Tag: Bali

Langkah (41): Dreamland

Tomy Soeharto pasti tidak menyangka sebuah pantai yang berada di kawasan Pecatu Indah Resort (PIR), resort kepunyaannya, akan lebih terkenal daripada Pecatu itu sendiri. Orang-orang menamai pantai itu Dreamland karena dahulunya PIR digadang-gadangkan penduduk Bukit Jimbaran sebagai tanah impian yang akan mengubah pekerjaan mereka dari sektor pertanian menjadi sektor pariwisata yang menjanjikan. (lebih…)

Langkah (40): Sukawati – Apa Saja Yang Bisa Dibeli?

Kegiatan yang paling saya hindari ketika jalan-jalan adalah membeli oleh-oleh. Selain karena duit yang pas-pasan buat jalan, berbelanja buah tangan kurang suka saya karena bawaan saya biasanya cuma ransel kecil. Carrier cuma saya bawa untuk naik gunung atau liburan ke pulau tak berpenghuni. Sempat beli oleh-oleh banyak, mau saya letakkan di mana souvenir itu? Dibawa pakai kresek trus ditenteng? Big no! (lebih…)

Langkah (39): Kintamani – Bali Bukan Cuma Pantai

Malam tanggal 1 Februari saya dipaksa mandi oleh kawan-kawan. Sayangnya sekuat saya menolak, sekuat itu pula mereka berusaha mamaksa. Sedang enak-enaknya tidur jam 12 malam sempat-sempatnya mereka membangunkan, “Jong. Mandi, Jong! Kamar mandi udah kosong, tuh. Mesakke Gede.” Kata mereka, kasihan Gede kamarnya ntar bau. Padahal kan berpendingin-ruangan dan saya nggak bau-bau amat. (lebih…)

Langkah (38): Another Day in Kuta

Jalan-jalan hari pertama di Bali berakhir di Kuta. Percaya atau tidak, pertama kali ke Bali saya cuma muter-muter Kuta selama dua hari. Setelah itu pulang ke Jogja. Itu sudah. Kali kedua ke Bali saya menjadikan Kuta sebagai tempat transit sebelum pergi ke mana-mana. Dengan masker di muka, waktu itu sedang marak-maraknya pemberitaan mengenai flu babi, saya berdua dengan kawan membentangkan tikar mantel hujan di pasir dan bersantai. Tidur-tiduran sambil baca buku plus mengamat-amati bule cantik yang berlalu-lalang. (lebih…)

Langkah (36): Pura Ulun Danu Beratan – Bali Bukan Cuma Pantai

Ketika angin terasa semakin dingin, barulah saya sadar kalau hari itu salah kostum. Pagi itu, di hari ketika dipinjami kamera bagus, agenda kami adalah main-main ke Pura Ulun Danu Beratan. Pura yang terpajang di uang kertas 50 ribu itu memang terletak di pegunungan. Tinggi sekali lah pokoknya sampai-sampai di beberapa belokan kau bisa melihat laut dan Pulau Nusa Penida. Dan pagi itu saya cuma pakai baju ala hippies, celana pendek the north face palsu, dan sandal jepit. (lebih…)

Langkah (35): Kamera Kejutan

Masih dalam keadaan berkabung karena kehilangan kamera, malam hari tanggal 31 Januari kami kembali ke Bali. Meninggalkan Lombok dan kamera saya yang sekarang entah berada di mana. Empat jam saya dan kawan-kawan bertahan di ferry yang lebih jelek daripada saat berangkat kemarin. Kali ini tak ada AC, bangkunya seperti bangku antrian PLN, penjaja makanan berlalu lalang, dan dengkuran bersahutan. Empat jam pula saya membungkus diri dengan sleeping bag dan tidur di lantai ruang penumpang kapal. Lumayan. Tidur saya nyaman. (lebih…)

Langkah (34): Memory’s Forever

Saya pernah nginap semalaman di Stasiun Gubeng yang banyak nyamuk, menyakitkan. Saya juga pernah ditinggal sendirian oleh kawan di stasiun banyuwangi, malam-malam, menyebalkan. Di hutan saya pernah juga ditinggal sendirian di antara tenda-tenda dan ransel-ransel kosong, lumayan menakutkan. Pernah juga saya loncat dari kereta minyak pertamina, saat terpaksa harus menumpang kereta itu karena ketinggalan pramex ke jogja. Menyakitkan jatuhnya. Tapi rasanya nggak ada yang semenyakitkan waktu di Lombok kemarin; kehilangan kamera.

Tanggal 31 Januari, wajah kami menjadi semakin ceria karena besok pagi sudah tanggal satu, bulan baru. Dengan semangat menggebu, pagi itu saya dan kawan-kawan berangkat ke Pantai Kuta, Lombok Tengah. Pantai yang (lebih…)