Tag Archives: Cerita Pendakian Gunung Papandayan

Papandayan

Jika saja di Garut saya dan kawan-kawan tak berurusan dengan calo dan supir nakal barangkali kami tak akan pernah berkenalan dengan Pras, Mulki, Garry, dan Astri. Dan entah bagaimana pula nasib mereka: kehujanan di Pondok Salada; meringkuk kedinginan di bawah pohon sejenis cantigi; berlindung sia-sia di antara rumpun bunga abadi yang tak sanggup membendung derasnya terpaan angin gunung?

Menjelang pukul sembilan pagi ketika itu. Akhirnya kami duduk dalam elf yang akan mengantarkan ke Cisurupan, jalur paling umum untuk mendaki Gunung Papandayan. Seorang bapak paruh baya yang tidak jelas calo atau supir mewanti-wanti kami sesaat setelah keril diikat erat di atap mobil, “Pokoknya jangan mau kalau disuruh pindah.” Kami mengangguk sebab tanpa disuruh pun jelas sekali kami tak akan mau diusik dan disuruh pindah dari bangku elf yang sudah terlanjur nyaman ini. Tadi, sembari menunggu Zeni tiba, kami tiduran selama beberapa jam di atas ubin teras mushala Terminal Guntur yang dingin dan keras. Baca lebih lanjut

Iklan