Tertahan di Da Nang

Menerobos hujan yang sebentar gerimis sebentar deras, saya akhirnya tiba di lobi Stasiun Hue jam 9 pagi. Kalau ingatan saya tak keliru, kereta yang hendak saya tumpangi semestinya berangkat jam 9.30.

Dua puluh menit setelah saya mengistirahatkan bokong di bangku tunggu, dari corong pengeras suara terdengar pengumuman bahwa jadwal keberangkatan kereta tertunda. Perkiraannya, kereta baru akan meluncur jam 9.50.

Read More

Meninggalkan Hue

Cuaca berubah sejak masuk Hue. Langit yang semula biru dari Bangkok sampai Hanoi—kecuali Sapa barangkali—kini menjadi kelabu. Hujan turun dalam berbagai wujud, dari mulai sebagai gerimis sampai hujan deras lengkap dengan condiment berupa kilat dan petir.

Biasanya pagi sampai tengah hari kering. Lewat jam 12 siang apa pun bisa terjadi.

Read More

Timnas Vietnam Menang, Saya Hampir “Standing” dan Terbang

Saat hari mulai terang, saya beranjak dari Stasiun Hue dan jalan kaki menelusuri trotoar yang sepi. Belum banyak kendaraan yang lalu-lalang di Le Loi. Hari masih pagi dan langit masih kelabu.

Selang sebentar, Sungai Parfum dan jembatan-jembatan panjang yang membelahnya mulai kelihatan. Sampan dan kapal sesekali melintas. Rasanya seperti di Palembang—oh, saya rindu martabak HAR. Tapi panorama itu tak lama. Bantaran sungai besar itu kembali disembunyikan bangunan. Dermaga perahu wisata, kafe, toserba, kantor pos kecil, hotel, kafe….

Read More

Naik Kereta dari Hanoi ke Hue

Jam 11 siang saya mengucapkan selamat tinggal pada duo pemilik hostel yang ramah, juga kepada R dan F yang sedang asyik adu strategi di papan catur. Y tak tampak batang hidungnya di kamar maupun di ruang-bersama. Mungkin sedang menikmati hari terakhirnya di Hanoi. Menyeruput bia hơi barangkali.

Saya mampir sebentar ke pekarangan Katedral St. Joseph, lalu melangkah santai ke arah sebuah kios yang menjual kartu pos di pinggir keramaian Danau Hoan Kiem. Di sana, saya pilih dua kartu pos dengan gambar paling sederhana, saya tulis sepatah-dua patah kata kepada Nyonya dan seorang kawan baik di seberang lautan sana, saya tempelkan prangko, lalu saya masukkan kepingan-kepingan kenangan itu ke dalam kotak pos merah yang berdiri kokoh di depan.

Read More

Hanoi, Bia Hơi, dan Hồ Tây

Di Hanoi, saya menginap di sebuah hostel tak jauh dari Katedral St. Joseph yang disebut-sebut mirip Cathédrale Notre-Dame de Paris. Kamar dormitori campurnya sangat nyaman. Kamar mandinya bersih, suasananya tenang, dan, yang paling saya sukai, punya balkon mini yang dari sana kita bisa duduk-duduk santai menikmati suasana.

Karena balkon itu kecil dan kapasitas kamar itu sekitar sepuluh orang, persaingan untuk menduduki dua kursi empuk di areal spesial itu lumayan ketat.

Read More

Menuju Hanoi

Dengan perut penuh bánh tráng nướng, saya kembali ke hostel. Penat dan kenyang dan selimut hangat membuat saya cepat sekali tertidur. Pulas sekali tidur saya malam itu sampai-sampai mimpi tak kuasa unjuk gigi.

Begitu bangun, saya mendapati kamar dormitori sepi itu kedatangan orang baru. Mukanya, kalau dilihat sekilas, tipikal orang Filipina atau Thailand. Tapi bisa jadi pula bukan kedua-duanya. Ketimbang penasaran, lebih baik saya bertanya: “Are you from the Philippines?”

Read More

Fansipan

Saya tak tahu pasti apakah itu akhir musim gugur atau awal musim dingin, tapi indra saya tahu pasti bahwa Sapa di pergantian November-Desember itu dingin sekali. Siang hari, temperatur berkisar di belasan derajat Celsius, sekitar lima belas. Selepas jam 11 malam, suhu akan turun sampai sembilan derajat Celsius. Badan saya yang tropis perlu usaha ekstra untuk menyesuaikan diri.

Maka di sore hari pertama itu, sebagai usaha untuk beradaptasi, saya jalan-jalan sore menuruni jalan kecil nan licin ke arah lembah. Jalanan itu diapit kios-kios yang menjual peralatan outdoor yang diselingi oleh warung makan dan penginapan.

Read More

Pagi Pertama di Sapa

Perjalanan malam itu sebenarnya panjang, tapi terasa singkat; saya terlelap. Yang membuat saya cepat tidur adalah bokeh-bokeh sinar dari luar yang tertapis kaca jendela mobil, yang mengembun, atau diguyur hujan. Entahlah. Kalau ingatan ini tidak salah, saya terbangun ketika bis lewat sebuah monumen berbentuk kereta gantung—cable car menuju puncak Gunung Fansipan.

Saya bersama beberapa orang lain termasuk sepasang kekasih Jerman-Belanda itu diturunkan di depan Pasar Sapa. Jam tiga dini hari. Matahari masih tidur dan dingin menusuk tulang. Sebagai upaya menanti pagi, kami bergegas ke warung tenda di parkiran pasar, melarikan diri dari orang-orang yang menawarkan hotel bertarif di luar jangkauan. Ada tong berapi di sana. Saya pesan secangkir kopi hitam. Kedua kawan baru saya itu hanya meminta air hangat sebab mereka punya kopi sobek.

Read More

Naik Bus Kecil dari Luang Prabang ke Điện Biên Phủ

Dari Luang Prabang, saya akan ke Sapa. Umumnya, untuk ke kota kecil di Vietnam bagian utara itu, para pejalan naik bus dari neraka (the bus from hell) ke Hanoi, terus menumpang bus atau kereta malam ke Lào Cai, lalu mencegat bus ke Sapa. Dari Hanoi, mereka juga bisa naik bus langsung ke kaki Gunung Fansipan itu.

Tapi bagi saya itu berputar-putar, sebab dari Sapa saya nanti akan turun lagi untuk menyusuri belati Vietnam sampai ke selatan. Jadi, saya coba cari alternatif lain.

Read More

Hari-hari di Luang Prabang

“Lucu, ya. Kau biasa makan soto (di negaramu), terus di sini makan omelet baguette. Kami (yang biasa makan omelet baguette) malah makan soto (rice noodle),” ujar T geli saat kami sarapan pertama di Luang Prabang, di sebuah warung selemparan batu dari pusat keramaian.

Memang lucu. Tapi, ya, beginilah manusia. Umumnya, ketika pergi ke tempat-tempat yang jauh dari rumah, orang akan lebih senang merasakan hal-hal yang jarang (atau bahkan mungkin tidak pernah) dijumpai di tempat asalnya.

Read More