The Last day in Kosan Lama : Bonbin Apa Kosan??

Ceritanya hari itu adalah hari terakhirku kos di Sendowo. Sedih juga meninggalkan kos itu. Ada sekarung kenangan di sana. Tangis tawa, sedih gembira, semuanya ada di sana. Di kamar nomor 12.

Tapi apa mau dikata. Aku harus pindah besok ke Pogung. Banyak hal yang mengharuskan aku pindah kos.

Sebenarnya bukan aku saja yang pindah. Selain aku, empat orang kawanku juga pindah. Satu orang (sebut saja A*i) pindah ke rumah Bu De nya. Tiga orang lainnya pindah ke kos yang sama denganku.

Seperti yang kubilang tadi, banyak hal yang mengharuskanku untuk mencari kos baru. Penyebabnya antara lain adalah terjadinya friksi antara angkatan 2006 di kos itu dengan anak yang punya kos. Yah, hitung-hitung gencatan senjata lah.

Jadi, sore itu aku mandi di kosan. Mandi wada’ (mandi perpisahan dengan kamar mandi di kosan itu). Lagian, sudah dua hari aku tidak mandi. Pulang naik gunung, sih. Saat itulah peristiwa itu terjadi.. (semua tarik napas)..

Tiba-tiba ada kecoak muncul!!! Masih wajar, pikirku. Kulanjutkan mandi. Byur..!! Byurr..!!! Lalu tiba-tiba lagi muncul sebaris panjang semut. Melambai-lambai dengan mesra dari tembok. Semut merah dan hitam keluar semua. Hmm.. mungkin mereka mengadakan upacara perpisahan buatku. Jadi terharu. Aku masih berpikir positif.

Aku masih mandi dengan wajar ketika seekor lintah terlihat berusaha keras menyeret-nyeret dirinya di tembok. WHIII…!!! Aku kaget lah.. Tapi mau keluar kamar mandi sekarang, tanggung. Selagi aku berpikir begitu, tiba-tiba saja muncul kodok melompat-lompat dari sela-sela bagian bawah pintu..

Langsung tanpa pikir panjang aku handukan dan keluar dari kamar mandi. Begitu masuk ke kamar kos ku, berbunyilah tokek tiga kali. Tok.. kek…3x. Kawan-kawan, ini Kebun Binatang atau Kosan sih??

Catatan perjalanan G. Marapi (2891 m dpl)

Ini adalah pendakian gunung pertamaku. Seingatku, pendakian G. Merapi itu kulakukan pada tanggal 24 – 25 mei 2006. Beberapa hari setelah Ujian Akhir Nasional. O, ya. Pendakian itu hanya kulakukan berdua saja dengan temanku, Eduard GLP.

Minggu-minggu setelah UAN adalah minggu yang sangat membosankan. Penantian akan nasib dan keluh kesah tentang ke mana akan kuliah menghantui remaja tanggung kelas 3 SMA. Termasuk aku. Akhirnya, aku mengajak seorang sahabat, Eduard, untuk naik gunung bersama. Awalnya banyak yang mengatakan akan ikut naik gunung juga. Tapi ujung-ujungnya yang naik cuma kami berdua.

Sebagai informasi, bisa dibilang pendakian itu adalah pendakian paling nekat dalam hidupku. Pasalnya, perbekalan dan perlengkapan pendakian kali itu jauh dari standar. Tidak ada tenda. Yang ada hanya matras dan terpal. Kompor juga tidak ada – rusak sewaktu mengetes di basecamp. Lagipula, aku tidak minta izin kepada Ibuku untuk naik gunung.

Koto Baru

Koto Baru adalah basecamp pendakian gunung Marapi dan Singgalang. Terletak di jalan raya Padang – Bukittinggi dan ditandai dengan masjid besar berkulah yang bisa ditemukan di sebelah kiri jalan jika dari Padang. Di masjid kotobaru itu, para pendaki bisa mengisi veldples dan membeli perbekalan di pasar Kotobaru. Aku dan Eduard berangkat dari Padang ke Kotobaru dengan travel liar. Kami tiba di sana sekitar pukul 2 siang. Setelah packing ulang dan mengecek perlengkapan – kompor tua itu akhirnya rusak, kawan – kami mulai berjalan ke Tower, tempat mengurus perizinan pendakian.

Tower

Kotobaru ke Tower bisa dicapai dalam waktu sekitar 45 menit. Setelah menyebrang jalan, kita akan melewati halaman rumah penduduk dan kemudian melalui ladang kol. Kemudian kita akan menemukan jalan beraspal. Jika mengukuti jalan beraspal itu, kita akan sampai di Tower tempat mengurus perizinan pendakian. Di sini saja napasku sudah ngos-ngosan. Mungkin karena ini adalah pendakian pertamaku. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Pesanggrahan.

