Ke Siem Reap tapi Tidak ke Angkor Wat

Dormitory atau dorm di Tropical Breeze itu adalah akomodasi paling mewah yang saya inapi selama bertualang menelusuri Indochina dan Semenanjung Malaysia. Aircon-nya menyala sempurna, menjadikan kamar berisi tiga dipan-tingkat (bunk bed) itu suaka yang nyaman dari Siem Reap yang membara.

Dari kecil saya selalu terobsesi dengan dipan atas bunk bed. Jadi saya pilih tempat tidur bagian atas dipan yang sejajar dengan kamar mandi. Begitu punggung saya menyentuh kasur, mata saya langsung mengantuk. Saya pun tidur selama beberapa jam.

siem reap

Dorm di Tropical Breeze

Begitu bangun, saya sudah segar kembali. Diintip dari jendela, sepertinya matahari sudah tidak segarang tadi. Pasti asyik sekali jalan-jalan sore menelusuri salah satu kota ternyaman di Asia Tenggara ini.

Dari Wat Damnak, saya jalan ke arah Old Market yang sore itu tidak terlalu ramai, terus ke utara menelusuri Pokambor Avenue yang artistik di pinggiran Sungai Siem Reap.

Tiang lampu jalannya mengingatkan saya pada Menara Karin dalam kartun Dragon Ball. Pohon-pohon rindang membuat jalanan kecil Siem Reap jadi teduh dan nyaman untuk dilewati. Capek jalan kaki, orang-orang bisa istirahat sejenak di salah satu bangku beton yang menghadap ke sungai atau duduk-duduk santai di atas pematang berlapis rumput yang entah kenapa tetap saja cantik meskipun di sana-sini ada sampah plastik.

siem reap

Suasana pinggir Sungai Siem Reap

Di ujung Pokambor Avenue saya melipir ke Royal Gardens yang berhadap-hadapan dengan Royal Residence. (Kalau diteruskan ke utara, Pokambor Avenue itu akan berubah jadi Jalan Charles de Gaulle yang akan mengantarkanmu ke Angkor Wat dan Angkor Thom.)

Royal Gardens lumayan ramai sore itu. Anak-anak berlarian diawasi oleh orangtua masing-masing. Para pelancong duduk-duduk santai di pinggir kolam kering yang dasarnya dipenuhi rumput liar. Jalan berpasir yang membelah Royal Gardens ramai oleh para pedagang yang menjajakan makanan dengan becak bertenaga sepeda motor.

siem-reap (3)

Royal Gardens

Dari taman kota, saya melipir ke Sivatha Boulevard kemudian menelusuri jalan menyerong ke arah Old Market. Aroma makanan pinggir jalan menguar bersama asap indigo yang mengepul-ngepul ke angkasa. Lampu-lampu temaram sudah mulai dihidupkan dan turis-turis yang mencari kafe untuk nongkrong di Pub Street mulai berkeliaran.

Ke Siem Reap tapi tidak ke Angkor Wat

Di dorm, saya berkenalan dengan Ben, pemuda Singapura usia 26 tahun yang semalam baru tiba dari Bagan, Myanmar. Katanya dia baru mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai konsultan bisnis dan akan segera memulai profesi impiannya—guru. Baginya perjalanan ini adalah penyegaran sebelum memulai pekerjaan baru.

siem reap

Sebuah sepeda diparkir di sekitar Royal Gardens

Seharian tadi dia keliling-keliling atraksi utama Siem Reap, yakni kompleks Angkor Wat. Ternyata benar informasi yang saya baca sebelum berangkat. Tiket masuk Angkor Wat untuk wisatawan asing naik lumayan drastis dari 20 USD menjadi sekitar 50 USD. Saya jadi makin yakin untuk menunda main ke Angkor Wat.

“Terus kau ngapain ke Siem Reap kalau nggak ke Angkor Wat?” ujarnya retorik dalam bahasa Inggris logat British.

Saya bilang saja kalau saya sebenarnya hanya mau pesiar keliling Asia Tenggara untuk melihat-lihat suasana tanpa ambisi untuk pergi ke atraksi-atraksi wisata tertentu. Lagian, niat saya ke Siem Reap sebenarnya hanya untuk transit beberapa hari sebelum terus ke Thailand lewat Poipet.

