Ketika Analog Menjadi Andalan

Awal 2010 lalu kamera saku digital saya hilang. Semua foto di Gili Trawangan dan Pulau Lombok ikut-ikutan raib. Praktis sejak itu yang menjadi andalan hanya kamera ponsel dan kamera pinjaman, itu pun jika ada yang bersedia meminjamkan. Akibatnya perjalanan-perjalanan yang saya lakukan antara awal sampai akhir tahun 2010 minim dokumentasi. Sampai pada suatu malam di awal bulan syawal 1432 H, malam terakhir di kampung ketika mudik tahun itu, papa melungsurkan Canon Prima Junior ke saya, “Ini kamera lama, bawa saja. Sudah tidak dipakai lagi.”

Sejak itu saya jadi menggilai kamera analog. Dan sekarang di kamar saya sudah ada tiga kamera lawas yang masih menggunakan film; Canon Prima Junior, Yashica FX-3, dan Fujica M1. Canon Prima Junior merupakan kamera saku, sudah agak modern dan operasionalnya membutuhkan baterai, penggulungan filmnya sudah otomatis, tinggal ungkit tombol sedikit film dapat menggulung balik sendiri. Kamera kedua, Yashica FX-3 agak lebih tua umurnya, SLR produksi tahun ‘70an. Kamera ini sudah memiliki light meter (indikator pencahayaan) dan punya slot untuk flash. Lensa favorit saya adalah lensa fixed. Dengan efek bokeh yang dihasilkan, lensa ini sempurna untuk memotret manusia dalam jarak dekat. Kamera ketiga, Fujica M1, adalah toycam mainan mama waktu masih muda dulu. Lebaran kemarin saya temukan teronggok di tumpukan barang rongsok di pojok rumah. Semula saya kira rusak, namun tanpa diduga kamera ini masih bisa digunakan, meskipun lensa dan kekerannya kotor, warnanya masih keluar. Read More

Iklan