April

The night was still young in late April–or early May–when Dimas, Ficher, and I were riding our bikes along the empty Brawijaya St., the main road of Tulungrejo, Pare. Though it was only few minutes past ten, we saw no motor vehicle. It made me feel that I was being left behind by the rest of the people in the world.

Ficher was by himself but I rode along with Dimas. In the cold dark night, our faces were still filled by the reminiscence of laughter from Jendela Mimpi Cafe. We then turned to Dahlia Street. Ficher’s boarding house was not far from the three way junction intertwining the roads of Dahlia and Brawijaya. From its yard, I could see Ficher’s friends were still busy talking in the living room. Continue reading “April”

Monas

Monas menjadi penanda bahwa sebentar lagi kereta yang saya tumpangi dari Bandung akan tiba di Stasiun Besar Gambir. Kereta Argo Parahyangan itu meluncur di bawah langit Jakarta yang kelabu. Ia perlahan melambat sebelum sepenuhnya menghentikan laju. Para penumpang yang semula duduk berbondong-bondong keluar dari gerbong. Bergegas  mereka–dikejar entah apa–mencari pintu keluar untuk masuk ke dalam dunia masing-masing. Barangkali sudah tak sabar ingin menuntaskan urusan yang telah ditunda perjalanan selama tiga jam.

Saya sendiri segera melangkahkan kaki ke sana, ke monumen raksasa perlambang lingga-yoni yang dibangun pada masa orde lama. Monas memang cuma selemparan batu dari Stasiun Gambir. Sudah bertahun-tahun saya mendamba memasukinya, sejak ayah membawakan oleh-oleh kaos putih bergambar Monas dahulu sekali ketika saya bocah. Selama ini saya hanya bisa melihatnya dari jauh; dari kaca jendela kereta Taksaka dalam perjalanan mudik, dari kaca jendela bis Damri yang mengantar saya ke Soekarno-Hatta. Continue reading “Monas”

Ke Sabang

Halaman-halaman jurnal itu saya bolak-balik di bawah lampu temaram ruang tamu rumah. Buku itu bersampul keras dan tebal. Ia semakin tebal dijejali oleh berlembar-lembar tiket bis, kapal, karcis masuk obyek wisata, beberapa lembar foto karya fotografer amatir, serta log-book aktivitas penyelaman dari Rubiah Tirta Divers. Tuntas sudah perjalanan, saatnya sekarang untuk menuliskan catatan.

Siang diselingi rinai ketika itu, hari keberangkatan. Adek mengantarkan saya ke perwakilan bis Antar Lintas Sumatra (ALS) di Jalan Bypass, Padang. Ia yang menyupir. Kami agak terburu-buru sebab salat Jumat di Padang baru selesai menjelang pukul 13.00, sementara menurut tiket saya sudah harus hadir di lokasi pemberangkatan paling lambat pukul 13.30. Dalam riuh saya menata ulang keril. Keringat masih mengucur deras begitu pintu depan mobil saya tutup. Baju abu-abu itu basah. Saya berusaha tenang meskipun dalam hati cemas. Adek mulai memacu si roda empat menjauh dari rumah. Pukul 13.30 semakin dekat dan kami masih di tepi Banda Bakali. Continue reading “Ke Sabang”

Nasibmu, Bung!

“Berapa orang, mas?” Tanya seorang petugas pria bertopi yang berjaga di balik meja resepsionis. Adegan ini terjadi dalam sebuah ruangan, semacam tempat penyambutan tamu, di kompleks Makam Bung Karno.

“Sendiri, pak,” jawab saya. Pria itu menyuruh saya untuk langsung masuk saja, tanpa harus mengisi buku tamu. Jika datang beramai-ramai barulah pengunjung diperkenankan mengisi buku tamu, itupun hanya perwakilan saja. Continue reading “Nasibmu, Bung!”

Gedong Songo – Blitar Stop Motion

Kamu pasti pernah menonton video stop-motion, kan? Nah, jika dinarasikan, versi stop-motion dari perjalanan Gedong Songo – Blitar kemarin kira-kira seperti berikut. Dari Gedong Songo saya ke Semarang. Terus ke Lasem menumpang bis Semarang-Surabaya. Di Lasem saya berhenti sebentar sekadar makan bakso dan nongkrong di warung es tepi jalan. Kemudian saya kembali mencegat bis dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya lewat pantura; bertemu dengan sekelompok pencari tokek lintas propinsi, lewat daerah bernama Bancar yang agak-agaknya merupakan daerah asal dari salah seorang teman sesama blogger, dan akhirnya tiba di Terminal Purabaya, Bungurasih. Continue reading “Gedong Songo – Blitar Stop Motion”

Di Jalan Daendels

Keajegan itu melenakan. Tadi, selama beberapa saat saya harus berkonsentrasi berkendara di jalan bukit selepas Pantai Ayah. Sekarang kami berada di Jalan Daendels Selatan yang lurus bukan main. Membujur sekitar 150 kilometer dari Cilacap sampai Purworejo. Mata saya harus bekerja ekstra menahan kantuk yang sesekali datang menyerang. Terkadang motor yang kami tumpangi oleng kanan-kiri karena berpapasan dengan truk. Jalan militer yang dibangun pada dekade pertama abad ke-19 itu menyusur pesisir selatan Jawa, berjarak sekitar satu kilometer dari pantai. Jejeran pepohonan kelapa seolah secara sukarela memagari Jalan Dandels dari ganasnya Samudra Hindia. Saat itu pagi menjelang siang namun matahari sudah garang. Bahkan, sesekali saya dapat melihat fatamorgana di kejauhan; awalnya tampak seperti genangan air di tengah jalan, namun setelah didekati ia hilang. Lagu “This Time Tomorrow” gubahan The Kinks terngiang-ngiang dalam kepala saya. Continue reading “Di Jalan Daendels”