Transit di Kuala Lumpur

Barangkali awal 2013—saya lupa-lupa ingat—sepulangnya dari melancong ke Malaysia, seorang kawan baik menghadiahi saya gantungan kunci. Bukan yang berbentuk Menara Kembar Petronas seperti oleh-oleh kebanyakan, tapi gantungan kunci berupa ukulele berbahan resin.

Waktu itu saya memang sedang senang-senangnya menggenjreng ukulele. Sejak berhasil menyanyikan “Blowin’ in the Wind” dengannya, instrumen musik berdawai empat itu sering saya bawa ke mana-mana. Hemat tempat soalnya. Muat di ransel. Nongkrong di kedai kopi, saya bawa. Pendakian rutin ke Gunung Api Purba, juga tak jarang saya bawa.

Read More

Georgetown

Dari feri, gedung-gedung di Georgetown, Penang, tampak seperti instalasi seni aliran brutalisme. Bangunan-bangunan pencakar langit itu—termasuk Komtar yang legendaris—kelihatan bertabrakan dengan perbukitan memanjang di belakangnya, meskipun kontras itu agak tersamarkan oleh cahaya keemasan sang mentari tua yang sedang dalam perjalanan ke peraduan.

Di sebelah selatan sana, jembatan penghubung Malaysia semenanjung dan Penang membentang bak doppelgänger cakrawala.

Read More

Perjalanan Panjang ke Penang

Gerai 7-Eleven di seberang Stasiun Hua Lamphong itu menyempil di antara rumah makan dan kafe, bersimbiosis dengan beberapa gerobak penjual bebakaran dan buah-buahan di bagian depan. Ke sanalah kami pergi sebelum menaiki kereta 171 jurusan Bangkok-Sungai Kolok yang akan membawa kami ke Hat Yai.

Tak banyak yang kami beli, hanya beberapa botol air mineral dingin dan makanan ringan pengganjal perut. Mana yang muat di ransel, kami masukkan. Yang tidak, terpaksa ditenteng.

Read More

Dua Malam di Bangkok

Jika perjalanan ini sebuah video klip musik, etape Aranyaprathet-Bangkok adalah kepingan interlude tanpa lirik yang di dalamnya kami duduk berhadap-hadapan di bangku kereta disirami cahaya mentari yang perlahan berubah dari garang menjadi menenangkan menjadi sepenuhnya hilang ditelan malam.

Tapi isi klip musik kosmik itu tak cuma kami.

Read More

Mengejar Kereta menuju Bangkok

“Nggak ditelepon aja?” usul Nyonya saat kami duduk menghampar di depan Warm Bed sekitar jam 6 pagi, 24 Desember 2018. Warna langit mulai memucat. Hanya bintang-bintang paling keras kepala yang masih bertahan di atas sana.

Dia mulai khawatir. Setengah jam ditunggu, tuk-tuk yang semestinya menjemput kami tak datang-datang. Sementara, menurut jadwal, dalam satu jam, jam 7 pagi, minivan akan mulai menggulirkan roda, dengan kami atau tanpa. Naik minivan jam 7, kami akan tiba di Poipet sekitar jam 10 dan punya waktu yang longgar sekali untuk melewati imigrasi Kamboja dan Thailand.

Read More

Bersepeda ke Angkor Wat

Saat pertama kali ke Siem Reap, suatu malam di balkon atas Tropical Breeze, saya menyadari satu hal: langit malam di kota itu luar biasa kelam. Titik-titik cahaya artifisial kreasi peradaban Homo sapiens seakan kewalahan meladeni gelap yang sudah eksis sejak permulaan zaman. Juga, kota itu tenang. Klakson cuma satu-dua yang bersuara. Raungan mesin jet pesawat pun hanya sesekali menderu memecah keheningan angkasa.

Siem Reap tempat yang tepat untuk istirahat.

Read More

Naik Bus dari Bangkok ke Siem Reap

Mulut stasiun MRT seberang Hua Lamphong belum buka saat kami tiba. Langit memang masih kelam. Pagi sekali masih. Puncak wat yang runcing di sebelah sana tampak anggun diterpa lampu sorot dari bawah. Dari tempat saya memandang, bangunan spritual itu menyempil di antara gedung-gedung bertingkat dan ruko-ruko yang menyimbolkan hal-hal material.

Yang lalu-lalang di jalanan sekitar Hua Lamphong masih mereka-mereka yang mendamba rezeki pagi. Masih belum waktunya bagi para pekerja berkerah untuk bergerak ke kubikel masing-masing.

Read More

Bus No. 49

Karena semalam sudah mandi, saya merasa segar sekali ketika bangun itu pagi. Saya bergegas mengemas ransel, berjinjit turun lewat tangga kayu, lalu keluar hostel mungil itu.

Suara orkestra pagi menyambut. Gang kecil yang sekilas mirip lorong-lorong Jalan Sosrowijayan itu masih mengumpulkan nyawa. Lengang sekali. Restoran atau kafe yang sudah buka baru kedatangan satu-dua pelanggan saja. Sebagian besar turis masih istirahat memulihkan tenaga yang habis karena semalaman pesta.

Read More

Sirkumnavigasi dan Bangkok

Sebentar lagi kereta akan tiba di Stasiun Hua Lamphong, Bangkok. Sudah malam. Gedung-gedung pencakar langit sudah hadir kembali di cakrawala. Jalan layang, kendaraan, dan manusia kembali ramai seolah-olah dimuntahkan tiba-tiba dari lubang hitam yang hampa.

Saya berdebar-debar mengantisipasi sirkumnavigasi.

Read More