Ajaib

Meskipun Bali secara administratif masuk wilayah Indonesia, prosedur masuk via laut ke pulau itu agak berbeda; harus memperlihatkan kartu identitas. Saya telah mengisi data sejak setahun yang lalu namun belum menerima hak saya – e-KTP. Kartu identitas yang saya punya hanyalah KTP lama yang keadaannya sudah mengenaskan. Beberapa kali terkena rembesan air setelah berenang, tulisan dalam KTP itu pun menjadi kabur sehingga sulit dibaca.

Maka dinihari itu saya bersiap untuk mengeluarkan paspor jika TNI yang bertugas mengecek identitas tidak menerima KTP itu. Tapi ternyata tidak terjadi apa-apa. Setelah berusaha sedikit keras, tampak dari ekspresinya, tentara itu berhasil membaca biodata saya. Terima kasih pada kacamata yang ia pakai.

Read More

Rencana B

“Don’t think about what you’ll tell people afterward. The time is here and now. Make the most of it.” – Paulo Coelho, Aleph.

 

Empat menit setelah kereta berangkat, saya baru tiba di Stasiun Lempuyangan. “Sudah, mas,” jawab satpam stasiun ketika saya memastikan sekali lagi. “Sudah berangkat.”

Rencana yang saya susun berantakan sudah. Padahal ini baru perjalanan hari pertama! Dari seminggu yang lalu saya sudah mulai mencorat-coret jadwal di catatan, semacam itinerary sederhana yang detilnya saya sesuaikan begitu rupa dengan anggaran yang saya punya. Dalam angan, hari ini saya akan menumpang Kereta Api Ekonomi Sri Tanjung ke Banyuwangi. Saya hanya perlu duduk manis di dalam gerbong yang kini sudah dilengkapi pendingin ruangan, sesekali barangkali akan membuka Coelho yang saya bawa, sampai tiba di Banyuwangi kisaran pukul delapan malam. Setelah istirahat sejenak di sekitar pelabuhan, mengisi perut yang keroncongan, membiarkan mulut seharian masam merasakan nikmatnya kretek, saya akan menyeberangi Selat Bali dengan kapal roro kemudian sandar di ujung barat Pulau Dewata. Setiba di Gilimanuk, pukul tiga dinihari, saya akan menumpang bis langsung pertama yang bakal mengantarkan saya sampai tepat ke depan terminal keberangkatan Padang Bai. Read More

Langkah (41): Dreamland

Tomy Soeharto pasti tidak menyangka sebuah pantai yang berada di kawasan Pecatu Indah Resort (PIR), resort kepunyaannya, akan lebih terkenal daripada Pecatu itu sendiri. Orang-orang menamai pantai itu Dreamland karena dahulunya PIR digadang-gadangkan penduduk Bukit Jimbaran sebagai tanah impian yang akan mengubah pekerjaan mereka dari sektor pertanian menjadi sektor pariwisata yang menjanjikan. Read More

Langkah (40): Sukawati – Apa Saja Yang Bisa Dibeli?

Kegiatan yang paling saya hindari ketika jalan-jalan adalah membeli oleh-oleh. Selain karena duit yang pas-pasan buat jalan, berbelanja buah tangan kurang suka saya karena bawaan saya biasanya cuma ransel kecil. Carrier cuma saya bawa untuk naik gunung atau liburan ke pulau tak berpenghuni. Sempat beli oleh-oleh banyak, mau saya letakkan di mana souvenir itu? Dibawa pakai kresek trus ditenteng? Big no! Read More

Langkah (39): Kintamani – Bali Bukan Cuma Pantai

Malam tanggal 1 Februari saya dipaksa mandi oleh kawan-kawan. Sayangnya sekuat saya menolak, sekuat itu pula mereka berusaha mamaksa. Sedang enak-enaknya tidur jam 12 malam sempat-sempatnya mereka membangunkan, “Jong. Mandi, Jong! Kamar mandi udah kosong, tuh. Mesakke Gede.” Kata mereka, kasihan Gede kamarnya ntar bau. Padahal kan berpendingin-ruangan dan saya nggak bau-bau amat. Read More

Langkah (38): Another Day in Kuta

Jalan-jalan hari pertama di Bali berakhir di Kuta. Percaya atau tidak, pertama kali ke Bali saya cuma muter-muter Kuta selama dua hari. Setelah itu pulang ke Jogja. Itu sudah. Kali kedua ke Bali saya menjadikan Kuta sebagai tempat transit sebelum pergi ke mana-mana. Dengan masker di muka, waktu itu sedang marak-maraknya pemberitaan mengenai flu babi, saya berdua dengan kawan membentangkan tikar mantel hujan di pasir dan bersantai. Tidur-tiduran sambil baca buku plus mengamat-amati bule cantik yang berlalu-lalang. Read More

Langkah (36): Pura Ulun Danu Beratan – Bali Bukan Cuma Pantai

Ketika angin terasa semakin dingin, barulah saya sadar kalau hari itu salah kostum. Pagi itu, di hari ketika dipinjami kamera bagus, agenda kami adalah main-main ke Pura Ulun Danu Beratan. Pura yang terpajang di uang kertas 50 ribu itu memang terletak di pegunungan. Tinggi sekali lah pokoknya sampai-sampai di beberapa belokan kau bisa melihat laut dan Pulau Nusa Penida. Dan pagi itu saya cuma pakai baju ala hippies, celana pendek the north face palsu, dan sandal jepit. Read More

Langkah (35): Kamera Kejutan

Masih dalam keadaan berkabung karena kehilangan kamera, malam hari tanggal 31 Januari kami kembali ke Bali. Meninggalkan Lombok dan kamera saya yang sekarang entah berada di mana. Empat jam saya dan kawan-kawan bertahan di ferry yang lebih jelek daripada saat berangkat kemarin. Kali ini tak ada AC, bangkunya seperti bangku antrian PLN, penjaja makanan berlalu lalang, dan dengkuran bersahutan. Empat jam pula saya membungkus diri dengan sleeping bag dan tidur di lantai ruang penumpang kapal. Lumayan. Tidur saya nyaman. Read More

Langkah (34): Memory’s Forever

Saya pernah nginap semalaman di Stasiun Gubeng yang banyak nyamuk, menyakitkan. Saya juga pernah ditinggal sendirian oleh kawan di stasiun banyuwangi, malam-malam, menyebalkan. Di hutan saya pernah juga ditinggal sendirian di antara tenda-tenda dan ransel-ransel kosong, lumayan menakutkan. Pernah juga saya loncat dari kereta minyak pertamina, saat terpaksa harus menumpang kereta itu karena ketinggalan pramex ke jogja. Menyakitkan jatuhnya. Tapi rasanya nggak ada yang semenyakitkan waktu di Lombok kemarin; kehilangan kamera.

Tanggal 31 Januari, wajah kami menjadi semakin ceria karena besok pagi sudah tanggal satu, bulan baru. Dengan semangat menggebu, pagi itu saya dan kawan-kawan berangkat ke Pantai Kuta, Lombok Tengah. Pantai yang Read More