Perjalanan Panjang ke Penang

Gerai 7-Eleven di seberang Stasiun Hua Lamphong itu menyempil di antara rumah makan dan kafe, bersimbiosis dengan beberapa gerobak penjual bebakaran dan buah-buahan di bagian depan. Ke sanalah kami pergi sebelum menaiki kereta 171 jurusan Bangkok-Sungai Kolok yang akan membawa kami ke Hat Yai.

Tak banyak yang kami beli, hanya beberapa botol air mineral dingin dan makanan ringan pengganjal perut. Mana yang muat di ransel, kami masukkan. Yang tidak, terpaksa ditenteng.

Read More

Dua Malam di Bangkok

Jika perjalanan ini sebuah video klip musik, etape Aranyaprathet-Bangkok adalah kepingan interlude tanpa lirik yang di dalamnya kami duduk berhadap-hadapan di bangku kereta disirami cahaya mentari yang perlahan berubah dari garang menjadi menenangkan menjadi sepenuhnya hilang ditelan malam.

Tapi isi klip musik kosmik itu tak cuma kami.

Read More

Mengejar Kereta menuju Bangkok

“Nggak ditelepon aja?” usul Nyonya saat kami duduk menghampar di depan Warm Bed sekitar jam 6 pagi, 24 Desember 2018. Warna langit mulai memucat. Hanya bintang-bintang paling keras kepala yang masih bertahan di atas sana.

Dia mulai khawatir. Setengah jam ditunggu, tuk-tuk yang semestinya menjemput kami tak datang-datang. Sementara, menurut jadwal, dalam satu jam, jam 7 pagi, minivan akan mulai menggulirkan roda, dengan kami atau tanpa. Naik minivan jam 7, kami akan tiba di Poipet sekitar jam 10 dan punya waktu yang longgar sekali untuk melewati imigrasi Kamboja dan Thailand.

Read More

Naik Bus dari Bangkok ke Siem Reap

Mulut stasiun MRT seberang Hua Lamphong belum buka saat kami tiba. Langit memang masih kelam. Pagi sekali masih. Puncak wat yang runcing di sebelah sana tampak anggun diterpa lampu sorot dari bawah. Dari tempat saya memandang, bangunan spritual itu menyempil di antara gedung-gedung bertingkat dan ruko-ruko yang menyimbolkan hal-hal material.

Yang lalu-lalang di jalanan sekitar Hua Lamphong masih mereka-mereka yang mendamba rezeki pagi. Masih belum waktunya bagi para pekerja berkerah untuk bergerak ke kubikel masing-masing.

Read More

Bus No. 49

Karena semalam sudah mandi, saya merasa segar sekali ketika bangun itu pagi. Saya bergegas mengemas ransel, berjinjit turun lewat tangga kayu, lalu keluar hostel mungil itu.

Suara orkestra pagi menyambut. Gang kecil yang sekilas mirip lorong-lorong Jalan Sosrowijayan itu masih mengumpulkan nyawa. Lengang sekali. Restoran atau kafe yang sudah buka baru kedatangan satu-dua pelanggan saja. Sebagian besar turis masih istirahat memulihkan tenaga yang habis karena semalaman pesta.

Read More

Sirkumnavigasi dan Bangkok

Sebentar lagi kereta akan tiba di Stasiun Hua Lamphong, Bangkok. Sudah malam. Gedung-gedung pencakar langit sudah hadir kembali di cakrawala. Jalan layang, kendaraan, dan manusia kembali ramai seolah-olah dimuntahkan tiba-tiba dari lubang hitam yang hampa.

Saya berdebar-debar mengantisipasi sirkumnavigasi.

Read More

Menyeberang ke Thailand

Tuk-tuk Kamboja agak beda dari yang beredar di Thailand. Alih-alih menyerupai bajaj, moda transportasi itu akan lebih tepat jika digambarkan sebagai versi lebih panjang dari delman-delman yang lalu-lalang di Pantai Parangtritis. Hanya saja, bukan kuda hidup yang menarik gerobaknya, tapi kuda Jepang.

Sasis gerobaknya tampak agak jauh dari kata solid. Viar atau Tossa masih lebih baik. Lewat jalan yang kurang mulus, gerobak tuk-tuk itu akan bergoyang heboh memproduksi bunyi yang mungkin saja bisa disalah kaprah sebagai suara kerincing logam di tepian tamborin.

Read More

Menyeberang ke Laos

Pos lintas batas tak ubahnya seperti bendungan. Ratusan orang yang mengantre ditapis oleh petugas imigrasi, petugas pintu air, kemudian keluar satu per satu lewat sebuah pintu kecil, mengalir seperti air ke negara lain.

Jam 6 pagi (21/11/18) pagar Pos Imigrasi Nong Khai dibuka. Saya ikut dalam arus pelintas batas yang pagi itu bergegas meninggalkan Thailand untuk menuju Laos. Udara penuh suara koper yang digeret dan obrolan dalam bahasa-bahasa asing dari penjuru dunia. Ada beberapa antrean di bangunan itu, dan semuanya penuh.

Read More
naik kereta thailand laos

Naik Kereta ke Nong Khai, Perbatasan Thailand-Laos

Mendengar saya—yang pagi itu dan sebagaimana pagi-pagi lainnya berdandanan bersahaja—mengatakan bahwa akan pergi dari Indonesia untuk melancong hampir satu setengah bulan, petugas imigrasi itu tak percaya. Buluk begini. Apalagi yang saya pegang adalah paspor kinclong. Ia pasti curiga saya mau cari kerja bukannya malala.

Ia menanyakan secara detail saya akan ke mana saja. Tapi, semakin detail saya menerangkan rute yang akan ditempuh, semakin berlipat-lipat mukanya. Dia lalu meminta saya memperlihatkan tiket pulang. Saya sodorkan tablet kepadanya.

Read More

Naik Kereta dari Thailand ke Malaysia

Bis itu berhenti dekat Pos Imigrasi Poipet, Kamboja. Saya masih terkekeh mengingat lelucon si Milad. Si botak berkacamata mirip gitaris System of a Down itu tadi memamerkan paspornya.

“Kadang petugas imigrasi curiga lihat pasporku. Soalnya fotonya beda sama penampilanku sekarang,” ia mengelus-elus kepala plontosnya. Di paspor, ia berambut tapi tak berjanggut. Sekarang berjanggut tapi tak berambut. “Jadi aku balik saja paspornya, terus bilang: ‘Nih saya yang sekarang.’”

Read More