Siem Reap

Motor tua di Sivatha Boulevard

Tahu saya tak ada hasrat untuk ke Angkor Wat, Ben menyarankan begini: “Deket sini, bisa jalan kaki—ya, kalau menurutku, sih, dekat—ada Angkor Museum. Tiketnya cuma 12 USD dan kau bisa tahu sejarahnya [Angkor Wat] di sana. Ada duty free shop juga buat belanja.”

Baiklah. Itu bisa saya pikirkan nanti. Sekarang perut saya sudah lumayan keroncongan. Ben terlalu capek untuk saya ajak ke luar sekalian nongkrong minum bir di salah satu bar yang bertebaran di Pub Street.

siem reap

Salah satu lorong di Siem Reap

Akhirnya saya jalan sendiri. Dari Tropical Breeze saya kembali jalan kaki ke arah Old Market untuk makan mi seharga 1 USD. Perut kenyang, saya mengikuti keramaian dan berjalan sampai keringat bercucuran menelusuri Pub Street yang semarak.

“Save water drink beer”

Keesokan harinya saya bangun agak siang. Sambil menunggu matahari condong ke barat, saya leyeh-leyeh di kasur. Karena Wi-Fi Tropical Breeze lumayan kencang, saya jadi tergoda untuk mencari-cari penginapan secara online.

siem reap

Di seberang Old Market

Semula saya ragu, tapi karena Ben cerita bahwa dia bisa dapat penginapan murah di Bagan lewat pencarian online (bahkan tanpa DP), saya jadi tergoda untuk mencari penginapan murah di Bangkok lewat salah satu aplikasi booking. (Itulah awal dari petaka yang menimpa saya di Bangkok.)

Agak sore saya kembali jalan kaki menelusuri Siem Reap. Kalau kemarin saya berjalan menyusuri sisi barat, hari ini saya bertualang mengelilingi sisi timur Siem Reap. (Saya juga sempat mengirim kartu pos untuk Nyonya dan duduk-duduk santai di pinggir Sungai Siem Reap.) Kota itu ternyata kecil sekali. Tak sampai dua jam saya sudah kembali ke areal Old Market.

siem-reap (14)

Lapak mi langganan selama di Siem Reap

Malamnya saya terdampar di sebuah bar bernama Beatnik di Old Market. Bukannya mau foya-foya; harga bir di sini (sebagaimana di Vietnam) murah sekali. Satu gelas draft beer harganya hanya 1 USD atau 4.000 Riel (di Vietnam 1 botol kecil Tiger harganya 17.000 Dong atau 0,74 USD atau sekitar 3.000 Riel). Bandingkan dengan di Indonesia yang segelas draft beer bisa sampai Rp 50.000.

Harga segelas bir di Kamboja hampir sama dengan sebotol air mineral 1,5 L. Makanya tulisan “Save Water Drink Beer” yang banyak dipasang di Pub Street mungkin ada benarnya.

siem reap

Suasana Pub Street

“Dari Filipina?” Saya disangka orang Filipina oleh bartender di Beatnik. Namanya Ketya. Pemuda botak dari Belarusia itu katanya sudah empat tahun di Kamboja. “Sebelumnya di Thailand,” katanya.

Ia lanjut bercerita betapa Kamboja makin “bersih” dari tahun ke tahun, termasuk birokrasinya. Itulah yang bikin dia bisa mudah cari kerja di negerinya Norodom Sihanouk itu. Terjawab sudah keheranan saya ketika kemarin melihat orang kulit putih jualan pasta di dekat jembatan menuju Wat Damnak.

Saya menikmati dua gelas bir malam itu sambil menonton pertandingan olahraga di televisi yang digantung di dinding. Selain saya, orang Asia yang ada di bar itu hanya dua orang bartender rekan kerja Ketya dan beberapa orang perempuan Kamboja. Sisanya orang-orang dari belahan lain bumi. Suasana semarak, penuh obrolan yang makin lama kian absurd sampai yang tersisa hanya gelak tawa.

siem reap

“Save Water Drink Beer”

Gelas kedua kosong, saya kembali jalan ke arah Tropical Breeze. Di dekat jembatan kayu yang membentang di atas Sungai Siem Reap ada yang membuka lapak kaos souvenir berbau Kamboja. Lucunya, yang menjual adalah orang kulit putih. Bagi saya itu absurd sekali: orang Kaukasian yang menjual kaos Kamboja kepada turis. Saya cuma senyum-senyum saja sendiri.

Kali ini saya tidak lewat jalan biasa, melainkan lewat pasar oleh-oleh—mirip pasar oleh-oleh di Candi Borobudur dan Prambanan—yang seperti labirin lalu keluar lewat pintu belakang.

