Lawu

Barangkali terlalu berlebihan untuk menyebutnya badai. Apalagi saya kurang paham mengenai klasifikasi angin. Namun yang jelas pagi ini angin bertiup teramat kencang. Pohon-pohon cemara di pinggir tebing tak henti goyang. Kabut pembawa dingin terombang-ambing dipermainkan oleh si udara yang bergerak. Meninggalkan jejak berupa putih translusen di Cemoro Kembar, Gunung Lawu. Pos 5 masih berjarak beberapa ratus meter vertikal lagi.

Seolah tak mau kalah, hujan ikut ambil bagian. Di pojok terpal, untuk menampung air Benny menaruh beberapa botol air minum kemasan yang sudah dipangkas bagian atasnya. Akhirnya saya mampu menghayati kalimat “hujan adalah berkah” sebab air meteorit itu turun persis ketika persediaan pemuas dahaga kami semakin menipis.

Read More

Lewat Pos Cemara

“Tutupi pakai mantel!” Pinta saya pada Eka ketika hujan mendadak turun dengan lebatnya, hanya beberapa ratus meter dari pos ketiga Gunung Slamet, Pos Cemara. “Aku ambil flysheet dulu. Kita bikin bivak.”

Dengan sigap Eka, Arta, dan saya membentangkan kain berukuran tiga kali tiga meter berwarna hitam itu lalu mengikatkannya dengan tali rafia kuning ke tiap sudut. Dalam beberapa menit saja kemah darurat bikinan kami siap. Lengkap dengan alas berupa mantel hujan dan parit-parit kecil untuk mengalirkan air.

Read More

Kompas dan Kompresor

Mendung memayungi perahu kami ketika akan berangkat ke Gosong Cemara Kecil. Setelah kemarin berlatih watermanship dan melakukan latihan kemampuan dasar scuba diving di dermaga, hari ini kami akan mempraktekkannya di laut lepas. Jantung saya berdetak lumayan kencang sebab saya rasa laut lepas pasti sangat berbeda kondisinya dengan dermaga. Begitulah, mendapatkan sertifikat selam memang gampang-gampang susah.

Di dermaga tadi mesin perahu agak-agak susah dihidupkan. Syaiful, anak sang pemilik perahu, tampak kepayahan memutar tuas pemicu mesin. Gagal terus meskipun sudah beberapa kali dicoba. Melihat Syaiful yang kepayahan, sang ayah turun tangan. Baginya gampang saja, sekali coba Pak Mulyadi sudah bisa menghidupkan mesin perahu.

Read More

Arupadhatu

Saya keluar dari kantong tidur, mengumpulkan nyawa, kemudian meregangkan badan. Pagi, rumput Taman Lumbini masih dibasahi embun. Burung-burung berterbangan sembari berkicau bercengkrama. Para pelari pagi melintas, riang walaupun wajah pias. Borobudur terlihat menawan. Mentari kemudian menyinari kelabu raksasa itu. Perlahan, ia mendapatkan kembali warnanya yang sejati.

Read More

Gedong Songo – Blitar Stop Motion

Kamu pasti pernah menonton video stop-motion, kan? Nah, jika dinarasikan, versi stop-motion dari perjalanan Gedong Songo – Blitar kemarin kira-kira seperti berikut. Dari Gedong Songo saya ke Semarang. Terus ke Lasem menumpang bis Semarang-Surabaya. Di Lasem saya berhenti sebentar sekadar makan bakso dan nongkrong di warung es tepi jalan. Kemudian saya kembali mencegat bis dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya lewat pantura; bertemu dengan sekelompok pencari tokek lintas propinsi, lewat daerah bernama Bancar yang agak-agaknya merupakan daerah asal dari salah seorang teman sesama blogger, dan akhirnya tiba di Terminal Purabaya, Bungurasih.

Read More

Di Gedong Songo

Senja

Jika ingin menikmati sebuah tempat indah, pergilah ke sana ketika tempat itu berada dalam keadaan sepi. Suatu sore di awal Oktober, saya turun di pertigaan Poli, Ambarawa. Dari Poli saya menyambung naik elf, bergelantungan bersama penduduk lokal sampai ke pertigaan jalan masuk Candi Gedong Songo.

Dari pertigaan saya berjalan kaki sekitar tiga kilometer sampai ke gerbang Gedong Songo. Sebenarnya di pertigaan ada pangkalan ojek. Namun saya lebih memilih untuk berjalan kaki. Naik ojek pasti akan mahal. Ongkosnya barangkali lebih mahal daripada yang saya bayar untuk naik bis sekitar 100 km dari Jogja ke Ambarawa. Dan selain hemat, jalan kaki ke Candi Gedong Songo juga menyenangkan karena kau akan melewati perkebunan bunga. Sesekali tengoklah ke belakang, gemunung tersibak di balik awan, dan di kakinya air Rawa Pening berpendaran.

Read More

Di Jalan Daendels

Keajegan itu melenakan. Tadi, selama beberapa saat saya harus berkonsentrasi berkendara di jalan bukit selepas Pantai Ayah. Sekarang kami berada di Jalan Daendels Selatan yang lurus bukan main. Membujur sekitar 150 kilometer dari Cilacap sampai Purworejo. Mata saya harus bekerja ekstra menahan kantuk yang sesekali datang menyerang. Terkadang motor yang kami tumpangi oleng kanan-kiri karena berpapasan dengan truk. Jalan militer yang dibangun pada dekade pertama abad ke-19 itu menyusur pesisir selatan Jawa, berjarak sekitar satu kilometer dari pantai. Jejeran pepohonan kelapa seolah secara sukarela memagari Jalan Dandels dari ganasnya Samudra Hindia. Saat itu pagi menjelang siang namun matahari sudah garang. Bahkan, sesekali saya dapat melihat fatamorgana di kejauhan; awalnya tampak seperti genangan air di tengah jalan, namun setelah didekati ia hilang. Lagu “This Time Tomorrow” gubahan The Kinks terngiang-ngiang dalam kepala saya.

Read More

Sehari di Solo

Beberapa waktu belakangan ini adalah saat-saat yang mengesalkan bagi mahasiswa Jogja umumnya dan saya sendiri khususnya. Yang paling anyar, ya, bencana Merapi, yang membuat berpuluhribu orang yang bermukim di lingkar gunung mengungsi ke tempat-tempat yang lebih jauh. Jogja penuh pengungsi; sekolah-sekolah, universitas, bahkan stadion. Mahasiswa pun turut kena imbas karena wisuda November ditiadakan dan ujian mid-term diundur.

Read More