Pesanggrahan

Pesanggrahan adalah sebuah tempat datar yang biasa dijadikan tempat camping setiap akhir pekan. Tower – Pesanggrahan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam. Sebelum tiba di pesanggrahan, kita akan melewati aliran sungai dengan air yang sangat jernih. Di dekat aliran sungai itu kami berhenti untuk mengambil air, minum minuman suplemen (copyrighted, gak mungkin gw tulisin namanya) dingin dan shalat Ashar beralaskan matras.

Hutan Paku

Setelah pesanggrahan, medan semakin menanjak. Pendaki akan menyusuri jalan setapak berupa tangga yang terbentuk oleh akar-akar pohon. Hutan di Marapi masih rapat.

Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Belum lama kami berjalan, langsung turun hujan lebat. Akhirnya kami menemukan shelter berupa pohon tua yang bagian bawah pohonnya bisa dijadikan tempat berlindung. Begitu hujan reda – meskipun rutenya jadi becek – kami melanjutkan perjalanan.

Setelah berjalan sekitar 3 jam, pendaki akan sampai di hutan Paku (Pakis). Di sanan kita akan melewati terowongan alam yang terbentuk dari jalinan daun paku. Setelah Hutan Paku, pendaki akan tiba di batas vegetasi (pelawangan).

Cadas

Setelah pelawangan, kita akan sampai di Cadas. Daerah terjal berbatu tanpa pohon pelindung di sekitarnya. Di kanan – kiri kita akan melihat sungai aliran lava yang terbentuk akibat erupsi-erupsi sebelumnya. Pemandangan di Cadas sangat indah. Gunung Singgalang menjulang di Barat. Di belakangnya berdiri malu-malu gunung Tandikek. Di kaki gunung Singgalang sebelah utara, terlihat Ngarai Sianok yang indah. Dan jika memandang ke Barat Laut, akan terliahat gunung Talamau menjulang dengan puncak yang bentuknya seperti tandunk panjang sebelah. Sekitar 45 menit kemudian pendaki akan menjumpai Memoriam pendaki dari SMAKPA Padang yang hilang di Marapi.

Memoriam – Puncak Merpati

Triangulasi gunung Merapi (2891 mdpl) adalah puncak Merpati. Puncak Merpati dapat dicapai dalam waktu sekitar 10 menit dari Memoriam. Puncak Merpati adalah dataran sangat sempit yang sisi dalamnya adalah kawah dan sisi luarnya adalah jurang.

Estimasi waktu pendakian gunung Merapi adalah lebih kurang 6 jam.

Itulah pendakian gunungku yang pertama. Setelah itu, aku seperti kecanduan mendaki gunung.

Penyair Walt Whitman dalam syairnya yang berjudul Song of The Open Road menulis :

now I see the secret of the making

of the best person

it is to grow in the open air

and to eat and sleep with the earth

Yesterday

Setelah akhir pekan yang sangat menyenangkan dengan bule-bule Australia, plus mengerjakan tugas Geologi Struktur, minggu malam aku tidur dengan pulas sekali. Tanpa beban, fly.

Begitu bangun, di ponselku sudah bertengger dengan indahnya tulisan 3.30. Panik, aku langsung buka pintu kos untuk mengecek kantin depan kos. Lampunya mati dan tirainya turun. Tutup. Gawat, udah imsak.

Dengan langkah terseret, kuarahkan tubuhku ke kasur kembali. Dengan setengah menyesali nasib, kupeluk bantal guling, meminta sedikit kehangatan. Tapi, rasanya ada yang aneh. Kok jam setengah empat kantinnya sudah tutup? Biasanya masih buka. Dan seingatku, waktu subuh biasanya masuk sekitar jam empat pagi.

Dengan tekad bulat tidak mau lapar konyol seharian, kusongsong warung Burjo (Bubur kacang ijo, red). Masih buka. Langsung kutanya ke A’a burjo apakah waktu imsak sudah masuk. Ternyata jawabannya belum. Alhamdulillah, gak jadi mati kelaparan.

Setelah puas makan sahur, aku kembali ke kos. Langsung memeluk guling dan menyelimuti diri. Tidur lagi. Entah kenapa, seolah-olah Yang Di Atas menyuruhku bangun untuk shalat Subuh, aku dihampiri mimpi aneh. Settingnya di kamarku di Padang. Tokohnya aku dan adik balitaku, Jihan. Dalam mimpi itu aku sedang asyik bermain-main dengan adikku. Tiba-tiba adikku menggenggam tanganku.

“Jihan, lepasin tangan Abang,” kataku meminta jihan melepaskan tanganku.<a

Jihan tak merespon. Tetap menggenggam tanganku dengan kuat. Malah sekarang hampir memasukkan tagnaku ke mulutnya.

“Jihan, ayo lepasin,” aku masih dengan sabar meyuruh jihan melepaskan tanganku ketika tiba-tiba taring sangat tajam muncul dari barisan giginya.