Nyasar ke kuburan massal

Hari ketiga saya di Siem Reap, Ben cabut ke Bangkok naik pesawat. “Saya ada firasat kayaknya kita bakal ketemu lagi deh di Bangkok,” saya bilang. Dia tertawa, “Kayaknya enggak, deh. Secara Bangkok gede banget.”

siem reap

Penduduk lokal menumpang mobil bak terbuka

Sebagai gantinya, dorm itu kedatangan penghuni baru. Jungmin namanya. Karena “Jungmin” saya rasa terlalu formal, dia menyarankan saya untuk memanggilnya “J.” Dia adalah seorang instruktur fitness dari Suwon, kotanya Ji-Sung Park. (Malamnya dia cerita kalau Ji-Sung Park benar-benar jadi semacam figur panutan bagi anak-anak Suwon yang ingin jadi pemain bola.) Seingat saya, dari Siem Reap katanya dia mau lanjut ke Luang Prabang, Laos.

Setelah basa-basi sebentar, saya pamit jalan-jalan dulu. Di hari ketiga di Siem Reap itu saya bertekad untuk jalan ke arah Angkor Wat. Minimal saya bisa melihat papan penunjuk arah ke Angkor Wat. Jadilah saya melangkahkan kaki menelusuri Jalan Charles de Gaulle di bawah terik matahari sejauh beberapa kilometer sampai plang Angkor Wat kelihatan.

siem reap

Suasana pinggiran Siem Reap

Sepulang dari sana saya melipir lewat jalan kecil di sisi barat Charles de Gaulle lewat tembok rumah sakit. Di ujung jalan itu saya melihat sekompleks bangunan seperti Candi Prambanan. Warnanya biru kehijau-hijauan—toska barangkali.

Penasaran, setelah memasang kain gajah yang dibeli Nyonya di Malioboro, saya berjalan memasukinya diiringi suara gonggongan anjing kampung. Suasananya, entah kenapa, terasa ganjil.

siem reap

Kompleks kuburan massal

Akhirnya ketika tiba di ujung dalam kompleks itu barulah saya sadar bahwa tempat itu semacam kuburan massal tempat putra-putri Kamboja yang tewas dalam perang bersemayam. Saya pun jadi maklum kenapa anjing-anjing menggonggong ketika saya masuk tadi. Bergegas saya keluar dari kompleks itu dan kembali ke arah pusat kota Siem Reap.

Sebelum kembali ke penginapan, saya mampir sebentar di perempatan Old Market untuk memesan satu bangku di bis menuju Poipet. Lumayan, dapat harga normal yakni 5 USD.

Mengajarkan ilmu melinting kepada pasukan pengintai Korea Selatan

Kenalan baru dari Asia Timur itu ternyata sudah segar ketika saya kembali ke penginapan. Kami lanjut ngobrol-ngobrol santai. Dari ngobrol-ngobrol itu saja jadi tahu bahwa ternyata J sudah melalui wajib militer. Setelah pendidikan di barak, ia ditempatkan sebagai pasukan pengintai.

siem reap

Suasana Beatnik

Lucunya, meskipun J adalah instruktur fitness dan pernah wamil, dia merokok. Tapi dia belum pernah merasakan rokok-rokok beraroma cengkeh seperti yang banyak beredar di Indonesia.

Saya bilang saja kalau di Indonesia rokok biasanya diberi cengkeh dan cenderung manis, tidak kering seperti rokok-rokok putih. “Sayang sekali kretek yang kubawa sudah habis di Vietnam,” ujar saya. Saya tambahkan bahwa masih banyak juga orang di Indonesia yang masih melinting sendiri rokoknya. “Kau bisa melinting?” ia bertanya, saya mengangguk, dia terkaget-kaget.

siem reap

Jembatan kayu yang membentang di Sungai Siem Reap

Kami lanjut ngobrol di lapak mi 1 USD langganan saya, lalu minum dua gelas bir di Beatnik sambil nonton salah satu pertandingan Piala AFF.

Sepulang dari Beatnik, J dan saya mampir dulu di mini market untuk membeli air mineral botolan. J senang sekali mendapati bahwa ternyata mini market itu menjual tembakau rajangan, kalau tak salah yang merknya Drum. “Kubeli, deh. Tapi ajarin ya?!” katanya.

Maka malam itu teras lantai tiga Tropical Breeze menjadi saksi transfer ilmu tingwe (ngelinting dewe) dari Indonesia kepada seorang pemuda Korea Selatan.

