Pasir yang hitam

Beberapa waktu yang lalu saya ke Pantai Sadranan bersama kawan-kawan. Sudah sore ketika saya menyentuh pasir lembut berwarna kremnya. Seperti biasa, saya langsung meletakkan ransel, membuka baju dan sandal, lalu menceburkan diri ke dalam ombak yang menggulung. Agak besar memang, musim sedang basah dan berangin kencang. Berbahaya kata orang. Tapi bukankah manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri?

Saya biarkan air laut yang asin dan dingin meraba kulit, menyentuh tepian lubang pori-pori saya yang mengecil karena dinginnya temperatur. Terpikir, betapa air adalah petualang ulung. Wujudnya yang cair membuat partikel-partikelnya mampu menjelajah ke tempat-tempat yang tak masuk akal. Air yang menyentuh kulit saya ini mungkin pernah berada di kutub selatan, setelah mengalami kondensasi dan terangkat dari sesungai amazon yang lebar dan legendaris. Read More

Iklan