“Ji, awas. Nanti tangan kamu dimakan jihan lho,” ada suara dari belakang. Mungkin suara bibiku. Langsung kusentakkan tanganku agar bisa lepas dari jihan. Gila aja tangan gw habis digigit adek sendiri. HOROR. Dan tiba-tiba dari lipatan ketiak si Jihan muncul tangan ketiga. WHIIWW..

Langsung gw terbangun dari mimpi. Berwudhu’ dan langsung shalat subuh.

Filsafat Air

Air, tak bisa dipungkiri, adalah substansi kehidupan. Air menutupi dua per tiga bagian bumi. Tubuh manusia sebagian besar mengandung air. Ya, kawan. Kehidupan kita sangat bergantung terhadap air. Haus, artinya butuh air. Membersihkan badan, tak mungkin tidak memakai air.

Perhatikanlah berita setiap musim kemarau. Di Gunung Kidul, Yogyakarta, hampir setiap musim kemarau kekurangan air. Hanya demi air mereka rela berjalan berkilo-kilo meter untuk pergi ke tempat penampungan. Banyangkanlah jika air di dunia ini habis. Ya, kawan. Bayangkanlah apa yang akan terjadi?

Dan pernahkan kita memikirkan tentang air? Kebutuhan primer kita itu?

Ada banyak falsafah yang terkandung pada zat yang mengandung dua molekul hidrogen dan satu molekul oksigen itu. Ada banyak sekali. Dan izinkanlah aku mengemukakan pemahamanku tentang air.

Pertama. Air secara tidak langsung telah memperlihatkan pada kita sikap rela berkorban. Pernahkah sewaktu mandi engkau memikirkan bahwa air rela dibuang-buang hanya untuk membersihakan kotoran yang menempel pada tubuhmu?? Air saja, benda mati dengan banyak anomalinya, bisa menunjukkan sikap rela berkorban. Tidak bisakah anggota dewan yang terhormat bersikap lebih mulia dari air? Tidak bisakah mereka sedikit rela menurunkan gajinya untuk dialokasikan ke yang lain yang lebih penting?

Kedua. Air mengajarkan kita untuk bersatu padu. Niscaya, dengan bersatu padu, segala masalah negara kita ini akan bisa diselesaikan. Tahukah engkau, kawan? Grand Canyon yang di Negeri Paman Sam itu terbentuk karena banjir dan hujan yang dahsyat. Banjir dan hujan dahsyat yang selalu melanda aliran sungai colorado itu telah membentuk ngarai raksasa seperti itu. Hebat bukan? Hujan lebat akan menghasikan dampak yang jauh berbeda dengan setetes air.

Baru itu yang bisa kuungkap. Insya Allah jika aku menemukan lagi sesuatu dari air, akan kuberi tahu.

– Ditulis ketika menunggu berbuka puasa hari ke-4 –

Mandalawangi – Pangrango

Senja ini, ketika matahari turun dalam jurang-jurangmu
Aku akan kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara denganmu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku
Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semata
Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti
Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan
“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi tanda tanya
tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita menawar
terimalah dan hadapilah”
Dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
Aku terima ini semua
Melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu
Aku cinta kamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

Soe Hok Gie. Jakarta, 19-7-1966

Lagi-lagi Ganti Weblog

Sebelumnya aku pernah menulis blog di Blogger, Blogsome, bahkan blog Friendster. Tapi, satupun aku tidak puas. Bermacam alasannya.

Waktu menulis di Blogger, entah kenapa tidak ada yang membaca blogku. Entah memang karena blogku jelek atau Bloggernya yang kurang populer, aku tidak tahu. Biar Tuhan saja yang tahu, kawan.

Lalu ku coba menulis blog di Friendster. Yah, kawan-kawan pasti tahu bagaimana kondisi blog Friendster. Kata yang pas sepertinya : alakadar. Akupun beralih ke yang lain.

Iseng-iseng aku menulis di Blogsome setelah membaca beberapa blog orang. Sampai sekarang, sudah cukup banyak yang membaca. yah, untuk menghibur diriku sendiri, bisa dibilang sebagian orang sudah tahu, lah. Tapi ada satu masalah. Terlalu sulit untuk menulis komentar di Blogsome ini. Jadi, untuk menghindari spam, seorang komentator harus diuji dulu. Mereka harus menyalin karakter dulu, seperti mau registrasi Friendster. Jadilah blogku sampai sekarang tanpa komentar.

Akhirnya aku menambatkan hatiku di WordPress setelah keterangan tentang WordPress bertubi-tubi datang padaku. Promosi yang bagus sepertinya. Lalu ku coba membuka sebuah akun di WordPress. Mulanya aku tidak begitu tertarik. Bahkan sempat satu bulan blog ini terlantar. Ya, satu bulan. Satu bulan cukup untuk membuat anak manusia mati terlantar. Untung ini cuma blog.

Jadi, hari ini kupersembahkan post pertamaku ini kepada semua yang telah meluangkan waktunya untuk membaca blogku ini. Terima kasih.

Yogyakarta, 14 September 2007 / hari ke-2 Ramadhan