Iklan

The Country with Two Currencies

Soon as the last passenger sat in his seat, our bus dashed through the neutral zone separating Vietnam and Cambodia. The atmosphere was somehow changing. One minute later, when the bus finally reached the immigration post of the Kingdom of Cambodia, all of the passengers were ordered to get off.

Right beside the bus’s front door, two immigration officers had stood up, ready to retrieve our passports. I gave my passport suspiciously, so did Ching, a 27-year-old Chinese citizen who sat beside me on the bus. We entered the immigration post. Crossing the whole length of it, we ended up at the other end of the building—with no explanation whatsoever and no passport in our hand. Baca lebih lanjut

April

The night was still young in late April–or early May–when Dimas, Ficher, and I were riding our bikes along the empty Brawijaya St., the main road of Tulungrejo, Pare. Though it was only few minutes past ten, we saw no motor vehicle. It made me feel that I was being left behind by the rest of the people in the world.

Ficher was by himself but I rode along with Dimas. In the cold dark night, our faces were still filled by the reminiscence of laughter from Jendela Mimpi Cafe. We then turned to Dahlia Street. Ficher’s boarding house was not far from the three way junction intertwining the roads of Dahlia and Brawijaya. From its yard, I could see Ficher’s friends were still busy talking in the living room. Baca lebih lanjut

Monas

Monas menjadi penanda bahwa sebentar lagi kereta yang saya tumpangi dari Bandung akan tiba di Stasiun Besar Gambir. Kereta Argo Parahyangan itu meluncur di bawah langit Jakarta yang kelabu. Ia perlahan melambat sebelum sepenuhnya menghentikan laju. Para penumpang yang semula duduk berbondong-bondong keluar dari gerbong. Bergegas  mereka–dikejar entah apa–mencari pintu keluar untuk masuk ke dalam dunia masing-masing. Barangkali sudah tak sabar ingin menuntaskan urusan yang telah ditunda perjalanan selama tiga jam.

Saya sendiri segera melangkahkan kaki ke sana, ke monumen raksasa perlambang lingga-yoni yang dibangun pada masa orde lama. Monas memang cuma selemparan batu dari Stasiun Gambir. Sudah bertahun-tahun saya mendamba memasukinya, sejak ayah membawakan oleh-oleh kaos putih bergambar Monas dahulu sekali ketika saya bocah. Selama ini saya hanya bisa melihatnya dari jauh; dari kaca jendela kereta Taksaka dalam perjalanan mudik, dari kaca jendela bis Damri yang mengantar saya ke Soekarno-Hatta. Baca lebih lanjut

Ke Sabang

Halaman-halaman jurnal itu saya bolak-balik di bawah lampu temaram ruang tamu rumah. Buku itu bersampul keras dan tebal. Ia semakin tebal dijejali oleh berlembar-lembar tiket bis, kapal, karcis masuk obyek wisata, beberapa lembar foto karya fotografer amatir, serta log-book aktivitas penyelaman dari Rubiah Tirta Divers. Tuntas sudah perjalanan, saatnya sekarang untuk menuliskan catatan.

Siang diselingi rinai ketika itu, hari keberangkatan. Adek mengantarkan saya ke perwakilan bis Antar Lintas Sumatra (ALS) di Jalan Bypass, Padang. Ia yang menyupir. Kami agak terburu-buru sebab salat Jumat di Padang baru selesai menjelang pukul 13.00, sementara menurut tiket saya sudah harus hadir di lokasi pemberangkatan paling lambat pukul 13.30. Dalam riuh saya menata ulang keril. Keringat masih mengucur deras begitu pintu depan mobil saya tutup. Baju abu-abu itu basah. Saya berusaha tenang meskipun dalam hati cemas. Adek mulai memacu si roda empat menjauh dari rumah. Pukul 13.30 semakin dekat dan kami masih di tepi Banda Bakali. Baca lebih lanjut

Nasibmu, Bung!

“Berapa orang, mas?” Tanya seorang petugas pria bertopi yang berjaga di balik meja resepsionis. Adegan ini terjadi dalam sebuah ruangan, semacam tempat penyambutan tamu, di kompleks Makam Bung Karno.

“Sendiri, pak,” jawab saya. Pria itu menyuruh saya untuk langsung masuk saja, tanpa harus mengisi buku tamu. Jika datang beramai-ramai barulah pengunjung diperkenankan mengisi buku tamu, itupun hanya perwakilan saja. Baca lebih lanjut