguntang”

Ke Sabang

Halaman-halaman jurnal itu saya bolak-balik di bawah lampu temaram ruang tamu rumah. Buku itu bersampul keras dan tebal. Ia semakin tebal dijejali oleh berlembar-lembar tiket bis, kapal, karcis masuk obyek wisata, beberapa lembar foto karya fotografer amatir, serta log-book aktivitas penyelaman dari Rubiah Tirta Divers. Tuntas sudah perjalanan, saatnya sekarang untuk menuliskan catatan.

Siang diselingi rinai ketika itu, hari keberangkatan. Adek mengantarkan saya ke perwakilan bis Antar Lintas Sumatra (ALS) di Jalan Bypass, Padang. Ia yang menyupir. Kami agak terburu-buru sebab salat Jumat di Padang baru selesai menjelang pukul 13.00, sementara menurut tiket saya sudah harus hadir di lokasi pemberangkatan paling lambat pukul 13.30. Dalam riuh saya menata ulang keril. Keringat masih mengucur deras begitu pintu depan mobil saya tutup. Baju abu-abu itu basah. Saya berusaha tenang meskipun dalam hati cemas. Adek mulai memacu si roda empat menjauh dari rumah. Pukul 13.30 semakin dekat dan kami masih di tepi Banda Bakali. Continue reading “Ke Sabang”

Tak perlu ramai

Kenyataan bahwa pekarangan Goa Jomblang telah dikuasai perorangan membuat kami harus kemping agak jauh malam itu–di Pantai Wedi Ombo. Semua demi menemani Kukuh, teman kami yang selama sekitar setengah tahun ini bermukim dalam selimut halimun Dataran Tinggi Dieng, mengobati rasa rindunya terhadap tanah Gunung Kidul.

Ketika tiba, suara ombak bersahut-sahutan menyambut. Suara yang takkan pernah habis sampai nasib dunia tamat nanti, atau sampai saat Gunung Kidul kembali tertutup laut tenang sehingga garis pantai kembali bergeser. Kami memarkir motor di satu-satunya pondok penyedia jasa parkir di sana. Pondok itu hanya berpenerangan lampu teplok dan dijaga oleh seorang lelaki dan anjing kesepian bernama Temon. Wedi Ombo relatif lebih sepi dibandingkan pantai-pantai lain yang terletak lebih ke barat. Ditambah oleh belum masuknya sambungan listrik, malam hari di sana menjadi sunyi sebab satu-satunya keributan hanya berasal dari suara ombak. Continue reading “Tak perlu ramai”

Pasir yang hitam

Beberapa waktu yang lalu saya ke Pantai Sadranan bersama kawan-kawan. Sudah sore ketika saya menyentuh pasir lembut berwarna kremnya. Seperti biasa, saya langsung meletakkan ransel, membuka baju dan sandal, lalu menceburkan diri ke dalam ombak yang menggulung. Agak besar memang, musim sedang basah dan berangin kencang. Berbahaya kata orang. Tapi bukankah manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri?

Saya biarkan air laut yang asin dan dingin meraba kulit, menyentuh tepian lubang pori-pori saya yang mengecil karena dinginnya temperatur. Terpikir, betapa air adalah petualang ulung. Wujudnya yang cair membuat partikel-partikelnya mampu menjelajah ke tempat-tempat yang tak masuk akal. Air yang menyentuh kulit saya ini mungkin pernah berada di kutub selatan, setelah mengalami kondensasi dan terangkat dari sesungai amazon yang lebar dan legendaris. Continue reading “Pasir yang hitam”

Kompas dan Kompresor

Mendung memayungi perahu kami ketika akan berangkat ke Gosong Cemara Kecil. Setelah kemarin berlatih watermanship dan melakukan latihan kemampuan dasar scuba diving di dermaga, hari ini kami akan mempraktekkannya di laut lepas. Jantung saya berdetak lumayan kencang sebab saya rasa laut lepas pasti sangat berbeda kondisinya dengan dermaga. Begitulah, mendapatkan sertifikat selam memang gampang-gampang susah.

Di dermaga tadi mesin perahu agak-agak susah dihidupkan. Syaiful, anak sang pemilik perahu, tampak kepayahan memutar tuas pemicu mesin. Gagal terus meskipun sudah beberapa kali dicoba. Melihat Syaiful yang kepayahan, sang ayah turun tangan. Baginya gampang saja, sekali coba Pak Mulyadi sudah bisa menghidupkan mesin perahu. Continue reading “Kompas dan Kompresor”

Di Jalan Daendels

Keajegan itu melenakan. Tadi, selama beberapa saat saya harus berkonsentrasi berkendara di jalan bukit selepas Pantai Ayah. Sekarang kami berada di Jalan Daendels Selatan yang lurus bukan main. Membujur sekitar 150 kilometer dari Cilacap sampai Purworejo. Mata saya harus bekerja ekstra menahan kantuk yang sesekali datang menyerang. Terkadang motor yang kami tumpangi oleng kanan-kiri karena berpapasan dengan truk. Jalan militer yang dibangun pada dekade pertama abad ke-19 itu menyusur pesisir selatan Jawa, berjarak sekitar satu kilometer dari pantai. Jejeran pepohonan kelapa seolah secara sukarela memagari Jalan Dandels dari ganasnya Samudra Hindia. Saat itu pagi menjelang siang namun matahari sudah garang. Bahkan, sesekali saya dapat melihat fatamorgana di kejauhan; awalnya tampak seperti genangan air di tengah jalan, namun setelah didekati ia hilang. Lagu “This Time Tomorrow” gubahan The Kinks terngiang-ngiang dalam kepala saya. Continue reading “Di Jalan Daendels”

Mpok Tunggal

Orang yang pernah ke Sundak atau Siung pasti tidak akan susah menemukan pantai ini. Letaknya hanya beberapa kilometer ke timur dari pos retribusi Pantai Indrayanti. Di tepi jalan anda akan menemukan jalan masuk kecil dengan papan bertuliskan Pantai Mpok Tunggal. Jalannya belum diaspal, hanya diberi semen dua lajur yang hanya pas untuk satu mobil. Pastikan kendaraan yang anda bawa dalam keadaan fit sebab beberapa ruas bahkan belum disemen.

Continue reading “Mpok Tunggal”