Argopuro

There is a pleasure in the pathless woods,
There is a rapture on the lonely shore,
There is society, where none intrudes,
By the deep sea, and music in its roar:
I love not man the less, but Nature more.

Lord Byron, Childe Harold’s Pilgrimage

Suara merak yang membahana seantero Cikasur membangunkan saya dari mimpi yang juga tentang merak. Saya tergeregap, membuka ritsleting tenda, lalu melongokkan kepala keluar. Sekujur tubuh masih dalam balutan kantong tidur. Saya mendapati diri tengah berada di sabana mahaluas.

“Mereka kalau mau terbang heboh, Jo,” ujar Berto, kawan dari Himpala Unas Jakarta, yang kemarin sore telah melihat kawanan burung berperawakan anggun itu. Tenda consina magnum-nya bahkan sudah dihiasi sebatang bulu merak yang tercecer dan telah kehilangan “mata”. Ia lanjut memanasi saya, “Kalau berjalan, Jo, ekornya goyang-goyang.”

Read More

Sewaktu di Semeru

Semula saya kebingungan dalam hal memilih cerita apa yang sebaiknya saya sampaikan tentang pendakian Semeru. Soal keindahan sudah banyak yang memaparkan, akan membosankan jika terus diulang-ulang. Begitu juga soal betapa kotornya gunung itu sekarang setelah sebuah vendor peralatan pendakian mengadakan kumpul-kumpul di sana, atau setelah film 5 cm ditayangkan. Saya coba menelusuri lokus-lokus pemikiran, berusaha menemukan cerita yang sekiranya menarik untuk disampaikan. Kemudian tercetuslah gagasan bahwa hulu dari semua hal yang dialami Semeru, tak lain tak bukan, adalah manusia. Lalu kenapa tak saya tulis saja kisah sebagian manusia yang mendaki Mahameru?

Jika ada satu hal yang dapat saya petik dari pendakian Gunung Semeru, itu ialah “perlakukan seorang raja sebagaimana mestinya.” Sebagai gunung tertinggi di pulau Jawa, Semeru adalah raja. Walaupun ia sudah sering disambangi, tetap saja ia raja gunung-gunung di Jawa. Dan kau seharusnya tidak memandang raja dengan sebelah mata. Sempat berlaku demikian, ia tak akan segan-segan melumatmu, melahapmu, mengenyahkanmu dari muka bumi.

Read More

Nasibmu, Bung!

“Berapa orang, mas?” Tanya seorang petugas pria bertopi yang berjaga di balik meja resepsionis. Adegan ini terjadi dalam sebuah ruangan, semacam tempat penyambutan tamu, di kompleks Makam Bung Karno.

“Sendiri, pak,” jawab saya. Pria itu menyuruh saya untuk langsung masuk saja, tanpa harus mengisi buku tamu. Jika datang beramai-ramai barulah pengunjung diperkenankan mengisi buku tamu, itupun hanya perwakilan saja.

Read More

Gedong Songo – Blitar Stop Motion

Kamu pasti pernah menonton video stop-motion, kan? Nah, jika dinarasikan, versi stop-motion dari perjalanan Gedong Songo – Blitar kemarin kira-kira seperti berikut. Dari Gedong Songo saya ke Semarang. Terus ke Lasem menumpang bis Semarang-Surabaya. Di Lasem saya berhenti sebentar sekadar makan bakso dan nongkrong di warung es tepi jalan. Kemudian saya kembali mencegat bis dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya lewat pantura; bertemu dengan sekelompok pencari tokek lintas propinsi, lewat daerah bernama Bancar yang agak-agaknya merupakan daerah asal dari salah seorang teman sesama blogger, dan akhirnya tiba di Terminal Purabaya, Bungurasih.

Read More

Kawah Ijen 650 KM

Kamis tengah hari, awal Februari. Akhirnya saya dan Obi sampai juga di bibir Kawah Ijen, perbatasan Banyuwangi-Bondowoso, Jawa Timur. Kak Mey dan Asep masih jauh di bawah. Kabut dingin dan asap belerang seperti bahu membahu bersekutu menyembunyikan keindahan Danau Kawah Ijen yang berwarna biru toska itu dari pandangan. Read More

Langkah (42): Madura, Lebih Panas Daripada Surabaya

Jika ada yang bilang kota terpanas di gugusan Jawa-Madura adalah Surabaya, berarti orang itu belum pernah menginjakkan kaki di pulau garam, Madura.

Tanggal 3 Februari malam kami tiba kembali di Surabaya tanpa mengalami hambatan berarti selama perjalanan. Perjalanan pulang mengambil rute yang berbeda dari keberangkatan. Jika ketika berangkat kami lewat Jember, untuk pulang kami memilih lewat Situbondo. Read More

Travel Melancholy

Soe Hok-gie berkali-kali menyatakan dalam tulisannya bahwa patriotisme tidak dapat ditanamkan hanya melalui slogan-slogan dan [dari] jendela-jendela mobil. Dia percaya bahwa dengan mengenal rakyat dan tanah air Indonesia secara menyeluruh, barulah seseorang dapat menjadi patriot-patriot yang baik. Walaupun tidak terobsesi untuk menjadi seorang patriot, saya percaya pada tulisan Gie itu. Read More

Langkah (27): Tengger Yang Gelap Dan Bau

Sore itu, hari terakhir di Bromo, saya kembali ke Homestay Sedulur dengan tertatih-tatih. Begitu tiba di teras saya langsung menghampar. Praktikum ketiga ini memang paling mobile dan menguras energi. Saya serta dua orang teman lagi kebagian metode Self Potensial yang lintasannya membujur relatif barat-timur, dari sisi terdekat Bromo, yang bertopografi ekstrem, ke arah Cemoro Lawang. Read More