White River, Phnom Penh

Semalam saya sudah berkemas. Jadi, pagi itu, sekitar jam 6, saya hanya tinggal memanggul ransel, check-out, lalu jalan kaki ke arah kantor The Sinh Tourist. Dekat perempatan Buffalo, saya berhenti sebentar untuk membeli seporsi banh mi yang kemudian terburu-buru saya santap di depan The Sinh Tourist.

Saya terkekeh mendapati bahwa The Sinh Tourist ternyata malah memberi saya tiket bus Phnom Penh Sorya. Usai melapor, saya diminta menunggu. Ruang tunggu di dalam terlalu ramai, saya keluar saja. Tak berapa lama, seorang pria berusia tiga puluhan akhir—atau empat puluh awal—berseragam Phnom Penh Sorya datang menghampiri. Perawakannya seperti orang Kamboja.

Read More

Saigon

Bus akhirnya datang. Sekira jam 9 malam, pintu-pintu bagasi dibuka. Setengah jam kemudian, bus The Sinh Tourist itu mulai melaju, meninggalkan Danau Xuan Huong dan pendar warna-warni yang menghiasi permukaannya, meninggalkan kota Dalat yang sedang menggigil dibasuh gerimis.

Jalan yang semula hanya cukup untuk dua bus kemudian berubah menjadi jalan tol yang lebar dan mulus. Karena belum mengantuk, saya habiskan waktu dengan membaca autobiografi John Muir, naturalis legendaris pentolan Sierra Club yang namanya diabadikan sebagai sebuah trek lintas alam di Amerika Serikat bagian barat, John Muir Trail. Tapi lama-lama bosan juga. Saya pun mulai mengantuk, lalu tertidur.

Read More

Semalam di Dalat

Seandainya bersikeras mencari hostel yang direkomendasikan J, barangkali saya akan berakhir di jalanan itu malam.

Maka saya biarkan insting menuntun entah ke mana. Masih pagi. Saya masih punya banyak waktu untuk menemukan akomodasi yang sesuai. Kaki saya pun kemudian melangkah ringan menelusuri jalanan Dalat, lewat pertokoan, jalan yang mendaki-menurun, memapas bangunan-bangunan tua, sampai akhirnya tiba di pusat keramaian Dalat: bundaran dekat Cho Da Lat (Pasar Dalat).

Read More

Perjalanan ke Dalat

Pagi ketiga di Hoi An, saya kembali menelusuri tepian Sungai Thu Bon. Jalanan berlapis aspal itu menghitam, basah, sebab sepanjang malam diguyur hujan. Cahaya yang terpancar dari langit kelabu bikin bangunan-bangunan tua itu tampak sendu, sesendu nakhoda-nakhoda perahu yang sedang menantikan penumpang pertama mereka hari itu.

Hoi An tak lagi menjadi kota mimpi. Ia sudah takluk pada kenyataan, menyerah pada keseharian.

Read More

Asbak Penguin Raksasa di Stasiun Da Nang

Stasiun Da Nang ternyata tidak sesepi yang saya duga. Ketika saya tiba, banyak orang berkerumun di sekitar lobi dan beranda, termasuk dua pemuda pelancong yang ransel besarnya tersandar di dinding kaca stasiun.

“Mau ke mana?” tanya saya pada salah seorang di antaranya. Wajahnya, sebagaimana paras pejalan yang satu lagi, Asia. Tingginya relatif sama dengan saya.

Read More

Tertahan di Da Nang

Menerobos hujan yang sebentar gerimis sebentar deras, saya akhirnya tiba di lobi Stasiun Hue jam 9 pagi. Kalau ingatan saya tak keliru, kereta yang hendak saya tumpangi semestinya berangkat jam 9.30.

Dua puluh menit setelah saya mengistirahatkan bokong di bangku tunggu, dari corong pengeras suara terdengar pengumuman bahwa jadwal keberangkatan kereta tertunda. Perkiraannya, kereta baru akan meluncur jam 9.50.

Read More

Meninggalkan Hue

Cuaca berubah sejak masuk Hue. Langit yang semula biru dari Bangkok sampai Hanoi—kecuali Sapa barangkali—kini menjadi kelabu. Hujan turun dalam berbagai wujud, dari mulai sebagai gerimis sampai hujan deras lengkap dengan condiment berupa kilat dan petir.

Biasanya pagi sampai tengah hari kering. Lewat jam 12 siang apa pun bisa terjadi.

Read More

Timnas Vietnam Menang, Saya Hampir “Standing” dan Terbang

Saat hari mulai terang, saya beranjak dari Stasiun Hue dan jalan kaki menelusuri trotoar yang sepi. Belum banyak kendaraan yang lalu-lalang di Le Loi. Hari masih pagi dan langit masih kelabu.

Selang sebentar, Sungai Parfum dan jembatan-jembatan panjang yang membelahnya mulai kelihatan. Sampan dan kapal sesekali melintas. Rasanya seperti di Palembang—oh, saya rindu martabak HAR. Tapi panorama itu tak lama. Bantaran sungai besar itu kembali disembunyikan bangunan. Dermaga perahu wisata, kafe, toserba, kantor pos kecil, hotel, kafe….

Read More

Naik Kereta dari Hanoi ke Hue

Jam 11 siang saya mengucapkan selamat tinggal pada duo pemilik hostel yang ramah, juga kepada R dan F yang sedang asyik adu strategi di papan catur. Y tak tampak batang hidungnya di kamar maupun di ruang-bersama. Mungkin sedang menikmati hari terakhirnya di Hanoi. Menyeruput bia hơi barangkali.

Saya mampir sebentar ke pekarangan Katedral St. Joseph, lalu melangkah santai ke arah sebuah kios yang menjual kartu pos di pinggir keramaian Danau Hoan Kiem. Di sana, saya pilih dua kartu pos dengan gambar paling sederhana, saya tulis sepatah-dua patah kata kepada Nyonya dan seorang kawan baik di seberang lautan sana, saya tempelkan prangko, lalu saya masukkan kepingan-kepingan kenangan itu ke dalam kotak pos merah yang berdiri kokoh di depan.

Read More