The Country with Two Currencies

Soon as the last passenger sat in his seat, our bus dashed through the neutral zone separating Vietnam and Cambodia. The atmosphere was somehow changing. One minute later, when the bus finally reached the immigration post of the Kingdom of Cambodia, all of the passengers were ordered to get off.

Right beside the bus’s front door, two immigration officers had stood up, ready to retrieve our passports. I gave my passport suspiciously, so did Ching, a 27-year-old Chinese citizen who sat beside me on the bus. We entered the immigration post. Crossing the whole length of it, we ended up at the other end of the building—with no explanation whatsoever and no passport in our hand. Baca lebih lanjut

Iklan

April

The night was still young in late April–or early May–when Dimas, Ficher, and I were riding our bikes along the empty Brawijaya St., the main road of Tulungrejo, Pare. Though it was only few minutes past ten, we saw no motor vehicle. It made me feel that I was being left behind by the rest of the people in the world.

Ficher was by himself but I rode along with Dimas. In the cold dark night, our faces were still filled by the reminiscence of laughter from Jendela Mimpi Cafe. We then turned to Dahlia Street. Ficher’s boarding house was not far from the three way junction intertwining the roads of Dahlia and Brawijaya. From its yard, I could see Ficher’s friends were still busy talking in the living room. Baca lebih lanjut

Monas

Monas menjadi penanda bahwa sebentar lagi kereta yang saya tumpangi dari Bandung akan tiba di Stasiun Besar Gambir. Kereta Argo Parahyangan itu meluncur di bawah langit Jakarta yang kelabu. Ia perlahan melambat sebelum sepenuhnya menghentikan laju. Para penumpang yang semula duduk berbondong-bondong keluar dari gerbong. Bergegas  mereka–dikejar entah apa–mencari pintu keluar untuk masuk ke dalam dunia masing-masing. Barangkali sudah tak sabar ingin menuntaskan urusan yang telah ditunda perjalanan selama tiga jam.

Saya sendiri segera melangkahkan kaki ke sana, ke monumen raksasa perlambang lingga-yoni yang dibangun pada masa orde lama. Monas memang cuma selemparan batu dari Stasiun Gambir. Sudah bertahun-tahun saya mendamba memasukinya, sejak ayah membawakan oleh-oleh kaos putih bergambar Monas dahulu sekali ketika saya bocah. Selama ini saya hanya bisa melihatnya dari jauh; dari kaca jendela kereta Taksaka dalam perjalanan mudik, dari kaca jendela bis Damri yang mengantar saya ke Soekarno-Hatta. Baca lebih lanjut

Ke Sabang

Halaman-halaman jurnal itu saya bolak-balik di bawah lampu temaram ruang tamu rumah. Buku itu bersampul keras dan tebal. Ia semakin tebal dijejali oleh berlembar-lembar tiket bis, kapal, karcis masuk obyek wisata, beberapa lembar foto karya fotografer amatir, serta log-book aktivitas penyelaman dari Rubiah Tirta Divers. Tuntas sudah perjalanan, saatnya sekarang untuk menuliskan catatan.

Siang diselingi rinai ketika itu, hari keberangkatan. Adek mengantarkan saya ke perwakilan bis Antar Lintas Sumatra (ALS) di Jalan Bypass, Padang. Ia yang menyupir. Kami agak terburu-buru sebab salat Jumat di Padang baru selesai menjelang pukul 13.00, sementara menurut tiket saya sudah harus hadir di lokasi pemberangkatan paling lambat pukul 13.30. Dalam riuh saya menata ulang keril. Keringat masih mengucur deras begitu pintu depan mobil saya tutup. Baju abu-abu itu basah. Saya berusaha tenang meskipun dalam hati cemas. Adek mulai memacu si roda empat menjauh dari rumah. Pukul 13.30 semakin dekat dan kami masih di tepi Banda Bakali. Baca lebih lanjut

Nasibmu, Bung!

“Berapa orang, mas?” Tanya seorang petugas pria bertopi yang berjaga di balik meja resepsionis. Adegan ini terjadi dalam sebuah ruangan, semacam tempat penyambutan tamu, di kompleks Makam Bung Karno.

“Sendiri, pak,” jawab saya. Pria itu menyuruh saya untuk langsung masuk saja, tanpa harus mengisi buku tamu. Jika datang beramai-ramai barulah pengunjung diperkenankan mengisi buku tamu, itupun hanya perwakilan saja. Baca lebih lanjut

Gedong Songo – Blitar Stop Motion

Kamu pasti pernah menonton video stop-motion, kan? Nah, jika dinarasikan, versi stop-motion dari perjalanan Gedong Songo – Blitar kemarin kira-kira seperti berikut. Dari Gedong Songo saya ke Semarang. Terus ke Lasem menumpang bis Semarang-Surabaya. Di Lasem saya berhenti sebentar sekadar makan bakso dan nongkrong di warung es tepi jalan. Kemudian saya kembali mencegat bis dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya lewat pantura; bertemu dengan sekelompok pencari tokek lintas propinsi, lewat daerah bernama Bancar yang agak-agaknya merupakan daerah asal dari salah seorang teman sesama blogger, dan akhirnya tiba di Terminal Purabaya, Bungurasih. Baca lebih lanjut